+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Indonesia Siap Gunakan Biodiesel

Media Indonesia | Kamis, 29 November 2018

Indonesia Siap Gunakan Biodiesel

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 41 Tahun 2018 mewajibkan badan usaha penyedia bahan bakar minyak (BBM) untuk mencampur BBM dengan minyak nabati. Jika tidak menaati aturan yang diberlakukan per 1 September, pemerintah memberikan sanksi administratif berupa denda Rp6.000/liter dan pencabutan izin usaha. Topik itu mengusik Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) sehingga menggelar kegiatan bertajuk Diskusi Pintar Roadmap Kebijakan Biodiesel di Indonesia. Berbagai narasumber diundang untuk membahas kesiapan dan dampak penggunaan bahan bakar nabati di Indonesia. Direktur Alat Transportasi Maritim dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika dalam kesempatan itu menyatakan, Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan bahan bakar jenis B20. “Di luar negeri mentok itu sampai B7 saja. Hal ini karena kita memiliki minyak sawit (crude palm oil atau CPO) yang melimpah sehingga harus dimanfaatkan,” ujar Putu Juli Ardika. Dan pabrikan otomotif, hadir Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia Ernando Demily. “Sebagian mesin Isuzu menggunakan common rail yang siap menggunakan B20 dalam menyongsong implementasi standar emisi Euro 4 pada 2021 tanpa perlu modifikasi atau penambahan alat apa pun. Mesin Isuzu juga sudah diuji selama 1.000 jam. Hasilnya sangat memuaskan dan tidak ada masalah ketika pengujian tersebut berlangsung,” ujarnya.

Indo Pos | Kamis, 29 November 2018

Penerapan B20 Belum Maksimal

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penerapan mandatori B20 atau campuran biodiesel pada bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar belum optimal dijalankan. “Belum maksimal rasanya B20,” tutur Darmin usai membuka acara Pertamina Energi Forum 2018 di Jakarta, Rabu (28/11). Salah satu penyebabnya, kata Darmin, Pertamina terlalu banyak membuka titik dalam menjalankan program B20.Namun, ia menekankan, peran Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas terbesar di Indonesia diharapkan dapat membantu program pemerintah untuk mengembangkan bahan bakar diesel 20 persen (B20). Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menyalurkan bahan bakar biodiesel 20 persen (B20) kepada pengguna akhir melalui 112 terminal bahan bakar minyak (TBBM). Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan kesiapan tersebut sebagai bentuk implementasi kebijakan mandatory B20 yang diimplementasikan mulai 1 September ini.

Harian Ekonomi Neraca | Kamis, 29 November 2018

Darmin Nilai B20 untuk BBM Belum Optimal

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penerapan mandatori B20 atau campuran Biodiesel pada bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar belum optimal dijalankan. “Belum maksimal rasanya B20,” kata Darmin usai membuka acara Pertamina Energi Forum 2018 di Jakarta, Rabu (28/11). Salah satu penyebabnya, kata Darmin, Pertamina terlalu banyak membuka titik dalam menjalankan program B20. Namun, ia menekankan, peran Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas terbesar di Indonesia diharapkan dapat membantu program pemerintah untuk mengembangkan bahan bakar diesel 20 persen (B20). Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menyalurkan bahan bakar Biodiesel 20 persen (B20) kepada pengguna a-khir melalui 112 terminal bahan bakar minyak (TB-BM). Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan kesiapan tersebut sebagai bentuk implementasi kebijakan mandatory B20 yang diimplementasikan mulai 1 September ini. “Untuk mendorong peningkatan jumlah pengguna bahan bakar Biodiesel yang ramah lingkungan ini, kami sudah siap dan seluruh fasilitas Pertamina sudah siap 100 persen untuk mencampur dan menyalurkan Biodiesel sebagai implementasi kebijakan mandatori B20,” kata Nicke.

Nicke menjelaskan dari 60 TBBM yang telah menyalurkan B20, Pertamina mencatat sejumlah TBBM dengan penyaluran tertinggi seperti TBBM Jakarta Group; TBBM Kotabaru Group, TBBM Surabaya dan TBBM Balikpapan. PT Pertamina (Persero) sempat menyatakan kekurangan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Eter) atau bahan campuran Biodiesel 20 persen atau B20 dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BBN). Dari 112 terminal BBM, baru 69 terminal BBM yang sudah menerima penyaluran FAME. Sementara sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di kawasan timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi. “Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan,” kata Nicke. Sementara itu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina. Masud Khamid, menjelaskan keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah terse-but memang sangat bergantungkeberlanjutan pasokan FAME dari produsen.

Dampak Ke Kendaraan

Dalam kesempatan sebelumnya, Dadi Hendriadi, Advisor Customer First Sub-Directorate PT Toyota Astra Motor (TAM), menjelaskan bahwa dampak penggunaan B20 yang akan paling terasa adalah berkurangnya tenaga dari mesin. “FAME (Fatty Acid Methyl Ester), bahan buat biodiesel, punya karakteristik berbeda yaitu nilai kalori yang enggak sebesar solar. Makanya, efeknya pada kendaraan adalah akan terjadi penurunan tenaga. Ini menjadi satu-satunya efek negatif yang sudah pasti dirasakan ketika menggunakan B20,” ujar Dadi. Meski begitu, Dadi melihat mungkin ada dampak lain seperti fule filter yang tersumbat. Namun hal ini tergantung kondisi kendaraan itu sendiri. Lebih lanjut, Dadi menjelaskan, kemungkinan fuel filter tersumbat biasanya karena bahan bakar,

