+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Jokowi Elektrifikasi, Prabowo Biofuel

Jawa Pos | Rabu, 13 Februari 2019

Jokowi Elektrifikasi, Prabowo Biofuel

Debat capres akan digelar pada 17 Februari. Tema yang diangkat adalah energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur. Di bidang energi dan pagan, kedua tim paslon sudah menyiapkan sejumlah program andalan. JIKA kembali terpilih, capres Ol Jokowi akan melanjutkan upaya pemenuhan listrik bagi rakyat Indonesia. Program itu tetap menjadi prioritas pembangunan dalam bidang energi. “Pak Jokowi ingin memastikan seluruh rakyat Indonesia bisa mendapat akses listrik,” kata Abdul Kadir Karding, wakil ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma\’rufAmin. Targetnya, tutur dia, 99,9 persen rakyat tersambung dengan listrik. Anggota Komisi VII DPR itu menerangkan, untuk mencapai peningkatan rasio elektrifikasi nasional, tahun ini pemerintahan Jokowi menyiapkan 1,2 juta sambungan listrik. Khususnya bagi masyarakat kurang mampu yang belum menikmati listrik. Ketua DPP PKB itu menyatakan, dampak pemasangan listrik itu sangat besar. Kehidupan masyarakat akan semakin maju. Baik dari segi pendidikan maupun ekonomi. Listrik bisa meningkatkan ekonomi masyarakat karena mereka akan dengan mudah bekerja Mereka bisa meningkatkan produksi

Bagaimana program pangan? Karding mengatakan, salah satu yang paling fundamental adalah produksi pangan. Menurut dia, produksi pangan berkaitan erat dengan pengairan. Oleh karena itu, Jokowi memberikan perhatian serius terhadap penyediaan pengairan untuk pertanian dan perkebunan. Jokowi sudah membangun bendungan, embung, dan irigasi. Ke depan, sumber air itu terus dibangun. “Itu mutlak dibutuhkan. Masyarakat tidak bisa bertani tanpa air,” terang pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, itu. Selain itu, Jokowi akan terus membangun infrastruktur menuju tempat produksi, sawah, ataupun kebun. Dengan infrastruktur tersebut, masyarakat bisa mengelola lahan pertanian dan perkebunan dengan mudah. Tanpa akses yang bagus, mereka akan sulit mengolah lahan produksi. Pengembangan bibit unggul dan teknologi pertanian menjadi perhatian serius. Capres 02 Prabowo Subianto juga memiliki sejumlah strategi terkait dengan isu energi dan pangan. Anggota tim ekonomi BPN Prabowo-Sandi Harryadin Mahardika menjelaskan, Prabowo memiliki strategi pemikiran jangka pendek dan jangka panjang, terutama untuk mengatasi krisis energi yang terjadi saat ini.

“Dalam jangka pendek, yang beliau instruksikan adalah harus segera kurangi ketergantungan pada bensin, solar, dan batu bara. Mungkin kita tidak defisit, tapi kita pikirkan tentang dampak lingkungannya,” katanya. Harryadin mengatakan, salah satu konsumen terbesar bahan bakar minyak adalah kendaraan bermotor. Sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil, Prabowo akan memberikan insentif bagi kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif serta melakukan konversi bahan bakar untuk kendaraan bermotor. “Di era SBY pernah ada wacana konversi energi untuk kendaraan bermotor. Namun, saat itu belum sepakat siapa yang akah membangun konverter. Langkah ini adalah satu cara yang bisa lebih cepat sehingga subsidi bisa diarahkan bukan hanya untuk subsidi harga, tapi untuk konverter,” kata Hanyadin. Sementara itu, untuk solusi jangka panjang, Prabowo siap membangun industri biofuel. Sebagai negeri agraris, Indonesia memiliki modal utama untuk mewujudkan industri tersebut. “Menurut data, ada 10 juta hektare lahan tidak produktif. Prabowo menargetkan 2 juta hektare dikonversi ke Bioetanol estate dengan skema public private people partnership. Jadi, rakyat atau petani, pengusaha, dan negara terlibat dalam industri ini,” kata Harryadin. Dalam isu pangan, anggota tim ekonomi BPN Prabowo-Sandi Dian Fatwa menjelaskan, masalah utama yang paling mencolok di pemerintahan saat ini adalah kebijakan impor pangan. “Prabowo-Sandi akan menerapkan manajemen pangan,” ujarnya. Manajemen pangan itu memiliki cakupan luas. Setiap daerah, kata Dian, memiliki masa kalender-kalender panen. Dari situ pemerintah bisa melakukan antisipasi terkait kebutuhan pangan. “Kami akan benahiitu,” kata Dian.

