+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Harga biodiesel Menurun, sedangkan bioetanol Naik

Harian Kontan | Kamis, 11 April 2019

Harga biodiesel Menurun, sedangkan bioetanol Naik

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) biodiesel pada April 2019 sebesar Rp 7.387 per liter atau turun Rp 16 per liter ketimbang Maret 2019. Sementara harga bioetanol naik Rp 11 per liter menjadi Rp 10.178 per liter dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan harga biodiesel sejalan dengan turunnya harga rata-rata minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Februari-14 Maret 2019, dari Rp 7.101 per kilogram (kg) menjadi menjadi Rp 7.078 per kg. Adapun harga bioetanol naik karena menggunakan hitungan formula rata-rata harga tetes tebu KPB periode tiga bulan. HIP BBN berlaku sejak 1 April tahun ini, menjadi acuan program wajib B20. “Juga berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum,” kata FX Sutijastoto, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM dalam keterangan tertulis, Rabu (10/4).

Sawit Indonesia | Kamis, 11 April 2019

Indonesia Menjadi Produsen dan Konsumen Terbesar Biofuel di Dunia

Tatang H.Soerawidjaja, Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), menjelaskan bahwa energi yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia yaitu listrik dan bahan bakar bermutu tinggi (bahan bakar cair adalah bentuk yang paling unggul dan strategis). Dalam hal ini, kata Tatang, bahan bakar cair mempunyai keunggulan di antaranya mudah disimpan secara mudah dan aman untuk jangka waktu lama, mudah diangkut, memiliki kerapatan energi besar dan relatif mudah dinyalakan tetapi tidak mudah meledak. “Selain itu, minyak bumi dan BBM juga mempunyai peran penting bagi perekonomian. Dan, minyak bumi telah menjadi sumber primer pada sistem energi dunia selama hampir 100 abad (di abad 20),” ujar Tatang, saat menjadi pembicara Kuliah Umum, “Status Terkini Pengembangan Biofuel dari Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit” di Bogor, Rabu (10 April 2019). Seperti diketahui, minyak sawit mempunyai potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan pemanfaatannya. Salah satunya dimanfaatkan untuk campuran solar (Biodiesel) atau B20 bahkan sudah menjadi mandatory oleh pemerintah sejak September 2018.

Selain dapat mengurangi angka impor minyak (fosil) mentah, pemanfaatan minyak sawit (nabati) juga dapat defisit neraca perdagangan Negara. Jika melihat ke belakang, Indonesia memang pernah menjadi negara pengekspor minyak bumi sehingga masuk menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun, sejak 2008 Indonesia memutuskan non-aktif dari keanggotaan OPEC karena sudah tak mampu lagi mengekspor minyak mentah (fosil). Kendati sudah tidak lagi menjadi pengekspor minyak mentah (fosil), tetapi Indonesia masih memiliki minyak sawit bahkan saat ini menjadi produsen terbesar di dunia. Minyak sawit (nabati) yang mempunyai beragam potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan energi.

Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) mengutarakan saat ini sudah berkembang Bahan Bakar Minyak (BBM) nabati cair dari minyak sawit. Minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) bisa diubah menjadi green Gasoline, green Diesel, dan green avtur. Berbeda dengan Biodiesel (sawit) yang selama ini dikenal oleh masyarakat. “Supaya masyarakat memahami dan mempunyai persepsi yang sama tentang potensi minyak sawit sebagai bahan bakar nabati,” jelas Darmono. Selanjutnya, Tatang menambahkan Bahan Bakar Nabati atau Biofuel terbagi menjadi dua kelompok yaitu tipe oksigenat (Biodiesel atau FAME, Fatty Acids Methyl Ester), Bioetanol dan tipe drop-in (biohidrokarbon) yaitu dapat dikembangkan menjadi Bio-Hydrofined (BHD) atau Green diesel, Biogasoline atau Green gasoline (bensin nabati), dan Bioavtur atau Jet Biofuel. Bahan Bakar Nabati (BBN) Oksigenat, Biodiesel dibuat dengan proses metanolisis minyak-lemak oleh metanol dan gliserol. Minyak nabati (sawit) merupakan bahan mentah untuk BBN terbaik karena kadar asam-asam lemak jenuh dan kadar asam oleat berimbang, kadar asam-asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) minimal.

