+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Kilang Plaju Hasilkan BBM B20

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 25 Januari 2019

Kilang Plaju Hasilkan BBM B20

Pertamina Refinery Unit III melakukan launching perdana bahan bakar ramah lingkungan Biosolar (B-20) di Kilang RU III Plaju, pada Kamis (24/1). Hal tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah berdasarkan Permen ESDM No 41 Tahun 2018 yakni menerapkan penggunaan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dengan minyak nabati (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) sebesar 20% yang diproduksi oleh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN). “Launching Biosolar (B-20) ini menunjukkan bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program Pemerintah dan memenuhi security of supply khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel untuk melakukan produksi dan menyalurkan Bahan Bakar Ramah Lingkungan kepada masyarakat ujar,” GM RU III Plaju, Yo-sua I. M Nababan, dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Kamis (24/1).

RU III telah melakukan improve-mentbaik dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 KL/bulan. FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui RPM (Rumah Pompa Minyak) Fuel di area storage tanki untuk dilakukan blending Solar sebagai B-20 untuk kemudian di lifting melalui sarfas existing baik via kapal maupun pipeline ke TBBM wilayah Sumsel dan Lampung. “Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III lalu. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai Green Refinery pertama di Indonesia,” ujarnya. Selain untuk memenuhi regulasi, injeksi FAME sebanyak 20% ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvementkualitas finish product. Pjs. General Manager MOR II Hendrix Eko Verbriono mengatakan bahwa keunggulan B-20 ini memiliki CetaNe number diatas 50 yang artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan CetaNe number Solar murni yakni 48.

“Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapa-tan energi pervolume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk Diesel tersebut,” tuturnya. Penerapan bahan bakar ramah lingkungan ini juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. Melalui pemanfaatan minyak sawit ini, selain menyejahterakan petani sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030. RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500 – 5.000 KL/hari. Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan Biosolar (B-20) 180.000-200.000 KL/bulan. Ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM ramah lingkungan di pasaran. Pertamina akan terus berinovasi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan diantaranya langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel dan green avtur.

Harga Biodiesel

Sementara itu, pemerintah telah menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) khususnya jenis Biodiesel pada Februari 2019 sebesar Rp7.015. “HIP BBN untuk bulan Februari 2019, untuk Biodiesel sebesar Rp7.015 per liter dan untuk Bioetanol RplO.235 per liter. Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Februari 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik Dan Kerja Sama Agung Pribadi. Dalam rangka pelaksanaan ketentuan Diktum kelima Keputusan Menteri ESDM No. 6034 K/12/MEM/2016 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (Biofuel) yang Dicam-purkan ke Dalam Jenis Bahan Bakar Minyak, dan Diktum ketiga Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/ DJE/2018 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel yang Dicampurkan ke Dalam Bahan Bakar Minyak yang efektif berlaku sejak tanggal 1 Februari 2019, Pemerintah menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran Minyak Solar baik Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu maupun Jenis Bahan Bakar Minyak Umum.

Agung menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk Februari 2019 ini, meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp756 per kilo gram (kg). Kenaikan ini lanjut Agung, dipicu oleh naiknya harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Desember 2018 hingga 14 Januari 2019 yang mencapai Rp6.628 per kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut, sedangkan untuk jenis Bioethanol menggunakan formula HIP = (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dolar AS/Liter sehingga didapatkan RplO.235 per liter untuk HIP BBN bulan Februari 2019. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga Biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/ DJE/2018 dan konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Desember 2018 sampai 14 Januari 2019,” jelas Agung.

