+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Hino Arahkan Truk Hybrid Sanggup Minum Biodiesel B30

CNN Indonesia | Senin, 28 Oktober 2019

Hino Arahkan Truk Hybrid Sanggup Minum Biodiesel B30

Teknologi hybrid pada truk Hino disebut bakal disesuaikan dengan kebijakan biodiesel B30 di Indonesia. Sistem pembakarannya dikatakan nanti bisa menggunakan bahan bakar campuran antara 70 persen solar dan 30 persen biodiesel kelapa sawit yang sedang dikembangkan pemerintah. “Saya kira sudah siap. Teknologi kami akan menyesuaikan dengan B30,” ujar Executive Vice President Hino Motors Ltd, Shin Endo, di markas besar Hino, di Hinoshi, Tokyo, Jepang, Jumat (25/10). Penyesuaian teknologi itu, misalnya, meliputi penggunaan lapisan alumunium pada tangki bahan bakar. Seperti diketahui salah satu sifat biodiesel kelapa sawit menyerupai deterjen yang sanggup menguras kotoran pada tangki bahan bakar hingga berdampak negatif bila tercampur ke sistem pembakaran. “Agar agar bisa sesuai dengan [kandungan] sulfur,” ucap dia. Pemerintah bakal mewajibkan penggunaan B30 pada Januari 2020. Tujuannya, mengurangi penggunaan minyak bumi yang berasal dari fosil. Pemakaian B30 ini juga dapat menurunkan kandungan sulfur dalam solar. Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) Hiroo Kayanoki mengungkapkan teknologi hybrid yang dimiliki prinsipal sejalan dengan kebijakan B30. “Kendaraan Hino dengan teknologi Hybrid dapat digerakkan dengan tenaga listrik dan biodiesel sehingga lebih ramah lingkungan dan juga irit bahan bakar. Sehingga truk ini cocok digunakan di Indonesia saat ini, menjelang era peralihan kendaraan bermesin diesel ke kendaran bertenaga listrik,” tuturnya, dalam keterangan tertulis. Selain mendukung industri kelapa sawit, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI Santiko Wardoyo menambahkan, kendaraan komersial hybrid sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang tediri dari pulau-pulau dengan infrastruktur pendukung kendaraan listrik yang belum sempurna. “Kendaraan Hino Hybrid, sangat kompatibel di Indonesia dengan pengoperasian stop and go untuk distribusi barang-barang atau bisnis kargo dan bus transportasi massal, karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan seperti stasiun pengisian daya”, ungkap dia.
Berdasarkan keterangan Hino, semua truk produksi terbaru pabrikan asal Jepang ini sudah memiliki teknologi hybrid. Misalnya, Hino 300 Series, Hino 500 Series, Hino 600 Series, Hino 700 Series. Meski begitu belum ada satupun yang dijual di dalam negeri. Kendaraan Hino hybrid menggunakan diesel electric hybrid system dengan kelebihan emisi gas buang lebih bersih dan dapat menurunkan konsumsi bahan bakar. Sistem ini bekerja di saat penurunan akselerasi atau dalam keadaan idle. Mobil akan menggunakan baterai NiMH sebagai sumber energinya. Sehingga, pemakaian bahan bakar menjadi lebih hemat karena saling melengkapi antara bahan bakar solar dan tenaga baterai. Ada pula teknologi Diesel Particulate active Reduction system (DPR) dan Selective Catalytic Reduction (SCR) yang menghilangkan partikel berbahaya dan juga mengurangi N0x (nitrogen monoksida), sehingga diklaim menghasilkan emisi lebih bersih.
https://cnnindonesia.com/teknologi/20191028004749-384-443323/hino-arahkan-truk-hybrid-sanggup-minum-biodiesel-b30

