+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kementan Berhasil Kembangkan Biodiesel BI00

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 22 Februari 2019

Kementan Berhasil Kembangkan Biodiesel BI00

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui program penelitian berhasil mengembangkan bahan bakar biodiesel B100 atau 100% biosolar. Biodiesel B100 adalah bahan bakar yang tidak lagi menggunakan minyak berbasis fosil tapi dari yang lebih terbarukan, seperti jagung, kelapa sawit, atau lainnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, impian Indonesia menciptakan biodiesel B100 dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berhasil diwujudkan. Bahan bakar yang berasal dari 100% CPO dengan rendemen 87% tersebut masih terus dikembangkan. “Semua tidak ada campuran,” demikian ungkap Amran saat meninjau Balai Penelitian Tanaman Industri Penyegar Badan Litbang Pertanian Kementan, tempat pembuatan B100 di Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (21/2). Amran menjelaskan, bahan bakar BI00 memiliki keunggulan jika diproduksi nantinya yakni lebih efisien 40% dari bahan bakar fosil. Dengan menggunakan bahan bakar fosil seperti solar, setiap 1 liter hanya dapat menempuh jarak 9,40 kilometer (km), sedangkan dengan menggunakan B100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 km per liter.

“B100 ini inovasi dari Badan Litbang Pertanian. Ingat ini B100 bukan B20 atau B30,” kata Amran. Selain itu, penggunaan B100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat mensejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. Karena itu, adanya B100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. “Kita punya CPO sebanyak 38 juta ton. Kita ekspor 34 juta ton. Bisa bayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini adalah energi masa depan Indonesia,” terang Amran. Ke depan, B100 mungkin diproduksi untuk masyarakat umum. Namun demikian, hal ini membutuhkan waktu dan kerja keras dan bersama semua pihak. “Kita optimalkan CPO. Produksi CPO kita 46 juta ton per tahun. Kita yang mensuplai dunia,” terang Amran. Pada kunjungan tersebut, peneliti utama bidang ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementan Dibyo Pranowo mengatakan, dari seluruh analisis hanya satu determinan yang perlu dikaji kembali yaitu karbon residu yang dihasilkan dari B100 CPO sSawit.

Sedangkan 19 determinan lainnya sudah lolos uji. “Sampai sekarang ini sudah memproduksi hampir 2 ton dengan meng- gunakan reaktor biodiesel ciptaan sendiri. Produksi ini merupakan penyempurnaan parameter dengan metode dry oil,” jelas dia. Dalam satu bulan ini, percobaan telah dilakukan dengan pengaplika-sian B100 CPO sawit untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang dipergunakan adalah Hilux. Dibyo menyebutkan, kendaraan double cabin yang sudah menempuh jarak 1.600 km menggunakan bahan bakar B100 CPO sawit. “Tidak lama lagi, setelah 2.000 km akan membongkar mesin kendaraan tersebut untuk meneliti karbon residu yang ditimbulkan. Ada beberapa bahan biodiesel, misalkan dari kemiri sunan, nyamplung, pon-gamia, kelapa, kemiri sayur, termasuk dari biji karet,” jelas Dibyo Pranowo. Saat ditanya penyebab CPO sawit menjadi yang utama, Dibyo menjelaskan, penggunaan CPO sawit merupakan yang terbaik sampai saat ini. Pasalnya, dilihat dari skala jumlah maka industri sawit yang sudah siap dan juga pasokan yang melimpah. “Teknologi B100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan. Pemerintah berusaha mendorong hal ini melalui Kementan,” jelas Dibyo, (tl)

Jawa Pos | Jum’at, 22 Februari 2019

Energi Terbarukan Butuh Perhatian Pemerintah

Pemerintah belum berhasil menciptakan iklim fiskal dan kebijakan yang kondusif untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Akibatnya, biaya pembangunan pembangkit dan listrik EBT terlalu mahal. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang kemarin (21 IZ). “Kemampuan EBT akan naik menjadi 12GWpada2025.Makin turun biayanya, sw itching (bahari bakar) fosil ke EBT juga bakal lebih cepat,” papar Arthur. Dia menyatakan, target bauran energi 23 persen pada 2025 memang fantastis. Sebab, mencari sumber dana pembangunan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) sudah sulit. Di Eropa, tren telah beralih ke energi bersih. Meski begitu, pembangunan PLTU masih relatif lebih murah jika dibandingkan dengan proyek lain. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun PLTU berkisar USD 1,7 juta (sekitar Rp 23,9 miliar). Biaya pembangunan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) mencapai USD 3,5 juta (sekitar Rp 49,2 miliar).

