+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Impor Minyak BBM Akan Terpangkas Lagi

Bisnis Indonesia | Jum’at, 3 Mei 2019

Impor Minyak BBM Akan Terpangkas Lagi

Asosiasi Produsen Biofuei Indonesia menilai bahwa penerapan bauran biodiesel sebesar 30% ke dalam Solar atau B30 bisa menghemat impor tuhan bakar minyak hingga 57 juta barel per tahun. Bauran balian bakar nabati atau biodiesel dari minyak Kelapa Sawit sebesar 30% membutuhkan 9 juta kiloliter (kl) biodiesel. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuei Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan bahwa dengan menggunakan perhitungan tersebut, selain menghemat impor balian bakar minyak (BBM), program B30 juga diyakini mampu menurunkan waktu kerja PT Pertamina (Persero) dalam mempaxluksi BBM. Untuk memproduksi 57 juta barel minyak. Pertamina membutuhkan waktu 70 hari kerja. “Artinya produksi B30 yang bisa diserap sama dengan 70 hari kerja Pertamina, apakah besar, ya besar sekali, 2 bulan lebih,” katanya. Kamis (2/5). Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional dari produsen eksis mencapai 12 juta kl. Dari kapasitas tersebut, kemungkinan produksi B30 akan mencapai 10 juta kl. Dalam implementasi B20 pada 2018, kebutuhan biodiesel di dalam negeri sebanyak 3,5 juta kl, sedangkan untuk ekspor 1,7 juta kl. “Oleh karena itu, kami berupaya meningkatkan penggunaan B20 menjadi B30, dan kami sangat bangga akan pencapaian ini,” katanya. Dia mengakui, soal penyaluran B20 memang sempat mengalami kendala pada September 2018 yang menyebabkan turunnya spesifikasi kandungan bahan bakar nabati tersebut. Dalam penyaluran B20 juga disediakan dua kapal floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan, Kalimantan Timur untuk memudahkan penyaluran B20. Beberapa bulan belakangan, volume ruang pengguaan floating storage tersebut mengalami penurunan karena konsumsi Solar yang terus turun. Pada Januari 2019, kapasitas fasilitas penyimpanan biodiesel yang terpakai hanya 101.000 kl turun 34% menjadi 66.000 kl. “Nanti kami lihat bagaiaman trennya untuk penggunaan B30,” katanya. Sementara itu, rencana penerapan bahan bakar nabati atau biodisel B30 menjadi angin segar bagi sejumlah produsen biodiesel untuk melakukan ekspansi bisnis.

EKSPANSI PABRIK

Paulus mengatakan, terdapat dua produsen biodiesel yang berencana melakukan ekspansi untuk memproduksi B30 dengan kapasitas masing-masing 300.000 kl. Selain itu, ada satu produsen biofuei baru dengan kapasitas produksi 300.000 kiloliter yang siap mendukung penerapan B30. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional dari mencapai 12 juta kl. “Pemain baru ada yang sekitar 7 sampai 8 bulan sudah mulai, ada yang beberapa bulan ini sedang mengembangkan, jadi total tambahan produksi sekitar 900.000 kl dari kapasitas terpasang sekitar 12 juta kl,” katanya. Menurutnya, uji coba B30 sudah mulai dilakukan dan tinggal menunggu waktu tepat untuk uji jalan yang kemungkinan akan dilakukan hingga Oktober 2019. Namun, dia berharap agar uji jalan mampu dilakukan lebih cepat yakni rampung pada Juli 2019 agar B30 mampu diterapkan komersial pada tahun ini. Artinya, jadwal penerapan B30 bisa lebih maju dari target komersial yang seharusnya dilakukan pada 2020. “Kalau bisa 24 jam jalan terus [uji jalan], tetapi ada suatu saat berhenti untuk test ini itu,” katanya.

Beberapa kendaraan yang akan digunakan untuk uji jalan saat ini sudah mulai masuk tahap penyeragaman standardisasi berupa penurunan mesin. Semua mesin dibersihkan dan dipastikan tidak memiliki kandungan cairan yang dapat merusak jalannya uji jalan. Total, akan ada 11 kendaraan yang digunakan untuk ujicoba B30 tersebut. Paulus mengatakan, uji coba ini dilakukan untuk benar-benar memastikan bahwa B30 mampu digunakan untuk kendaraan. Rencananya, saat uji jalan nanti, pada setiap kilometer, kendaraan akan berhenti untuk dilihat kondisinya. “Mesin dibongkar lagi semuanya, sama seperti B20 itu benaran bisa jadi bukan sekadar,” katanya. Ketua Umum APROBI M.P. Tumanggor mengatakan bahwa pemerintah pasti akan terus mendorong agar penggunaan B30 secara komersial dilakukan secepatnya. Apalagi, secara teknis, B30 hanya tinggal menambah kapasitas biodiesel yang dicam-purkan dalam solar.

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 3 Mei 2019

Aprobi Harapkan Program B30 Dimulai September

Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) mengharapkan pelaksanaan program penggunaan biodiesel 30% (B30) dapat diterapkan mulai September 2019, atau jauh lebih cepat dari jadwal pemerintah yang menargetkan pelaksanaan program itu mulai 2020. Dengan program B30, konsumsi biodiesel Indonesia pada 2020 diperkirakan mencapai 9 juta kiloliter (kl) dan itu bisa menekan impor minyak fosil hingga 55-56 juta barel atau setara dengan 70 hari kerja PT Pertamina. Saat ini, uji coba untuk penggunaan B30 telah dimulai yang dilakukan bersama oleh Kementerian ESDM (EBTKE, Ditjen Migas, Balitbang, Lemigas), Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPPT, ITB, juga Gaikindo, Pertamina, dan Aprobi. “Gaikindo menyiapkan sekitar 11 mobil. Kalau pada Agustus nanti diumumkan bahwa hasil uji coba tidak ada masalah dan penggunaan B30 bisa maka pelaksanaan B30 dapat dijalankan September. Toh, tidak perlu lagi menambah industri baru, kapasitas yang ada masih cukup,” kata Ketua Umum APROBI MPTumanggor kepada wartawan di Jakarta, Kamis (2/5).

Tumanggor mengatakan, saat ini negara-negara di berbagai belahan dunia berlomba menggunakan energi terbarukan, baik dari air, angin, maupun minyak nabati. Indonesia misalnya, memanfaatkan minyak nabati asal minyak sawit sebagai sumber energi berupa biodiesel, juga Uni Eropa yang memanfaatkan minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Malaysia juga telah memanfaatkan biodiesel dengan porsi BIO. “Tapi, di balik itu ada yang gerah dengan pemanfaatan minyak sawit sebagai sumber energi terbarukan, terutama Eropa,” ungkap Tumanggor. Terkait penolakan sawit oleh Eropa, APROBI baru saja ikut Delegasi RI dari Brussel guna meyakinkan bahwa minyak sawit Indonesia bukan dari hasil perambahan hutan, melainkan dari bekas HPH (hak pengusahaan hutan) yang sudah ditinggalkan kemudian ditanami kelapa sawit. “Tapi ternyata (meyakinkan Eropa) tidak gampang, karena ini menyangkut persaingan dengan produk mereka. Padahal, kalau mau dibandingkan, luas kebun sawit kita 16 juta hektare (ha), sedangkan kedelai mereka sampai 200 juta ha,” jelas Tumanggor.

Karena itulah, kata Tumanggor, Indonesia berupaya menaikkan konsumsi minyak sawit di dalam negeri, yakni dari program B20 ke B30. Per- tamina juga sedang menyiapkan dua kilangnya agar bisa menggunakan CPO (crude palm oil/minyak sawit mentah). Selain itu, perlu menjaga MOPS tetap di bawah agar harga FAME (biodiesel) tetap lebih rendah dibandingkan minyak fosil. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan mengatakan, dengan program B30 maka konsumsi biodiesel Indonesia pada 2020 ditaksir mencapai 9 juta kl. Dengan konsumsi biodiesel sebesar itu maka impor bahan bakar minyak (BBM) bisa ditekan hingga 55-56 juta barel. “Itu setara dengan 70 hari kerja Pertamina,” ujar Paulus. Terkait uji coba untuk pelaksanaan B30, Paulus mengatakan, sejak April 2019 telah dimulai dengan over haul (O/H) kendaraan-kendaraan dukungan Gaikindo oleh Tim Rating. Selesai dengan kegiatan O/H maka uji jalan akan dimulai. Uji ini akan menjalani 40 ribu kilometer (km), meliputi dataran rendah, tinggi, bermacam klimat, jalan yang naik dan turun, lalu lintas padat dan jalan tol. Overhaul diperlukan untuk melihat kondisi mesin sebelum dan sesudah dilakukan uji jalan. Tanki bahan bakar, saluran, semua bagian mesin, piston, juga injector akan difoto. Nanti, setelah uji jalan sudah mencapai 10 ribu km atau 20 ribu km, mesin akan dibongkar lagi untuk diperiksa dan difoto. “Aprobi ikut serta dan mendukung penuh uji coba dan uji jalan B30. Harapan kami uji coba dapat berjalan dengan lancar dan B30 dapat segera diimplementasikan,” kata Paulus.