BBN Oksigenat seperti biodiesel generasi 1 (FAME) dan Bioetanol hanya bisa dicampurkan ke dalam BBM padanannya sampai kadar 10 – 30%. Bagi Indonesia, ini sangat membantu mengurangi peningkatan impor solar dan bensin, namun hanya 10 – 30%. sisanya tetap impor dan menyebabkan tekanan berat terhadap neraca pembayaran negara. “Berbeda dengan BBN tipe drop-in yang merupakan Bahan Bakar hidrokarbon cair dari sumber nabati yang dapat dicampurkan tanpa batasan kadar (bisa mencapai 100%),” pungkas Tatang. lebih lanjut, Darmono menjelaskan terobosan pabrik kelapa sawit dengan menggunakan teknologi dry process. Selama ini Pabrik Kelapa Sawit mengandalkan teknologi dari barat (Jerman). “Seperti diketahui, karakter minyak sawit sangat berbeda dengan soft oil mudah tengik. Sedangkan minyak sawit yang masih murni tidak mudah tengik. Disimpan yang di ruangan selama enam hingga satu tahun juga tidak tengik,” ucap Darmono. Menurut Darmono, pengolahan minyak dengan menggunakan tekonologi dry process, dampaknya tidak hanya pada produksi CPO saja tetapi juga bisa menyelesaikan masalah lingkungan karena dengan teknik ini tidak ada limbah cair. “Saat ini yang dipermasalahkan Eropa adalah limbah cair sawit yang diperhitungkan emisinya. Teknik ini juga untuk menyelesaikan masalah lingkungan tidak semata-mata untuk produksi yang lebih baik,” pungkas. “Saat ini memang teknologi dry process masih embrio, tetapi saya yakin akan bisa dilakukan. dan, saya yakin bisa berjalan dan bisa menjadi leading sebelum Malaysia. Termasuk biohidrokarbon juga kita yang mulai terlebih dulu sebelum Malaysia,” tambahnya.

Infosawit | Kamis, 11 April 2019

Saatnya Indonesia Jadi Produsen Biodiesel Sawit Dunia

Mencontoh yang sudah dilakukan negara Brazil sebagai produsen gula dan etanol dunia, Indonesia juga semestinya bisa menjadi produsen biodiesel dunia selain saat ini telah menjadi produsen utama minyak sawit mentah (CPO). Dikatakan Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI), Prof Tatang H Soerawidjaja, Indonesia kini adalah penghasil minyak lemak nabati terbesar di dunia. Terbukti pada 2018 lalu produksi minyak sawin mentah (CPO) Indonesia telah mencapai 46 juta ton, dan sekitar 3 juta ton minyak inti sawit mentah (CPKO) atau ekuivalen dengan 700 sampai 750 ribu barrel/hari bahan bakar minyak. “Indonesia adalah penghasil biohidrokarbon (hidrokarbon terbarukan) paling besar di dunia,” kata Tatang dalam Kuliah Umum yang diadakan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu (10/4/2019) di Bogor. Tatang bahkan menggambarkan dengan membangun energi berasal dari biodiesel sawit maka Indonesia bakal bisa menghemat devisa, misalnya saja pada 2025 sebanyak 360 ribu barrel /hari BBM atau setara minyak sawit 30% dari impor dapat diganti dengan subtitusi dengan 360 ribu barrel/hari bahan bakar nabati (BBN) (biohidrokarbon + biodiesel) dari minyak sawit maka akan ada penghematan devisa sebesar US$ 25,2 juta/hari atau US$ 9,2 miliar/tahun.

Lantas cukupkan bahan bakunya? Kata Prof Tatang, mengungkapkan, penggantian 30% minyak mentah dan BBM impor pada 2025 paling tidak membutuhkan sekitar 50% dari produksi minyak sawit saat ini. Sebab itu muncul kekhawatiran akan mengganggu pasokan minyak sawit untuk pangan, hanya saja kata Prof Tatang, dalam pemenuhan pasokan minyak nabati untuk bioenergi tidak perlu dilakukan pemisahan antara untuk pangan dan energi, tetapi bisa dilakukan secara dinamis, apalagi produksi minyak sawit nasional setiap tahun terus meningkat. Tanpa pemisahan pasokan bisa mencontoh yang dilakukan Brazil dengan produksi gula dan etanolnya, atau Amerika Serikat dengan Jagung dan biodieselnya. “Sehingga sekaligus bisa menjadi salah satu penyeimbang pasokan dikala harga komoditas mengalami penurunan harga,” tandas dia.

https://www.infosawit.com/news/8931/saatnya-indonesia-jadi-produsen-biodiesel-sawit-dunia

