+62 2129380882 office@aprobi.co.id

INSA Dukung Implementasi Kebijakan B20 untuk Kapal Laut

Harian Ekonomi Neraca | Kamis, 15 November 2018

INSA Dukung Implementasi Kebijakan B20 untuk Kapal Laut

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA)JohnsonW.Sutjipto mendukung penuh pemerintah yang mewaijbkan semua kapal menggunakan bahan bakar solaryang. dicampur Biodiesel 20% atau yang dikenal dengan istilah BBM B20.Kami mendukung penuh pemerintah menerapkan aturan penggunaan BBM B20 untuk kapal laut. Menurutnya ketentuan penggunaan BBM B20 sudah merupakan keputusan pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Presiden (Per-pres)Nomor66Tahun2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit “Keputusan pemerintah tersebut tentunya telah mempertimbangkan berbagai aspek yang muaranya demi kepentingan bangsa dan negara,” kata Johnson di Jakarta, Rabu (14/11). Penggunaan bahan bakar B20 memiliki sisi positif. Misalnya, impor BBM dapat dikurangi dan secara tak langsung akan memperkuat daya tahan RI dan krisis pelemahan rupiah akan bisa diatasi karena ada penghematan devi-sa.Program B20 ini diperkirakan dapat menghemat devisa sekitar USS 3,4 miliar atau sekitar Rp 50 triliun per tahun.”Jadi penggunaan B20 untuk kapal laut merupakan program pemerintah yang baik dan perlu didukung. Dengan mengonsumsi B20, maka ketergantungan pada BBM fosil akan berkurang,” kata Johnson.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya menuturkan bahwa kewajiban B20 sudah diberlakukan kepada PT Pelni dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).Sementara, untuk angkutan darat Ke-menhub sudah menggelar uji coba penggunaan B20 pada tiga jenis angkutan yakni bus, truk, dan kapal ferry. Hasilnya, B20 lulusuji emisi kendaraan dan aman bagi kendaraan. Sebagaimana diketahui, mulai 1 September 2018, pemerintah mewajibkan pencampuran bio-fuel pada seluruh jenis solar sebesar 20 persen (B-20).Mekanisme pencampuran B20 melibatkan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM) yang menyediakan solar dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) yang memasok FAME (fatty acid methyl esters) bersumber dari CPO (crude palm oil).Apabila BU BBM tidak melakukan pencampuran dan BU BBN tidak dapat memberikan pasokan FAME ke BU BBM akan dikenakan denda Rp6.000 per liter.

Direktur Jenderal E-nergi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan kewajiban penggunaan Biodiesel (B20) telah menekan impor solar hingga 4.000 kiloliter (kl) per hari. “Impor harian turun 4.000 kiloliter dibandingkan Januari-Agustus,” kata Rida. Rida mengatakan realisasi penurunan impor solar tersebut tercatat sejak 1 Agustus hingga 7 November 2018 ketika implementasi penggunaan B20 ini juga diwajibkan untuk non-PSO (public service obligation) atau pihak swasta. Ia memastikan pemerintah terus memantau implementasi B20 yang saat ini sudah mulai digencarkan ke berbagai sektor industri maupun transportasi.Hingga sekarang, penggunaan Biodiesel untuk PSO sudah mencapai 80 persen, namun implementasi untuk non-PSO belum tercatat secara resmi. Sebelumnya, pemerintah terus menggencarkan penggunaan energi Biodiesel yang berasal dari minyak sawit untuk menekan impor bahan bakar minyak, terutama solar. Selama ini, impor bahan bakar minyak telah menjadi salah satu penyumbang utama terjadinya defisit neraca transaksi berjalan. Pemerintah ingin menekan defisit neraca transaksi berjalan karena bisa menjadi salah satu kunci untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah dari tekanan global. Kesiapan teknologi pe-manfataan Biodiesel untuk mesin berbasis industri maritim terus dikebut. Salah satunya dengan pemanfaatan minyak nabati untuk biodiesel. Payung hukum pe-manfataan Biodiesel B20 sendiri sudah diteken pada Agustus lalu. B20 meru-pakanbahanbakaryangdi- buat dengan memanfaatkan sumber dari minyak nabati, yang merupakan bahan bakar yang renewable. Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siska!) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, memahami kebutuhan energi baru tersebut

