+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Implementasi B30 Ditetapkan 2020

Harian Seputar Indonesia | Kamis, 10 Januari 2019

Implementasi B30 Ditetapkan 2020

Pemerintah berencana akan menerapkan kebijakan mandatori Biodiesel 30% (B30) pada tahun depan. Implementasi B30 merujuk pada aturan yang baru akan diterbitkan pada tahun ini. “Peraturan yang sekiranya keluar pada 2019 baru akan dijalankan tahun depan. Untuk saat ini B30 pada dasarnya sudah dilaksanakan uji coba,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Minera] (ESDM) Ridha Mulayana di Jakarta kemarin. Menurut dia, aturan terkait implementasi B30 sedang disiapkan. Adapun untuk saat ini pemerintah masih fokus terhadap peningkatan implementasi B20 di seluruh sektor sebagai upaya pemerintah menekan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, mandatori B20 juga bertujuan menjaga neraca perdagangan. “Saat ini bagaimana upaya kita meningkatkan mandatori B20,” tandas dia. Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong produksi green fuel sebagai upaya pemerintah mengurangi impor BBM. Untuk saat ini terkait pengembangan green fuel masih terus dibahas secara detail salah satunya terkait masalah kilang pengolahan minyak sawit.

Pasalnya, untuk mengembangkan kilang minyak sawit perlu melihat aspek keekonomiannya karena membangun kilang pengolahan minyak sawit cukup besar. Tak hanya itu.pengembangan kilang pengolahan minyak sawit perlu teknologi katalis yang tepat. Adapun katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia supaya menghasilkan produk yang diinginkan sehingga bisa menjadi bahan bakar ramah lingkungan. “Pasokan CPO secara berkesinambungan juga harus dipikirkan. Kalau mau diteruskan, sementara kondisi bionya lebih mahal dibandingkan crudenya, maka harus ada insentif dan sebagainya. Itu yang kemudian dibahas satu per satu,” kata dia. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menandaskan, siap menjawab kebutuhan pemerintah terkait mandatori B30. “Kami sudah mempersiapkan terkaitB30. Hanyasaja.me-mang terdapat sejumlah perusahaan yang perlu ditingkatkan utilitasnya,” kata dia.

Harian Seputar Indonesia | Kamis, 10 Januari 2019

Industri Sawit Potensial Dorong Pengembangan Bioenergi

Indonesia sangat berpeluang mengembangkan minyak sawit sebagai bahan baku untuk bioenergi. Peluang ini sangat besar mengingat pasokan minyak sawit melimpah. Pada 2018 produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia mencapai 42 juta ton. Dari total produksi tersebut, sebagian besar diekspor ke berbagai negara. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangatpotensial un tuk tenis dikembangkan di Indonesia dan dunia,” papar Peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kis-manto pada Diskusi Sawit “Peningkatan Peran BPDP Kelapa Sawit dalam Pengembangan Sawit Minyak Sawit sebagai Bioenergi” di Jakarta kemarin. Menurut Agus, pemerintah sudah melakukan banyak penelitian dan inovasi yang mumpuni guna memajukan produk hilir dilndonesia. Berbagai hasil penelitian dan inovasi dilakukan BPPT bekerja sama perguruan tinggi.perusahaan, dan pihak lain guna memajukan industri hilir minyak sawit. Salah satu hasil penelitian tersebutbioenergi berbahan baku minyak sawit sangat berpotensi untuk terus dikembang-kansebagaibioenergi.Sebabitu, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi harus terus didorong supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan.

Ketua Umum lkatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI) Tatang Hemas mengatakan, minyak sawit sangatpotensial dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Karena itu, keberadaan minyak sawit harus terus didukung oleh semua pihak. Aplikasi minyak sawit sebagai bahan bakar cair sudah dikembangkan Kis Technology Indonesia. Aplikasi teknologi sudah berkembang di dunia dan dapat mengembangkan minyak sawit sebagai bahan bakar cair yang sangat potensial. “Kami sudah mulai pengembangan proyek Bio-CNG berbasis minyak sawit di Indonesia,” tuturnya. Produk surface active agent (surfactan) yang berguna bagi pembersih juga memiliki peluang dikembangkan dari minyak sawit. Dwi Setyaningsih, periset surfactan dari Bioenergi Research Centre (SBRC)-IPB, menjelaskan, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat berpotensi dikembangkan sebagai surfactan, di mana aplikasi penggunaannya sangat luas bagiindustripertambangan.industri sabun, dan sebagainya. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Nonpangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Lila Harsyah Bakhtiar, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” paparnya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan, keberadaan industri Biodiesel di Indonesia masih jauh dari kapasitas industri. Sebab itu, Aprobi mendorong penggunaan konsumsi Biodiesel lebih besar di Indonesia. “Kami berharap konsumsi Biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan,” ujar MP Tumanggor. Pertamina, sebagai perusahaan milik pemerintah yang membantu pendistribusian dan penjualan biodiesel, juga memiliki peran penting terhadap kemajuan industri Biodiesel nasional. Menurut Manajer Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina, Gemalriandus Pahalawan.keberadaan biodiesel minyak sawit membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar minyak,”katanya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit lndonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga mengun tungkan secara lingkungan.

Investor Daily Indonesia | Kamis, 10 Januari 2019

Ekspor Biodiesel Diperkirakan Naik 15% Tahun Ini

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) optimistis ekspor Biodiesel tahun ini tumbuh sekitar 15% dari tahun lalu. Peluang pertumbuhan itu di antaranya ditopang oleh kemenangan Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kasus tudingan dumping oleh Amerika Serikat (AS). Realisasi ekspor Biodiesel 2018 diperkirakan 1,72 juta kiloliter (kl). Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan, saat ini ekspor Biodiesel nasional sudah mulai mengalami peningkatan, usai Indonesia dinyatakan menang tudingan dumping di WTO. “Tahun ini, proyeksi ekspor Biodiesel naik 15%. Kita harapkan pasar ke Eropa dan India, ke Tiongkok masih ada tapi kecil,” kata dia usai diskusi tentang Peran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam Memajukan Sawit Indonesia, Minyak Sawit Sebagai Bioenergi, Rabu (9/1).

