+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kementerian ESDM Taksir Kebutuhan Biodiesel 2020 9,6 Juta KL

CNBC Indonesia | Selasa, 8 Oktober 2019

Kementerian ESDM Taksir Kebutuhan Biodiesel 2020 9,6 Juta KL

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi kebutuhan biodiesel untuk program pencampuran biodiesel pada minyak Solar mencapai 9,6 juta kiloliter (kl) pada 2020. Jumlah kebutuhan bahan bakar nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) itu tahun depan meningkat 45 persen dibandingkan tahun ini lantaran program B30 mulai berjalan. Sebagai catatan, tahun ini, kebutuhan biodiesel untuk program B20 ditargetkan sebanyak 6,6 juta kiloliter. “(Konsumsi) masih susah ditebak, tapi dengan B30 size-nya jadi 9,6 juta kiloliter lah,” ucap Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna, Senin (7/10). Selain memerlukan FAME, program B30 juga membutuhkan unsur methanol. Hanya saja, Feby belum bisa memperkirakan jumlah methanol yang dibutuhkan agar B30 bisa berjalan tahun depan. “Masih didiskusikan (jumlah campuran methanol),” imbuhnya. Ia menyatakan sebagian kebutuhan methanol akan diimpor karena pasokannya di dalam negeri belum mencukupi. Namun, Feby tak menyebut pasti jumlah yang akan dikirim dari luar negeri. “Masih (akan impor). Angkanya berapa tidak hafal,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor menyatakan keinginannya untuk mempercepat implementasi jual beli campuran minyak sawit mentah ke solar sebesar 30 persen atau B30 pada bulan depan. Ia menyebut percepatan itu bisa saja dilakukan karena pemerintah sudah melakukan percobaan secara internal. “Kami mau memulai coba langsung jualan. Usul saya itu mulai November di beberapa kota,” ungkapnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sebelumnya juga sudah memberikan sinyal positif terhadap rencana percepatan implementasi jual beli B30. Pasalnya, hal tersebut akan menjadi salah satu cara untuk menurunkan defisit neraca perdagangan melalui pengurangan impor minyak. “Memang (penerapan B30) awal 2020, tapi kan kami bisa coba (dipercepat), (B30) bisa (diterapkan) di November 2019,” ujarnya.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191007182343-85-437535/kementerian-esdm-taksir-kebutuhan-biodiesel-2020-96-juta-kl

CNBC Indonesia | Senin, 7 Oktober 2019
Ada B30, Kebutuhan FAME 2020 Sentuh 9,6 Juta KL
Kebijakan B30 bakal berlaku sebentar lagi jika tak ada halangan. Hitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diperlukan setidaknya 9,6 juta kiloliter FAME untuk mendukung B30 di 2020. Direktur Bioenergi, Ditjen EBTKE, Andriah Feby Misna mengatakan kebutuhan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk campuran biodiesel tersebut naik pesat dibanding target tahun ini yang 6,2 juta KL. Menurutnya kebutuhan tidak bisa diprediksi, namun jumlah ini meningkat karena adanya kebutuhan program B30 ditambah dengan B20 yang sudah berjalan. “Kalau sementara sih sekitar 9,6 juta kiloliter,” ungkapnya di Kementrian ESDM Senin, (7/10/2019). Tidak hanya FAME pemerintah juga membutuhkan pasokan Methanol, namun pasokan dalam negeri belum bisa terpenuhi semua sehingga membutuhkan impor. “Masih sih (impor.red) tapi angka pastinya saya belum hafal. Kebutuhannya masih didiskusikan,” jelasnya.
Sebelumnya Kementerian ESDM dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) berhasil melaksanakan 80 persen uji jalan B30, Kamis (05/9/2019) lalu. Ada 7 merek mobil yang melaksanakan uji coba B30. Sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo, program B30 ditargetkan sudah dimulai pada 1 Januari 2020. Pelaksanaan road test B30 dimulai sejak 20 Mei 2019 dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dampak penggunaan B30 pada kinerja kendaraan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Road test dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM dan BPPT dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, BPDPKS, Pertamina, Aprobi dan Gaikindo.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20191007185949-4-105073/ada-b30-kebutuhan-fame-2020-sentuh-96-juta-kl

