+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kabalitbang ESDM Sosialisasi B30 di Kampus

Investor Daily Indonesia | Selasa, 24 September 2019

Kabalitbang ESDM Sosialisasi B30 di Kampus

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana melakukan sosialisasi bahan bakar nabati B30 kampus Universitas Indonesia (UI) “Uji jalan B30 sudah selesai 2 hari lalu untuk jenis kendaraan yang kurang dari 3,5 ton, uji coba berjalan lancar, hasilnya (dibandingkan dengan B20) daya rata-rata meningkat 0,84%, emisi CO turun 0,1 hingga 0,2 gram per km, dan emisi PM turun 0,01 hingga 0,08 gram per km. Sesuai dengan proyeksi kita,” ungkap Dadan pada acara biodiesel Goes to Campus yang dilangsungkan di Universitas Indonesia, Depok, Senin (23/9), seperti dikutip www.esdm.go.id. Tahap pertama dalam uji jalan {roadtest) B30 dilakukan pada kelas kendaraan darat jenis mobil Pajero Sport (kurang dari 3,5 ton) telah melalui rute sepanjang 50.165,5 km dari target 50.000 km pada dua hari yang lalu, tepatnya 21 September 2019.

Sebagaimana diketahui, saat ini Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis diesel (solar) yang digunakan pada kendaraan bermesin diesel telah mengandung biodiesel (FAME) 20% atau yang disebut B20. Setelah dilaunch-ing pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Implementasi B30 sendiri akan dimulai di awal tahun 2020 nanti. Dalam roadtest tersebut, lanjut Dadan, kendaraan kurang dari 3,5 ton telah menyelesaikan perjalanan mulai dari LembangCileunyi – Nagreg – Kuningan -Tol Babakan – Slawi – Guci – TegalTol Cipali – Subang – Lembang, dengan rata-rata menempuh perjalanan 630 km/hari. “Untuk kendaraan berat lebih dari 3,5 ton masih menyelesaikan tahap uji, saat ini sudah mencapai jarak tempuh 38.005 km dari 40.000 km yang ditargetkan. Ini untuk mendapatkan konfirmasi efek penggunaan B30 pada kondisi awal dibandingkan dengan kondisi setelah jarak tempuh tertentu,” papar Dadan di depan 150 mahasiswa yang hadir pada gelaran tersebut.

Pada biodiesel Goes to Campus kali ini, Kementerian ESDM menggandeng dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Hadir narasumber dari BPDPKS, Pit. Kepala Divisi Replanting, Reforestation dan Promosi Perkebunan BPDPKS Fajril Amirul yang secara rinci membahas peran minyak Kelapa Sawit dalam pengembangan biodiesel di Indonesia. “Solar berbasis biodiesel dari minyak Kelapa Sawit ini telah berjalan sejak mandatori biodiesel pada 2015,” ungkap Fajril. Fajril juga menambahkan, saat ini tercatat produksi biodiesel Indonesia sebanyak 12,61 juta kilo liter per tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan bahan bakar minyak yang lebih ramah lingkungan. Sebagai tuan rumah, Dedi Priadi, Wakil Rektor 4 Bidang SDM dan Kerja Sama Universitas Indonesia menyampaikan dukungannya terhadap pemanfaatan minyak Kelapa Sawit dalam campuran BBM.

Riau Pos | Senin, 23 September 2019

Uni Eropa Pastikan Tak Ada Larangan Impor Sawit

Anggota Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Michael Bucki memastikan pihaknya tidak berniat mengeluarkan larangan impor kelapa sawit. Organisasi negara-negara Benua Biru itu hanya berencana mencabut insentif bagi produk dengan rekam jejak buruk soal penggundulan hutan. “Uni Eropa tidak pernah membuat larangan impor kelapa sawit. Tiap pihak dipersilakan untuk menjual kelapa sawit di Eropa tanpa ada pembatasan apapun,” kata Bucki usai menghadiri Pekan Diplomasi Iklim di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Jakarta, Senin (23/9). Bucki menjelaskan, selama 10 tahun terakhir UE memberikan insentif bagi produsen bahan bakar hayati alias biofuel. Namun, kini kebijakan tersebut dinilai mengabaikan dampak industri biofuel terhadap lingkungan hidup. Karena itu, ke depan Uni Eropa tidak lagi memberi insentif bagi perusahaan kelapa sawit yang produknya diperoleh dari penggundulan hutan atau deforestasi. “Kami cuma tidak ingin terlibat (penggundulan hutan),” kata Bucki menjelaskan.

