+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Lebih Murah 40 Persen, Biodiesel B100 Bisa Hemat Devisa Rp 26 Triliun

Kompas | Senin, 8 Juli 2019
Lebih Murah 40 Persen, Biodiesel B100 Bisa Hemat Devisa Rp 26 Triliun

Hasil uji coba penggunaan Biodiesel B100 yang dilakukan Kementerian Pertanian mampu mencapai jarak 13,1 kilometer per liter yang berarti lebih jauh jika dibanding solar yang hanya mencapai 9 kilometer per liter. “Lebih dari itu, penggunaan B100 ini bisa menghemat devisa sebesar Rp26 triliun yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani sawit,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian ( Kementan), Momon Rusmono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (7/7/2019). Momon menyebutkan, penghematan ini bisa didapat dari substitusi impor solar yang selama ini cukup tinggi. Di sisi lain, biodiesel juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena rendah polusi dan berbahan baku kelapa sawit 100 persen. “Kita sudah membuktikan dengan uji coba pada mobil-mobil dinas Kementan. Dari ujicoba ini, para sopir mengaku kualitas Biodiesel B100 sudah setara dengan DEX yang selama ini digunakan,” katanya. Untuk itu, Momon berharap, ke depan penggunaan B100 ini dapat menjadi alternatif bahan bakar kendaraan.

Apalagi, hasil riset dan uji coba Balitbang Kementan menunjukan adanya kesetaraan kualitas dengan minyak lain. Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Kominfo, Bambang Gunawan menyebutkan bahwa penggunaan biodiesel B100 dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi secara nasional. “Harganya 40 persen lebih murah. Makanya penggunaan B100 ini berpotensi menghemat devisa sebesar Rp 26,66 triliun,” katanya. Selain itu, kata Bambang, penggunaan biodiesel juga lebih ramah lingkungan karena karbon monoksida (CO) yang dihasilkan 48 persen lebih rendah jika dibanding dengan penggunaan solar. “Yang pasti, pemanfaatan biodiesel ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani sawit” katanya. Sebagai catatan, proses riset ini diawali pada pengembangan minyak nabati di tahun 2014. Saat itu, Kementerian Pertanian sukses menghasilkan bahan bakar B-20 yang selanjutnya disebut campuran 20 persen minyak nabati pada solar. Kemudian, Kementan berhasil mengembangkan B-30 hingga akhirnya bisa 100 persen menggunakan minyak nabati, tanpa campuran solar. Biodiesel B100 memiliki prospek untuk memecahkan masalah terkait pengembangan industri kelapa sawit, penyejahteraan petani dan penyediaan energi terbarukan.
https://money.kompas.com/read/2019/07/08/051100726/lebih-murah-40-persen-biodiesel-b100-bisa-hemat-devisa-rp-26-triliun

Antaranews | Minggu, 7 Juli 2019
Biodiesel B-100 hemat devisa Rp26 triliun

Hasil uji coba penggunaan Biodiesel B-100 yang dilakukan Kementerian Pertanian mampu mencapai jarak 13,1 kilometer per liter yang berarti lebih jauh jika dibanding solar yang hanya mencapai 9 kilometer per liter. “Lebih dari itu, penggunaan B100 ini bisa menghemat devisa sebesar Rp26 triliun yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani sawit,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu. Momon menjelaskan, penghematan ini bisa didapat dari substitusi impor solar yang selama ini cukup tinggi. Disisi lain, biodiesel juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena rendah polusi dan berbahan baku kelapa sawit 100 persen. “Kita sudah membuktikan dengan uji coba pada mobil-mobil dinas Kementan. Dari ujicoba ini, para sopir mengaku kualitas Biodiesel B100 sudah setara dengan DEX yang selama ini digunakan,” katanya. Untuk itu, Momon berharap, ke depan penggunaan B100 ini dapat menjadi alternatif bahan bakar kendaraan. Apalagi, hasil riset dan uji coba Balitbang Kementan menunjukan adanya kesetaraan kualitas dengan minyak lain.

Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Kominfo, Bambang Gunawan menyebutkan bahwa penggunaan biodiesel B100 dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi secara nasional. “Harganya 40 persen lebih murah. Makanya penggunaan B-100 ini berpotensi menghemat devisa sebesar Rp26,66 triliun,” katanya. Selain itu, kata Bambang, penggunaan biodiesel juga lebih ramah lingkungan karena karbon monoksida (CO) yang dihasilkan 48 persen lebih rendah jika dibanding dengan penggunaan solar. “Yang pasti, pemanfaatan biodiesel ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani sawit” katanya. Sebagai catatan, proses riset ini diawali pada pengembangan minyak nabati di tahun 2014. Saat itu, Kementerian Pertanian sukses menghasilkan bahan bakar B-20 yang selanjutnya disebut campuran 20 persen minyak nabati pada solar. Kemudian, Kementan berhasil mengembangkan B-30 hingga akhirnya bisa 100 persen menggunakan minyak nabati, tanpa campuran solar. Biodiesel B100 memiliki prospek untuk memecahkan masalah terkait pengembangan industri kelapa sawit, penyejahteraan petani dan penyediaan energi terbarukan.
https://www.antaranews.com/berita/945123/biodiesel-b-100-hemat-devisa-rp26-triliun

Cnbcindonesia | Sabtu, 6 Juli 2019
Biodiesel Indonesia Sasar Pasar China

Tertahannya kinerja ekspor biodiesel ke pasar Eropa membuat para pengusaha terus memutar otak untuk mencari dan membuka pasar ekspor baru, salah satunya ke China yang diharapkan mampu menyerap 9-10 juta ton biodiesel asal Indonesia, sehingga peran pemerintah sangat penting untuk melobi China agar menggunakan produk biodiesel asal Indonesia. Selain itu melalui kebijakan pemerintah terkait B20 dan B30 diharapkan ikut membantu penyerapan produk biodiesel di pasar domestik. Selengkapnya saksikan dialog Maria Katarina dengan Ketua Aprobi, Master Parulian Tumanggor dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Kamis, 4/7/2019).
https://www.cnbcindonesia.com/market/20190704115612-19-82678/biodiesel-indonesia-sasar-pasar-china

Liputan6 | Sabtu, 6 Juli 2019
Wujudkan Ketahanan Energi Nasional, Biodiesel B100 Bisa Jadi Andalan

Salah satu alasan pemanfaatan olahan sawit sebagai pengganti bahan bakar fosil yang kian menipis cadangannya, dengan penggunaan bahan bakar terbarukan berbahan Crude Palm Oil (CPO). Bahan bakar tersebut melimpah dan berpotensi mewujudkan ketahanan energi nasional. Ketua Umum Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) yang juga Dosen Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Desrial mengatakan, saat ini Kementerian Pertanian memiliki teknologi yang bisa memproduksi biodiesel 100 persen dari CPO (Biodiesel B100). Teknologi ini menurut Desrial menjadi jawaban atas semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil. “Sejak 2004 kecenderungan bahan bakan fosil makin menipis, harganya makin mahal. Saat ini, antara produksi bahan bakar fosil kita dengan impor rasionya makin tipis. Ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi masa depan Indonesia jika terus bergantung di dalamnya,” ucap salah satu peneliti biofuel di Kementerian Pertanian ini pada Forum Tematik Bakohumas di kawasan Lido, Bogor, Kamis (4/7). Berdasarkan data yang dimiliki, Desrial menjelaskan, luasan lahan perkebunan sawit di Indonesia mencapai 14,03 juta ha dengan produksi mencapai 41,67 juta ton. Sementara konsumsi solar dalam negeri mencapai 25 ribu ton, setengahnya dipenuhi dari impor.