Sedangkan Ketua bidang Pemasaran dan Promosi Aprobi Togar Si-tanggang menambahkan, peluang ekspor Biodiesel Indonesia tahun ini dipengaruhi pergerakan harga crude oil dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Apabila harga crude oil bergerak ke atas US$ 60 per barel dan CPO di level US$ 500 per ton maka ekspor bisa mengalir (meningkat). “Tapi, kalau seperti sekarang, harga Biodiesel lebih mahal dari crude oil, saya nggak jamin bisa ada peluang pertumbuhan ekspor untuk biodiesel. Dengan harga sekarang, bisa dibilang peluang kecil. Kalaupun ada kontrak dari Tiongkok, nggak sustain. Kalau misalnya Maret sudah habis, nggak lanjut, sama saja,” kata Togar. Kondisi itu, kata dia, turut berpengaruh terhadap kinerja ekspor minyak sawit Indonesia secara keseluruhan, ditambah kebijakan pungutan ekspor sawit Indonesia serta kesepakatan perdagangan India dan Malaysia. Dengan kondisi itu maka postur ekspor minyak sawit nasional akan berubah. Pasar akan lebih memilih membeli CPO dibandingkan refined (minyak sawit olahan), dari porsin 20-25% untuk CPO dan sisanya refined menjadi 40% berbanding 60%, bahkan bisa 50% berbanding 50%. “Semoga rasionya hanya menjdi 35% untuk CPO dan sisanya refined,” kata Togar.

Tren itu, kata dia, sudah dimulai sejak November 2018, ekspor CPO tercatat sebesar 866 ribu ton dan refined sebesar 2,35 juta ton. Artinya, porsi ekspor CPO telah mencapai 26,90% dari total ekspor minyak sawit nasional. Angka itu naik dibandingkan Oktober 2018 yang tercatat sebanyak 761 ribu ton atau 22,70% dari total ekspor sawit nasional. Pada Desember 2018 kemungkinan porsi ekspor CPO bisa naik menjadi 30%. Selama ini, yang dominan membeli CPO Indonesia adalah India dan Pakistan. Namun dengan skim pasar saat ini, regulasi yang berlaku di Indonesia, dan pungutan ekspor (BPDPKS) yang dinolkan, akan lebih mudah mengekspor CPO. “Jadi, perubahan postur ekspor itu bukan karena tidak ada industri hilirnya di Indonesia. Tapi, kondisi menyebabkan ekspor CPO lebih menarik. Belum lagi, Malaysia menikmati bea masuk (BM) lebih rendah ke India. Refined product kita kalah saing,” kata Togar. Dampaknya, lanjut dia, semakin menekan daya saing industri hilir sawit di dalam negeri. Indonesia menjadi sulit menjual produk refined ke India, di dalam negeri juga tidak ada insentif karena pungutan ekspornya sama-sama dinolkan. “Faktor-faktor itu menyebabkan industri hilir kalah saing, yang kemudian berdampak pada semakin turunnya kapasitas produksi. Ini yang pada ujungnya kemudian mempengaruhi postur ekspor kita,” kata Togar.

Program B30

Sementara itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri ESDM No 2018 K/10/MEM/2018 tentang Pengadaan Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel untuk Pencampuran Jenis Bahan Bakar Minyak Periode Januari-Desember 2019 menetapkan alokasi volume BBN jenis Biodiesel untuk pencampuran jenis BBM periode Januari-Desember 2019 sebesar 6.197.101 kl (B20). Sedangkan untuk 2020 dengan asumsi konsumsi solar berkisar 30 juta kl maka alokasi bisa mencapai 9 juta kl. Untuk pelaksanaan B30, dalam peta jalan (roadmap) pemerintah maka road test untuk pelaksanaan B30 dijadwalkan pada Maret 2019. Lalu dibuat peraturan teknisnya, juga standar nasional Indonesia (SNI). Apabila suskes maka pada Desember 2019 dijadwalkan ketentuannya bisa terbit. “Dengan begitu, per 1 Januari 2020, pelaksanaan B30 dijadwalkan bisa terlaksana,” kata Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna.

Saat ini, kata Feby, persiapan untuk road test tengah dilakukan, termasuk mengenai rute yang akan ditempuh, tentunya dengan mempertumbangkan kondisi jalan. Untuk jarak tempuh, rencananya dinaikkan menjadi 60 kilometer (km) dari sebelumnya 40 km untuk road test B20. Sedikitnya tiga pemanufaktur sudah bersedia ikut road test, yakni Toyota, Mitsubishi, dan Sokon. Dalam kesempatan itu, Tumanggor meminta pemerintah tegas dengan komitmen B30. Apabila pemerintah benar-benar berkomitmen maka pada Agustus 2019 program B30 dijalankan. “Segera jalankan road test. Jadi, kalau ada protes, bisa ditampung dari sekarang. Kalau dari produsen biodiesel, kami siap. Kapasitas kami saat ini ada 12 juta kl, kalau program B30 dilaksanakan, artinya sekitar 9 juta kl saja, itu bisa,” kata Tumanggor.

Kompas | Kamis, 10 Januari 2019

Program B-20 Tak Boleh Mundur

Pelaksanaan kebijakan perluasan penggunaan solar dengan campuran minyak sawit sebesar 20 persen atau B-20 tidak boleh mundur. Kebijakan ini bukan semata untuk kepentingan industri kelapa sawit, melainkan untuk negara, yaitu mendorong ketahanan energi melalui pemanfaatan energi baru terbarukan serta menghemat devisa untuk impor minyak. Hal itu mengemuka dalam acara diskusi tentang sawit yang diselenggarakan majalah Infosa-wit di Jakarta, Rabu (9/1/2019). Hadir sebagai pembicara, antara . lain, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, Ketua Umum Gabungan Pengusaha . Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (Ikabi) Tatang Hernas, Abetnego Tarigan dari kantor Staf Kepresidenan, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriati Feby Misna, dan Manajer Operasional Supply Chain Direktorat Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero) Gema Iri-andus PahalawarL

