+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Hasil Uji Jalan B30 Diumumkan Akhir Bulan ini

Jawa Pos | Jum’at, 15 November 2019

Hasil Uji Jalan B30 Diumumkan Akhir Bulan ini

Tim teknis uji jalan bahan bakar biodiesel B30 pada kendaraan bermesin diesel telah menyelesaikan uji jalan, uji performa kendaraan, monitoring dan evaluasi hasilnya kepada publik akan diumumkan pada akhir bulan November ini. “Pemerintah berencana menyampaikan hasil uji jalan dan rekomendasi teknis B30 kepada publik pada akhir Bulan November 2019”, kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM), Dadan Kusdiana di Jakarta, dilansir dari Antara, Jumat (15/11). Lebih lanjut Dadan menyampaikan, agar implementasi B30 di awal Januari 2020 dapat terlaksana dengan baik diperlukan kesiapan dari para produsen biodiesel, kesiapan industri manufaktur dan masyarakat serta kelengkapan penyediaan infrastruktur. Dadan mengungkapkan, Balitbang ESDM bersama Direktorat Jenderal EBTKE, Badan Pengkajian dan Penerapan Tekonologi (BPPT), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), PT Pertamina, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) saat ini tengah menyusun laporan akhir. Uji jalan bahan bakar B30 pada kendaraan diesel, dilaksanakan mengacu kepada hasil monitoring dan evaluasi uji jalan B20 yang dilaksanakan pada pada tahun 2015 dan mulai diimplementasikan 1 Januari 2016, dan dilakukan beberapa perbaikan sesuai hasil monitoring B20. Dalam menyiapkan uji jalan bahan bakar B30 para pemangku kepentingan tersebut juga berupaya memperbaiki kualitas, penanganan, transportasi, fasilitas pencampuran (blending) dan penyimpanan. Partisipasi anggota Gaikindo untuk uji jalan ini juga bertambah. Jumlah merk kendaraan yang diuji sekarang lebih banyak yakni tujuh merk kendaraan, sementara tahun 2015 hanya empat merk kendaraan. B30 yang digunakan pada kegiatan uji jalan ini merupakan campuran dari 70 persen minyak solar (B0) dan 30 persen biodiesel (B100) dengan kandungan monogliserida maksimum sebesar 0,55 persen massa dan kandungan air maksimum sebesar 350 mg/kg, yaitu lebih rendah jika dibandingkan dengan biodiesel (B100) yang digunakan untuk campuran B20 saat ini. Nilai tersebut merupakan usulan perbaikan/revisi standar mutu biodiesel sebagai campuran minyak solar yang akan diimplementasi di 2020. Hasil perbandingan uji jalan kendaraan yang menggunakan bahan bakar B20 dengan B30 menunjukkan daya kendaraan turun sampai dengan 1,7 persen. Namun, ada pula yang naik sampai dengan 1,6 persen, bergantung kepada teknologi mesin kendaraan. Dadan mengutarkan pemakaian bahan bakar B30 dapat berdampak pada filter kendaraan baru atau kendaraan yang belum pernah menggunakan bahan bakar dengan campuran biodisel, khususnya pada kilometer awal pemakaian (7.500 – 15.000km). Namun setelah penggantian filter, kendaraan kembali normal sampai dengan periode penggantian selanjutnya.

Republika | Sabtu, 16 November 2019
Pertamina Suplai Perdana Katalis Biodiesel
Sebagai upaya untuk mendukung penerapan kebijakan biodiesel 20 persen (B-20), Pertamina melakukan suplai perdana kargo produk Sodium Methylate Oxide (SMO) kepada PT Tunas Baru Lampung. Pengembangan biodiesel menjadi komitmen pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang sekaligus menjadi alat pengendalian impor migas. SMO merupakan bahan kimia yang dihasilkan dari pencampuran antara metanol dan natrium hidroksida. SMO digunakan sebagai katalis untuk proses transesterifikasi dengan minyak nabati dan bahan kimia lainnya untuk dijadikan asal le-mat metil ester atau fatty acid methyl esters (FAME). FAME kemudian disalurkan ke Terminal Bahan Bakar Minyak (TB-BM) Pertamina di seluruh Indonesia sebagai bahan pencampur- an biodiesel. VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, pasokan SMO yang dilakukan oleh Pertamina ini merupakan upaya untuk mendukung produksi FAME yang akan menjadi bahan pencampuran bahan bakar nabati. Penggunaan SMO sebagai katalis akan membantu produksi FAME sehingga meningkatkan keandalan ketersediaan FAME untuk mendukung program B-20 yang dicanangkan pemerintah. Lebih lanjut, ia menjelaskan, Pertamina telah melakukan suplai perdana SMO pada awal November 2019 dengan jumlah sebanyak tujuh iso tank dengan total volume 154 ribu KGS. “Dengan menyuplai produk ini, Pertamina meraih tambahan pendapatan sebesar 101.640 dolar AS pada November 2019,” kata Fajriyah, Jumat (15/11). Ke depannya, Pertamina juga akan menjalin kontrak pasokan produk SMO dengan produsen-produsen FAME di seluruh In- donesia. Hal ini sesuai prediksi kenaikan produksi biodiesel di masa depan. Potensi bisnis itu berpeluang menambah pendapatan Pertamina bila mitra usaha meningkatkan pemakaian SMO sekitar 1-2 persen dari total kapasitas produksi mereka. Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi, dan Non-Konvensional Kementerian Koordinator Bidang Kemaritim-an dan Investasi (Kemenko Mar-ves), Amalyos, mengatakan, target 23 persen bauran EBT dalam Rencana Umum Energi Nasional (Perpres No. 22 Tahun 2017 tentang RUEN) disebutkan, pada sektor EBT setidaknya pemanfaatannya telah sebesar 23 persen pada 2025 dan menjadi 31 persen pada 2050. “Kalau kita memang komitmen, kita bisa,” kata Amlyos, Jumat (15/11). Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat bahwa energi bersih merupakan kebutuhan bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan juga salah satu faktor pen- dukung. “Sekarang ini, go green sudah menjadi kebutuhan. Orang sudah memikirkan efisiensi dan kesadaran energi fosil suatu waktu akan habis,” ungkap Amalyos. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pada November 2019 ini akan mulai dilakukan uji coba penggunaan B-30 di sektor transportasi. Hasil uji jalan sementara pada kendaraan bermesin diesel menunjukkan bahan bakar B-20 dan B-30 telah memenuhi spesifikasi parameter uji singkat, yakni kadar FAME, kadar air, viskositas, densitas, angka asam. Selain itu, penggunaan B-20 dan B-30 tidak memperlihatkan perbedaan dampak yang signifikan terhadap daya kendaraan. “Maka, pada saat implementasi wajib menggunakan B-30 dilaksanakan secara formal pada 1 Januari 2020, diproyeksikan akan terjadi juga penghematan devisa sebesar 4,8 miliar dolar AS sepanjang 2020,” kata Airlangga di kantornya, kemarin