Lantas, biaya pembangunan pembangkit geotermal menembus USD 6 juta (sekitar Rp 84,3 miliar). “Biaya itu memang berkaitan erat dengan risikonya. Makin rendah risikonya, biayanya juga turun,” terangnya. Saat ini Institute for Essential Service Reform (IESR) bekerja sama dengan Monash Energy Materials and Systems Institute (MEMSI) dan Agora Energie-wende untuk memproyeksikan penetrasi bauran energi terbarukan di Jawa-Bali dan Sumatera. Targetnya, penetrasi bisa mencapai 43 persen pada periode 2018-2027. Jika penetrasi itu sukses, biaya modal bisa dihemat sampai 20 persen atau sekitar USD 10 miliar (sekitar Rp 140,6 triliun). Gas rumah kaca juga bisa turun 36 persen. “Ini mematahkan mitos bahwa porsi energi terbarukan yang lebih banyak akan meningkatkan.tarif listrik,” ujar Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa. (vir/cl4/hep)

Bisnis Indonesia | Jum’at, 22 Februari 2019

Tiga Proyek Mulai Konstruksi Fisik

Tiga proyek di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara akan memulai konstruksi fisik pada tahun ini. Direktur PT Kawasan Industri Nusantara Rinaldi mengatakan, terdapat tiga proyek yang akan dimulai konstruksi fisiknya, yakni pabrik alternatif protein, chicin, lau-ric adds, serta turunan dari protein dan biofertilLzer. Kemudian, pabrik pupuk dan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg). Perinciannya, pabrik alternatif protein dibangun PT Alternative Protein Indonesia (PT API) yang akan membangun di lahan seluas 5 hektare. Proyek tersebut menjadi pembangunan pabrik tahap pertama dari total luas lahan 51 hektare. Perusahaan bakal menanamkan modal senilai Rp7,5 triliun untuk pembangunan pabrik secara menyeluruh. Proyek lain yang akan memasuki tahap konstruksi fisik, yakni PT AJI Cosmos yang akan membangun pabrik pupuk yang akan memproduksi pupuk NPK, pupuk organik dan produk turunannya dengan kapasitas produksi sebesar 50.000 ton per tahun. Adapun, pada tahun ini investasi yang akan direalisasikan mencapai US$20 juta dari total USS50 juta.

Terakhir, pembangunan PLTBg berkapasitas 2,1 MW yang akan mengolah limbah cair kelapa sawit. Dia menyebut, proyek ini dikerjakan PT Pertamina Power Indonesia dengan PT Perkebunan Negara IH dengan nilai investasi Rp53 miliar. Menurutnya, minat investasi pada tahun ini tak terpengaruh sentimen pesta demokrasi. Adapun, dalam waktu dekat akan dilakukan ekspor perdana produk minyak goreng dari PT Industri Nabati Lestari melalui Pelabuhan Kuala Tanjung. Perusahaan tersebut telah membangun pabrik minyak goreng dengan kapasitas produksi 456.000 ton per tahun, furined fatty acid distillate 27.000 ton per tahun, dan stearin 114.000 ton per tahun. Dari data Dewan KEK, pada November 2018, KEK Sei Mangkei tercatat menjadi tujuan investasi dengan nominal belanja senilai Rp4,67 triliun atau 60% dari komitmen Rp7,77 triliun. “Ada tiga proyek yang akan beroperasi dan satu ekspor perdana minyak goreng,” ujar Rinaldi saat dihubungi Bisnis, Kamis (21/2).

