+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Komoditas Unggulan RI Kendur

Bisnis Indonesia | Jum’at, 24 Mei 2019

Komoditas Unggulan RI Kendur

Dua harga komoditas unggulan Indonesia, minyak Kelapa Sawit dan karet alam, melemah pada perdagangan Kamis (23/5). Berdasarkan dau Bloomberg, hingga pukul 15:10 WIB, harga minyak Kelapa Sawit (crude palm qil/CVO) kontrak pengiriman Agustus 2019 di Bursa Derivatif Malaysia melemah 1,46% atau 30 poin ke level 2.027 ringgit per ton. Hasil ini melanjutkan pelemahan 0,83% atau 17 poin di level 2.040 ringgit per ton di sesi pembukaan. Namun, pada perdagangan Selasa (21/5), harga CPO sempat bertengger di level 2.108 atau menguat 0,48%. Akan tetapi, setelah itu kembali ke zona merah, hingga hari ini. Jika dilihat sejak awal tahun, harga CPO juga sudah melemah 1%. Mengenai harga karet, pada perdagangan hari ini pun terlihat loyo. Berdasarkan data Bloomberg, harga karet kontrak Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), terpantau melemah 0,42 % atau 0,80 poin di level 190,00 yen per kilogram. Pencapaian itu sekaligus meneruskan pelemahan pada sesi pembukaan sebesar 0,21 % atau 0,40 poin ke posisi 190,40 yen per ton. Sepanjang pekan ini, harga karet sempat berada di level 194,30 yen per ton, Selasa (21/5). Akan tetapi, level tersebut hanya bertahan sehari, setelah itu harga karet cenderung melemah.

Bila dilihat sejak awal tahun, harga karet alam masih menguat 20,35%. Setidaknya lebih baik dibandingkan dengan harga CPO. Adapun, untuk sawit, pelemahan harga dipengaruhi oleh harga minyak kedelai yang lebih rendah, juga karena publikasi Uni Eropa (UE) tentang batasan penggunaan minyak tropis dalam biofuel pada bulan depan. Baru-baru ini, UE mengumumkan regulasi yang menerapkan kriteria baru tentang penggunaan sawit dalam bi-ofuel. Aturan tersebut akan memiliki sistem sertifikasi dan pembatasan jenis biofuel dari minyak sawit. Hal itu merupakan bagian dari energi terbarukan UE, yang akan berlaku pada 10 Juni. Anilkumar Bagani, Kepala Penelitian Sunvin Group mengatakan, berita tersebut menghajar harga Kelapa Sawit berjangka. Selain itu, harga sawit juga terbebani oleh harga minyak kedelai yang lebih lemah. “[Dalam situasi ini] harga sawit bisa turun ke level sekitar 1.940 ringgit per ton,” katanya dikutip dari Bloomberg, Kamis (23/5). Seorang trader di Kuala Lumpur mengatakan, harga sawit terbebani oleh pelemahan pasar eksternal, terkait dengan menurunnya semua harga komoditas. Dalam hal ini, pelemahan harga minyak mentah dan minyak kedelai. Sebagai informasi, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melemah 0,66% atau 0,18 poin ke level US$27,13 per pon, pukul 15:16 WIB. “Namun, penurunan ini mungkin dibatasi oleh pelemahan ringgit,” katanya.

PELEMAHAN RINGGIT

Ringgit yang lemah, biasanya mendukung minyak nabati tersebut menguat, dengan membuatnya lebih murah untuk pembeli asing. Hingga pukul 16:08 WIB, mata uang ringgit memang melemah 0,18% atau 0,0076 poin ke posisi 4,1938 per dolar Amerika Serikat. Sementara itu, harga karet alam melemah di tengah ekspektasi hujan deras akan mengurangi kekeringan di salah satu daerah penghasil karet utama China. Selain itu, hujan dengan intensitas serupa juga akan terjadi di Thailand, produsen karet terbesar di dunia. Gu Jiong, analis di Yutaka Shoji, broker di Tokyo mengatakan, perkiraan cuaca tersebut memberikan tekanan pada harga karet. Sebab, cuaca yang bersahabat berpotensi meningkatkan produksi karet. “Di samping itu, penurunan minyak mentah juga menjadi bearish [bagi harga karet].” Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 16:33 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate melemah 0,90% atau 0,55 poin ke level US$60,87 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent melemah 1,06% atau 0,75 poin ke level US$70,24 per barel. Sebagai informasi, harga minyak mentah seringkali memengaruhi harga karet alam, karena menghasilkan produk turunan polimer, bahan baku karet sintetis. Adapun, harga karet itu dipengaruhi oleh bahan baku utamanya, yaitu minyak mentah. Jika harga minyak global naik, maka menekan biaya pembuatannya. Hal ini bakal memengaruhi permintaan karet alam.

