+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Industri Sawit Eropa Dukung Indonesia Lawan Diskriminasi Uni Eropa:

  • Industri Sawit Eropa Dukung Indonesia Lawan Diskriminasi Uni Eropa: EPOA memandang CPO tak hanya dari sudut pandang bisnis, tapi juga sebagai salah satu masalah sosial. Diskriminasi terhadap produk minyak sawit Indonesia di pasar Uni Eropa (UE) sejatinya sudah berlangsung sejak lama. Meski begitu, Indonesia kini tidak lagi sendirian dan telah memperoleh dukungan dari Aliansi asosiasi industri minyak sawit Eropa atau European Palm Oil Alliance (EPOA) untuk melobi kampanye negatif terhadap minyak sawit Indonesia, terutama biodiesel di Uni Eropa. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan kelapa sawit membutuhkan kerja sama dengan pihak Eropa. Terutama dalam masalah keputusan parlemen Uni-Eropa untuk mengeluarkan minyak sawit dari biodiesel berkelanjutan tahun 2021. Diskriminasi semakin kental karena minyak nabati lainnya baru dilarang pada 2030. Terlebih, pada 28 Februari mendatang, Uni Eropa akan kembali melakukan pembahasan antara parlemen, organisasi, dan komisi. “Rencananya, EPOA dalam setahun ke depan akan melakukan lobi ke negara di Eropa,” ujar Paulus. (KATA DATA)

https://katadata.co.id/berita/2018/02/13/epoa-dampingi-indonesia-lawan-diskriminasi-minyak-sawit-di-uni-eropa

  • Pengusaha minyak sawit terus lakukan lobi: Pengusaha minyak sawit Indonesia yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) akan terus lakukan lobi terhadap pihak Eropa. Pertemuan tiga lembaga UE, Parlemen UE, Dewan UE, dan Komisi UE, untuk memutuskan kebijakan terkait penggunaan minyak sawit dalam biodiesel akan dilakukan. Pertemuan tersebut akan dimulai pada akhir Februari ini. “Pertemuan perumusan kebijakan UE akan dilakukan pada 28 Februari,” terang Ketua Harian Aprobi, Paulus Tjakrawan. Paulus bilang selama proses itu Indonesia akan melakukan lobi. Sebelum perumusan kebijakan pun lobi telah dilakukan. Lobi tidak hanya dilakukan oleh pihak pengusaha. Lobi terkait kebijakan minyak sawit ini juga dinilai Paulus telah dilakukan oleh pemerintah melalui menteri dan Presiden. (KONTAN)

http://industri.kontan.co.id/news/pengusaha-minyak-sawit-terus-lakukan-lobi

  • Ekspor Biofuel RI ke Eropa Ditarget 1,8 Juta Kiloliter: Ekspor biofuel ke Eropa pada tahun ini ditargetkan mencapai 1,8 juta kiloliter atau sama dengan 2014 saat Indonesia belum dikenakan pengenaan bea masuk anti-dumping oleh Uni Eropa. Adapun pada bulan lalu Indonesia memenangkan gugatan terhadap Uni Eropa di Badan Penyelesaian Sengketa WTO terkait kebijakan anti-dumping tersebut. “Dengan menangnya Indonesia di WTO, harapan kami ekspor tahun ini ya setidaknya sama dengan 2014, yakni 1,8 juta kiloliter,” ujar Sekjen Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan usai pertemuan dengan European Palm Oil Alliance (EPOA) di Hotel Pullman, Selasa (13/2/2018). (CNBC INDONESIA)

https://www.cnbcindonesia.com/news/20180213184611-4-4301/ekspor-biofuel-ri-ke-eropa-ditarget-18-juta-kiloliter