Dia pun menanti agar Pelabuhan Kuala Tanjung segera beroperasi secara komersial agar waktu pengiriman lebih singkat. Sebagai gambaran, dia men\but perjalanan dari KEK Sei Mangkei harus ditempuh selama 12 jam ke Pelabuhan Belawan. Sebaliknya, jika menggunakan jalur kereta api ke Pelabuhan Kuala Tanjung, waktu tempuh bisa lebih singkat yakni menjadi 5 jam. “Pelabuhan Kuala Tanjung harus segera dioperasikan akses tidak lagi ke Belawan,” katanya. Selain akses, dia menuturkan kebutuhan energi juga menjadi konsen investor. Padahal, di lahan 1.933,8 hektare itu te lah dibangun sarana pendukung, seperti jalan poros, drainase, fasilitas pengolahan air, fasilitas pengolahan pembuangan air, kelistrikan, jaringan telekomunikasi, gas, hingga gedung perkantoran. HARGA GAS Dia mengatakan, harga gas masih tergolong tinggi dan pasokan listrik yang kurang terjamin. Sebagai gambaran, harga gas yang diterima saat ini USS 10,67 perMMBtu.

Harga tersebut berlaku pada 2017. Sebelumnya, harga gas yang diterima sebesar US$12,75 perMMBtu. Dia berharap agar harga gas bisa turun menjadi di bawah USS 10 perMMBtu. Pasalnya, di Batam, katanya, harga gas mencapai USS6 perMMBtu. Menurutnya, selain pemberian insentif fiskal dan kemudahan perizinan, seharusnya harga energi yang terjangkau bisa menjadi daya tarik berinvestasi di kawasan ekonomi khusus. “Untuk toll fee US$2,2 perMMBtu sekarang. Ini seharusnya jangan dibebankan. Ini investasi di KEK harus ada kekhususan. Kami minta turun lagi [harganya menjadi] USS10,” katanya. Sebelumnya, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumatra Utara, Laksamana Adiyaksa mengatakan bahwa tahun politik tak akan menjadi hambatan besar bagi para investor menanamkan modal. Menurutnya, hambatan utama investasi justru berasal dari harga energi yakni gas yang disebut masih tergolong tinggi. Padahal, dia menuturkan, ketersediaan infrastruktur sudah memadai bagi investor.

“Yang masih memberatkan adalah terkait dengan mahalnya energi, terkhusus harga gas yang masih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya,” katanya. Senior Vice President Corporate Communication PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), M. Eriansyah mengatakan, proses konstruksi fisik sudah selesai sehingga pelabuhan siap beroperasi secara komersial. Adapun, rencananya proyek bakal diresmikan pekan ini. “Progres [pembangunan pelabuhan) sudah 100%. [Pelabuhan) siap beroperasi,” ujarnya belum lama ini. TENDER PROYEK TOL Badan Pengatur Jalan Ibl mengungkapkan, jadwal pemasukan dokumen tender proyek jalan tol Semarang-Demak mengalami penundaan menjadi awal minggu depan. Sebelumnya, dokumen direncanakan masuk pada 11 Februari 2019. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit mengungkapkan, pemunduran tersebut dapat terjadi lantaran ada data teknis yang perlu ditambahkan agar perhitungan terkait dengan proyek tersebut lebih akurat.

“Senin baru pemasukan dokumen tender,” kata Danang kepada Bisnis, Rabu (20/2). Dia menjelaskan, data teknis yang perlu ditambahkan terkait dengan kondisi tanah yang di dalamnya juga termasuk prediksi penurunan tanah. Menurutnya, prediksi biaya konstruksi akan lebih baik jika perilaku penurunan tanah bisa diprediksi. Untuk diketahui, sebelumnya, jadwal pemasukan dokumen penawaran proyek jalan tol Semarang-Demak adalah pada 11 Februari 2019. Proses pemilihan pemenang lelang setidaknya dibutuhkan waktu 1 bulan setelah dokumen penawaran masuk secara keseluruhan. Akan tetapi, proses tersebut bisa lebih lama dari 1 bulan jika terdapat sanggah dari peserta lelang. Proses sanggah biasanya dapat terjadi ketika ada peserta yang tidak puas dengan keputusan panitia. Kemudian, peserta lelang yang ikut dalam proyek pembangunan jalan tol Semarang-Demak ini harus lulus prakualifikasi dari sudut pengalaman dan ketersediaan dana. Duwi Setiya Ariyanti/(Yudi supriyanto)