“Biodiesel harus jadi hajat pemerintah, bukan pelaku usaha sawit Jadi, tidak ada poin mundur, harus maju terus. Apalagi dengan performa impor (migas) dan produksi yang menurun.” kata Joko Supriyono. Karena itu, pemerintah perlu membuat peta jalan kebijakan biodiesel, baik itu B-20. B-30, maupun B-100. Pertamina juga perlu memiliki komitmen yang sama dengan memperbaiki sarana prasarana untuk pelaksanaan penggunaan biodisel. Sebelumnya, kata Gema, ada kendala distribusi Biodiesel ke depo Pertamina produksi sawit dan Biodiesel terfokus di Pulau Sumatera, seperti Sumatera Utara dan Riau. Padahal, distribusi meliputi wilayah yang luas, termasuk Indonesia bagian timur. Pengangkutan biodisel dari Dumai ke Balikpapan, misalnya, perlu waktu sekitar dua minggu. Proses bongkar pun perlu waktu dengan kilang penyimpanan yang masih terbatas. Setelah pencampuran biodiesel, Pertamina masih harus mendistribusikan ke depo-depo di daerah lain. Kapasitas produksi biodisel mencapai 12 juta kiloliter. Dengan kebijakan B-20, penyerapan ditargetkan mencapai 6 juta kiloliter. Namun, kata Tumanggor, masih ada pihak yang berkeberatan dengan pelaksanaan B-20. Tumanggor menduga ada pihak yang dirugikan karena impor solar berkurang. “Ada juga pelaku usaha perkapalan yang mengeluh karena B-20 dapat mengakibatkan kerusakan mesin kapal. Padahal, sudah ada kapal yang mengguna-. kan B-20 atau B-50,” ujarnya.

Sindonews | Kamis, 10 Januari 2019

Pemerintah Tetap Komit, Pemanfaatan EBT Capai Target 23% di 2025

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan kembali menegaskan bahwa Pemerintah tetap berkomitmen untuk meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional sebesar 23% pada tahun 2025. Pengembangan dan pemanfaatan EBT dilakukan dengan Pemerintah melalui keekonomian dan keterjangkauan. “Untuk energi baru terbarukan, komitmen Pemerintah di COP 21 di Paris itu 23% menggunakan energi baru terbarukkan (EBT) di tahun 2025. Komitmen ini tetap kita pertahankan dan akan kita laksanakan,” ujar Menteri ESDM di sela-sela kunjungan kerja ke PLTU Paiton. Jonan menjelaskan, komitmen pemanfaatan EBT ini meliputi dua sektor yang terbesar, yaitu kelistrikan dan transportasi. Di sektor kelistrikan hingga saat ini telah mencapai sekitar 13%, dalam 2 hingga 3 tahun kedepan diperkirakan akan naik menjadi 16 sampai 17%. “Pembangkit-pembangkit listrik tenaga air yang besar-besar dalam dua hingga tiga tahun mendatang akan tumbuh banyak dan selesai, ditambah lagi dengan panas bumi, pembangkit listrik tenaga surya, bayu (angin) dan biomasa,” ungkapnya.

Sementara dari sisi transportasi, pemanfaatan EBT adalah dengan penggunaan campuran biodiesel sebanyak 20% (B20) dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis minyak solar. “Untuk transportasi, untuk mesin yang menggunakan solar, sekarang semua menggunakan B20. Termasuk industri juga,” tambah Jonan. Sebagaimana diketahui, kapasitas pembangkit EBT terus meningkat, hingga akhir tahun 2018. Kapasitas terpasang pembangkit panas bumi telah mencapai 1.948,5 Megawatt (MW). Sementara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), pada akhir tahun 2018 mencapai 331,8 MW. Di samping itu, telah beroperasi pula PLTB Sidrap dengan kapasitas 75 MW dan PLTB Jeneponto sebesar 72 MW siap beroperasi. Untuk kapasitas terpasang pembangkit bioenergi telah mencapai 1.858,5 MW, terdiri dari PLT Biomassa, Biogas, PLT Sampah, dan Biofuel.

https://ekbis.sindonews.com/read/1369191/34/pemerintah-tetap-komit-pemanfaatan-ebt-capai-target-23-di-2025-1547045382

Koran-Sindo | Kamis, 10 Januari 2019

Pemerintah Tetap Komit, Pemanfaatan EBT Capai Target 23% di 2025

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan kembali menegaskan bahwa Pemerintah tetap berkomitmen untuk meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional sebesar 23% pada tahun 2025. Pengembangan dan pemanfaatan EBT dilakukan dengan Pemerintah melalui keekonomian dan keterjangkauan. “Untuk energi baru terbarukan, komitmen Pemerintah di COP 21 di Paris itu 23% menggunakan energi baru terbarukkan (EBT) di tahun 2025. Komitmen ini tetap kita pertahankan dan akan kita laksanakan,” ujar Menteri ESDM di sela-sela kunjungan kerja ke PLTU Paiton. Jonan menjelaskan, komitmen pemanfaatan EBT ini meliputi dua sektor yang terbesar, yaitu kelistrikan dan transportasi. Di sektor kelistrikan hingga saat ini telah mencapai sekitar 13%, dalam 2 hingga 3 tahun kedepan diperkirakan akan naik menjadi 16 sampai 17%. “Pembangkit-pembangkit listrik tenaga air yang besar-besar dalam dua hingga tiga tahun mendatang akan tumbuh banyak dan selesai, ditambah lagi dengan panas bumi, pembangkit listrik tenaga surya, bayu (angin) dan biomasa,” ungkapnya.

Sementara dari sisi transportasi, pemanfaatan EBT adalah dengan penggunaan campuran biodiesel sebanyak 20% (B20) dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis minyak solar. “Untuk transportasi, untuk mesin yang menggunakan solar, sekarang semua menggunakan B20. Termasuk industri juga,” tambah Jonan. Sebagaimana diketahui, kapasitas pembangkit EBT terus meningkat, hingga akhir tahun 2018. Kapasitas terpasang pembangkit panas bumi telah mencapai 1.948,5 Megawatt (MW). Sementara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), pada akhir tahun 2018 mencapai 331,8 MW. Di samping itu, telah beroperasi pula PLTB Sidrap dengan kapasitas 75 MW dan PLTB Jeneponto sebesar 72 MW siap beroperasi. Untuk kapasitas terpasang pembangkit bioenergi telah mencapai 1.858,5 MW, terdiri dari PLT Biomassa, Biogas, PLT Sampah, dan Biofuel. Pemerintah melakukan berbagai terobosan-terobosan agar pemanfaatan EBT meningkat, antara lain menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 Tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap bagi Konsumen PLN. Kebijakan berlaku efektif pada 1 Januari 2019 menjadi payung hukum bagi semua pihak dalam implementasi pemanfaatan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh konsumen PT. PLN (Persero). Partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan EBT juga dapat dilakukan dengan dengan memasang PLTS roof top di rumahnya masing-masing. “PLTS, yang kami harapkan masyarakat akan banyak pasang di rumah sehingga bisa meningkatkan komposisi bauran energi nasional,” tutup Jonan.