  • European alliance to help palm oil producers counter attacks: Biofuel Producers Association (Aprobi) chairman Paulus Tjakrawan said the campaign and lobbies had to start quickly as the European Parliament had added to pressure on palm oil by passing a new regulation restricting the import of vegetable oil-based biodiesel in 2021. In order to fully implement the rule, the parliament has to seek approval from the European Council and European Commission. “The trilateral meeting will start on Feb. 28 and last for around two or three months. The government will lobby the European Commission and Council while we, the private sector, along with EPOA will lobby private European stakeholders,” he said. (THE JAKARTA POST)
  • ‘Subsidi’ Buat Konglomerat Sawit Sempat Naik 2.000 Persen: Selama 2015—2017, dana yang juga dikenal dengan nama ‘CPO Fund’ itu lebih banyak dipakai untuk pembayaran selisih harga biodiesel, dibandingkan dengan penggunaan lainnya macam riset atau dana peremajaan sawit. Data yang diperoleh CNNIndonesia.com menyatakan pembayaran selisih harga biodiesel pada 2015 mencapai 467,21 miliar kemudian melonjak menjadi Rp10,68 triliun pada 2016. Lonjakan ‘subsidi’ pada periode itu mencapai sekitar 2.000 persen. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi) MP Tumanggor menuturkan hal serupa, bahwa kenaikan itu hanya terkait dengan selisih harga. Apalagi, kata dia, pada 2015 lalu harga minyak internasional sempat jatuh sehingga subsidi yang diberikan badan pengelola CPO Fund tersebut relatif besar. Dimintai tanggapannya soal prioritas alokasi untuk biodiesel, Tumanggor mengungkapkan tujuan utama adalah bagaimana harga CPO tak jatuh. Di sisi lain, dia menuturkan, alokasi untuk replanting bisa saja naik karena selisih harga CPO dan minyak mentah tak demikian besar. “Ke depan bisa saja 20 persen (dana BPDPKS) untuk replanting karena selisih harga CPO dan crude oil tidak beda jauh sehingga sehingga pembayaran selisih harga menjadi kecil,” katanya. (CNN INDONESIA)

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180205111211-92-273830/subsidi-buat-konglomerat-sawit-sempat-naik-2000-persen

  • EPOA Bantu Indonesia Melawan Diskriminasi Sawit Uni Eropa: Indonesia tidak sendiri melawan resolusi minyak sawit oleh Parlemen Uni Eropa lantaran mendapatkan dukungan dari Aliansi asosiasi industri Eropa yang tergabung dalam EPOA (European Palm Oil Alliance). “Kami adalah kawan Anda di Eropa. Kawan yang sesungguhnya adalah kawan yang saling membutuhkan,” kata Ketua EPOA Frans Claassen dalam pertemuan dengan para pemangku kepentingan sektor kelapa sawit Indonesia di Jakarta, Selasa (13 Februari 2018). Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Ketua Komisi ISPO Aziz Hidayat, Ketua Aprobi (Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia) Paulus Tjakrawan, Direktur Eksekutif GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Danang Girindrawardana, Bendahara GAPKI Kanya Lakshmi Sidarta, Juru Bicara GAPKI Tofan Mahdi, dan Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia). (SAWIT INDONESIA)

https://sawitindonesia.com/rubrikasi-majalah/berita-terbaru/epoa-bantu-indonesia-melawan-diskriminasi-sawit-uni-eropa/

  • Industri minyak sawit Eropa siap bela minyak sawit Indonesia: Aliansi asosiasi industri minyak sawit Eropa yang tergabung dalam European Palm Oil Alliance (EPOA) siap membela minyak sawit Indonesia. Dukungan tersebut dilakukan dengan memberikan pandangan yang objektif bagi minyak sawit Indonesia di Eropa. Selama ini minyak sawit selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil di Uni Eropa. (KONTAN)

http://industri.kontan.co.id/news/industri-minyak-sawit-eropa-siap-bela-minyak-sawit-indonesia

  • Italia dukung sawit Indonesia di Uni Eropa: Italia mendukung Indonesia dalam penggunaan minyak kelapa sawit sebagai salah satu biofuel di pasar kawasan Uni Eropa, kata Duta Besar RI untuk Italia Esti Andayani. “Dari awal Italia itu pendukung kita, dimanapun, mau di WTO atau di Uni Eropa dan di Parlemen Eropa. Untuk isu kelapa sawit itu Italia mendukung kita,” ujar Dubes Esti Andayani di Jakarta, Selasa. Menurut Esti, pemerintah Italia mendukung penggunaan minyak kelapa sawit di kawasan Uni Eropa karena negara tersebut membutuhkan minyak sawit untuk bahan produk-produknya, mulai dari produk makanan hingga kecantikan. (ANTARA)

https://www.antaranews.com/berita/685475/italia-dukung-sawit-indonesia-di-uni-eropa

