+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kenaikan Minyak Dorong Harga CPO

Kontan | Rabu, 18 September 2019

Kenaikan Minyak Dorong Harga CPO

Harga minyak Kelapa Sawit alias crude Palm Oil (CPO) kembali melonjak. Selasa (17/9), harga CPO kontrak pengiriman November 2019 di Malaysia Derivative Exchange naik 3,05% ke level RM 2.257 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, harga CPO telah naik 2,31%. Direktur Garuda Berjangka Ibrahim menyampaikan, ada beberapa faktor yang membuat harga CPO menanjak belakangan ini. Salah satunya dampak dari kebijakan politik pemerintah Indonesia yang mendorong penggunaan B50 atau pencampuran 50% minyak sawit ke dalam bahan bakar minyak (BBM). Ada pula wacana penggunaan B60 untuk bahan bakar pesawat atau avtur. “CPO juga\’ ikut merasakan dampak kenaikan harga minyak,” kata Ibrahim, Selasa (17/9).

Kenaikan harga CPO juga didorong oleh pelemahan ringgit Malaysia terhadap dollar AS. Sepanjang tahun ini mata uang ringgit telah melemah 1,19% (ytd) terhadap dollar AS. Sentimen ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk membeli CPO. Analis Monex Investindo Futures Faisyal menambahkan, kenaikan harga CPO juga didorong kabar Malaysia tengah menyiapkan ekspor mi- nyak sawit bersertifikat ke Eropa mulai tahun depan. Tak hanya itu, kenaikan harga CPO juga ditopang oleh meredanya isu perang dagang antara AS dan China. Di atas kertas, laju kenaikan harga CPO masih bisa berlanjut dalam waktu dekat. “Kalau ada intervensi yang membuat lonjakan harga minyak terhenti, pergerakan CPO juga akan melambat,” imbuh Ibrahim. Dia memprediksi, harga CPO akan bergerak di kisaran \’ RM 2.215-RM 2.240 per metrik ton pada Rabu (18/9). Sepekan ke depan, harga diprediksi bergerak antara RM 2.200-RM 2.290 per metrik ton. Prediksi Faisyal, harga CPO akan bergerak antara RM 2.265-RM 2.310 per metrik ton pada hari ini(18/9). Sepekan mendatang, harga CPO akan bergulir di area RM 2.220-RM 2.350 per metrik ton.

Bisnis | Selasa, 17 September 2019

Harga CPO Ikut Terdampak Lonjakan Minyak Mentah

Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menghijau didorong oleh rekor lompatan dalam harga minyak mentah. Selain itu, sawit juga terimbas kenaikan harga minyak kedelai, sehingga mendorong investor membeli minyak tropis berjangka tersebut. Seperti dikutip dari Bloomberg, harga CPO pengiriman Desember di Bursa Derivatif Malaysia naik 3,2 persen ke level 2.292 ringgit per ton, sebelum diperdagangkan pada level 2.279 ringgit per ton. Kenaikan harian terbesar sejak Mei. Sementara itu, hingga pukul 13:59 WIB, harga CPO kontrak November 2019 memanas 3,15 persen atau 69,00 poin ke posisi 2.259 ringgit per ton, usai dibuka menguat 2,97 persen atau 65,00 poin ke posisi 2.255 per ton.