Jawa Pos | Selasa, 29 Oktober 2019
Bahas Teknis Distribusi B30
Dalam hitungan bulan, 2019 bakal berakhir. Implementasi bahan bakar B30 pun sudah di depan mata. Karena itu, belakangan pemerintah sibuk membahas teknis distribusi bahan bakar tersebut bersama produsen dan penyalur. Sebab, pelaksanaan uji jalan sudah rampung. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral.Dadan Kusdiana mengatakan bahwa B30 resmi berlaku mulai 1 Januari 2020. “Kami yakin sudah tidak ada masalah lagi dari sisi kualitas bahan bakar dan kesiapan pengguna,” ujarnya kemarin (28/10). Dia juga menuturkan bahwa produksi biodiesel tidak terkendala. Sejauh ini seluruh rangkaian proses pada produsen sudah lancar. Yang belum tuntas adalah pembahasan tentang distribusi B30. Khususnya dari produsen ke penyalur. Pemerintah, produsen, dan penyalur menghendaki rangkaian distribusi yang mulus. Dengan demikian, aktivitas distribusi tidak akan memengaruhi kualitas biodiesel. “Karena waktu sangat berpengaruh. Kalau (waktunya) tidak pas, berpotensi degradasi atau berkurang kualitasnya. Maka, kami harus memastikan handling-nya benar,” kata Dadan. Dia lantas memerinci keterangannya tersebut. Ketika dikirim dari produsen ke konsumen, biodiesel mengalami pencampuran. Proses itu harus benar agar kualitas tetap terjamin. “Jangan sampai ketika sudah dikirim nunggu lama. Kemudian dicampur, nunggu lagi. Proses mencampur belum selesai, lalu dicampur lagi,” tegasnya. Dadan mengatakan bahwa kendala itu memang belum muncul sekarang. Namun, ada potensi munculnya hambatan seperti itu. “Misalnya, pendistribusian di laut, kalau selama sebulan, kualitas akan turun,” paparnya. Penurunan kualitas itu terjadi, terutama kalau terpapar dengan udara. Sebab, B30 merupakan minyak nabati yang dikonversi. Berbagai potensi kendala itu, menurut Dadan, bukan hal baru. Namun, yang paling penting adalah menjaga kualitas bahan bakar. “Secara implisit tidak ada masalah, tapi hanya yang kecil-kecil,” paparnya.

Tribunnews | Senin, 28 Oktober 2019
Peresmian PLTBn Tanggal 27 Oktober 2019 Diundur, Ini Alasannya
Pembangkit Listrik Tenaga Bahan Bakar nabati (PLTBn) di Desa Sungai Samak, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, sebelumnya telah direncanakan bakal diresmikan pada tanggal 27 Oktober 2019 kemarin. Namun peresmian PLTBn tersebut, belum bisa terlaksana, lantaran perusahaan perkebunan sawit belum ada yang bersedia untuk menjual CPO kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung, lantaran belum cocok harga. Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem) sudah berencana untuk mencari perusahaan lain, bagi yang ingin berkontribusi kepada daerah dalam upaya mengembangkan pembangkit listrik tersebut. Lantaran Belitung sekarang ini masih berupaya untuk menambah daya listrik. Daya listrik di Belitung sekarang ini mengalami kekurangan, akibat satu mesin PLTU berukuran 16 MW rusak. “Kami masih mencari perusahaan lain. Yang kemarin (perusahaan perkebunan sawit) belum deal, soalnya perusahaan sawit itu tidak mau dengan harga yang kami tawarkan,” ungkap Sanem kepada posbelitung.co, senin (28/10/2019). Perusahaan perkebunan sawit, ingin menjual CPO kepada Pemerintah dengan harga Rp 6.500,- perliter. Sedangkan alokasi anggaran yang di sediakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung dibawah harga tersebut. “Perusahaan ini masih ke kekeh tidak mau menjual dibawah harga Rp 6.000,- perliter. Padahal ini untuk masyarakat, bukan untuk kami,” ucapnya. Kata Sanem, kondisi PLTBn ini sebetulnya sudah beroperasi dengan menggunakan bahan bakar B20. Namun daya listrik yang bisa dipakai hanya 2 megawatt (MW) saja, lantaran bahan bakar tersebut tidak cukup. “Sebetulnya kondisi listrik di Belitung ini sudah urgent, dan PLTBn itu sangat dibutuhkan sekali. Nah 2 MW sekarang ini hanya untuk malam hari saja koneksi nya, kalau siang tidak cukup daya nya. PLTBn ini memang di rancang dua bahan bakar, CPO dan B20,” jelas Sanem.
https://belitung.tribunnews.com/2019/10/28/peresmian-pltbn-tanggal-27-oktober-2019-diundur-ini-alasannya

Koran Kaltim | Senin, 28 Oktober 2019
Ampas Tahu Bagus untuk Ternak dan Bisa jadi Biodiesel
Ampas tahu memiliki potensi besar sebagai pakan ternak hingga menjadi gas biodiesel. Pertumbuhan ternak yang diberi pakan ampas tahu lebih cepat seperti yang diungkapkan Wgimin, Pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) tahu yang terletak di sentra pembuatan tahu di jl. lumba-lumba, kelurahan Selili, Kecamatan Samrinda ilir. Menurut Wagimin, dari komposisi kimianya ampas tahu bisa digunakan sebagai sumber protein dan lebih tinggi kualitasnya dibandingkan dengan kacang kedelai. “Ampas tahu ini lebih tinggi sebenarnya proteinnya, jadi perkenmbangan hewan ternak itu juga bagus,” kata Wagimin. Sebagi produsen tahu, hasil surplus produksi tahunya yang menjadi ampas tiap harinya mampu terjual sebanyak 4 hingga 5 karng dengan harga 15rb/karungnya. “Tiap habis bikin tahu, ampasnya ditu laku kadang 4 kadang 5 (karung),” ungkapnya. Selain Wagimin, Yadi yang juga merupakan pelaku IKM tahu di sekitaran Selili mengungkapkan ampas tahu juga dapat diproduksi menjadi gas biodiesel. Namun menurut Yadi, lantaran kurangnya pemahaman mengenai pembuatan ampas tahu menjadi gas biodiesel oleh para pelaku IKM serta kurangnya sosialisasi pembinaan dari pemerinta maka para pelaku IKM tahu di Samarinda belum ada yang mampu mengolahnya.
https://www.korankaltim.com/berita-terkini/read/26449/ampas-tahu-bagus-untuk-ternak-dan-bisa-jadi-biodiesel

