+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Indonesia Jajaki Bahan Bakar Pesawat Berbasis Kelapa Sawit:

Indonesia Jajaki Bahan Bakar Pesawat Berbasis Kelapa Sawit: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menemui Vice President of International Goverment Relation Boeing, Mark Lippert, untuk menjajaki pengunaan bahan bakar pesawat berbasis kelapa sawit (Bioavtur). Bahan bakar tersebut merupakan pengembangan dari Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI). Pertemuan tersebut dilakukan Enggar saat melakukan ‎kunjungan ke Amerika Serikat. Enggar mengatakan, RI ingin meningkatkan kemitraan startegis dan menyeimbangkan hubungan perdagangan kedua negara di berbagai sektor. Menurut Enggar, dirinya mewakili Pemerintah Indonesia menyampaikan keinginan untuk meningkatkan kemitraan strategis kedua negara. “Kami mengajak Boeing bukan hanya untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi agar dapat bersama-sama menjadi bagian dari strategi masa depan yang saling menguntungkan. Banyak terdapat potensi kerja sama dengan Indonesia, misalnya pengembangan bahan bakar pesawat biofuel (bioavtur) berbasis sawit, suku cadang pesawat, serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair, overhaul/MRO),”ujar dia melalui siaran pers, Selasa, 24 Juli 2018. Terkait dengan penawaran kerja sama bioavtur berbasis sawit, Pemerintah Indonesia memfasilitasi pertemuan antara Boeing dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) yang telah mengembangkan biofuel dan ekspor secara global. “Boeing bersama pelaku usaha Indonesia dapat bekerja sama mengembangkan bioavtur berbasis minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan,” kata Mendag Enggar. Kehadiran Boeing di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1949. Menurut Enggar, kebutuhan atas pesawat Boeing di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan semakin berkembangnya jalur penerbangan Indonesia baik domestik maupun internasional. Di tahun 2012, pembelian armada Boeing oleh salah satu maskapai Indonesia menjadikannya pembelian terbesar sepanjang sejarah Boeing saat itu. Dalam kunjunganya ke AS, Enggar juga menggalang dukungan para importir produk Indonesia di Amerika Serikat (AS) untuk melakukan pendekatan kepada Pemerintah AS. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengamankan akses pasar produk Indonesia. Seperti diketahui, pemerintah AS menerapkan kebijakan kenaikan tarif impor besi baja dan aluminium, serta peninjauan ulang (review) Indonesia sebagai penerima program Generalized System of Preferences (GSP) Pemerintah AS. Selain mengagendakan pertemuan bilateral dengan Pemerintah AS, Mendag Enggar mengajak para importir komoditas Indonesia di AS untuk turut mencari solusi atas kebijakan review GSP serta kenaikan tarif baja dan alumunium. Sebab hal itu berpotensi menganggu neraca perdagangan Indonesia–AS. “Kenaikan bea masuk produk besi baja dan aluminium tidak hanya akan merugikan Indonesia sebagai eksportir, tetapi juga pelaku usaha AS. Karena, biaya produksi mereka akan meningkat, bahkan pasokan untuk proses produksi dapat terganggu. Akhirnya dapat merugikan daya saing perusahaan AS juga,” ujar Enggar. Menurut Enggar, para importir baja AS yang hadir dalam pertemuan mengatakan kenaikan bea masuk dapat membuat produk baja impor tidak kompetitif serta menahan laju pertumbuhan industri. Mereka mengakui produk Indonesia berkualitas baik dan produk tersebut memang tidak diproduksi oleh AS. Sehingga, hal tersebut semestinya tidak menjadi ancaman bagi industri baja AS. Keputusan pengenaan tarif impor sebesar 25% untuk produk baja dan 10% untuk produk aluminium telah ditandatangani Presiden AS Donald Trump pada 18 Maret 2018 lalu. Ekspor produk besi baja Indonesia ke AS pada tahun 2017 tercatat sebesar USD 112,7 juta atau hanya 0,3% pangsa pasar AS. (PIKIRANRAKYAT)

http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2018/07/24/indonesia-jajaki-bahan-bakar-pesawat-berbasis-kelapa-sawit-427753

