+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi:

Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi: Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors’ Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait kerangka keberlanjutan produksi minyak sawit dan perdagangan Indonesia-India. Dalam penandatanganan yang diselenggarakan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta,sebagaimana disalin dari Antara,tersebut juga membahas sinergi “Indonesian Sustainable Palm Oil System” (ISPO) dan “The Indian Palm Oil Sustainability (IPOS)”. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap kerja sama tersebut dapat memperkuat hubungan Indonesia dan India di bidang pertumbuhan minyak nabati dan produk turunannya.Ia mengatakan bahwa Indonesia dan India mempunyai hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dengan total perdagangan kedua negara mencapai 18,1 miliar dolar AS pada 2017. Ekspor produk minyak sawit Indonesia ke India mencapai 4,9 miliar dolar AS atau sekitar 34,8 persen total ekspor Indonesia ke India.”Data tersebut menunjukkan pentingnya minyak sawit bagi kedua negara. Saya yakin kolaborasi ini bisa mengedepankan diskusi tentang pertumbuhan kelapa sawit yang berkelanjutan seperti yang telah dibahas pemimpin kedua negara,” ujar Darmin. India merupakan salah satu pengguna terbesar kelapa sawit Indonesia di samping China. Oleh karena itu, Darmin menilai komunikasi kedua pihak perlu dibangun tidak hanya antarpemerintah tetapi juga antar-asosiasi. Komunikasi tersebut terutama bertujuan menanggalkan kesan bahwa kualitas kelapa sawit Indonesia rendah karena harganya yang murah.”Ekspor kelapa sawit ke India itu belum di semua lapisan dipakainya, karena harganya memang lebih murah sehingga masih ada kesan bahwa dari segi kualitas mutu kalah dengan minyak yang lain, padahal tidak,” ujar Darmin. Ia menjelaskan harga kelapa sawit Indonesia lebih murah karena memiliki produktivitas yang lebih tinggi tiga hingga empat kali dibandingkan di negara-negara lain.”Kami ingin kerja sama dengan asosiasinya agar ada program menyosialisasikan bahwa harga lebih murah itu bukan karena kualitas lebih rendah, tetapi karena memang produktivitasnya lebih tinggi,” ujar Darmin. Indonesia saat ini merupakan salah satu produsen besar kelapa sawit dunia dengan produksi sekitar 40 juta ton dan luas area mencapai 14,3 juta hektare.Kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, baik dalam bentuk minyak goreng dan produk hilir lainnya, maupun dalam bentuk bioenergi. Dalam kesempatan yang sama, Presiden SEA India Atul Chaturverdi mengatakan Nota Kesepahaman tersebut akan membuka jalan bagi keberlanjutan sektor perdagangan minyak sawit yang berkelanjutan dalam jangka panjang di Asia. “Saya yakin bahwa sinergi antara ISPO dan IPOS secara bersama-sama akan melindungi daya saing industri kelapa sawit, meningkatkan kesiapan menghadapi permintaan pasar di masa depan, dan memenuhi komitmen nasional terhadap produksi dan perdagangan kelapa sawit yang berkelanjutan,” ujar Atul. Delegasi India juga akan berkunjung ke Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, untuk bertemu dengan pemerintah daerah setempat dan mengunjungi lokasi pemberdayaan petani kelapa sawit mandiri Solidaridad dan Keling Kumang Group. Sebelumnya Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan mendukung arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan agar ke depannya dapat ditingkatkan peningkatan biodiesel dalam rangka mengatasi tekanan ekonomi global. (NERACA)

http://www.neraca.co.id/article/103557/industri-sawit-ri-india-jalin-kerjasama-produksi

Pemanfaatan Alga Sebagai Sumber Biofuel Masih Hadapi Tantangan Besar: Di tengah berbagai isu negatif terkait pemanfaatan sawit khususnya sebagai bahan biofuel, ada solusi energi terbarukan lain yang telah lama digaungkan yakni pemanfaatan alga. Akademisi Bidang Kelautan Institut Pertanian Bogor Alan Koropitan menyebutkan luasnya wilayah perairan di Indonesia di tambah matahari yang bersinar sepanjang tahun membuat Indonesia memiliki potensi besar untuk melakukan pembudidayaan alga untuk diambil minyaknya. Menurut Alan, saat ini ada dua jenis alga yang terdapat hampir di seluruh wilayah laut Indonesia yang memang berpotensi untuk menjadi sumber biofuel. “Secara teori potensinya besar. Ada matahari sepanjang tahun, kita tidak ada musim dingin kan. Jadi, sepanjang tahun kita kaya dengan matahari dan laut kita yang luas, secara teritori, secara geografis mendukung,” katanya kepada Bisnis. Namun, hingga saat ini, belum ada pihak yang benar-benar serius melakukan pembudidayaan alga secara besar. Di samping budidaya, hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam wacana pemanfaatan alga sebagai sumber biofuel adalah proses ekstraksi minyak yang tidak gampang. Hal yang menjadi tantangan menurut Alan adalah ukuran alga yang sangat kecil sehingga untuk memisahkan minyak dari cangkangnya membutuhkan usaha yang tidak gampang. Belum lagi, dengan ukurannya yang sangat kecil, saat ini belum ditemukan teknik untuk bisa melakukan pengekstakan secara masif. “Kalau memperbanyak alga kita sangat potensial, tidak ada masalah tapi challenge memisahkan alga yang ada cangkangnya itu, di mana di balik itu ada minyaknya karena ini kan sangat kecil, mikro. Jadi, kalau mengekstrak secara kasar ya hilang, minyaknya kan kebawa dengan ampas. Gimana minyaknya bisa diambil, diekstrak dan efektif, tekniknya masih challenge,” paparnya. Menurutnya, kalaupun saat ini sudah ada teknik pengekstrakan minyak dari alga, hal tersebut masih dalam skala laboratorium dan belum bisa diimplementasikan untuk skala besar. Dalam diskusinya dengan seorang dosen asal Indonesia yang ada di California Polytechnic State University, Alan mengaku mendapat informasi bahwa pengesktrakan minyak dari alga membutuhkan kerja sama dengan pihak dari bidang elektro untuk bisa memberi efek kejut dengan tujuan akhir melakukan pemisahan minyak dari alga. (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180718/99/817988/pemanfaatan-alga-sebagai-sumber-biofuel-masih-hadapi-tantangan-besar

