+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kelebihan Stok CPO Bisa Teratasi:

Kelebihan Stok CPO Bisa Teratasi: Mandatori kandungan biodiesel sebanyak 30% dalam bahan bakar minyak diharapkan dapat segera ditetapkan guna menyelesaikan permasalahan kelebihan pasokan minyak kelapa sawit. “Ini permasalahan kita memang kelebihan pasokan, dan kita tidak akan bisa menghentikan pasokan itu, tidak seperti mengelola tambang,” ujar Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami kepada Bisnis, Kamis (12/7). Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) pada Mei mencapai 4,24 juta ton atau naik 14% dibandingkan dengan April yang hanya 3,72 juta ton. Produksi pada Mei tersebut mengerek stok minyak sawit Indonesia menjadi 4,76 juta ton dari 3,98 juta ton pada bulan sebelumnya. Dono menjelaskan, stok berlebihan itu dipicu oleh turunnya ekspor CPO karena tensi pasar global yang sedang tinggi. “Permintaan dunia (terhadap CPO) turun. India menaikkan bea masuk kelapa sawit, Eropa menuntut [penghapusan biodiesel berbahan dasar sawit pada 2030), Amerika juga. Kita harus cari pasar yang baru supaya [kelebihan stok] bisa terserap,” katanya. Jika ditelisik lebih dalam, sebutnya, kapasitas produksi biodiesel di Indonesia saat ini hanya 30%, atau menghasilkan 3,5 juta kilo liter/tahun. Hal itu adalah indikasi produksi biodiesel domestik sangat mungkin untuk ditingkatkan, terlebih dalam keadaan pasokan CPO yang berlebih. “Bahkan, kalau kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral [Ignasius Jonan], dia juga bersedia jika penggunaan biodiesel ditingkatkan hingga 100%, tinggal tunggu kajiannya saja,” tutur Dono. Menurutnya, penyerapan minyak kelapa sawit untuk keperluan biodiesel juga dapat menjawab keluhan dari para pelaku industri dan pelaku usaha tentang aturan pungutan ekspor pada sejumlah produk turunan CPO, seperti minyak goreng. {Bisnis, edisi 11/7). “Permasalahan kita sebenarnya bukan tentang tarif [ekspor], tetapi kita saat ini juga sedang menyeimbangkan neraca stok dan permintaan [CPO] itu. Kalau ini sudah seimbang, harga CPO dengan sendirinya meningkat lagi,” tuturnya. MASIH DIKAJI. Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi [EBTKE] Kementrian ESDM Rida Mulyana mengungkapkan, pemerintah masih membahas mengenai penggunaan kandungan biodiesel sebesar 20% dalam BBM (B20), sedangkan untuk biode-sel 30% (B30) masih dalam pengkajian. “Fokus saat ini baru biodiesel 20% saja dan itu yang akan jalan terlebih dulu,” tegasnya saat dijumpai di gedung Kemenko Perekonomian, Kamis (12/7). Dia mengungkapkan, untuk B20, pemerintan akan memperluas penggunaannya untuk BBM non-Public Service Obligation (PSO). “Suratnya menunggu Peraturan Presiden (Perpres) direvisi. Revisi Perpresnya dipercepat besok [13/7] atau lusa [14/7],” tuturnya. Dari kalangan pelaku usaha. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengaku siap menjawab kebutuhan pemerintah untuk mandatori B30. “Kami sudah siap biodiesel 20% dan memang kami sudah mempersiapkan untuk biodiesel 30%. Hanya saja, memang ada beberapa perusahaan yang harus ditingkatkan utilitasnya,” ujarnya saat dimintai konfirmasi. Menurutnya, saat ini anggota Aprobi telah memiliki 20 pabrik produsen biodiesel dengan total produksi mencapai 2,6 juta kilo liter/tahun. Adapun, kapasitas produksinya bisa mencapai 12 juta kilo liter/tahun. Dengan kapasitas yang besar itu, sebutnya, Aprobi masih mempunyai ruang untuk memproduksi biodiesel lebih banyak. “Daripada kita impor BBM dari luar, kan lebih baik kita produksi di dalam negeri dan itu juga bisa menghemat cadangan devisa.” (BISNIS INDONESIA)

