+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Hasil Sementara B30, Dianggap Menggembirakan

Kompas | Kamis, 26 September 2019

Hasil Sementara B30, Dianggap Menggembirakan

Badan Penelitian dan Pegembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menyatakan, hasil sementara uji biodiesel 30 persen ( B30) menunjukkan hasil menggembirakan. Tidak ditemui kendala dan bisa segera digunakan. Berdasarkan keterangan resminya, konsumsi bahan bakar rata-rata setelah menggunakan B30 meningkat 0,87 persen, sedangkan daya rata-ratanya naik 0,84 persen. Lalu, komponen kendaraan juga masih berfungsi dengan baik, termasuk filter dan olinya. Sedangkan dampaknya terhadap lingkungan, penggunaan B30 diklaim bisa mengurangi tingkat emisi CO sebesar sebesar 0,1 sampai 0,2 gram per kilometer dan emisi PM sebesar 0,1 hingga 0,08 gram per kilometer. “Ini bukan berarti bahan bakar lebih boros, karena di sisi yang lain dayanya itu lebih tinggi, performance-nya juga lebih bagus. Untuk emisi, semuanya lebih baik kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan. Secara umum bagus,” kata Kepala Balitbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, Jakarta, Senin (23/9/2019). Berdasarkan pengalaman penggunaan B20 kemarin, emisi gas ruang kaca ekuivalen dengan produksi gas buang yang dihasilkan 20.000 bus kecil selama setahun bisa berkurang signifikan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan antisipasi penambahan konsumsi biosolar. Sebab, selama tahun 2017-2018, rata-rata konsumsi solar sekitar 32 juta liter dengan detail konsumsi solar bersubsidi sebesar 15 juta kiloliter.

“Untuk memastikan pasokan biofuel dan para produsen agar mampu memenuhi peningkatan kebutuhannya untuk campuran B30, ada 26 produsen biofuel yang siap memasoknya. Tahun depan juga akan ada tambahan satu atau dua pabrik baru,” kata Dadan. Perlu diketahui, uji jalan B30 yang dilaksanakan Balitbang Kementerian ESDM dengan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) ini didukung langsung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ( Gaikindo), Pertamina, dan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi). Ada tujuh merek kendaraan yang melakukan uji, di mana setiap kendaraan tadi bakal digunakan oleh tiga sopir secara bergantian untuk memastikan kondisi kendaraan sehingga hasil yang didapat ialah benar. Namun hingga saat ini pihak Gaikindo mengaku belum menerima hasil sementara uji B30. “Pada dasarnya, kami akan dukung secara penuh inisiasi dari pemerintah. Namun saya belum bisa berkata banyak, karena belum menerima informasi lengkap terkait uji B30,” kata Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/09/26/073200515/hasil-sementara-b30-dianggap-menggembirakan

Bisnis Indonesia | Kamis, 26 September 2019

Biodiesel Topang Target Bauran EBT

Kementerian ESDM optimistis target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 % pada 2025 dapat tercapai lewat penerapan biodiesel, green biofuel, maupun pembangkit listrik tenaga bioenergi. Berdasarkan outlook Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2018, jika hanya memanfaatkan pembangkit dengan tenaga hydro, panas bumi, surya, maupun angin, realiasi bauran EBT yang dapat dicapai hanya 13%. Sementara itu, jika ditambah dengan penerapan biodiesel dengan mandatori 30% (B30) pada 2020 nanti, bauran EBT akan bertambah 3%. Selanjutnya, jika biodiesel dan green biofuel diterapkan sekaligus, ada penambahan bauran EBT sebesar 5%. Apabila nantinya pada 2025, Indonesia menerapkan B30, green biofuel, dan pembangkit listrik tenaga bioenergi sekaligus, akan ada penambahan hingga 10%. Artinya, jika ditambah dengan realisasi pembangkit EBT 13%, bauran EBT 23 % pada 2025 dapat tercapai.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari mengatakan target bauran EBT 23% pada 2025 disusun berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia 7% hingga 8%. Sementara itu, hingga satu tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan hanya akan menyentuh 5 %, sehingga target tersebut pun menjadi tidak relevan. “Tercapai? iya, pasti tidak, karena pertumbuhan ekonomi hanya 5% dibawah [asumsi] penyusunan yang sebesar 7% sampai 8%. Maka perlu strategi dengan B30 maupun green biofuel” katanya, Rabu (25/9). Sementara itu, Peneliti dari Australian National University Budy P. Resosudarm menilai Indonesia masih kalah jauh dengan India dalam pengembangan EBT terutama dari sisi pemanfaatan energi surya untuk pembangkitan. Dia mencontohkan, pada 2017, kapasitas terpasang energi surya untuk pembangkitan India telah mencapai 51 Giga Watt (GW), sedangkan kapasitas terpasang di Indonesia pada periode yang sama masih kurang dari 0,1 GW. Menurutnya, adanya dukungan dari pemerintah, telah membuat India memiliki capaian kapasitas terpasang energi surya untuk pembangkitan yang tinggi.