Republika | Kamis, 29 November 2018

Dirut PLN: Tidak Semua Pembangkit Bisa Gunakan B20

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengatakan tidak semua pembangkit listrik PLN bisa menggunakan bahan bakar biodiesel 20 persen atau B20. Pembangkit yang dimaksud adalah pembangkit yang terletak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). “Akan jauh lebih mahal akhirnya. Biaya transportasinya dan lain sebagainya misalnya ke pulau-pulau terpencil di Indonesia timur, di NTT, dan di pedalaman Papua. Untuk membawa B20 ke sana sulit sekali, tidak efisien,” kata Sofyan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Rabu (28/11). Hal itu disampaikan Sofyan usai bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dia menyebut, terdapat ratusan pembangkit yang berada di daerah 3T yang belum bisa menggunakan B20. Namun, menurutnya, secara volume daya tidak signifikan. Sofyan menilai, solusi untuk daerah tersebut adalah dengan menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) lainnya. Dia menambahkan, saat ini daerah yang sudah banyak menggunakan B20 adalah Jawa dan Sumatra. Bahkan, di Sumatra, seluruh pembangkit bertenaga diesel milik PLN sudah menggunakan B20. “Di Sumatra sumbernya banyak dan kalau kita pakai sekarang murah. Jadi justru kita kejar pakai B20,” kata Sofyan.Terkait dengan penambahan konsumsi B20 sebesar 700 ribu kilo liter pada 2019, Sofyan menilai hal itu masih realistis. Dia mengatakan, B20 akan digunakan pada pembangkit listrik tenaga gas yang menggunakan teknologi gas mesin.”Bisa di situ karena itu sekitar 15 ribu megawatt,” kata Sofyan.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/18/11/29/pixey5370-dirutpln-tidak-semua-pembangkit-bisa-gunakan-b20

Okeozne | Rabu, 28 November 2018

Malam-Malam Bos Pertamina dan PLN Lapor Penerapan B20 ke Menko Darmin

Menteri Koordinator bidang Perekonomian menggelar Rapat Koordinasi pada malam ini. Turut hadir Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati dan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir. Ditemui usai rapat, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mengatakan, rapat tersebut membahas mengenai Bahan Bakar Biodiesel, (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dengan kandungan kelapa sawit 20% (B20). Dalam rapat tersebut, pihaknya hanya memberikan update sudah sejauh mana Pertamina menerapkan B20. “Memberikan update mengenai penerapan B20,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (28/11/2018). Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir mengatakan, penerapan B20 sejauh ini masih terus berjalan. Khususnya di PLN penerapan B20 akan terus didorong karena menurutnya bisa menghemat biaya khususnya di daerah-daerah tertentu. “Kita terus berjalan bergerak ya. Tapi kan ada beberapa daerah yang tidak mungkin, terus pembangkit yang derivatif itu enggak bisa,” jelasnya. Menurut Sofyan, ada beberapa pembangkit khususnya di daerah yang sulit untuk menggunakan B20. Khususnya di wilayah-wilayah terpencil dan wilayah Indonesia bagian timur.

“Maksudnya di daerah terpencil dan kecil-kecil (sulit gunakan B20),” ucapnya.Menurut Sofyan, daerah-daerah tersebut sulit untuk menggunakan B20 karena keterbatasan infrastruktur. Sehingga jikalau menggunakan B20 biayanya akan jauh lebih mahal dibandingkan harus menggunakan B20. “Dalam arti kata akan jauh lebih mahal akhirnya. Biaya transportasi dan lain sebagainya. Misalkan di pulau terkecil di bagian timur, NTT, Pedalaman Papua, kan untuk membawa B20 ke sana kan sulit sekali. Nggak efisien. Makanya itu tetap pakai BBM,” jelasnya. Adapun daerah yang paling banyak menggunakan B20 adalah di wilayah Sumatera dan Jawa. Bahkan khusus di Sumatera, hampir seluruh diesel sudah menggunakan B20.”Lokasi-lokasi di Jawa, Sumatera. Sumatera itu hampir diesel kita sudah b20. Karena sumbernya banyak dan kalau dipakai sekarang murah. Jadi kita pakai B20,” kata Sofyan.

https://economy.okezone.com/read/2018/11/28/320/1984236/malam-malam-bos-pertamina-dan-pln-lapor-penerapan-b20-ke-menko-darmin

Id.beritasatu | Rabu, 28 November 2018

Darmin: Penerapan Mandatori B20 Belum Optimal

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penerapan mandatori B20 atau campuran biodiesel pada bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar belum optimal dijalankan. “Belum maksimal rasanya B20,” kata Darmin usai membuka acara Pertamina Energi Forum 2018 di Jakarta, Rabu. Salah satu penyebabnya, kata Darmin, Pertamina terlalu banyak membuka titik dalam menjalankan program B20. Namun, ia menekankan, peran Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas terbesar di Indonesia diharapkan dapat membantu program pemerintah untuk mengembangkan bahan bakar diesel 20 persen (B20). Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyatakan siap menyalurkan bahan bakar biodiesel 20% (B20) kepada pengguna akhir melalui 112 terminal bahan bakar minyak (TBBM). Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan kesiapan tersebut sebagai bentuk implementasi kebijakan mandatory B20 yang diimplementasikan mulai 1 September ini.

