+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kementerian ESDM Siap Implementasikan Biodiesel B30

Motoris.id | Sabtu, 21 September 2019

Kementerian ESDM Siap Implementasikan Biodiesel B30

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai regulator di bidang industri ritel bahan bakar minyak (BBM) menyatakan siap mengimplementasikan program biodiesel B30 mulai 1 Januari 2020. Hal tersebut ditegaskan usai dituntaskannya rangkaian Road Test B30 di kantor Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Semarang pada 18 September lalu. Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana menegaskan, bahwa dalam penggunaan B30 semua aspek kendaraan yang diujicobakan sudah lolos. “Pada road test ini B30 dibandingkan dengan B20. Hasilnya dari sisi konsumsi bahan bakar, secara rata-rata tergantung dari jenis kendaraan, plus minus 0,87 persen lebih tinggi konsumsinya,” jelas Dadan. Ia menegaskan meskipun sedikit lebih boros konsumsi BBM nya dibandingkan dengan B20, namun secara performance mesin mobil yang mengonsumsi B30 menghasilkan daya yang lebih tinggi. “Sementara untuk emisi, semuanya lebih bagus, kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan. Secara umum bagus,” imbuhnya.

Tanpa Kendala Filter Oli

Dadan juga menegaskan, penggunaan B30 pada mobil-mobil yang diujicobakan seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan Nissan Terra tidak menimbulkan kendala berarti bagi filter oli seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Terlebih semua kendaraan dalam road test ini melewati batasan minimum dari yang disarankan oleh APM (Agen Pemegang Merk). “Dari filter bahan bakar juga demikian, filter kan harus diganti setiap sekian kilometer, ini juga lulus,” ungkapnya. Selain itu, road test yang dilakukan Kementerian ESDM bersama para APM ini juga dilakukan di Dieng, Jawa Tengah yang memiliki suhu dingin ekstrem. “Di Dieng, kami mengujicoba kendaraan yang telah diisi B30 dengan cara menyimpannya hingga 3 minggu, tanpa dihidupkan sama sekali. Saat dihidupkan, semuanya bisa beroperasi normal, di bawah 1 detik sudah nyala,” jelas Dadan.

Dari berbagai ujicoba yang sudah dilakukan, Dadan sangat yakin B30 bisa diimplementasikan per 1 Januari 2020 seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Jadi kembali saya sampaikan, tidak hanya dari aspek kendaraan, tetapi dari sisi maintenance, B30 sudah lolos. Insya Allah akan start full nasional per 1 Januari 2020,” pungkas Dadan. Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko menambahkan, instansinya sangat mendukung penggunaan B30. “B30 itu adalah kebijakan negara. Kebijakan untuk memperkuat kedaulatan energi kita. Sosialisasi ini adalah untuk memastikan bahwa dampak pada lingkungan teruji ini bagus. Dari sini memberikan keyakinan semua tidak perlu ada modifikasi mesin atau modifikasi distribusi”, ucap Sujarwanto. Road test B30 sendiri dimulai sejak 20 Mei 2019 dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dampak penggunaan B30 pada kinerja kendaraan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Ujicoba itu dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM dan BPPT dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, BPDPKS, Pertamina, Aprobi dan Gaikindo.

Rakyat Merdeka | Minggu, 22 September 2019

Perkuat Daya Saing Industri TMMIN Gandeng UGM

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperkuat daya saing industri nasional. Salah satunya dengan melakukan riset bersama. Kerja sama ditandai dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) Kemitraan Pendidikan. Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Yang bertanda-tangan adalah Presdir TMMIN Warih Andang Tjahjono dan Rektor UGM Prof. Panut Mulyono di Gedung Rektorat UGM, Yogyakarta, Kamis (19/9). Warih mengatakan, Industri Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan daya saing agar bisa memberikan kontribusi yang lebih kepada bangsa Indonesia. Dia yakin salah satu kunci utama untuk mencapainya adalah dengan kemitraan yang erat dengan akademisi. “Semoga beragam riset yang yang kami jalankan dengan UGM dapat mengawali hubungan yang lebih erat lagi dengan dunia pendidikan,” ujar Warih.

Kemitraan riset antara TMMIN dan UGM mencakup topik-topik yang menjadi perhatian industri. Seperti energi baru dan terbarukan, lingkungan hidup, produktivitas dan efisiensi, serta peningkatan kualitas SDM. Dalam bidang energi baru dan terbarukan, peneliti UGM akan mengkaji teknologi pembuatan biodiesel dari Kelapa Sawit yang menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau. Sementara dalam bidang lingkungan hidup, peneliti UGM akan mengkaji penggunaan tanaman kenaf yang memiliki nilai ekonomis untuk konservasi lahan gambut. Serat kenaf ini juga merupakan serat organik yang memiliki beragam kegunaan. Dalam bidang produktivitas dan efisiensi, kata Warih, peneliti UGM akan mengkaji upaya pembetukan ekosistem yang dapat mendukung inkubasi dan pertumbuhan IKM dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Peneliti UGM juga akan mengembangkan kompetensi SDM berbasis industri dengan membangun robot industri berbasis kecerdasan buatan. “Ke depannya persaingan akan terjadi bukan lagi antar perusahaan atau industri melainkan antar ekosistem. Oleh karena itulah ekosistem industri yang kompetitif harus terus menerus dibangun dengan meningkatkan kerjasama triple helix antara industri, akademisi, dan pemerintah,” ujar Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam. Riset-riset ini akan berlangsung selama 6 bulan dan hasilnya selain menjadi kajian ilmiah juga akan didesiminasi ke industri-industri terkait sejalan dengan semangat link and match. Sebelumnya TMMIN telah bermitra dengan universitas-universitas lain di Indonesia untuk riset di beragam isu seperti elektrifikasi dan lean manufacturing.