Rakyat Merdeka | Kamis, 15 November 2018

Pengusaha Kapal Dukung B20

Pengusaha kapal nasional mendukung penuh program pemerintah yang mewajibkan semua kapal laut menggunakan bahan bakar solar campuran Biodiesel 20 persen (B20). Penggunaan B20 dinilai lebih hemat dan bisa membantu pemerintah mengurangi defisit neraca perdagangan. HAL itu dikatakan Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Johnson W Sutjipto saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, kemarin. “Semua anggota kami (INSA) mendukung program pemerintah ini,” ujarnya. Menurut dia, penggunaan B20 mempunyai banyak kelebihan. Misalnya, impor BBM dapat dikurangi dan secara tak langsung memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia karena bisa menekan defisit neraca perdagangan. Berdasarkan hitungan pemerintah, program ini bisa menghemat devisa 5,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 81 triliun dengan kurs Rp 14.795. “Jadi penggunaan B20 untuk kapal laut merupakan program pemerintah yang baik dan perlu didukung. Dengan mengkonsumsi B20, maka ketergantungan pada BBM fosil akan berkurang,” kata Johnson.

Menurut dia, proses pencampuran solar dengan Biodiesel bukan hal baru bagi industri kapal. Saat ini sudah ada anggotanya yang menggunakan B20. B50, dan B70. Untuk yang B?0 sudah banyak. “Jadi tidak benar jika dibilang menggunakan B20 akan merusak kapal. Yang ada malah bikin hemat biaya,” jelasnya. Johnson menjelaskan, untuk tahap awal, penggunaan B20 memang harus membersihkan filter bensin. Pasalnya, penggunaan solar menimbulkan residu. Dengan menggunakan B20, residu di tanki hilang dan masuk ke filter. “Tinggal dibersihkan saja. Habis itu jalan normal lagi,” katanya. Bentuk dukungan INSA terhadap program B20, kata dia, dengan melakukan sosialisasi kepada anggotanya dan produsen mesin kapal mengenai kebijakan pemerintah. Tujuannya, agar mereka bisa membuat mesin yang sesuai dengan kebutuhan. Saat ini, sudah dua produsen mesin yang membalas surat. Yaitu, Trakindo.Utama yang meripakan-Age*Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Cartepillar dan Niigata Power System. “Kami meminta anggota untuk memperhatikan semua rekomendasi engine maker dan memperbaharui Standard Maintenance Procedure (SMP) agar sesuai dengan B20,” paparnya. Dia juga mengapresiasi pemerintah yang telah memangkas proses distribusi bahan baku Biodiesel Fatty Acid Methyl Ester (Fame) dengan mengurangi titik penyaluran dari 86 Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) menjadi 11 per 1 Januari 2019. Pemangkasan jalur distribusi ini, akan meningkatkan efisiensi biaya maupun waktu kapal dalam mengangkut Fame dari pabrik kelapa sawit ke titik pelabuhan tujuan.

Ditanya soal surat penolakan penggunaan B20 yang dikirim INSA versi Carmelita .”Meme” Hartoto ke pemerintah, Johnson bilang, mereka bukan INSA. “INSA cuma satu, kami. Cek saja di Kementerian Hukum dan HAM yang menggunakan nama INSA cuma kami. Jadi mereka tidak mewakili para pengusaha kapal,” tegas Johnson. Menurut dia, surat yang dipakai mereka juga tidak memiliki dasar kuat. “Alasan mereka menolak dengan membandingkan kapal laut dengan kapal perang tidak masuk akal. Kapal anggota saja tidak ada yang bermasalah menggunakan campuran biodiesel,” cetusnya. Menko Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, pemerintah tidak akan membedakan sektor yang diwajibkan menggunakan B20. Kapal laut milik TNI dan truk besar pengangkut barang bahkan telah menggunakan B20sebagai bahan bakar. “Bilang saja kalau tidak mau menggunakan, supaya kitauji,” cetus Darmin.