Asosiasi Produsen Dukung Penuh Peningkatan Biodiesel: Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mendukung arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan agar ke depannya dapat ditingkatkan peningkatan biodiesel dalam rangka mengatasi tekanan ekonomi global. “Kami mendukung arahan Presiden dan Menperin untuk lebih menggunakan Biodiesel guna mengurangi impor balian bakar juga penghematan devisa kita,” kata Paulus sebagaimana disalin dari Antara. Paulus mengutarakan harapannya agar penggunaan biodiesel jenis B20 bisa cepat diperluas di dunia industri yang ada di berbagai daerah di Tanah Air. Ia berpendapat jika hal itu bisa dilaksanakan dengan baik maka akan signifikan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, yang sekitar setengahnya adalah impor. Terkait kesiapan teknologi, ujar dia, saat ini semua pemangku kepentingan saat ini sedang menyiapkan program B30. “Termasuk kesiapan teknis nya seperti standar Biodiesel yang lebih baik, uji laboratorium dan uji jalan,” paparnya. Anggota Komisi Xl DP-R Mukhamad Misbakhun menyoroti pengalokasian dana terhadap pengembangan biodiesel yang seharusnya bisa disamakan dengan jumlah alokasi untuk komoditas lainnya seperti untuk kelapa sawit. “Kami memperoleh data bahwa alokasi untuk biodiesel jumlahnya sangat besar. Apakah kemudian tidak lebih penting jika kita mengutamakan untuk pengalokasian untuk peremajaan kelapa sawit,” kata Misbakhun dalam rilis, sebagaimana disalin dari Antara. Menurut dia, pihaknya mengkritik pengalokasian dana terhadap biodiesel yang jumlahnya dinilai lebih besar dibandingkan dengan alokasi lainnya. Untuk itu, politisi Partai Golkar tersebut menyatakan bahwa akan lebih baik bila dana itu digunakan untuk mendahulukan kepentingan masya-rakatyairu mengutamakan perkebunan kelapa sawit milik rakyat Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta kandungan nabati pada bahan bakar biodiesel ditingkatkan menjadi 30 persen sebagai satu langkah menghadapi tekanan ekonomi global. “Bapak Presiden menyampaikan untuk dikaji juga penggunaan biodiesel hingga 30 persen,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Har-tarto usai rapat terbatas membahas tekanan ekonomi global terhadap kurs rupiah dan ekonomi nasional yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (9/7). Menperin Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan meningkatkan konsumsi biodiesel sebesar 500.000 ton per tahun. Untuk itu, lanjutnya, Presiden juga meminta untuk segera dibuatkan kajiannya. Selain itu, kata Menperin, dalam rapat juga diminta untuk mengkaji industri-industri nasional bisa meningkatkan utilisasinya seperti kilang minyak di Tuban, Jatim, sehingga bisa lebih banyak memasok kebutuhan petrokimia dan BBM domestik. Airlangga mengungkapkan rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (NERACA)

Palm oil production adequate to produce B30 biofuel: The palm oil producers who are members of the Indonesian Palm Oil Business Association (Gapki) said national palm oil production is sufficient for the development of biofuels with 30 percent palm oil content or B30. Chairman of Gapki Joko Supriyono in Jakarta, Thursday said that palm oil (CPO) production is sufficient for increasing the CPO content of biofuel (B30) product. “The key is not in raw materials, but in market absorption,” he said in response to President Joko Widodo`s request that the mix of palm oil in biodiesel be increased from 20 percent to 30 percent. Earlier, Minister of Industry Airlangga Hartarto, after a limited meeting with the president and other ministers, said President Joko Widodo requested a mixed increase of palm oil in biodiesel from 20 percent to 30 percent “Another thing that the president conveyed related to biodiesel 20 percent is his request that the use of B20 to B30 should be studied,” said Airlangga, Monday. According to Joko Supriyono, so far the absorption of biodiesel is relatively dependent on the transportation sector. Thanks to the mandatory biodiesel rule of 20 percent (B20) that has been applied to fuels (BBM), the absorption of vegetable oil commodities is much focused in the vehicle sector. “So with the addition of the 30 percent portions, automatic biodiesel market will increase,” he said. Previously, the Indonesian Biofuel Producers Association (Aprobi) stated that it supports President Joko Widodo who wants to increase biodiesel in order to overcome the global economic pressure. “We support the direction of the President and the Minister of Industry to better use Biodiesel to reduce fuel imports as well as our foreign exchange savings,” said Aprobi, Chief Executive Paulus Tjakrawan when contacted by Antara in Jakarta on Wednesday. Aprobi estimates domestic biodiesel absorption to reach 3.5 million kiloliters (kl). The details of 2.8 million kl-3 million kl are for Public Service Obligation (PSO) while 500,000 kl will be absorbed for non-PSO needs. With the use of B30 replacing B20, the consumption of biodiesel is expected to increase by 500,000 tons per year. This year Aprobi targets biodiesel production to reach 3.5 million kiloliters. Whereas the actual production capacity can reach up to 11 million tons. (ANTARA)

https://en.antaranews.com/news/116596/palm-oil-production-adequate-to-produce-b30-biofuel