Antara | Jum’at, 15 November 2019
B30 may save US$4.8 million in foreign exchange
Indonesia’s 30 percent blended biodiesel (B30) mandatory policy to be launched early next year may save US$4.8 billion for the country in foreign exchange in 2020, Coordinating Minister of Economic Affairs Airlangga Hartarto stated here, Friday. “The B30 mandatory policy will be officially implemented nationwide on January 1, 2020. We have targeted it may save the country $4.8 billion in foreign exchange throughout 2020,” Hartarto remarked. The authority has planned to run the trial of B30 for use in the transportation sector this month as the preliminary test results showed that the uses of 20 percent blended biofuel (B20) and B30 had met the qualifications required after short test parameters. The short test parameters whose indicators include the Fatty Acid Methyl Esters (FAME) level, density, viscosity, water and acid levels, aimed to show the quality of blended biofuel. According to the preliminary tests, the uses of B20 and B30 had no significant impact on the vehicle’s performance. The B30 policy, according to the minister, decreased the country’s import on fuel by 3.37 percent (month-to-month) to US$14.77 billion in October this year. “Indonesia’s government is committed to cut the fuel imports in the future,” he added. Apart from the B30 mandatory policy, the authority has also revitalized PT Trans Pacific Petrocemical Indotama (TPPI) to substitute imports of petro-chemical products. TPPI is a subsidiary of PT Tuban Petrochemical Industries, of which the state-owned oil and natural gas holding Pertamina controls 41 percent. Besides, the ministry has launched several measures such as developing the green refinery, decreasing the use of Liquified Petroleum Gas (LPG), and utilizing more Dimethyl Ether (DME) is which processed by coal gasification. The coal gasification was a process of converting the fossil fuel-based carbon materials into carbon monoxide, hydrogen, and carbon dioxide. “These measures aim to strengthen Indonesia’s trade balance,” he stated. In October this year, the country’s balance of trade was $163.9 million in surplus, while the trade deficit reached $163.9 million in September 2019.
https://en.antaranews.com/news/136656/b30-may-save-us48-million-in-foreign-exchange

Kata Data | Jum’at, 15 November 2019
Airlangga Siapkan Dua Langkah Cepat untuk Tekan Impor Migas
Dua langkah tersebut adalah pelaksanaan Mandatori Biodiesel 30 % (B30) serta restrukturisasi Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan melakukan sejumlah langkah untuk menekan impor yang berpengaruh terhadap defisit neraca migas. Apalagi dalam rilis Badan Pusat Statistik atau BPS, angka defisit bidang migas mencapai US$ 829,2 juta pada Oktober lalu. Airlangga mengatakan kebijakan yang menjadi sasaran pemerintah adalah pelaksanaan Mandatori Biodiesel 30 % (B30) serta restrukturisasi Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Dua kebijakan ini untuk menekan impor, terutama minyak dan produk olahan minyak. “Ini adalah quick wins memperkuat neraca perdagangan Indonesia,” kata Airlangga dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/11). Airlangga mengatakan dari hasil uji coba, bahan bakar B20 dan B30 telah memenuhi parameter kadar air, FAME, viskositas, densitas, dan angka asam sudah seperti yang diperlukan. Dengan kata lain, penggunaan biodiesel tak memberi perbedaan signifikan trerhadap kendaraan yang menggunakan Bahan bakar Minyak (BBM) murni. “Saat implementasi B30 dilaksanakan 1 Januari, diproyeksikan ada penghematan devisa US$ 4,8 miliar sepanjang 2020,” kata Airlangga. Langkah selanjutnya adalah menekan impor migas lewat fasilitas milik TPPI guna mensubstitusi impor produk petrokimia. Selain itu fasilitas TPPI ini dapat mendukung program gasifikasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) untuk menggantikan Liquified Petroleum Gas (LPG). TPPI dirintis pada 1995 oleh PT Tirtamas Majutama dan diserahkan kepada pemerintah lantaran Grup Tirtamas terlilit utang Rp 3,2 triliun kepada sejumlah bank saat krisis moneter. Utang berserta bunganya tersebut semakin membengkak hingga saat ini. Makanya pemerintah siap mengkonversi saham multiyears bond menjadi saham Tuban Petrochemical Industries (TPI) yang merupakan holding dari TPPI. “Langkah ini diharapkan dapat menurunkan angka impor ke depan,” kata Ketua Umum Golkar tersebut. Airlangga juga sempat mengomentari surplus neraca perdagangan Oktober 2019 sebesar US$ 161,3 juta. Angka ini merupakan perbaikan signifikan dari periode yang sama tahun lalu yakni defisit US$ 1,75 miliar. Meski neraca migas defisit, namun surplus US$ 990,5 juta masih dialami neraca non migas. “Ini mengindikasikan program yang dijalankan pemerintah berada pada arah yang benar,” ujar dia. Airlangga juga mengatakan angka ekspor Oktober 2019 US$ 14,9 miliar melebihi perkiraan banyak pihak. Namun pemerintah juga akan mengambil langkah guna memacu ekspor, “Salah satunya menyederhanakan izin investasi melali Omnibus Law, “katanya.
https://katadata.co.id/berita/2019/11/15/airlangga-siapkan-dua-langkah-cepat-untuk-tekan-impor-migas

