+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Jonan Ajak Jepang Garap Energi Hijau

Investor Daily Indonesia | Senin, 26 Agustus 2019
Jonan Ajak Jepang Garap Energi Hijau

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengajak Jepang untuk bersama-sama mengembangkan green energy (energi hijau) yang berkelanjutan, salah satunya berbasis produk turunan kelapa sawit. Hal tersebut disampaikan Menteri Jonan kepada Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Hiroshige Seko, dalam kunjungan kerja di Tokyo, Jepang, Jumat (23/8). “Kita minta Jepang mendukung adanya standar yang digunakan oleh industri Kelapa Sawit kita, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), tidak menggunakan semata-mata standar lain yang seperti Roundtable Suistanable Palm Oil (RSPO),” kata Jonan dalam keterangan tertulis di Jakarta, akhir pekan lalu. Jonan mengungkapkan, pada dasarnya pihak Jepang me- nyepakati usulan tersebut dengan membentuk tim bersama yang akan melakukan studi teknis lebih lanjut. “Jadi respon pihak Jepang juga sepakat, jadi mereka akan melakukan studi secara teknis bersama tim Indonesia,” ungkapnya. Pada kunjungan kerja tersebut, Menteri ESDM turut didampingi Dubes Indonesia Arifin Tasrif, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Laode Ida, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi FX Sutijastoto, Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan KelapaSawit (BPDP KS) Dono Boestami, dan Ketua Umum Asosiasi Produsen biofuel Indonesia MP Tumanggor.

Kepala BPDP KS Dono Boestami menambahkan, sudah semestinya Jepang juga menggunakan ISPO karena mandatori wajib bagi pengusaha-pengusa- ha sawit Indonesia. “Sementara RSPO itu lebih voluntary, sukarela sifatnya,” tuturnya. Komisioner ORI Laode Ida pun turut menegaskan pengelolaan perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia tidak ada lagi yang melanggar prinsip lingkungan. “Indonesia tidak lagi menol-erir pengembangan perkebunan Kelapa Sawit yang tidak memperhatikan lingkungan,” kata Laode yang mengawasi urusan perkelapasawitan tersebut. Menteri METI Seko memahami penjelasan Indonesia. Ia akan meneruskan permintaan ini kepada tim teknis METI yang akan melakukan verifikasi lebih lanjut. “Semua masukan ini sangat berarti bagi kami. Selanjutnya tim teknis METI akan berkunjung ke Indonesia untuk melihat secara langsung pengelolaan sawit di Indonesia,” ujarnya.

Media Indonesia | Sabtu, 24 Agustus 2019
Menteri ESDM Ajak Jepang Kembangkan Energi Hijau

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengajak Jepang untuk sama-sama mengembangkan energi hijau {green energy). Salah satu yang bisa dikembangkan ialah energi hijau berbasis produk turunan kelapa sawit. Jonan menyampaikan harapan tersebut saat bertemu Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Hiroshige Seko di kantornya di Tokyo, kemarin. Menteri ESDM didampingi Dubes Indonesia Arifin Tasrif, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Laode Ida, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi FX Sutjiastoto, Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan Dono Bustami, Ketua Umum Asosiasi Produsen biofuels Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, dan pengusaha sawit Chairman Gama Group Martua Sitorus. Menurut Jonan, Indonesia serius untuk menggunakan bahan bakar yang berkelanjutan. Indonesia sendiri memiliki produksi yang besar dari produk kelapa sawit. “Kami mengajak Jepang untuk bersama-sama mengembangkan green energy yang berbasis produk sawit. Kami juga berharap Jepang mendukung penggunaan sawit, khususnya yang berbasis Indonesia sustainable Palm Oil yang sudah ditetapkan Indonesia sebagai standar produk yang peduli terhadap lingkungan,” kata Jonan. Selama ini Jepang masih menggunakan dua standar, yaitu ISPO dan roundtable sustainable palm oil. Jonan berharap pemerintah Jepang mau mengakui ISPO karena didukung pemerintah Indonesia. Komisioner ORI Laode Ida menegaskan pengelolaan per- kebunan Kelapa Sawit di Indonesia tidak ada lagi yang melanggar prinsip lingkungan.- “Indonesia tidak lagi meno-leransi pengembangan perkebunan Kelapa Sawit yang tidak memperhatikan lingkungan,” kata Laode yang mengawasi urusan perkelapasawitan. Baik Kepala BPDP maupun Ketua Umum APROBI berharap pertemuan di Tokyo mampu mengubah persepsi Jepang terhadap pengembangan kelapa sawit. “Kami berharap pemerintah Jepang mendukung ISPO yang diterapkan Indonesia,” ujar Dono. “Tentu kami berharap juga Jepang mau meningkatkan impor produk sawit dari Indonesia,” tambah Tumanggor. Pengusaha Martua Sitorus pun mengundang tim ahli Jepang untuk melihat langsung pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