Kebijakan itu, menurut Bucki, tak hanya menyasar kelapa sawit, tetapi seluruh tanaman yang memiliki jejak deforestasi tinggi. “Mulai 2024, bahan bakar hayati yang tak lolos sertifikasi, tak lagi mendapat insentif. Siapapun masih dapat menjual produknya di Eropa, tetapi mereka tak lagi mendapat keuntungan tambahan,” tambah Bucki. Untuk diketahui, pada Maret 2019 lalu, sejumlah pakar UE membuat rekomendasi bahwa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas tak berkelanjutan dan berisiko tinggi terhadap penggundulan hutan. Walaupun demikian, usulan itu perlu mendapat persetujuan dari Parlemen Eropa dan Dewan Eropa sebelum jadi acuan kebijakan negara-negara anggota UE. Indonesia bersama Malaysia dan Thailand merupakan produsen utama kelapa sawit yang menguasai pasar dunia. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menyatakan keberatan terhadap rekomendasi pakar UE terkait kelapa sawit.

http://riaupos.co/209430-berita-uni-eropa-pastikan-tak-ada-larangan-impor-sawit.html

CNN Indonesia | Senin, 23 September 2019

Raksasa Otomotif Jepang Gandeng UGM Bikin Biodiesel ‘Murah’

Toyota Indonesia menggandeng Universitas Gajah Mada (UGM) untuk mengembangkan biodiesel ‘murah’ dan berkualitas. Keduanya telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk bersama-sama mengembangkan kemitraan pendidikan dan penelitian khususnya di sektor otomotif. Salah satu bentuk kerja sama, yaitu pengembangan energi baru dan terbarukan. Peneliti UGM bertugas mengkaji teknologi pembuatan biodiesel dari kelapa sawit yang menghasilkan produk dengan kualitas tinggi, namun dengan harga terjangkau. Indonesia terus menggenjot melakukan perluasan penggunaan bahan bakar B20 menjadi Biodiesel 30 persen atau B30. Bahan bakar B30 rencananya mulai berlaku tahun depan. Uji coba sedang berlangsung dengan melibatkan mobil-mobil diesel yang dijual di Tanah Air. Uji coba B30 direncanakan selesai pada bulan depan.

Selain itu di bidang produktivitas dan efisiensi, peneliti UGM mengkaji upaya pembentukan ekosistem yang dapat mendukung inkubasi dan pertumbuhan Industri Menengah dan Kecil (IKM) dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Peneliti UGM juga akan mengembangkan kompetensi SDM berbasis industri dengan membangun robot industri berbasis kecerdasan buatan. “Industri Indonesia dituntut terus meningkatkan daya saing agar bisa memberikan kontribusi kepada bangsa Indonesia. Kami yakin bahwa salah satu kunci utama untuk mencapainya adalah dengan kemitraan yang erat dengan akademisi,” kata Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono dalam keterangan resmi dikutip, Senin (23/9). Toyota dan UGM, MoU juga ditandatangani oleh Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut Kementerian Perindustrian Endang Suwartini, serta Kepala Subdirektorat Pengembangan Teknologi Industri Bahan Baku dan Mineral Maju Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Juhartono. Riset Toyota dan UGM akan berlangsung selama enam bulan ke depan dan hasilnya, selain menjadi kajian ilmiah juga akan didesiminasi ke industri-industri terkait.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190922213535-384-432786/raksasa-otomotif-jepang-gandeng-ugm-bikin-biodiesel-murah

