+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Indonesia-Jepang Membangun Biorefineri

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekeija sama dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang dalam pemanfaatan biomassa dari industri kelapa sawit sebagai dasar pengembangan teknologi biorefineri. Kerja sama itu diharapkan menghasilkan sumber energi alternatif bagi Indonesia. “Pengembangan biomassa agar segera diterapkan jadi energi alternatif bagi Indonesia melalui teknologi biorefineri,” kata Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Keanekaragaman Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu (27/9). Itu disampaikan Enny pada Simposium Internasional ke-4 Biopro-duksi Inovatif Indonesia (ISIBio 2017) di Bogor, Jawa Barat Biorefineri merupakan pengintegrasian peralatan dan proses konversi biomassa. Hal itu bertujuan memproduksi bahan bakar, listrik, dan bahan kimia bernilai tambah dari biomass Enny memaparkan, riset pemanfaatan biomassa nonpati sudah banyak dikembangkan para peneliti Indonesia, tetapi masih parsial sehingga penerapannya belum berjalan dengan baik. Kerja sama dengan Jepang yang lebih dulu mengembangkan biorefineri di negaranya diharapkan membantu Indonesia mengembangkan teknologi itu. Kerja sama LIPI dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) ditargetkan menghasilkan supermikroba Nantinya super-mikroba tersebut akan memproduksi enzim untuk menghasilkan bioetanol atau biokatalis 50 gram per liter. Saat ini supermikroba itu baru menghasilkan bioetanol atau biokatalis 40 gram per liter. “Kami berencana mengembangkannya hingga bisa menghasilkan bioetanol atau biokatalis sampai dengan 50 gram per liter,” kata Yopi Sunarya, Manajer Proyek Biorefineri. Dalam kerja sama itu, para peneliti dari LIPI telah menyeleksi 2.000 isolat mikroba lokal yang tersimpan di Bank Mikroba LIPI. Mikroba lokal itu akan diuji lebih lanjut di Jepang. Transfer teknologi. Kerja sama Indonesia dan Jepang itu tak hanya terbatas pada pengiriman mikroba untuk diuji di Jepang, tetapi juga akan melibatkan transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia. “Kami tak hanya jadi pemasok biomassa ke Jepang, tetapi juga melakukan transfer teknologi agar nantinya dapat mengelola secara mandiri,” ujarnya. (KOMPAS)