+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kemiri Sunan Jadi Alternatif Biodiesel

Republika | Kamis, 17 Januari 2019

Kemiri Sunan Jadi Alternatif Biodiesel

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian mengembangkan pemanfaatan bahan bakar diesel dari kemiri sunan. Komoditas tersebut dinilai lebih unggul dibandingkan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang kini tengah digencarkan pemerintah sebagai bahan baku Biodiesel 20 persen (B-20). Kepala Balittri Kementan, Syarafuddin Deden, mengatakan, pengembangan kemiri sunan sebagai bahan baku Biodiesel sudah dilakukan sejak lima tahun terakhir. “Kami optimistis dengan peluang kemiri sunan sebagai biodiesel,” ujar Deden di kantor Balittri di Parungkuda, Sukabumi, Rabu (16/1). Optimisme tersebut karena sudah ada pihak swasta yang berkolaborasi. Tanpa menyebutkan nama perusahaan, Deden menjelaskan, mereka sudah melihat peluang laba dari kemiri sunan. Pihak swasta tersebut telah membuka ribuan hektare perkebunan kemiri sunan di lahan bekas tambang di Nusa Tenggara Timur. Deden menjelaskan, Balittri tidak fokus memproduksi benih tetapi pada proses pengolahan kemiri sunan menjadi biodiesel. Pihaknya sudah menghasilkan alat pengolahan dan penyulingan yang telah mendapatkan hak paten.

Apabila hal tersebut dikembangkan secara intensif bersama perusahaan swasta lain, Deden optimistis kemiri sunan dapat menjadi alternatif CPO sebagai biodiesel. Ia menyebut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah pernah berkunjung untuk mempelajari sistem pengolahannya. “Kalau mau fokus dengan biodiesel, kita harus mulai kaji banyak bahan baku dari sekarang seperti yang Brasil lakukan,” ujar Deden. Deden menyebutkan, salah satu keunggulan kemiri sunan adalah variasi produk turunannya. Namun, Balittri sebagai badan pemerintahan memiliki keterbatasan untuk menjual produk tersebut secara langsung. Karena itu, Balittri berharap ada pihak swasta yang dapat bekerja sama untuk mengembangkannya. Deden mengatakan, bahan bakar dari kemiri sunan sudah pernah diuji untuk kendaraan roda empat dengan menempuh rute Bogor-Malang. Menurut Deden, kendaraan dapat melaju dengan performa maksimal. Agar dapat makin mengembangkan kemiri sunan, Balittri telah mengajukan diri untuk ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Pada tahun ini, Balittri akan mendapatkan pembinaan dan diharapkan bisa resmi ditetapkan pada 2020.

Ahli peneliti utama bidang ekofisiologi di Balittri Kementan, Dibyo Pranowo, mengatakan, setidaknya sudah ada 21 bahan baku yang sudah diujicobakan sebagai Biodiesel di Balittri. Di antaranya adalah kemiri sunan yang dikembangkan menjadi empat variasi. Seluruhnya berasal dari jenis kemiri yang sama, tetapi mendapatkan perlakuan penanaman berbeda. Dibyo menyebutkan, bila diperingkat berdasarkan sisi ekonomis, kemiri sunan berada di posisi kedua setelah sawit. Dari 100 kilogram bahan baku kelapa sawit, lebih dari 50 kilogram Biodiesel dapat dihasilkan. Untuk kemiri sunan, sekitar 48 kilogram Biodiesel dapat dihasilkan dari 100 kilogram bahan baku. Kemiri sunan juga unggul dibandingkan sawit karena tidak harus bersaing dengan pangan.

Neraca | Rabu, 16 Januari 2019

GSP Bakal Dibahas Dengan Dubes Perdagangan AS

Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dalam kunjungannya ke Amerika Serikat bakal membahas secara bilateral mengenai penerapan “Generalized System of Preferences” (GSP) dengan Dubes Perwakilan Perdagangan AS, Robert Lighthizer. Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara di Washington DC, Amerika Serikat, sebagaimana disalin dari laman tersebut, pertemuan bilateral Mendag RI – Dubes Perdagangan AS (USTR) yang dijadwalkan berlangsung tanggal 15-16 Januari itu untuk menindaklanjuti pemberian tarif preferensial yaitu sistem GSP. Sebagaimana diketahui, GSP merupakan program pemerintah AS dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi negara-negara berkembang, yaitu dengan membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara itu, termasuk Indonesia, ke dalam negeri Paman Sam tersebut. Sebanyak 3.546 produk Indonesia diberikan fasilitas GSP berupa eliminasi tarif hingga 0 persen. Dalam tujuh bulan terakhir, Pemerintah Indonesia telah melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan AS agar status Indonesia dapat tetap dipertahankan di bawah skema GSP.