Warta Ekonomi | Senin, 23 September 2019

Gunakan Biosolar, Pengguna Wajib Ikuti Rekomendasi APM

Kebijakan penghapusan solar murni sebagai bahan bakar minya melalui Mandatori B20 telah berlangsung selama satu tahun. Tidak cukup di situ, tahun 2020 pemerintah berencana meningkatkan kadar campuran bio solar dari 20% menjadi 30% (B30). Kebijakan tersebut mendapat perhatian serius dari produsen truk dari sejumlah negara yang memasarkan produknya ke Indonesia, salah satunya adalah Mercedes-Benz, produsen otomotiF asal Jerman. Untuk menjaga kondisi mesin dan masa pakai (lifetime) sesuai dengan standar, pabrikan ini melakukan pengujian dan pengawasan yang ketat dalam penggunaan Bio Solar di Indonesia. Arizta Quintasari, Communication & Marketing Manager PT Daimler Comercial Vehicle Indonesia, selaku agen pemegang merek (APM) Mercedes di Indonesia mengungkapkan, sebenarnya di negara asal mobil tersebut, Jerman sudah diberlakukan B100 yang artinya 100% solar di sana berasal dari bahan nabati. “Di Eropa sudah B100, tapi produknya agak berbeda,” ungkap Arizta.

Mengenai mandatori B20 di Indonesia, menurut Arizta, sudah aman digunakan di mesin Mercedes. Tapi untuk rencana mandatori B30, menurut dia, sedang dilakukan penyesuaian dan pengetesan sejauh mana kesiapan Indonesia. “Setiap kebijakan baru kami langsung bergerak,” imbuh Arizta. Imam Nugroho, Field Support & Training Customer Service Technical Operation, PT Daimles Comercial Vehicle Indonesia menjelaskan bahwa untuk menjaga kondisi mesin, perusahaan merekomendasikan interval maintenance yang disesuaikan dengan bahan bakar yang digunakan, terutama ketika menggunakan biosolar, salah satu yang harus diperhatikan adalah kondisi filter. “Biodiesel akan berpengaruh ke filter,dan setiap biodiesel berbeda, tergantung kapasitas sulfur yang berbeda,” jelas Imam.

https://www.wartaekonomi.co.id/read248011/gunakan-biosolar-pengguna-wajib-ikuti-rekomendasi-apm.html

Lampost | Senin, 23 September 2019

B30 Selesai Uji, Harga CPO Naik!

PROSES pengujian menyeluruh biodiesel B30 telah selesai dan menunjukkan hasil yang konsisten. Selanjutnya, pada awal Oktober 2019 sudah bisa ditentukan alokasi pengadaan B30 oleh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU-BBN) untuk pelaksanaan program mandatory B30 mulai 1 Januari 2020. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Sujatmiko, mengatakan hasil pengujian, kinerja kendaraan, mutu bahan bakar, pelumas, dan konsumsi bahan bakar yang menggunakan bahan bakar B30 nilainya konsisten dan tidak berbeda signifikan dengan kendaraan yang menggunakan B20. “Malah ada parameter emisi dan kapasitas kendaraan berbahan bakar B30 memberikan hasil yang lebih baik,” ujar Sujatmiko selaku koordinator uji B30 kepada InfoSawit (9/9/19) Road test B30 pada kendaraan bermesin diesel ini dilakukan bersama-sama dengan semua pemangku kepentingan.

Selesainya pengujian menyeluruh biodiesel B30 dengan hasil konsisten sehingga program mandatory B30 bisa dipastikan dilaksanakan sesuai dengan Permen ESDM 12/2015, yakni mulai 1 Januari 2020, harga minyak sawit mentah (CPO) pun melonjak. Menurut CNBC Indonesia (17/9/2019) CPO mencapai harga tertinggi sejak Februari 2019, pekan lalu naik 4,38% menjadi 2.286 ringgit Malaysia/ton, atau 545,93 dolar AS/ton dengan kurs dolar AS 4,20 MYR. Ini jadi sentimen positif harga saham banyak perusahaan sawit di bursa saham. Kenaikan harga CPO yang beranjak dari 412 dolar AS/ton sebelum 2019 itu, utamanya didorong program mandatory biodiesel B20. Ini juga menekan defisit neraca perdagangan yang sebelumnya membengkak akibat pembelian BBM solar. Selain neraca perdagangan akhirnya bisa dibalik menjadi surplus, seperti pada Agustus 2019, program B20 juga menghemat devisa cukup besar. Menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, kebijakan B20 sepanjang Januari—Juli 2019 berhasil menghemat devisa sebesar 1,66 miliar dolar AS atau setara Rp23,6 triliun. “Itu dari berkurangnya impor solar,” jelasnya. (Antara, 12/8/2019) Sepanjang tahun ini pemerintah menyiapkan 6,2 juta kiloliter B20. Dengan program mandatory B30 tahun depan, efisiensi yang telah tercapai oleh B20 tahun ini akan meningkat hingga 50%. Dengan makin besarnya jumlah CPO untuk bahan bakar, akan membantu menaikkan terus harga CPO. Terpenting, kenaikan harga tersebut terjamin dibagi adil kepada petani sawit, layak menjadi perhatian pemerintah setempat.