Merdeka | Kamis, 23 Mei 2019

PLN Ajak Industri Gunakan Premium Green Energy

PT PLN (Persero) menawarkan kepada masyarakat maupun industri yang berkiprah di bidang energi terbarukan, untuk bekerjasama dengan PLN dalam hal pengembangan Premium Renewable Energy. Diharapkan akan terjadi konektivitas relevan antara Renewable Energy (RE) dengan PLN yang selalu berinovasi dalam upaya memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebagai bagian upaya pemerintah menekan penggunaan energi yang berasal dari fosil, pemerintah menggalakkan penggunaan alat transportasi massal, sehingga dapat menekan penggunaan kendaraan pribadi. Salah satu program pemerintah yang sudah mulai diimplementasikan, untuk mengurangi gas buang dari energi fosil, adalah penggunaan kendaraan bertenaga listrik. Saat ini bus Trans Jakarta sudah mulai mengaplikasikan dua unit bus listrik. Selain itu perusahaan taksi Blue Bird di bulan Mei 2019 juga mulai menggunakan taksi yang energinya digerakkan oleh tenaga listrik. Executive Vice President (EVP) Pengembangan Produk pada Departemen Bisnis dan Pelayanan Pelanggan PLN Julita Indah mengatakan, PLN memiliki kompetensi mengeluarkan sertifikat kepada perusahaan, apabila mereka meminta suplai energinya bersumber dari energi terbarukan.

“Renewable Energy (RE) adalah bentuk pelayanan kebutuhan khusus pelanggan, di mana mereka yang saat ini tergabung di dalam organisasi Global 100 persen RE, perusahaan di dalam organisasi tersebut berkomitmen, network (jejaring) mereka disuplai dari energi yang renewable (terbarukan),” kata Julita, Kamis (23/5). Premium Green Energy adalah salah satu kategori pelayanan, sama halnya seperti kategori pelayanan untuk green, blue, ataupun crystal. Yang membedakannya adalah dalam hal kualitas service (pelayanan). Sementara itu klausul yang tercantum di dalam persyaratan perusahaan, mereka akan menikmati layanan kategori Premium Green Energy, apabila kebutuhan energi mereka, disuplai dari salah satu pembangkit listrik yang terbarukan. Sejumlah pembangkit listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan antara lain Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Biofuel, Biomass, Gelombang Laut, dan Pasang Surut. Saat ini sudah ada dua perusahaan yang tengah dalam proses pembahasan klausula kontrak, sehingga mereka berhak mengantongi sertifikat Premium Green Energy, sebagai perusahaan yang mengaplikasikan Global 100 persen RE.