Sindonews | Jum’at, 22 Februari 2019

Mentan Amran: Biodiesel B-100 Sudah Jadi Kenyataan

Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah Andi Amran Sulaiman berhasil memproduksi bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100% Biosolar. Biodiesel B-100 adalah satu bahan bakar yang tidak lagi menggunakan minyak berbasis fosil tapi dari yang lebih terbarukan seperti jagung, kelapa sawit atau lainnya. “Impian Indonesia ciptakan biodiesel terwujud, dari CPO (Crude Palm Oil -red) menjadi B100. Harapan Bapak Presiden, Kementan yang pertama wujudkan. Ini bahan bakar 100 persen CPO. Bioful yang 100 persen dari CPO, dengan rendemennya 87 persen. Semua tidak ada campuran,” demikian ungkap Menteri Pertanian (Mentan) Amran saat meninjau Balai Penilitian Tanaman Industri Penyegar, Badan Litbang Pertanian Kementan, tempat pembuatan B100 di Sukabumi, Kamis (21/2). Sambung Amran menerangkan, B100 tersebut merupakan inovasi dari Badan Litbang Pertanian dengan mempunyai beberapa keunggulan yakni lebih efisien 40% dibanding bahan bakar fosil. Faktanya dengan menggunakan bahan bakar fosil sepert solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer. Sedangkan dengan menggunakan B-100 dapat menempuh jarak 13 kilometer per liter. Selain itu, penggunaan B100 pun lebih murah, ramah lingkungan dan dapat mensejahterakan petani sawit serta dengan menggunakan B100 dapat menghemat devisa. Karenanya, adanya B100 ini dipastikan dapat memperkuat negeri tercinta. “Kita punya CPO 38 juta ton. Kita ekspor 34 juta ton. Bisa bayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini adalah energi masa depan indonesia,” paparnya.

Ke depan, lanjut Amran, B100 ini akan diproduksi untuk digunakan masyarakat umum. Namun demikian, hal ini membutuhkan waktu dan kerja keras dan bersama semua pihak. “Kita optimalkan CPO. Produksi CPO kita 46 juta per tahun. Kita yang mensuplay dunia. Kita ekspor 34 juta,” terang Amran. Pada kunjungan ini, Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementerian Pertanian, Prof. Dr Dibyo Pranowo mengatakan dari seluruh analisis, hanya satu determinan yang perlu di kaji kembali, yaitu karbon residu yang dihasilkan dari B100 CPO Sawit. Sedangkan 19 determinan lainnya sudah lolos uji. “Sampai sekarang ini sudah memproduksi hampir 2 Ton dengan menggunakan Reaktor Biodiesel ciptaan sendiri. Produksi ini merupakan penyempurnaan parameter dengan metode Dry Oil. alam 1 bulan ini, percobaan telah dilakukan dengan pengaplikasian B100 CPO Sawit untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang dipergunakan adalah Hilux,” ungkap dia. Dibyo menyebutkan kendaraan Double Cabin yang sudah menempuh jarak 1.600 km menggunakan bahan bakar B100 CPO Sawit. Tidak lama lagi, setelah 2.000 km akan membongkar mesin kendaraan tersebut untuk meneliti karbon residu yang ditimbulkan. “Ada beberapa bahan Biodisel, misalkan dari kemiri sunan, nyampulung, pongamia, kelapa, kemiri sayur, termasuk dari biji karet,” sebutnya. Saat di tanya kenapa CPO Sawit menjadi yang utama, Dibyo menjelaskan penggunaan CPO Sawit merupakan yang terbaik sampai saat ini. Pasalnya, di lihat dari skala jumlah industri sawit yang sudah siap dan juga pasokan yang melimpah. “Teknologi B100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan. Pemerintah berusaha mendorong hal ini melalui Kementerian Pertanian,” pungkasnya.