PROGRAM BIDANG ENERGI DAN PANGAN

JOKOWI-MA\’RUF

Target peningkatan rasio elektrifikasi nasional mencapai 99,9 persen. Pemasangan listrik gratis untuk masyarakat tidak mampu. Pemasangan 1,2 juta sumbangan listrik gratis untuk tahun ini. Menggalakkan pembangunan sumber irigasi seperti bendungan dan embung. Pembangunan infrastruktur menuju tempat produksi pangan, sawah, dan perkebunan. Mendorong inovasi dan kreasi dalam menciptakan bibit unggul pangan. Mengembangkan teknologi mutakhir untuk pertanian dan perkebunan. Menumbuhkan kesadaran anak-anak muda di pedesaan untuk giat bertani dan berkebun sehingga tidak perlu pindah ke kota.

PRABOWO-SANDI

Mengurangi ketergantungan energi fosil. Insentif bagi kendaraan dengan BBM alternatif, tidak hanya subsidi harga, tapi juga converter. Membangun industri Biofuel sebagai solusi bahan bakar alternatif. Mengurangi impor melalui manajemen pangan. Membangun pelatihan sistem pertanian modern. Kalkulasi kebutuhan pangan lewat kalender-kalender panen para petani. Membangun infrastruktur distribusi pangan.

Investor Daily Indonesia | Rabu, 13 Februari 2019

Berlanjutnya Sentimen Positif bagi Emiten Perkebunan Sawit

Emiten perkebunan kelapa sawit dan produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mendapatkan sentimen positif atas penurunan inventori pada Januari 2019. Penurunan inventori diharapkan berlanjut sampai semester 1-2019 dipengaruhi atas faktor penurunan volume produksi sawit, kenaikan permintaan India dan Tiongkok, dan mandatori B20. Berdasarkan data yang ditulis Danareksa Sekuritas terungkap bahwa inventori minyak sawit Malaysia telah mengalami penurunan sekitar 6,7% menjadi 3 juta ton pada Januari 2019, dibandingkan bulan Desember 2018. Penurunan dipengaruhi atas peningkatan permintaan ekspor minyak nabati tersebut dari India dan Tiongkok. “Penurunan inventori tersebut dipengaruhi atas rendahnya volume panenan sawit, peningkatan permintaan CPO didorong mandatori B20, dan kenaikan ekspor komoditas tersebut untuk India dan Tiongkok,” tulis analis Danareksa Sekuritas Yudha Gautama dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin. Malaysia mencatat ekspor CPO sebanyak 1,68 juta ton pada Januari 2019 atau mengalami kenaikan sekitar 13,8% dari periode sama tahun lalu. Realisasi tersebut juga telah melampaui perkiraan konsensus analis sekitar 1,56 juta ton. Tingginya ekspor dipengaruhi atas tingginya permintaan dari pasar Tiongkok menjelang Imlek. Sedangkan kenaikan permintaan dari India dipengaruhi atas penurunan bea masuk CPO dari negara-negara Asean.

Penurunan suplai minyak sawit Malaysia tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk tetap mempertahankan prospek overweight saham sektor perkebunan. Sedangkan rekomendasi beli diberikan untuk saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 16.500, saham PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 2.000, dan saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) dengan target harga Rp 3.000. Terkait ekspor CPO tahun ini, dia mengatakan, diperkirakan lebih baik dibandingkan realisasi tahun lalu. Pendorong utamanya adalah penurunan tarif bea masuk impor minyak sawit di India. Begitu juga dengan Tiongkok kemungkinan menaikkan permintaan akibat masih berlanjutnya perang dagang dengan Amerika Serikat. “Kami memperkirakan harga CPO akan lebih baik tahun ini dipicu atas ekspektasi penurunan suplai global, realisasi mandatori B20, dan peningkatan ekspor ke Tiongkok dan India. Kami mempertahankan asumsi harga jual CPO MYR 2.550 per ton tahun ini,” terangnya. Didasarkan proyeksi OilWorld, Yudha sebelumnya mengungkapkan, suplai minyak sawit dunia diperkirakan meningkat sekitar 4,3% menjadi 74,4 juta ton. Pertumbuhan terbesar datang dari Indonesia, seiring sejumlah perkebunan kelapa sawit sudah memasuki usia panen. Sedangkan permintaan CPO dunia diharapkan bertumbuh sekitar 8,6% menjadi 74,5 juta ton akibat program bio diesel.