Bisnis Indonesia | Kamis, 15 November 2018

Produsen Biodiesel Minta Kepastian Pasar Domestik

Produsen bahan bakar nabati menanti rencana strategis pemerintah dalam pemanfaatan Biodiesel dari minyak kelapa sawit mentah untuk memastikan pengembangan investasi energi ramah lingkungan tersebut. Produsen Biodiesel meminta ada kepastian pasar bahan bakar nabati dari sawit di dalam negeri yang diciptakan oleh pemerintah. Ketua Umum Asosiasi Produsen Bioefuel Indonesia (APROBI) M.P. Tumanggor mengatakan bahwa perlu ada kesepakatan dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Menurutnya, dalam 5 tahun ke depan, kapasitas produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) nasional dapat menyentuh 60 juta ton per tahun sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati. Saat ini, Produksi Minyak Kelapa Sawit sebanyak 42 juta ton per tahun. Pasar domestik baru menyerap 14 juta ton, sedangkan sisanya untuk ekspor. “Kami memang perlu ada kesepakatan untuk energi ke depan, misalnya tentang langkah pemerintah menghadirkan pembangkit listrik dengan bahan bakar CPO, dari situ impor Solar juga dapat terpangkas,” tuturnya, Rabu (14/11). Kapasitas pabrik Biodiesel di Tanah Air saat ini sebanyak 10 juta ton. Pemanfaatan CPO sebagai Biodiesel pun mulai meningkat seiring dengan kebijakan perluasan mandatory Biodiesel 20% ke dalam Solar mulai 1 September 2018. Perluasan itu mencakup seluruh sektor baik subsidi maupun nonsubsidi. Melalui perluasan B20 tersebut, penyerapan Biodiesel di dalam negeri pada tahun ini dapat mencapai 5 juta ton. Aprobi memproyeksikan penyerapan Biodiesel dari CPO atau fatty acid methyl ether (FAME) sebanyak 6,2 juta kiloliter (kl). Tumanggor berharap dengan adanya peta jalan menuju B30 pada 2020, utilitas pabrik Biodiesel akan meningkat. B30 artinya bahwa dalam 1 liter Biosolar mengandung 30% FAME dan 70% Solar. Pasalnya, dengan kalkulasi penggunaan FAME sebanyak 5 juta kl per tahun untuk B20, dan ditambah dengan potensi B30 sebanyak 9 juta kl. Tumanggor menjelaskan, saat menyambangi fasilitas pembangkit listrik di lulia bersama dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan, pemerintah tertarik untuk menghadirkan pembangkit listrik dengan bahan bakar CPO.