“Untuk mendorong peningkatan jumlah pengguna bahan bakar biodiesel yang ramah lingkungan ini, kami sudah siap dan seluruh fasilitas Pertamina sudah siap 100% untuk mencampur dan menyalurkan biodiesel sebagai implementasi kebijakan mandatori B20,” kata Nicke. Nicke menjelaskan dari 60 TBBM yang telah menyalurkan B20, Pertamina mencatat sejumlah TBBM dengan penyaluran tertinggi seperti TBBM Jakarta Group, TBBM Kotabaru Group, TBBM Surabaya dan TBBM Balikpapan. PT Pertamina (Persero) sempat menyatakan kekurangan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Eter) atau bahan campuran biodiesel 20 persen atau B20 dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BBN). Dari 112 terminal BBM, baru 69 terminal BBM yang sudah menerima penyaluran FAME. Sementara sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di kawasan timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi.”Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan,” kata Nicke. Sementara itu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas’ud Khamid, menjelaskan keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah tersebut memang sangat bergantung keberlanjutan pasokan FAME dari produsen.

http://id.beritasatu.com/energy/darmin-penerapan-mandatori-b20-belum-optimal/183058

Liputan6 | Rabu, 28 November 2018

Biodiesel B30 Masuk Tahap Pengujian, Kualitas Diklaim Setara Euro4

Penggunaan bakar minyak Biodesel B20 (biodiesel 20 persen) diklaim akan lebih menguntungkan terhadap kinerja mesin Diesel dan lebih ramah lingkungan. Namun begitu, program mandatori biodiesel ini akan berkembang lagi dimana bahan bakar minyak akan ditambah 30 persen dengan menggunakan bahan bakar nabati yang berasal dari minyak kelapa sawit atau B30. Kabarnya, biodiesel B30 yang disebut-sebut memiliki standar seperti Euro4 akan diimplementasikan pada 2021 dan diuji lebih cepat, yaitu awal 2019 mendatang. “Jadi ada pemikiran kenapa tidak sekalian saja, nanti daripada tes lagi di waktu berbeda,” ujar Direktur Industri Maritim Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, di acara diskusi Roadmap Kebijakan Biodisel di Indonesia oleh Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), di The Hook, Jakarta, Selasa (27/11/2018). Menurut Putu, pada dasarnya untuk pengujian B30 sudah dimulai akhir tahun ini dengan persiapan mencapai 80-90 persen. Artinya sisa persiapan agar pengujian berlangsung hanya sekitar 10 persen.

“Kalau (pengujian dilakukan) Desember agendanya terlalu lama, maka kami akan mulai Januari,” ucapnya. Namun sayang, untuk detail waktu pengujian Putu belum mau mengatakan. Karena itu, untuk saat ini pemerintah masih menunggu, bagaimana sistem pengujian biodiesel B30, apakah menggunakan metode seperti pengujian sebelumnya atau apakah ada evaluasi untuk mendapatkan hasil lebih baik. “Kita juga harus dengarkan berbagai pihak. Keputusan kita bersama akan kami putuskan. Kami kan harus ada kesiapan juga, Euro 4 ini sudah diproduksi atau belum. Karena kan mobilnya belum ada juga. Ini yang kami coba diskusikan,” terangnya. Karena masih dalam tahap pengujian, maka saat ini para pabrikan otomotif sendiri belum melakukan produksi kendaraan B30 berstandar non-Euro4. “Sekarang kan kendaraan Diesel Euro4 diproduksi untuk memenuhi ketentuan pemerintah. Sekarang belum ada Euro 4 ngapain mereka produksi,” tutupnya .

https://www.liputan6.com/otomotif/read/3773932/biodiesel-b30-masuk-tahap-pengujian-kualitas-diklaim-setara-euro4

Sindonews | Rabu, 28 November 2018

Orang Jepang Heran Biodiesel Buatan Indonesia, Kok Bisa?

Sebab di negara lain, komposisi campuran nabati pada bahan bakar diesel hanya mentok samai B7 saja. Sehingga, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika sangat optimistis bahwa Indonesia dapat melangkah lebih jauh dan bahkan menjadi trendsetter dunia dalam pemanfaatan Biodiesel. “Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang memiliki B20. Di luar negeri mentok itu sampai B7 saja. Hal ini karena kita memiliki minyak sawit (Crude Palm Oil atau CPO) yang melimpah sehingga harus dimanfaatkan,” katanya dalam Diskusi Pintar Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), Jakarta. “Iya, sewaktu saya ke Jepang, produsen sana juga sempat kaget bahwa ada Biodiesel B20. Dan sempat pesimistis juga. Setelah mereka lakukan tes, pada akhirnya diterima dan dinyatakan aman,” lanjut Cahyo Setyo Wibowo dari LEMIGAS di kesempatan sama. B20 sendiri merupakan bahan bakar mesin diesel yang terdiri dari campuran solar (cetane number 48) dengan biodiesel atau kelapa sawit 20 sesuai SK Dirjen Migas Nomor 27 tahun 2016. Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang memanfaatkan B20 secara luas. Kini, bahan bakar tersebut mulai dikonsumsi oleh kendaraan komersil dan baru saja diuji ke kereta api. Setelah B20, Pemerintah menyiapkan uji jalan B30 yang diprediksi bisa mulai dilakukan pada awal 2019. Rencananya, B30 mulai diimplementasikan pada 2021 menggantikan B20 sebagai perluasan fungsi Biodiesel.

https://international.sindonews.com/dw/dunia/orang-jepang-heran-biodiesel-buatan-indonesia-kok-bisa