Selain itu, India juga telah berhasil melakukan large scale reverse auction atau lelang berlawanan. India juga berhasil mengurangi risiko reverse auction. Hasilnya, biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkitan menjadi US$3,7 sen per kWh atau di bawah BPP Indonesia yang sebesar US$7,66 sen per kWh. “India dan Indonesia sama-sama bergantung pada batu bara dalam hal pembangkitan listrik. Bedanya, India negara daratan, koneksi lebih mudah sedangkan Indonesia negara kepulauan. India juga sangat kuat dalam bidang riset renewable energy,” katanya, Rabu (25/9). Menurutnya, ada dua ide utama yang harus dilakukan Indonesia untuk dapat menyamai capaian India, yakni mengurangi subsidi energi agar BPP EBT seperti surya dan batu bara seimbang dan menerapkan pajak batu bara. “Kita perlu dukungan pemerintah nasional, internasional, dan dukungan dari masyarakat,” katanya.

Kontan | Kamis, 26 September 2019

UE Hibahkan Rp 232 Miliar Dukung Ekspor Indonesia

Hubungan kerjasama perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa (UE) memanas karena kebijakan UE menerapkan bea masuk atas produk biodiesel minyak sawit. Namun hal ini tak menyurutkan UE menyalurkan dana hibah bagi Indonesia. Melalui program ASEAN Regional Integration Support-Indonesia Trade Support Facility (ARISE+ Indonesia), UE salurkan hibah bernilai 15 juta euro atau sekitar Rp 232 miliar selama empat tahun. Program ARISE+ Indonesia ini untuk mendukung fasilitas perdagangan, kebijakan perdagangan dan investasi, infrastruktur untuk mendorong ekspor unggulan seperti produk pertanian dan perikanan, serta mempromosikan Indikasi Geografis (IG). Program ini pun sudah berjalan sejak Februari 2019 hingga Januari 2023.

Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prijambodo mengatakan, penyaluran hibah akan didasarkan atas kebutuhan masing-masing sektor. Target utama adalah untuk mendorong kegiatan ekspor manufaktur, terutama dari perusahaan-perusahaan kecil. “Kami akan bertemu stakeholder. Perlunya apa tentunya dalam framework nasional (peningkatan ekspor). Nanti yang penting apa yang diusulkan, kita lihat proposalnya,” tutur Bambang, Rabu (25/9).

Tirto | Rabu, 25 September 2019

Peneliti Minta Moratorium PLTU Batu Bara, Pemerintah: Tidak Mungkin

International Institute for Sustainable Development (IISD) meminta pemerintah Indonesia untuk segera melakukan moratorium pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara guna mengejar target bauran energi baru terbarukan 23 persen pada 2025. “Ini tentu memakan biaya, tapi toh untuk menyelamatkan dunia,” kata Annisa Suharsono, peneliti utama dari IISD dalam diskusi bertajuk “Masa Depan Kebijakan Energi Terbarukan” di Jakarta, Rabu (25/09/2019). Annisa menjelaskan bahwa capaian bauran energi Indonesia baru berada di kisaran 13 persen per Agustus 2019. Menurutnya, untuk mengejar target itu, pemerintah harus berani membatasi PLTU dan segera beralih ke energi baru terbarukan (EBT).

