+62 2129380882 office@aprobi.co.id

HIP BBN Maret: biodiesel Rp 7.403 Per Liter dan bioetanol Rp 10.167 Per Liter

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 8 Maret 2019

HIP BBN Maret: biodiesel Rp 7.403 Per Liter dan bioetanol Rp 10.167 Per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Maret 2019, yakni untuk biodiesel sebesar Rp 7.403/liter dan bioetanol Rp 10.167/liter. HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. “Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Maret 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Rabu (6/3). Agung menambahkan, HIP BBN biodiesel untuk bulan Maret 2019 ini meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp 388/liter. Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata crude Palm Oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp7.101/kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 Kg/ m3 + Ongkos Angkut. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/ DJE/2018,” jelas Agung. Sedangkan untuk jenis bioetanol terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25/Liter sehingga didapatkan Rp 10.235/liter untuk HIP BBN bulan Februari 2019. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019,” ungkap Agung. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

Koran Tempo | Jum’at, 8 Maret 2019

Cara Hemat Membuat Biofuel

Asisten profesor teknik kimia Universitas Utah, AmerikaSerikat,Swomitra Mohanty, sukses mengembangkan jenis baru jet mixer untuk mengubah alga menjadi biomassa yang mengekstraksi lemak dengan energi jauh lebih sedikit daripada metode lama. Ini penemuan penting untuk menjadikan ganggang sebagai bahan bakar alternatif hemat biaya dan efektif. Para ahli biofuel telah lama mencari cara yang lebih ekonomis untuk mengubah ganggang menjadi minyak biokimia untuk kendaraan listrik, kapal, bahkan jet. Peneliti Universitas Utah percaya mereka telah menemukan jawabannya. Mereka mengembangkan metode cepat untuk menghasilkan biokimia alga hemat biaya dalam jumlah besar menggunakan jet mixer yang dirancang khusus. Lipid, yang dikemas dalam mikroorganisme yang tumbuh di kolam, danau, dan sungai, merupakan molekul asam lemak yang mengandung minyak yang dapat diekstraksi untuk menggerakkan mesin diesel. Ketika diekstraksi, lipid disebut biocrude. Itu membuat organisme seperti mikroalga menjadi bentuk biomassa yang menarik, bahan organik yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar berkelanjutan. Lipid juga ditemukan dalam berbagai organisme sel tunggal lainnya seperti ragi yang digunakan dalam pemrosesan keju. Jika menggunakan ganggang untuk biomassa, diperlukan jumlah energi yang besar untuk menarik lipid atau biocrude dari tanaman berair. Dengan metode biasa dibutuhkan lebih banyak energi untuk mengubah ganggang menjadi biokimia daripada jumlah energi yang didapat.

Tim dari Universitas Utah telah mengembangkan jenis baru pencampur yang mengekstraksi lipid dengan energi yang jauh lebih sedikit daripada metode lama. Mixer ini mengekstraksi lipid dalam hitungan detik. Hasil temuan ini diterbitkan dalam j ur-nal Chemical Engineering Science X dengan judul “Ekstraksi Lipid Alga Menggunakan Pencampur Jet Pencungkam Terbatas.” “Bagian penting di sini adalah mencoba mendapatkan keseimbangan energi. Kita belum sampai di sana, tapi ini adalah langkah yang sangat penting untuk mencapainya,” kata Leonard Pease, salah satu penulis makalah ini. “Kami telah menghilangkan hambatan pengembangan yang signifikan untuk membuat produksi biofuel alga lebih efisien.” Saat ini, untuk mengekstraksi lemak kaya minyak dari ganggang, para ilmuwan harus menarik air dari ganggang terlebih dahulu, meninggalkan bubuk biomassa kering. Itu adalah bagian paling intensif dari proses ini. Residu itu kemudian dicampur dengan pelarut di mana lipid dipisahkan dari biomassa. Yang tersisa adalah biocrude, yang digunakan untuk memproduksi biofuel berbasis ganggang. Bahan bakar itu kemudian dicampur dengan bahan bakar diesel untuk menggerakkan truk, traktor, dan mesin bertenaga diesel besar lainnya. Namun, karena membutuhkan begitu banyak energi untuk meng-ekstrak air dari tanaman pada awal proses, mengubah gang-gang menjadi biofuel sejauh ini bukanlah proses yang praktis, efisien, atau ekonomis. “Ada banyak upaya penelitian untuk memajukan biofuel alga, tapi belum ada yang menghasilkan harga ekonomis yang mampu menarik investor,” kata Mohanty. Tim telah menciptakan eks-traktor pencampur baru, sebuah reaktor yang menembakkan jet pelarut ke ganggang, menciptakan turbulensi lokal di mana lipid “melompat” jarak pendek ke aliran pelarut. Pelarut kemudian dikeluarkan dan dapat didaur ulang untuk digunakan lagi dalam proses. “Desain kami memastikan tidak perlu mengeluarkan semua energi untuk mengeringkan ganggang dan jauh lebih cepat daripada teknologi yang ada selama ini,” ucap Mohanty. Teknologi ini juga dapat diterapkan di luar alga dan mencakup berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, atau minyak yang berasal dari mikroba.