Jika menerapkan penggunaan B100 sebagai pengganti solar, hanya membutuhkan 15 persen dari ketersediaan CPO. “Dari sisi sustainability-nya tidak bermasalah. Meski tidak ada penambahanl luas lahan sawit, ketersedian bahan bakunya 20 sampai 30 tahun lagi masih cukup. Paling hanya mengurangi kuota ekspor, dari 75 persen menjadi sekitar 60 persen,” imbuhnya. Penurunan volume ekspor juga berpeluang untuk menaikkan harga CPO di pasar dunia. Di sisi lain, penyerapan sawit dalam negeri juga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani sawit. Sebagai contoh, tambah Desrial, kebijakan Public Service Obligation (PSO) yang mewajibkan Pertamina menggunakan campuran 20 persen minyak nabati pada solar atau B20, terjadi peningkatan serapan dan harga sawit di tingkat petani. Harga Tandan Buah Segar (TDS) meningkat dari Rp850/kg menjadi Rp1.850/kg. Di sisi pengguna, pemanfaatan Biodiesel B100 juga bisa meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Berdasarkan ujicoba pada kendaraan dinas di Kementan, 1 liter B100 bisa menempuh jarak hingga 13,1 km, lebih efisien dibanding penggunan solar yang hanya bisa mencapai jarak 9 km. Selain itu, B100 yang memiliki kualitas setara dengan Perta dex ini bisa dijual dengan harga lebih murah. “Harganya bisa dihitung dari harga CPO ditambah 100 US dollar/ton plus biaya transportasi. Harga jualnya kalau dihitung-hitung sekitar 7-8 ribu,” ucapnya di hadapan lebih dari 100 peserta Forum Tematik Bakohumas dari 48 Kementerian dan lembaga. Teknologi Biodiesel B100 yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Litbang Kementan ini menjadi tema utama bahasan kegiatan Bakohumas yang diselenggarakan Biro Humas dan Informasi Publik Kementan. Selain berdiskusi dengan para peneliti, para peserta juga mengunjungi fasilitas penelitian Biodiesel B100 di Sukabumi, Jawa Barat.
https://www.liputan6.com/news/read/4006148/wujudkan-ketahanan-energi-nasional-biodiesel-b100-bisa-jadi-andalan?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F

Nusantara | Sabtu, 6 Juli 2019
Bentuk Komitmen Ketahanan Energi Bangsa Melalui Biodiesel B100

Biodiesel ramah lingkungan berbahan baku 100 persen minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) atau B100 terus digaungkan Kementerian Pertanian. Bahkan menjadi bahan bakar masa depan, sekaligus menjadi bentuk komitmen ketahanan energi bangsa Indonesia. Tidak berlebihan memang menjadikan B100 sebagai bahan bakar masa depan, baik skala nasional maupun dunia. Pasalnya, seiring perkembangan penduduk yang membutuhkan mobilitas, kebutuhan akan bahan bakar semakin meningkat. Namun, bahan bakar fosil semakin berkurang dan harga terus naik. Disisi lain, Indonesia memiliki potensi produksi CPO sekaligus eksportir terbesar di dunia. Dengan lahan seluas 14,03 juta ha, pada tahun 2018 tingkat produksi minyak kelapa sawit a berkisar 41,67 juta ton. Melihat hal tersebut Indonesia mempunyai peluang untuk memanfaatkan CPO sebagai energi alternatif bahan bakar fosil, khususnya untuk solar berupa biodiesel. “Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah berhasil menciptakan satu inovasi yaitu bahan bakar alternatif Biodiesel B-100 yang dihasilkan dari bahan alami terbarukan seperti minyak nabati dan hewani,” ujar Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Momon Rusmono di Bogor, (4/7/2019).

Kementan melakukan lompatan besar dalam inovasi biodiesel yang selama ini menggunakan campuran bahan bakar minyak bumi, atau dikenal dengan sebutan B20, B30 dan sebagainya. Tetapi B100 ini mengandung 100 persen bahan alami tanpa dicampur dengan bahan bakar fosil. Sementara itu Tenaga Ahli Menteri Bidang Infrastruktur dan Sarana Pertanian Sam Herodian mengatakan, untuk produksi energi baru terbarukan, CPO merupakan bahan baku yang paling siap. “Sawit punya kandungan minyak mencapai 4000 kg/ha per tahun. Tanaman ini juga menjadi paling efisien untuk dijadikan minyak nabati/biodiesel,” kata Sam. Selama ini, produksi CPO memang masuk pada pasar ekspor. Namun beberapa tahun terakhir, produksi CPO Indonesia diserang dengan black campaign, sehingga mengalami penurunan ekspor. Karenanya, B100 menjadi pijakan nasional untuk mengolah CPO menjadi energi terbarukan dan menjadi alternatif pemanfaatannya. “Kita ekspor CPO ke 147 negara. Bayangkan kalau kita stop ekspor, dipastikan kelimpungan dan industrinya mati. Kita sebenarnya punya cara untuk mengendalikan dunia lewat CPO,” tegas Sam.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) yang juga Dosen Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University Desrial menilai, B100 ini juga menjadi bentuk ketahanan energi bangsa, sekaligus untuk melepas belenggu impor solar. Menurut catatan Desrial, produksi solar di Indonesia hingga 2015 mencapai 248,8 juta barrel, sedangkan impornya juga sudah mencapai 174,4 juta barrel. “Sudah tak jauh beda dengan produksi dalam negeri. (Impor solar) ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi masa depan Indonesia jika terus bergantung di dalamnya,” tegasnya. Desrial menyebut, industri biodiesel di Indonesia pada 2018 sudah bisa menghasilkan sebanyak 12 juta kiloliter. Produsen terbesar ada di Sumatera yang mencapai 7,3 juta kiloliter. “Kemampuan kita (untuk biodiesel) sudah melebihi kebutuhan bahan bakar solar di Indonesia, kalau semua bisa kita produksi sesuai kapasitas terpasang pabrik. Jadi kita bisa untuk mulai menutup impor solar tersebut,” jelas Desrial. Desrial mengatakan, dengan terkereknya harga CPO tersebut, secara langsung akan mengangkat harga tandan buah segar (TBS). Dari penelitian, setidaknya harga yang semula Rp 850/kg akan naik menjadi Rp 1.850/kg. “Itu saja baru dari kebijakan Public Service Obligation (PSO) menggunakan B20. Sudah signifikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tutur Desrial. Desrial menilai, biodiesel B100 yang lebih efisien karena pembakaran yang jauh lebih bersih. Sehingga bisa menghasilkan jarak tempuh yang lebih panjang.
https://nusantaratv.com/energi/bentuk-komitmen-ketahanan-energi-bangsa-melalui-biodiesel-b100