Cnnindonesia | Rabu, 28 November 2018

Biodiesel B30 Mulai Dicoba Tahun Depan

Setelah secara resmi menggaungkan penggunaan bahan bakar biodiesel B20 Agustus lalu, pemerintah bergerak cepat untuk mempersiapkan jenis bahan bakar nabati B30. Ini dilakukan untuk menjembatani mesin diesel menuju standar emisi Euro IV pada 2021. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) Putu Juli Ardika mengungkapkan pemerintah tengah mempertimbangkan pengujian penggunaan biodiesel B30 dalam waktu dekat. Ini karena implementasi untuk kebijakan Euro IV mesin diesel tinggal menunggu waktu. Namun pengujian ini masih menggunakan bahan bakar non-Euro IV. Putu tengah berdiskusi apakah bahan bakar B30 Euro IV akan berbarengan di uji coba atau tidak. “Masih belum diputuskan (pengujian B30 Euro IV), masih dalam diskusi karena dalam waktu dekat, 2019, kami akan melakukan pengujian B30 (non Euro IV). Tapi terpikir juga, 2021 sudah mulai Euro IV, jadi kenapa tidak sekalian saja daripada tes lagi di waktu berbeda,” ucap Putu saat ditemui Selasa (27/11/2018).

Putu mengungkapkan, pihaknya sekitar akhir tahun sudah memulai persiapan pengujiannya tersebut. Perkembangannya dikatakan sudah sekitar 80 sampai 90 persen. “Sebenarnya kemarin sudah mau mulai, akhir tahun sudah mulai. Tapi Desember kegiatan agenda terlalu ramai, jadi mungkin Januari (2019),” ucap Putu. Mengenai keputusan apakah nantinya akan diuji hingga Euro IV, Putu menyerahkan pada konsensus. Tidak masalah jika pengujian sepakat sampai Euro IV. “Kalau dari Kemenperin, ya kita mendengarkan berbagai pihak. Keputusan bersama kita putuskan untuk persiapan B30. Kita juga lihat sudah ada kendaraan yang diproduksi atau belum,” ucap Putu.

https://otomotif.kompas.com/read/2018/11/28/100200015/biodiesel-b30-mulai-dicoba-tahun-depan

Cnnindonesia | Rabu, 28 November 2018

Pengakuan Isuzu Setelah Uji Biodiesel B20

Isuzu Indonesia mengungkap hasil investigasi mereka pada penggunaan bahan bakar Biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester /FAME) dengan kandungan 20 persen kelapa sawit atau sering disebut B20. Diakui ada beberapa kendala, namun dinyatakan “tidak signifikan”. Isuzu menjelaskan sudah menguji B10 pada 2013, lantas pada 2015 ujian untuk B15 juga telah dilakukan. Pengetesan pada B20 diungkap dikerjakan pada 2016. Dalam pemaparannya di hadapan wartawan otomotif pada Selasa (27/11), Isuzu Indonesia menjelaskan uji coba B20 dilakukan pada Maret dan Mei 2016. Bahan bakar B20 yang digunakan didapat dari SPBU di kawasan Jakarta, Bekasi, Bandung, Cirebon, dan Indramayu. Menurut Attias Astril GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia, hasil uji mengungkap pada kondisi aktual kandungan FAME pada bahan bakar B20 yang diuji di antara 19,5 – 23 persen. Astril mengatakan pengujian ini dilakukan Isuzu Indonesia untuk pengembangan sebab ada sebagian produk yang ditawarkan ke konsumen sudah berteknologi common rail.

Uji Mesin

Selain uji kualitas bahan bakar, Isuzu Indonesia juga melakukan pengetesan penggunaan B20 pada mesin. Ada tiga jenis mesin yang dites, yaitu 4-silinder 4JB1TC, 4-silinder common rail 4HK1TCS, dan 6-silinder common rail 6HK1TCC. Komponen yang menjadi perhatian adalah tangki bahan bakar, selang bahan bakar, pipa bahan bakar, dan saringan bahan bakar. Ketiga mesin itu dikatakan dites di atas dynamometer dalam kondisi “full load” pada torsi dan tenaga maksimal mengikuti pola tertentu. Tes buat mesin medium duty (6HK1TCC) dilakukan selama 1.000 jam sedangkan mesin light duty (4JB1TC dan 4HK1TCS) selama 400 jam. Setelah diuji, komponen diinspeksi oleh Souchiro Kazuta, Engine Experiment Manager Isuzu Japan Durability Experiment Group. Astril menyebut dari penilaian tes tersebut tidak ada masalah signifikan yang disebabkan B20 pada mesin diesel Isuzu. “Jadi dari 2016 hampir tidak ada keluhan dan mungkin konsumen kami tidak tahu kalau itu sudah B20,” ujar Astril.

Kendala

Walau begitu ada beberapa hal yang jadi perhatian, salah satunya soal performa yang dijelaskan menurun 2 – 2,5 persen karena menggunakan B20. Astril mengategorikan hal ini tidak signifikan, namun buat pengemudi yang sensitif bisa merasakannya. Selain itu Astril juga mengungkap poin kritis pada pengujian B20 ada pada saringan bahan bakar. Komponen ini bekerja lebih keras menyaring kotoran sehingga konsumen sangat disarankan menggantinya sesuai perawatan berkala setiap 10 ribu km. B20 dikatakan punya sifat deterjen yang bakal menguras kotoran terendap sebelumnya di tangki bahan bakar. Pada kondisi itu saringan bahan bakar bekerja lebih keras menyaring kotoran sehingga penggantian komponen bisa lebih cepat. “Performa turun tadi itu juga karena memang ada kotoran di filter sehingga aliran bahan bakarnya mulai sedikit terganggu,” jelas Astril. Secara keseluruhan Astril mengatakan Isuzu Indonesia siap mendukung aturan pemerintah. Mesin Isuzu di Indonesia dikatakan siap menggunakan B20.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181128071046-384-349791/pengakuan-isuzu-setelah-uji-biodiesel-b20