Republika | Minggu, 22 September 2019

Kementan Dorong Sorgum Jadi Pangan Alternatif di 2020

Kementerian Pertanian (Kementan) di tahun 2020 meluncurkan program bantuan benih pangan alternatif. Salah satu pangan alternatif itu adalah tanaman sorgum. “Sorgum salah satu tanaman yang akan kita alokasikan bantuan benih, karena tanaman ini banyak manfaatnya,” demikian dikemukakan Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Bambang Sugiharto di Jakarta, Sabtu (21/9) lalu, seperti dalam siaran persnya. Salah satu pelaku usaha yang giat membudidaya sorgum ada di Lamongan Jawa Timur, namanya Rumah Sorgum Indonesia. Unit usaha yang berdomisili di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan Jawa Timur ini memulai usahanya pada tahun 2016 dan pada tahun 2019 mendapatkan izin resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan. Menurut Esti Faizah, seorang penyuluh yang juga aktif di Rumah Sorgum, berdirinya unit usaha ini dilatar belakangi melimpahnya produksi biji sorgum di wilayah tersebut. “Saat panen raya biasanya harganya anjlok, karena petani hanya jual bentuk biji saja, trus muncullah ide kami mengolahnya jadi pangan lokal sehat biar meningkat nilai ekonomisnya,” tutur Esti.

Perlu diketahui harga sorgum segar sekitar Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per kilogram (kg). Apabila diolah menjadi produk makanan tentu punya nilai tambah lagi. “Di Rumah Sorgum, banyak produk olahan yang kami hasilkan. Ada kue sorgum, sirup, beras sorgum, kemplang, madumongso, mi sorgum, banyak olahan lain lagi,” ujar Esti. Dalam usahanya Rumah Sorgum pun menggandeng Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mayoritas anggotanya adalah kaum ibu petani atau kelompok tani wanita yang ada di wilayah Lamongan. “Lumayan, bisa buat tambahan bantuin pendapatan keluarga mereka selain bercocok tanam,” kata Esti. Selain mendapatkan dukungan dari Kementan dan Dinas Pertanian, dukungan juga muncul dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Lamongan untuk memfasilitasi gratis izin usaha dan dapat menitipkan produk olahan di showroom. Selain itu juga ada sertifikat halal oleh MUI yang difasilitasi Dinas Koperasi Kabupaten Lamongan. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementan, karena kami dapat meraih juara 1 inovasi teknologi yang di gelar Pemda Lamongan,” ujar Esti.

Esti konsisten mendampingi perkembangan Rumah Sorgum Indonesia mulai dari awal merintis hingga besar seperti sekarang. Ia berharap Rumah sorgum indonesia menjadi ikon pangan sehat dan dikenal masyarakat secara luas, sehingga produk-produknya bisa dibeli masyarakat dan otomatis bisa meningkatkan pendapatan petani dan mendorong petani terus membudidayakan sorgum secara luas.

Sebaran dan manfaat sorgum

Perlu diketahui sorgum atau yang dikenal dgn nama latin (Sorghum bicolor (L.)Moench pada tahun 1970 sudah mulai banyak di budidaya kan di Indonesia. Tercatat ada sekitar 15 ribu hektare tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini. Hampir seluruh bagian tanaman sorgum, seperti biji, tangkai biji, daun, batang dan akar, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Mulai menjadi makanan seperti sirup, gula, kerajinan tangan, pati, biomas, bioetanol dan tepung pengganti terigu dan lainnya. Kepala Seksi Intensifikasi Jagung dan Serealia Lain, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Ahmad Yusuf mengatakan daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional terdapat di daerah Purwodadi, Pati, Demak, Wonogiri, Gunung Kidul, Kulon Progo, Lamongan, Bojonegoro, Tuban dan Probolinggo “Tahun 2020 sudah kita alokasikan 5.000 hektare. Ini bukti keseriusan kami mengembangkan sorgum,” kata dia.

Menurut Yusuf, yang menarik dari sorgum adalah tidak adanya kandungan gluten seperti tepung terigu. Dengan demikian, komoditas pangan ini tentu banyak yang cari karena sekarang sudah banyak yang beralih ke tren hidup sehat dengan diet gluten seperti di Eropa dan Jepang. “Sorgum yang kaya kandungan niasin, thiamin, vitamin B6, juga zat besi, dan mangan ini patut untuk terus dikembangkan sebagai pangan alternatif yang menyehatkan,” terangnya.

https://republika.co.id/berita/py7y6m423/kementan-dorong-sorgum-jadi-pangan-alternatif-di-2020