Bahan bakar fosil habis dalam 12 tahun, Indonesia siap produksi mobil biofuel: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan pada 2035 mobil dengan bahan bakar energi terbarukan dan ramah lingkungan alias biofuel diproduksi di Indonesia. Namun untuk mencapai hal tersebut, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilewati yaitu mobil hybrid, plug in hybrid dan mobil listrik. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan, bukan hanya Indonesia tetapi juga negara lain telah mengarahkan penggunaan energi terbarukan untuk kendaraan. Hal ini mengingat cadangan energi fosil terus mengalami penurunan. “Dalam roadmap ini, banyak hal dikembangkan tapi yang menjadi concern yaitu energy security, penghematan atas energi fosil. Karena di Indonesia itu 12 tahun lagi diperkirakan akan habis,” ujar dia dalam FGD Senjakala Industri Komponen Otomotif dalam Menghadapi Era Mobil Listrik di Indonesia, Jakarta. Menurut dia, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah sebagai bahan bakar kendaraan, seperti CPO dan etanol dari tebu. Bahkan, sumber energi ini bisa tersedia hingga kiamat. “Tetapi kita punya sumber yang sustainable, yang sampai kiamat masih ada, yaitu biofuel. Yang terkait dengan karbon untuk energi ini berlimpah, yaitu dari CPO jadi biodiesel, kita juga punya biomass yang jadi etanol. Kita punya potensi untuk biofuel generasi kedua. Kalau yang pertama sangat bersentuhan dengan makanan seperti CPO. Di generasi kedua akan banyak menggunakan untuk industri. Seperti etanol dari tebu. Yang jadi tebu cuma 4 persen, yang disebut bagasse itu 30 persen,” jelas dia. Oleh sebab itu, lanjut dia, dalam roadmap industri otomotif, Kemenperin menargetkan pada 2035 Indonesia mampu memproduksi kendaraan yang sepenuhnya mengonsumsi biofuel, tanpa campuran bahan bakar fosil. “Kalau lihat kelapa sawit diolah jadi CPO itu banyak sisanya. Intinya kita sangat berpotensi menjadi negara besar kalau mengolah itu semua. Kita kan menjadi industri oto yang berlanjutan dengan biofuel. Tapi pada 2030 fuel cell (biofuel) baru 1 persen (dari jumlah mobil yang beredar) BEV (Battery Electic Vehicle) 8 persen, di dunia baru sekitar 9 persen. Yang banyak itu masih hybrid dan plugin hybrid,” tandas dia. (MERDEKA)

https://www.merdeka.com/uang/bahan-bakar-fosil-habis-dalam-12-tahun-indonesia-siap-produksi-mobil-biofuel.html