Mobil123.com | Jum’at, 15 November 2019
Mesin Diesel Isuzu Mu-X Diklaim Tahan Banting dan Tak Rewel
Isuzu Mu-X diklaim punya mesin diesel tahan banting, siap menenggak biodiesel 30 persen (B30), dan perawatannya pun lebih mudah. Sekadar menginformasikan, pemerintah akan mulai menyuplai B30 pada 2020 untuk mobil-mobil bermesin diesel, sebagai lanjutan dari penerapan B20 sejak paruh kedua 2018 hingga saat ini. Bahan bakar minyak (BBM) ini merupakan kombinasi antara solar dengan minyak nabati (kelapa sawit) dengan porsi 70 persen berbanding 30 persen. B20 maupun B30 sendiri, karena bercampur dengan minyak dari kelapa sawit, diketahui punya efek pembersih sehingga kotoran-kotoran yang menempel bisa terlepas dan menyumbat. Hal ini juga diakui oleh Attias Asril, General Manager Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia. “Bahan bakar biodiesel memiliki efek ‘soapy’ sehingga kemungkinan kerak terlepa dan dapat menyebabkan penyumbatan di injector pump,” tukas dia di sela-sela test drive Mu-X i-Series pada 13 – 14 November di Sukabumi, Jawa Barat. Akan tetapi, menurut Attias, B30 tidak akan menyebabkan masalah pada Mu-X. Pasalnya, mesin diesel commonrail turbo miliknya sudah menggunakan filter ganda. “Nozzle dilapisi dengan Diamond Like Carbon (DLC) untuk mencegah penyumbatan,” tandas dia. Pemerintah sendiri pada tahun ini sudah melakukan tes uji jalan menggunakan B30. Isuzu merupakan salah satu pabrikan yang berpartisipasi. “Menurut info yang kami dapat, tidak terdapat kendala ketika menggunakan B30,” aku Attias. Mu-X dipersenjatai mesin Commonrail Turbo Diesel 2.5-liter. Gelontoran daya maksimalnya 136ps dengan torsi 32,6 Kgm. Perawatannya pun lebih simpel. Pasalnya, mesin tidak menggunakan timing belt dari bahan karet lagi karena sudah diganti dengan timing gear plus chain yang lebih kuat serta tahan lama. i-Series merupakan varian tambahan sekaligus termurah Mu-X yang baru saja mengaspal pada akhir Juli. Banderol on-the-road Jakartanya yang hanya Rp 449 juta menjadikannya High SUV termurah di pasar otomotif Indonesia saat ini.
https://www.mobil123.com/berita/isuzu-mu-x-diklaim-punya-mesin-diesel-tahan-banting-dan-siap-tenggak-b30/57866

The Jakarta Post | Sabtu, 16 November 2019
Railway operator KAI to raise Rp 2t bonds for new trains, facility upgrades
State-owned railway operator PT Kereta Api Indonesia (KAI) will issue Rp 2 trillion (US$142.7 million) in bonds to refinance the firm’s bank loans, buy new trains and upgrade train facilities. KAI president director Edi Sukmoro said on Monday on the sidelines of a gathering of bond investors that 672 train cars aged more than 30 years old needed to be replaced. The old train cars comprise passenger cars, freight cars, dining cars and locomotives. “We will replace those train [cars] gradually with new ones for a better service. In terms of amenities, safety and security, many of our facilities [and] trains need to be restored indeed,” he said, adding that, by 2020, all of the old train cars would be scrapped and replaced with new ones. KAI plans to purchase new train cars from state-owned train manufacturer PT Industri Kereta Api Indonesia (Inka), opening possibilities for imported trains as well. Funds raised from the bonds’ issuance will also be used to buy 36 new locomotives and revitalize machines in its passenger and cargo train cars. The firm was also eyeing the purchase of more environmentally friendly locomotives with biofuel mixes of B30 and B20, Edi added. Around Rp 800 billion in proceeds from the bonds issuance would be used for procuring new train cars and upgrading facilities. Meanwhile, about Rp 1.2 trillion would be used for refinancing KAI’s bank loans. “We are optimistic that our bond offering this time will be successful just like our previous bond offering,” KAI finance director Didiek Hartantyo said. KAI previously offered its first ever bonds in 2017, raising Rp 2 trillion to finance the Soekarno-Hatta International Airport train project and procure new trains. It was oversubscribed, with demand reaching Rp 5.2 trillion. For the second bonds issuance, KAI expects to initiate a public offering on Dec. 6, with their initial offering having come on Nov. 11. The target to improve the quality and passenger load factor of trains is driven by the rapid growth in demand for railway transportation options in the past few years, both for transporting passengers and cargo. According to KAI, 424 million passengers traveled by train in 2018, a 7.6 percent increase from 394 million passengers in 2017. In line with the increasing number of passengers, the firm booked a 24.3 percent hike in passenger car revenue to Rp 8.3 trillion in 2018 from Rp 7 trillion in 2017. Revenue generated from the freight business also increased, by 12.5 percent to Rp 6.3 trillion in 2018 from Rp 5.6 trillion in 2017. KAI carried 45.2 million tons of cargo in 2018, a 12.7 percent increase from 40.1 million tons transported in 2017. “Going forward, we want to serve [our passengers] using good trains, especially since the data shows the growth of passengers in executive segments is higher [than the economy segment]. Thus, in the future, we want to introduce more trains with luxury cars,” Didiek said. Currently, KAI is finishing up a number of ongoing projects, including the LRT serving Greater Jakarta and,the reactivation of four train routes in West Java. Indonesia Railway Society chairman Hermanto Dwiyatmo-ko said more attention was needed to restore and increase the load factor of commuter trains in Greater Jakarta considering the high passenger demand. “Even though the commuter train is still good physically, as time goes by, we need to increase the passenger load factor of the commuter train,” he said. Hermanto also suggested that KAI add more freight cars, es: pecially to serve crowded routes such as the Jakarta-Surabaya route, which did not meet passenger demand. Indonesia’s railway tracks and signaling system needed a facelift by switching to electric from manual at present, he said, adding that initiating such change fell under the authority of the government.