Harian Kontan | Kamis, 15 November 2018

Distribusi BBM B20 Sudah Mulai Lancar

Meski masih mengalami kendala, penyaluran Biodiesel dalam bentuk Fatty Acid Methyl Esters (FAME) diprediksi mencapai 4 juta ton tahun ini. Ini nampak dari rata-rata volume penyaluran yang mencapai sekitar 400.000 ton -480.000 ton per bulan sejak penerapan program Biodiesel 20% (B20) pada 1 September 2018. Ketua Umum Asosiasi Produsen Bio-fuel Indonesia (APROBI) Master Parulian Tumanggor mengatakan, dengan penyerapan sebesar itu, target produksi Biodiesel sebesar 5 juta ton pada tahun 2018 ini bakal tercapai. Dari total produksi Biodiesel tersebut, sebanyak 4 juta ton untuk konsumsi domestik dan 1 juta ton untuk kebutuhan ekspor. “Sejauh ini penyaluran Biodiesel ke Perta-mian lancar,”ujarnya, Rabu (14/11). Tumanggor yang juga Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia menuturkan, untuk memperlancar penyaluran FAME, pihaknya mendukung upaya pemerintah untuk memperkecil titik penyerahan nya. Dari sebelumnya mencapai 112 titik, kini diperkecil menjadi 11 titik hingga 25 titik saja. “Hal ini juga untuk memaksimalkan keterbatasan jumlah kapal pengangkut, “imbuhnya. Ketua Umum Asosiasi Pemilik Kapal Indonesia (INSA) Johnson Sutjipto mengakui dengan adanya penyederhanaan titik penyaluran FAME maka kapal-kapal yang ada dapat dimaksimalkan untuk mendistribusikannya. “Sekarang distribusi FAME sudah di 11 -25 titik,” kata Johnson. Wakil Ketua Aprobi Bernard A Riedo menambahkan, kendala lain penyaluran FAME adalah keterbatasan tangki milik PT Pertamina (persero). Untuk itu, dibutuhkan floating storage untuk menampung lebih banyak B20. “Saat ini pasokan masih tersendat di beberapa lokasi sehingga sementara kami butuh tambahan tigafloating storage, “ujarnya. Menurutnya penambahan floating storage mendesak di tengah pengurangan titik penyaluran saat ini.

Kontan | Rabu, 14 November 2018

Distribusi BBM B20 sudah mulai lancar

Distribusi biodiesel 20% dengan campuran solar (B20) saat ini sudah mulai lancar. Sebelumnya, penyaluran ini sempat terkendala untuk kawasan Indonesia bagian timur. Johnson Sutjipto selaku Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) pada Rabu (14/11) mengatakan, pihaknya sudah dibicarakan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution belum lama ini. Dalam pembicaraan diputuskan, dari 112 titik penyerahan diperkecil menjadi 11 – 25 titik. “Sekarang distribusi fame (Biodiesel) sudah di 11 -25 titik,” kata Johnson. Menurut MP. Tumanggor selaku Direktur PT Wilmar Nabati Indonesia, dengan jumlah titik yang diperkecil, penyaluran bisa dilakukan secara optimal. Ini juga memaksimalkan keterbatasan kapal pengangkut yang ada. “Tetapi dengan model yang mau di terapkan bahwa titik serahnya di 25 titik atua 11 titik, karena penggunaan kapal tidak sebanyak seperti penyerahan 112 titik,” kata Tumanggor. Sejak mandatory penggunaan B20 pada September lalu, terjadi kendala pendistribusian. Namun, hal ini dinilai wajar karena pengusaha masih ragu dengan pelaksanaannya akibat belum dipersiapkan jauh-jauh hari. “Iya ini kan baru sebulan, wajar kendala itu dimana. Kalau melakukan suatu hal yangbaru pasti ada sedikti2 kndalanya. Karena kemarin itu kan kita masih ragu-ragu apa benar akan dilaksanakan pada 1 sept. sehingga pas dijalankan kewalahan mencari kapal,” ujarnya. Dengan distribusi B20 ini dilakukan di 112 titik mengakibatkan kebutuhan kapal untuk mengangkut B20 meningkat, sehingga hal ini dinilai menjadi terkendala dimana CPO (Curde Palm Olil) diangkut dengan kapal yang sama.