Detik | Rabu, 28 November 2018

Biodiesel Bikin Akselerasi Berkurang 2,5%, Harus Rajin Cek Filter

Kendaraan buatan PT Isuzu Astra Motor Indonesia sudah mulai menggunakan bahan bakar biodiesel B20. Selama pemakaian, tak ada dampak berarti yang ditemui hanya saja filter solar harus lebih diperhatikan. Dipaparkan GM Marketing PT. Isuzu Astra Motor Indonesia, Attias Asril, kendaraan komersil yang menggunakan B20 harus rutin mengecek armadanya setiap menempuh jarak 10.000 kilometer. Hal itu dilakukan agar kendaraan tetap dalam keadaan prima. “Isuzu siap menggunakan bahan bakar B20,” ucap Attias saat ditemui dalam Diskusi Pintar Roadmap Kebijakan Biodiesel di Indonesia yang diselenggarakan Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), Jakarta, Selasa (27/11/2018). Namun dia meminta pengguna kendaraan untuk memperhatikan kondisi filter solar. “Iya, memang filter solar harus lebih diperhatikan. Tapi bila berbicara pergantiannya, sebenarnya normal saja. Sebab mau pakai bahan bakar Pertadex, Dexlite, Biosolar, tetap kami sarankan agar lakukan pengecekan kendaraan setelah menempuh 10.000 kilometer. Jadi saya rasa normal,” tambahnya. Attias juga mengatakan dampak dari bahan bakar B20 membuat akselerasi mobil berkurang sekitar 2 sampai 2,5 persen. “Ini disebabkan karena filter kotor,” jelasnya.

“Filter solar itu berfungsi untuk menyaring kotoran yang berada dalam tangki. Nah, sifat dari B20 itu ada seperti deterjen yang membuat endapan-endapan di tangki menjadi terangkat, terbawa. Filter yang masih bekerja dengan baik pasti akan menahan kotoran tersebut. Namun ketika filter menumpuk, aliran bahan bakar menuju mesin dapat terganggu,” tambah Attias. Di kesempatan sama, Marketing Director Isuzu Astra Motor Indonesia, Joen Boediputra mengatakan berkurangnya tenaga pada mobil setelah menggunakan biodiesel B20 adalah tergantung pada kebiaasan mengemudi. “Driving habit itu berkontribusi sampai 30 persen dalam konsumsi bahan bakar dan performa. Jadi bila ada penurunan 2 sampai 2,5 persen itu tidak ada pengaruhnya,” ujarnya. Diketahui, Isuzu sendiri menjual filter solar yang diproduksi secara lokal seharga Rp 60.000 hingga Rp 100.000. Isuzu sudah mengetes bahan bakar B20 melalui pengambilan tiga sampel mesin yakni 6 silinder common rail, 4 silinder common rail, dan 4 silinder mekanikal pump, hingga tes inspeksi. “Untuk yang medium duty engine kita tes sampe 1.000 jam, sedangkan yang light duty engine itu kita tes 400 jam. Ini pengujian pertamanya,” kata Attias. “Lalu kita juga lakukan tes inspeksi yang mendatangkan Engine Experiment Manager Isuzu Japan Durability Experiment Group, Soichiro Kazuta. Itu dicek benar mesin dan sebagainya sampai keluar kesimpulan bahwa B20 tidak berdampak cukup signifikan pada mobil Isuzu. Sehingga kita siap menggunakannya,” terangnya. “B20 ini juga tidak menggugurkan warranty claim, sehingga customer tidak perlu takut karena Isuzu akan tetap memberikan pelayanan yang terbaik,” tutup Attias.

https://oto.detik.com/berita/d-4320898/biodiesel-bikin-akselerasi-berkurang-25-harus-rajin-cek-filter

Tribunnews | Rabu, 28 November 2018

INILAH Langkah-langkah Pemerintahan Jokowi Menyelamatkan Minyak Sawit Indonesia

Kewajiban menggunakan bahan bakar biodiesel B20 dengan 20 persen campuran minyak nabati (minyak sawit) pada bahan bakar solar menjadi tantangan bagi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) sebagai pemimpin pasar medium duty truck di Indonesia. Setelah melakukan riset selama 3 tahun sebelumnya, Hino menyatakan semua truk dan busnya yang saat ini dipasarkan di Indonesia, siap mengasup biosolar B20. Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI mengatakan, Hino sejak awal biosolar B20 dicanangkan pemerintah, pihaknya sudah siap menggunakan B20 untuk semua truk dan bus Hino yang dijual di Indonesia. “Karena kendaraan yang Hino produksi di Indonesia selalu dilakukan pengembangan dan penyesuaian mengikuti kondisi yang ada di pasar lokal,” ungkap Santiko kepada Tribunnews beberapa waktu lalu. Santiko mengatakan, pelanggan loyal Hino tidak perlu khawatir dengan kebijakan ini karena kendaraan Hino sudah lulus uji dan siap menggunakan bahan bakar biodiesel 20 persen atau B20. Santiko memaparkan, sejak tiga tahun lalu Hino telah melakukan pengujian pada mesin dengan teknologi common raildengan metode uji engine bench test.

