+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Jual Beli B30 Dipercepat, November Dimulai

CNN Indonesia | Kamis, 19 September 2019

Jual Beli B30 Dipercepat, November Dimulai

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) ingin mempercepat implementasi jual beli campuran minyak sawit mentah ke solar sebesar 30 persen alias B30 pada November 2019. Usulan ini yang disampaikan Aprobi ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tersebut lebih cepat dari rencana awal, yaitu 2020. “Kami mau memulai coba langsung jualan. Usul saya itu mulai November di beberapa kota,” ungkap Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (18/9). Menurutnya, percepatan implementasi sejatinya mungkin terjadi karena pemerintah bersama para pihak yang terlibat sudah melakukan uji coba secara internal. Kendati begitu, tak ada kepastian jual beli B30 bisa dilaksanakan lebih cepat sesuai usulan pelaku usaha. Sebelumnya, Menko Darmin sejatinya sudah memberi sinyal postif terhadap rencana percepatan implementasi jual beli B30. Sebab, hal ini bisa menjadi cara untuk mengurangi defisit neraca perdagangan melalui pengurangan impor minyak. “Memang (penerapan B30) awal 2020, tapi kan kami bisa coba (dipercepat), (B30) bisa (diterapkan) di November,” katanya.

Darmin mengungkapkan uji jalan B30 akan selesai pada pertengahan September ini. Sejauh ini, ia melanjutkan belum ada tanda-tanda negatif. Namun, pemerintah perlu waktu untuk membahas hasil uji jalan tersebut. Menurut Darmin, penerapan B30 bakal mengurangi impor Solar sekitar 3 juta kiloliter per tahun. Selain itu, penerapan B30 juga bisa menjadi alternatif pemanfaatan minyak kelapa sawit di tengah hambatan dagang yang diterapkan Uni Eropa. Bulan ini, Uni Eropa mulai mengenakan bea masuk anti subsidi (BMAS) sebesar 8-18 persen terhadap impor biodiesel asal Indonesia. Sebelumnya, Uni Eropa menerbitkan Delegated Regulation Supplementing Directive of The UE Renewable Energy Directive (RED) II yang mengklasifikasikan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oils/CPO) sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi. Konsekuensinya, konsumsi CPO untuk biofuel atau Bahan Bakar nabati (BBN) akan dibatasi kuota saat ini hingga 2023. Selanjutnya, konsumsi CPO untuk biofuel akan dihapuskan secara bertahap hingga menjadi nol persen pada 2030.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190918232025-85-431775/jual-beli-b30-dipercepat-november-dimulai

ANTARA | Kamis, 19 September 2019

KESDM sebut uji jalan penggunaan B30 lolos seluruh aspek kendaraan

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM menyatakan penggunaan campuran 30 persen bahan bakar nabati biodiesel (B30) lolos pada semua aspek kendaraan setelah dilaksanakan uji jalan (road test). Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana menjelaskan uji jalan dilakukan dengan membandingkan B30 dengan B20, bukan B0. Hasilnya dari sisi konsumsi bahan bakar, secara rata-rata tergantung dari jenis kendaraan, plus minus 0,87 persen lebih tinggi konsumsinya. “Bukan berarti lebih boros, karena di sisi yang lain dayanya itu lebih tinggi, performance-nya juga lebih bagus. Untuk emisi, semuanya lebih bagus, kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan. Secara umum bagus,” kata Dadan di Jakarta, Kamis Balitbang ESDM bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melakukan sosialiasi pelaksanaan Uji Jalan B30 di Kantor Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Rabu (18/9). Untuk penggunaan oli, lanjut Dadan, juga tidak ada masalah, apalagi semua kendaraan dalam uji jalan ini melewati batasan minimum dari yang disarankan oleh APM (Agen Pemegang Merk).