https://ekbis.sindonews.com/read/1369191/34/pemerintah-tetap-komit-pemanfaatan-ebt-capai-target-23-di-2025-1547045382

Koran-Sindo | Kamis, 10 Januari 2019

Industri Sawit Potensial Dorong Pengembangan Bioenergi

Indonesia sangat berpeluang mengembangkan minyak sawit sebagai bahan baku untuk bioenergi. Peluang ini sangat besar mengingat pasokan minyak sawit melimpah. Pada 2018 produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia mencapai 42 juta ton. Dari total produksi ter sebut, sebagian besar di ekspor ke berbagai negara. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk te – rus dikembangkan di Indonesia dan dunia,” papar Peneliti dari Ba dan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto pada Diskusi Sawit “Peningkatan Peran BPDP Kelapa Sawit dalam Pengembangan Sawit: Minyak Sawit sebagai Bio – energi” di Jakarta kemarin. Menurut Agus, pemerintah sudah melakukan banyak penelitian dan inovasi yang mumpuni guna memajukan produk hilir di Indonesia. Berbagai hasil penelitian dan inovasi di lakukan BPPT bekerja sama perguruan tinggi, perusahaan, dan pihak lain guna memajukan in dustri hilir minyak sawit. Salah satu hasil penelitian ter sebut bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat berpotensi untuk terus di kembangkan sebagai bioenergi. Se bab itu, penggunaan minyak sa wit sebagai bioenergi harus terus didorong supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan.

Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI) Tatang Hernas mengatakan, minyak sawit sangat potensial di kembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Karena itu, keberadaan minyak sawit harus terus didukung oleh semua pihak. Aplikasi minyak sawit sebagai bahan bakar cair sudah dikembangkan Kis Technology Indonesia. Aplikasi teknologi sudah berkembang di dunia dan da pat mengembangkan mi nyak sawit sebagai bahan bakar cair yang sangat potensial. “Kami sudah mulai pengembangan proyek Bio-CNG berbasis mi nyak sawit di Indonesia,” tuturnya. Produk surface active agent (surfactan) yang berguna bagi pembersih juga memiliki peluang dikembangkan dari minyak sawit. Dwi Setyaningsih, periset surfactan dari Bioenergi Research Centre (SBRC)-IPB, menjelaskan, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat berpotensi dikembangkan sebagai surfactan, di mana aplikasi peng gunaannya sangat luas bagi industri pertambangan, industri sabun, dan sebagainya.

Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Nonpangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Lila Harsyah Bakhtiar, keberadaan industri turunan minyak sawit ha rus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, industri turunan minyak sawit ha rus terus dikembangkan di In donesia,” paparnya. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan, keberadaan industri biodiesel di Indonesia masih jauh dari kapasitas industri. Sebab itu, Aprobi mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia. “Kami berharap konsumsi biodiesel bisa te rus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 di harapkan segera terealisasikan,” ujar MP Tumanggor. Pertamina, sebagai perusahaan milik pemerintah yang mem bantu pendistribusian dan penjualan biodiesel, juga me miliki peran penting ter ha – dap kemajuan industri biodiesel nasional. Menurut Manajer Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina, Gema Iriandus Pahalawan, keberadaan biodiesel minyak sawit membantu ketersediaan pasokan bahan ba kar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar minyak,” katanya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat. Salah satu nya melalui pengembangan in dustri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan.

http://koran-sindo.com/page/news/2019-01-10/2/6/Industri_Sawit_Potensial_Dorong_Pengembangan_Bioenergi

Koran-Sindo | Kamis, 10 Januari 2019

Implementasi B30 Ditetapkan 2020

Pemerintah berencana akan menerapkan kebi jakan mandatori biodiesel 30% (B30) pada tahun depan. Im ple mentasi B30 merujuk pada atur an yang baru akan di terbitkan pada tahun ini. “Peraturan yang sekiranya ke luar pada 2019 baru akan di – jalankan tahun depan. Untuk saat ini B30 pada dasarnya sudah dilaksanakan uji coba,” ujar Di rektur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Ener gi Kementerian Energi dan Sum ber Daya Mineral (ESDM) Ri dha Mulayana di Jakarta kemarin. Menurut dia, aturan terkait im plementasi B30 sedang di siapkan. Adapun untuk saat ini pe merintah masih fokus terhadap peningkatan implementasi B20 di seluruh sektor sebagai upaya pemerintah menekan sub sidi bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, mandatori B20 juga bertujuan menjaga neraca perdagangan. “Saat ini bagai – ma na upaya kita me ning katkan mandatori B20,” tan das dia. Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong produksi green fuel sebagai upaya pemerintah mengurangi impor BBM.

Untuk saat ini terkait pengembangan green fuel masih terus dibahas secara detail salah satunya ter kait masalah kilang pengolahan minyak sawit. Pasalnya, untuk mengembangkan kilang minyak sawit perlu melihat aspek keeko nomiannya karena membangun kilang pengolahan minyak sawit cukup besar. Tak hanya itu, pengembangan kilang pengolahan minyak sawit perlu teknologi katalis yang tepat. Adapun katalis merupakan suatu zat yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia supaya menghasilkan produk yang diinginkan sehingga bisa menjadi bahan bakar ramah lingkungan. “Pasokan CPO secara berkesi nambungan juga harus di pikirkan. Kalau mau diteruskan, se mentara kondisi bionya lebih mahal dibandingkan crude nya, maka harus ada insentif dan se bagainya. Itu yang kemudian di bahas satu per satu,” kata dia. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menandaskan, siap menjawab kebutuhan pemerintah terkait man – datori B30. “Kami sudah mempersiapkan terkait B30. Hanya saja, me mang terdapat sejumlah per usahaan yang perlu ditingkatkan utilitasnya,” kata dia.