The Jakarta Post | Sabtu, 16 November 2019
RI posts trade balance surplus amid steep decline in imports, Imports contract 16%, deeper than exports’ 12% drop
Indonesia posted a surprise trade surplus in October, beating economists’ expectations of a deficit. Imports declined more than exports amid sluggish global and domestic economic growth, Statistics Indonesia (BPS) announced on Friday. With a US$161.3 million surplus in October, Indonesia’s trade balance reversed an earlier $163 million deficit in the previous month. From January to October of this year, Indonesia booked a $1.78 billion trade deficit, significantly lower than the $5.57 billion recorded over the same period last year. Exports declined for 12 consecutive months, with a 6.13 percent year-on-year (yoy) contraction in October to $14.93 billion. The manufacturing sector, which was responsible for three quarters of total exports last month, declined by 2.49 percent yoy to $11.34 billion. The sharpest drop in exports was recorded in the oil and gas sector, slumping 40.07 percent yoy to $920 million. BPS head Suhariyanto said the decline in Indonesia’s exports was caused primarily by the sluggish growth of commodity prices while the volume of commodity exports increased. “The volume [of commodity exports] still recorded an increase, but because of falling prices, particularly in coals, compared to the previous year, the value of our exports declined,” said Suhariyanto in Jakarta on Friday. Global trade is expected to grow significantly slower at 1.2 percent this year down from 2.6 percent in previous estimates by World Trade Organization. Economies around the world are stagnating amid ongoing trade wars and heightened geopolitical risks, including Brexit uncertainties. Indonesia’s economic growth rate hit the lowest level in more than two years in the third quarter of this year. Economists said contraction in imports indicated weaker domestic economic activities, from the manufacturing industry to consumer demand. Imports in October contracted 16.39 percent yoy to $14.77 billion, with all types of goods freef-ailing. Raw and auxiliary goods, which accounted for almost three quarters of the month’s total imports, slumped by 18.76 percent to $10.89 billion. The value of capital goods imports also declined 11.35 percent yoy to $2.44 billion, with a nota- ble decline recorded in notebooks and machinery, among other goods, said Suhariyanto. Bank Central Asia (BCA) chief economist David Sumual said the negative growth of capital, raw and auxiliary goods could indicate a slowdown in domestic demand down the road. “If the imports of capital goods as well as raw and auxiliary materials have fallen, it is not a good indication, as there may be slowdown [in domestic demand],” said David, adding that a drop in domestic demand is usually felt in the following three to six months. University of Indonesia (UI) economist Fithra Faisal said the decline of imported raw materials and capital goods, both of which are important indicators for domestic industries’activities, pointed to the general decline of the manufacturing industry. “This signaled there is a dein-dustrialization process that could continue in the years ahead,” said Fithra, pointing out that the manufacturing industry posted lower growth than the GDP expansion. In the third quarter of this year, the manufacturing industry, which accounted for around a fifth of the GDP from the production side, grew 4.15 percent, BPS data showed. It was lower than the 5.02 percent GDP expansion booked over the same period. The manufacturing industry’s difficulty expanding was related to the recent World Bank report presented to Joko “Jokowi” Widodo, Fithra added, which detailed the relative disconnect between domestic industry and global value chains. “Imports tariffs on goods needed for the industry are relatively high, so it is no wonder that the increased the cost of production made them struggle to expand,” said Fithra. Samuel Sekuritas Lana Soelis-tianingsih, meanwhile, said that capita] goods imports were expected to decline following the completion of some of the government’s big infrastructure projects. She also added that the government’s 20 percent blended biodiesel (B2O) policy, which widens the mandate of biofuel usage to lower diesel fuel imports, also contributed to the decline in oil and gas imports. Imports of crude oil contracted 59.12 percent yoy in October to $359.1 million, lower than the $878 million of imports recorded over the same month last year.

