+62 2129380882 office@aprobi.co.id
Kampanye-negatif-sawit-murni-motif-perang-dagang

Kampanye Negatif Sawit Murni Motif Perang Dagang

beritasatu.com – Kampanye negatif yang menyerang produk minyak sawit di Indonesia di pasar Uni Eropa (UE) murni karena motif perang dagang. Selagi produk sawit jauh lebih murah dari minyak rapeseed dan bunga matahari, UE akan terus melancarkan kampanye negatif atas produk sawit.

Dubes Indonesia untuk Belgia, Luxemburg, dan UE, Ari Havas Oegroseno, mengatakan, di UE produk sawit tidak hanya diserang dari aspek lingkungan, tapi juga kesehatan, biodiversity, dan antidumping. Indonesia sudah berkali-kali meng-counter serangan tersebut, namun tetap saja sawit Indonesia diserang kampanye negatif.

“Kami sudah menghadapi semua serangan itu, tapi tetap saja diserang, ini karena memang murni perang dagang, selagi harga sawit lebih murah, kampanye negatif akan terus dilancarkan,” kata dia saat 10th Indonesian Palm Oil Conference and 2015 Outlook (IPOC 2014) yang bertema Transforming Palm Oil Industry, Enhancing Competitiveness di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Kamis (27/11).

Oegroseno mengatakan, harga sawit saat ini hanya US$ 600-700 per ton, sedangkan minyak rapeseed dan bunga matahari di atas US$ 1.000 per ton. Ini karena rapeseed dan bunga matahari tidak bisa tumbuh sepanjang tahun seperti halnya sawit. Sementara itu, 11 juta hektare (ha) lahan di Eropa ditanami rapeseed dan bunga matahari oleh para petani di negara itu. “Jadi Eropa ingin melindungi petaninya,” kata dia.

Menurut dia, UE memang ‘jahat’. Untuk membendung sawit dari Indonesia, UE pun mengenakan sanksi antidumping sebanyak 180 juta euro kepada lima perusahaan biodiesel Indonesia sejak 2012 lalu. “Ini sebenarnya tidak berdasar. Mereka tidak berpikir bahwa petani Indonesia telah menyubsidi industri raksasa Eropa dengan sanksi itu. Petani Indonesia dengan 1-2 hektare (ha) kebun sawit mendominasi kebun sawit di Indonesia, ada 4,4 juta ha kebun petani. Sanksi itu tidak akan dicabut kecuali Indonesia menang di pengadilan Eropa,” kata dia.

Menurut dia, selama ini UE memang pasar yang besar untuk produk sawit Indonesia. UE mengimpor 24 persen kebutuhan minyak nabatinya dengan 5 juta ton di antaranya sawit dan Indonesia memasok 3 juta ton di antaranya. Ekspor Indonesia ke Eropa mencapai US$ 16 miliar dan US$ 2,8 miliar di antaranya dari sawit. “Namun dengan serangan yang terus bertubi-tubi, ekspor sawit Indonesia ke UE merosot, khusus biodiesel misalnya tahun lalu tinggal 400 ribu ton padahal tahun sebelumnya sampai 1,7 juta ton,” ungkap Oegroseno.

Menurut Oegroseno, untuk menangkis kampanye negatif, pihaknya telah melakukan kampanye kasus per kasus, misalnya ketika diserang bahwa sawit Indonesia merusak orang utan maka kampanye juga difokuskan pada masalah tersebut. “Diplomasi ekonomi juga terus kami lakukan, termasuk kami juga melakukan kampanye melalui media masa. Untuk mengatasi kampanye negatif memang harus ada kerja sama semua pihak,” kata dia.

Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengungkapkan, pemerintah Indonesia sendiri sudah melakukan keberatakn ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas sanksi antidumping tersebut. Dalam waktu dekat, Indonesia akan melakukan panel atau konsultasi. “Perusahaan yang dikenai antidumping juga melawannya di pengadilan Eropa, tapi belum ada progres,” ungkap dia