Ekspor Biodiesel

Sementara itu, Paulus Tjakrawan menjelaskan, sepanjang Januari-Maret 2019, penyaluran biodiesel di dalam negeri sudah mencapai 1,50 juta kl. Hingga akhir 2019, penggunaan biodiesel di dalam negeri ditaksir mencapai 6,20 juta kl, baik di segmen PSO (subsidi) maupun bukan PSO (nonsubsidi). Indonesia sendiri telah menerapkan wajib penggunaan B20 per September 2018 di segmen bukan PSO, dari sebelumnya hanya segmen PSO. Untuk ekspor, sepanjang Januari-Maret 2019 tercatat sebesar 173.543 kl. Hingga akhir 2019, prediksi pesimistis, ekspor kemungkinan hanya akan berkisar 1,20-1,30 juta kl. Tapi, ada yang optimistis bisa 2 juta kl, pasalnya saat ini Uni Eropa tengah memperkarakan biodiesel Indonesia dengan tudingan subsidi. “Kalau putusan subsidi dijatuhkan langsung dan tarif antisubsidinya besar, kemungkinan kita tidak akan bisa ekspor lagi ke Uni Eropa. Sementara pada 2018, ekspor biodiesel kita ke Uni Eropa mencapai 1 juta kl, sisanya ke Tiongkok dan India,” jelas Paulus. Sementara itu, lanjut dia, pembeli juga saat ini tengah memacu pembelian. Selain untuk pemenuhan konsumsi masa Puasa-Lebaran 2019, pasar juga tengah menanti kepastian kebijakan oleh aturan pelaksana RED II (ILUC) mengenai standar minyak sawit yang dapat dibeli. Kondisi itu tergambar dari ekspor biodiesel Januari-Maret 2019 yang melonjak signifikan dibandingkan periode sama 2018 yang tercatat sebanyak 97.455 kl.

Republika | Jum’at, 3 Mei 2019

Penggunaan B30 Diuji Coba

Pemerintah bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) berencana melakukan uji jalan atau road test untuk kendaraan dengan bahran bakar biodiesel 30 persen (B30) pada akhir Mei 2019. Saat ini, Gaikindo dan APROBI masih melakukan serangkaian persiapan uji jalan dengan persiapan mesin mobil. Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan, sejak 29 April lalu sebanyak 11 mobil dan truk milik Gaikindo telah melalui tahap bongkar mesin. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin-mesin agar siap dan mampu untuk memakai B30. Mesinnya dibongkar semua. Jadi, sudah jalan sebenarnya. Mulai dari tangki, pipa, mesin semua dibuka, dibersihkan semua,” ujar Paulus di Jakarta, Kamis (2/5). Paulus menjelaskan, setelah proses tersebut akan dilakukan uji jalan melalui rute Bandung hingga Tegal sepanjang 40 ribu kilometer. Hasil dari uji jalan ini nantinya menjadi acuan pemerintah untuk membuat keputusan apakah B30 laik jalan atau tidak. “Kami optimistis karena B20 saja bisa jalan, ini kan cuma tinggal nambah komposisi saja. Kami berharap, selesai uji jalan maka sudah bisa langsung diterapkan kebijakan B30 ini, paling tidak September mendatang,” ujarnya.

Sedangkan, untuk program B20, APROBI mencatat, hingga kuartal pertama tahun ini, penyaluran sudah mencapai 1,5 juta kiloliter biodiesel. Jumlah tersebut setara 24,19 persen dari target penyaluran biodiesel di pasar domestik tahun ini yang sebesar 6,2 juta kiloliter. Paulus mengatakan, penyaluran biodiesel dalam negeri sejauh ini tidak mengalami hambatan yang signifikan. “Hal itu terjadi berkat kerja sama semua pihak baik pemerintah, produsen biodiesel maupun industri otomotif, seperti Gaikindo,” ujar Paulus. Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menjelaskan, selain mempersiapkan kendaraan, pemerintah juga sedang menyiapkan fasilitas pengisian bahan bakar. Ia menjelaskan, pemerintah perlu memastikan bahwa tangki Pertamina siap melakukan pencampuran B30. “Kami juga sedang siapkan tangki dan pengangkutan bahan bakar ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan untuk menjadi titik pengisian B30,” ujar Feby.

Selain itu, salah satu cara untuk memaksimalkan bahan bakar dari olahan minyak sawit (CPO) adalah pemanfaatan untuk pembangkit listrik. Untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN, serapan produk CPO sebesar tiga juta kiloliter per tahun. Namun, proyek ini diprediksi belum bisa berjalan dalam waktu dekat. Sebab, pihak PLN hingga kini masih melakukan uji coba melalui satu PLTD-nya untuk menggunakan CPO sebagai bahan bakar 100 persen. Direktur Bisnis Regional PLN Djoko Abumanan menjelaskan, saat ini, PLN masih dalam tahap uji coba konversi menuju biofuel. Ia mengatakan, selain perlu persiapan komponen pembangkit, PLN sampai saat ini masih mencari konverter kit untuk bisa me-nyuling CPO langsung menjadi bahan bakar penggerak turbin. “Masih tahap uji coba konversi PLTD milik PLN di konversi ke 100 persen CPO. Uji coba di PLTD Kanaan Bontang,” ujar Djoko.

Media Indonesia | Jum’at, 3 Mei 2019

Program biodiesel Bisa Tekan Uni Eropa

UPAYA penjegalan produk biodiesel oleh Uni Eropa membawa pengaruh buruk bagi industri Kelapa Sawit di dalam negeri. Hal itu diungkapkan Kuasa Direksi PT Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL) Mochtar Tanong. Meski bukan perusahaan eksportir, UWTL yang fokus pada pengembangan sisi hulu tetap merasakan dampak negatif itu. “Kami memang tidak bersentuhan langsung karena bukan eksportir, tapi dampaknya tetap terasa. Harga CPO (minyak kelapa sawit) menjadi tertekan karena stok secara global tidak terserap maksimal,” ujar Mochtar di Pasangkayu, Sulawesi Barat, Rabu (1/5). Ia pun mendukung jika pemerintah harus mengambil kebijakan retaliasi guna memberi tekanan balik kepada Uni Eropa. Untuk diketahui, retaliasi adalah tindakan suatu negara dalam menangguhkan konsesi atau kemudahan yang telah diberikan kepada negara lain dan telah dinikmatinya sebagai balasan akibat adanya tindakan atau kebijakan perdagangan dari negara lain yang merugikan kepentingan perdagangannya. Namun, menurut Mochtar, langkah itu sebagai upaya terakhir. Kata dia, akan lebih baik jika pemerintah mengoptimalkan program penggunaan minyak sawit mentah sebagai bauran bahan bakar solar sebanyak 20% atau B20.

“Kita fokus saja ke program biodiesel. Kalau kita bisa serap CPO maksimal untuk B20 bahkan nanti B50, stok yang akan ke luar negeri akan berkurang. Stok yang berkurang akan membuat pasar global berebut, harga jadi tinggi. Eropa akan mengemis-ngemis ke kita,” ucapnya. Sepanjang dua bulan pertama tahun ini, kebutuhan CPO untuk program biodiesel dalam negeri mencapai 1,2 juta ton. Ditargetkan, sepanjang 2019, serapan akan mencapai 6,2 juta ton dan akan menyentuh 9 juta ton pada 2020. “Kalau kita bisa terapkan B50, serapan kita bisa 20 juta ton setahun. Hampir separuh dari produksi CPO kita yang mencapai 47 juta ton,” tandasnya. Pendapat senada dikatakan Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kanya Lakshmi Sidarta. Dia menilai sah-sah saja jika pemerintah ingin meretaliasi dengan tujuan melindungi kepentingan ekonomi Indonesia. Apalagi sawit menjadi salah satu komoditas yang ikut berperan dalam perekonomian Tanah Air. Namun, Kanya mengimbau agar tidak terburu-buru menghadapi masalah ini sebab sawit telah menjadi urusan nasional dan ada banyak pihak yang terlibat di dalamnya. “Kita jangan emosional lah,” terangnya. Ia menambahkan, masih banyak alternatif lain yang bisa dilakukan apabila nanti Uni Eropa benar-benar memboikot sawit. Cara alternatif tersebut yakni menjual sawit untuk kebutuhan dalam negeri serta diversifikasi pasar ekspor.

Program B30

Untuk diketahui, sebagai salah satu upaya penyerapan minyak Kelapa Sawit dan mengurangi impor migas, sejak tahun lalu pemerintah telah memiliki program penggunaan minyak sawit mentah sebagai bauran bahan bakar solar sebanyak 20% atau B20. Kini sedang disiapkan program B30. Menurut Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, proses uji coba B30 sudah mulai berjalan dan tengah memasuki proses overhaul terhadap kendaraan-kendaraan yang akan diujicobakan. Overhaul ialah kegiatan pembongkaran kendaraan dari tangki bahan bakar, pipa, sampai mesin. Proses itu diperkirakan selesai dalam waktu dekat dan uji jalan bisa dilaksanakan pada bulan ini. Mobil-mobil penguji B30 akan menempuh jalan sepanjang 40 ribu kilometer menempuh berbagai rute. Ditargetkan, uji jalan paling lambat akan selesai September mendatang. “Jika hasilnya baik dan dapat diterima seluruh pihak, penerapan B30 akan bisa dilaksanakan secepatnya bahkan pada kuartal IV tahun ini,” ujar Paulus.