Neraca | Sabtu, 16 November 2019
Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh Berkualitas
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kinerja perekonomian Indonesia masih tumbuh berkualitas, meski melambat pada triwulan III 2019. “Meski terjadi perlambatan, pencapaian ini masih lebih baik dibandingkan beberapa negara peer lainnya di ASEAN di antaranya Malaysia, Thailand, dan Singapura,” kata Airlangga dalam pernyataan di Jakarta. Airlangga mengatakan perlambatan pada triwulan III 2019 tidak terlalu mempengaruhi kinerja perekonomian nasional yang sepanjang tahun ini mengalami tantangan dari kondisi global. Ia menambahkan fenomena tren perlambatan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun sebagian besar negara di dunia. “Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2019 cukup baik secara fundamental karena banyak negara justru mengalami perlambatan ekonomi yang lebih dalam, misalnya China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa,” ujarnya. Menurut dia, salah satu sisi positif dari kinerja perekonomian ini adalah menurunnya tingkat pengangguran terbuka yang berarti pertumbuhan ekonomi telah memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja. “Perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh berkualitas dan stabil melalui penciptaan lapangan-lapangan kerja baru, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh sebagian besar masyarakat,” katanya. Untuk mempertahankan momentum ini, Airlangga memastikan pemerintah akan memperkuat kondisi domestik agar kegiatan ekonomi dalam negeri tidak rentan terhadap tekanan eksternal. “Pemerintah berupaya untuk mendorong pertumbuhan melalui debottlenecking perijinan melalui omnibus cipta kerja, penyusunan prioritas investasi dan menyiapkan kartu prakerja agar tenaga kerja lebih terampil untuk mengisi tantangan investasi,” ujarnya. Airlangga Hartarto juga memastikan pelaksanaan program biodiesel (B20) telah memberikan kontribusi terhadap penurunan defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III-2019. “Impor migas turun sedikit, ini mencerminkan program B20 telah berjalan,” kata Airlangga. Airlangga mengatakan pelaksanaan program, yang terbukti mampu mengurangi impor migas ini, nantinya akan dilanjutkan berbagai kebijakan biodiesel lainnya. “Kita sedang membuat roadmap B30, B40, B70 sampai BI00, sehingga ini salah satu quick wins untuk mengurangi defisit neraca perdagangan,” ujarnya. Selain itu, ia mengatakan pemerintah terus melakukan penguatan terhadap kinerja ekspor sena investasi agar ekonomi tidak terdampak kondisi global. “Nilai tambah yang kita dorong dari segi produk ekspor kita tingkatkan, dari kemudian kalau dilihat investasi juga cukup meningkat,” kata Airlangga. Saat ini, pemerintah telah menetapkan 15 program percepatan yang akan menjadi prioritas untuk diselesaikan dalam jangka waktu enam bulan. Salah satu program prioritas tersebut adalah implementasi mandatori B30 untuk mengurangi impor migas yang sedang dalam proses pembahasan di tingkat teknis. Sementara itu, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengharapkan realisasi belanja pemerintah yang sempat menurun di triwulan III-2019 akan membaik pada triwulan berikutnya. “Kalau kuartal satu dan dua lebih tinggi, kuartal tiga agak melemah, nanti akan naik lagi di kuartal empat,” kata Askolani di Jakarta. Askolani mengatakan saat ipi terdapat pola penyerapan belanja pemerintah yang lebih optimal sejak awal tahun dan kondisi itu memberikan dampak positif kepada pertumbuhan konsumsi pemerintah. Namun, menurut dia, realisasi tersebut akan melambat di triwulan III-2019 sesuai pola musiman dan nantinya akan kembali meningkat seiring dengan tingginya belanja pegawai, barang maupun modal jelang akhir tahun.”Ini normal saja. Ini proses, nanti Insya Allah akan cepat jalannya,” ujarnya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan 111-2019 sebesar 5,02 persen atau melambat dibandingkan periode sama dalam tiga tahun terakhir. Salah satu komponen Produk Domestik Bruto (PDB) yang berkontribusi pada perlambatan ekonomi tersebut adalah konsumsi pemerintah yang hanya tumbuh 0,98 persen. Padahal dalam periode yang sama pada 2017 konsumsi pemerintah dapat tumbuh hingga 3,46 persen dan sebesar 6,27 persen pada 2018. Kinerja yang menurun ini juga tidak sebaik pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan 1-2019 sebesar 5,2 persen dan triwulan 11-2019 sebesar 8,25 persen. Defisit Transaksi Berjalan. Sementara Bank Indonesia meyakini defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) pada tahun ini akan lebih rendah dibanding realisasi 2018 yang sebesar 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto atau 31,1 miliar dolar AS. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, mengatakan keyakinan tersebut didorong berbagai perkembangan ekonomi terakhir. Salah satunya, realisasi CAD hingga kuartal III 2019 yang sebesar 2,7 persen PDB atau 7,7 miliar dolar AS. Angka itu membaik dibandingkan kuartal II2019 yang sebesar 2,9 persen PDB atau 8,2 miliar dolar AS. Jika dibandingkan secara tahunan di periode sama, CAD kuartal III juga lebih baik karena pada kuartal III 2018 CAD mencapai 8,6 miliar dolar AS atau 3,28 persen terhadap PDB. “Kita lihat di triwulan IV dengan gambaran seperti ini kami cukup yakin harusnya akan lebih baik,” kata Dody. Dody memperkirakan total CAD pada 2019 akan berkisar pada 2,5 persen sampai tiga persen dari PDB. Secara spesifik, dia mengungkapkan keyakinannya bahwa CAD tahun ini tidak akan melampaui CAD 2018 sebesar 2,98 persen dari PDB. “Kita melihat CAD masih di 2,5 – 3 persen PDB, dan akan di bawah 2018 yang sebesar 2,98 persen PDB,” ujar dia. Dia memandang perkembangan di kuartal III 2019 ini sudah menunjukkan perbaikan pada beberapa sektor ekonomi, antara lain, industri manufaktur, industri subsektor kendaraan, dan emas. Hal tersebut juga yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2019 mencapai 5,02 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun pertumbuhan itu melambat jika dibandingkan kuartal yang sama di 2018, Dody menilai angka tersebut sudah relatif baik. Pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2019 yang sebesar 5,02 persen juga di atas ekspektasi banyak pelaku pasar. Dengan perkembangan CAD yang membaik di kuartal III 2019, maka kuartal IV 2019, data transaksi berjalan berpeluang bisa lebih baik. Hal ini dipicu juga mulai berdampaknya pemangkasan suku bunga acuan yang sudah dilakukan empat kali pada tahun ini menjadi lima persen. “Selain itu, pada 2020 sektor riil akan lebih signifikan pertumbuhannya, sentimen ekspektasi positif sudah akan tercermin di kuartal FV 2019 nanti, dan memberikan gambaran PDB kita bisa jauh lebih baik,” kata Dody.