Indonesia Ajak Boeing Jajaki Pemakaian BBM Pesawat dari Sawit: Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan menjajaki penggunaan bahan bakar pesawat dari minyak kelapa sawit dengan mengajak perusahaan pembuatan pesawat asal Amerika Serikat, Boieng. Hal tersebut diketahui setelah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menemui Vice President of International Goverment Relation Boeing, Mark Lippert, untuk menjajaki pengunaan bahan bakar pesawat berbasis kelapa sawit (Bioavtur). Pertemuan tersebut dilakukan Enggar saat melakukan ‎kunjungan ke Amerika Serikat. Enggar mengatakan, RI ingin meningkatkan kemitraan strategis dan menyeimbangkan hubungan perdagangan kedua negara di berbagai sektor. Mantan pengusaha yang mewakili Pemerintah Indonesia ini menyampaikan keinginan untuk meningkatkan kemitraan strategis kedua negara. “Kami mengajak Boeing bukan hanya untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi agar dapat bersama-sama menjadi bagian dari strategi masa depan yang saling menguntungkan. Banyak terdapat potensi kerja sama dengan Indonesia, misalnya pengembangan bahan bakar pesawat biofuel (bioavtur) berbasis sawit, suku cadang pesawat, serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair, overhaul/MRO),”ujar dia melalui siaran pers, Selasa. Terkait dengan penawaran kerja sama bioavtur berbasis sawit, Pemerintah Indonesia memfasilitasi pertemuan antara Boeing dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) yang telah mengembangkan biofuel dan ekspor secara global. Boeing bersama pelaku usaha Indonesia dapat bekerja sama mengembangkan bioavtur berbasis minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan,” kata Mendag Enggar. Bahan bakar tersebut merupakan pengembangan dari Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI). Dalam keterangan pers itu juga, disebutkannya kehadiran Boeing di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1949. Menurut Enggar, kebutuhan atas pesawat Boeing di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan semakin berkembangnya jalur penerbangan Indonesia baik domestik maupun internasional. Di tahun 2012, pembelian armada Boeing oleh salah satu maskapai Indonesia menjadikannya pembelian terbesar sepanjang sejarah Boeing saat itu. Dalam kunjunganya ke AS, Enggar juga menggalang dukungan para importir produk Indonesia di Amerika Serikat (AS) untuk melakukan pendekatan kepada Pemerintah AS. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengamankan akses pasar produk Indonesia. Seperti diketahui, pemerintah AS menerapkan kebijakan kenaikan tarif impor besi baja dan aluminium, serta peninjauan ulang (review) Indonesia sebagai penerima program Generalized System of Preferences (GSP) Pemerintah AS. (BREAKINGNEWS)

https://breakingnews.co.id/read/indonesia-ajak-boeing-jajaki-pemakaian-bbm-pesawat-dari-sawit

LOBI-LOBI GSP: Bijaksanakah Kemudahan Impor Produk Agrikultur yang Ditawarkan ke AS?: Strategi Indonesia yang akan menawarkan kemudahan akses impor sejumlah komoditas agrikultur dari Amerika Serikat sebagai ‘barter’ untuk mempertahankan fasilitas GSP dinilai tidak bijak.Berdasarkan pembahasan dalam rapat terbatas Antisipasi Review Amerika Serikat terhadap generalized system of preferences (GSP) Indonesia yang diungkapkan oleh sumber Bisnis, RI berniat menawarkan kemudahan akses bagi 30 barang dan jasa dari Amerika Serikat (AS). Termasuk dalam daftar 30 produk yang akan ditawarkan Pemerintah Indonesia ke Paman Sam pada negosiasi GSP di Washington pekan ini adalah gandum, kurma, apel, anggur, susu, dan lemon.Produk-produk lainnya ditengarai masih berkaitan dengan komoditas agrikultur. Adapun, jika menilik laporan U.S. Census Bureau Trade Data, nilai ekspor produk agrikultur AS ke Tanah Air mengalami tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Senada, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P. Roeslani menyebutkan persoalan akses pasar produk agrikultur AS di Indonesia memang menjadi salah satu topik yang disorot oleh Washington.Dengan demikian, lanjutnya, solusi yang ditawarkan oleh Kemendag tersebut merupakan langkah yang tepat demi mempertahankan GSP.“Rencana tersebut fair saja menurut saya. Produk-produk [agrikulutur] yang akan ditawarkan ke AS memang pada dasarnya dibutuhkan oleh Indonesia dan produsen terbaiknya adalah AS,” ujarnya.Terkait dengan timpangnya nilai ekspor yang diperoleh Indonesia melalui GSP dibandingkan dengan nilai impor produk agrikultur dari AS, Rosan menganggap hal tersebut bukan menjadi masalah yang besar bagi RI.Pasalnya, dengan adanya GSP, sejumlah produk ekspor Tanah Air yang mendapatkan fasilitas tersebut mampu bersaing dengan baik di pasar internasional. Sebaliknya, produk impor agrikultur asal AS memang sangat dibutuhkan oleh konsumen Indonesia. Negosiasi RI untuk mempertahankan GSP berlangsung di Washington pada 23—27 Juli melalui pertemuan dengan United States Trade Representative (USTR), Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, dan Kamar Dagang AS.Pertemuan itu dipimpin oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, yang memboyong perwakilan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI), dan Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI).Selain itu juga; Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), produsen ban mobil, minyak sawit, boga bahari, baja, aluminium, dan makanan minuman. (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180724/12/820013/lobi-lobi-gsp-bijaksanakah-kemudahan-impor-produk-agrikultur-yang-ditawarkan-ke-as