https://ekbis.sindonews.com/read/1380864/34/mentan-amran-biodiesel-b-100-sudah-jadi-kenyataan-1550759088

Sindonews | Jum’at, 22 Februari 2019

Promosikan Produk Indonesia, Mendag Pimpin Misi Dagang ke India

Menteri Perdagangan (Mendah) Enggartiasto Lukita memimpin delegasi misi dagang Indonesia ke India pada 21-22 Februari 2019. Pada saat yang sama, Mendag akan menghadiri India-ASEAN Expo and Summit ke-4 atas undangan Menteri Perdagangan dan Industri India. Mendag pun akan memperkenalkan produk Indonesia. Kali ini, sebanyak 28 perusahaan dan 37 pelaku usaha turut serta dalam misi dagang tersebut. Misi dagang ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan neraca perdagangan dan hubungan ekonomi Indonesia-India. “India tertarik dengan beberapa produk asal Indonesia dan ini merupakan kesempatan bagi pelaku usaha yang ikut dalam misi dagang untuk memasarkan produknya. Selain itu, misi dagang ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kerja sama bidang ekonomi kedua negara,” ujar Mendag di Jakarta. Salah satu agenda Mendag selama di India adalah pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan dan Industri India Suresh Prabu. Pada pertemuan tersebut kedua Menteri akan membahas peningkatan hubungan perdagangan antara kedua negara. Selain itu, Mendag juga diagendakan bertemu dengan asosiasi pengusaha dan BUMN India.

Pelaksanaan India-ASEAN Expo and Summit ke-4 juga dibarengi dengan kegiatan forum bisnis Indonesia-India yang akan mempertemukan pelaku usaha kedua negara. Forum bisnis ini rencananya dibuka oleh Mendag dan mengambil tema “Indonesia Sustainable Palm Oil”.Kebutuhan produk minyak kelapa sawit di India mengalami peningkatan rerata 1 juta ton per tahun. Diperkirakan pada tahun 2025 kebutuhan produk minyak kelapa sawit India akan mencapai 16 juta ton per tahun. Selama tahun 2018, total ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia ke dunia mencapai 31,05 juta ton. Hal ini menjadi peluang Indonesia untuk dapat memenuhi pasar India,” terang Mendag. Dalam forum bisnis ini diselenggarakan juga diskusi panel yang membahas pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan (Indonesia Sustainable Palm Oil/ISPO) dan ramah lingkungan. Duta Besar Indonesia New Delhi Sidharto Reza Suryodipuro akan membuka dan sekaligus berperan sebagai salah satu panelis selain dari pelaku usaha Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan perwakilan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI). Forum bisnis ini merupakan kerja sama antara Kementerian Perdagangan, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi, dan Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry (FICCI). Selain forum bisnis, pelaku usaha kedua negara juga bertemu dalam penjajakan kesepakatan dagang (business matching). Produk yang akan ditawarkan dalam business matching ini antara lain produk kelapa sawit dan turunannya, energi, batu bara, rempah-rempah, emas dan perhiasan hingga baja.

https://ekbis.sindonews.com/read/1380890/34/promosikan-produk-indonesia-mendag-pimpin-misi-dagang-ke-india-1550763375

Rmol | Kamis, 21 Februari 2019

B-100 Bagian Dari Inovasi Badan Litbang Kementan

Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil membuat produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biodiesel B-100 yang dibuat dari bahan baku tanaman. Biodiesel B-100 adalah satu bahan bakar yang tidak lagi menggunakan minyak berbasis fosil, tapi dari yang lebih terbarukan seperti jagung, kelapa sawit, atau lainnya. Demikian kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat meninjau Balai Penelitian Tanaman Industri Penyegar, Badan Litbang Pertanian Kementan, tempat pembuatan B-100 di Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (21/2). “Kementan yang pertama wujudkan. Ini bahan bakar 100 persen CPO (Crude Palm Oil) menjadi B-100. Bioful yang 100 persen dari CPO, dengan rendemennya 87 persen. Semua tidak ada campuran,” kata Amran. “B-100 ini inovasi dari Badan Litbang Pertanian. Ingat ini B-100, bukan B-20 atau B-30,” tegasnya. Dijelaskan Amran, bahan bakar B-100 ini tidak seperti bahan bakar fosil seperti solar yang lebih boros. Sebab, per liter B-100 bisa menempuh jarak 13 kilometer. “Kalau Biosolar biasa 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer,” kata Amran. Tak hanya itu, lanjut Amran, penggunaan B-100 pun lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat mensejahterakan petani sawit serta dengan menggunakan B-100 dapat menghemat devisa. “Kita punya CPO 38 juta ton. Kita ekspor 34 juta ton. Bisa bayangkan kita bisa menghemat berapa triliun,” demikian Amran.