Harian Ekonomi Neraca | Jum’at, 25 Januari 2019

Harga Biodiesel Ditetapkan Rp7.015, Mulai Efektif Awal Februari

Pemerintah telah menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) khususnya jenis Biodiesel pada Februari 2019 sebesar Rp7.015. Sementara untuk Bioetanol Rpl0.235 per liter. Ketetapan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Februari 2019. Demikian dikatakan Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik Dan Kerja Sama, Agung Pribadi, dis.iliii dari Antara. Dalam rangka pelaksanaan ketentuan Diktum kelima Keputusan Menteri ESDM No. 6034 K/12/MEM/2016 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (Biofuel) yang Dicampurkan ke Dalam Jenis Bahan Bakar Minyak. Juga, Diktum ketiga Keputusan Menteri ESDM No. 350 K712/DJE/2018 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel yang Dicampurkan ke Dalam Bahan Bakar Minyak yang efektif berlaku sejak tanggal 1 Februari 2019, Pemerintah menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk dipergunakan dalam pelaksanaan mandatory B20 dan berlaku untuk pencampuran Minyak Solar baik Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu maupun Jenis Bahan Bakar Minyak Llmum.

Agung menambahkan, HIP BBN Biodiesel untuk Februari 2019 ini, meningkat dari bulan sebelumnya dengan selisih sebesar Rp756 per kilo gram (kg). Kenaikan ini lanjut Agung, dipicu oleh naiknya harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Desember 2018 hing-ga 14 Januari 2019 yang mencapai Rp6.628 per kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata C-PO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut, sedangkan untuk jenis Bioethanol menggunakan formula HIP = (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dolar AS/Liter sehingga didapatkan Rp 10.235 per liter untuk HIP BBN bulan Februari 2019. “Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga Biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018 dan konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Desember 2018 sampai 14 Januari 2019,” jelas Agung- Sementara itu, Indonesia kembali memperjuangkan isu sawit dan menolak kebijakan diskriminatif terhadap sawit di Eropa dalam pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan Uni Eropa (UE) ke-22 di Brussels pekan ini. Wakil Menteri AM Fachir yang memimpin Delegasi RI menyampaikan fakta-fakta mengenai kontribusi sawit bagi perekonomian serta sumbangannya terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Sawit adalah komoditas strategis bagi Indonesia khususnya bagi petani kecil. Sekitar 20 juta masyarakat ASEAN bergantung kehidupannya pada industri sawit dan lebih dari 5 juta petani kecil di Indonesia, Thailand, dan Filipina menyandarkan kehidupannya dari kelapa sawit,” kata Fachir dalam keterangan tertulis Kemlu RI di Jakarta. Dalam konteks global, sawit memiliki peran kunci dalam mewujudkan SDGs. Sawit telah berkontribusi dalam pencapaian 12 dari 17 tujuan yang tecakup dalam SDGs dari pengentasan kemiskinan hingga pengurangan kemiskinan, dari penghapusan kelaparan hingga pencapaian energi bersih dan terjangkau. “Menolak sawit sama artinya menolak SDGs yang merupakan suatu kesepakatan global,” ujar Wamenlu. Selain isu sawit, Indonesia juga mengajak ASEAN dan LJE untuk meningkatkan kontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Solusi dua negara dan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina adalah dua isu paling krusial dimana ASEAN dan UE harus terus bekerja sama. “Perbedaan politik masyarakat internasional tidak boleh menyurutkan komitmen terhadap isu kemanusiaan yang dihadapi rakyat Palestina,” ujar Fachir. Kemitraan ASEAN-UE sangat penting dalam menyikapi situasi global dewasa ini. Maraknya kebijakan inwardlooking yang didasari kepentingan domestik jangka pendek mengharuskan ASEAN-UE memperkokoh kerja sama demi kepentingan rakyat kedua negara dan dunia. “Di tengah ketidakpastian dunia saat ini, ASEAN dan UE sebagai dua kekuatan regional harus berkolaborasi untuk mengisi kevakuman kepemimpinan kolektif global”, tutur Wamenlu.