Selain itu, dalam uji jalan ini juga terdapat uji coba kendaraan disimpan hingga 3 minggu saat di Dieng, tanpa dihidupkan sama sekali. Hasilnya, kendaraan sudah menyala di bawah 1 detik, karena tidak terjadi pembekuan pada bahan bakar. “Tidak hanya dari aspek kendaraan, tetapi dari sisi maintenance, B30 sudah lolos. Insya Allah akan start full nasional per 1 Januari 2020,” kata dia. Pelaksanaan uji jalan B30 dimulai sejak 20 Mei 2019 dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dampak penggunaan B30 pada kinerja kendaraan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Uji jalan dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM dan BPPT dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, BPDPKS, Pertamina, Aprobi dan Gaikindo.

https://www.antaranews.com/berita/1070962/kesdm-sebut-uji-jalan-penggunaan-b30-lolos-seluruh-aspek-kendaraan

Radar Jember | Kamis, 19 September 2019

Implementasi Iptek Sub Sektor Perkebunan untuk Mendukung Devisa dan Ketahanan Energi Negara

Hidup di era Industri 4. 0 mendorong manusia untuk melek teknologi dan infomasi terbaru. Tujuannya, mempersiapkan menuju Indonesia 2045, tentunya perlu digencarkan pengembangan energi terbarukan. Halim ST MM, Sekretaris Dirjen Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM yang menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Implementasi IPTEK Sub Sektor Perkebunan Pendukung Devisa Negara dan Ketahanan Energi Indonesia, Rabu (18/9) mengungkapkan, perlu adanya dorongan untuk penggunaan energi yang terbarukan kepada masyarakat menuju Indonesia 2045. Selain Halim, Seminar yang itu juga dihadiri tiga narasumber antara lain Ir Karyadi MM, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (Jatim), Dr. Ir. Tatang Hernas Soerawidjadja, Direktur Operasional PTP X Jatim, Paulus Tjakrawan, Kepala Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI). Berdasarkan data, Jika dilihat pertumbuhan dari kontributor utama energi baru terbarukan dalam 10 tahun terakhir. Pertumbuhan tahunan biofuel mencapai 85%. Hal ini tentu dapat menjadi peluang terbesar bagi energi baru terbarukan untuk dapat mencapai target bauran pada tahun 2025 dan 2050.”Indonesia beralih dari pola pertumbuhan yang digerakkan oleh sumber daya serta bergantung pada modal dan tenaga kerja, menjadi pola pertumbuhan yang berbasis produktivitas tinggi serta inovasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Triono Bambang Irawan, Kepala Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBKWU) Politeknik Negeri Jember (Polije) yang sekaligus panitia acara seminar, berharap akan meningkatnya inovasi-inovasi baru terkait energi terbarukan. “Jember menjadi salah satu Kabupaten dengan sektor perkebunan tembakaunya bisa ikut membantu peningkatan devisa negara,” harapnya.

Riau Book | Kamis, 19 September 2019

Aprobi Desak Jual Beli B30 Dipercepat

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendesak agar pemerintah mempercepat implementasi jual beli campuran minyak sawit mentah ke solar sebesar 30 persen alias B30 pada November 2019. Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan, keinginan tersebut berdasar pada uji coba yang telah dilakukan oleh pemerintah bersama pihak-pihak yang terlibat, meski sebelumnya implementasi jual beli B30 direncanakan baru akan terealisasi pada tahun 2020. “Kami mau memulai coba langsung jualan. Usul saya itu mulai November di beberapa kota,” ungkap Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (18/9/2019). Kendati demikian, menurut Tumanggor masih belum ada kepastian jual beli B30 bisa dilaksanakan lebih cepat sesuai usulan pelaku usaha.

Sebelumnya, sinyal postif terhadap rencana percepatan implementasi jual beli B30 juga telah dilambaikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution. Sebab, implementasi B30 bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi defisit neraca perdagangan melalui pengurangan impor minyak.Menurut Darmin, penerapan B30 bakal mengurangi impor Solar sekitar 3 juta kiloliter per tahun. Selain itu, penerapan B30 juga bisa menjadi alternatif pemanfaatan minyak kelapa sawit di tengah hambatan dagang yang diterapkan Uni Eropa. “Memang (penerapan B30) awal 2020, tapi kan kami bisa coba (dipercepat), (B30) bisa (diterapkan) di November,” katanya. Darmin mengungkapkan uji jalan B30 akan selesai pada pertengahan September ini. Sejauh ini, ia melanjutkan belum ada tanda-tanda negatif. Namun, pemerintah perlu waktu untuk membahas hasil uji jalan tersebut.