Indonesia Jajaki Kerjasama Dengan Industri Penerbangan AS: Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyatakan akan mendorong industri penerbangan domestik. Salah satu caranya adalah dengan mengundang perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS), untuk meningkatkan investasi dan kerjasama dengan pemerintah Indonesia.Dalam lawatannya ke AS, Enggar berencana akan bertemu dengan Vice President of International Government Relation Boeing, Mark Lippert. Sedianya pertemuan tersebut akan dibahas terkait potensi kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan AS di sektor penerbangan.”Kami mengajak Boeing bukan hanya untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi agar dapat bersama-sama menjadi bagian dari strategi masa depan yang saling menguntungkan,” kata Enggar dalam keterangan persnya.Beberapa hal yang berpeluang untuk dikerjasamakan diantaranya pengembangan bahan bakar pesawat biofuel (bioavtur) berbasis sawit, suku cadang pesawat, serta layanan perawatan, perbaikan dan overhaul (maintenance, repair, overhaul/MRO) pesawat. “Indonesia berpotensi menjadi hub (penghubung) pelayananan MRO pesawat udara di kawasan ASEAN dan sekitarnya, jadi banyak potensi kerja sama yang bisa dibangun dengan Indonesia,” ujar Enggar. Terkait dengan penawaran kerja sama bioavtur berbasis sawit, Pemerintah Indonesia memfasilitasi pertemuan antara Boeing dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) yang telah mengembangkan biofuel dan ekspor secara global. “Boeing bersama pelaku usaha Indonesia dapat bekerja sama mengembangkan bioavtur berbasis minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan,” pungkasnya. (INDOPREMIER)

https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Indonesia_Jajaki_Kerjasama_Dengan_Industri_Penerbangan_AS&news_id=93172&group_news=IPOTNEWS&taging_subtype=INDUSTRILAINNYA&name=&search=y_general&q=industri%20penerbangan&halaman=1

Kunjungi Boeing, Indonesia: Kami Harap Tak Dijadikan Pasar Semata: Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita, melakukan kunjungan ke AS guna meningkatkan kemitraan strategis dan menyeimbangkan hubungan perdagangan kedua negara di berbagai sektor. Salah satu upaya peningkatan di bidang penerbangan adalah bertemu dengan Vice President of International Government Relation Boeing, Mark Lippert. Enggar menyampaikan keinginan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kemitraan strategis kedua negara melalui kerja sama dengan perusahaan penerbangan tersebut. Enggar juga mengundang Boeing untuk lebih meningkatkan bisnis mereka di Indonesia agar saling menguntungkan kedua pihak. “Kami mengajak Boeing bukan hanya untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi agar dapat bersama-sama menjadi bagian dari strategi masa depan yang saling menguntungkan,” ungkap Enggar dalam keterangan yang diterima di Jakarta. Menurut Enggar, banyak terdapat potensi kerja sama dengan Indonesia, misalnya pengembangan bahan bakar pesawat biofuel (bioavtur) berbasis sawit, suku cadang pesawat, serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair, overhaul/MRO). Indonesia berpotensi menjadi hub pelayananan MRO pesawat udara di kawasan ASEAN dan sekitarnya. Terkait dengan penawaran kerja sama bioavtur berbasis sawit, Pemerintah Indonesia memfasilitasi pertemuan antara Boeing dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) yang telah mengembangkan biofuel dan ekspor secara global. (WARTAEKONOMI)