Lebih lanjut, Wamenlu menekankan pentingnya Kemitraan ASEAN-UE yang harus didasari sikap saling percaya dan saling menghormati nilai dan kepentingan masing-masing. Sikap saling percaya dan menghargai tersebut dapat diterjemahkan dalam kebijakan-kebijakan yang memajukan kepentingan bersama ASEAN dan UE termasuk menghentikan kebijakan diskriminatif terhadap sawit yang menjadi kepenringan masyarakat ASEAN khususnya Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Wamenlu Fachir mengajak ASEAN dan Uni Eropa untuk memperkuat kemitraan dalam berkontribusi untuk menyelesaikan berbagai tantangan global. Dalam isu perdamaian, sebagai dua kawasan yang berhasil menjaga perdamaian dan stabilitas, ASEAN dan UE diharapkan dapat menginspirasi kawasan-kawasan lain untuk terus kedepankan budaya dialog dan penyelesaian konflik secara damai. Selain itu, ASEAN dan UE juga perlu memperkuat kerja sama dalam menghadapi tantangan bersama lintas negara seperti terorisme, radikalisme, dan migrasi ireguler.

Bisnis Indonesia | Jum’at, 25 Januari 2019

Kontrak Biodiesel TBLA Naik 134%

Emiten perkebunan, PT Tunas Baru Lampung Tbk. mengantongi kontrak penjualan Biodiesel ke Pertamina sebanyak 216.000 kiloliter pada 2019 yang nilainya diestimasi senilai Rpl,15 triliun. Corporate Secretary Tunas Baru Lampung Hardy mengatakan perseroan meraih kontrak Biodiesel sebanyak 92.000 kiloliter pada 2018. Dengan acuan harga Biodiesel senilai Rp7.000 per liter, emiten berkode saham TBLA itu mengantongi pendapatan Biodiesel sekitar Rp644 miliar pada tahun lalu. Berdasarkan catatan Bisnis, TBLA memproyeksikan target penjualan Biodiesel pada 2018 sebanyak 96.000 kiloliter atau senilai Rp700,8 miliar dengan asumsi harga Rp7.300 per liter. Meskipun realisasi penjualan Biodiesel pada 2018 meleset dari target, perseroan optimistis kinerja pada tahun ini lebih moncer. Hal itu sejalan dengan perluasan pemberlakuan kebijakan B20. “Rada 2019. kami dapat kuota 216.000 kiloliter dari Pertamina. Penjualan 201 8 sekitar 92.000 kiloliter,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (24/1).

Dengan demikian, kontrak Biodiesel TBLA pada 2019 naik sekitar 1 34,78% dari realisasi tahun lalu. Selain pasar domestik, Hardy menambahkan TBLA juga meraih kontrak ekspor 20.000 ton Biodiesel ke China. Adapun, realisasi pada 2018 mencapai 35.000 ton. Sejalan dengan berkembangnya Uni bisnis biodiesel, TBLA memiliki diversifikasi produk yang semakin mapan di luar minyak goreng dan gula. Diversifikasi itu diyakini dapat menopang tingkat margin perseroan. Sebagai informasi, perseroan memiliki 1 pabrik Biodiesel di Lampung dengan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun. Pada tahun lalu, utilisasi pabrik itu masih mencapai 40% karena menyesuaikan dengan volume permintaan, sehingga produksi diestimasi sejumlah 120.000 ton. Dalam risetnya, analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa mengungkapkan kontrak Biodiesel yang diraih TBLA pada 2019 setara dengan 3% dari total pengadaan Biodiesel nasional 6,19 juta kiloliter.

“Jumlah ini hampir dua kali lipat dari yang diperoleh TBLA tahun lalu. Ini sejalan dengan ekspansi kebijakan pencampuran 20% CPO dalam Biodiesel (B20) ,” tulisnya dalam riset medio Januari 2019. Pada tahun ini, Ciptadana Sekuritas memperkirakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil) akan berada di level 2.300 ringgit per ton. Menurut Yasmin, penurunan harga CPO justru berpotensi menguntungkan TBLA. Pasalnya, sekitar 30%-50% CPO yang diproses di pabrik minyak goreng dan Biodiesel milik TBLA berasal dari eksternal. Pada 2019, pendapatan TBLA diestimasi Rp8,22 triliun, tumbuh tipis 0,92% dari proyeksi Rp8,15 triliun. Adapun, laba operasional dan laba bersihnya diproyeksi masing-masing sebesar Rp 1,4 triliun dan Rp699 miliar.