https://industri.kontan.co.id/news/distribusi-bbm-b20-sudah-mulai-lancar

Kontan | Rabu, 14 November 2018

Pengusaha Biodisel Berharap Program B30 Diterapkan Awal Tahun Depan

Mulai September 2018, pemerintah menerapkan kebijakan pencampuran bahan bakar solar biodiesel 20% minyak nabati atau B20. Kalangan pengusaha biodiesel berharap, awal tahun depan standar ini dinaikkan menjadi B30. Direktur PT Wilmar Nabati Indonesia MP. Tumanggor berharap pemerintah bisa segera menerapkan B30 untuk bahan bakar campuran solar mulai awal tahun 2019. “Kalau kita mau menghemat cadangan devisa, tentunya bagaimana mengurangi impor solar. Bagaimana menutupi impor solar melalui penggunaan fatty acid methyl esters (fame). Kalau sekarang B20, bagaimana kita tingkatkan ini menjadi B30,” kata Tumanggor, Rabu (14/11). Menurut Tumanggor, produksi biodiesel saat ini untuk menjalankan program B30 sudah bisa mencukupi dengan total produksi 12 juta kiloliter per bulan. Ia menilai, penerapan B30 bukan suatu hal yang terburu-buru, meski pelaksanaan B20 belum 100% berjalan lancar. “Kan apa salahnya kalau ada kebijakan yang lebih baik untuk menghemat devisa dan mengurangi impor, mengapa tidak kita jalankkan? Kecuali memang produsennya tidak mampu,” ujarnya. Tumanggor menghitung, jika penggunaan solar mencapai 30 juta kiloliter, jika dikurangi 30% yang diganti dengan biodiesel maka Indonesia bisa menghemat impor solar sebanyak 9 juta kiloliter. “‘Itulah mengapa kami ingin mengusulkan pada pemerintah agar penggunaan B30 bisa dipercepat. Kalau bisa April 2019,” kata dia. Bernard A Riedo, Wakil Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia mengatakan, jika B30 disetujui pemerintah, pengusaha biodiesel akan mengantisipasi dengan menambah kapasitas lagi.

https://industri.kontan.co.id/news/pengusaha-biodisel-berharap-program-b30-diterapkan-awal-tahun-depan

Tribunnews | Rabu, 14 November 2018

Hino Sambut Penerapan Euro IV dan Biodiesel B20 Lewat ‘Customer Satisfaction Contest 2018’

Hino Motors Sales Indonesia (HMSI)’>PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) kembali menggelar event tahunan Customer Satisfactio Contest atau CS Contest 2018. Kontes ini digelar untuk menjaga dan meningkatkan kepuasaan pelanggannya dengan meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya sebagai ujung tombak pemasaran produk kendaraan Hino, baik di sisi sales maupun after sales.CS Contest 2018 digelar di Pusat Purna Jual dan Pelatihan HMSI Jl. Raya Gatot Subroto Km. 8,5 Jatake, Tangerang dan diikuti 490 peserta dari 41 diler Hino di seluruh Indonesia. Total ada 12 kategori yang dilombakan dalam CS Contest kali ini, dimana ini lebih banyak dibanding tahun lalu yang hanya 10 kategori.Yakni, salesman light duty truck, salesman medium duty truck, service advisor, mechanic, customer care officer, fleet part salesman, warehouse, Hoyu Manager, Field Advisor, Internal Dealer Training (IDT) dan yang baru adalah After Sales Internal Dealer Training (IDT) dan Salesman Bus.Kompetisi yang memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya ini berfokus pada pelayanan sales, service dan spare part (3S) dari dealer Hino dan mengangkat tema “Satu Team, Satu Tujuan, Kita Wujudkan Hino Total Support Menuju Era Baru”.

Tema ini memiliki pesan yang kuat kepada semua peserta bahwa dalam rangka mendukung upaya pemerintah terkait penerapan standar emisi gas buang Euro IV dan bahan bakar B20 bagi kendaraan komersial.Staf dealer didorong merealisasikan konsep Hino Total Support Team untuk mewujudkan kepuasan dan kepercayaan pelanggan lewat implementasi 11 Hino Ways dalam operasional dealer sehari-hari enuju era baru. CS Contest kali ini juga untuk mengevaluasi pemahaman staf dealer dan pelaksanaan Hino Standard Operation Prosedur (CS SOP) yang sangat berhubungan dengan kepuasan pelanggan.“Melalui CS Contest, kami ingin setiap sumber daya manusia di diler Hino memiliki product knowledge yang mumpuni, sehingga dapat memberikan solusi bisnis kepada setiap customer yang membutuhkan armada bisnis,” ungkap Hiroo Kayanoki, Presiden Direktur HMSI.

