+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Harga Biodiesel Januari 2018 Turun, Bioetanol Naik (UHarga biodiesel turun menjadi Rp 8.000 per liter. Sedangkan bioetanol naik ke harga Rp 10.090 per liter):

  • Harga Biodiesel Januari 2018 Turun, Bioetanol Naik (UHarga biodiesel turun menjadi Rp 8.000 per liter. Sedangkan bioetanol naik ke harga Rp 10.090 per liter): Awal tahun 2018, harga biodiesel dan bioethanol mengalami perubahan. Harga Indeks Pasar (HIP) bahan bakar biodiesel periode Januari 2018 menurun dibandingkan Desember 2017. Sedangkan harga bioethanol mengalami kenaikkan. Berdasarkan keterangan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), HIP bahan bakar biodiesel turun sebesar Rp491per liter menjadi Rp 8.000 per liter. “Harga tersebut ditambah besaran ongkos angkut sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri ESDM No. 2026 K/12/MEM/2017,” dikutip Kamis (4/1). (KATA DATA)

https://katadata.co.id/berita/2018/01/04/harga-biodiesel-januari-2018-turun-bioetanol-naik

  • Awal Tahun 2018, Harga Biodiesel Turun dan Bioetanol Naik Tipis (HIP bahan bakar biodiesel turun sebesar Rp 491 per liter menjadi Rp 8.000 per liter): Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati pada bulan Januari 2018 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. HIP bahan bakar biodiesel turun sebesar Rp 491 per liter menjadi Rp 8.000 per liter. Harga tersebut ditambah besaran ongkos angkut sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 2026 K/12/MEM/2017. Sebelumnya, berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), HIP biodiesel terus merosot sejak bulan Oktober 2017 dari Rp 8.518 per liter menjadi Rp 8.491 per liter pada bulan Desember 2017. (JITU NEWS)

http://jitunews.com/read/72492/awal-tahun-2018-harga-biodiesel-turun-dan-bioetanol-naik-tipis#ixzz53GSTAxmO

  • 2017, Ekspor Nonmigas US$ 155 Miliar (LAMPAUI TARGET): Ekspor nonmigas tahun 2017 diperkirakan menembus US$ 155 miliar, atau 12% di atas target pemerintah senilai USS 138 miliar. Optimisme ini dilandasi realisasi ekspor nonmigas sepanjang Januari-November 2017 yang sudah mencapai USS 139 miliar.  Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, jika dibandingkan tahun lalu, ekspor nonmigas Januari-November 2017 tumbuh 17,20% dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2012. Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, ekspor nonmigas yang meningkat merupakan suatu pencapaian yang harus diapresiasi. Salah satu faktornya adalah tren harga komoditas seperti minyak kelapa sawit, karet, dan batubara yang terus meningkat sejak awal 2017. Permintaan global 2017 juga naik signifikan, misalnya ekspor ke Tiongkok tumbuh 44,4%, ke India naik 41,5%, dan ke AS tumbuh 10,4%.  “Tahun 2018 kinerja ekspor akan tumbuh positif di atas 5%, dengan harapan harga komoditas meningkat dan prospek permintaan global terjaga. Harga minyak mentah diprediksi akan mencapai USS 80 dolar per barel, yang diikuti komoditas lainnya,” kata Bhima kepada Investor Daily.  Menurut dia, kendala ekspor yang harus diperhatikan adalah instabilitas geopolitik dan fluktuasi kurs rupiah. Tren proteksionisme Trump juga  akan terus berlanjut. Beberapa produk seperti biodiesel dikhawatirkan akan dikenakan bea masuk antidumping,” katanya. (INVESTOR DAILY INDONESIA)
  • GIMNI: Permintaan minyak nabati hanya naik 1%: Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperkirakan tahun ini permintaan minyak nabati domestik hanya akan naik 1% dibandingkan tahun 2017, atau naik menjadi 8,144 juta ton dari 8,104 juta ton. Dari 8,144 juta tersebut, 56% atau sekitar 4,5 juta ton merupakan minyak goreng curah dan kemasan, sementara sisanya untuk produk-produk minyak nabati lainnya. Sementara, di tahun 2017, 67% atau 5,537 juta dari 8,104 juta minyak nabati merupakan minyak goreng. Sementara itu, Sahat pun mengungkap ekspor minyak sawit di tahun 2017 sebesar 31,9 juta ton, di mana 26% merupakan crude oil (minyak mentah) dan 74% merupakan produk hilir sawit. Produk hilir tersebut terbagi atas refines oil sebesar 21,2 juta ton, oleokimia sebanyak 2,1 juta ton, dan biodiesel sebesar 190.000 ton. Diperkirakan, di tahun 2018, ekspor sawit akan meningkat menjadi sekitar 33,1 juta ton. Di mana 8,7 juta ton merupakan crude oil, refined oil sekitar 22 juta ton dan oleokimia sebanyak 2,4 juta ton. (KONTAN)