Rakyat Merdeka | Senin, 18 November 2019
Pertamina Jual Bahari Campuran Biodiesel
VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan, SMO merupakan bahari kimia yang dihasilkan dari pencampuran antara Methanol dengan Sodium Hydroxide. SMO digunakan sebagai katalis untuk proses transesterifi-cation dengan vegetebles oil dan bahan kimia lainnya untuk dijadikan Fatty Acid Methyl Esters (FAME). FAME kemudian disalurkan ke Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina di seluruh Indonesa sebagai bahan pencampuran Biodiesel. Kata Fajriyah, pasokan SMO yang dilakukan Pertamina sebagai dukungan untuk produksi FAME yang akan menjadi campuran bahan bakar nabati. Kegiatan ini digadang-gadang bisa mensukseskan program B20 yang tengah digalakkan pemerintah. “Penggunaan SMO sebagai katalis akan membantu produksi FAME. Sehingga meningkatkan keandalan ketersediaan FAME untuk mendukung program B20 yang dicanangkan pemerintah,” ucap Fajriyah dalam keterangan tertulisnya, kemarin. Dia mengatakan, suplai perdana SMO ke Tunas Baru Lampung dilakukan awal bulan ini. Angkanya mencapai 7 iso tank dengan total volume 154 ribu kgs. Dengan akses korporasi ini, Pertamina bahkan meraih tambahan pendapatan 101.640 dolar AS hanya di November. Bukan hanya di Lampung, Fajriyah menyebut pihaknya bakal lebih banyak menjalin kontrak pasokan produk SMO dengan produsen FAME di seluruh Indonesia. Apalagi, tren kebutuhan biodiesel akan semakin meningkat ke depannya. “Sesuai dengan prediksi kenaikan produksi biodiesel di masa depan. Pertamina berpotensi mendapatkan revenue lebih besar lagi dengan menyuplai produk ini ke customer lainnya dengan pertimbangan pemakaian SMO sekitar 1 sampai 2 persen dari total kapasitas produksi mereka,” terangnya. KAI Gunakan B20. Selain kendaraan pribadi dan komersil, moda trans-porasi massal juga diminta menyerap B20. Rencananya, Kereta Api Indonesia (KAI) akan menggunakan kendaraan ramah lingkungan dengan membeli lokomotif bebahan bakar Diesel B20. Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo mengatakan, perseroan berkomitmen membangun industri transportasi yang sehat dan ramah lingkungan. Mengingat kebijakan ini sejalan dengan rencana modernisasi KAI. “Green energy ready. Artinya teknologinya sudah siap B20 sesuai program pemerintah. Kereta kita akan kita modernisasi. Ke depan kereta kita nggak ada lokomotif-nya (terpisah-pisah), sudah tersambung. Kita ke depan green energy kita ganti genset,” ungkap Didiek. Dia menyebut lokomotif tersebut akan didatangkan dari Eropa, Amerika, atau Kanada. Pasalnya, hingga saat ini perusahaan di dalam negeri masih belum memproduksi lokomotif kereta.