https://www.wartaekonomi.co.id/read188507/news_post.php

Indonesia to enhance strategic partnership with Boeing: The Trade Ministry seeks to enhance strategic partnerships with the US, including with the world’s largest aircraft manufacturer Boeing. The cooperation is expected to be mutually beneficial to both parties. Lukita also tried to improve partnerships and balance trade relations between the two countries in various sectors. “We invite Boeing not only to make Indonesia a market but also to remain together as part of a mutually beneficial future strategy,” Lukita said in a written statement received on Tuesday.The Indonesian delegation met with the Vice President of International Government Relations Boeing, Mark Lippert. Lukita conveyed the considerable cooperation potential between Boeing and Indonesia, such as the development of palm-based biofuel (bioavtur) aircraft, aircraft parts, as well as maintenance, repair, and overhaul services (MRO).In addition, Indonesia has the potential to become an aircraft service hub of MRO aircraft in Southeast Asia and beyond.With regard to the offer of bioavtur cooperation, the Indonesian government has facilitated a meeting between Boeing and the Indonesian Biofuels Producers Association (APROBI), which has developed biofuels and exports globally.”Boeing can work together with Indonesian business players to develop bioavtures based on palm oil as an alternative fuel that is more environmentally friendly,” Lukita remarked.The cooperation with Boeing has been started since 1949. Meanwhile, the need for Boeing aircraft in Indonesia will continue to increase along with the development of Indonesia’s domestic and international flight routes.In 2012, the purchase of Boeing’s fleet by one of the Indonesian airlines made it the largest purchase in Boeing’s history at the time. (REPUBLIKA)

https://www.republika.co.id/berita/en/national-politics/18/07/25/pce70b414-indonesia-to-enhance-strategic-partnership-with-boeing

Pengembangan bahan bakar ramah lingkungan terus digulirkan: Program penggunaan bauran minyak sawit dalam solar sebesar 20% atau Biodiesel 20 (B20) kepada seluruh kendaraan bermesin diesel di Indonesia terus digulirkan. Terbaru ada pengembangan penggunaan bauran minyak sawit dalam solar 100% atau disebut green diesel. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, sudah ada teknologi untuk biofuel 100%, dan teknologi yang sama dengan fuel oil. Sehingga tidak mengganggu kondisi teknis dari kendaraan bermotor ataupun pembangkit dan yang lainnya. Dengan kebijakan tersebut, pemerintah mendorong akan terjadi substitusi impor dengan biofuel atau biodiesel yang 100% itu sering disebut sebagai green diesel Airlangga menjelaskan green diesel punya spesifikasi sama dengan petrodiesel. Hal itu akan dikembangkan selama empat tahun ke depan sehingga Indonesia bisa mandiri di bidang biodiesel. “Green diesel itu standar sudah sama dengan EURO 4 tetapi proses berbeda. Kami mendorong industri biofuel meningkatkan kemampuannya menjadi Bio100. Dengan demikian nanti permintaan akan besar dan enviroment friendly,” jelas Airlangga. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono menjelaskan mobil-mobil produksi TMMIN sudah siap produksi biodiesel. Karena Toyota telah melakukan trial (uji coba) B-20 dengan mesin diesel Toyota dengan hasil sudah B-20 kapabel menggunakan diesel konvensional maupun biodiesel. “Dampak positifnya bila program biodiesel ini berjalan tentunya adalah menumbuhkan penggunaan energi baru dan terbarukan,” kata kata Warih. Saat ini memang belum ada permintaan dari pasar ekspor untuk kendaraan biodiesel. Namun studi-studi tetap Toyota lakukan untuk memperluas pasar ekspor. “Kami berharap kualitas dan pasokan B-20 dapat dijaga dengan baik, sehingga dapat dinikmati dan popular bagi pengguna mobil bermesin diesel di Indonesia,” kata Warih. (KONTAN)

https://industri.kontan.co.id/news/pengembangan-bahan-bakar-ramah-lingkungan-terus-digulirkan?page=2