Harian Seputar Indonesia | Jum’at, 3 Mei 2019

Produsen biodiesel Dukung Uji Jalan Kendaraan B30

Asosiasi Produsen biofuels Indonesia (Aprobi) mendukung rencana pemerintah dalam rangkaian uji jalan (road test) kendaraan berbahan bakarbiodiesel campuran 30% atau B30. Road test B30akan diluncurkan oleh Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) pada Mei 2019. Penggunaan B30 akan membantu ekonomi Indonesia dari aspek penghematan devisa dan pembukaan lapangan kerja. “B30 akan membangkitkan nasionalisme Indonesia karena biodiesel ini produk buatan dalam negeri. Manfaat yang diberikan sangatlah besar untuk peng- hematan devisa dan menekan impor bahan bakar minyakbu-mi,” ujar Ketua Umum APROBI Master Parulian Tumanggor di Jakarta, kemarin. Penggunaan B30 diperkirakan menambah konsumsi CPO domestik antara 9 juta-10 juta ton. Bahkan B30 ini dapat menghemat impor minyak solar sekitar55jutabarel per tahun. Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan menjelaskan sejumlah kementerian dan lembaga terkait mendukung road test kendaraan B30 antara lain Kementerian ESDM melalui Ditjen Migas dan Balitbang ESDM, Lemigas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPPT, ITB, Aprobi, GAIKINDO, dan Pertamina. Dalam waktu dekat, uji jalan akan diresmikan oleh Kementerian ESDM. Menurut Paulus, uji jalan kendaraan B30 akan menem-puhjarak40.000kilometer(km) mulai dari Lembang, Cirebon sampai Guci (Tegal). Melalui hasil uji jalan diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam membuat keputusan B30. “Pelaksanaan uji jalan diharapkan selesai padaSeptem-ber 2019. Harapan kami bisa lebih cepat di bulan Agustus. Karena uji ini menambah volume biodiesel. Tidak ada penambahan komponen baru,” kata Paulus.

Media Indonesia | Jum’at, 3 Mei 2019

Program Biodiesel Bisa Tekan Uni Eropa

UPAYA penjegalan produk biodiesel oleh Uni Eropa membawa pengaruh buruk bagi industri kelapa sawit di dalam negeri. Hal itu diungkapkan Kuasa Direksi PT Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL) Mochtar Tanong. Meski bukan perusahaan eksportir, UWTL yang fokus pada pengembangan sisi hulu tetap merasakan dampak negatif itu. “Kami memang tidak bersentuhan langsung karena bukan eksportir, tapi dampaknya tetap terasa. Harga CPO (minyak kelapa sawit) menjadi tertekan karena stok secara global tidak terserap maksimal,” ujar Mochtar di Pasangkayu, Sulawesi Barat, Rabu (1/5). Ia pun mendukung jika pemerintah harus mengambil kebijakan retaliasi guna memberi tekanan balik kepada Uni Eropa. Untuk diketahui, retaliasi adalah tindakan suatu negara dalam menangguhkan konsesi atau kemudahan yang telah diberikan kepada negara lain dan telah dinikmatinya sebagai balasan akibat adanya tindakan atau kebijakan perdagangan dari negara lain yang merugikan kepentingan perdagangannya. Namun, menurut Mochtar, langkah itu sebagai upaya terakhir. Kata dia, akan lebih baik jika pemerintah mengoptimalkan program penggunaan minyak sawit mentah sebagai bauran bahan bakar solar sebanyak 20% atau B20.

“Kita fokus saja ke program biodiesel. Kalau kita bisa serap CPO maksimal untuk B20 bahkan nanti B50, stok yang akan ke luar negeri akan berkurang. Stok yang berkurang akan membuat pasar global berebut, harga jadi tinggi. Eropa akan mengemis-ngemis ke kita,” ucapnya. Sepanjang dua bulan pertama tahun ini, kebutuhan CPO untuk program biodiesel dalam negeri mencapai 1,2 juta ton. Ditargetkan, sepanjang 2019, serapan akan mencapai 6,2 juta ton dan akan menyentuh 9 juta ton pada 2020. “Kalau kita bisa terapkan B50, serapan kita bisa 20 juta ton setahun. Hampir separuh dari produksi CPO kita yang mencapai 47 juta ton,” tandasnya. Pendapat senada dikatakan Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kanya Lakshmi Sidarta. Dia menilai sah-sah saja jika pemerintah ingin meretaliasi dengan tujuan melindungi kepentingan ekonomi Indonesia. Apalagi sawit menjadi salah satu komoditas yang ikut berperan dalam perekonomian Tanah Air. Namun, Kanya mengimbau agar tidak terburu-buru menghadapi masalah ini sebab sawit telah menjadi urusan nasional dan ada banyak pihak yang terlibat di dalamnya. “Kita jangan emosional lah,” terangnya. Ia menambahkan, masih banyak alternatif lain yang bisa dilakukan apabila nanti Uni Eropa benar-benar memboikot sawit. Cara alternatif tersebut yakni menjual sawit untuk kebutuhan dalam negeri serta diversifikasi pasar ekspor.

Program B30

Untuk diketahui, sebagai salah satu upaya penyerapan minyak kelapa sawit dan mengurangi impor migas, sejak tahun lalu pemerintah telah memiliki program penggunaan minyak sawit mentah sebagai bauran bahan bakar solar sebanyak 20% atau B20. Kini sedang disiapkan program B30. Menurut Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, proses uji coba B30 sudah mulai berjalan dan tengah memasuki proses overhaul terhadap kendaraan-kendaraan yang akan diujicobakan. Overhaul ialah kegiatan pembongkaran kendaraan dari tangki bahan bakar, pipa, sampai mesin. Proses itu diperkirakan selesai dalam waktu dekat dan uji jalan bisa dilaksanakan pada bulan ini. Mobil-mobil penguji B30 akan menempuh jalan sepanjang 40 ribu kilometer menempuh berbagai rute. Ditargetkan, uji jalan paling lambat akan selesai September mendatang. “Jika hasilnya baik dan dapat diterima seluruh pihak, penerapan B30 akan bisa dilaksanakan secepatnya bahkan pada kuartal IV tahun ini,” ujar Paulus.

https://mediaindonesia.com/read/detail/233164-program-biodiesel-bisa-tekan-uni-eropa

Sawit Indonesia | Jum’at, 3 Mei 2019

Investasi Baru Dongkrak Produksi Biodiesel Menjadi 12,9 Juta Kl

Seiring dengan rencana B30, bisnis biodiesel semakin menarik minat investor. Tahun ini, kapasitas produksi biodiesel akan meningkat setelah masuknya investasi baru. Jika B30 terlaksana, pasokan biodiesel di pasar domestik akan menjadi 9 juta-10 juta Kl per tahun. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) mengatakan ada tiga perusahaan yang berinvetasi di sektor biodiesel. Satu perusahaan membangun kapasitas produksi baru sebesar 300 ribu Kl. Sedangkan dua perusahaan lain dalam rangka peningkatan kapasitas terpasang (eksisting). Masing- masing perusahaan menambah kapasitas produksi sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan produksi sebanyak 900 ribu kl. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional baru 12 juta Kl. Dengan adanya investasi baru tadi, maka kapasitas produksi dapat mencapai 12,9 juta Kl. “Jadi harapannya, ada tambahan kapasitas produksi 900.000 kilo liter dari kapasitas yang sekarang sebesar 12 juta kilo liter,” tutur Paulus. Tetapi Paulus enggan merinci nama perusahaan yang akan berinvestasi tersebut. Termasuk perusahaan baru yang akan membangun pabrik biodiesel. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke luar negeri. “Selain itu, program B30 menjadi daya tarik bagi investasi baru. Karena program B30 diperkirakan meningkatkan pemakaian biodisel menjadi sekira 9 juta-10 juta Kl,”ujar Paulus. Sementara itu, kapasitas produksi terpasang sebesar 12 juta Kl. Ini artinya, pasokan tersisa sedikit. Belum lagi dengan pengiriman biodiesel untuk pasar ekspor. “Makanya, ada antisipasi dari teman-teman produsen yang tingkatkan kapasitas terpasang. Serta ada perusahaan baru yang terjun di biodiesel,” pungkasnya.

Berita Satu | Jum’at, 3 Mei 2019

Aprobi Dukung Uji Jalan Kendaraan B30

Program penggunaan bahan bakar biodiesel campuran 30% atau B30 dinilai akan membantu ekonomi Indonesia dari aspek penghematan devisa dan pembukaan lapangan kerja. Oleh karena itu, Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) mendukung rencana pemerintah dalam rangkaian uji jalan (road test) kendaraan B30 yang akan diluncurkan oleh Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) pada Mei 2019. “B30 akan membangkitkan nasionalisme Indonesia karena biodiesel ini produk buatan dalam negeri. Manfaat yang diberikan sangatlah besar untuk penghematan devisa dan menekan impor bahan bakar minyak bumi,” ujar Master Parulian Tumanggor, Ketua Umum Aprobi, dalam jumpa pers di kantor Aprobi, di Jakarta, Kamis (2/5/2019). Penggunaan B30 diperkirakan menambah konsumsi CPO domestik antara 9-10 juta ton. Bahkan B30 ini dapat menghemat impor minyak solar sekitar 55 juta barel per tahun. Hadir juga dalam jumpa pers ini antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian Aprobi) dan Harry Hanawi (Wakil Ketua Umum Aprobi). Dijelaskan Paulus bahwa sejumlah kementerian dan lembaga terkait mendukung road test kendaraan B30 antara lain Kementerian ESDM melalui Ditjen, Ditjen Migas, dan Balitbang ESDM, Lemigas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPPT, ITB, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. Dalam waktu dekat, uji jalan akan diresmikan oleh Kementerian ESDM.

