+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Jarak Pagar Bahan Utama Biodiesel India:

Jarak Pagar Bahan Utama Biodiesel India: Biodiesel memiliki peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi India. Permintaan energi negara India, diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 4,8 persen selama beberapa dekade. Sebagian besar kebutuhan energi saat ini dipenuhi oleh bahan bakar fosil dan batubara, produk basis minyak bumi dan gas alam. Produksi minyak mentah dalam negri hanya mampu memenuhi 25-30 persen konsumsi naional.Pemerintah telah merumuskan Misi Biodiesel Nasional yang ambisius untuk memenuhi 20 persen persyaratan biodiesel negara tersebut. Karena permintaan akan minyak nabati yang dapat dimakan melebihi pasokan, pemerintah telah memutuskan untuk menggunakan minyak yang dapat dimakan dari biji Jatropha Curcas sebagai bahan baku biodiesel. Kebijakan biodiesel dirancang dalam dua fase, dan saat ini sedang menjalani fase ke dua.Perkembangan fase 1 lebih mengandalkan tanaman jarak pagar, dan tahap kedua mulai mengarah pada komersialisasi biodiesel. Data menunjukan, produksi biodiesel India mengalami perkembangan awal yang baik, namun menghadapi keterbatasan dalam hal bahan baku. Gap ini dipenuhi dengan kebijakan impor minyak nabati, antara lain CPO. (SAWITINDONESIA)

Pasar Biodiesel Sawit China Melonjak: Pasar biodiesel China tercatat terus tumbuh, dikatakan Duta Besar China untuk Malaysia, Bai Tian, konsumsi biofuel dan biodiesel B5 di tirai bambu itu pada 2016 mencapai masing-masing sekitar 165 juta ton dan 8,25 juta ton, sementara produksi Biofuel pada tahun 2015 adalah 300.000 ton.Sebab itu tutur Bai Tian, ada kebutuhan pasokan biodiesel sawit sebanyak 8 juta ton, dan ini merupakan pasar potensial bagi industry biodiesel di Malaysia. “Kami berharap Malaysia akan memanfaatkan peluang emas ini, “katanya dikutip Bernama.Sementara itu, Menteri Perindustrian dan Komoditas Malaysia, Datuk Seri Mah Siew Keong mengatakan, China merupakan pembeli kedua terbesar produk kelapa sawit dan turunan asal Malaysia setelah Uni Eropa, untuk memenuhi kebutuhan biofuelnya. China telah melampaui India untuk menjadi nomor dua tujuan ekspor utama untuk produk kelapa sawit dan turunan Malaysia, tandas dia. (INFOSAWIT)

Larangan Biodiesel Sawit oleh Uni Eropa Dibawa ke Komite WTO: Munculnya larangan penggunaan biodiesel sawit di Uni Eropa belum lama ini, menurut Menteri Perdagangan dan Industri Malaysia, Mustapa Mohamed, sebagai pelanggaran potensial terhadap peraturan Organisasi Perdagangan Dunia. Ditulis, Channel News Asia, belum lama ini, Mustapa mengatakan bahwa langkah Uni Eropa adalah “usaha yang disengaja” untuk menghalangi akses minyak sawit ke pasar Uni Eropa, selanjutnya pemerintah Malaysia akan mengangkat isu tersebut pada komite WTO pada bulan Maret dan April 2018 lalu.Termasuk menggalang dukungan dengan negara-negara produsen minyak kelapa sawit lainnya untuk mempertimbangkan “Upaya yang lebih terpadu guna menyuarakan keprihatinan yang tinggi” di hadapan komite-komite di bawah WTO. (INFOSAWIT)

https://www.infosawit.com/news/8011/-larangan-biodiesel-sawit-oleh-uni-eropa-dibawa-ke-komite-wto

Sambangi Uni Eropa, Ini Hasil Diplomasi Sawit ala Luhut Pandjaitan: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan diperintahkan Presiden Joko Widodo untuk melakukan pertemuan-pertemuan mengenai kelapa sawit di Uni Eropa. Pertemuan-pertemuan tersebut merupakan bagian dari lobi pemerintah Indonesia menghadapi rencana pengesahan rancangan proposal energi oleh Parlemen Uni Eropa, yang bakal menghapus penggunaan minyak sawit untuk bahan baku biodiesel pada tahun 2021. Energi terbarukan dan biodiesel sawit menjadi perhatian Kemenko Maritim karena kementerian teknis bidang energi -Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai Perpres Nomor 10 tahun 2015 berada dalam koordinasi dengan Kemenko Maritim.Luhut mengungkapkan, isu yang dilontarkan Uni Eropa mengenai masalah lingkungan hidup, deforestasi dan hak asasi manusia terkait sawit telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Luhut meyakinkan bahwa Indonesia sangat peduli pada lingkungan dan peduli terhadap perlindungan lahan gambut. Sementara untuk tudingan perusakan hutan , kata Luhut, dengan adanya kebijakan moratorium maka praktis tidak ada lagi penambahan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit. “Kita sudah moratorium sejak 6 tahun yang lalu,” tandas dia. (INFOSAWIT)

https://www.infosawit.com/news/8005/sambangi-uni-eropa–ini-hasil-diplomasi-sawit-ala-luhut-pandjaitan