Bisnis | Jum’at, 5 Juli 2019
Hilirisasi Industri Perkebunan Kalsel Dukung Program B20-B30

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalsel Herawanto berharap, Provinsi Kalsel bisa serius dalam mengambil momentum perluasan implementasi program B20-B30 dari Pemerintah, untuk dapat mendorong geliat sektor perkebunan yang ada di Banua. Hal tersebut diungkapkannya di sela kegiatan Seminar Ekonomi dan Bisnis dengan tema “Upaya Percepatan Hilirisasi Komoditi Unggulan Kalsel : Peluang Biofuel untuk Kebutuhan Energi Domestik”, Jumat (05/07/2019) di Aula Lantai 6 Gedung Perwakilan BI Provinsi Kalsel di Banjarmasin. “Provinsi Kalsel harus segera mendorong perkembangan industri hilirisasinya di sektor perkebunan, khususnya untuk komoditas kepala sawit. Karena jika itu bisa direalisasikan, Kalsel tentu akan dapat menjadi bagian penting dalam rangka mensuplai kebutuhan kelapa sawit untuk dapat dijadikan biofuel sebagai alternatif bahan bakar yang digagas oleh pemerintah,” tegasnya. Baginya hilirisasi industri di sektor perkebunan sangatlah penting agar kedepannya Provinsi Kalsel bisa lepas dari sektor pertambangan yang kini masih menjadi sektor penopang ekonomi utama.

Karena jika terus-terusan ditopang oleh sektor pertambangan, pada jangka menengah dan Panjang, ekonomi Provinsi Kalsel akan rentan mengalami masalah, khususnya jika terjadi dinamika dalam permintaan di pasar global. “Saat ini memang minyak dari kepala sawit di Kalsel sudah diolah menjadi minyak goreng dan biodiesel. Nah ini tentunya perlu dikembangkan lagi hilirisasi industrinya agar kita bisa terus meningkatkan produksinya supaya bisa sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan program B20-B30,” tambahnya. Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalsel H Abdul Haris menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel untuk mencari sumber-sumber ekonomi alternative baru bagi Kalsel, tidak terkecuali di sektor perkebunan. Baginya mencari sumber-sumber sektor alternatif baru sudah merupakan keharusan, karena Provinsi Kalsel tidak serta merta bisa teru-terusan mengandalkan sektor pertambangan untuk penopang ekonominya. Karena itulah kini Pemprov Kalsel terus berupaya mendorong berbagai program pembangunan untuk bisa menghadirkan sektor alternatif bagi geliat ekonomi di Kalsel, baik itu pariwisata, pertanian hingga perkebunan. “Di sektor perkebunan kami konsisten untuk memberikan berbagai kemudahan perizinan bagi pelaku usaha agar bisa ikut berkontribusi dalam membangun hilirisasi sektor industrinya. Kami tentunya juga terus melakukan kordinasi bersama steakholders terkait untuk bersama-bersama mencari solusi dalam mengembangkan industri perkebunan di Kalsel di masa depan,” tukasnya.
https://kalimantan.bisnis.com/read/20190705/408/1120618/hilirisasi-industri-perkebunan-kalsel-dukung-program-b20-b30