Republika | Senin, 7 Oktober 2019
Tahun Depan, Kebutuhan FAME Biodiesel 9,6 Juta Kiloliter
Pada 2020 mendatang kebutuhan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk campuran biodiesel diprediksi akan mencapai 9,6 juta kiloliter. Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Djoko Siswanto mengatakan aturan terkait alokasi ini sudah ia teken. “Sudah saya teken itu jatah alokasinya,” ujar Djoko di Kementerian ESDM, Senin (7/10). Direktur Bioenergi, Ditjen EBTKE, Andriah Feby Misna menjelaskan alokasi 9,6 juta kiloliter tersebut untuk memenuhi kebutuhan FAME untuk program B20 dan B30. Feby menjelaskan sebelumnya jika hanya untuk memenuhi kebutuhan B20 saja, namun kebutuhan FAME ini meningkat karena kebutuhan B30. “Konsumsi sebenarnya tidak bisa diprediksi, namun karena ada program B.30 makanya size nya jadi naik 9,6 juta kiloliter,” ujar Feby di Kementerian ESDM, Senin (7/10).
Sedangkan untuk melancarkan program B30, pemerintah selain membutuhkan pasokan FAME juga membutuhkan pasokan Methanol. Hanya saja, karena produksi methanol belum bisa memenuhi, maka masih perlu pasokan Impor. “Masih butuh impor. Namun angka pastinya belum ada update,” ujar Feby. Sebelumnya, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyarankan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) berkomitmen menjaga pasokan minyak nabati atau FAME. Jonan menjelaskan, pemerintah saat ini tengah berfokus melakukan uji coba campuran 30 persen FAME dengan diesel (B30) sehingga memerlukan pasokan yang stabil. Ia memperingatkan, bila di kemudian hari komitmen Aprodi tidak dijaga, ia dapat melapor kepada presiden untuk dibuatkan peraturan Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan pasokan khusus seperti batu bara. “(Aprobi) mesti konsisten. Jangan sampai harga minyak kelapa sawit naik, FAME hilang. Nggak boleh hit and run. Sekali commit ya commit. Kalau mentalitasnya hit and run saya akan lapor presiden untuk dibikin peraturan DMO seperti batu bara,” ucap Jonan.
https://republika.co.id/berita/pyzwt8383/tahun-depan-kebutuhan-fame-biodiesel-96-juta-kiloliter

Bisnis | Selasa, 8 Oktober 2019
B30 Diterapkan 2020, Pemerintah Cari Opsi Pemenuhan Kebutuhan Metanol
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku masih mendiskusikan sejumlah opsi untuk memenuhi kebutuhan metanol sebagai campuran fatty acid methyl esters (FAME) untuk produksi biodiesel berkadar 30% (B30) pada 2020. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku masih mendiskusikan sejumlah opsi untuk memenuhi kebutuhan metanol sebagai campuran fatty acid methyl esters (FAME) untuk produksi biodiesel berkadar 30% (B30) pada 2020. Adapun selama ini kebutuhan metanol sebagian besar masih diimpor dari luar negeri. Kementerian ESDM pun sempat mempertimbangkan untuk mendorong kesiapan industri penunjang yang akan memproduksi metanol di dalam negeri. Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andrian Feby Misna mengatangan kebutuhan metanol yang masih didatangkan dari luar negeri menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan biodiesel di Indonesia. “Masih didiskusikan,” jawabnya singkat, Senin (7/10/2019).
Selain permasalahan pasokan metanol, ada sejumlah tantangan lain dalam perkembangan biodiesel, yakni perlunya stok jaminan keberlanjutan, kesiapan dari industri penunjang, insentif pendanaan yang masih bergantung pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-PKS), permasalahan infrastruktur, hingga kampanye negatif penggunaan biodiesel dari pihak luar. Saat ini, harga biodiesel memang masih lebih mahal dibanding solar subsidi sehingga insentif masih diterapkan. Sebelumnya, pemerintah menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 untuk menutupi perbedaan harga tersebut. Sejak 2016, pemerintah menutupi selisih harga ini dengan dana dari BPDP-PKS. Adapun, BPDP tersebut mengelola dana pungutan kelapa sawit dari industri untuk penghiliran. Produk sawit dikenakan pungutan ekspor untuk memberikan insentif kepada industri sawit sehingga terjadi permintaan tambahan untuk industri biodiesel domestik.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20191007/44/1156283/b30-diterapkan-2020-pemerintah-cari-opsi-pemenuhan-kebutuhan-metanol