Sehari sebelumnya, harga sawit ditutup menguat tipis 0,05 persen atau 1,00 poin ke posisi 2.190 ringgit per ton, selepas dibuka di level 2.197 dengan penguatan 0,37 persen atau 8,00 poin. Minyak mentah Brent naik paling paling banyak menuju rekor dan minyak berjangka AS melonjak lebih dari 15 persen pada Senin (16/9/2019), setelah serangan yang menghancurkan fasilitas produksi Arab Saudi merobohkan sekitar 5 persen dari persediaan global. Untuk diketahui, harga minyak bumi yang lebih kuat membuat kelapa sawit lebih menarik untuk dicampur menjadi biofuel. Pemilik Palm Oil Analytics di Singapura Sathia Varqa mengatakan, pasar kelapa sawit naik efek dari lonjakan harga minyak mentah dan minyak kedelai pada Senin (16/9/2019). “Namun, fudamental sawit lebih lemah karena perlambatan ekspor dan ekspektasi kenaikan produksi,” katanya dilansir dari Bloomberg, Selasa (17/6/2019). Stok minyak sawit Indonesia sampai Juli 2019 mencapai 3,5 juta ton atau 2,7 kali melampaui kebutuhan bulanan dalam negeri yang berkisar di angka 1,29 juta ton.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan, kondisi tersebut didorong oleh produksi minyak sawit Indonesia pada Juli yang naik 8 persen dibandingkan dengan produksi Juni. Produksi crude palm oil (CPO) sepanjang Juli tercatat mencapai 3,91 juta ton, naik dibanding produksi Juni di angka 3,62 juta ton. Pertumbuhan produksi ini diikuti pula dengan kenaikan produksi crude palm oil kernel dari 357.000 ton pada Juni menjadi 397.000 ton. Di samping itu, kenaikan harga sawit juga didorong oleh kenaikan minyak nabati lainnya, yaitu minyak kedelai di Dalian Commodity Exchange. Harga minyak kedelai kontrak Januari di Dalian naik 1,2 persen, sementara harga sawit di bursa yang sama juga naik 2,1 persen.

Wang Tao, analis pasar untuk komoditas Reuters mengatakan, harga CPO kemungkinan naik ke level 2.406 ringgit per ton, karena bisa melanjutkan tren naik dari level terendah 10 Juli di level 1.916 ringgit per ton. Pada penutupan perdagangan Selasa (17/9/2019), harga sawit kontrak November 2019 di Bursa Derivatif Malaysia berakhir bertahan di zona hijau, menguat 2,92 persen atau 64,00 poin ke level 2.254 ringgit per ton. Sementara harga sawit kontrak Desember di bursa yang sama berhasil menguat 2,93 persen atau 65,00 poin ke posisi 2.286 ringgit per ton.

https://market.bisnis.com/read/20190917/94/1149594/harga-cpo-ikut-terdampak-lonjakan-minyak-mentah

Nusantara News | Selasa, 17 September 2019

Poyuono Sebut Karhutla Terjadi Akibat Dana Pungutan Ekspor CPO Diselewengkan untuk Subsidi Konglomerat Biodiesel

Politisi Partai Gerindra, Arief Poyuono mengungkapkan dana untuk menjaga, mencegah dan menanggulangi Karhutla jumlahnya sangat minim sekali. Padahal, ada dana yang dikumpulkan dari pengumpulan dana pungutan ekspor CPO yang jumlahnya mencapai puluhan triliun rupiah. “Pengumpulan dana pungutan ekspor CPO yang jumlahnya puluhan triliun selama ini justru disalahgunakan untuk mensubsidi industri biodiesel milik konglomerat dan tidak digunakan sesuai peruntukannya dalam UU Perkebunan Nomor 40 Tahun 2014,” kata Poyuono dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/9/2019). Dia membeberkan, salah satu kegunaan dana pungutan ekspor yang dikumpulkan BPDKS itu digunakan untuk menjaga lingkungan lahan, hutan dan kebun dari bencana kebakaran serta untuk dana sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah kebakaran. “Kebakaran di Kalimantan maupun Sumatera akibat lahan yang terbakar itu gambut purba dan bawahnya itu kebanyakan berisi batubara dan jika kemarau panjang akan terbakar sendiri. Jadi, mau dipadamkan kayak apapun enggak bakal padam ya, kecuali terjadi hujan alami selama satu minggu,” katanya. “Ini merupakan pelajaran dari alam kepada kita semua, dan sekalipun Joko Widodo ritual minta hujan, belum tentu juga alam mau mengabulkan,” cetus Poyuono.