Pengusaha Siap Penuhi Penambahan Porsi Biodiesel: Pengusaha biodiesel siap memenuhi permintaan penambahan porsi biodiesel Indonesia seperti arahan Presiden Joko Widodo belum lama ini. Hal ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor untuk merespon permintaan Presiden untuk menambah porsi biodiesel dart 20% menjadi 30%. Belum lama ini, Presiden Joko Widodo mengeluarkan arahan mengkaji penambahan porsi biodiesel dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi 30% atau kerap dikenal sebagai B30. “Dari sisi produsen minyak sawit, kami siap menyanggupi permintaan tersebut,” kata MP Tumanggor di Jakarta pada 10 Juli 2018. Menurut dia, kapasitas produksi Aprobi mencapai 11 juta ton per tahun. Dari kapasitas ini, permintaan 30% itu setara dengan 6 juta ton dari total produzis tahunan. Porsi ini tidak menganggu produsen biofuel maupun sektor kelapa sawit. Dia memperkirakan tahun ini produksi kelapa sawit bakal mencapai 40 juta ton. Angka ini merangkak naik dari capaian tahun sebelumnya di kisaran 38 juta ton. Dengan penggunaan B30 menggantikan B20, maka kondusmi biodiesel akan meningkat menjadi 500.000 ton per tahun. Dari perhitungan ini, Tumanggor optimis pihaknya dapat mendorong realisasi dari kebijakan yang diyakini bisa mengurangi ketergantungan sektor migas pada impor serta mengurangi polusi kendaraan. (NASIONALISME)

http://www.nasionalisme.co/pengusaha-siap-penuhi-penambahan-porsi-biodiesel/

Biodiesel Ditingkatkan, Pasar CPO Indonesia Tertolong: Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar, Idwar Hanis mengatakan dengan adaya rencana pemerintah dalam penggunaan kandungan lokal bahan bakar biodiesel ditingkatkan menjadi 30 persen akan perkuat produk minyak sawit mentah (CPO) nasional. “Tentang rencana tersebut kita sambut baik karena hal tersebut memperkuat posisi tawar produk CPO nasional,” ujarnya di Pontianak, Kamis 12 Juli 2018. Ia menambahkan dengan rencana kebijakan tersebut juga akan menghemat beban subsidi negara terhadap BBM. “Terpenting lagi bagaimana dengan kebijkan pemerintah yang akan dilakukan akan juga mengurangi tekanan perang dagang terhadap produk CPO dari Indonesia,” jelas dia. Idwar menyebutkan pasar produk CPO juga dipastikan akan meningkat sehingga petani atau perusahan kebun akan diuntungkan. “Kita berharap apa yang dicanangkan terealisasi dengan baik dan membawa dampak positif bagi daerah ini,” jelas dia. Petani sawit Kalbar, Ledi, menyambut baik rencanan peningkaran bahan bakar biodisel di Indonesia dari 15 persen menjadi 30 persen. Menurutnya dengan hal itu akan membuka pasar terutama bagi CPO. “Harapanya harga sawit akan naik karena harga tidak dimainkan atau tergantung negara yang membeli sawit kita,” katanya. Dari data Gapki, hingga saat ini, luas lahan sawit di Kalbar mencapai 1.144.185 hektare dari total perkebunan di Kalbar seluas 2.050.152 hektare. Sedangkan untuk total produksi CPO tahun 2017 sudah mencapai 2.168.136 ton. (EKSPOS NEWS)

http://eksposnews.com/agribisnis/Biodiesel-Ditingkatkan–Pasar-CPO-Indonesia-Tertolong