Republika | Kamis, 7 Maret 2019

Harga Pasar Bahan Bakar Nabati Rp 7.400 per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Maret 2019. Harga BBN untuk biodiesel ditetapkan sebesar Rp 7.403 per liter dan bioetanol Rp 10.167 per liter. HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20. Ini berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum..”Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Maret 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Rabu (6/3). Agung menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk bulan Maret 2019 ini meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp 388 per liter. Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp 7.101 per kilogram. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula harga rata-rata CPO ditambah 100 dolar AS per ton dikali 870 kilogram per meter kubik dan ditambah ongkos angkut. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 350 K/12/DJE/2018,” jelas Agung.Sebagai informasi, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/migas/pny0zf370/harga-pasar-bahan-bakar-nabati-rp-7400-per-liter

Okeozne | Kamis, 7 Maret 2019

Harga Biodiesel Terus Naik Jadi Rp7.403 per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Maret 2019, di mana untuk biodiesel sebesar Rp7.403 per liter dan bioetanol Rp10.167 per liter. HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. “Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Maret 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (7/3/2019). Agung menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk bulan Maret 2019 ini meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp388 per liter. Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp7.101 per kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018,” jelas Agung. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25 per liter sehingga didapatkan Rp10.235 per liter untuk HIP BBN bulan Februari 2019. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019,” ungkap Agung. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://economy.okezone.com/read/2019/03/07/320/2027138/harga-biodiesel-terus-naik-jadi-rp7-403-per-liter

Kompas | Kamis, 7 Maret 2019

Konsumsi Biodiesel Meningkat, Harga Minyak Sawit Dunia Bakal Naik

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) internasional diprediksi bakal naik pada tahun 2019 ini. Hal ini sejalan dengan perlambatan pertumbuhan produksi global dan meningkatnya konsumsi biodiesel. Hal tersebut diungkapkan analis James Fry seperti dikutip dari CNBC, Kamis (7/3/2019). “Kenaikan harga minyak sawit berkaitan dengan meningkatnya komoditas dalam membuat bahan bakar terbarukan,” kata Fry. “Ekspansi dalam produksi biodiesel juga menurunkan produksi global dan mendukung kenaikan harga,” tambahnya. Menurut Fry, pertumbuhan produksi minyak sawit dunia diperkirakan melambat pada 2019, dengan produksi naik 2,8 juta ton menjadi 70,9 juta ton. Angka ini berdasarkan produksi dari delapan negara produsen minyak sawit mentah terbesar di Asia Tenggara dan Amerika Latin, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Bursa Derivatif Malaysia, harga minyak sawit mentah tergelincir hampir 8 persen pada Februari dengan perdagangan pasar sekitar 2.160 ringgit per ton. Padahal tahun lalu, persediaan minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, yang bersama-sama menyumbang lebih dari 80 persen pasokan global, naik ke rekor tertinggi sekitar 5 juta ton. Sementara itu, produksi biodiesel di Indonesia diperkirakan juga turut meningkat menjadi 1,5 juta ton tahun ini. Peningkatan produksi biodiesel juga menjadi pemicu naiknya minyak kelapa sawit. “Permintaan penggunaan minyak sawit mentah di Indonesia untuk membuat biofuel dan pembakaran langsung diperkirakan akan tumbuh 1,5 juta ton pada tahun 2019. Ini juga menjadi pemicu kenaikan harga minyak sawit,” sebut Fry. Indonesia terus meningkatkan penggunaan biodiesel sehubungan dengan mandat B20 yang mulai berlaku secara efektif pada 1 September 2018. B20 adalah istilah yang mengacu pada campuran bahan bakar dengan kandungan 20 persen minyak nabati dan 80 persen minyak bumi. Angka 20 pada ‘B20’ menunjukkan jumlah minyak nabati yang terkandung dalam campuran biodiesel tersebut.