Menurutnya, tak perlu terus-menerus menyalahkan pengusaha atau perusahaan perkebunan terkait terjadinya Karhutla. Sebab, kata dia, peristiwa itu akibat kesalahan pemerintah yang menyelewengkan dana pungutan ekspor CPO kepada industri biodiesel. “Jadi terjadi Karhutla jangan justru menyalahkan pengusaha atau perusahaan akibat kebakaran hutan dan lahan yang dibakar oleh perusahaan perkebunan. Ini semua akibat kesalahan pemerintah yang telah menyelewengkan dana pungutan ekspor CPO kepada industri biodiesel,” ujarnya. Justru, lanjut dia, dengan menyalahkan perusahaan dan pengusaha sawit dalam kasus Karhutla malah akan berdampak padan penolakan produk-produk sawit Indonesia di dunia karena dianggap diproduksi dari hasil bakar hutan dan lahan. “Dan dampaknya makin runyam nantinya, akan turun ekspor CPO kita dan berdampak pada pendapatan negara yang makin turun serta bangkrut sektor usaha kebun sawit serta berdampak PHK besar-besaran nantinya,” tutur Poyuono. Mengenai Peninjauan Kembali (PK) Joko Widodo terhadap putusan MA, menurut dia, tak serta merta putusan MA tidak bisa dijalankan atau dieksekusi. Harusnya, Joko Widodo menjalankan putusan MA terkait Karhutla yang digugat Warga Negara Indonesia.

Bisnis | Selasa, 17 September 2019

Ekspor Minyak Sawit Hingga Juli Naik 6,7% jadi 19,7 Juta Ton

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya (termasuk CPO, biodiesel dan oleochemical) pada Januari-Juli 2019 tumbuh 6,7% secara tahunan. Gapki mencatat sepanjang tujuh bulan pertama 2019, ekspor minyak sawit Indonesia naik menjadi 19,76 juta ton dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama 2018 sebesar 18,52 juta ton. Pada Juli 2019, ekspor minyak sawit dan turunannya tercatat sebesar 2,91 juta ton. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu 3,2 juta ton, angka tersebut turun 9,3%. Dibandingkan bulan sebelumnya, ekspor minyak sawit Juli 2019 tumbuh 15,6% menjadi 2,91 juta ton. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, dari capaian tersebut, kenaikan ekspor tertinggi terjadi pada biodiesel sebesar 92,7% menjadi 187 ribu ton. “Dari jumlah tersebut, 140 ribu ton atau 75% biodiesel diekspor ke Tiongkok,” kata Mukti seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (17/9).

Kemudian, ekspor minyak sawit mentah (CPO) naik 52,3% menjadi 678 ribu ton, lauric oil (PKO crude and processed) 11,2% menjadi 129 ribu ton, processed palm oil (liquid and solid fractions) 5,57% menjadi 1,7 juta ton. Sedangkan ekspor oleokimia turun 12% menjadi 219 ribu ton. Mukti menyebut, peningkatan ekspor minyak sawit terjadi ke sejumlah negara. Yang mana ekspor ke Bangladesh tumbuh paling tinggi sebesar 264%, India 77%, Afrika 32% dan negara lain 41%. Sementara, ekspor ke Uni Eropa masih mencatat pertumbuhan 17%. Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat turun 54% dan ke Timur tengah juga turun 43%. Mukti menyatakan, serapan minyak sawit domestik untuk keperluan pangan pada Juli turun 6%. Hal ini disebabkan pada Mei industri menyiapkan stok produk untuk lebaran yang jatuh pada awal Juni, sehingga pemakaian minyak sawit untuk pangan pada Mei tinggi atau sekitar 955 ribu ton. Pada bulan Juli, industri pangan cenderung mengeluarkan stok kelebihan produksi yang dipersiapkan untuk lebaran. Konsumsi minyak sawit untuk oleokimia meningkat 6% dibandingkan dengan Juni tetapi relatif sama dengan Mei.

Peningkatan Produksi

Gapki juga mencatat, total produksi CPO pada Juli mencapai 4,31 juta ton atau meningkat 8,46% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena pada Juni, terjadi kekurangan hari panen seiring dengan periode lebaran sehingga Tandan Buah Segar (TBS) baru dipanen pada Juli. Kemudian, konsumsi lokal CPO pada Juli mencapai 1,43 juta ton atau naik tipis sebesar 0,3%. “Dengan situasi produksi dan konsumsi tersebut, stok minyak sawit Indonesia pada Juli menjadi 3,5 juta ton atau sekitar 2,7 kali konsumsi lokal bulanan,” kata Mukti.

https://katadata.co.id/berita/2019/09/17/ekspor-minyak-sawit-hingga-juli-naik-67-jadi-197-juta-ton