Panasnya Hubungan Dagang Amerika Serikat dan China Mulai Pengaruhi Pasar Minyak Nabati: Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China semakin panas, Amerika telah mulai menerapkan tarif pajak tinggi kepada barang dari China dan Negeri Tirai Bambu tidak tinggal diam. Retaliasi pun dibalas secara proporsional dengan mengurangi pembelian kedelai dari AS. Eskalasi perselisihan dagang kedua negara Adi Kuasa ini mulai berpengaruh pada minyak nabati lainnya yang merupakan salah satu komoditi perdagangan kedua negara tersebut. Dengan pengurangan pembelian kedelai oleh China menyebabkan stok kedelai di AS melimpah. Di sisi lain China telah mempersiapkan diri dengan munumpuk stok di dalam negeri jauh hari sebelum perselisihan dagang dimulai. Melimpahnya stok kedelai AS dan permintaan pasar global yang lemah hargapun mulai jatuh. Pada saat yang sama stok minyak nabati lain seperti rapeseed, bunga matahari dan minyak sawit juga cukup melimpah di negara produsen. Akibatnya harga minyak nabati menurun karena hukum ekonomi mulai berlaku, ketersediaan barang melimpah, permintaan sedikit, maka harga murah. Sepanjang Mei 2018, volume ekspor minyak sawit secara total termasuk biodiesel dan oleochemical membukukan penurunan sebesar 3% atau dari 2,39 juta ton di April susut menjadi 2,33 juta ton pada Mei. Khusus volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada Mei 2018 tercatat menurun 4% dibandingkan dengan April lalu atau dari 2,22 juta ton di April merosot menjadi 2,14 juta ton di Mei. Penurunan ekspor dipengaruhi stok minyak nabati lain yang melimpah di pasar global sehingga harga yang murah juga tidak mendongkrak permintaan. Pada Mei ini, volume ekspor CPO dan turunannya ke Pakistan meningkat 29%. Peningkatan impor yang cukup signifikan setelah selama 3 bulan terakhir stagnan. Naiknya volume ekspor di Pakistan karena harga minyak sawit yang sedang murah sehingga para traders memanfaatkan kesempatan untuk menggendutkan stok minyak sawitnya. Peningkatan volume ekspor juga diikuti negara tujuan ekspor di Afrika yang membukukan kenaikan sebesar 29,5% atau dari 176,64 ribu ton di April terkerek menjadi 228,75 ribu ton di Mei. Ini adalah volume tertinggi sepanjang tahun 2018. AS dan China yang sedang berseteru juga mengeskalasi impor minyak sawitnya pada Mei ini. China membukukan kenaikan 6% dan AS mencatatkan kenaikan 18%.Pada sisi lain, turunnya harga tidak mampu menarik pembeli dari India untuk menimbun stok minyak sawit. Sejak tarif bea masuk yang tinggi untuk minyak sawit permintaan India mengalami kelesuan dan sudah pada tahap akut. Pada Mei ini, India mencatatkan penurunan impor CPO dan turunannya sebesar 31% atau 346,28 ribu ton turun merosot menjadi 240,16 ribu ton. Pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stock minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan. Beralih ke negara Benua Biru, Ekspor ke Uni Eropa sudah dipastikan menurun karena melimpahnya produksi minyak bunga matahari dan rapeseed. Sepanjang Mei Uni Eropa membukukan penurunan impor sebesar 7% atau dari 385,10 ribu ton di April menyusut menjadi 359,31 ribu ton di Mei. Membaca situasi pasar yang semakin tidak menentu, dengan semakin memanasnya perselisihan dagang AS dan China, pemerintah Indonesia diharapkan mulai memberikan perhatian khusus kepada industri minyak sawit untuk menjaga agar harga minyak sawit tidak terus merosot. (INDUSTRY)

http://www.industry.co.id/read/37839/panasnya-hubungan-dagang-amerika-serikat-dan-china-mulai-pengaruhi-pasar-minyak-nabati

Pemerintah akan Terapkan Biodiesel 20% untuk Sektor Non Subsidi: Pemerintah berencana merevisi aturan biodiesel 20% (B20) atau bahan bakar nabati 20% untuk masuk ke sektor non subsidi atau non PSO. Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan rencana tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi defisit neraca perdagangan dari sektor industri. Sebab dengan memperluas sektor penggunaan B20 diharapkan bisa mengurangi nilai impor BBM. “Nah, B20 kita itu sebagian besar masih digunakan untuk PSO saja dan non PSO belum. Nah kita ingin memperluasnya masuk ke non PSO, tentu ada yang harus diubah,” ujar Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta. Perubahan yang dimaksud Darmin adalah revisi beberapa pasal di PP Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan. Darmin memberi contoh sektor non PSO, seperti pembangkit listrik tenaga diesel, alat berat di pertambangan dan otomotif. Sedangkan, selama ini B20 masih dimanfaatkan oleh sektor PSO, seperti transportasi publik dan kereta api. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana menambahkan keputusan menggunakan B20 untuk non PSO telah disetujui dalam rapat di Kemenko Perekonomian, namun, masih harus diikuti revisi PP 61 tersebut. “Diputuskan B20 jalan untuk non PSO juga. Nunggu dulu Perpresnya direvisi,” terangnya. (DETIK)

https://finance.detik.com/energi/d-4112260/pemerintah-akan-terapkan-biodiesel-20-untuk-sektor-non-subsidi