Menurut Paulus, uji jalan kendaraan B30 akan menempuh jarak 40.000 kilometer mulai dari Lembang, Cirebon sampai Guci (Tegal). Melalui hasil uji jalan diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam membuat keputusan B30. “Pelaksanaan uji jalan diharapkan selesai pada September 2019. Harapan kami bisa lebih cepat di bulan Agustus. Karena uji ini menambah volume biodiesel. Tidak ada penambahan komponen baru,” kata Paulus. Dari kalangan pelaku otomotif melalui Gaikindo telah memberikan dukungan. Menurut Paulus, 11 mobil dan truk milik Gaikindo telah diserahkan untuk diujicobakan. Kendaraan ini sedang menjalani tahapan bongkar mesin (over haul) oleh tim rating. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin-mesin agar siap dan sesuai bagi penggunaan B30. “Mesin dibongkar semua mulai dari tangki, pipa semua dibuka dan dibersihkan. Kegiatan ini sudah mulai 29 April 2019 lalu,” kata Paulus. “Tes jalan ini tidak sebatas coba-coba tetapi melewati rangkaian riset mendalam dan komprehensif. Kendaraan akan melewati berbagai medan jalan seperti dataran rendah, tinggi, bermacam klimat, jalan yang naik dan turun, lalu lintas padat, dan jalan tol. Tujuannya untuk mendapatkan hasil uji jalan terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan,” papar Paulus.

Investasi Bertambah

Seiring dengan rencana B30, investasi pun juga bertambah. Paulus mengatakan ada tiga perusahaan berinvetasi di sektor biodiesel. Satu perusahaan membangun kapasitas produksi baru sebesar 300 ribu Kl, dua lainnya meningkatkan kapasitas yang sudah ada (eksisting), masing-masing sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900.000 kl. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional baru 12 juta Kl. Dengan adanya investasi baru tadi, maka kapasitas produksi dapat mencapai 12,9 jut Kl. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke luar negeri. Paulus menjelaskan bahwa program B20 yang telah berjalan delapan bulan lamanya tidak menghadapi hambatan. Sepanjang kuartal pertama 2019, penyaluran biodiesel sebesar 1,5 juta Kl berjalan lancar di seluruh Indonesia. “Kami tidak menemui kendala yang berarti,sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” ujar Paulus.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/552095/aprobi-dukung-uji-jalan-kendaraan-b30

Bisnis | Jum’at, 3 Mei 2019

Implementasi B30 Bakal Menghemat Impor 57 Juta Barel BBM

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia menilai penerapan bahan bakar nabati atau biodiesel dengan kandungan 30% minyak sawit (B30) mampu menghemat impor bahan bakar minyak hingga 57 juta barel. Perhitungan ini didapat dari mengkonversi produksi B30 yang mencapai 9 juta kiloliter ke dalam satuan barel. Dari hasil tersebut, juga dapat dibagi lagi dengan produksi bahan bakar minyak di Indonesia yang kapasitasnya mencapai 800.000 barrel oil per day (BOPD). Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan, dengan menggunakan perhitungan tersebut, mengatakan selain menghemat impor bahan bakar, B30 juga diyakini akan mampu menurunkan waktu kerja pertamina dalam memproduksi minyak. Setidaknya, untuk memproduksi 57 juta barel minyak, pertamina membutuhkan waktu 70 hari kerja. “Artinya produksi B30 yang bsia diserap sama dengan 70 hari kerja pertamina, apakah besar, ya besar sekali, 2 bulan lebih bahkan,” katanya, Kamis (2/5/2019).

Saat ini kapasitas produksi biodiesel nasional dari produsen eksisting mencapai 12 juta kiloliter. Dari kapasitas tersebut, kemungkinan produksi B30 akan mencapai 10 juta kiloliter. Kehadiran produsen biofuel baru maupun langkah ekspansi yang dilakukan perusahaan eksisting menjadi bagian dari upaya antisipasi memenuhi kebutuhan biodisel. Seperti halnya penggunaan B20 pada 2018, dari total produksi 6,1 juta kl, sebanyak 3,5 juta kl diserap untuk kebutuhan domestik dan 1,7 juta untuk keperluan ekspor. Menurutnya, kondisi ini selain menurunkan impor BBM, juga akan meningkatkan produkstivitas petani. “Oleh karena itu kita berupaya meningkatkan penggunaan B20 menjadi B30, dan kita snagat bangga akan pencapaian ini,” katanya. Dia mengakui, soal penyaluran B20 memang sempat mengalami kendala pada September 2018 lalu yang menyebabkan turunnya spesifikasi kandungan bahan bakar nabati tersebut. Namun, setelah perbaikan di sistem penyaluran dilakukan, bahan bakar nabati yang mulai digunakan pada 2016 tersebut dapat digunakan baik oleh masyarakat. Dalam penyaluran B20 juga disediakan dua kapal floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan, Kalimantan Timur untuk memudahkan penyaluran B20. Beberapa bulan belakangan, volume ruang pengguaan floating storage tersebut mengalami penurunan karena konsumsi solar yang terus turun. Adapun pada Januari 2019, kapasitas floating storage yang terpakai hanya 101.000 kiloliter. Kondisi ini menurun 34% menjadi 66.000 kiloliter. “Nanti kita lihat bagaiaman trennya untuk penggunaan B30,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190503/44/918172/implementasi-b30-bakal-menghemat-impor-57-juta-barel-bbm

Id.beritasatu | Jum’at, 3 Mei 2019

Aprobi Dukung Uji Jalan Kendaraan B30

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) mendukung rencana pemerintah dalam rangkaian uji jalan (road test) kendaraan berbahan bakar biodiesel campuran 30% atau B30. Road test B30 akan diluncurkan oleh Kementerian Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) pada Mei 2019. Penggunaan B30 akan membantu ekonomi Indonesia dari aspek penghematan devisa dan pembukaan lapangan kerja. “B30 akan membangkitkan nasionalisme Indonesia karena biodiesel ini produk buatan dalam negeri. Manfaat yang diberikan sangatlah besar untuk penghematan devisa dan menekan impor bahan bakar minyak bumi,” ujar Master Parulian Tumanggor, Ketua Umum Aprobi, dalam jumpa pers di kantor Aprobi, di Jakarta, Kamis (2/5/2019). Penggunaan B30 diperkirakan menambah konsumsi CPO domestik antara 9 juta -10 juta ton. Bahkan B30 ini dapat menghemat impor minyak solar sekitar 55 juta barel per tahun. Hadir juga dalam jumpa pers ini antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian Aprobi) dan Harry Hanawi (Wakil Ketua Umum Aprobi). Dijelaskan Paulus bahwa sejumlah kementerian dan lembaga terkait mendukung road test kendaraan B30 antara lain Kementerian ESDM melalui Ditjen, Ditjen Migas, dan Balitbang ESDM, Lemigas, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, BPPT, ITB, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. Dalam waktu dekat, uji jalan akan diresmikan oleh Kementerian ESDM.

Menurut Paulus, uji jalan kendaraan B30 akan menempuh jarak 40 ribu kilometer mulai dari Lembang, Cirebon sampai Guci (Tegal). Melalui hasil uji jalan diharapkan menjadi rujukan pemerintah dalam membuat keputusan B30. “Pelaksanaan uji jalan diharapkan selesai pada September 2019. Harapan kami bisa lebih cepat di bulan Agustus. Karena uji ini menambah volume biodiesel. Tidak ada penambahan komponen baru,” kata Paulus. Dari kalangan pelaku otomotif melalui Gaikindo telah memberikan dukungan. Menurut Paulus, 11 mobil dan truk milik Gaikindo telah diserahkan untuk diujicobakan. Kendaraan ini sedang menjalani tahapan bongkar mesin (over haul) oleh tim rating. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin-mesin agar siap dan sesuai bagi penggunaan B30. “Mesin dibongkar semua mulai dari tangki, pipa semua dibuka dan dibersihkan. Kegiatan ini sudah mulai 29 April 2019 lalu,” papar Paulus. “Tes jalan ini tidak sebatas coba-coba tetapi melewati rangkaian riset mendalam dan komprehensif. Kendaraan akan melewati berbagai medan jalan seperti dataran rendah, tinggi, bermacam klimat, jalan yang naik dan turun, lalulintas padat, dan jalan tol. Tujuannya untuk mendapatkan hasil uji jalan terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Paulus.

