+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kebijakan B20 Bisa Angkat Bisnis Pelayaran

Harian Kontan | Selasa, 23 Oktober 2018

Kebijakan B20 Bisa Angkat Bisnis Pelayaran

Per 1 September tahun ini, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan penggunaan bahan bakar Biodiesel sebesar 20% atau B20. Namun implementasi program B20 belum maksimal karena terkendala ketersediaan kapal angkut biodiesel. Keberadaan kapal sangat diperlukan untuk membawa dan mendistribusikan B20 ke berbagai wilayah di Tanah Air. Para pengusaha pelayaran meyakini kebijakan tersebut memberikan dampak positif bagi bisnis mereka. Meski demikian, perusahaan pelayaran mengaku keinginan menambah kapal angkut tidak terkait langsung dengan kebijakan pemerintah. Sejatinya, permintaan terhadap Biodiesel secara umum memang terus meningkat sehingga tren itu perlu ditangkap sebagai peluang bisnis. Misalnya, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menambah dua unit kapal angkut biodiesel. Satu unit kapal sudah dalam tahap pembangunan di Jepang. Sedangkan satu unit kapal lagi masih proses negosiasi. Direktur SMDR Bani M Mulia mengatakan, penambahan kapal angkut Biodiesel dilakukan karena adanya peningkatan permintaan pasar. “Namun tidak terkait langsung kebijakan B20,” terang dia kepada KONTAN, Senin (22/10).

Untuk mendatangkan dua unit kapal tersebut, Samudera Indonesia mengalokasikan dana investasi sekitar US$ 35 juta. Kini SMDR memiliki lima unit kapal yang khusus mengangkut biodiesel. Sedangkan PT Logindo Sa-mudramakmur Tbk (LEAD) belum melirik peluang bisnis dari angkutan biodiesel. Pasalnya, perusahaan ini masih fokus mengerek utilitas kapal. Per Juni 2018, utilitas kapal LEAD mencapai 57%. Angka ini meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 50%. Oleh sebab itu, Login-do terus membidik kontrak baru agar utilitas kapal meningkat. LEAD ingin memenangi tender kegiatan operasi Pertamina Hulu Mahakam. Sejauh ini, Logindo telah mengantongi kontrak baru senilai Rp 9 miliar. “Ini kontrak kecil yang tidak sampai satu tahun,” ujar Sekretaris Perusahaan LEAD Adrianus Iskandar, kemarin. Kontrak itu mulai berlaku efektif Desember 2018 nanti. “Tapi setidaknya tiga kapal jenis hopper barge milik LEAD beroperasi yang tentu meningkatkan utilitas kapal,” kata dia.

Bisnis Indonesia | Selasa, 23 Oktober 2018

Kunci Energi Terbarukan di Pemerintah

JAKARTA – Pengembangan energi baru dan terbarukan yang lebih ramah lingkungan perlu mendapatkan dukungan regulasi dari pemerintah. Rektor Univeritas Pertamina Akhmaloka mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Dia memproyeksikan, prosi energi hijau pada 2050 dapat mencapai 20% dari total energi yang dikonsumsi. Saat ini, bauran energi terbarukan di Indonesia baru mencapai sekitar 8%. “Jadi alternatifnya ya energi baru dan terbarukan,” katanya dalam International Conference on Science, Management, Engineering 2018, Senin (22/10). Menurutnya, sampai saat ini energi yang paling mendapatkan dukungan dari masyarakat berupa baterai. Namun, baterai masih memiliki beberapa kekurangan, seperti terbatasanya daya simpan energi. “Mobil listrik itu dulu baterainya masih 300 kg. Mobilnya berat hanya untuk bawa baterai, padahal penumpangnya gak ada. Kemudian daya simpan itu kurang. Kalau mau bolak-balik Bandung-Jakarta itu harus di diisi ulang paling enggak 4 jam, itu tidak efisien.” Menurutnya, saat ini beberapa pihak tengah mengembangkan generasi kedua dari baterai agar lebih efisien. Bahkan, imbuhnya, dalam diskusi dengan Pertamina, BUMN itu juga pernah berencana untuk membeli industri baterai. “Kuasai hilir baru ke hulu.”