Media Indonesia | Sabtu, 24 Agustus 2019
Menteri ESDM Ajak Jepang Kembangkan Energi Hijau

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengajak Jepang untuk sama-sama mengembangkan energi hijau (green energy). Salah satu yang bisa dikembangkan ialah energi hijau berbasis produk turunan kelapa sawit. Jonan menyampaikan harapan tersebut saat bertemu Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Hiroshige Seko di kantornya di Tokyo, kemarin. Menteri ESDM didampingi Dubes Indonesia Arifin Tasrif, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Laode Ida, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi FX Sutjiastoto, Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan Dono Bustami, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor, dan pengusaha sawit Chairman Gama Group Martua Sitorus. Menurut Jonan, Indonesia serius untuk menggunakan bahan bakar yang berkelanjutan. Indonesia sendiri memiliki produksi yang besar dari produk kelapa sawit. “Kami mengajak Jepang untuk bersama-sama mengembangkan green energy yang berbasis produk sawit. Kami juga berharap Jepang mendukung penggunaan sawit, khususnya yang berbasis Indonesia sustainable palm oil yang sudah ditetapkan Indonesia sebagai standar produk yang peduli terhadap lingkungan,” kata Jonan.

Selama ini Jepang masih menggunakan dua standar, yaitu ISPO dan roundtable sustainable palm oil. Jonan berharap pemerintah Jepang mau mengakui ISPO karena didukung pemerintah Indonesia. Komisioner ORI Laode Ida menegaskan pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak ada lagi yang melanggar prinsip lingkungan. “Indonesia tidak lagi menoleransi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang tidak memperhatikan lingkungan,” kata Laode yang mengawasi urusan perkelapasawitan. Baik Kepala BPDP maupun Ketua Umum Aprobi berharap pertemuan di Tokyo mampu mengubah persepsi Jepang terhadap pengembangan kelapa sawit. “Kami berharap pemerintah Jepang mendukung ISPO yang diterapkan Indonesia,” ujar Dono. “Tentu kami berharap juga Jepang mau meningkatkan impor produk sawit dari Indonesia,” tambah Tumanggor. Pengusaha Martua Sitorus pun mengundang tim ahli Jepang untuk melihat langsung pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
https://mediaindonesia.com/read/detail/255137-menteri-esdm-ajak-jepang-kembangkan-energi-hijau

Medcom | Jum’at, 23 Agustus 2019
Biodiesel Sawit Bantu Kurangi 10,58 Juta Ton Emisi Gas Rumah Kaca