Investasi bertambah

Seiring dengan rencana B30, investasi pun juga bertambah. Paulus mengatakan ada tiga perusahaan berinvetasi di sektor biodiesel. Satu perusahaan membangun kapasitas produksi baru sebesar 300 ribu Kl, dua lainnya meningkatkan kapasitas yang sudah ada (eksisting), masing-masing sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kl. Saat ini, kapasitas produksi biodiesel nasional baru 12 juta Kl. Dengan adanya investasi baru tadi, maka kapasitas produksi dapat mencapai 12,9 jut Kl. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke luar negeri. Paulus menjelaskan bahwa program B20 yang telah berjalan delapan bulan lamanya tidak menghadapi hambatan. Sepanjang kuartal pertama 2019, penyaluran biodiesel sebesar 1,5 juta Kl berjalan lancar di seluruh Indonesia. “Kami tidak menemui kendala yang berarti,sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” pungkas Paulus.

https://id.beritasatu.com/home/aprobi-dukung-uji-jalan-kendaraan-b30/188046

Republika | Kamis, 2 Mei 2019

Meski Banyak Tantangan, Aprobi Berharap Pasar Ekspor Membaik

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menjelaskan proyeksi pasar ekspor pada 2019 ini banyak tantangan. Meski begitu, Aprobi tetap berharap pasar ekspor masih menjanjikan. Tantangan yang dimaksud tak lain karena kebijakan Uni Eropa atas rencana pelarangan menstop ekspor biodiesel dari Indonesia. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan pada 2019 ini Aprobi memiliki dua target pencapaian pasar ekspor. Ada target pesimis dan target optimis. Ia menjelaskan, apabila dalam waktu berjalan Uni Eropa jadi memberlakukan penghambatan ekspor biofuelnya maka ekspor biofuel hanya berkisar 1,2 juta kiloliter hingga 1,3 juta kiloliter. Namun, jika Uni Eropa membatalkan rencana tersebut maka Aprobi optimis pasar ekspor bisa menyerap hingga 2 juta kiloliter. “Titik pesmis 1,2 kiloliter sampai 1,3 juta kiloliter, titik optimis masih bisa 2 juta kiloliter. Nanti kita lhat Eropa bagaimana, kalau mereka tiba-tiba jatuh sanksi subsidi dengan bea masuk yang besar tentu akan drop,” ujar Paulus di Kantor Aprobi, Kamis (2/5). Namun apabila dilihat pada kuartal pertama tahun ini serapan ekspor masih baik. Paulus mengatakan pada kuartal pertama total ekspor sebanyak 173 ribu kiloliter. Hingga saat ini Eropa dan Cina masih merupakan pasar ekspor terbesar.

Meski tantangan blokade Eropa dan Amerika Serikat berjalan, sebetulnya pasar Eropa sangat membutuhkan pasokan biofuel dari Indonesia. Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan, beberapa industri yang lebih memilih membeli biofuel dari Indonesia karena harga yang lebih murah. “Sebenernya industri di Eropa mau beli, kalau itu tidak jadi, tutup industri mereka,” ujarnya. Namun, jika Uni Eropa jadi memberlakukan penghentian ekspor, maka langkah yang diambil para pengusaha biofuel adalah mempertahankan pasar Cina dan India juga mendorong pemanfaatan biodiesel dalam negeri. “Pesimis itu berarti kita cuma Cina dan India pasarnya kita. Tapi kalau bea masuknya sampai 22 persen, kita gak mau ekspor,” katanya.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/19/05/02/pqvk11370-meski-banyak-tantangan-aprobi-berharap-pasar-ekspor-membaik

Detik | Kamis, 2 Mei 2019

Pemerintah dan Pengusaha Mulai Uji Coba B30

Pemerintah bersama dengan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mulai melakukan uji coba pelaksanaan biodiesel 30% atau B30. Menurut Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan saat ini pihaknya bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tengah melakukan pembongkaran mesin mobil. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kondisi sebelum dan setelah pelaksanaan B30. “Ini sumbangan mobil ini partisipasi Gaikindo, mesin dibongkar dan di-overall mulai tangki, bahan bakar, pipa, mesin dibuka, foto untuk before-after. Ini jadikan nol walaupun bekas,” kata dia dalam temu media di Kantor Aprobi, Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5/2019). Adapun, uji coba akan dilakukan segera pada lintasan sepanjang 40 ribu kilometer (km) dengan rute mulai dari Lembang, Bandung hingga Guci, Tegal. “Uji coba jalan 40 ribu km meliputi dataran rendah, tinggi, lalu lintas padat, hingga jalan tol. Itu di Lembang sampai Guci ya bolak-balik sampai 40 ribu,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor menargetkan program B30 dapat diimplementasikan pada September mendatang. Hal itu dilakukan bila tak ada masalah selama uji coba hingga Agustus. “Kalau cepat kuartal IV bisa implementasi. Agustus misalnya penelitian jalan dan bilang B30 nggak ada masalah maka bisa tinggal jalan. September paling sudah jalan, kan cuma tinggal tambah volumen saja,” tutup dia.

https://finance.detik.com/energi/d-4533253/pemerintah-dan-pengusaha-mulai-uji-coba-b30

Detik | Kamis, 2 Mei 2019

B30 Mulai Uji Coba, RI Bisa Hemat BBM hingga 55 Juta Barel

Pemerintah bersama Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mulai melakukan uji coba B30. Hal ini diharapkan bisa memangkas impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 55 juta barel. Angka tersebut setara dengan volume B30 yang akan diujicobakan yakni 9 juta kiloliter (kl). Artinya, B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. Hal ini seperti yang ditanyakan oleh awak media terkait angka penghematan impor BBM. “Ini kebutuhannya (kebutuhan B30) 9,6 juta hingga 10 juta kl, kita bulatkan ke 9 juta kl. Kalau dibawa ke barel bisa 55 juta barel lho produksi biodiesel Indonesia yang bisa diserap atau setara dengan 70 hari kerja Pertamina,” ungkap Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan dalam temu media di kantor Aprobi, Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5/2019). Paulus melanjutkan, saat ini kapasitas produksi biodiesel dalam negeri hanya sebesar 12 juta ton. Bila B30 dijalankan maka produksi dalam negeri hanya akan tersisa sedikit. Untuk mengatasi tersebut, sebanyak tiga perusahaan produsen biodiesel mengaku akan menambah kapasitas produksi masing-masing sebesar 300 ribu kl. Sehingga total tambahan sebanyak 900 ribu kl. “Nah, kapasitas kita kan 12 juta kl, tinggal sedikit sekali. Antisipasi dari teman-teman ada beberapa perusahaan yang ingin tambag kapasitas ada perusahaan baru yang terjun di biodiesel. Satu perusahaan baru dan dua ekspansi masing-masing 900 ribu kl,” tutup dia.

https://finance.detik.com/energi/d-4533416/b30-mulai-uji-coba-ri-bisa-hemat-bbm-hingga-55-juta-barel

Bisnis | Kamis, 2 Mei 2019

Rencana Implementasi B30 Buka Peluang Ekspansi bagi Produsen Biodiesel

Rencana penerapan bahan bakar nabati atau biodiesel dengan komposisi 30% minyak kelapa sawit atau B30 menjadi angin segar bagi sejumlah produsen biofuel untuk melakukan ekspansi bisnis. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan mengatakan terdapat dua produsen biofuel yang berencana melakukan ekspansi untuk memproduksi B30 dengan kapasitas masing-masing 300.000 kiloliter. Selain itu, ada satu produsen biofuel baru dengan kapasitas produksi 300.000 kiloliter yang siap mendukung penerapan B30. Saat ini kapasitas produksi biodiesel nasional dari produsen eksiting mencapai 12 juta kiloliter. Dari kapasitas tersebut, kemungkinan produksi B30 akan mencapai 10 juta kiloliter. Kehadiran produsen biofuel baru maupun langkah ekspansi yang dilakukan perusahaan eksisting menjadi bagian dari upaya antisipasi memenuhi kebutuhan biodisel. Seperti halnya penggunaan B20 pada 2018, dari total produksi 6,1 juta kl, sebanyak 3,5 juta kl diserap untuk kebutuhan domestik dan 1,7 juta untuk keperluan ekspor.

“Pemain baru ada yang sekitar 7 sampai 8 bulan sudah mulai, ada yang beberapa bulan ini sedang menembangkan, jadi total tambahan produksi sekitar 900.000 kl dari kapasitas terpasang sekitar 12 juta kl,” katanya, Kamis (2/5/2019). Menurutnya, uji coba B30 sudah mulai dilakukan dan tinggal menunggu waktu tepat untuk uji jalan yang kemungkinan akan dilakukan hingga Oktober. Namun, dia berharap uji jalan mampu dilakukan lebih cepat yakni rampung pada Juli 2019 agar B30 mampu diterapkan komersial pada tahun ini. Artinya, jadwal penerapan B30 bisa lebih maju dari target komersial yang seharusnya dilakukan pada 2020. “Kalau bisa 24 jam jalan terus [uji jalan] tapi ada suatu saat berhenti untuk test ini itu,” katanya. Beberapa kendaraan yang akan digunakan untuk uji jalan saat ini sudah mulai masuk tahap penyeragaman standarisasi beruap penurunan mesin. Semua mesin dibersihkan dan dipastikan tidak memiliki kandungan cairan yang dapat merusak jalannya uji jalan. Total, aka nada 11 kendaraan yang digunakan untuk ujicoba B30 tersebut. Paulus mengatakan uji coba ini dilakukan untuk benar-benar memastikan bahwa B30 benar-benar mampu digunakan untuk kendaraan. Rencananya, saat uji jalan nanti, pada setiap kilometer, kendaraan akan berhenti untuk dilihat kondisinya. “Mesin dibongkar lagi semuanya, sama seperti B20 itu benaran bisa jadi bukan sekedar,” katanya. Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan pemerintah pasti akan terus mendorong agar penggunaan B30 secara komersial dilakukan secepatnya. Apalagi, secara teknis, B30 hanya tinggal menambah kapasitas FAME yang dicampurkan dalam solar. “Tanpa perlu membangun industri baru pun kapasitas yang ada sudah siap,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190502/44/917988/rencana-implementasi-b30-buka-peluang-ekspansi-bagi-produsen-biodiesel