Di samping itu, ia juga menilai bahwa kebijakan pemerintah mendorong penggunaan biodiesel bukan langkah yang tepat. Meski tergolong EBT, biodiesel atau biofuel masih memiliki dampak buruk bagi Di samping itu, Annisa juga menilai upaya pemerintah mengejar target bauran 23 persen dengan biodiesel juga tidak tepat. Menurutnya, sekalipun masuk golongan EBT, bensin seperti biodiesel dan biofuel masih memiliki dampak buruk bagi deforestasi. “Kebijakan biofuel adalah cara yang mahal untuk menjadi green dan seharusnya kita ke bioenergi seperti menggunakan biomassa,” ucap Annisa. Namun, Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE yang mewakili Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari tidak sependapat. Dia mengingatkan bahwa PLTU sudah masuk dalam Rencana Umum Energi Nasioal (RUEN).

Indonesia, katanya, akan bergantung dengan fosil sampai dengan 2050. Namun, ia mengatakan pmerintah akan tetap mencari solusi yakni dengan menggunakan PLTU yang lebih bersih, misalnya dengan mengganti batu bara menjadi gas untuk listrik (gasifikasi). “No coal itu sepertinya enggak mungkin. Kami ada target RUEN. Sampai 2050 kita masih tergantung dengan energi fosil,” ucap Ida. Ida juga tidak sependapat terkait biodiesel. Menurutnya, pemerintah saat ini akan tetap menerapkan B30 pada 2020 . Lalu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) akan perlahan beralih PLTD berbasis crude palm oil (CPO) dari sawit. Menurutnya jika hal ini bisa dilakukan, target bauran 23 persen akan semakin mudah dicapai. “PLTD bisa diganti jadi PLT-CPO. Ini sudah ada di 3 lokasi pakai APBN. Ini upaya strategis pemerintah gimana 23 persen bisa tercapai,” ucap Ida.

Suara Merdeka | Kamis, 26 September 2019

Biodiesel B30, Generasi Solar Ramah Lingkungan

Keterbatasan energi fosil memaksa pemerintah mencari sumber energi yang terbarukan. Salah satunya meluncurkan bahan bakar biodiesel berkode B30. Kebijakan yang mulai diberlakukan tahun depan ini, mendorong pabrikan mobil menyesuaikan diri. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan uji jalan (road test) pelaksanaan pencampuran 30 persen biodiesel ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar (B30) hampir rampung. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyebut, pihaknya telah melakukan uji jalan terhadap dua jenis kendaraan. Pertama kendaraan penumpang dengan berat kotor kurang dari 3,5 ton, dan kendaraan truk dengan berat kotor lebih dari 3,5 ton. Untuk mobil penumpang, uji jalan kini sudah dilakukan sejauh 42 ribu km atau 84 persen dari targetnya yakni 50 ribu km. Sementara untuk mobil besar, uji jalan sudah dilakukan sejauh 30 ribu km atau 75 persen dari target 40 ribu km. “Sehingga road test sudah berjalan 80 persen,’’ jelas Dadan melalui keterangan resminya awal September lalu.

Dari hasil uji coba tersebut, implementasi B30 tidak menimbulkan masalah signifikan bagi kendaraan. Sejauh ini, tidak ditemukan masalah pada performa mesin kendaraan, oli, serta emisi gas buang. Bahkan, konsumsi bahan bakar pun ternyata bisa lebih hemat. “Untuk kendaraan penumpang lebih hemat, emisi lebih bagus, kecuali untuk tekanan filter bahan bakar itu tekanannya lebih tinggi. Tetapi, semua filter itu memenuhi standar dari produsen kendaraan, kan standarnya filter itu bisa dipakai 10 ribu kilometer (km),” imbuh dia. Dengan hasil positif itu, pemerintah pun mantab untuk mengimplementasikan kebijakan itu tahun depan. Artinya mulai tahun depan biosolar yang beredar di pasaran adalah campuran dari 30 persen minyak sawit dan 70 persen solar. Penerapan B30 diharapkan bisa mengurangi impor Solar sekitar 3 juta kiloliter (kl) per tahun. Sehingga, ini bisa menyelamatkan defisit neraca perdagangan yang mendera Indonesia sejak tahun lalu.