Hino CSR

Bersamaan dengan gelaran CS Contest, Hino juga mengadakan program CSR berupa pendidikan dan pelatihan bagi para mekanik melalui salah satu program trainingnya yaitu Preventive Maintenance Course. Dalam CSR ini diberikan training kepada mekanik dari Perum Damri, PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Elnusa Petrofin. Para mekanik diberikan pemahaman menyeluruh mengenai penanganan, perbaikan dan perawatan kendaraan Hino dengan program pelatihan seperti dasar – dasar keselamatan kerja, pengetahuan produk Hino, perawatan rangka dan mesin. Program pelatihan ini diberikan untuk pengembangan mekanik perusahaan yang memiliki kendaraan Hino namun tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan training berjenjang bagi mekaniknya.

http://www.tribunnews.com/otomotif/2018/11/14/hino-sambut-penerapan-euro-iv-dan-biodiesel-b20-lewat-customer-satisfaction-contest-2018

Viva | Rabu, 14 November 2018

Ini Permintaan Produsen Truk soal BBM Biodiesel

Setelah menerapkan standar emisi Euro 4 untuk kendaraan penumpang yang diproduksi di pabrikan otomotif Tanah Air, pemerintah berniat membuat aturan yang sama bagi kendaraan niaga seperti bus dan truk. Menanggapi hal itu, Santiko Wardoyo sebagai direktur Sales dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia, mengaku siap mengaplikasikan sistem Euro 4 pada seluruh produknya. Meski demikian, produsen asal Jepang itu menegaskan, penyediaan bahan bakar yang layak merupakan kewajiban yang harus dipenuhi pemerintah, apabila peraturan Euro 4 sudah berjalan bagi kendaraan niaga. “Lini produk akan ada penyesuaian di mesin. Kami sedang melakukan pembicaraan masalah bahan bakar, Euro 4 bagaimana. Indonesia luas sekali, sanggup enggak dalam waktu bersamaan semua disuplai bahan bakarnya. Truk jalannya antar kota antar provinsi, antar pulau,” kata Santiko di Tangerang, Rabu 14 November 2018. Selain itu, Santiko juga mengatakan, bahan bakar untuk diesel diharapkan tidak hanya berhenti pada B20. Targetnya, pada 2025 BBM diesel B30 sudah bisa diaplikasikan pada kendaraan niaga. “2025 mungkin ada B30. Bahkan, katanya mau lebih lagi. Saya belum bisa jawab Euro 4 dengan B20 cocok atau tidak,” ujarnya.

https://www.viva.co.id/otomotif/mobil/1094250-alasan-hino-belum-bikin-bus-tingkat?medium=autonext

Kontan | Rabu, 14 November 2018

Aprobi: Perlu tambahan floating storage untuk menampung B20

Penyaluran Biodiesel 20% dengan campuran Solar (B20) ke tangki milik PT Pertamina masih tersendat. Hal ini karena jumlah tangki milik Pertamina dinilai tidak mencukupi. Oleh sebab itu, floating storage dibutuhkan untuk menampung B20. Bernard A Riedo, Wakil Ketua Umum APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia) mengatakan, dua floating storage sejauh ini sudah mencukupi untuk menampung B20. Hanya saja pasokan masih tersendat di beberapa lokasi sehingga sementara butuh tambahan tiga floating sorage. “Diharapkan dua cukup, yang lain kan selama ini sudah berjalan. Kan sekarang concern-nya ke Balikpapan, tapi tangki darat Pertamina kurang, makanya diperlukan storage,” ungkapnya, Rabu (14/11). Bernard menambahkan bahwa dengan jumlah titik serah yang semakin sedikit yakni 10-25 titik, maka jumlah full sorage dibutuhkan lebih banyak. “Rencanaya lima, tujuannya untuk mensimplifikasi titik serah yang banyak tadi banyak menjadi 10-25 titik. Kalau dibikin semakin sedikit titiknya, kan perlu full storage banyak di satu titik. Nah itu pemikiran mengapa lima titik, misalkan dua di Dumai, dua di Balikpapan dan satu di Cilacap,” ungkapnya.