Liputan6 | Kamis, 24 Januari 2019

Kilang Plaju Produksi Solar Campur 20 Persen Minyak Sawit

PT Pertamina (Persero) Refinery Unit III memproduksi solar bercampur 20 persen biodiesel (B20), dari Kilang RU III Plaju. Langkah ini untuk menjalankan Kebijakan pemerintah. General Manager RU III Plaju, Yosua I. M Nababan mengatakan, pencampuran solar dengan 20 persen biodiesel yang dihasilkan kilang Plaju, merupakan implementasi Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) No 41 Tahun 2018. Ini terkait penerapan penggunaan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar, dengan minyak nabati (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) sebesar 20 persen yang diproduksi Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN). “Launching Biosolar (B-20) ini menunjukkan bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju siap mendukung program pemerintah dan memenuhi security of supply, khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi bersama dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel, untuk melakukan produksi dan menyalurkan Bahan Bakar Ramah Lingkungan kepada masyarakat ujar,” kata Yosua, di Jakarta, Kamis (24/1/2019). Menurutnya, RU III telah melakukan improvement baik dari segi sarana prasarana penerimaan FAME, maupun produksi B-20 dalam tempo yang cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30 ribu sampai 40 ribu kilo liter (KL) per bulan.

FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui Rumah Pompa Minyak (RPM) Fuel di area storage tanki, untuk dilakukan blending Solar sebagai B-20 untuk kemudian di lifting melalui sarfas existing baik via kapal maupun pipeline ke Terminal BBM wilayah Sumsel dan Lampung. “Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III lalu. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai Green Refinery pertama di Indonesia,” dia melanjutkan. General Manager MOR II, Hendrix Eko Verbriono, melanjutkan, ‎selain untuk memenuhi Regulasi, injeksi FAME sebanyak 20 persen ke dalam produk solar dapat memberikan potensi improvement kualitas produk akhir. Keunggulan B20 produksi kilang Plaju memiliki CetaNe number diatas 50, artinya lebih tinggi bila dibandingkan dengan CetaNe number Solar murni yakni 48. “Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi pervolume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk Diesel tersebut”, tandasnya.

Penerapan Bahan Bakar Ramah Lingkungan ini tentunya juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. Melalui pemanfaatan Minyak Sawit ini, selain menyejahterakan Petani Sawit dengan menjaga stabilisasi harga CPO juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030. RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500 – 5.000 KL/hari. Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan Biosolar (B-20) 180.000-200.000 KL/bulan. Ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM Ramah Lingkungan di pasaran. Pertamina akan terus berinovasi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan diantaranya langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel dan green avtur.‎

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3878984/kilang-plaju-produksi-solar-campur-20-persen-minyak-sawit

Merdeka | Kamis, 24 Januari 2019

GAPKI Harap Penerapan B20 Perbaiki Harga CPO Indonesia

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berharap harga minyak kelapa sawit Crude Palm Oil (CPO) akan membaik tahun ini. Hal tersebut seiring dengan perluasan penerapan campuran 20 persen minyak sawit dengan solar (B20). Sekjen GAPKI, Kanya Lakshmi Sidarta, mengatakan penerapan program B20 akan memberikan dampak psikologis pasar sehingga akan mempengaruhi harga. Sebab, program tersebut membuat pasokan minyak sawit yang ada di pasar internasional berkurang, meski kebutuhan diperkirakan akan stabil. “Sekarang begini ketika terjadi ketimpangan maka pasar bergerak turun over supply, tapi kalau kita lihat kebijakan B20 kemarin ketarik 20 persen supply turun,” kata Kanya, di Jakarta, Kamis (24/1). Menurut Kanya, pengusaha berharap akan ada kenaikan harga, dengan penerapan B20 yang semakin meluas ke solar subsidi. Sebab, pasokan minyak sawit di pasar internasional menurun. “Memang saya sangat yakin dengan ada kebijakan B20 harga pasti akan bergeser, bergesernya seperti apa begini setiap insan ada rencana perusahaan dia menyesuaikan,” tuturnya. Kanya pun menjamin, para pelaku usaha minyak sawit akan mengikuti kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak ( BBM) tersebut, sebab pemerintah telah menetapkan pemberian sanksi bagi badan usaha yang tidak melaksanakannya. “Selama ini perkembangan B20 dijalankan dengan disiplin, saya tidak melihat satu hal tidak menjalankan karena di situ ada denda,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/gapki-harap-penerapan-b20-perbaiki-harga-cpo-indonesia.html