http://www.riaubook.com/berita/50255/blog-post.html

Reuters | Kamis, 19 September 2019

‘Very engaged’ Trump talks biofuels policy with U.S. oil-state senators

President Donald Trump on Thursday discussed biofuels policy with senators from U.S. oil states, including Louisiana Senator Bill Cassidy, who said the president was engaged on the issue that has pitted Big Oil and Big Corn against each other. The oil industry is opposed to the Trump administration’s tentative plan to boost annual ethanol usage mandates. Trump put forward the plan after a flurry of meetings in recent days with biofuels and oil refining advocates where he tested ideas to compensate the corn industry, a crucial political constituency, for his administration’s decision in August to exempt 31 oil refineries from their blending requirements under the Renewable Fuel Standard. That move was warmly welcomed by the oil industry but caused outrage in the Farm Belt, and farmers and ethanol producers had warned Trump that the decision could force them to pull their support for him in next year’s presidential election.

In Thursday’s meeting, senators including Republicans Ted Cruz of Texas and Pennsylvania’s Pat Toomey were expected to make the case that Trump’s proposed plan could backfire by putting refineries out of business and killing jobs in key 2020 battleground states, one source familiar with the matter said. “Just spoke with @realDonaldTrump on the renewable fuel standard – the president is very engaged on the issue, and feels as if we can work towards a solution which protects jobs,” Cassidy wrote on Twitter. Trump’s outreach reflects the difficulty he has had in appeasing both the oil and corn industries, which have clashed for years over U.S. biofuels policy. “The president is ready to get a decision and move forward. We hope that could happen as of this afternoon,” Secretary of Agriculture Sonny Perdue told reporters earlier on Thursday. Under the RFS, oil refineries must use billions of gallons of biofuels like ethanol in their gasoline – a regulation intended to help farmers and cut U.S. petroleum imports, but which the oil industry says costs them a fortune.

Small refining facilities of 75,000 barrels per day or less can secure waivers if they prove complying with the regulation would cause them disproportionate financial hardship, and Trump’s administration has handed them out at a much higher rate than under former President Barack Obama. Corn farmers and ethanol producers say the Trump administration’s broad use of the refinery exemption program undermines demand for ethanol at a time the industry is already suffering from a loss of foreign markets due to the U.S. trade war with China. But the oil industry says the exemptions help ensure that small refiners stay in business and have no impact on the amount of ethanol they use. Iowa Republican Senator Chuck Grassley, a biofuels advocate, tweeted at Trump on Thursday, saying farmers were looking forward to good news on the ethanol-related package.

https://www.reuters.com/article/us-usa-biofuels/u-s-biofuel-credits-fall-more-than-10-ahead-of-trump-meeting-with-u-s-senators-traders-idUSKBN1W422G

Liputan6 | Kamis, 19 September 2019

Uji Coba Selesai, Solar Campur 30 Persen Biodiesel Siap Diterapkan Januari 2020

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyelesaikan uji jalan campuran 30 persen biodiesel dengan solar (B30) pada kendaraan. Lalu bagaimana hasilnya? Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana, mengatakan, dari hasil uji jalan menunjukan, dalam penggunaan B30 semua aspek kendaraan sudah lolos uji, sehingga diharapkan bisa diterapkan mulai Januari 2020. “Jadi kembali saya sampaikan, tidak hanya dari aspek kendaraan, tetapi dari sisi maintenance, B30 sudah lolos. Insya allah akan start full nasional per 1 Januari 2020,” kata Dadan, dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, di Jakarta, Kamis (19/9/2019). Dia menyebutkan hasilnya dari sisi konsumsi bahan bakar, secara rata-rata tergantung dari jenis kendaraan, plus minus 0,87 persen lebih tinggi konsumsinya. Namun bukan berarti lebih boros, karena di sisi yang lain dayanya itu lebih tinggi, performance-nya juga lebih bagus. Sedangkan emisi, semuanya lebih bagus dibanding B20 dan B0, kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan

Untuk penggunaan oli, lanjut Dadan, juga tidak ada masalah, terlebih semua kendaraan dalam road test ini melewati batasan minimum dari yang disarankan oleh Agen Pemegang Merk (APM). “Dari filter bahan bakar juga demikian, filter kan harus diganti setiap sekian kilometer, ini juga lulus”, ungkapnya. Selain itu, dalam road test ini juga terdapat uji coba menghidupkan kendaraan dalam suhu rendah, setelah 3 minggu didiamkan tanpa dihidupkan sama sekali. Kendaraan yang menggu menggunakan B30 Dapat dihidupkan kurang dari 1 detik. “Saat dihidupkan, semuanya lolos, di bawah 1 detik sudah nyala,” tandasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4066431/uji-coba-selesai-solar-campur-30-persen-biodiesel-siap-diterapkan-januari-2020

Biodiesel Magazine | Kamis, 19 September 2019

Biodiesel prices up 30 percent in Germany over past month

Buoyant demand for biodiesel in Germany, especially rapeseed methyl ester, hasn’t just driven biodiesel prices up, but also rapeseed oil prices. Wholesale prices for biodiesel have seen a sharp rise since Aug. 14, from 70.5 euro cents per liter ($2.95 per gallon) in mid-August to recently 91.6 euro cents per liter ($3.82 per gallon). This translates to an approximately 30 percent increase. The current price exceeds the level a year ago by 27 percent. The mark of 90 euro cents per liter was not cracked until November 2018. According to Agrarmarkt Informations-Gesellschaft (mbH), the price increase is due to growing demand for biodiesel. From October onwards, rapeseed methyl ester (RME), without any additives, is the primary material blended into diesel fuel in Germany and northern EU nations to ensure winter diesel quality. The fatty acid composition of rapeseed oil accounts for the edge rapeseed oil-based biodiesel has over biodiesel based on soybean oil and, above all, palm oil.

As a result, demand for RME rises every year in September, driving up prices. The requirements for winter diesel apply to diesel fuel all over the northern part of the EU. The above-mentioned property of rapeseed oil is unique. For this reason, national commitment targets indicate a minimum need for rapeseed methyl ester. Moreover, petroleum companies, which are subject to the obligation to meet the GHG reduction quota, are required to meet such quota by the end of the calendar year. This is why they are stocking up on RME for the fourth quarter. In 2019, the companies started to order RME as early as mid-August, a month earlier than the previous year. Higher demand for RME has also pulled up wholesale prices for rapeseed oil, which recently reached 73.5 euro cents per liter. Only prices for agricultural diesel have remained at a relatively constant level of around 76 euro cents per liter since July 2019.

http://biodieselmagazine.com/articles/2516787/biodiesel-prices-up-30-percent-in-germany-over-past-month

Solo Pos | Kamis, 19 September 2019

Jateng Pelopori Penggunaan Bahan Bakar B30

Jawa Tengah bersiap menggunakan bahan bakar B30 yang merupakan bahan bakar campuran 30% biodiesel pada minyak solar. Menjelang penerapan penggunaan bahan bakar B30 pada 1 Januari 2020 itu, pemerintah gencar melakukan sosialisasi di sejumlah daerah. Kepala Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, penerapan aturan B30 sebagai salah satu upaya dari pemerintah untuk menekan impor minyak. Pasalnya, saat ini Indonesia termasuk salah satu importir minyak. “Kami terus melakukan sosialisasi ke beberapa provinsi agar siap menggunakan B30, karena penggunaan bahan bakar terbarukan sesuai dengan perintah dari Presiden RI Joko Widodo,” kata Dadan di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (18/9/2019). Dia menambahkan bahan bakar B30 sudah melalui serangkaian uji coba langsung terhadap beberapa kendaraan yang menggunakan diesel. Hasilnya, B30 sangat aman digunakan untuk kendaraan.