Akibat saat ini kebutuhan di Indonesia Timur tinggi maka akan dikonsentrasikan floating storage di Balikpapan. Jika itu penyaluran sudah lancar, maka jumlah lima floating storage bisa dikurangi. “Critical-nya sekarang di Balikpapan, nah itu di jalankan dulu. Mungkin kalau sudah lancar semua yang lima ini enggak perlu lagi. Karna kan Indonesia timur ini ada kendala dan Balikpapan membutuhkan B20 paling besar untuk menutupi kebutuhan ke timur,” jelasnya. Sementara, MP. Tumanggor selaku Direktur PT Wilmar Nabati Indonesia menyebutkan bahwa saat ini dibutuhkan 2–5 floating storage. Namun ternyata, Pertamina menyatakan bahwa mereka memiliki dua floating storage yang dapat dipakai menampung B20. “Tangki kan harus dari Pertamina, sekarang kan kurang kapasitasnya makanya disediakanlah floating storage ada lima. Kalau enggak salah pertamina ada dua floating storage. Berarti yang tiga-nya itu akan disediakan BU BBM,” kata Tumanggor.

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-perlu-tambahan-floating-storage-untuk-menampung-b20

Kontan | Rabu, 14 November 2018

Aprobi Prediksi Penyerapan B20 Hingga 4 Juta Ton Tahun Ini

Wakil Ketua Umum APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia) Bernard A Riedo menyebutkan bahwa hingga akhir tahun diprediksi penyerapan campuran Biodiesel dengan Solar (B20) mencapai 4 juta ton. Hal ini dihitung sejak diberlakukan madatori penerapan B20 September lalu. “Kita sekarang sudah jalan dengan B20, PSO dan non PSO selama 4 bulan terkahir ini kan. Penyerapannya kita targetkan 4 juta ton hingga akhir tahun,” kata Bernard di Jakarta Selatan, Rabu (14/11). Hal senada juga disampaikan MP. Tumanggor selaku Direktur PT Wilmar Nabati Indonesia, ia menyebut dengan kapasitas produksi antara 12-14 juta ton per bulan, maka untuk konsumsi fame (biodiesel) di Indonesia dipastikan mencukupi yakni sekitar 4,5 juta hingga 5 juta ton per bulan. “Kalau sekarang konsumsi famenya 4,5 juta – 5 juta ton per bulan,” ungkap Tumanggor. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) sebelumnya menyebut bahwa estimasi ekspor Biodiesel antara 1 juta ton hingga 1,7 juta ton pada tahun 2018. Jika estimasi konsumsi biodiesel berada di kisaran angka 5 juta ton per bulan dengan asumsi ekspor sebesar 1 juta ton per bulan, maka total produksi biodiesel sebanyak 6 juta ton per bulannya. “Kebutuhan dalam negeri plus ekspor katakanlah sekitar 5 juta ton (produksi) ditambah kira-kira 1 juta ton (ekspor) jadi ya sekitar 6 juta ton,” ujar Tumanggor. Bernard yakin target ekspor 1 juta ton – 1,7 juta ton bisa tercapai karena pada pertengahan tahun ekspor ke Eropa mencapai hampir separuhnya. “Bisa saja, kemarin kan Eropa pas pertengahan tahun 500.000 ton sampai 700.000 ton. Mau itu 1, 7 juta ton atau 1 juta ton, kapasitas itu memenuhi. Kalau tambah 1 juta ton pun kapasitas masih mendukung,” jelasnya.

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-prediksi-penyerapan-b20-hingga-4-juta-ton-tahun-ini