Hal tersebut karena program ini dinilai memberi manfaat baik kepada eksportir Indonesia maupun importir AS yang mendapat pasokan produk yang dibutuhkan. Pada Oktober 2017, Pemerintah AS melalui USTR mengeluarkan Peninjauan Kembali Penerapan GSP Negara (CPR) terhadap 25 negara penerima GSP, termasuk Indonesia. Pada 13 April 2018, USTR secara eksplisit menyebutkan akan melakukan peninjauan pemberian GSP kepada Indonesia, India, dan Kazakhstan. Hal ini tertuang dalam Federal Register Vol. 83, No. 82. Pada 30 Mei 2018, AS juga mengumumkan akan melakukan peninjauan GSP terhadap Thailand. Evaluasi itu dilakukan untuk melihat apakah Indonesia memenuhi beberapa kriteria program GSP, antara lain terkait HAM, hak-hak pekerja, dan hak properti intelektual (IPR). Bila Indonesia tidak lagi menjadi negara penerima GSP, maka produk Indonesia ke Indonesia yang saat ini menerima GSP, ke depannya akan dikenakan bea masuk normal bila diekspor ke AS. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dalam kunjungannya ke Amerika Serikat, 14-19 Januari, dijadwalkan bertemu dengan sejumlah calon investor potensial serta CEO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Amerika Serikat Tom Donohue.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara di Washington DC, Amerika Serikat (AS), Senin kemarin, para pelaku usaha dari negeri Paman Sam yang akan ditemui Mendag antara lain pengusaha yang bergerak di sektor alas kaki dan garmen. Selain itu, Mendag juga akan menghadiri seminar mengenai kelapa sawit, menghadiri forum bisnis, dan membuka penjajakan kesepakatan bisnis (business matching). Kunjungan kerja ke AS tidak hanya diisi dengan pertemuan formal di AS, namun juga diikuti dengan penjualan secara langsung melalui misi dagang. Menurut Mendag, hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan hasil kunjungan kerja. “Dengan forum bisnis dan ‘business matching’, diharapkan para pengusaha dapat bertransaksi secara langsung dan membangun bisnisnya sehingga nantinya dapat meningkatkan kinerja perdagangan kedua negara,” ucap Mendag. Sejumlah pengusaha Indonesia yang akan mengikuti misi dagang ini antara lain bergerak di sektor kelapa sawit, alumunium dan baja, hasil laut, kedelai dan gandum, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas dan perhiasan. Selain itu, turut serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Indonesia Biofuels Producers Association (APROBI-IBPA), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Adapun total perdagangan Indonesia-AS mencapai 25,92 miliar dolar AS, surplus untuk Indonesia sebesar 9,7 miliar dolar AS. Sementara total perdagangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif sebesar 0,39 persen. Pada tahun 2017, AS merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-2 setelah China dengan nilai 17,1 miliar dolar AS. Sedangkan produk ekspor utama Indonesia ke AS, antara lain udang, karet alam, alas kaki, ban, dan pakaian wanita.

http://www.neraca.co.id/article/111731/gsp-bakal-dibahas-dengan-dubes-perdagangan-as