Media Asing Soroti Kebijakan Indonesia Hadapi Perang Dagang Global: Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Cina serta kebijakan pengenaan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump kepada sejumlah negara Eropa, Asia dan Amerika juga berimbas kepada Indonesia. Untuk mengurangi potensi negatif tersebut, Pemerintah Indonesia mengumumkan sejumlah langkah antisipasi. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan investor serta menekan pelemahan rupiah. Asian Economic, memberitakan dalam menyikapi perang dagang global khususnya antara AS dan Cina, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta para menterinya untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Para menteri tersebut diminta mempelajari produksi 30 persen biodiesel campuran, karena setiap upgrade 20-persen pencampuran akan meningkatkan penggunaan impor untuk campuran biodiesel sebesar 500.000 ton per tahun. Indonesia menjanjikan peningkatan industri nusantara, mengurangi permintaan impor bahan baku, dan meningkatkan pariwisata dengan mendorong maskapai murah dan merenovasi bandara. “Perluasan komoditas untuk keperluan domestik diperlukan, seperti kebijakan yang semakin melunak pada produk minyak sawit Uni Eropa,” kata Jokowi. “Semua orang melihat bahwa masalahnya adalah ketidakpastian dari sisi kebijakan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengurangi, meminimalkan risiko yang dihadapi industri,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Joko Widodo menggelar pertemuan dengan para menteri setelah Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif 25 persen pada ekspor Cina senilai USd34 miliar. Tarif tersebut menyebabkan Cina sengaja membiarkan Yuan melemah untuk mempersiapkan langkah Trump selanjutnya. Dalam beberapa minggu terakhir, Bank Rakyat China mendorong Yuan melemah terhadap dolar AS. Yuan yang lemah mengurangi biaya ekspor China tetapi dapat merugikan ekonomi ASEAN dengan mempengaruhi kemampuan Tiongkok untuk membeli bahan mentah. Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pihak berwenang akan memberikan insentif kepada para pabrikan yang ingin memindahkan operasi mereka dari industri Jawa Barat ke provinsi-provinsi yang berpenduduk lebih padat seperti Jawa Tengah, di mana tenaga kerja dan biaya tanah lebih rendah. Pulau Jawa, pulau di mana Jakarta berada, memiliki sekitar 60 persen penduduk Indonesia sekitar 250 juta, sementara hanya 7 persen dari wilayahnya. (AKURAT)

https://akurat.co/ekonomi/id-251657-read-media-asing-soroti-kebijakan-indonesia-hadapi-perang-dagang-global

Mei, Produksi CPO 4,24 Juta Ton: Produksi minyak sawit mentah CPO pada Mei 2018 mencapai 4,24 juta ton. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono, mengatakan, produksi pada Mei 2018 menunjukkan peningkatan sebesar 14% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,72 juta ton. Produksi bulan Mei ini juga mengerek stok minyak sawit Indonesia meningkat menjadi 4,76 juta ton dibanding pada bulan lalu di 3,98 juta ton. Sementara dari sisi harga, sepanjang Mei harga CPO global bergerak di kisaran US$650–US$670 per metrik ton dengan harga rata-rata US$653,6 per metrik ton. Harga rata-rata Mei menurun US$8,6 dibandingkan harga rata-rata pada April lalu US$662,2 per metrik ton. “Harga minyak sawit pada bulan mendatang diperkirakan akan cenderung menurun karena stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia,” kata Mukti di Jakarta. Mukti juga mengatakan, sepanjang Mei 2018 ekspor minyak sawit Indonesia justru mengalami penurunan, yaitu mencapai 2,14 juta ton atau turun sekitar 4% di bandingkan April 2018 yang mencapai 2,22 juta ton. Perolehan ini belum termasuk biodiesel dan oleochemical. (WARTAEKONOMI)