Menurutnya, penggunaan bahan bakar B30 tidak memerlukan modifikasi khusus untuk mesin kendaraan. Pasalnya, B30 hanyalah campuran untuk mengurangi penggunaan solar sebanyak 30%. “Beberapa waktu lalu kami melakukan tes B30, hasilnya aman, sehingga publik yakin penggunaan B30 tidak berdampak signifikan pada mesin kendaraan dan tidak membebani biaya perawatan kendaraan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jateng Sujarwanto Dwiatmoko menuturkan, kebijakan penggunaan B30 akan diterapkan awal 2020 nanti. Menurutnya, Jawa Tengah sudah sangat siap menggunakan bahan bakar B30. “Jawa Tengah sudah siap menggunakan B30. Kami harap para pengusaha tambang untuk menjadi pelopor penggunaan B30,” katanya.

https://www.solopos.com/jateng-pelopori-penggunaan-bahan-bakar-b30-1019462

Tribunnews | Kamis, 19 September 2019

Hino Hybrid Bakal Menjadi Truk Paling Ramah Lingkungan

Hino Hybrid, truk ramah lingkungan yang hemat bahan bakar kembali hadir di ajang Indonesia Electric Motor Show 2019. kendaran ini menjadi kampanye Hino untuk mendukung kendaraan ramah lingkungan. Truk ini menggunakan mesin tangguh empat langkah segaris dengan turbo charge intercooler NO4C dan kombinasi HV motor memberikan bantuan daya dorong mesin untuk menghasilkan tenaga yang lebih besar. Hino Hybrid menggunakan baterai NiMH yang memiliki daya dan kehandalan yang tinggi saat berakselerasi, ditambah lagi dengan PCU yang merupakan gabungan dari ECU, inverter dan baterai yang mensupport system hybrid untuk performa yang lebih baik. Turut juga disematkan teknologi Diesel Particulate active Reduction system (DPR) dan Selective Catalytic Reduction (SCR) yang secara efektif menghilangkan partikel berbahaya dan juga mengurangi N0x, sehingga berkontribusi untuk emisi yang lebih bersih. “Kendaraan Hino dengan teknologi Hybrid dapat digerakan dengan tenaga listrik dan biodiesel sehingga lebih ramah lingkungan dan juga irit bahan bakar. Sehingga truk ini cocok digunakan di Indonesia saat ini, menjelang era peralihan kendaran bermesin diesel ke kendaran bertenaga listrik setelah penandatangan perpres kendaraan listrik oleh Presiden Jokowi,” kata Hiroo Kayanoki, Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI)

Sebagai penghasil kelapa sawit, keberadaan kendaraan Hino Hybrid akan dapat memanfaatkan sumber daya alam Indonesia yang melimpah ini. Karena kendaraan ini ini bisa memanfaatkan CPO produksi dalam negeri melalui biodiesel seperti yang dicanangkan oleh pemerintah untuk B30 di awal 2020 dan juga target B50 di akhir tahunnya. “Kendaraan Hino Hybrid, sangat kompatibel di Indonesia dengan pengoperasian stop and go untuk distribusi barang – barang atau bisnis kargo dan bus transportasi massal, karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan seperti stasiun pengisian daya,” ungkap Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI.

https://jogja.tribunnews.com/2019/09/19/hino-hybrid-bakal-menjadi-truk-paling-ramah-lingkungan

Kabar Bisnis | Kamis, 19 September 2019

Balitbangtan dorong pemanfaatan VUB sorgum bioguma

Sorgum merupakan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan dan energi, untuk itu Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus mendorong agar masyarakat memanfaatkan sorgum, khususnya varietas unggul baru (VUB) sorgum bioguma rakitan Balitbangtan. Hal tersebut disampaikan Kepala Balitbangtan, Dr Fadjry Djufry saat membuka acara Workshop Diseminasi dan Penjalinan Kerja Sama VUB Sorgum Manis Bioguma Agritan di BB Biogen Bogor, Rabu (18/9/2019). Menurut Fadjry masih banyak masyarakat yang belum mengenal sorgum sehingga perlu dilakukannya sosialisasi secara terus menerus untuk menstimulasi kebutuhan gandum dan tepung terigu.”Kita harus lebih gencar mengenalkan sorgum kepada masyarakat, termasuk pemerintah daerah karena masih banyak yang belum mengetahui potensi komoditas ini.Kalau kita bisa mengembangkan lebih jauh saya pikir kebutuhan pangan dan pakan bisa kita penuhi dari sorgum,” tambahnya. Fadjy juga menyebutkan Balitbangtan kedepan akan terus mengembangkan sorgum sesuai kebutuhan untuk pangan, pakan, dan energi.”Jika ingin dijadikan pakan maka proteinnya ditingkatkan. Kalau butuh bioetanolnya kita bisa tingkatkan lagi brix-nya. Kita juga bisa modifikasi apa-apa saja yang dibutuhkan untuk pangan nantinya,” sebut Fadjry.