Warta Ekonomi | Kamis, 2 Mei 2019

Kuartal I 2019, B20 Tersalurkan 1,5 Juta Kiloliter

Program B20 telah diimplementasikan sejak Januari 2016 pada bahan bakar solar public service obligation (PSO) dan dilanjutkan dengan penerapan untuk semua bahan bakar solar sejak September 2018. Setelah delapan bulan penerapannya di kuartal I tahun ini, penyaluran B20 tetap berlangsung baik tanda kendala. Paulus Cakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), menyatakan, selama tiga bulan pertama 2019, telah tersalurkan sebanyak 1,5 juta kiloliter, serta diharapkan akan mencapai sekitar 6,2 juta kilaloter pada akhir 2019. “Hal ini bisa terlaksana terdukung oleh sinergi antara pemerintah, Kementerian ESDM, Kemenperin, Kemenhub, Kementan, dan Kemenkeu. Juga oleh Gaikindo, INSA, Aptrindo, Pertamina, dan badan umum BBM lainnya,” kata dia di Jakarta, Kamis (2/5/2019). Ekspor biodiesel pun terus berjalan. Selama kuartal pertama 2019, telah terekspor sebesar 173.543 kiloliter, terutama ke negara Eropa dan China. Ekspor biodiesel menemui kendala di beberapa negara, misalnya Amerika Serikat (AS).

AS menuduh adanya subsidi dan dumping. Beberapa perusahaan Indonesia telah mengadukan kasus yang dinilai tidak adil ini ke Court of International Trade (CIT) di New York, dengan dukungan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemendag. Lalu, di Uni Eropa (UE) ada tuduhan subsidi. Seperti diketahui, UE telah menuduh Indonesia menyubsidi biodiesel yang diekspor ke wilayah tersebut. Beberapa produsen bersama Pemerintah Indonesia telah mengisi questionnaire dari UE, yang kemudian diverifikasi UE pada 1-4 Maret 2019. “Kami dan Pemerintah Indonesia menunggu simpulan dari verifikasi tersebut,” jelas Paulus. “Kendala lainnya adalah diterbitkannya EU Renewable Enery Directive II dan Delegated Act. Aprobi mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang sedang dan akan diambil oleh pemerintah,” tambah dia.

https://www.wartaekonomi.co.id/read226067/kuartal-i-2019-b20-tersalurkan-15-juta-kiloliter.html

Media Indonesia | Kamis, 2 Mei 2019

Uji Coba B30 Ditarget Selesai September

KETUA Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan proses uji coba B30 sudah mulai berjalan dan sedang memasuki proses overhaul terhadap kendaraan-kendaraan yang akan diuji coba. Overhaul merupakan kegiatan pembongkaran kendaraan mulai dari tangki bahan bakar, pipa sampai mesin. “Jadi semuanya dinolkan, dibarukan, dibersihkan. Nanti akan terlihat hasil setelah pemakaian seperti apa,” ujar Paulus di kantornya, Jakarta, Kamis (2/5). Proses tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat dan uji jalan bisa dilaksanakan pada bulan ini. Mobil-mobil penguji B30 akan menempuh jalan sepanjang 40 ribu kilometer dengan berbagai rute. “Kita akan jalan di dataran rendah, dataran tinggi, lalu lintas padat, jalan tol, berbagai iklim,” tuturnya.+ Ditargetkan, uji jalan paling lambat akan selesai pada September mendatang. Jika hasilnya baik dan dapat diterima seluruh pihak, penerapan B30 bisa dilaksanakan secepatnya bahkan pada kuartal empat tahun ini. Aprobi pun mengapresiasi seluruh pihak yang sangat memberi dukungan terhadap uji coba B30 terutama Gabungan Indusitri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). “Ada sebelas mobil yang ikut uji coba dan itu pemberian Gaikindo. Ada Toyota, Mitsubishi, Daihatsu, Isuzu, Hino dan lain-lain. Mereka semua sangat mendukung program biodiesel dan ini sangat baik bagi industri kita,” tandas Paulus.

https://m.mediaindonesia.com/read/detail/233106-uji-coba-b30-ditarget-selesai-september

Medanbisnisdaily | Kamis, 2 Mei 2019

PLN Bakal Serap 3 Juta Kl Minyak Kelapa Sawit untuk Pembangkit Listrik

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana menyerap 3 juta kiloliter (kl) minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) untuk bahan bakar pembangkit listriknya. Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor. Hanya saja hingga saat ini PLN masih mempertimbangkan harga beli CPO nantinya. “PLN juga akan menggunakan lebih kurang 3 juta kl untuk kebutuhan mereka. Yang jadi pertimbangan mungkin harga, bagaimana harga CPO tidak lebihi crude atau solar,” ungkap dia dalam temu media di Kantor Aprobi, Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5/2019). Lebih lanjut, Tumanggor mengungkapkan saat ini pihaknya sedang melakukan diskusi dengan PLN terkait dengan harga. Sebab, Aprobi sendiri menawarkan harga acuan atau MOPS (Mean of Platts Singapore) -2% sedangkan PLN meminta MOPS -16%. “Sekararang lagi pembahasan harga. Kita meminta dalam surat kita adalah MOPS -2%. Itu harga, tapi kayaknya PLN minta MOPS -26%. Kalau harga cocok itu mau 3 juta full CPO,” terangnya. Sementara itu, ia juga mengungkapkan kesiapan pembangkit PLN yang bisa menggunakan CPO yakni telah mencapai 600 ribu kl. “Yang sudah siap tahun ini 600 ribu kl (pembangkit yang dipunya PLN). Jadi pembangkit yang bisa langsung isi CPO itu 600 ribu kl,” tutup dia. Sebagai informasi, pemerintah sendiri tengah menggenjot penggunaan CPO di dalam negeri. Hal ini dilakukan guna mengatasi defisit neraca perdagangan serta mendorong harga sawit membaik di tengah kampanye hitam.

http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2019/05/02/74195/pln_bakal_serap_3_juta_kl_minyak_kelapa_sawit_untuk_pembangkit_listrik/

Liputan 6 | Kamis, 2 Mei 2019

Uji Jalan B30 Segera Dilakukan

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) bersama pemerintah akan melakukan uji coba penggunan Solar, yang telah dicamput dengan 30 persen biodiesel (B30) dalam waktu dekat. Ketua Aprobi Paulus Cakrawan mengatakan, uji coba penggunaan B30 dilakukan pada kendaraan, dengan menempuh jarak 40 kilometer (km) dengan berbagai medan. Kendaraan tersebut akan melewati dataran tinggi dan rendah, kondisi lalulintas macet dan lancar. “Kami uji coba ke Bandung-Cirebon-Guci Tegal,” kata Paulus, di Jakarta, Kamis (2/5/2019). Uji coba diperkirakan paling lama selesai pada September 2019. Jika uji coba membuahkan hasil positif, Aprobi ingin program B30 bisa segera diimplementasikan. “Sampai September perkiraan. Bertekad lebih cepat, kalau bisa pertengahan Juli. Bisa maju kalau tes udah oke. Q4 bisa masuk,” tuturnya. Dalam uji coba B30, Aprobi melakukannya bersama Kementerian‎ Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan. Kendaraan yang diujicoba merupakan sumbangan dari Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). “Semua mobil yang ikut begitu. Mitsubishi, Hino dan lainnya. Ada yang di Bandung dan Jakarta. Kalau sudah nanti uji jalan 40 ribu km,” tandasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3955852/uji-jalan-b30-segera-dilakukan

Merdeka | Kamis, 2 Mei 2019

Produsen Biofuel Ujicoba B30, Ditarget Selesai September 2019

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) bersama pemerintah akan melakukan ujicoba penggunaan solar, yang telah dicampur 30 persen biodiesel (B30) dalam waktu dekat. Ujicoba penggunaan B30 dilakukan pada kendaraan, dengan menempuh jarak 40 kilo meter (km) dengan berbagai medan, meliputi dataran tinggi dan rendah, kondisi lalulintas macet dan lancar. “Kita uji coba ke Bandung-Cirebon-Guci tegal,” kata Ketua Aprobi, Paulus Cakrawan, di Jakarta, Kamis (2/5). Menurut Paulus, ujicoba diperkirakan paling lama selesai pada September 2019. Jika ujicoba membuahkan hasil positif, Aprobi ingin program B30 bisa segera diimplementasikan. “Sampai September perkiraan. Bertekad lebih cepat, kalau bisa pertengahan Juli. Bisa maju kalau tes sudah oke. Q4 bisa masuk,” tuturnya. Dalam ujicoba B30, Aprobi melakukannya bersama Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan, kendaraan yang diujicoba merupakan sumbangan dari Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). “Semua mobil yang ikut (ujicoba biodiesel 30) begitu. Mitsubishi, Hino dll. Ada yang di Bandung dan Jakarta. Kalau sudah nanti uji jalan 40.000 Km,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/produsen-biofuel-ujicoba-b30-ditarget-selesai-september-2019.html