https://www.wartaekonomi.co.id/read187154/mei-produksi-cpo-424-juta-ton.html

Lebih Optimistis, BI Ramal Neraca Dagang Juni Surplus US$ 1 Miliar: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperbaiki prediksi neraca perdagangan Juni yang akan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Dengan optimistis, pemimpin bank sentral itu meramal perdagangan Indonesia surplus hingga US$ 1 miliar pada bulan lalu. Menjelang Lebaran, impor alat-alat strategis untuk kebutuhan infrastruktur dan bahan makanan memang meningkat sebagai faktor musiman. Dengan mulai meredanya impor, neraca perdagangan pun akan kembali surplus. Selain impor mereda, surplus neraca dagang didukung oleh membaiknya kinerja ekspor. eraca dagang tercatat defisit pada Januari, Februari, April dan Mei tahun ini. Defisit besar terjadi pada April yaitu US$ 1,6 miliar dan berlanjut pada Mei yaitu sebesar US$ 1,5 miliar. Defisit bulanan itu merupakan yang terbesar sejak Mei 2014. Dengan perkembangan tersebut, defisit neraca dagang telah mencapai US$ 2,8 miliar tahun ini. Saat ini, pemerintah sedang berupaya mengurangi defisit neraca dagang lantaran hal itu juga memperburuk pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Salah satu upaya yang ditempuh yakni akan meningkatan konsumsi biodiesel untuk mengurangi impor minyak dan gas (migas). Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan sektor migas menjadi penyumbang defisit terbesar dalam neraca perdagangan Januari hingga Mei 2018. “Impor migas perlu diperlambat, salah satu caranya dengan meningkatkan penggunaan biodiesel,” kata Darmin di Jakarta. (KATADATA)

https://katadata.co.id/berita/2018/07/12/lebih-optimistis-bi-ramal-neraca-dagang-juni-surplus-us-1-miliar

Kurangi Defisit, Pemerintah Perluas Penggunaan Biodiesel B20: Setelah memutuskan sejumlah startegi yang akan digunakan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan. Pemerintah mulai serius melakukan implementasinya. Salah satunya dengan mengubah berbagai regulasi yang diyakini mampu memperbaiki neraca tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution hari ini memanggil Menteri Perindustrian untuk melakukan rapat koordinasi terkait optimalisasi pemanfaatan biodiesel B20. Dirinya mengatakan pemerintah sedang menyiapkan dan mengambil langkah-langkah untuk menjawab situasi defisit neraca perdagangan saat ini. Hal itu agar tekanan terhadap mata uang Garuda tidak terlalu besar. Sebab, gejolak ini disebabkan oleh faktor global yakni kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. “BI sudah menaikkan bunga kebijakan dan kini saatnya pemerintah juga mengambil langkah-langkah untuk memengaruhi neraca perdagangan,” katanya. Darmin mengemukakan saat ini diskusi pada level pengambil kebijakan pun sudah panjang, ada sejumlah sektor yang benar-benar akan didorong sebagai jurus andalan yakni pariwisata dan perindustrian. Lebih kongkrit, dalam bidang perindustrian pemerintah akan memperluas penggunaan B20 yakni bukan hanya untuk PSO tetapi juga non-PSO. Untuk itu, pemerintah akan merubah peraturan presiden atau Perpres Nomor 61/2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. “Ini Perpres sudah lama tapi belum bisa jalan karena masih ada yang belum diatur pelaksanaan di dalamnya. Kita akan ubah tidak banyak hanya satu atau dua pasal kok,” ujar Darmin. Pasal yang akan direvisi antara lain biaya penggantiannya atau selisihnya sebab jika non-PSO itu sebenarnya mitra dengan Badan Usaha. Adapun salah satu sektor non-PSO yakni pembangkit listrik tenaga diesel atau alat-alat berat di pertambangan, atau bisa juga sektor otomotif. Menurutnya, dengan strategi itu impor BBM akan terpengaruh akan berkurang walaupun belum hilang. Jadi, lanjut Darmin, nanti setelah digabung dengan langkah-langkah bidang pariwisata dan perindustrian pemerintah percaya dalam waktu dekat bisa menekan defisit walau tidak hilang serta merta. Tak hanya itu, dengan perluasan B20 ini akan mengurangi penggunaan solar sebab jika dicampur CPO, harga CPO akan membaik. (BISNIS)

http://finansial.bisnis.com/read/20180712/9/816130/kurangi-defisit-pemerintah-perluas-penggunaan-biodiesel-b20