Pengujian tersebut dilakukan di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP-BPPT) selama 400 jam dengan beban penuh pada putaran mesin maksimum yaitu 2.500 rpm selama 8 jam/ hari. Metode uji tersebut merupakan metode yang disarankan oleh prinsipal Hino di Jepang. yaitu Hino Motors, Ltd. yang diklaim lebih memaksa mesin melakukan performa maksimal jika dibandingkan dengan road test atau kondisi pemakaian aktual di jalan. Hasilnya, untuk mesin Hino tidak ada fenomena yang membahayakan pada pengujian tersebut. Temuan yang muncul hanya ada penyumbatan filter bahan bakar yang diakibatkan oleh glicerol dan selulosa hasil blending bahan bakar kelapa sawit dan solar. Namun dengan kontrol dan perawatan yang benar akan dapat mencegah atau diminimalisir penyumbatan filter tersebut dan hasilnya mesin Hino telah lulus uji menggunakan bahan bakar biodiesel B20. Jadi harus lebih sering membersihkan filternya. Hasil pengujian terhadap mesin berteknologi common rail yang memperoleh hasil memuaskan tersebut, secara otomatis membuktikan bahwa penggunaan biodiesel B20 tidak akan berpengaruh terhadap mesin berteknologi mekanikal. Hasil pengujian tersebut juga sudah dilaporkan ke Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM sebagai salah satu bentuk komitmen Hino dalam mendukung kebijakan pemerintah. “Kami menghimbau kepada pemerintah agar terus menyempurnakan proses pencampuran solar dan FAME agar meminimalisir efek samping yang ditimbulkan bagi kendaraan,” ujar Santiko Wardoyo.

Telah diuji di Jepang

Sementara, Isuzu menyatakan kesiapan mereka untuk ikut dalam ajakan pemerintah menggunakan bahan bakar Biodiesel B20. Program yang telah diluncurkan awal September lalu itu ditujukan untuk mobil bermesin diesel baik penumpang maupun komersial. General Manager Sales Division PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Yohanes Pratama mengungkapkan saat ini Isuzu telah melakukan pengujian bahkan untuk solar B30 di Jepang. “Kami dukung ini (program B20). Saat ini kami sudah melakukan tes di Jepang. Jadi solar dari Indonesia kita kirim ke sana lalu di-running di mesin kami sampai 1.000 kilometer,” ucap Yohanes yang dikutip dari Kompas.com, Rabu (21/11/2018). Yohanes mengungkapkan dari sisi mesin tidak ada masalah dengan penggunaan bahan bakar B20 maupun B30. Komponen lain di luar mesin seperti selang, tangki bahan bakar dan filter yang kemungkinan terpengaruh bahan bakar tersebut sebab karakter biodiesel akan berubah menjadi seperti gel. Perhatian lainnya adalah bagaimana agar bahan bakar ini dapat terbakar sempurna. Efeknya untuk menghindari timbunan kerak yang bisa menurunkan performa. “Upaya-upayanya bisa seperti menguras tangki bahan bakar secara berkala serta filter solar. Begitu putaran mesin tinggi keraknya akan terbakar dengan sendirinya,” ucap Yohanes. Permasalahan ini menurut Yohanes tidak hanya akan dialami Isuzu tapi juga produsen lain. Menyoal penggantian filter bahan bakar, Yohanes mengungkapkan konsumen tidak harus khawatir karena saat ini harga filter bahan bakar sudah terjangkau. “Efeknya konsumen harus sering melakukan pengecekan ke filter-filter yang ada di kendaraan. Tapi itu tak perlu dikhawatirkan karena harga filter saat ini sudah murah,” ucap Yohanes.

Sebelumnya Uni Eropa Larang Minyak Sawit dari Indonesia

Sebelumnya, Parlemen Eropa sebelumnya mengesahkan rancangan proposal energi dengan menghapus minyak kelapa sawit sebagai bahan dasar biodiesel pada 2021 dan minyak nabati pada 2030. Hal itu dilakukan parlemen Uni Eropa dengan mendukung Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources pada 17 Januari 2018. Dalam pemungutan suara terhadap usulan tersebut, sebanyak 492 politisi Uni Eropa setuju, 88 menolak, dan 107 lainnya abstain. Dokumen tersebut nantinya akan diajukan kepada pemerintah masing-masing negara dan komisi Uni Eropa. Hal itu untuk mereformasi pasar tenaga listrik mengurangi konsumsi energi untuk memenuhi tujuan iklim global yang lebih ambisius. Rancangan tersebut mencakup larangan penggunaan minyak sawit dari tahun 2021. Salah satu alasan di antaranya agar hutan sebagai paru-paru bumi harus dijaga dalam peningkatan perubahan iklim.Indonesia dan Malaysia adalah dua negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, yang mencakup hampir 90 persen pasokan global.

Dan sejak saat itu, Indonesia telah bersumpah untuk terus berjuang melawan apa yang dilihatnya sebagai perdagangan global yang tidak adil terhadap industri kelapa sawitnya. Presiden Joko Widodo telah mengangkat isu tersebut saat KTT Asean-EU di Manila pada awal November 2017 lalu. Dia kemudian meminta Perdana Menteri Malaysia yang masih dipimpin Najib Razak kala itu untuk bergabung dengannya dalam upaya untuk membalikkan sikap dan kebijakan diskriminatif terhadap minyak sawit. Parlemen Eropa meminta Komisi Eropa untuk mengambil langkah-langkah untuk menghapuskan pada tahun 2020 penggunaan minyak nabati termasuk minyak sawit, yang dianggapnya sebagai penyebab utama deforestasi atau gundulnya hutan. Industri kelapa sawit di Indonesia juga dipersalahkan atas pelanggaran hak termasuk pekerja anak, serta pencemaran dari kebakaran hutan musiman yang ditetapkan untuk membersihkan lahan untuk perkebunan, dan hilangnya keanekaragaman hayati dan kebiasaan alami spesies langka seperti orangutan dan Harimau Sumatera.