Tribunnews | Senin, 28 Oktober 2019
HD Minta Pertamina RU III Buat Binaan Khusus Tanggulangi Karhutla
Meminimalisir terjadinya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumsel tahun 2020, Gubernur Sumsel H.Herman Deru kian gencar melibatkan perusahaan, tak terkecuali Pertamina Refinery Unit (RU) III Plaju. Menurutnya Pertamina harus membuat Satgas atau semacam binaan khusus untuk mengurangi kebakaran yang terjadi. Hal itu diungkapkannya saat menerima kedatangan General Manager Pertamina Refinery Unit III Plaju Joko Pranoto, berikut jajarannya di Ruang Tamu Gubernur Sumsel, Senin (28/10). “Ini serius, saya minta Pertamina buat entah itu satgas atau binaan. Paling tidak mengamankan kebakaran hutan dan lahan yang ada di ring satu objek vital Pertamina. Supaya Karhutla di Sumsel ini berkurang,” tegasnya. Dikatakan HD, kerjasama ini diperlukan karena titik api yang tersebar di Sumsel saat musim kemarau tiba sangat banyak di antaranya di Kabupaten OKI, Muba, OI dan Pali. Lahan inipun sebagian besar merupakan lahan gambut yang sulit dipadamkan jika sudah terbakar. Tak hanya bertugas memadamkan api, Satgas tersebut menurut HD hendaknya dapat melakukan pembinaan kepada masyarakat di sekitar titik api agar tidak melakukan pembakaran kebun untuk membuka lahan. ” Saya nantikan betul binaan Pertamina itu. Untuk tahap awal mungkin Pertamina RU dan Pertamina EP dulu. Malu kita karena asap ini. Ini bentuk kepedulian Pertamina juga. Tolong ingatkan, Saya ingin ini segera ditindaklanjuti, ” jelasnya.
Tak hanya memaparkan soal pentingnya penanggulangan Karhutla, dalam audiensi itu Gubernur Herman Deru sempat menanyakan progrem program Pertamina soal pengembangan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menjadi BBM. Sebagai daerah penghasil sawit cukup besar di Indonesia, Ia sangat berharap program tersebut berlanjut. Dengan harapan produksi sawit Sumsel yang berlimpah kembali bergairah dan mendukung energi baru dan terbarukan sekaligus mengurangi impor bahan bakar. ” Harapan saya begitu. Dengan potensi sawit yang luar biasa kalau ada kebijakan program ini jangan hentikan itu. Paling tidak bisa kurangi impor minyak. Dan paling penting bagi Saya ada jaminan sawit dan CPO kita ini ada yang beli, Kembangkan B50 sampao B100 agar paling tidak ini bisa dikonsumsi sendiri,” jelas HD. Sementara itu General Manager Pertamina Refinery Unit III Plaju Joko Pranoto mengungkapkan usulan Gubernur membuat satgas tersebut sebenarnya sudah ada tapi baru di Riau. Sejumlah fasilitas untuk menangani Karhutla kata Joko sudah mereka berikan. ” Di Riau fasilitas sudah lengkap, untuk heli kita sewa. Selain itu kita mencoba kembangkan Karhutla ini menjadi berkah. Dengan mengelola lahan gambut yang terselamatkan menjadi tempat kunjungan. Karena di lahan tersebut banyak tumbuhan yang tumbuh secara khas tak ada di tempat lain,” jelasnya. Sementara itu terkait kelanjutan program pengembangan CPO menjadi BBM dikatakan Joko akan terus dilakukan Pertamina. Saat ini menurutnya pengelolaan itu baru terbatas di Dumay berupa pengelolan CPO yang dicampur dan diolah menjadibpremium pertamax group begitupun yang biodiesel ” Ada 2 isilah umum yang kerap dianggap sama padahal ini sebenarnya berbeda. Biodisel beda dengan pengolahan di kilang karwna Biodiesel kita beli dari perusahaan CPO kemudian dicampur solar. Selain itu kita juga sedang kembangkan green refinery,” jelas Joko.
https://palembang.tribunnews.com/2019/10/28/hd-minta-pertamina-ru-iii-buat-binaan-khusus-tanggulangi-karhutla