Dua perusahaan yang kantor pusatnya berada di Amerika Serikat adalah produsen alas kaki, pakaian, dan alat olahraga Nike Inc. beserta produsen produk fesyen H&M. Dua perusahaan tersebut masih dalam proses memperoleh sertifikasi dari PLN, namun ada beberapa klausul yang masih perlu dibahas lebih lanjut. Ketika mereka mengajukan permohonan untuk memperoleh pasokan listrik dari PLN dengan kategori pelayanan (services) premium green energy, mereka mensyaratkan kebutuhan listriknya dipasok dari salah satu pembangkit RE. Jika perjanjian kerjasama sudah saling diikat, maka perusahaan akan memperoleh sertifikat Premium Green Energy. “Saat ini pembahasan antara pihak PLN dengan perusahaan selaku corporate buyer, masih berlangsung terutama dalam hal pengajuan syarat kapasitas pembangkit listrik,” imbuhnya. Mengingat tahun 2020, dua perusahaan tersebut memasuki tahapan penerapan (aplikasi) Global 100 persen RE sebagai komitmen dari kantor pusat perusahaan yang ada di AS, maka selain aplikasi RE nantinya juga akan diaudit secara berkala, tidak terlepas kemungkinan program ini juga akan berkembang secara luas.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar menyatakan harapannya agar perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan industri, mau mengaplikasikan tarif premium services dari PLN. Sebab, perhitungan tarifnya berbeda dengan tarif dasar listrik (TDL) yang dikenakan terhadap perusahaan pada umumnya. Dengan menggunakan layanan tarif premium dari PLN, kapanpun diminta untuk melayani, PLN selalu bersedia memasok listrik dengan harga premium tersebut. Menggunakan tarif premium ini dipandang lebih menguntungkan dalam hal pelayanan yang andal, termasuk mendapat prioritas tidak pernah padam aliran listriknya, walau hanya sekejap. “Dengan kepastian pasokan dan terhindar dari pemadaman ataupun gangguan, kami dari HKI mengharapkan perusahaan-perusahaan lain yang ada di kawasan industri yang sudah lama eksis, secara bertahap beralih dari menggunakan TDL yang masih konvensional menjadi menerapkan tariff premium service,” kata Sanny. Dia menjelaskan, Karawang International Industrial City (KIIC) adalah kawasan industri pertama yang mengaplikasi konsep tariff premium service. Setelah menandatangani kontrak perjanjian, maka sudah selama 10 tahun terakhir, kawasan tersebut mengaplikasikan tarif premium dari PLN. Hampir seluruh perusahaan yang berada di kawasan industri KIIC sudah menerapkan tariff premium service.

https://www.merdeka.com/uang/pln-ajak-industri-gunakan-premium-green-energy.html

Kata Data | Kamis, 23 Mei 2019

Pengembangan Pembangkit Listrik Berbasis Biodiesel Terkendala Kontrak

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) hingga saat ini belum merealisasikan penggunaan biodiesel 100% sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Hal ini disebabkan PLN belum bisa membeli minyak sawit untuk uji coba Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara Djoko Rahardjo Abumanan menjelaskan, perusahaan minyak sawit yang ingin menjual minyak sawit ke PLN meminta kontrak jangka panjang. Namun, PLN tetap menargetkan pembelian CPO dapat terealisasi dalam tiga bulan ke depan. “Kami ingin beli tidak diberi. Dia minta kontrak jangka panjang. Sedangkan kami saja baru mau uji coba,” ujarnya, saat ditemui di Kantor Unit Induk Pusat Pengatur Beban (IUP2B) Gandul, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/5). Adapun tujuan penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar pembangkit yaitu untuk mengurangi impor solar. Hingga September 2019 total kapasitas PLTD yang sudah beroperasi sebesar 2.000 Megawatt (MW). Selain itu dalam waktu dekat ini akan beroperasi PLTD Pesanggaran unit 1 yang terletak di Bali, dengan kapasitas 30 MW.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memberikan tenggat waktu selama satu tahun kedepan kepada PLN untuk bisa mengkonversi PLTD dari solar ke biodiesel berbasis CPO. Penggunaan minyak sawit ini harapannya bisa mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga membantu nilai tukar rupiah. Selain itu, penggunaan pembangkit bahan minyak sawit memberikan kontribusi untuk lingkungan, yakni menciptakan energi bersih. Jika upaya ini tidak dilakukan, Jonan khawatir 10 tahun ke depan konsumsi BBM nasional akan meningkat. Bahkan konsumsi itu bisa mencapai 1,8- 2 juta barel per hari (bph). Saat ini, konsumsi BBM sudah mencapai 1,3-1,4 juta bph. Membengkaknya impor itu tentu akan berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. “Impor besar, kurs jadi terganggu. PLTD PLN itu harus diubah ke minyak sawit atau green diesel,” kata Jonan beberapa waktu lalu.

https://katadata.co.id/berita/2019/05/23/pengembangan-pembangkit-listrik-berbasis-biodiesel-terkendala-kontrak