http://koran-sindo.com/page/news/2019-01-10/2/5/Implementasi_B30_Ditetapkan_2020

Wartaekonomi | Rabu, 9 Januari 2019

Industri Sawit Dukung Pengembangan Bio Energi

Pemberlakuan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) secara mandatori, telah berhasil menyertifikasi lahan perkebunan kelapa sawit seluas lebih dari 3 juta hektar. Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI 2018, sebanyak 467 Sertifikat ISPO, telah berhasil diberikan kepada para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit. Sementara produksi minyak sawit mentah berkelanjutan (CSPO) bersertifikat RSPO diperkirakan tembus sebesar 12,43 juta ton, dimana sebesar 52% berasal dari Indonesia atau sebesar 6,5 juta ton, belum lagi yang bersertifikasi International Sustainability & Carbon Certification (ISCC). Keberhasilan Indonesia sebagai produsen minyak sawit berkelanjutan terbesar di dunia, juga diperkuat dengan keberhasilan sebagai produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) di dunia dengan produksi sebanyak 42 juta ton di tahun 2018 lalu. Keberhasilan yang dicapai faktanya tidak hanya melulu dimiliki sektor hulu industri perkebunan kelapa sawit, sektor hilir minyak sawit juga memiliki banyak kemajuan yang cukup signifikan. Misalnya lebih dari 30 juta ton, produk ekspor asal Indonesia berupa produk hilir minyak sawit, dengan produk andalannya Refined Bleaching Deodorized Olein (RBD-Olein). Yang menggembirakan, minyak sawit terus dikembangkan untuk biodiesel.

Melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pemerintah sudah melakukan banyak penelitian dan inovasi yang mumpuni, guna memajukan produk hilir di Indonesia. Berbagai hasil penelitian dan inovasi dilakukan BPPT bekerja sama dengan perguruan tinggi, perusahaan dan pihak lainnya, guna memajukan industri hilir minyak sawit. Menurut periset BPPT, Agus Kismanto, bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensi untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Sebab itu, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi, harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensi untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia,”papar Agus menerangkan,” kata dia di Jakarta, Rabu (9/1/2019). Senada dengan itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI), Dr. Tatang Hernas S., juga menyampaikan keberadaan minyak sawit yang sangat potensi untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Sebab itu, keberadaan minyak sawit harus terus didukung oleh semua pihak.

“Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia,” kata dia. Aplikasi minyak sawit sebagai bahan bakar cair, juga sudah dikembangkan Kis Technology Indonesia. Menurut Didik Purwanto, aplikasi teknologi sudah berkembang di dunia dan dapat mengembangkan minyak sawit sebagai bahan bakar cair yang sangat potensial. “Kami sudah mulai pengembangan project Bio CNG berbasis minyak sawit di Indonesia,” tukasnya. Produk Surface Active Agent (Surfaktan) yang berguna bagi pembersih, juga memiliki peluang dikembangkan dari minyak sawit. Menurut periset dari Surfactant, Bioenergi Research Centre (SBRC) IPB, Dr. Dwi Setyaningsih, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat potensi dikembangkan sebagai surfaktan, dimana aplikasi penggunaannya sangat luas bagi industri pertambangan, industri sabun dan sebagainya. SBRC-IPB juga mendapatkan dukungan pendanaan riset dari BPDP KS, untuk terus melakukan riset aplikasi surfaktan berbasis minyak sawit. Bertujuan mengembangkan berbagai produk hijau terbarukan berbahan baku minyak sawit.

“SBRC IPB sangat konsen untuk pengembangan surfaktan melalui minyak sawit,” kata Dwi menjelaskan.Sejalan dengan itu, pemerintah juga sudah mendorong peranan pasar domestik untuk terus meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri melalui program mandatori biodiesel. Pasalnya, sebagai industri strategis, minyak sawit memiliki peluang besar dalam mendulang devisa negara. Sehingga dibutuhkan strategi bersama yang dapat mendorong tumbuhnya kontribusi minyak sawit bagi negara di masa depan. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar, ST, MT, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan.“Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” paparnya.

https://www.wartaekonomi.co.id/read210859/industri-sawit-dukung-pengembangan-bio-energi.html

Beritasatu | Rabu, 9 Januari 2019

Minyak Sawit Berpotensi Besar Dikembangkan sebagai Bioenergi

Minyak sawit (palm oil) memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar minyak cair di Indonesia. Oleh karena itu keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak. “Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (Ikabi), Dr. Tatang Hernas S dalam diskusi “Sawit Bagi Negeri” di Jakarta, Rabu (9/1/2019). Dalam diskusi bertema “Peran BPDP-KS dalam memajukan Sawit Indonesia, Minyak Sawit sebagai Bio-Energi” tersebut, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Agus Kismanto menyatakan bahwa penggunaan minyak sawit sebagai bioenergy harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia, ” katanya. Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan.

“Minyak sawit harus terus dikembangkan, supaya memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara, sosial masyarakat dan lingkungan yang lebih baik,” katanya.Sementara menyinggung persoalan yang masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan produksi biodiesel yang masih jauh dari kapasitas industri. Aprobi pun mendorong penggunaan konsumsi biodiesel yang lebih besar lagi di Indonesia. “Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan,” katanya. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar ST MT, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan.”Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” katanya.

PT Pertamina persero, sebagai perusahaan milik pemerintah yang membantu pendistribusian dan penjualan biodiesel, juga memiliki peran penting terhadap kemajuan industri biodiesel nasional. Manager Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina (persero), Gema Iriandus Pahalawan mengatakan, keberadaan biodiesel minyak sawit, membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel,”katanya.