Salah satu langkah kongkret Balitbangtan dalam pemanfaatkan sorgum bioguma saat ini adalah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Pada kegiatan workshop ini, Balitbangtan melakukan penandatanganan MoU dengan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dinas Perkebunan Kalteng, Dinas Pertanian Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Bogor, PT Sedana Paten Sejahtera dan PT Agro Indah Permata 12. Melalui kerja sama tersebut Fadjry berharap produk Balitbangtan lebih mudah dikenal dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarat yang lebih luas.Sorgum bioguma sendiri merupakan VUB yang baru dilepas pada April lalu. Kelebihan varietas ini diantaranya potensi hasil biji rata-rata 7 ton per hektar, brix gula dalam batang mencapai 15,5%.Sementara volume nira mencapai 122 ml dan biomasa batang 44-54 ton per hektar. Dari segi manfaat, biji sorgum bioguma dapat dijadikan pangan berupa beras dan tepung pengganti terigu. Nira dapat diolah menjadi gula cair, kecap dan bioetanol. Sementara batang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (silase) dan dapat diratun sampai tujuh kali.

https://www.kabarbisnis.com/read/2894566/balitbangtan-dorong-pemanfaatan-vub-sorgum-bioguma

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 20 September 2019

Sinergi Industri dan Akademisi Dongkrak Saing

Sinergi antara pelaku industri dan kalangan akademisi diyakini dapat mendongkrak daya saing sektor manufaktur nasional. Dengan begini, industri manufaktur dapat berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Hal itu diungkapkan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono usai meneken memorandum of understanding (MoU) Kemitraan Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat dengan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono di Yogyakarta, Kamis (19/9). Acara ini disaksikan Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Endang Suwartini, Kepala Subdirektorat Pengembangan Teknologi Industri Bahan Baku dan Mineral Maju Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Juhartono, dan dihadiri oleh civitas academica UGM serta manajemen TMMIN.

“Industri Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan daya saing. Kami yakin, salah satu kunci utama untuk mencapainya adalah dengan kemitraan yang erat dengan akademisi. Semoga beragam riset kami dengan UGM dapat mengawali hubungan yang lebih erat lagi dengan dunia pendidikan,” ujar Warih dalam keterangan resmi. Sebagai bagian dari upaya mengem-bangkan riset industri dan link match antara industri dengan akademisi, dia menuturkan, kemitraan riset antara TMMIN dan UGM mencakup topik-topik yang menjadi perhatian industri, seperti energi baru dan terbarukan, lingkungan hidup, produktivitas dan efisiensi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dalam bidang energi baru dan terbarukan, Warih menegaskan, peneliti dari UGM akan mengkaji teknologi pembuatan biodiesel dari Kelapa Sawit yang menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau. Dalam bidang lingkungan hidup, peneliti UGM akan mengkaji penggunaan tanaman kenaf yang memiliki nilai ekonomis untuk konservasi lahan gambut, serat kenaf ini juga merupakan serat organik yang memiliki beragam kegunaan.

Adapun dalam bidang produktivitas dan efisiensi, dia menegaskan, peneliti UGM akan mengkaji upaya pembetukan ekosistem yang dapat mendukung inkubasi dan pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Peneliti UGM juga akan mengembangkan kompetensi SDM berbasis industri dengan membangun robot industri berbasis kecerdasan buatan. “Ke depan, persaingan akan terjadi bukan lagi antarperusahaan atau industri melainkan antarekosistem. Oleh karena itulah, ekosistem industri yang kompetitif harus terus-menerus dibangun dengan meningkatkan kerja sama triple helix antara industri, akademisi, dan pemerintah,” ujar Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam. Riset-riset ini akan berlangsung selama enam bulan dan hasilnya selain menjadi kajian ilmiah, akan didesiminasi ke industri-industri terkait sejalan dengan semangat link and match.h Sebelumnya, TMMIN telah bermitra dengan universitas-universitas lain di Indonesia untuk riset di beragam isu seperti elektrifikasi dan lean manufacturing,