Antara | Rabu, 16 Januari 2019

Balittri kembangkan buah kemiri sunan jadi biodiesel

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian mengembangkan kemiri sunan (reutealis trisperma) sebagai bahan baku terbaik biodiesel, pengganti bahan bakar solar. “Kemiri sunan banyak keunggulannya, rendemennya tertinggi sampai 56 persen dibanding tanaman lainnya,” kata Kepala Balittri Dr Syafaruddin Deden di kantor Balitri di Sukabumi Jawa Barat, Rabu. Selain itu produktivitasnya juga tinggi, karena satu pohon bisa menghasilkan banyak buah, 8-11 ton per tahun dimana setiap hektare bisa ditanami hingga 300 pohon, ujarnya. Tanaman kemiri sunan, ujar dia, juga mampu hidup di lahan marjinal dan sudah diujicobakan di lahan eks tambang timah di Bangka Belitung dan eks tambang batu bara di Kalimantan dengan hasil yang bagus. Buah kemiri sunan selain bijinya yang bisa digunakan sebagai bahan baku biodiesel, kulitnya bisa jadi pupuk dan bungkilnya bisa jadi pakan ternak, bahkan juga menghasilkan produk samping seperti sabun, lilin, briket hingga tinta printer. Kelebihan lainnya, ujar dia, pohonnya berusia panjang hingga di atas 50 tahun dan sudah berbuah dalam 3-4 tahun, selain itu buah kemiri sunan tidak perlu dipetik, karena berguguran dengan sendirinya, sehingga lebih mudah memanennya. Sementara itu, peneliti biofuel Balitri Dibyo Pranowo mengatakan sudah meneliti 21 tanaman penghasil biodiesel, antara lain sawit, kelapa, jarak pagar, nyamplung, kosambi dan lain-lain. “Yang terbaik sebenarnya sawit, tapi sayangnya sawit lebih dipilih jadi bahan pangan, sementara kemiri sunan tidak bisa dimakan, jadi ini juga kelebihannya,” katanya. Produktivitasnya juga tinggi, ujarnya, yakni dari 100 kg buah kemiri sunan bisa menghasilkan 48 kg biodiesel, dan dari satu hektare tanaman kemiri sunan bisa menghasilkan 7 ton crude oil per tahun. “Kami juga membuat mesinnya, dari mesin pengupas sampai bioreaktornya hingga jadi minyak solar,” kata Dibyo yang juga ahli membuat mesin.

https://www.antaranews.com/berita/788081/balittri-kembangkan-buah-kemiri-sunan-jadi-biodiesel

Jawapos | Rabu, 16 Januari 2019

Kebijakan B20 Diklaim Hemat Impor Solar Hingga USD 937,84 Juta

Pemerintah mengklaim kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20 persen (B20) ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) memberikan dampak positif terhadap penghematan devisa negara dari impor solar. Dalam empat bulan, kebijakan massif untuk berbagai sektor tersebut mampu menghemat sebesar USD 937,84 juta atau setara Rp 13,2 miliar sejak September 2018. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, penyaluran FAME (Fatty Acid Methyl Ester) Biodiesel selama 2018 sudah mencapai 1,67 juta kilo liter (KL). “Penyaluran FAME sebesar 1,67 juta KL,” ujarnya seperti dikutip dalam keterangan resmi, Rabu (16/1). Di samping kebijakan B20, konversi BBM ke Liquified Petroleum Gas (LPG) juga diterapkan Pemerintah sebagai upaya diversifikasi energi. Total sebanyak 6,55 juta Metrik Ton (MT) LPG bersubsidi dan 0,99 juta MT LPG Non-Subsidi disalurkan sepanjang tahun 2018 ke 530 SPBE PSO dan 103 SPBE Non-PSO. Penghematan yang didapat dari kebijakan konversi ini selama setahun sebesar Rp 29,31 triliun (unaudited).

Dalam laporan kinerja 2018 Kementerian ESDM, tercatat realisasi penjualan BBM mencapai 67,35 juta KL terdiri dari 16,12 juta KL BBM Bersubsidi (Solar, Minyak Tanah dan Premium) serta BBM Non-Subsidi sebesar 51,23 juta KL. Penjualan tersebut disalurkan ke 6.902 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan milik Pertamina dan PT AKR Corporindo. Khusus untuk BBM bersubsidi, angka realisasi tersebut hampir mendekati dari total kouta yang dialokasikan dalam APBN 2018, yaitu sebesar 16,23 juta KL. Hal ini tak lepas dari adanya kewajiban bagi badan usaha untuk penyaluran dan pendistribusian Premium di Jawa, Madura dan Bali melalui Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2018 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak yang diteken pada 23 Maret 2018. Sementata itu, untuk BBM nonsubsidi, Pemerintah akan mengevaluasi penurunan harga jenis BBM tersebut sebulan sekali. “Kami sedang evaluasi, Pertamina baru saja (menurunkan) kemarin,” tandasnya.

https://www.jawapos.com/energi/16/01/2019/kebijakan-b20-diklaim-hemat-impor-solar-hingga-usd-93784-juta