Tempo | Senin, 7 Oktober 2019
Bahas Soal Sawit dengan PM Belanda, Jokowi Singgung Fair Trade
Isu sawit menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan antara Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte dengan Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Bogor, Jawa Barat, Senin, 7 Oktober 2019. Presiden Jokowi mengatakan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda sepakat untuk terus meningkatkan perdagangan yang terbuka dan adil. “Dalam konteks ini saya sampaikan kembali concern (perhatian) Indonesia untuk kebijakan Uni Eropa (UE) terhadap kelapa sawit,” ujarnya dalam pernyataan bersama Rutte seusai pertemuan. Namun, tidak diperinci perhatian apa yang dimaksud. Seperti diketahui, Uni Eropa (UE) mengenakan bea masuk anti subsidi sebesar 8-18 persen terhadap produk biodiesel asal Indonesia. Di samping itu, blok ekonomi ini juga pernah menerbitkan Delegated Regulation Supplementing Directive of The UE Renewable Energy Directive (RED) II. Dalam rancangan Delegated Regulation, Komisi UE mengklasifikasikan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi.
Dengan demikian, konsumsi CPO untuk biofuel atau Bahan Bakar Nabati (BBN) akan dibatasi kuotanya hingga 2023. Konsumsi CPO untuk biofuel juga bakal dihapus secara bertahap hingga menjadi 0 persen pada 2030. Dalam pertemuan dengan Rutte, Jokowi menghargai kerja sama Indonesia dan Belanda mengenai pengembangan kapasitas petani kecil sawit. “Saya juga menghargai kerja sama yang baru saja ditandatangani oleh Indonesia dan Belanda di New York pada 26 September 2019, mengenai pengembangan kapasitas petani kecil sawit untuk menghasilkan kepala sawit yang lestari,” ujarnya. Sementara itu, Rutte menyebut isu kelapa sawit sebagai isu yang kompleks. “Kami berupaya untuk mengubah situasi kompleks ini menjadi peluang,” kata Rutte.
https://bisnis.tempo.co/read/1256832/bahas-soal-sawit-dengan-pm-belanda-jokowi-singgung-fair-trade/full&view=ok

Bisnis | Senin, 7 Oktober 2019
B30 Diterapkan 2020, Pemerintah Belum Teken Alokasi Kebutuhan FAME
Kementerian ESDM hingga saat ini belum meneken alokasi serapan kebutuhan unsur nabati atau fatty acid methyl esters (FAME) untuk produksi biodiesel berkadar 30% (B30) pada 2020. Kementerian ESDM hingga saat ini belum meneken alokasi serapan kebutuhan unsur nabati atau fatty acid methyl esters (FAME) untuk produksi biodiesel berkadar 30% (B30) pada 2020. Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andrian Feby Misna mengatakan pihaknya masih melakukan perhitungan kebutuhan FAME pada 2020. Hingga saat ini, kebutuhan FAME untuk campuran B30 diprediksi masih sekitar 9,6 juta kiloliter (KL) dengan campuran solar sebanyak 30 juta KL. Menurutnya, alokasi kebutuhan FAME untuk B30 kemungkinan akan mengalami peningkatan seperti yang terjadi pada tahun ini. Adapun pada awalnya, FAME untuk B20 diprediksi mencapai 6,2 juta KL.
Namun, serapan FAME untuk B20 hingga akhir tahun ini diperkirakan akan mencapai 6,6 juta KL atau lebih tinggi 6,5% dari prediksi awal. Peningkatan kebutuhan FAME tersebut lantaran adanya kenaikan kebutuhan bahan bakar masyarakat. “Belum tahu [alokasi pasti FAME], tengah perjalanan [kebutuhan FAME meningkat] kayak kemarin kan,” katanya, Senin (7/10/2019). Berdasarkan data yang diterima Bisnis, hingga Agustus 2019, serapan produksi FAME telah mencapai kurang lebih 3,9 juta KL. Adapun produksi FAME pada 2014 yakni sebanyak 3,32 juta KL, 2015 1,62 juta KL, 2016 3,65 juta KL, 2017 3,41 juta KL, 2018 6,01 juta KL. Sementara, serapan FAME dalam negeri pada 2018 sebanyak 4,02 juta KL dengan penghematan devisa US$2,01 miliar atau Rp28,42 triliun. Menurutnya, dengan target 23% bauran energi pada 2025, penggunaan FAME diharapkan berada pada kisaran 13,8 juta KL.
Penggunaan biodiesel sebenarnya telah dilakukan sejak 2006 dan diperkuat dengan adanya mandatori pada 2008. Besaran mandatori terus meningkat hingga lahir peraturan menteri baru pada 2015 yang mewajibkan mandatori B20 pada 2016. Feby menilai majunya pengembangan biodiesel di Indonesia karena melimpahnya bahan baku, yakni perkebunan kelapa sawit. Pada 2018 saja produksi crude palm oil (CPO) mencapai 47,6 juta ton. Selain itu, upaya untuk menekan defisit neraca perdagangan juga menjadi faktor majunya pengembangan biodiesel di Indonesia.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20191007/44/1156271/b30-diterapkan-2020-pemerintah-belum-teken-alokasi-kebutuhan-fame