Pabrikan Siap

Di negeri ini banyak varian Sport Utility Vehicle (SUV) yang menggendong mesin diesel. Ada Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Fortuner, Nissan Terra, Isuzu MU-X, Chevrolet Captiva. Rata-rata mobil SUV itu telah memakai mesin berteknologi commonrail yang membutuhkan bahan bakar solar yang hampir bersih dari kotoran. Itulah yang membuat pabrikan bersiasat agar mobil produksinya tetap bisa mengonsumsi bahan bakar sekelas B20. PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) mengikutkan Pajero Sport uji B30. Hal ini mengikuti inisiasi pemerintah dalam perluasan pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit kasar sebagai bahan bakar mobil diesel tersebut. “Mobil kami, dalam hal ini Pajero Sport, sudah bisa masuk B20. Saat ini, sesuai dengan inisiasi pemerintah, kami ikut uji bahan bakar B30 dengan model Pajero Sport,” kata Naoya Nakamura, Presiden Direktur MMKSI kepada media di Tangerang. Hasil uji tersebut nantinya akan dipelajari lebih lanjut sehingga semua mobil Mitsubishi bisa dimasukkan bahan bakar tersebut, khususnya pada Triton terbaru. Karena secara mesin, mobil itu menggunakan mesin yang sama seperti Pajero Sport.

Demikian juga dengan Isuzu, siap mendukung kebijakan pemerintah terkait penggunaan bahan bakar biodiesel hingga 100 persen (B100). Untuk B20, Isuzu telah menguji solar dengan campuran 20 persen minyak kelapa sawit di Jepang. “Pak Jokowi sudah menyatakan ingin menerapkan biodiesel hingga B100. Tentu, pemerintah tidak akan main-main membuat itu karena sebelumnya Isuzu melakukan pengujian terhadap bahan bakar B20,” ujar Marketing Division Head Astra Isuzu Andy Dwi Zatmoko.

Uji Mesin

Regional Manager Jawa Tengah Astra Isuzu, Ratmin Sucipto, menguatkan klaim tersebut. Ia menyatakan produk mesin diesel Isuzu siap mengkonsumsi biodiesel di pasaran. “MU-X terbaru ini bisa menggunakan bahan bakar solar jenis apa pun. Ini yang menjadikan kendaraan ini tetap efisien,” tambah dia. Hal itu menurut dia sudah diuji ahli-ahli pabrikan asal Jepang. Mesin-mesin diesel Isuzu telah melewati ujian dengan bahan bakar tersebut. “Hasilnya tidak menimbulkan masalah. Artinya biodiesel aman-aman saja untuk MU-X,” kata dia kepada media saat meluncurkan MU-X iseries belum lama ini di Semarang. Sementara itu, menurut Attias Astril GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia, hasil uji mengungkap pada kondisi aktual kandungan FAME pada bahan bakar B20 yang diuji di antara 19,5 – 23 persen. Astril mengatakan pengujian ini dilakukan Isuzu Indonesia untuk pengembangan sebab ada sebagian produk yang ditawarkan ke konsumen sudah berteknologi common rail. Selain uji kualitas bahan bakar, Isuzu Indonesia juga melakukan pengetesan penggunaan B20 pada mesin.

Ada tiga jenis mesin yang dites, yaitu 4-silinder 4JB1TC, 4-silinder common rail 4HK1TCS, dan 6-silinder common rail 6HK1TCC. Komponen yang menjadi perhatian adalah tangki bahan bakar, selang bahan bakar, pipa bahan bakar, dan saringan bahan bakar. Mesin itu dikatakan dites di atas dynamometer dalam kondisi “full load” pada torsi dan tenaga maksimal mengikuti pola tertentu. Tes buat mesin medium duty (6HK1TCC) dilakukan selama 1.000 jam sedangkan mesin light duty (4JB1TC dan 4HK1TCS) selama 400 jam. Setelah diuji, komponen diinspeksi oleh Souchiro Kazuta, Engine Experiment Manager Isuzu Japan Durability Experiment Group. Astril menyebut dari penilaian tes tersebut tidak ada masalah signifikan yang disebabkan B20 pada mesin diesel Isuzu. Dari 2016 hingga sekarang, hampir tidak ada keluhan penggunaan bahan bakar berkode B20.

https://www.suaramerdeka.com/sport/baca/199402/biodiesel-b30-generasi-solar-ramah-lingkungan