http://industri.kontan.co.id/news/gimni-permintaan-minyak-nabati-hanya-naik-1

  • Kebijakan Replanting Perkebunan Kelapa Sawit Memperlambat Produksi CPO, Imbasnya Harga TBS di Riau Merosot: Turunnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dinilai sebagai momen yang tepat untuk melakukan peremajaan (replanting) kebun kelapa sawit di tanah air. “Secara nasional produksi CPO Indonesia diperkirakan akan melambat karena kebijakan replanting sawit bagi petani kecil yang digagas oleh pemerintah,” kata Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Mutu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Dedi Yasmono kepada GoRiau.com di Pekanbaru, Kamis (4/1/2018). Selain itu, lanjut Dedi, Indonesia juga masih menghadapi berbagai kendala dalam memenuhi target mandatori biodiesel dalam negeri dengan kadar 20 persen (B-20). Kemudian, ada pula kebijakan yang dibuat pemerintah mengenai moratorium izin pembukaan lahan perkebunan baru yang akan memperlambat pertumbuhan perkebunan kelapa sawit. (GO RIAU)

https://www.goriau.com/berita/riau/kebijakan-replanting-perkebunan-kelapa-sawit-memperlambat-produksi-cpo-imbasnya-harga-tbs-di-riau-merosot.html

  • Januari 2018, Harga Biodiesel Kembali Turun: Harga indeks pasar biodiesel kembali turun pada Januari 2018 menjadi Rp8.000 per liter. Harga tersebut turun 5,78% dari bulan sebelumnya, yakni Rp8.491 per liter. Mengutip laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (4/1/2018), berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, HIP biodiesel terus merosot sejak Oktober 2017 dari Rp8.518 per liter menjadi Rp8.491 per liter pada Desember 2017. (BISNIS)

http://kalimantan.bisnis.com/read/20180104/44/723242/januari-2018-harga-biodiesel-kembali-turun

  • Bogor residents up in arms over murky, smelly rivers: Thousands of residents along the Cikalong and Cidurian rivers in Bogor regency, West Java, have for the past five months suffered from the rivers bad smell allegedly caused by waste from palm oil processing factories belonging to state firm PTPN VIII and other companies. Jaja Atmadja, the chairman of youth community Regiskal in Kalongsawah village in Bogor, said things changed when PTPN VIII converted its rubber plantation into a 3,500-hectare oil palm plantation in 2000 and a palm oil processing factory (PKS) in 201.1. Indonesia, the worlds largest palm oil producer, has been facing criticism on how it is doing its strategic business.  Recently, the European Parliament issued a non-legally binding resolution that called for sus-  tainably produced palm oil to be imported, a single sustainable standard and a halt on imported biofuel made from palm oil as of 2020.  President Joko “Jokowi” Widodo called on the European Union to stop the campaign and stressed that the country had been strict in implementing sustainable practices by placing a moratorium on oil palm plantations since 2013. (THE JAKARTA POST)