http://www.lampost.co/berita-b30-selesai-uji-harga-cpo-naik.html

Investor Daily Indonesia | Selasa, 24 September 2019

Jonan Beberkan Transisi Energi Indonesia di Amerika

Dalam lawatannya ke Amerika Serikat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menjadi salah satu pembicara acara Energy Action Forum “Accelerating the Energy Transition on the Road to 2020 and Beyond” yang dihelat di New York, Minggu (22/9). Dalam forum ini, Menteri Jonan menyampaikan keberhasilan Indonesia dalam melakukan transisi energi fosil ke energi yang ramah lingkungan adalah dengan melalui beberapa langkah Strategis. Pertama adalah menekankan kepada kemudahan akses energi dan keterjangkauan masyarakat dalam mendapatkan energi. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals /SDG) 7, yaitu memastikan akses ke energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern. Untuk itu, Indonesia sangat berkomitmen untuk memperhatikan aksesibilitas dan keterjangkauan sebagai semangat dalam proses transisi energi. “Menyediakan energi dengan harga terjangkau adalah kunci transisi yang sukses. Kami juga memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal. Transisi energi harus sejalan dengan dua aspek ini,” kata Jonan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (23/9).

Jonan menjelaskan meskipun sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia saat ini telah mencapai rasio elektrifikasi 98,81%. “Target kami adalah untuk mencapai rasio elektrifikasi 99% pada akhir 2019, dan lebih jauh lagi, pada 2020, kami berharap dapat menyediakan listrik untuk semua rumah tangga di seluruh negeri dengan cara yang terjangkau,” jelasnya. Kedua, lanjut Jonan adalah komitmen untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan dan meningkatkan porsinya dalam bauran energi nasional. Sementara yang ketiga adalah pemanfaatan kemajuan teknologi untuk memperluas akses energi, namun tetap mempertahankan keterjangkauan dan mengakomodasi energi terbarukan ke dalam sistem. “Kami mencari teknologi yang sesuai dengan kondisi geografis In- donesia. Sebagai Negara Kepulauan, kami membutuhkan sistem yang independen. Kami harus membangun sistem yang lengkap di setiap pulaunya, yaitu pembangkit listrik dan transmisi,” ujarnya. Transisi energi di setiap negara, menurut Jonan, memiliki keunikan tersendiri, karena terkait dengan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing negara. Di Indonesia misalnya, yang merupakan negara produsen minyak Kelapa Sawit terbesar, telah menerapkan biodiesel 20% atau B20, yang terdiri dari 20% Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dan 80% minyak diesel (CN 48) untuk seluruh kebutuhan bahan bakar diesel, dan tahun 2020 nanti akan ditingkatkan menjadi B30. “Dengan menggunakan biodiesel itu lebih bersih, lebih hijau, dan berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon di sektor transportasi,” ujarnya.

Untuk mempercepat transisi energi, selain menggunakan biodiesel, Menteri ESDM juga menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah memperkenalkan mekanisme pemberian insentif penggunaan kendaraan berbahan bakar listrik sebagai sarana transportasi publik maupun pribadi, diharapkan akan menimbulkan minat masyarakat menggunakan kendaraan berbahan bakar listrik. Inisiatif lainnya yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah dengan melakukan penyederhanaan regulasi maupun peraturan. “Yang tak kalah penting adalah kolaborasi antar negara untuk saling membantu mempercepat adopsi kemajuan teknologi yang terjangkau untuk semua. Pencapaian target Paris Agreement kami akan lebih tinggi dengan dukungan internasional,” ujarnya. Sebagai informasi, The Energy Action Forum merupakan bagian dari Energy Track of the United Nation (UN) Climate Action Summit. Acara ini diselenggarakan oleh UN Secretary-General\’s Climate Action Summit Team, bersama-sama dengan anggota koalisi UN Energy Transition Track; Denmark, Ethiopia, Palau, Italia, Indonesia, Kol-rombia, Maroko, Sustainable Energy for All, International Energy Agency (IEA) dan World Bank.