Kemenperin Targetkan Mobil Berbahan Bakar Biofuel Diproduksi 2035: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan mobil energi terbarukan dan ramah lingkungan bisa diproduksi di Indonesia pada 2035. Namun untuk mencapai hal tersebut, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilewati yaitu mobil hybrid, plug in hybrid dan mobil listrik. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan, bukan hanya pemerintah Indonesia tetapi negara lain telah mengarahkan penggunaan energi terbarukan untuk kendaraan. Hal ini mengingat cadangan energi fosil terus mengalami penurunan.‎ “Dalam roadmap ini, banyak hal dikembangkan tapi yang menjadi concern yaitu energy security, penghematan atas energi fosil. Karena di Indonesia itu 12 tahun lagi diperkirakan akan habis,” ujar dia dalam FGD Senjakala Industri Komponen Otomotif dalam Menghadapi Era Mobil Listrik di Indonesia, Jakarta. Menurut dia, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah sebagai bahan bakar kendaraan, seperti CPO dan etanol dari tebu. Bahkan, sumber energi ini bisa tersedia hingga kiamat. ‎”Tetapi kita punya sumber yang sustainable, yang sampai kiamat masih ada, yaitu biofuel. Yang terkait dengan karbon untuk energi ini berlimpah, yaitu dari CPO jadi biodiesel, kita juga punya biomass yang jadi etanol. Kita punya potensi untuk biofuel generasi kedua. Kalau yang pertama sangat bersentuhan dengan makanan seperti CPO. Di generasi kedua akan banyak menggunakan untuk industri. Seperti etanol dari tebu. Yang jadi tebu cuma 4 persen, yang disebut bagasse itu 30 persen,” jelas dia. Oleh sebab itu, lanjut dia, dalam roadmap industri otomotif, Kemenperin menargetkan pada 2035 Indonesia mampu memproduksi kendaraan yang sepenuhnya mengkonsumsi biofuel, tanpa campuran bahan bakar fosil. ‎”Kalau lihat kelapa sawit diolah jadi CPO itu banyak sisanya. Intinya kita sangat berpotensi menjadi negara besar kalau mengolah itu semua. Kita kan menjadi industri oto yang berlanjutan dengan biofuel. Tapi pada 2030 fuel cell (biofuel) baru 1 persen (dari jumah mobil yang beredar) BEV (Battery Electic Vehicle) 8 persen, di dunia baru sekitar 9 persen. Yang banyak itu masih hybrid dan plugin hybrid,” tandas dia. (LIPUTAN6)

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3593116/kemenperin-targetkan-mobil-berbahan-bakar-biofuel-diproduksi-2035

Program Biodiesel 30 Persen Dimulai 2019, Industri Otomotif Harus Siap: Sebagai salah satu upaya untuk memperkuat nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar penggunaan biodiesel kelapa sawit untuk campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) ditingkatkan. Program mandatori biodiesel 20 persen (B20) yang sekarang sudah dijalankan segera ditingkatkan menjadi mandatori biodiesel 30 persen (B30. Program B30 sebenarnya direncanakan baru akan dijalankan pada 2020. Tapi berdasarkan arahan Jokowi, program B30 bakal dipercepat ke 2019. “Keinginan Presiden untuk mengkaji pemanfaatan B30 telah langsung direspons kita semua (kementerian terkait yang dikoordinir Menko Perekonomian Darmin Nasution). Terakhir rapat di Komite Pengarah BPDP Kelapa Sawit, Pak Menperin (Airlangga Hartarto) menyampaikan paparan dan perlunya segera dilakukan langkah-langkah strategis untuk percepatan pemanfaatan B30,” kata Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana. Industri otomotif di dalam negeri pun harus mempersiapkan diri. Kendaraan bermotor yang diproduksi pada 2019 harus bisa menggunakan biodiesel hingga 30 persen. Mesin-mesin kendaraan perlu disesuaikan agar performanya tak terganggu. Rida menambahkan, program B30 akan melalui tahap uji coba dulu seperti halnya B20. “Hal ini termasuk meningkatkan kesiapan industri kendaraannya. Ujungnya, tentu kita akan melaksanakan road test sebagaimana pernah kita lakukan pada saat memulai B20,” ucapnya. (KUMPARAN)

https://kumparan.com/@kumparanbisnis/program-biodiesel-30-persen-dimulai-2019-industri-otomotif-harus-siap-27431110790548132

Pemerintah perluas aturan kewajiban penggunaan biodiesel: Pemerintah berencana merevisi aturan 20 persen biodiesel atau bahan bakar nabati, untuk digunakan oleh sektor non-subsidi (Public Service Obligation /PSO). Saat ini pemerintah memiliki aturan pencampuran solar dan minyak kelapa sawit dengan komposisi 80:20 atau yang dikenal dengan B20. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan aturan penggunaan biodiesel akan ditingkatkan hingga 30 persen (B30) guna mengurangi ketergantungan impor akibat tingginya pemakaian bahan bakar minyak (BBM). “Biodiesel B20 akan lebih banyak digunakan, malah jika memungkinkan akan ditingkatkan ke B30 ini akan meningkatkan pemakaian kelapa sawit dan mengurangi impor solar,” ujar Luhut seperti dikutip dalam keterangan resmi. “Selain akan mengurangi pemakaian solar, ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani sehingga harga sawit bisa meningkat sesuai harapan kita di 750-800 dolar AS/ton.” Menurut Luhut, pemerintah tengah mencari akal agar defisit neraca perdagangan menjadi surplus. Salah satunya dengan menekan impor minyak. Ia mengatakan, perang dagang yang saat ini ramai dibicarakan bisa menjadi peluang untuk Indonesia. Menyempitnya pasar internasional untuk minyak kelapa sawit (palm oil) misalnya, bisa disiasati dengan memperbesar pasar domestik dan mendorong pemakaian kelapa sawit bagi industri dalam negeri. “Perang dagang ini sebenarnya peluang untuk kita. Bisa menguntungkan buat kita karena kita bisa menghemat dengan membangun industri dalam negeri menjadi lebih baik,” katanya. (BERITAGAR)

https://beritagar.id/artikel/berita/pemerintah-perluas-aturan-kewajiban-penggunaan-biodiesel