Liputan6 | Kamis, 24 Januari 2019

Pengusaha Yakin Kebijakan B20 Dongkrak Harga Sawit

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berharap agar harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) akan membaik tahun ini. Membaiknya harga tersebut seiring dengan perluasan penerapan campuran 20 persen minyak s‎awit dengan biodiesel (B20). Sekjen G‎APKI Kanya Lakshmi Sidarta mengtakan, penerapan program B20 akan memberikan dampak psikologis pasar sehingga akan mempengaruhi harga. Program tersebut membuat pasokan minyak sawit yang ada dipasar internasional berkurang, meski kebutuhan diperkirakan akan stabil. “Sekarang begini ketika terjadi ketimpangan maka pasar bergerak turun karena over suply,tapi kalau kita lihat kebijakan B20 kemarin ketarik 20 persen jadi suplay turun,” kata Kanya, di Jakarta, Kamis (24/1/2019). Pengusaha berharap akan ada kenaikan harga dengan penerapan B20 yang semakin meluas ke solar subsidi, ‎sebab pasokan minyak sawit di pasar internasional menurun. “Memang saya sangat yakin dengan ada kebijakan B20 harga pasti akan bergeser, bergesernya seperti apa begini setiap insan ada rencana perusahaan dia menyesuaikan,” tuturnya.

Kanya pun menjamin, para pelaku usaha minyak sawit akan mengikuti kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut, sebab pemerintah telah menetapkan pemberian sanksi bagi badan usaha yang tidak‎ melaksanakanya. “Selama ini perkembangan B20 dijalankan dengan disiplin, saya tidak melihat satu hal tidak menjalankan karena di situ ada denda,” tandasnya. Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan bahwa kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20 persen atau B20 ke dalam Bahan Bakar Minyak ( BBM) memberikan dampak positif terhadap impor Solar. Dia memprediksi, penggunaan B20 mampu memangkas impor solar sebesar 6 juta Kiloliter (Kl). “2019 itu diperkirakan fame itu akan kira kira 6 juta Kl. Berarti impor solarnya akan berkurang segitu. Iya dong ya, berarti itu 20 persen dari total solarnya,” ujar Menko Darmin saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Darmin melanjutkan, penyaluran B20 hingga saat ini sudah cukup baik atau mencapai 90 persen. Angka ini akan terus dimaksimalkan hingga mencapai 100 persen dengan menambah sejumlah pusat pencapuran atau floating storage di titik-titik tertentu.

“B20 ya perkembangannya sudah mulai lumayan baik sudah di atas 90 persen realisasinya dan kita sedang menambahkan ada floating storage dua di Balikpapan mudah-mudahan dengan itu akan makin dekat ke 100 persen. Masih ada satu lagi sih tapi masih perlu waktu. Iya Tuban,” jelas Menko Darmin. Permasalahan saat ini, kata Darmin adalah penyaluran ke daerah-daerah tertentu yang membutuhkan treatment atau perlakuan khusus. Salah satunya Tuban, di mana lautnya harus dibersihkan terlebih dahulu dari ranjau laut. “Saya kira masih ada satu lagi yang kita Tuban belum selesai karena itu lautnya mesti dibersihkan urusan ranjau laut. Sudah enggak karu-karuan pokoknya ya gitu-gituan dulu. Apalagi musim juga belum bagus kan musim gini pasti ombaknya terlalu gede kita akan undang TNI, perhubungan, pemda,” jelasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3879063/pengusaha-yakin-kebijakan-b20-dongkrak-harga-sawit