Menperin Ingin Kerek Kandungan Biodiesel di Solar 100 Persen: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan kandungan minyak sawit dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar (biodiesel) bisa mencapai 100 persen (B-100) dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini, mandataori pencampuran biodiesel baik yang mendapatkan subsidi (public service obligation/PSO) dan tidak mendapatkan subsidi (non PSO) tengah diarahkan untuk mencapai 20 persen (B-20). “Setelah B-20, kita loncat ke B-100,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Menurut Airlangga, upaya peningkatan kadar biodiesel ke B-25 dengan B-100 tidak berbeda. Keduanya sama-sama membutuhkan pabrik dan mesin yang siap mengadopsi. Dari sisi mesin, lanjut Airlangga, sebenarnya sudah ada mesin diesel yang bisa mengadopsi penggunaan B-100. Namun, Airlangga mengakui sampai saat ini kebanyakan mesin baru bisa mengadopsi biodiesel dengan kadar maksimal 20 persen.Awal bulan ini, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan jajarannya untuk mengkaji kemungkinan percepatan mandatori pencampuran biodiesel sebesar 30 persen (B-30). Hal itu dilakukan untuk menekan impor minyak dan gas (migas) yang membebani neraca dagang Indonesia.Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, impor migas sepanjang semester I 2018 tercatat di angka US$14,04 miliar atau meningkat 20,82 persen dari posisi tahun lalu US$11,62 miliar. Dengan mandatori pencampuran biodiesel, Jokowi menyebut negara bisa menghemat devisa sebesar US$21 juta. Sesuai peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 12 tahun 2015, mandatori B15 dimulai pada April 2015 dan B-20 pada 2016. Setelah itu, mandatori B-30 harus bisa dimulai pada Januari 2020. Berdasarkan data Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, produksi biodiesel sepanjang lima bulan pertama tahun ini ada di angka 3,46 juta kilo liter (kl). Dari angka itu, sebanyak 2,57 juta kl dipasarkan di dalam negeri dan 187.349 kl sisanya dialokasikan untuk ekspor. (CNNINDONESIA)

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180724201325-85-316715/menperin-ingin-kerek-kandungan-biodiesel-di-solar-100-persen

RI-Malaysia Sepakat Lawan Kampanye Negatif Terhadap Sawit: Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk meningkatkan kerja sama melawan kampanye negatif terhadap produk minyak sawit yang terjadi di wilayah Uni Eropa. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah di Jakarta, Senin (23/7/2018) “Kami sepakat meningkatkan kerja sama untuk melawan kampanye negatif terhadap produk sawit di wilayah Uni Eropa,” kata Menlu Retno. Hal senada disampaikan Menlu Malaysia Saifuddin Abdullah. Dia mengatakan bahwa Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara produsen minyak sawit terbesar di dunia harus bekerja sama dalam memelihara pasar produk sawit di Eropa. “Kedua negara merupakan penghasil produk minyak sawit terbesar di dunia maka kita harus kompak. Kami sepakat bahwa kedua negara harus mengintensifkan diskusi dan kerja sama karena isu ini begitu besar,” ujar Saifuddin. Selanjutnya, kedua Menlu juga sepakat untuk memainkan perananan masing-masing agar masalah kampanye negatif terhadap produk sawit di wilayah Uni Eropa dapat dikelola secara terstruktur. “Kita perlu bekerja sama lebih erat lagi dalam isu kelapa sawit ini,” ujar Menlu Malaysia. Pada 14 Juni 2018, pertemuan trialog antara Komisi Eropa, Parlemen Eropa dan Dewan Uni Eropa menghasilkan beberapa poin terkait produk kelapa sawit. Namun, tidak ada rujukan khusus atau eksplisit untuk minyak sawit dalam perjanjian itu. Hasil pertemuan trialog itu juga bukan suatu larangan atau pun pembatasan impor minyak sawit atau biofuel berbasis minyak sawit. Selanjutnya, ketentuan yang relevan dalam Pedoman Energi Terbarukan (Renewable Energy Directive/RED) II hanya bertujuan untuk mengatur sejauh mana biofuel tertentu dapat dihitung oleh negara-negara anggota Uni Eropa untuk mencapai target energi berkelanjutan mereka. Akan tetapi, teks RED II yang telah disetujui itu menetapkan bahwa kontribusi dari berbagai kategori biofuel tertentu, khususnya yang memiliki risiko tinggi terhadap perubahan penggunaan lahan secara tidak langsung (indirect land-use change/ILUC) dan dari bahan pangan atau bahan baku yang mengalami ekspansi area produksi secara signifikan menjadi lahan dengan stok karbon tinggi, akan dibatasi pada tingkat konsumsi 2019. Pemerintah Indonesia memandang bahwa draf hasil trialog Uni Eropa itu menstimulasikan akan menggunakan ILUC sebagai kriteria, yang mencerminkan pandangan yang lebih bersifat Eropa sepihak daripada pandangan yang diterima secara internasional. (INDUSTRY)