Gatra | Jum’at, 5 Juli 2019
Biodiesel B-100 Kementan Bisa Hemat Devisa Rp26 Triliun

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono, mengatakan, Biodiesel B-100 hasil uji coba Kementan bisa menghemat devisa negara sekitar Rp26 triliun. “Penggunaan B-100 ini dapat menghemat devisa sebesar Rp26 triliun yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani,” kata Momon saat membuka pertemuan Badan Koordinasi Humas di Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/7). Menurut Momon, sesuai hasil uji coba penggunaan Biodiesel B-100 yang dilakukan Kementan, mampu mencapai jarak 13,1 kilometer per liter. Jarak tersebut lebih jauh jika dibandingkan dengan solar yang hanya mencapai 9 kilometer per liter. Soal penghematan biaya negara hingga menghabiskan triliun, Momon menjelaskan, penghematan ini bisa didapat dari substitusi impor solar selama ini cukup tinggi. Di sisi lain, biodiesel juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena rendah dan berbahan baku kelapa sawit 100%. “Kita sudah membuktikannya dengan uji coba pada mobil-mobil dinas Kementan. Dari ujicoba ini, para pengemudi memuji kualitas Biodiesel B-100 yang sudah sesuai dengan DEX yang selama ini digunakan,” katanya dalam keterangan yang diterbitkan.

Untuk itu, Momon berharap, ke depan penggunaan B-100 ini dapat menjadi alternatif bahan bakar kendaraan. Selain itu, hasil penelitian dan uji coba Balitbang Kementan menunjukkan adanya kesetaraan kualitas dengan minyak lain. “Makanya, melalui forum ini kita harus mampu mengekspose lebih jauh lagi program-program pertanian dan hasil-hasil bagi masyarakat antarlintas sektoral,” imbaunya. Di tempat yang sama, Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Gunawan, menyebutkan, penggunaan biodiesel B-100 dapat digunakan pada saat penggunaan ekonomi secara nasional. “Harganya 40% lebih murah. Makanya penggunaan B-100 ini penggunaan simpanan devisa sebesar Rp26,66 triliun,” katanya. Selain itu, kata Bambang, penggunaan biodiesel lebih ramah lingkungan karena karbon monoksida (CO) yang dihasilkan 48% lebih rendah jika dibandingkan dengan penggunaan solar. “Yang pasti, pemanfaatan biodiesel ini akan berdampak langsung pada Peningkatan Penghasilan petani,” katanya. Sebagai catatan, proses penelitian ini dimulai pada pengembangan minyak nabati di tahun 2014. Saat itu, Kementan sukses menghasilkan bahan bakar B-20 yang selanjutnya disebut menghasilkan 20% minyak nabati pada solar. Kemudian, Kementan berhasil mengembangkan B-30 hingga akhirnya bisa 100% menggunakan minyak nabati, tanpa campuran solar.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, menambahkan, forum ini sangat bermanfaat untuk mendesiminasikan program capaian dan, karena menghadirkan para pejabat pengelola kehumasan pemerintah atau Public Relation Pemerintah. Menurut Kuntoro, forum ini juga sekaligus berusaha Kementan dalam menyosialisasikan berbagai program, capaian, dan tantangan dalam pembangunan pertanian langsung kepada para pemangku kepentingan. “Biodiesel B-100 memiliki peluang untuk mengatasi masalah terkait pengembangan industri kelapa sawit, penyejahteraan petani, dan penyediaan energi terbarukan,” ungkapnya. Sekadar diakui, Forum Tematik Bakohumas ini dihadiri lebih dari 100 pejabat pengelola kehumasan dari 48 Kementerian dan Lembaga, Organisasi Profesi, serta perwakilan Senat Mahasiswa. Selain hasil penelitian dan uji coba, peserta juga berkesempatan menghadiri Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), lembaga penelitian biodiesel B-100 ini dilaksanakan.
https://www.gatra.com/detail/news/426582/economy/biodiesel-b-100-kementan-bisa-hemat-devisa-rp26-triliun