Antaranews | Kamis, 24 Januari 2019

BPDPKS paparkan biodiesel kepada pengusaha AS

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyampaikan paparan kepada kalangan pengusaha Amerika Serikat (AS) mengenai upaya pemerintah dalam mendayagunakan kelapa sawit sebagai sumber energi dan kontribusinya bagi pembangunan berkelanjutan. Direktur Utama BPDPKS Dono Boestami menyampaikan hal tersebut dalam Palm Oil Seminar bertema “Empowering Palm Oil – An Energy Grand Challenge for Sustainable Growth” di Kedutaan Besar RI di Washington DC, AS, Rabu (16/1/2019). Dono antara lain menjelaskan mengenai komitmen pemerintah dalam kebijakan mandatori biodiesel yang saat ini sudah menerapkan penggunaan biodiesel 20% (B20) pada seluruh sektor transportasi. Disampaikan pula komitmen pemerintah yang akan terus meningkatkan kandungan bio pada bahan bakar campuran tersebut secara bertahap. Seminar tersebut digelar dalam rangkaian kunjungan misi dagang Indonesia ke AS yang dilaksanakan sejak 14 Januari 2019. Dalam seminar yang dibuka oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ini, hadir pula sebagai pembicara Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta, Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, perwakilan dari Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Alexander Riedo, dan perwakilan dari Wilmar Oleo North America LLC John Cummings.

Misi Dagang

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang memimpin delegasi dagang Indonesia untuk berkunjung ke Amerika Serikat (AS) pada 14 – 19 Januari 2019 bertujuan untuk meningkatkan ekspor produk Indonesia, termasuk produk kelapa sawit. Sebanyak 15 pengusaha turut dalam misi dagang kali ini, yakni berasal dari sektor kelapa sawit, alumunium dan baja, hasil laut, kedelai dan gandum, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas dan perhiasan, serta daging sapi. Selain itu, turut serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Indonesia Biofuels Producers Association (APROBI-IBPA), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). “Kunjungan kerja ke AS ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan untuk mencapai ekspor nonmigas yang ditargetkan naik 7,5 persen dibandingkan tahun lalu, atau sebesar 175,9 miliar dolar AS. Upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor harus dilakukan sedini dan semaksimal mungkin di tengah kondisi pelambatan pertumbuhan ekonomi global,” jelas Mendag dalam keterangan tertulisnya. Dalam kunjungan kerja tersebut Mendag juga melakukan sejumlah pertemuan, salah satunya yaitu pertemuan bilateral dengan Duta Besar Perwakilan Perdagangan AS (USTR Ambassador) Robert Lighthizer guna menindaklanjuti pemberian tarif preferensial yaitu sistem preferensi umum (Generalized System of Preferences/GSP). Sebanyak 3.546 produk Indonesia diberikan fasilitas GSP berupa eliminasi tarif hingga 0 persen. Mendag juga bertemu dengan CEO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS Tom Donohue, dan para pelaku usaha AS, antara lain yang bergerak di sektor alas kaki dan garmen; serta pertemuan dengan para calon investor potensial. Selain itu, Mendag juga akan menghadiri seminar mengenai kelapa sawit, menghadiri forum bisnis, dan membuka penjajakan kesepakatan bisnis (business matching). Tahun ini, ekspor nonmigas ditargetkan naik menjadi 175,9 miliar dolar AS dibandingkan tahun lalu. Neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus sebesar 4,64 miliar dolar AS pada Januari-November 2018. Dalam periode tersebut, ekspor secara keseluruhan tumbuh positif sebesar 7,7 persen dengan nilai ekspor migas sebesar 15,65 miliar dolar AS dan ekspor nonmigas 150,14 miliar dolar AS.

https://jabar.antaranews.com/berita/80550/bpdpks-paparkan-biodiesel-kepada-pengusaha-as