Produk pembersih

Selain bioenergi, minyak sawit juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi Produk Surface Active Agent (Surfaktan) yang berguna bagi pembersih. Menurut periset dari Surfactant, Bioenergi Research Centre (SBRC) IPB, Dr. Dwi Setyaningsih, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat potensi dikembangkan sebagai surfaktan, dimana aplikasi penggunaannya sangat luas bagi industri pertambangan, industri sabun dan sebagainya. SBRC-IPB juga mendapatkan dukungan pendanaan dari BPDP-KS, untuk terus melakukan riset aplikasi surfaktan berbasis minyak sawit, guna mengembangkan berbagai produk hijau terbarukan berbahan baku minyak sawit. “SBRC IPB sangat konsen untuk pengembangan surfaktan melalui minyak sawit,”kata Dwi menjelaskan. Sementara itu, untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang berkelanjutan (SDGs), industri minyak sawit dapat menjadi tumpuan bersama, guna memajukan industri minyak sawit di masa depan. Sebab itu, sinergi antar pemangku kepentingan dibutuhkan, guna mendorong tumbuhnya bisnis minyak sawit yang selaras dengan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

https://id.beritasatu.com/home/minyak-sawit-berpotensi-besar-dikembangkan-sebagai-bioenergi/184327

Detik | Rabu, 9 Januari 2019

Perlancar Distribusi B20, Pertamina Siapkan Dua Kapal Penampung

PT Pertamina (Persero) saat ini telah menyiapkan dua floating storage atau tempat penampungan untuk Fatty Acid Methyl Esters (FAME) yang merupakan bahan dasar dari biodiesel 20% (B20). Langkah itu dilakukan untuk memperlancar distribusi. Menurut Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina, Ghandi Sriwidodo floating storage tersebut memiliki kapasitas sebesar 2 x 35 ribu kiloliter. Adapun lokasinya berada di Kalimantan dan Sulawesi. “Untuk memasok kebutuhan (B20) di Kalimantan dan Sulawesi. 2 x 35 ribu kiloliter kapasitasnya,” kata dia ditemui di DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (9/1/2019). Lebih lanjut, ia mengungkapkan floating storage tersebut diharapkan bisa mempermudah pengumpulan FAME untuk diolah menjadi B20. Pasalnya selama ini, titik pengumpulan tersebut masih menjadi kendala, seperti keterlambatan. “Jadi semua BU BBM yang punya alokasi di Balikpapan (akan), drop ke situ (floating storage). Supaya lebih efisien. Daripada mereka kirim ke Somlaki, Posi, Timika kemana-mana, ke Kendari, Bau-bau, Pare-pare, Palopo, mending drop situ saja,” jelas dia. Sementara itu, Ghandi juga menyebutkan sebelumnya floating storage bakal dibangun di Tuban. Namun, hal tersebut diurungkan karena terkendala aturan kelautan. “Tuban kan gagal karena nggak jadi pihak otoritas perairan nggak mengizinkan. Ada sisa ranjau dan lain-lain,” tutup dia.

https://finance.detik.com/energi/d-4377825/perlancar-distribusi-b20-pertamina-siapkan-dua-kapal-penampung

Bisnis | Rabu, 9 Januari 2019

POTENSI DENDA DISTRIBUSI BIODIESEL (B20), Badan Usaha Ajukan Sanggahan

Sejumlah badan usaha telah menyampaikan sanggahan tertulis kepada Kementerian ESDM terkait dengan implementasi mandatory program B20. Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengungkapkan masih menyelesaikan evaluasi terkait sanggahan-sangahan tersebut dan akan menghitung kembali jumlah badan usaha yang akan dikenai sanksi apabila tidak menerapkan kebijakan itu. “Ada banyak yang menyanggah, tapi belum selesai verifikasi karena semuanya baru aja masuk. Jadi kan harus dievaluasi dulu,” katanya, Rabu (9/1/2018). Senada, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, pemerintah telah menerapkan sanksi yang diberlakukan bagi perusahaan yang tidak memenuhi ketentian pencampuran. “Angkanya ada di Dirjen Migas. Memang ada sanggahan, misalkan dari Pertamina masalah pengiriman dari Kalimantan. Terpaksa B0 karena pasokan,” ungkapnya. Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah melayangkan surat mengenai sanksi denda kepada badan usaha yang disinyalir tidak melaksanakan mandatori biodiesel 20% (B20) sesuai ketentuan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto mengatakan, mengungkapkan terdapat 11 perusahaan yang berpotensi dikenai sanksi denda. Jumlah tersebut terdiri atas dua badan usaha bahan bakar minyak (BU BBM) dan sisanya merupakan badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN). Pihaknya memberikan waktu kepada badan usaha untuk merespon dan melakukan banding dalam waktu sepekan setelah surat diterbitkan. Bila badan usaha mengajukan klarifikasi dan mampu membuktikan pihaknya tidak bersalah, pengenaan denda bisa dicabut. Sebelumnya, Djoko mengungkapkan bahwa salah satu BU BBM yang terkena denda adalah PT Pertamina (Persero). Namun, Djoko enggan mengungkapkan nama BU BBM lainnya yang berpotensi terkena denda karena alasannya masih dalam proses verifikasi. Dia hanya menyebutkan BU BBM tersebut merupakan badan usaha asing. Adapun terkait nilai akumulasi denda B20 seluruhnya, Djoko menyebutkan dapat mencapai sekitar Rp360 miliar. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 Tahun 2018, badan usaha BBM yang tidak memenuhi ketentuan, yakni tidak melakukan pencampuran, akan dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar Rp6.000 per liter volume biodiesel yang wajib dicampur dengan volume Solar pada bulan berjalan dan berupa pencabutan izin usaha. Sanksi serupa juga berlaku untuk badan usaha BBN, yakni bagi BU BBN yang tidak menyalurkan sesuai dengan alokasi volume biodiesel serta waktu dan spesifikasi biodiesel yang disepakati dalam kontrak.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190109/44/877124/potensi-denda-distribusi-biodiesel-b20-badan-usaha-ajukan-sanggahan

Wartaekonomi | Rabu, 9 Januari 2019

Industri Sawit Dukung Pengembangan Bio Energi

Pemberlakuan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) secara mandatori, telah berhasil menyertifikasi lahan perkebunan kelapa sawit seluas lebih dari 3 juta hektar. Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI 2018, sebanyak 467 Sertifikat ISPO, telah berhasil diberikan kepada para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit. Sementara produksi minyak sawit mentah berkelanjutan (CSPO) bersertifikat RSPO diperkirakan tembus sebesar 12,43 juta ton, dimana sebesar 52% berasal dari Indonesia atau sebesar 6,5 juta ton, belum lagi yang bersertifikasi International Sustainability & Carbon Certification (ISCC). Keberhasilan Indonesia sebagai produsen minyak sawit berkelanjutan terbesar di dunia, juga diperkuat dengan keberhasilan sebagai produsen terbesar minyak sawit mentah (CPO) di dunia dengan produksi sebanyak 42 juta ton di tahun 2018 lalu. Keberhasilan yang dicapai faktanya tidak hanya melulu dimiliki sektor hulu industri perkebunan kelapa sawit, sektor hilir minyak sawit juga memiliki banyak kemajuan yang cukup signifikan. Misalnya lebih dari 30 juta ton, produk ekspor asal Indonesia berupa produk hilir minyak sawit, dengan produk andalannya Refined Bleaching Deodorized Olein (RBD-Olein). Yang menggembirakan, minyak sawit terus dikembangkan untuk biodiesel.

Melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pemerintah sudah melakukan banyak penelitian dan inovasi yang mumpuni, guna memajukan produk hilir di Indonesia. Berbagai hasil penelitian dan inovasi dilakukan BPPT bekerja sama dengan perguruan tinggi, perusahaan dan pihak lainnya, guna memajukan industri hilir minyak sawit. Menurut periset BPPT, Agus Kismanto, bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensi untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Sebab itu, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi, harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensi untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia,”papar Agus menerangkan,” kata dia di Jakarta, Rabu (9/1/2019). Senada dengan itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI), Dr. Tatang Hernas S., juga menyampaikan keberadaan minyak sawit yang sangat potensi untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Sebab itu, keberadaan minyak sawit harus terus didukung oleh semua pihak. “Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia,” kata dia.

Aplikasi minyak sawit sebagai bahan bakar cair, juga sudah dikembangkan Kis Technology Indonesia. Menurut Didik Purwanto, aplikasi teknologi sudah berkembang di dunia dan dapat mengembangkan minyak sawit sebagai bahan bakar cair yang sangat potensial. “Kami sudah mulai pengembangan project Bio CNG berbasis minyak sawit di Indonesia,” tukasnya. Produk Surface Active Agent (Surfaktan) yang berguna bagi pembersih, juga memiliki peluang dikembangkan dari minyak sawit. Menurut periset dari Surfactant, Bioenergi Research Centre (SBRC) IPB, Dr. Dwi Setyaningsih, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat potensi dikembangkan sebagai surfaktan, dimana aplikasi penggunaannya sangat luas bagi industri pertambangan, industri sabun dan sebagainya. SBRC-IPB juga mendapatkan dukungan pendanaan riset dari BPDP KS, untuk terus melakukan riset aplikasi surfaktan berbasis minyak sawit. Bertujuan mengembangkan berbagai produk hijau terbarukan berbahan baku minyak sawit.

“SBRC IPB sangat konsen untuk pengembangan surfaktan melalui minyak sawit,” kata Dwi menjelaskan. Sejalan dengan itu, pemerintah juga sudah mendorong peranan pasar domestik untuk terus meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri melalui program mandatori biodiesel. Pasalnya, sebagai industri strategis, minyak sawit memiliki peluang besar dalam mendulang devisa negara. Sehingga dibutuhkan strategi bersama yang dapat mendorong tumbuhnya kontribusi minyak sawit bagi negara di masa depan. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar, ST, MT, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” paparnya. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), MP Tumanggor, juga menjelaskan keberadaan industri biodiesel Indonesia, menurutnya persoalan besar masih melanda industri lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri. Sebab itu, APROBI mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia.

“Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan,” ujar MP Tumanggor. PT Pertamina (Persero), sebagai perusahaan milik pemerintah yang membantu pendistribusian dan penjualan biodiesel, juga memiliki peran penting terhadap kemajuan industri biodiesel nasional. Menurut Manager Operasional Supply Chain. Direktorat LSCI PT Pertamina (persero), Gema Iriandus Pahalawan, keberadaan biodiesel minyak sawit, membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel,” katanya. Guna mencapai tujuan pembangunan nasional yang berkelanjutan (SDGs), industri minyak sawit dapat menjadi tumpuan bersama, guna memajukan industri minyak sawit di masa depan. Sebab itu, sinergi antar pemangku kepentingan dibutuhkan, guna mendorong tumbuhnya bisnis minyak sawit yang selaras dengan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

https://www.wartaekonomi.co.id/read210859/news_post.php

Republika | Rabu, 9 Januari 2019

Minyak Sawit Potensial Sebagai Bahan Bakar Cair

Berbagai kalangan mengungkapkan minyak sawit memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar cair di Indonesia. “Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI) Tatang Hernas S, Rabu (9/1). Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto juga menyatakan bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Terkait hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi.

“Minyak sawit harus terus dikembangkan, supaya memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara, sosial masyarakat dan lingkungan yang lebih baik,” katanya. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), MP Tumanggor, menjelaskan persoalan masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri. APROBI mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia. “Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan,” katanya. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non-Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar, ST, MT, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” katanya. Manager Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina (Persero), Gema Iriandus Pahalawan mengakui, keberadaan biodiesel minyak sawit membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel,” katanya.

https://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/19/01/09/pl2heh366-minyak-sawit-potensial-sebagai-bahan-bakar-cair

Beritasatu | Rabu, 9 Januari 2019

Minyak Sawit Potensial Dikembangkan Jadi Bioenergi

Minyak sawit (palm oil) memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar minyak cair di Indonesia. Oleh karena itu, keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak. “Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (Ikabi) Tatang Hernas S dalam diskusi “Sawit bagi Negeri” di Jakarta, Rabu (9/1). Dalam diskusi bertema “Peran BPDP-KS dalam memajukan Sawit Indonesia, Minyak Sawit sebagai Bio-Energi” tersebut, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto mengatakan, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia, ” katanya. Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan.

“Minyak sawit harus terus dikembangkan, supaya memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara, sosial masyarakat dan lingkungan yang lebih baik,” katanya. Sementara, menyinggung persoalan yang masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan produksi biodiesel yang masih jauh dari kapasitas industri. Aprobi pun mendorong penggunaan konsumsi biodiesel yang lebih besar lagi di Indonesia. “Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan,” katanya. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Nonpangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar, keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” katanya. PT Pertamina persero, sebagai perusahaan milik pemerintah yang membantu pendistribusian dan penjualan biodiesel, juga memiliki peran penting terhadap kemajuan industri biodiesel nasional. Manager Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina (persero), Gema Iriandus Pahalawan mengatakan, keberadaan biodiesel minyak sawit membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel,”katanya.