Gatra | Kamis, 2 Mei 2019

APROBI Dukung Pemerintah Hadapi Uni Eropa Bela Sawit Indonesia

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) mengaku terkendala atas kebijakan Uni Eropa yang memboikot sawit Indonesia. Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan menyebut ekspor biodiesel dari Indonesia terganggu oleh tuduhan subsidi Indonesia serta regulasi terkait energi terbarukan dari Uni Eropa. ” APROBI mendukung sepenuhnya Iangkah-Iangkah yang sedang dan akan diambil oleh Pemerintah,” tegas Paulus kepada wartawan di Kantor APROBI di Jakarta, Kamis (2/5). Seperti diketahui, Uni Eropa telah menuduh Indonesia melakukan subsidi untuk biodiesel yang di ekspor ke Eropa. Paulus mengungkapkan beberapa produsen biodiesel dan Pemerintah telah mengisi kuisioner dari Uni Eropa dan Uni Eropa telah melakukan verifikasi baik ke produsen maupun ke pihak Pemerintah. “Kami dan Pemerintah Indonesia menunggu kesimpulan dari verifikasi tersebut,” kata Paulus. Kemudian kendala lain dari ekspor biodiesel Indonesia adalah dengan diterbitkannya EU Renewable Enery Directive II dan Delegated Act yang menilai sawit Indonesia tidak ramah lingkungan. Ketua Umum APROBI MP Tumanggor menyebut dibalik itu ada yang tak senang dengan energi terbarukan dari sawit Indonesia. “Dibalik itu ada yang geram dengan energi terbarukan dari sawit, kami baru kembali dari Brussel untuk memperjuangkan sawit Indonesia,” kata MP Tumanggor. APROBI menilai tuduhan tersebut tidak berdasar dan harus dilawan agar boikot terhadap biodiesel dari sawit Indonesia tidak meluas ke negara lain. “Kami akan berusaha agar kebijakan tersebut bisa dicabut, kalau itu diteruskan dan kita diam saja, akibatnya kita memberitahu dunia bahwa tuduhan itu benar dan negara lain akan ikut,” ujar Paulus Tjakrawan.

https://www.gatra.com/detail/news/413519/economy/aprobi-dukung-pemerintah-hadapi-uni-eropa-bela-sawit-indonesia

Gatra | Kamis, 2 Mei 2019

APROBI Targetkan Segera Uji Jalan B30 Dalam Waktu Dekat

Asosial Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menargetkan Bahan Bakar Minyak (BBM) Biodiesel jenis baru yakni B30 akan masuk pada tahap uji jalan dalam waktu dekat. Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan mengungkapkan rangkaian uji coba B30 telah dimulai dan sudah berjalan dengan kegiatan Over Haul (O/H) kendaraan dengan dukungan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). “Selesai O/H maka uji jalan akan dimulai, dan kita targetkan September bahkan bisa lebih cepat,” ungkap Paulus kepada wartawan di Kantor APROBI, Jakarta, Kamis (2/5). Paulus menambahkan, sebelum B30, Program B20 telah diimplementasikan sejak Januari 2016 pada bahan bakar solar Public Service Obligation (PSO) dan dilanjutkan dengan penerapan untuk semua bahan bakar solar sejak September 2018. Pihaknya optimis uji coba B30 bisa segera dilakukan dan diimplementasikan seperti B20. Nantinya Uji jalan B30 akan menjalani 40.000 km melaui dataran rendah, tinggi, jalan naik turun hingga lalu lintas padat dan jalan tol. Paulus berharap nantinya saat B30 telah diimplementasikan, industri otomotif dapat menyambut baik kehadiran B30 dan menyesuaikannya dengan spesifikasi kendaraannya. Sementara ketika ditanya terkait beberapa penolakan dari pengguna perusahaan kendaraan komersial besar seperti bus dan truk terhadap B20 dan ancaman resistensi pasar nantinya terhadap B30, Paulus menyebut bahwa tidak ada lagi masalah terkait hal tersebut. Apalagi pengusaha kendaraan komersial besar yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) tidak mempersoalkan implementasi Biodiesel. “APTRINDO tidak masalah, karena B30 tidak membebani dan relatif sama,” ujar Paulus. Kemudian terkait kebutuhan pasar, Paulus menyebut kebutuhan pasar B30 mencapai 9,8 juta Kiloliter, dan untuk ekspor pihaknya optimis bisa mencapai 2 juta kiloliter.

https://www.gatra.com/detail/news/413446/economy/aprobi-targetkan-segera-uji-jalan-b30-dalam-waktu-dekat

Kontan | Kamis, 2 Mei 2019

Implementasi B30 akan kerek penyaluran biodiesel sebesar 45% jadi 9 juta kilo liter

Pengusaha dan pemerintah mulai melakukan uji coba program biodiesel 30% atau B30 dalam waktu dekat ini. Diharapkan dengan uji coba ini, pada September 2019 mendatang program B30 sudah bisa diimplementasikan atau lebih cepat dari target semula tahun 2020. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, bila program B30 ini akhirnya diimplementasikan, maka penyaluran biodiesel di pasar domestik mencapai 9 juta kilo liter lebih per tahun. Penyaluran biodiesel tersebut meningkat signifikan dibandingkan saat ini yang menjalankan B20. Dengan program B20, Aprobi menyatakan kebutuhan biodiesel per tahun mencapai 6,2 juta kilo liter. Bila program B30 dijalankan, akan ada kenaikan penyaluran biodiesel dalam negeri sebesar 45,16% lebih. Sejauh ini, Paulus menjelaskan, pemerintah dan pengusaha mulai melakukan uji coba B30. Uji Coba tersebut mulai pembongkaran mobil. Mulai pembongkaran mesin, tangki, bahan bakar, pipa-pipa.

“Pembongkaran mobil ini merupakan sumbangan Gaikindo, nanti mobil itu dibongkar dan di-overall mulai tangki, bahan bakar, pipa-pipa, mesin dicek kondisi mesin sebelum dan sesudah menggunakan B30,” ujar Paulus dalam konferensi pers di Kantor Aprobi, Kamis (2/5). Nantinya akan dilakukan uji jalan untuk 11 mobil yang disediakan Gaikindo dari berbagai merek. Mobil ini akan menempuh perjalanan 40.000 kilo meter dengan kondisi jalan berliku, naik turun, jalan rusak, masuk jalan tol. Rencananya rute yang akan dilakukan mulai dari Lembang, Bandung hingga Guci, Tegal pulang pergi nonstop 24 jam dengan menggunakan tiga supir untuk setiap kendaraan secara bergantian. Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor menambahkan, Aprobi menargetkan program B30 ini dapat diimplementasikan pada September 2019 mendatang. Pertimbangannya bila masa uji coba berjalan lancar, maka hingga Agustus hasilnya telah diperoleh hingga bisa langsung diajukan ke pemerintah untuk segera diimplementasikan. “Kami senang, Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) sudah mendukung. Mereka siapkan 11 mobil untuk uji coba B30. Dengan implementasi ini nantinya, kami juga mengimbau agar produsen mobil menyesuaikan mesinnya untuk B30 ini,” harapnya.

https://industri.kontan.co.id/news/implementasi-b30-akan-kerek-penyaluran-biodiesel-sebesar-45-menjadi-9-juta-ton

Republika | Kamis, 2 Mei 2019

Uji Jalan B30 akan Dilakukan Akhir Mei

Pemerintah berencana melakukan uji jalan atau road test untuk kendaraan dengan bahan bakar Biodiesel 30 persen pada akhir Mei ini. Saat ini, Gaikindo dan Aprobi masih melakukan serangkaian persiapan uji jalan dengan persiapan mesin mobil. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan sejak 29 April kemarin sebanyak 11 mobil dan truk milik Gaikindo melalui tahap bongkar mesin. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin mesin agar siap dan capable untuk memakai B30. “Mesinnya dibongkar semua, sudah jalan mulai dari tangki, pipa, mesin semua dibuka, dibersihkan semua. Sudah mulai 29 April 2019,” ujar Paulus di Kantor Aprobi, Kamis (2/5). Paulus menjelaskan, nantinya pascapembongkaran mesin ini, Gaikindo, pemerintah, Aprobi dan BPPT akan memulai uji jalan atau road test melalui rute Bandung hingga Tegal sepanjang 40 ribu kilometer. Hasil dari uji jalan ini nantinya akan menjadi acuan pemerintah untuk membuat keputusan apakah B30 laik jalan atau tidak.