https://rmol.co/read/2019/02/21/379526/B-100-Bagian-Dari-Inovasi-Badan-Litbang-Kementan-

Berita Satu | Kamis, 21 Februari 2019

Kemtan Berhasil Kembangkan Bahan Bakar Biodiesel B100

Kementerian Pertanian (Kemtan) berhasil mengembangkan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100 persen Biosolar. Biodiesel B-100 adalah bahan bakar yang terbuat dari bahan nabati yang terbarukan seperti jagung, kelapa sawit atau lainnya. “Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO (Crude Palm Oil atau kelapa sawit) berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran,” demikian ungkap Amran saat meninjau Balai Penilitian Tanaman Industri Penyegar, Badan Litbang Pertanian Kemtan, tempat pembuatan B100 di Sukabumi, Kamis (21/2/2019). “B100 ini inovasi dari Badan Litbang Pertanian. Ingat ini B100 bukan B20 atau B30,” sambungnya. Amran menjelaskan bahan bakar B100 ini memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil. Dengan menggunakan bahan bakar fosil seperti solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, sedangkan dengan menggunakan B-100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer per liter. Selain itu, penggunaan B100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat menyejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. Adanya B100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. “Kita punya CPO 38 juta ton. Kita ekspor 34 juta ton. Bisa bayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini adalah energi masa depan indonesia,” terang Amran.

Ke depan, lanjut Amran, B100 ini mungkin akan diproduksi untuk digunakan masyarakat umum. Namun demikian, hal ini membutuhkan waktu dan kerja keras dan bersama semua pihak. “Kita optimalkan CPO. Produksi CPO kita 46 juta per tahun. Kita yang menyuplai dunia,” terang Amran. Pada kunjungan ini, Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Dibyo Pranowo mengatakan dari seluruh analisis, hanya satu determinan yang perlu dikaji kembali, yaitu karbon residu yang dihasilkan dari B100 CPO. Sedangkan 19 determinan lainnya sudah lolos uji. “Sampai sekarang ini sudah memproduksi hampir dua ton dengan menggunakan reaktor biodiesel ciptaan sendiri. Produksi ini merupakan penyempurnaan parameter dengan metode dry oil,” jelasnya. “Dalam 1 bulan ini, percobaan telah dilakukan dengan pengaplikasian B100 CPO untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang dipergunakan adalah Hilux,” tambahnya. Dibyo menyebutkan kendaraan double cabin yang sudah menempuh jarak 1.600 km menggunakan bahan bakar B100 CPO Sawit. Tidak lama lagi, setelah 2.000 km akan membongkar mesin kendaraan tersebut untuk meneliti karbon residu yang ditimbulkan. “Ada beberapa bahan biodiesel, misalkan dari kemiri sunan, nyampulung, pongamia, kelapa, kemiri sayur, termasuk dari biji karet,” sebutnya. Saat ditanya kenapa CPO menjadi yang utama, Dibyo menjelaskan penggunaan CPO merupakan yang terbaik sampai saat ini. Pasalnya, dilihat dari skala jumlah industri sawit yang sudah siap dan juga pasokan yang melimpah. “Teknologi B100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan. Pemerintah berusaha mendorong hal ini melalui Kementerian Pertanian,” pungkasnya.

https://www.beritasatu.com/bisnis/539365-kemtan-berhasil-kembangkan-bahan-bakar-biodiesel-b100.html