Produk Pembersih

Selain bioenergi, minyak sawit juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi Produk Surface Active Agent (Surfaktan) yang berguna bagi pembersih. Menurut periset dari Surfactant, Bioenergi Research Centre (SBRC) IPB, Dr. Dwi Setyaningsih, minyak sawit sebagai bioenergi juga sangat potensi dikembangkan sebagai surfaktan, di mana aplikasi penggunaannya sangat luas bagi industri pertambangan, industri sabun dan sebagainya. SBRC-IPB juga mendapatkan dukungan pendanaan dari BPDP-KS, untuk terus melakukan riset aplikasi surfaktan berbasis minyak sawit, guna mengembangkan berbagai produk hijau terbarukan berbahan baku minyak sawit. “SBRC IPB sangat konsen untuk pengembangan surfaktan melalui minyak sawit,”kata Dwi menjelaskan. Sementara itu, untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang berkelanjutan (SDGs), industri minyak sawit dapat menjadi tumpuan bersama, guna memajukan industri minyak sawit di masa depan. Sebab itu, sinergi antar pemangku kepentingan dibutuhkan, guna mendorong tumbuhnya bisnis minyak sawit yang selaras dengan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/531793-minyak-sawit-potensial-dikembangkan-jadi-bioenergi.html

Antaranews | Rabu, 9 Januari 2019

Minyak sawit potensial dikembangkan sebagai bioenergi di Indonesia

Berbagai kalangan mengungkapkan minyak sawit memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar cair di Indonesia. Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI), Dr. Tatang Hernas S dalam diskusi “Sawit Bagi Negeri” di Jakarta, Rabu menyatakan keberadaan minyak sawit yang sangat potensi untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair, oleh karena itu, keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak. “Potensi minyak sawit sebagai bahan bakar minyak cair, sangat besar peluangnya untuk terus dikembangkan di Indonesia,”katanya. Senada dengan itu peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Agus Kismanto menyatakan, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi, harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. “Bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensi untuk terus dikembangkan di Indonesia dan dunia, ” katanya

Terkait hal itu Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono menyatakan, keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan. “Minyak sawit harus memberikan banyak keuntungan bagi pendapatan negara, sosial masyarakat dan lingkungan yang lebih baik,” katanya. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), MP Tumanggor, menjelaskan persoalan masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri. Oleh sebab itu, APROBI mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia. “Kami berharap konsumsi biodiesel bisa terus meningkat di Indonesia, seperti mandatori B30 diharapkan segera terealisasikan,” katanya. Menurut Kasubdit Industri Hasil Perkebunan non Pangan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Lila Harsyah Bakhtiar keberadaan industri turunan minyak sawit harus mendapat dukungan semua pihak, agar pengembangan industri minyak sawit terus berjalan. “Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri turunan minyak sawit harus terus dikembangkan di Indonesia,” katanya. Manager Operasional Supply Chain, Direktorat LSCI PT Pertamina (persero), Gema Iriandus Pahalawan mengakui, keberadaan biodiesel minyak sawit, membantu ketersediaan pasokan bahan bakar nasional. “Biodiesel berbahan baku minyak sawit sangat membantu ketersediaan bahan bakar biodiesel,” katanya.

https://www.antaranews.com/berita/785558/minyak-sawit-potensial-dikembangkan-sebagai-bioenergi-di-indonesia

Bisnis | Rabu, 9 Januari 2019

Aprobi Dorong Pemerintah Kembangkan Bahan Bakar B30

Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi) menilai pemerintah perlu mendorong pengembangan bahan bakar B30 untuk manfaatkan kapasitas terpasang industri pengolahan biofuel. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor usai acara Disuksi Sawit Bagi Negeri yang berlangsung di Jakarta, Kamis (09/01/2019). Dia menjelaskan saat ini kapasitas terpasang industri tersebut mencapai 12 juta kilo liter, sedangkan produksi pada 2019 ditargetkan mencapai setengah dari kapasitas terpasang atau sekitar 6 juta kilo liter. Target produksi tersebut menurutnya dihitung 20% dari ketersediaan solar saat ini yang diperkirakan mencapai 32 juta kilo liter. Dengan pengembangan bahan bakar B30, Aprobi optimistis dapat mendongkrak produksi hingga 9 juta kilo liter. “Tinggal pemerintah [keluarkan instruksi], hei kau mainkan B30, selesai barang,” ujar Tumanggor. Pengembangan bahan bakar B30 sendiri menurutnya terkendala berbagai keluhan dari pengembangan bahan bakar B20 yang sebelumnya dicanangkan pemerintah. Tumanggor menjelaskan, salah satu sektor yang kerap menyampaikan keluhan mengenai B20 adalah seksi transportasi umum.

Dia menjelaskan Aprobi sedang berkomunikasi dengan pemerintah untuk pengembangan B30 dan akan segera dilakukan uji coba. “Paling tidak pemerintah umumkan Agustus [2019] akan laksanakan B30, kita tampung protesnya sekarang sampai Agustus,” ujarnya. Tumanggor pun menjelaskan faktor lain yang kerap menjadi penghalang pengembangan bahan bakar B30 adalah moratorium izin perkebunan kelapa sawit. Tuntutan Uni Eropa dinilai membuat moratorium tersebut terbit, oleh karena itu pemerintah menurutnya perlu meningkatkan serapan sawit oleh industri dalam negeri, salah satunya melalui pengolahan biodiesel. Berdasarkan catatan Aprobi, produksi minyak sawit mentah (CPO) pada 2018 mencapai 42 juta ton dan produksi minyak inti sawit mentah (CPKO) mencapai 4,7 juta ton. Dari jumlah tersebut, konsumsi domestik untuk keperluan pangan, non pangan, dan biodiesel pada 2018 mencapai 13,28 juta ton. Konsumsi domestik pada 2018 tercatat meningkat 19,42% dari konsumsi 2017 sebesar 11,12 juta ton. Adapun pada 2030 konsumsi domestik diproyeksikan meningkat hingga 19,26 juta ton dan pada 2050 mencapai 37,45 juta ton.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190109/257/877092/aprobi-dorong-pemerintah-kembangkan-bahan-bakar-b30