http://www.industry.co.id/read/38707/ri-malaysia-sepakat-lawan-kampanye-negatif-terhadap-sawit

Pengembangan Bioteknologi Sektor Minyak dan Gas untuk Kedaulatan Energi Nasional: Direktur PT Aimtopindo Nuasa Kimia, Setyo Yanus Sasongko meminta pemerintah terus mendorong penggunaan teknologi lokal di sektor industri minyak dan gas. Sebab, kemampuan teknologi dalam negeri sudah terbukti mampu menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi minyak dan gas tanah air. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya aplikasi bioteknologi untuk meningkatkan produksi minyak di beberapa sumur. Dari beberapa hasil uji coba di berbagai lapangan minyak, PT Aimtopindo telah berhasil meningkatkan produksi secara signifikan melalui biosurfaktan, sebagai hasil metabolisme mikroba di dalam reservoir. “Teknologi biosurfaktan ini sangat cocok untuk meningkatkan produksi minyak di Indonesia dan biayanya jauh lebih murah daripada metode yang saat ini umum digunakan. Hal ini karena mikroba, peralatan, sumber daya manusia, dan nutrisi yang digunakan dalam implementasi teknologi ini seluruhnya berasal dari dalam negeri”, ujar Setyo Yanus Sasongko usai menerima penghargaan dalam acara Innovation Festival Industry (Innofest ID) 2018 di Kementerian Perindustrian, Selasa (24/7). Setyo mengungkapkan pada dasarnya bioteknologi dapat membantu mengatasi banyak permasalahan global di sektor energi, pangan, dan kesehatan. Namun, dalam implementasinya, perlu dipikirkan upaya untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. Lebih lanjut Setyo mengatakan saat ini PT Aimtopindo Nuansa Kimia sedang terus mengembangkan bioteknologi khusus di bidang oil and gas untuk dapat selaras dengan program nasional dalam mempertahankan atau meningkatkan produksi minyak nasional sesuai dengan program pemerintah, dimana peningkatkan produksi minyak nasional dilakukan dengan metode eksplorasi dan enhanced oil recovery (EOR). Teknologi biosurfaktan ini, sebagai salah satu jenis metode EOR, dipandang sebagai teknologi yang ekonomis dan mudah diaplikasikan, namun terbukti telah berhasil meningkatkan produksi minyak di beberapa sumur di Indonesia. Hal ini yang membawa PT Aimtopindo Nuansa Kimia mendapat penghargaan dalam acara Innovation Festival Industry (Innofest ID) 2018. Setyo memaparkan bahwa dengan semakin terbukanya kesempatan dan tantangan yang diberikan oleh perusahaan minyak nasional kepada perusahaan dalam negeri yang berbasis research & development, seperti PT Aimtopindo Nuansa Kimia, maka semakin mendorong pertumbuh-kembangan teknologi lokal yang dapat diimplementasikan. Hal ini akan mendorong kedaulatan teknologi di dunia oil and gas. Selain dapat membantu mengatasi masalah nasional berkaitan penurunan produksi minyak dan gas, bioteknologi ini juga dapat menjadi teknologi andalan di berbagai sektor di tanah air karena kemajuan bioteknologi di Indonesia masih dapat bersaing dengan negara maju lainnya. Hal ini terbukti dari implementasi teknologi yang dimiliki oleh PT Aimtopindo Nuansa Kimia mampu memberikan dampak positif yang signifikan khususnya di industri minyak dan gas untuk memberi kontribusi positif dalam kedaulatan energi nasional. (NERACA)

http://www.neraca.co.id/article/103822/pengembangan-bioteknologi-sektor-minyak-dan-gas-untuk-kedaulatan-energi-nasional