Karena kelapa sawit merupakan penggerak ekonomi utama yang menghasilkan ekspor lebih dari 17 miliar pada tahun 2016. Namun saat ini, minyak kelapa sawit menghadapi kampanye dan diskriminasi negatif di Eropa dan Amerika Serikat. Atas larangan ini, Presiden Joko Widodo telah menulis sebuah surat kepada Presiden Uni Eropa dan parlemen untuk menyatakan penolakan dan protes kuat Indonesia terhadap perlakuan EU terhadap minyak sawit Indonesia pada Maret 2018 lalu. Dalam surat yang dikirimnya, Jokowi menganggap langkah Uni Eropa adalah kebijakan proteksionis untuk melindungi industri minyak goreng lokal. Pemerintah Indonesia memandang tindakan Uni Eropa sebagai langkah untuk melindungi minyak bunga matahari yang diproduksi secara lokal dan minyak goreng lainnya, karena mereka tahu keunggulan minyak sawit yang dihasilkan Indonesia. Pemerintah RI menganggap bahwa sikap EU terhadap CPO Indonesia adalah pelanggaran terhadap prinsip-prinsip fair trade.

Upaya Pemerintah Indonesia Terus Melobi Uni Eropa

Pemerintah RI yang dipimpin Luhut Panjaitan didampingi Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan melakukan lobi (diplomasi) ke Uni Eropa. Luhut juga didampingi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Menurut Oke, persepsi negatif terhadap minyak sawit lebih lanjut akan merugikan Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan salah satu pengekspor kelapa sawit terbesar di dunia. Menurut Oke, pemerintah Indonesia akan berupaya agar kebijakan tersebut tak disahkan oleh Uni Eropa. “Itu yang harus dihindari sehingga kami perlu melakukan (lobi),” kata Oke beberapa waktu lalu. Sebelumnya Luhut menjelaskan lobi perlu dilakukan karena usulan tersebut akan merugikan Indonesia. Sebab, saat ini terdapat 16 juta industri plasma kelapa sawit yang memproduksi biodiesel. “Kalau itu terjadi akan mempengaruhi industri kelapa sawit kita,” kata Luhut.

Beberapa pengusaha industri kelapa sawit yang dalam daftar tamu bertemu dengan Luhut untuk membahas hal ini di antaranya Martua Sitorus (Wilmar International), Bachtiar Karim (Musim Mas), dan Surya Darmadi (Duta Plasma). Luhut mengungkapkan, salah satu strategi lobi yang akan dilakukan dengan melakukan rangkaian perjalanan ke negara-negara Uni Eropa. Dalam rangkaian tersebut, Indonesia akan menjelaskan posisinya terkait permasalahan biodiesel.Di Eropa dalam hal lobi-lobi ini, Luhut juga bertemu dengan Pemimpin Gereja Katolik Se-Dunia Paus Fransiskus.

Diplomasi Sawit Kembali Dilanjutkan Menteri ESDM

Mnteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melanjutkan diplomasi sawit ke Uni Eropa melalui Vatikan, Italia dalam mensosialisasikan program Energi Baru dan Terbarukan (EBT) atau renewable energy yang sedang gencar digalakan pemerintah Indonesia. Usai courtesy call dengan Pemimpin Umat dan Gereja Katolik tertinggi di dunia, Paus Fransiskus bertemu sejumlah pimpinan perusahaan listrik dan minyak dan gas bumi (migas). Selanjutnya, Jonan tampil sebagai pembicara utama dalam forum Carita Politica, lembaga think tank internasional bidang lingkungan hidup yang dibentuk Vatikan. Seminar yang digelar di Ruang Pio XI, Piazza San Calisto, Vatikan itu, dipandu oleh Prof Alfredo Luciani, pendiri dan Presiden Carita Politica. Menurut Dubes Indonesia untuk Vatikan Antonius Agus Suryono, Jonan adalah orang pertama dari Indonesia yang tampil di Forum Carita Politica, lembaga yang berpengaruh atas kebijakan lingkungan di Eropa. Termasuk isu minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), batubara, perubahan iklim dan lainnya. Didampingi Dubes Sriyono dan Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna, Jonan tampil sebagai pembicara dengan topik: “Fueling the Nation by Sustainable Renewable Energy”.

Dalam paparannya, Jonan menjelaskan kebijakan dan komitmen pemerintah Indonesia untuk menerapkan green energy. Salah satunya, upaya Indonesia untuk menggenjot penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) serta berkelanjutan adalah dengan menerapkan teknologi energi B20. “Kami sudah mulai menerapkan penggunaan energi B20. Pertanyaannya ke depan, apakah Indonesia akan menggunakan energi B30 atau lebih di masa mendatang, untuk menekan polusi dan menghemat devisa valuta asing,” katanya. Jonan menjelaskan, Indonesia juga menggunakan CPO untuk memproduksi listrik. “Besok pagi (Kamis), saya akan pergi ke Napoli untuk melihat power plant (pembangkit listrik) yang 100 persen dijalankan dengan CPO,” jelasnya.Jonan menegaskan, komitmen pemerintah Indonesia untk meningkatkan penggunaan biodiesel, yang dikenal sebagai energi ramah lingkungan, yang diolah dari CPO. Sebagai informasi, pemerintah Indonesia sudah memulai penggunaan biodiesel sebagai campuran dalam solar sebanyak 5 persen (B5) dari tahun 2010.