  • ‘KAI dan TNI Minta Evaluasi Bauran Biodiesel 20 Persen’: Dewan Energi Nasional (DEN) menyebut sejumlah pihak meminta evaluasi penggunaan kandungan bauran biodiesel 20 persen pada bahan bakar karena berpengaruh pada kinerja mesin. Sejumlah pihak yang mengeluhkan bauran 20 persen biodiesel (B-20) itu di antaranya adalah PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Khusus TNI, hal itu terkait dengan penggunaan alat utama sistem pertahanan (alutsista). Anggota DEN Syamsir Abduh mengatakan pemerintah akan meningkatkan total penggunaan energi bauran mencapai 23 persen dalam bahan bakar minyak (BBM) pada 2025 dan 31 persen pada 2050. Salah satu energi terbarukan itu adalah biodiesel di sektor transportasi dan industri, yang kini kandungan baurannya mencapai 20 persen. (CNN INDONESIA)

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180210002406-85-275216/kai-dan-tni-minta-evaluasi-bauran-biodiesel-20-persen

  • Dengan Sawit Berkelanjutan, Diharapkan Industri Lebih Baik: Industri perkebunan kelapa sawit nasional semenjak 2015 lalu sudah cukup sulit. Tidak sedikit pula perkebunan kelapa sawit dijual atau ditawarkan untuk diakuisisi. Ini terjadi karena pelaku perkebunan tidak sanggup lagi mengelola perkebunan menyusul harga minyak sawit mentah (CPO) yang tak kunjung membaik. Bagi beberapa pekebun kelas menengah, kondisi untuk tetap bertahan sudah menjadi cukup baik. Sementara untuk petani, kondisinya justru tidak jauh begitu baik. Sama halnya dengan pelaku perkebunan, petani juga mengalami penurunan produksi dan melemahnya harga tandan buah segar (TBS). Sebab itu wajar jika banyak pihak berharap kondisi bakal lebih kedepannya. Selain itu, ada optimisme dengan upaya penyerapan CPO melalui program campuran biodiesel 20% dengan solar fosil (B20) yang dilakukan oleh pemerintah melalui Pertamina. Kendati belum yakin betul, niat pemerintah dalam menggenjot serapan biodiesel sawit bakal menjadi solusi terbaik dalam upaya memecah melempemnya harga CPO dunia. (INFOSAWIT)

https://www.infosawit.com/news/7727/dengan-sawit-berkelanjutan–diharapkan-industri-lebih-baik

  • Menanti Kenaikan Saham Sektor Kebun (Harga saham sektor perkebunan masih punya potensi naik, meski terbatas): Saham sektor perkebunan tahun lalu menjadi sektor pemberat IHSG. Tahun ini, sejak awal tahun, indeks saham sektor perkebunan mulai naik dan mencetak pertumbuhan tipis 0,93%. Permintaan yang masih tinggi dari China, India dan dalam negeri, terutama untuk biofuel, akan menopang sektor ini. Biofuel seperti biodiesel akan cukup diminati, seiring dengan kenaikan yang terjadi pada harga minyak mentah dunia. Apalagi, adanya CPO fund yang diusung oleh pemerintah juga membuat penyerapan biofuel seharusnya cukup baik. (KONTAN)
  • Pungutan Sawit Ditargetkan Capai Rp 11 Triliun (PEMBIAYAAN RISET TIDAK DIBATASI): Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP Sawit) memproyeksikan hasil pungutan atas ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya mencapai Rp 11 triliun hingga akhir 2018. Dana tersebut akan disalurkan untuk sejumlah program, di antaranya peremajaan kebun sawit petani seluas 185 ribu hektare (ha) dan menanggung selisih yang harus dibayar pemerintah atas penggunaan biodiesel dengan estimasi 3,50 juta kiloliter (kl). (INVESTOR DAILY INDONESIA)
  • Target Pungutan Dana Sawit Rp 11 Triliun: Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) menargetkan dana pungutan ekspor minyak sawit meningkat 10% pada tahun ini. Jika pada tahun lalu target pengumpulan dana sawit sebesar Rp 10 triliun, dinaikkan menjadi Rp 11 triliun. Target tersebut didasarkan pada potensi ekspor tahun ini yang semakin besar. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Danang Girindrawardana berharap ekspor sawit tahun ini lebih tinggi seiring dengan adanya dukungan dari Aliansi asosiasi industri minyak sawit Eropa (EPOA). Dukungan ini menurutnya akan membantu mengatasi kampanye negatif terkait minyak sawit di Uni Eropa (VE). “Kita mendapat teman untuk membantu penyampaian informasi mengenai sawit di UE,” ujar Danang. Dukungan ini diharapkan mendorong kenaikan ekspor CPO ke Uni Eropa pada tahun ini. Apalagi Indonesia telah memenangkan sengketa dumping biodiesel dengan Eropa. (KONTAN)