https://money.kompas.com/read/2019/03/07/115140226/konsumsi-biodiesel-meningkat-harga-minyak-sawit-dunia-bakal-naik

Sindonews | Kamis, 7 Maret 2019

HIP BBN Maret, Biodiesel Rp7.403/Liter dan Bioetanol Rp10.167/Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Maret 2019, dimana untuk biodiesel sebesar Rp7.403/liter dan bioetanol Rp10.167/liter. HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. “Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Maret 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta. Sambung dia menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk bulan Maret 2019 ini meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp388/liter. Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp7.101/kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018,” jelas Agung. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25/Liter sehingga didapatkan Rp10.235/liter untuk HIP BBN bulan Februari 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019,” ungkap Agung.

https://ekbis.sindonews.com/read/1384702/34/hip-bbn-maret-biodiesel-rp7403liter-dan-bioetanol-rp10167liter-1551950020

Kontan | Kamis, 7 Maret 2019

HIP biodiesel naik di Maret tetapi bioetanol turun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk Bahan Bakar Nabati (BBN) bulan Maret 2019. Dalam ketetapan yang berlaku efektif sejak 1 Maret itu, HIP biodiesel ditetapkan sebesar Rp 7.403 per liter, dan Rp 10.167 per liter untuk bioetanol. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, HIP BBN tersebut dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 yang ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE. Penetapan itu berlaku untuk pencampuran minyak solar, baik jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Sebagai informasi, HIP BBN Biodiesel untuk bulan Maret 2019 ini meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp 388 per liter. “Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata CPO (crude palm oil) KPB (Kharisma Pemasaran Bersama) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp7.101 per kg” kata Agung dalam keterangan tertulis, Rabu (6/3). Adapun, Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 US$/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. Asal tahu saja, besaran ngkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018. Lain halnya dengan Biodiesel, untuk Bioetanol terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + US$ 0,25/Liter. Jika pada bulan Februari didapatkan HIP BBN sebesar Rp 10.235 per liter, pada bulan Maret menjadi Rp 10.167 per liter. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019,” tandas Agung.

https://industri.kontan.co.id/news/hip-biodiesel-naik-di-maret-tetapi-bioetanol-turun

Detik | Kamis, 7 Maret 2019

Harga Biodiesel Naik Jadi Rp 7.403 per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Maret 2019, di mana untuk biodiesel sebesar Rp 7.403/liter dan bioetanol Rp 10.167/liter. HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. “Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Maret 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangannya, Kamis (7/3/2019). Agung menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk bulan Maret 2019 ini meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp 388/liter. Kenaikan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp 7.101/kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut.

“Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018,” jelas Agung. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + US$ 0,25/liter sehingga didapatkan Rp 10.235/liter untuk HIP BBN bulan Februari 2019. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019,” ungkap Agung. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://finance.detik.com/energi/d-4457819/harga-biodiesel-naik-jadi-rp-7403-per-liter

Antaranews | Rabu, 6 Maret 2019

Pemerintah tetapkan harga biodiesel Maret Rp7.403 per liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga indeks pasar bahan bakar nabati (HIP BBN) pada Maret 2019 untuk jenis biodiesel sebesar Rp7.403/liter dan bioetanol Rp10.167/liter. “Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Maret 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Rabu. HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran ke minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun BBM umum. Agung mengatakan HIP BBN biodiesel untuk Maret 2019 ini meningkat Rp388 per liter dibandingkan Februari 2019. Kenaikan ini dilatarbelakangi peningkatan harga rata-rata minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019 yang mencapai Rp7.101/kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP yaitu (rata-rata CPO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No 350 K/12/DJE/2018,” jelas Agung. Sedangkan untuk jenis bioetanol terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 kg/L) + 0,25 dolar AS/liter sehingga didapatkan Rp10.235/liter untuk HIP BBN Februari 2019. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Januari hingga 14 Februari 2019,” ungkap Agung. HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

https://www.antaranews.com/berita/806164/pemerintah-tetapkan-harga-biodiesel-maret-rp7403-per-liter