Nah, sejak Januari 2016, penggunaan biodiesel sebagai campuran solar sudah mencapai 20 persen (B20). Untuk itu, pada September 2018, pemerintah membuat kebijakan untuk meningkatkan penggunaan B20 secara masif dan tidak terbatas pada Public Service Obligation (PSO) saja. “Penggunaan biodiesel ini selain untuk mengurangi bahan bakar diesel impor, juga guna menjaga defisit transaksi berjalan, menghemat biaya valuta asing, serta meningkatkan konsumsi biodiesel domestik,” urai Menteri Jonan. Pada kesempatan itu, Jonan juga menjelaskan tentang rencana pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan mobil listrik. “Pasar otomotif Indonesia sudah sekian lama didominasi oleh produk Jepang. Dan kami akan segera beralih menggunakan mobil listrik secepatnya. Ini juga penting untuk mengurangi polusi,” ujar Jonan. Usai menyampaikan presentasi, Jonan memutarkan video mengenai bagaimana upaya pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Presiden Jokowi, menerapkan kebijakan energi berkeadilan lewat program BBM satu harga, program elektrifikasi dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote. Para hadirin, terutama yang berasal dari Italia, tampak serius menonton video yang diputar Jonan.

“Lewat forum ini, kita minimal bisa membaca pandangan para pembicara dari Eropa tentang dasar moralitas terhadap kebijakan lingkungan. Apalagi tekanan terhadap CPO Indonesia juga datang dari pandangan-pandangan di Carta Politica dan mungkin berikutnya mengenai isu batubara,” kata mantan Menteri Perhubungan itu. Sementara, Ketua Umum Asosiasi Biofuel Indonesia (APROBI) MP Tumanggor, yang ikut dalam dalam delegasi kunjungan ini, mengaku senang dan puas dengan pemaparan Menteri Jonan. “Paparan Pak Menteri tadi sangat bagus. Ini namanya diplomasi sawit. Setelah mendengarkan paran Pak Menteri Jonan di Carita Politica yang cukup disegani dan berpengaruh di Uni Eropa, kami dari Jajaran Pengurus APROBI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, atas dukungan penuh Bapak Menteri terhadap Sawit Indonesia. Kiranya, melalui upaya Bapak Jonan ini, industri sawit Indonesia bertambah maju,” kata Tumanggor. Tumanggor mengatakan, dia sangat mengapresiasi paparan Menteri Jonan terhadap sawit Indonesia mengenai pengembangan biodiesel. Khususnya, rencana PT PLN (Persero) untuk menggunakan CPO.

“Dengan adanya kebijakan beliau, tentunya akan dapat menyerap CPO cukup besar. Beliau juga tadi memaparkan rencana menerapkan B30 pada 2020 mendatang. Kami sebenarnya menginginkan April 2019,” harap Tumanggor. Selain Jonan, pembicara lain yang tampil dalam diskusi itu antara lain Kepala Kantor Vatikan Kardinal Don Attilio Riva, Presiden BNL- BNP Paribas Group Prof Luigi Abete dan CEO Terna Dr Luigi Ferraris. Tampil sebagai pembicara terakhir, Menteri Luar Negeri Vatikan Kardinal Pietro Parolin. Sebagai penutup diskusi, Dubes Agus Sriyono mengucapkan terima kasih atas digelarnya forum dialog ini. “Indonesia adalah negara yang besar dengan multi-etnis, budaya dan agama. Kami sangat senang bisa berdialog dan bertukar pandangan dalam forum ini. Karena tanpa dialog, sulit buat kita untuk menyatukan pandangan dan persepsi yang berbeda atas beragam isu,” ujar Dubes Sriyono mengutip situs Rakyat-merdeka.co.id.

Tanggapan Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo meminta industri otomotif mendukung penerapan kebijakan yang mewajibkan campuran 20% bahan bakar nabati (biodiesel) dalam solar alias Program B20. Dia menilai kebijakan ini akan mampu mengerek harga minyak kelapa sawit (CPO) sebesar US$ 100 per ton menjadi sekitar US$ 700 per ton tahun ini Selain bisa memperbaiki harga sawit, Jokowi juga memperkirakan kebijakan mandatori biodiesel 20% dapat menghemat devisa hingga US$ 5,9 miliar per tahun. Penghematan penting dilakukan saat ini, di tengah defisit neraca pembayaran yang terus membesar dan nilai tukar rupiah yang sedang tertekan. Inilah yang menjadi beberapa alasan pemerintah akan lebih serius dan tegas dalam menjalankan Program B20 saat ini. “Sehingga kami konsentrasi menerapkan kebijakan ini,” kata Jokowi di hadapan para pengusaha otomotif beberapa waktu lalu. Jokowi meyakinkan pelaku usaha, bahwa jajaran kabinetnya akan memastikan program ini berjalan. Pemerintah pun memperluas cakupan kebijakan ini untuk semua mesin diesel.

Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Dengan produksi yang melimpah, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan komoditas tersebut di dalam negeri. Salah satunya sebagai pengganti bahan bakar minyak yang selama ini diimpor dari luar negeri. “Masa kita punya sawit, tapi tidak bisa menyelesaikan ini (defisit transaksi berjalan),” katanya. Dia memberi contoh negara lain seperti Brazil. Sejak 1970, negara ini telah berhasil memberlakukan kebijakan bioetanol dari tebu. Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kebijakan biodiesel akan membuat permintaan sawit meningkat, sehingga harganya pun naik. Saat ini harga sawit mencapai US$ 530 per ton. “Akhir tahun akan meningkat hampir dekati US$ 700 per ton,” ujarnya.

http://medan.tribunnews.com/2018/11/28/inilah-langkah-langkah-pemerintahan-jokowi-menyelamatkan-minyak-sawit-indonesia?page=all