“Dengan perkiraan tersebut suplai CPO diperkirakan turun menjadi 18,7% tahun ini, dibandingkan tahun lalu sekitar 20,4%. Hal ini berpotensi menaikkan rata-rata harga jual CPO menjadi MYR 2.550 per ton tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu me-napai MYR 2.300 per ton,” terangnya. Sedangkan Sinarmas Sekuritas dalam riset sebelumya memberikan pandangan positif terhadap emiten perkebunan kelapa sawit dan produsen CPO tahun ini. Emiten ini diharapkan mampu untuk meraup pertumbuhan kinerja keuangan didukung faktor utamanya kenaikan outlook rata-rata harga jual CPO. Sinarmas Sekuritas dalam risetnya menyebutkan hargajual CPO memang mengalami penurunan sepanjang tahun lalu hingga mencapai level p terendah MYR 1.759 per ton. Penurunan ini dipicu atas kenaikan produksi yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan, sehingga mengakibatkan penumpukan stok. Namun kondisi demikian, menurut tim riset Sinarmas Sekuritas, kemungkinan tidak terulang lagi tahun ini. Harga jual CPO justru diperkirakan naik seagai dampak adanya titik keseimbangan permintaan dan penawaran komoditas ini untuk beberapa tahun mendatang. Kedua, peningkatan harga ditopang atas dukungan regulasi dari pemerintah Indonesia dan Malaysia seperti pembebasan pungutan ekspor CPO.

Program mandatori Biodiesel yang menaikkan campuran Biodiesel menjadi 20% terhadap untuk diesel nonsubsidi yang telah digelontorkan pememerintah sejak tahun lalu akan menaikkan permintaan minyak sawit ini ke depan. “Kami memberikan proyeksi bullish terhadap industri CPO dengan perkiraan kenaikan rata-rata harga jualnya tahun ini berada di level MYR 2.000-2.5000 per ton,” tulis tim riset tersebut. Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa berdasarkan data terbaru USDA produksi CPO Indonesia diharapkan mencapai 41,5 juta ton tahun 2018 dan 2019. Sedangkan Malaysia diperkirakan memproduksi sebanyak 20,5 juta ton CPO atau dengan pertumbuhan sebesar 4,1% tahun ini. Moderatnya kenaikan produksi dipengaruhi atas terbatasnya penanaman areal perkebunan kelapa sawit baru dalam beberapa tahun terakhir setelah moratorium pembukaan lahan sawit sejak 2011. Sedangkan permintaan CPO global diperkirakan meningkat sekitar 6,7% tahun ini atau hampir sama dengan perkiraan tahun lalu. Hal ini membuat suplai CPO dunia akan cenderung lebih rendah dibandingkan permintaan, sehingga berpeluang menaikkan harga jualnya.

Peningkatan permintaan CPO, menurut riset Sinarmas Sekuritas, juga didukung atas penurunan penurunan bea masuk impor sawit Indonesia dari sebelumnya 44% menjadi 40% mulai awal tahun ini. Di waktu bersamaan, Indonesia juga sedang melakukan pembicaraan secara intensif dengan pemerintah India untuk menurunkan bea masuk impor komoditas ini. “Kami melihat bahwa penurunan pajak impor CPO akan menaikkan permintaan dan akhirnya memberikan sentimen positif terhadap industri sawit. Sebab, India tercatat sebagai negara importir CPO besar dunia,” terangnya. Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas utnuk memberikan prospek overweight untuk saham emiten perkebunan kelapa sawit dan CPO. Rekomendasi ini menggambarkan cerahnya prospek industri ini, seiring dengan terbukanya peluang kenaikan harga jualnya. Sedangkan saham pilihan sektor ini adalah saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 14.900 dan saham PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 1.600.

Kompas | Selasa, 12 Februari 2019

Hino Keluhkan Kualitas Pencampuran Biodiesel

Pemerintah telah memberlakukan kebijakan bahan bakar biodiesel B20 untuk kendaraan bermesin diesel tahun lalu. Penggunaan bahan bakar ini dilakukan untuk kendaraan non-Public Serive Obligation (non PSO) dan PSO. Salah satu produsen kendaraan komersial, Hino, mengungkapkan pihaknya terus mendukung kebijakan pemerintah. Hino jadi salah satu mesin yang siap dengan B20 meski ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. “Kita support B20 dan kebijakan pemerintah.Cuma setelah sekian waktu penggunaannya masih ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh pemerintah terkait kualitas bahan bakar tersebut,” ucap Direktur Penjualan dan Promosi HMSI, Santiko Wardoyo, saat ditemui Senin (11/2/2019). Santiko mengungkapkan, salah satu yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah bagaimana melakukan pencampuran fatty acid methyl ester (FAME) dengan solar agar lebih baik lagi. Sebab ini bergantung pada kualitas bahan bakar yang merata di tiap daerah. Santiko juga mengingatkan dengan penggunaan bahan bakar B20 ini perhatian diberikan lebih kepada filter solar. Pencampuran FAME ini akan menimbulkan gel yang bisa menutup filter solar. “Akibatnya tenaganya berkurang. Ini harus diganti dengan filter baru. Kira-kira bila menggunakan solar biasa bisa sampai 20.000 kilometer, pakai biodiesel bisa 10.000 kilometer ganti,” ucap Santiko. Oleh karena itu Santiko berharap pemerintah terus melakukan pencampuran bahan bakar yang lebih baik. Ini akan berdampak positif pada konsumen kendaraan diesel di berbagai daerah di Indonesia.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/02/12/120058215/hino-keluhkan-kualitas-pencampuran-biodiesel