Koran Tempo | Senin, 18 November 2019
Kinerja Ekspor Belum Membaik, Surplus perdagangan selama Oktober akibat penurunan impor.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan surplus neraca perdagangan selama Oktober 2019 ditopang peningkatan konsumsi pasar dunia menjelang akhir tahun, khususnya produk olahan dan produk kebutuhan sehari-hari {consumer goods). Hal ini turut berimbas pada kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong komponen yang tidak tersedia di dalam negeri. “Ini kabar baik untuk neraca perdagangan, tapi pada saat yang sama juga bukan berita baik karena tidak ada pertumbuhan ekspor jika dilihat secara year on year atau tahunan,” ujar Shinta kepada Tempo, kemarin. Menurut Shinta, permintaan dunia terhadap ekspor secara agregat sampai akhir tahun masih terus menyusut dibanding tahun lalu. Menurut dia, peningkatan ekspor Oktober dibanding September tidak ada hubungannya dengan peningkatan daya saing atau diversifikasi ekspor nasional di pasar global. Pasalnya, sektor yang meningkat tetap hanya produk olahan dan consumer goods, sementara produk lainnya tidak naik signifikan. Padahal, kata dia, untuk menggenjot ekspor dalam kondisi ekonomi yang sulit, perlu diversifikasi ekspor dan peningkatan daya saing melalui efisiensi biaya produksi dan biaya rantai pasok (supply chain). “Jadi, Indonesia harus tetap mengupayakan diversifikasi produk ekspor, negara tujuan ekspor, serta memaksimalkan produktivitas ekspor dalam negeri,” kata Shinta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Oktober lalu surplus sebesar US$ 161,63 juta. Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, surplus terjadi karena ditopang nilai ekspor Oktober sebesar US$ 14,93 miliar atau naik 5,92 persen secara bulanan (month to month) dan impor sebesar US$ 14,77 miliar atau naik 3,57 persen. Dengan adanya surplus ini, secara kumulatif defisit neraca perdagangan Januari hingga Oktober 2019 turun menjadi US$ 1,79 miliar. Angka defisit ini lebih kecil dari tahun lalu yang mencapai US$ 5,57 miliar. “Namun capaian surplus (Oktober) tercipta bukan karena ekspor naik, tapi karena impor turun lebih dalam. Yang kami harapkan, ekspor tumbuh, impor turun,” kata Suhariyanto, kemarin. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan pemerintah akan mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan kinerja ekspor, salah satunya dari sisi kemudahan dan penyederhanaan proses perizinan dan investasi melalui omnibus law. Untuk menekan impor, salah satunya adalah memberlakukan mandatory biodiesel 30 persen atau B30. Dia mengatakan pada bulan ini akan mulai dilakukan uji coba penggunaan B30 di sektor transportasi. Hasil road test sementara kendaraan bermesin diesel yang akan difinalkan dalam waktu dekat menunjukkan bahwa bahan bakar B20 dan B30 telah memenuhi spesifikasi parameter short test, yakni kadar FAME, kadar air, viskositas, densitas, dan angka keasaman. Neraca Perdagangan (US$ Miliar) “Maka, pada saat implementasi mandatory B30 dilaksanakan secara formal pada 1 Januari 2020, diproyeksikan akan terjadi penghematan devisa sebesar US$ 4,8 miliar sepanjang 2020,” tutur Airlangga, akhir pekan lalu. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Waluyo, menuturkan secara kumulatif neraca perdagangan memang masih defisit. Namun nilai defisit tersebut menyempit dibanding pada periode yang sama tahun lalu. Dody menuturkan, tren impor diprediksi naik pada akhir tahun seiring dengan perayaan Natal dan tahun baru. “Namun, pada tahun ini, (impor) berpotensi tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya,” ujar Dody kepada Tempo, beberapa waktu lalu. Dalam kondisi seperti itu, ujar Dody, BI lebih berfokus pada sisi keseimbangan eksternalnya, yaitu neraca pembayaran secara keseluruhan, termasuk defisit transaksi berjalan, dalam kondisi yang sehat. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mendorong investasi, baik secara langsung (foreign direct investment) maupun investasi portofolio. “Hal itu dilakukan dengan memelihara ekspektasi positif terhadap prospek ekonomi Indonesia dan daya tarik investasi yang baik,” ujar Dody. Untuk mendorong transaksi perdagangan yang lebih seimbang, Dody mengatakan bank sentral berkoordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait untuk mendorong reformasi struktural, misalnya dengan meningkatkan nilai tambah dan ekspor produk dalam negeri, termasuk ekspor jasa khususnya pariwisata

Republika | Senin, 18 November 2019
Pengumuman Hasil Uji B-30 Akhir November
Tim teknis uji jalan bahan bakar biodiesel 30 persen (B-30) pada kendaraan bermesin diesel telah menyelesaikan uji jalan, uji performa kendaraan, monitoring, dan evaluasi pada tanggal 5 November 2019 lalu. Selanjutnya, Pe- merintah melalui Kementerian ESDM akan menyampaikan hasil uji jalan dan rekomendasi teknis B-30 kepada publik pada akhir November ini. “Pemerintah berencana menyampaikan hasil uji jalan dan rekomendasi teknis B-30 kepada publik pada akhir November . 2019,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) Dadan Kusdiana, Sabtu (16/11). Lebih lanjut Dadan menyam- paikan, agar implementasi B-30 di awal Januari 2020 dapat terlaksana dengan baik, perlu kesiapan dari para produsen biodiesel, kesiapan industri manufaktur dan masyarakat serta kelengkapan penyediaan infrastruktur. Dadan mengungkapkan, Balitbang ESDM bersama Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM dan sejumlah lembaga lain saat ini tengah menyusun laporan akhir.