“Tapi kami sih optimistis karena B20 saja jalan, ini cuma tinggal menambah komposisi aja. Kami berharap selesainya road test maka sudah bisa langsung diterapkan kebijakan B30 ini paling tidak September mendatang,” ujar Paulus. Hal senada juga dipaparkan oleh Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana. Ia menjelaskan dalam dua sampai tiga pekan ke depan mobil yang saat ini sedang di-overhall akan melalui road test. Untuk proses road test sendiri saja, kata Dadan, tim membutuhkan waktu hingga empat bulan. “Karena prosesnya selain jalan, dalam jangka waktu tertentu akan dibongkar dan dilihat lagi kondisi mesinnya seperti apa, hasil dan evaluasinya bagiamna. Ya, kira kira empat bulan,” ujar Dadan saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (2/5). Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menjelaskan selain mempersiapkan kendaraannya, pemerintah juga sedang menyiapkan fasilitas pengisian bahan bakarnya. Ia menjelaskan, pemerintah perlu memastikan bahwa tangki blending Pertamina siap melakukan pencampuran B30. Selain itu, pemerintah perlu memastikan sistem pengangkutan di titik-titik pengisian B30. Sedangkan untuk program B20 sendiri, hingga kuartal pertama tahun ini, Aprobi sudah menyalurkan 1,5 juta kiloliter biodiesel. Jumlah tersebut setara 24,19 persen dari target penyaluran biodiesel di pasar domestik tahun ini yang sebesar 6,2 juta kiloliter. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, penyaluran biodiesel dalam negeri sejauh ini tidak mengalami hambatan yang berarti. “Hal itu terjadi berkat kerja sama semua pihak baik pemerintah, produsen biodiesel maupun industri otomotif seperti Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia),” ujar Paulus.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/migas/pqvi61370/tradisi-ramadhan

Detik | Kamis, 2 Mei 2019

Pengusaha Rem Ekspor Biodiesel karena Kebijakan Uni Eropa

Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menargetkan ekspor biodiesel sebesar 1,2 juta kiloliter (kl) di tahun ini. Angka ini lebih rendah dari realisasi ekspor tahun lalu sebesar 1,7 juta kl. Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan pada dasarnya juga menargetkan ekspor sebesar 2 juta kl. Hanya saja, ada kendala yang tengah terjadi di industri kelapa sawit, khususnya ekspor sehingga target bisa menurun. “Titik pesimis 1,2 hingga 1,3 juta kl. Tapi ada juga titik optimis masih bisa 2 juta kl (ekspor),” kata dia dalam temu media di kantor Aprobi di Kuningan, Jakarta, Kamis (2/5/2019). Lebih lanjut, ia memaparkan kendala-kendala yang dimaksud adalah tuduhan Uni Eropa bahwa industri kelapa sawit Indonesia diberiikan subsidi oleh pemerintah. Bila tuduhan tersebut dibenarkan maka Indonesia bisa kehilangan pasar. Sebab, bila tuduhan dibenarkan akan ada pengenaan sanksi berupa bea masuk yang tinggi mencapai 22%. Alhasil, pengusaha akan memilih tak mengekspor sehingga nilai ekspor bisa berkurang. “Nanti kita lihat Eropa gimana nih. Kalau mereka tiba-tiba jatuh sanksi subsidi dengan bea masuk yang besar tentu akan drop. Karena ekspor kan besar ” jelas dia. Sementara itu, untuk mengatasi masalah tersebut beberapa produsen dan pemerintah telah melakukan verifikasi dengan mengisi questionnaire atau pengumpulan data yang disediakan oleh Eropa. Hanya saja, hasilnya hingga saat ini belum keluar.”Kami dan pemerintah Indonesia menunggu kesimpulan dari verifikasi tersebut,” tutup dia.

https://finance.detik.com/energi/d-4533665/pengusaha-rem-ekspor-biodiesel-karena-kebijakan-uni-eropa

Kontan | Kamis, 2 Mei 2019

Aprobi: Ada penambahan kapasitas produksi biodiesel 900.000 kilo liter

Pengembangan program biodiesel 30% atau B30 membuat industri biodiesel menaikkan kapasitas produksi mereka. Saat ini total kapasitas produksi industri biodiesel secara nasional 12 juta kilo liter. Sementara itu, mesin yang terpakai pada tahun ini diprediksi sekitar 7 juta – 8 Juta kilo liter. Hal itu didasarkan pada perhitungan kebutuhan biodiesel domestik dari program B20 sebesar 6,2 juta kilo liter dan target ekspor biodiesel 1,2 juta – 2 juta kilo liter. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, ada satu perusahaan baru yang masuk ke pengelolaan biodiesel. Saat ini perusahaan tersebut tengah membangun pabrik biodiesel berkapasitas 300.000 kilo liter. Sementara ada perusahaan lama yang menambah kapasitas mesinnya dengan membangun dua pabrik biodiesel. Masing-masing kapasitas produksinya mencapai 300.000 kilo liter. “Jadi harapannya, ada tambahan kapasitas produksi 900.000 kilo liter dari kapasitas yang sekarang sebesar 12 juta kilo liter,” ujar Paulus di Kantor Aprobi, Kamis (2/5). Kendati demikian, Paulus menolak menyebutkan nama-nama perusahaan yang menambahkan kapasitasnya tersebut, termasuk perusahaan baru yang sudah mulai membangun pabrik biodiesel. Penambahan kapasitas industri biodiesel ini untuk mengantisipasi kenaikan permintaan biodiesel di pasar domestik, termasuk ekspor ke manca negara.

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-ada-penambahan-kapasitas-produksi-biodiesel-900000-kilo-liter

Liputan 6 | Kamis, 2 Mei 2019

Penyerapan Biodiesel 1,5 Juta Kl hingga Kuartal I 2019

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mencatat penyerapan biodiesel 20 persen yang dicampur dengan solar (B20) selama kuartal I 2019 mencapai 1,5 juta Kiloliter (Kl). Ketua Aprobi, Paulus Cakrawan mengatakan, ditargetkan 6,2 juta Kl penyerapan biodiesel yang dicampur ke solar subsidi maupun nonsubsidi pada 2019. Sedangkan realisasi kuartal I 2019 sudah mencapai 1,5 juta Kl. “Semoga bisa 6,2 juta Kl sampai akhir tahun. Ini juga karena ada sinergi dari semua stakeholder. Tiga bulan pertama 1,5 juta pokoknya,” kata Paulus, di kantor Aprobi, Jakarta, Kamis, (2/5/2019). Paulus mengungkapkan, program B20 telah diimplementasikan sejak Januari 2016 awalnya pada solar subsidi untuk angkutan darat saja, kemudian penerapannya diperluas ke semua jenis solar yang digunakan semua sektor sejak September 2018. “Sudah 8 bulan penerapannya dan dalam penerapannya kami tidak menemui kendala berarti, sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” tutur dia. Tidak seperti penyerapan di dalam negeri yang berjalan mulus, ekspor biodiesel mengalami hambatan ke dua kawasan yaitu Amerika Serikat dan Uni Eropa. Realisasi ekspor biodiesel pada periode kuartal pertama 2019 mencapai 173.543 Kl, China dan Uni Eropa merupakan negara yang menyerap biodiesel tersebut. Adapun hambatan ekspor biodiesel di Amerika adalah tuduhan subsidi dan dumping. Atas tuduhan ini beberapa perusahaan Indonesia telah mengadukan kasus yang tidak fair ke Court of International Trade (CIT) di New York. Sedangkan di Uni Eropa dengan tuduhan subsidi, seperti diketahui Uni Eropa menuduh Indonesia melakukan subsidi untuk biodiesel yang diekspor ke Uni Eropa. Kendala lain adalah dengan diterbitkannya Uni Eropa Renewable Energy Directive II dan Delegated Act.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3955750/penyerapan-biodiesel-15-juta-kl-hingga-kuartal-i-2019

Merdeka | Kamis, 2 Mei 2019

Realisasi B20 Kuartal I 2019 Capai 6,2 Juta KL

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mencatat, penyerapan 20 persen biodiesel yang dicampur dengan solar (B20) selama kuartal pertama 2019 mencapai 1,5 juta kiloliter (KL). Tahun ini ditargetkan 6,2 juta KL penyerapan biodiesel yang dicampur ke solar subsidi maupun non subsidi. “Semoga bisa 6,2 KL sampai akhir tahun. Ini juga karena ada sinergi dari semua stakeholder. Tiga bulan pertama 1,5 juta pokoknya,” kata Ketua Aprobi Paulus Cakrawan, di kantor Aprobi, Jakarta, Kamis (2/5). Paulus mengungkapkan, program B20 telah diimplementasikan sejak Januari 2016. Awalnya pada solar subsidi untuk angkutan darat saja, kemudian penerapannya diperluas ke semua jenis solar yang digunakan semua sektor sejak September 2018. “Sudah 8 bulan penerapannya dan dalam penerapannya kami tidak menemui kendala berarti, sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan baik,” tuturnya. Tidak seperti penyerapan di dalam negeri yang berjalan mulus, ekspor biodiesel mengalami hambatan ke dua kawasan yaitu Amerika Serikat dan Uni Eropa. Realisasi ekspor biodiesel pada periode kuartal pertama 2019 mencapai 173.543 Kl, China dan Uni Eropa merupakan negara yang menyerap biodiesel tersebut. Adapun hambatan ekspor biodiesel di Amerika adalah tuduhan subsidi dan dumping. Atas tuduhan ini beberapa perusahaan Indonesia telah mengadukan kasus yang tidak fair ke Court of International Trade (CIT) di New York. Sedangkan di Uni Eropa dengan tuduhan subsidi, seperti diketahui Uni Eropa menuduh Indonesia melakukan subsidi untuk biodiesel yang diekspor ke Uni Eropa. Kendala lain adalah dengan diterbitkannya Uni Eropa Renewable Energy Directive II dan D

elegated Act. Sebelumnya, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan menyebut bahwa penyaluran Biodiesel 20 persen (B20) pada Januari hingga Februari 2019 mencapai sekitar 700.000 Kiloliter (Kl).

https://m.merdeka.com/uang/realisasi-b20-kuartal-i-2019-capai-62-juta-kl.html