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan pengembangan biodiesel berbasis kelapa sawit seperti B20 membantu mengurangi emisi penghasil polusi. Sebab, kelapa sawit menghasilkan gas rumah kaca lebih kecil dibandingkan solar. Paulus menerangkan pada 2018, Biodiesel dengan bauran sawit berhasil mengurangi emisi dari minyak solar sebesar 27 persen atau setara dengan 10,58 Juta Ton CO2 Equivalent. “Biodiesel sawit terbukti lebih ramah lingkungan, disamping juga kini menjadi harapan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar,” ujar Paulus melalui keterangan resminya, Jumat, 23 Agustus 2019. Pengurangan emisi tersebut, lanjut Paulus, sejalan dengan komitmen Indonesia yang menetapkan target pengurangan emisi dalam Nationally Determined Contributions UNFCCC sebanyak 26 persen pada 2020, dan 29 persen pada 2030. Sayangnya, kata Paulus, target pengurangan emisi yang ditetapkan pada 2020 seperti tidak ditanggapi serius. “Hampir dilupakan padahal waktunya tinggal sebentar lagi. Ini terjadi lantaran para pemegang kebijakan lebih memerhatikan komitmen pengurangan emisi di 2030 yang waktunya masih cukup panjang,” lanjutnya. Jika saja komitmen pengurangan emisi tersebut sesuai dengan target yang telah ditetapkan, maka potensi pengembangan serapan biodiesel sawit diharapkan akan berjalan dengan cepat. Saat ini, pemerintah tengah melakukan uji coba terhadap biodiesel bauran sawit 30 persen atau B30 di Dieng, Jawa Tengah. Dia berharap selain membantu mengurangi emisi, biodiesel sawit juga menjadi harapan bagi terlepasnya ketergantungan Indonesia dalam mengimpor migas yang kerap membebani Current Account Deficyt (CAD). “Pemakaian bahan bakar di Indonesia sekitar 1,4 Juta barel per hari, sedangkan Indonesia menghasilkan hanya 778 ribu barel per hari,” pungkasnya.
https://www.medcom.id/ekonomi/energi/8kogZd5k-biodiesel-sawit-bantu-kurangi-10-58-juta-ton-emisi-gas-rumah-kaca

Cnnindonesia | Jum’at, 23 Agustus 2019
Jonan Apresiasi Gaikindo Dukung Penerapan B30

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengapresiasi pernyataan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang mendukung implementasi pemanfaatan bahan bakar minyak (BBM) biodiesel 30 persen (B30). Sejak tahun lalu pemerintah sudah menerapkan mandatori B20 dan program ini akan diteruskan ke B30 yang diproyeksikan bisa berlaku pada 2020. Belum berhenti sampai di situ, pemerintah juga bakal memberlakukan B50 pada akhir 2020, lalu B100 pada 2021. B30 merupakan bahan bakar campuran antara 30 persen biodiesel yang berasal dari minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dalam negeri dan 70 persen minyak bumi solar. Bahan bakar jenis ini hanya digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Jonan menjelaskan B30 penting buat menghemat atau mengurangi impor BBM. Menurut dia pemanfaatan B30 berarti 30 persen dari penggunaan minyak solar yang jumlahnya disebut kurang lebih 30 juta kiloliter akan berasal dari Indonesia, yaitu sejumlah 9 juta kiloliter.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih, tadi Pak Yohannes Nangoi, sebagai ketua Gaikindo mengatakan bahwa Gaikindo siap untuk B30,” kata Jonan di acara perayaan 50 tahun usia Gaikindo di Jakarta, Rabu (21/8). Terkait penghematan BBM karena penggunaan B30, Jonan menyebut jumlahnya bisa sampai US$ 1,7 miliar (Rp24,2 triliun) tergantung harga minyak bumi. “Kalau ditanyakan sekarang kira-kira hematnya berapa, ya ini tergantung harga dari gas oil sendiri. Tapi kira-kira kalau setiap 10 persen atau 3 juta kiloliter dari 30 juta kiloliter FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang dicampur, kira-kira muncul gambarannya antara US$ 1,3 miliar sampai US$ 1,7 miliar. Ini naik turun,” ucap Jonan. Saat ini anggota Gaikindo sedang menjalani pengujian B30 yang dijalankan Kementerian ESDM sejak Juni lalu. Rencananya pengujian bakal selesai pada Oktober 2019.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190822141607-384-423748/jonan-apresiasi-gaikindo-dukung-penerapan-b30