Seputar Indonesia | Senin, 18 November 2019
Pemerintah Jamin Pasokan Solar Subsidi
Pemerintah menjamin kuota ba-han bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi masih dalam kondisi aman guna mencukupi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan \’laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi kuota BBM jenis solar bersubsidi sampai Oktober 2019 sebesar 13,3 juta kiloliter (kl) masih tersisa sebesar 1,2 juta kl dari kuota yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 14,5 juta kl. “Jadi masih aman untuk di-gunakanselamaNovember. Ka-launantilebihbisamasukkebu- lan Desember, tapi kalau nanti pas kita miTciryang Desember,” ujar Pit Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto di Jakarta kemarin. Menurutdia.kuotaBBMber-subsidi dipastikan aman sampai akhir tahun manakala kebijakan mandatori biodiesel 30% (B30) sudah dapat diuji coba pada Desember mendatang. Pihaknya optimistisapabilakebijakan B30 dapat diimplementasikan sece- patnya, kuota solar bersubsidi aman hingga akhir tahun. “Nah, DesemberinikalaunantiB30su-dah mulai uji coba, maka aman. Makanya didorong B30 diper-cepat,”ka tanya. Terpisah, Vice PresidentCor-porate Pertamina Fajriyah Usman telah mengambil langkah untuk menambah suplai BBM jenis solarbersuBsidi sebesar 20% untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak perlu khawatir karena Pertamina telah menambah suplai solar untuk menjamin ketersediaan pasokan. Meski begitu, Fajriyah mengimbau masyarakat mampu tidak membeli BBM bersubsidi supaya kuota solar subsidi tidak jebol sampai akhir tahun. BBM solar bersubsidi hanya diperun-tukkankepadamasyarakatyang secara ekonomi tidak mampu. “Bagimasyarakat golongan mampu agar menggunakan BBM nonsubsidi yang ketersediaannya memang lebih banyak sehingga BBM subsidi dapat lebih dinikmati oleh penggunanya sesuai ketentuan,” tandasnya. Sementara itu, praktisi sekaligus pengusaha logistik Bam-bangHaryoSoekartono mengatakan, saat ini telah dirasakan kelangkaan solar subsidi di sejumlah daerah di Indonesia. Angkutan logistik darat memegang peranan sangat dominan dalam sistem transportasi nasional, yakni lebih dari 85%, se- hinggakelangkaansolar subsidi pasti berdampak terhadap perekonomian nasional. “Saya sangat prihatin kelangkaan solar berlarut-larut. Lebih prihatin lagi, kementerian terkait seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, ESDM, hingga Kementerian Keuangan tidak bersuara, seakan tidak tahu atau tidak mau tahu dengan kesulitan yang sedang dialami angkutan darat,” ungkap Bambang. Dia mengatakan, angkutan darat merupakan urat nadi perekonomian, bukan hanya perannya yang sangat dominan, melainkan juga konektivitas-nya sangat erat dengan moda angkutan lain, baik laut, kereta api, maupun udara. Semua moda lain bergantung pada angkutan elarat untuk mengirim barang dari hulu hingga hilir atau konsumen. “Multiplier effect akibat kelangkaan BBM ini sangat luas, melambaikan ekonomi karena logistik terhambat, sehingga harga-harga akan naik dan inflasi meningkat. Ketidakpedulian kementerian itu tidak mendukung upaya Presiden Joko Widodountukmenggenjoteko-nomi,” ucapnya. Menurut Bambang, Kemen-hubsebagaiinstansiyangpaling bertanggung jawab terhadap konektivitas seharusnya paling peduli berada di depan meng- atasi kelangkaan solar subsidi. Dia mengingatkan Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk menghindari ancaman resesidalamwaktudekat. Pemerintah tidak boleh bekerja santai dan mengklaim bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Sementara itu, Ketua DPC Aptrindo Surabaya Putra Lingga mengapresiasi Pertamina yang masih memasok solar bersubsidi meski penyaluran di Jawa Timur sudah melebihi total kuota. “Sebenarnya kuota sampai bulan ini sudah habis, tapi Pertamina masih menggelontorkan untuk teman-te man,” pungkas Lingga.

Investor Daily Indonesia | Senin, 18 November 2019
Penggunaan B30 Dapat Hemat Devisa US$ 4,8 Miliar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, implementasi mandatori B30 yang akan dilaksanakan pada 1 Januari 2020 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga US$ 4,8 miliar sepanjang 2020. “Saat implementasi mandatori B30 dilaksanakan secara formal pada 1 Januari 2020 diproyeksikan terjadi penghematan devisa sebesar US$ 4,8 miliar sepanjang 2020,” ucap Airlangga di Kantornya, Jumat (16/11). Pemerintah, lanjut dia, akan melakukan uji coba penggunaan B30 di sektor transportasi pada November 2019, sebab hasil road test sementara kendaraan bermesin diesel menunjukkan bahwa B20 dan B30 telah memenuhi spesifikasi parameter short test. Spesifikasi parameter short test sendiri terdiri dari kadar FAME, kadar air, visko-sitas, densitas, dan angka asam. “Penggunaan B20 dan B30 juga tidak memperlihatkan perbedaan dampak yang signifikan terhadap daya kendaraan,\’ ucap Airlangga. Ia menilai implementasi mandatori B30 tersebut akan mampu menekan nilai impor Indonesia yang pada Oktober 2019 mencapai US$ 14,77 miliar atau naik 3,37% (mtm) dibanding bulan lalu. “Berbagai langkah yang sedang dan akan diambil pemerintah Indonesia saat ini diharapkan dapat menurunkan angka impor ke depan di antaranya pemberlakuan mandatori B30,” ujarnya. Ia mengatakan, pemerintah juga akan melakukan berbagai langkah untuk terus mengurangi nilai impor di Indonesia seperti merevitalisasi Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) untuk mensub-stitusi produk impor petrokimia. Disaat yang sama pemerintah pun akan melakukan pengembangan program gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai upaya substitusi Liquified Petrole- um Gas (LPG) dan pengembangan green refinery. “Semuanya ini merupakan bagian dari quick wins pemerintah dalam upaya memperkuat neraca perdagangan Indonesia,” ucap Airlangga. Pemberdayaan Ekonomi. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, penggunaan B30 juga ikut memberdayakan pere- konomian masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari permintaan yang tinggi untuk minyak kelapa sawit yang akan mendorong penyerapan tenaga kerja. “Ini meningkatkan ekonomi masyarakat, daya beli petani meningkat sehingga konsumsi barang yang dihasilkan dalam negeri bisa lebih kuat. Ketika ekspor menurun, kita memberdayakan ekonomi domestik bukan hanya dari APBN tetapi (juga) melalui kebijakan,” ucap Iskandar,