Akhmaloka menjelaskan, Indonesia sebetulnya memiliki banyak potensi untuk mengembangkan eneip baru terbarukan. Dalam hal ini, dia mengatakan, Indonesia memiliki potensi panas bumi mencapai 40% dari total cadangan dunia. “Geotermal kita itu terbesar potensinya. Sekitar 40% ada di Indonesia, sebagian besarnya ada di Jawa Barat. Cuma memang geotermal itu tidak bisa dibawa ke mana-mana. Nah sebetulnya yang paling perlu itu regulasi. Jadi regulasi keberpihakan pemerintah.” Pemerintah perlu fokus dalam pengembangan bahan bakar nabati sebagai energi terbarukan. Akhmaloka menambahkan, Indonesia cukup tertinggal dalam pengembangan bahan bakar nabati, baik Biodiesel maupun bioetanol, dibandingkan dengan Brasil. Apalagi, harga minyak dunia akhir-akhir ini cenderung meningkat. “Di Brasil, itu lagi mengembangkan Biofuel (bahan bakar nabati) karena harga minyaknya mahal. Mereka tidak memberikan subsidi minyak,” katanya. Dalam hal ini, salah satu kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan subsidi pada bahan bakar minyak sehingga harga bahan bakar nabati cenderung lebih mahal dibandingkan dengan energi fosil.

“Kalau di sini minyak disubsidi, biofuel-nya enggak [disubsidi]. Jadi, terkesan mahal harga biofuel ketimbang minyak.” Menurutnya, kebijakan subsidi energi fosil telah memengaruhi perilaku konsumen. Harga energi fosil menjadi lebih murah dibandingkan dengan bahan bakar nabati. Hal itu akhirnya berdampak terhadap riset dan pengembangan bahan bakar nabati yang kurang agresif. “Jadi tidak ada konsumen. Kalau tidak ada konsumen, orang risetnya ya malas.” Dia mengatakan bahwa saat ini energi terbarukan yang paling siap adalah nuklir. Hanya saja, minimnya edukasi dan pemberitaan negatif terkait dengan nuklir membuat banyak masyarakat menjadi antipati. “Ya sebetulnya kalau berbicara jujur itu nuklir paling siap, tetapi dampak sosial terhadap nuklir, kalau kata ahli, nuklir itu aman. Cuma banyak berita jelek jadi tidak populer. Saya kira Menteri ESDM harus punya peran dengan memberikan informasi publik yang cukup bagus [soal nuklir).”

Kontan | Senin, 22 Oktober 2018

Samudera Indonesia (SMDR) Berencana Tambah Dua Kapal Angkut Biodiesel

JAKARTA. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) berencana menambah kapal pengangkut biodiesel. Saat ini jumlah kapal SMDR yang mengangkut biodiesel sebanyak lima unit. Direktur SMDR Bani M Mulia mengatakan pihaknya saat ini sedang memesan dua unit tambahan kapal angkut biodiesel. “Satu dalam pembuatan di Jepang satu lagi sedang proses negosiasi,” katanya kepada Kontan.co.id pada Senin (22/10). Kapal yang kini dalam proses perakitan di Jepang diperkirakan mulai beroperasi pada tahun depan. Sementara satu kapal yang kini masih proses negosiasi diperkirakan baru beroperasi pada 2020. Bani menambahkan nilai investasi SMDR pada dua kapal tersebut diperkirakan sebesar US$ 35 juta.

https://industri.kontan.co.id/news/samudera-indonesia-smdr-berencana-tambah-dua-kapal-angkut-biodiesel

Kontan | Senin, 22 Oktober 2018

Penambahan kapal angkut biodiesel Samudera Indonesia (SMDR) tidak terkait B20

JAKARTA. Kebijakan pencampuran minyak sawit dalam bahan bakar mesin diesel atau biodiesel 20% (B20) bukan menjadi alasan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menambah kapal angkut biodieselnya. Sekedar tahu, SMDR berencana menambah dua unit kapal angkut biodiesel. Satu bahkan sudah pada tahap pembangunan di Jepang, sementara satu unit lagi masih dalam proses negosiasi. Direktur SMDR Bani M Mulia mengatakan penambahan kapal angkut biodiesel dilakukan murni karena adanya peningkatan permintaan. “Tidak terkait kebijakan B20,” terangnya kepada Kontan.co.id pada Senin (22/10). Untuk mendatangkan dua unit kapal itu, diperkirakan investasi yang akan dikeluarkan SMDR sebesar US$ 35 juta. Saat ini SMDR memiliki lima unit kapal yang mengangkut biodiesel.

https://industri.kontan.co.id/news/penambahan-kapal-angkut-biodiesel-samudera-indonesia-smdr-tidak-terkait-b20