Republika | Rabu, 16 Januari 2019

Balai Penelitian Kementan Kembangkan Biodiesel Kemiri Sunan

Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan pemanfaatan bahan bakar diesel dari kemiri sunan. Komoditas ini dinilai memiliki keunggulan lebih banyak dibanding dengan Crude Palm Oil (CPO) yang kini sedang digencarkan pemerintah sebagai biodiesel B20. Kepala Balittri, Syarafuddin Deden, mengatakan pengembangan kemiri sunan sebagai bahan baku biodiesel sudah dilakukan sejak lima tahun terakhir. “Kami optimistis dengan peluang kemiri sunan sebagai biodiesel,” ujarnya ketika ditemui di Kantor Balittri di Parungkuda, Sukabumi, Rabu (16/1). Optimisme tersebut disampaikan karena sudah ada pihak swasta yang berkolaborasi. Tanpa menyebutkan nama perusahaan, Deden menjelaskan, mereka sudah melihat kemiri sunan sebagai sebuah komoditas yang menguntungkan. Pihak swasta ini telah membuka ribuan hektare perkebunan kemiri sunan di lahan bekas tambang di Nusa Tenggara Timur (NTT). Deden menjelaskan, Balittri tidak fokus pada memproduksi benih melainkan pada proses pengolahan kemiri sunan menjadi biodiesel. Pihaknya sudah menghasilkan alat pengolahan dan penyulingan yang telah mendapat hak paten.

Apabila dikembangkan secara intensif bersama perusahaan swasta lain, Deden optimistis, kemiri sunan dapat menjadi alternatif dari kelapa sawit sebagai biodiesel. Menurutnya, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah pernah berkunjung untuk mempelajari sistem pengolahannya. “Kalau kita mau concern dengan biofuel, kita harus mulai kaji banyak bahan baku dari sekarang seperti Brasil,” ujarnya. Kekuatan kemiri sunan sudah pernah teruji saat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan roda empat saat touring dari Bogor sampai Malang. Menurut Deden, kendaraan dapat melaju dengan performa yang maksimal. Agar dapat semakin mengembangkan kemiri sunan, Balittri telah mengajukan diri untuk ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Pada tahun ini, Balittri akan mendapat pembinaan dan diharapkan bisa resmi ditetapkan pada 2020. Deden menyebutkan, salah satu keunggulan utama dari kemiri sunan adalah variasi produk sampingan atau turunannya. Hanya saja, Balittri sebagai badan pemerintahan memiliki keterbatasan untuk menjual produk tersebut secara langsung. “Oleh karena itu, kami berharap, ada pihak swasta yang dapat bekerja sama untuk mengembangkannya,” ucap Deden.

Ahli Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi di Balittri, Dibyo Pranowo, mengatakan, setidaknya sudah ada 21 bahan baku yang sudah diujicobakan sebagai biodiesel di Balittri. Di antaranya adalah kemiri sunan yang dikembangkan menjadi empat varietas. Seluruhnya berasal dari jenis yang sama, tapi mendapat perlakuan penanaman berbeda. Dibanding dengan bahan baku lain, Dibyo menyebutkan, kemiri sunan merupakan komoditas unggulan yang dapat dimanfaatkan sebagai biodiesel. Apabila dibuat peringkat berdasarkan sisi ekonomis, kemiri sunan berada di posisi kedua setelah kelapa sawit. Dari 100 kilogram bahan baku kelapa sawit, lebih dari 50 kilogram biodiesel dapat dihasilkan. Sedangkan, untuk kemiri sunan, sekitar 48 kilogram biodiesel dapat dihasilkan dari 100 kilogram bahan baku. “Memang keduanya tidak berbeda jauh,” ucap Dibyo yang sudah meneliti kemiri sunan sejak 2005. Tapi, Dibyo menjelaskan, kemiri sunan memiliki banyak keunggulan dibanding dengan kelapa sawit. Khususnya, tidak harus bersaing dengan pangan karena memiliki kandungan venom atau racun yang tidak memungkinkan untuk diolah sebagai bahan makanan. Karakteristik ini memungkinkan olahan kemiri sunan dapat difokuskan 100 persen untuk biodiesel. Keunggulan lain adalah kemiri sunan dapat berguna sebagai tanaman konservasi. Diversifikasi produknya pun tinggi, dari sabun, cat hingga produk kosmetik. Produktivitas kemiri sunan juga terbilang tinggi, yakni tujuh ton per hektare per tahunnya.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/19/01/16/plfb29423-balai-penelitian-kementan-kembangkan-biodiesel-kemiri-sunan