Inilah | Rabu, 10 April 2019

Mulai April, Biodiesel Turun Jadi Rp7.387/Liter

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), menetapkan, Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk April 2019 dengan harga biodiesel Rp7.387 dan bioetanol Rp10.178 per liter. Jika dibandingkan harga Maret 2019, biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp16 per liter dari sebelumnya Rp7.403 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan sebesar Rp11 per liter dari harga sebelumnya Rp10.167 per liter, berdasarkan data yang dihimpun Antara di Jakarta, Rabu (10/4/2019). “Mulai berlaku efektif sejak 1 April 2019,” ujar Direktur Jenderal EBTKE FX Sutijastoto di Jakarta. “HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum,” lanjut Sutijastoto. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Februari hingga 14 Maret 2019 yaitu Rp7.078 per kg dari harga sebelumnya Rp7.101 per kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dolar AS/Liter sehingga didapatkan Rp10.178 per liter untuk HIP BBN bulan April 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Februari hingga 14 Maret 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://m.inilah.com/news/detail/2519881/mulai-april-biodiesel-turun-jadi-rp7387liter

Bisnis | Rabu, 10 April 2019

Sumut Berharap Penyerapan CPO Naik Dampak Kebijakan B20

Penerapan kebijakan bahan bakar nabati melalui B20 menjadi salah satu harapan bagi Sumatra Utara sebagai daerah penghasil agar penyerapan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meningkat. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan tekanan terhadap produk CPO dari Sumut masih besar. Kondisi pasar global saat ini membuat perekonomian di Sumut rentan karena masih mengandalkan produk mentah di sektor perkebunan. Oleh karena itu, dia menyebut gejolak yang terjadi di pasar ekspor Sumut seperti Amerika Serikat, China dan India bakal berdampak. “Kalau kondisi ekonomi ketiga negara ini sedang bergolak, mereka tidak memerlukan impor komoditas itu. Pasti ada dampaknya ke daerah kita,” ujarnya belum lama ini. Dia pun menyebut penerapan B20 menjadi salah satu cara untuk menyerap pasokan CPO domestik. “Bagaimana agar ekspor tadi bisa memenuhi kebutuhan domestik, yakni dengan mencoba mengalihkan excess [pasokan] ke pasar domestik melalui peningkatan biodiesel,” katanya. Di sisi lain, untuk solusi jangka panjang, dia menilai Sumatra Utara perlu mendapat sumber ekonomi baru yakni berupa komoditas baru seperti kopi atau menumbuhkan sektor baru seperti pariwisata. “Itu yang menyebabkan harus mencari sumber ekonomi baru,” katanya.

https://sumatra.bisnis.com/read/20190410/534/910285/sumut-berharap-penyerapan-cpo-naik-dampak-kebijakan-b20-

Okezone | Rabu, 10 April 2019

Harga Biodiesel April Turun Jadi Rp7.387 per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan April 2019 dengan harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.387 per liter dan bioetanol sebesar Rp10.178 per liter. Jika dibandingkan harga di bulan Maret 2019, harga biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp16 per liter dari sebelumnya Rp7.403 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan sebesar Rp11 per liter dari harga sebelumnya Rp10.167 per liter, berdasarkan data yang dihimpun Antaranews di Jakarta, Rabu (10/4/2019). “Mulai berlaku efektif sejak 1 April 2019,” ujar Direktur Jenderal EBTKE FX Sutijastoto. “HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum,” lanjut Sutijastoto. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Februari hingga 14 Maret 2019 yaitu Rp7.078 per kg dari harga sebelumnya Rp7.101 per kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dolar AS/Liter sehingga didapatkan Rp10.178 per liter untuk HIP BBN bulan April 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Februari hingga 14 Maret 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://economy.okezone.com/read/2019/04/10/320/2041517/harga-biodiesel-april-turun-jadi-rp7-387-per-liter

Antara | Rabu, 10 April 2019

Pemerintah Tetapkan Harga Biodiesel April Rp7.387 Per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan April 2019 dengan harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.387 per liter dan bioetanol sebesar Rp10.178 per liter. Jika dibandingkan harga di bulan Maret 2019, harga biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp16 per liter dari sebelumnya Rp7.403 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan sebesar Rp11 per liter dari harga sebelumnya Rp10.167 per liter, berdasarkan data yang dihimpun Antara di Jakarta, Rabu. “Mulai berlaku efektif sejak 1 April 2019,” ujar Direktur Jenderal EBTKE FX Sutijastoto di Jakarta. “HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum,” lanjut Sutijastoto. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Februari hingga 14 Maret 2019 yaitu Rp7.078 per kg dari harga sebelumnya Rp7.101 per kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dolar AS/Liter sehingga didapatkan Rp10.178 per liter untuk HIP BBN bulan April 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Februari hingga 14 Maret 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://www.antaranews.com/berita/823834/pemerintah-tetapkan-harga-biodiesel-april-rp7387-per-liter