Okezone | Jum’at, 5 Juli 2019
Biodiesel B100 Riset Kementan Wujudkan Ketahanan Energi Nasional

Pengunaan bahan bakar terbarukan berbahan Crude Palm Oil (CPO) berpotensi mewujudkan ketahanan energi nasional. Bahan baku yang melimpah dan teknologi yang tersedia menjadi salah satu alasan pemanfaatan olahan sawit ini menjadi pengganti bahan bakar fosil yang makin menipis cadangannya. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) yang juga Dosen Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Desrial saat ini Kementerian Pertanian telah memiliki teknologi yang bisa memproduksi biodiesel yang 100 persen dari CPO atau yang biasa disebut Biodiesel B100. Teknologi ini menurut Desrial menjadi jawaban atas semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil. “Sejak tahun 2004 kecenderungan bahan bakan fosil makin menipis, harganya makin mahal. Saat ini, antara produksi bahan bakar fosil kita dengan impor rasionya makin tipis. Ini menjadi sesuatu yang mengerikan bagi masa depan Indonesia jika terus bergantung di dalamnya,” ucap salah satu peneliti biofuel di Kementerian Pertanian ini pada Forum Tematik Bakohumas di kawasan Lido, Bogor, Kamis (4/7). Berdasar data yang ada, papar Desrial, luasan lahan perkebunan sawit di Indonesia mencapai 14,03 juta ha dengan produksi mencapai 41,67 juta ton. Sementara konsumsi solar dalam negeri mencapai 25 ribu ton, setengahnya dipenuhi dari impor. Sehingga jika menerapkan penggunaan B100 sebagai pengganti solar, hanya membutuhka. 15 persen dari ketersediaan CPO.

“Dari sisi sustainability-nya tidak bermasalah. Meski tidak ada penambahanl luas lahan sawit, ketersedian bahan bakunya 20 sampai 30 tahun lagi masih cukup. Paling hanya mengurangi kuota ekspor, dari 75 persen menjadi sekitar 60 persen,” imbuhnya. Penurunan volume ekspor juga berpeluang untuk menaikkan harga CPO di pasar dunia. Di sisi lain, penyerapam sawit dalam negeri juga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani sawit. Sebagai contoh, tambah Desrial, kebijakan Public Service Obligation (PSO) yang mewajibkan Pertamina menggunakan campuran 20 persen minyak nabati pada solar atau B20, terjadi peningkatan serapan dan harga sawit di tingkat petani. Harga Tandan Buah Segar (TDS) meningkat dari Rp.850/kg menjadi Rp.1.850/kg. Di sisi pengguna, pemanfaatan Biodiesel B100 juga bisa meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Berdasarkan ujicoba pada kendaraan dinas di Kementan, 1 liter B100 bisa menempuh jarak hingga 13,1 km, lebih efisien dibanding penggunan solar yang hanya bisa mencapai jarak 9 km. Selain itu, B100 yang memiliki kualitas setara dengan Perta dex ini bisa dijual dengan harga lebih murah. “Harganya bisa dihitung dari harga CPO ditambah 100 US dollar/ton plus biaya transportasi. Harga jualnya kalau dihitung-hitung sekitar 7-8 ribu,” ucapnya di hadapan lebih dari 100 peserta Forum Tematik Bakohumas dari 48 Kementerian dan lembaga. Teknologi Biodiesel B100 yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Badan Litbang Kementan ini menjadi tema utama bahasan kegiatan Bakohumas yang diselenggarakan Biro Humas dan Informasi Publik Kementan. Selain berdiskusi dengan para peneliti, para peserta juga mengunjungi fasilitas penelitian Biodiesel B100 di Sukabumi, Jawa Barat.
https://news.okezone.com/read/2019/07/05/1/2075143/biodiesel-b100-riset-kementan-wujudkan-ketahanan-energi-nasional

Kontan | Jum’at, 5 Juli 2019
Rencana B30 Minim Sosialisasi Ke Pengusaha Truk

Rencana pemerintah untuk menerapkan solar campuran minyak crude palm oil (CPO) sebesar 30% atau dikenal dengan B30 mulai mendapat sorotan. Rencana penerapan B30 yang saat ini memasuki tahapan ujicoba oleh beberapa merek otomotif tersebut dinilai belum tersosialisasi ke pengguna dari bahan bakar minyak (BBM). “Pengguna BBM biodiesel terbesar itu adalah pengguna truk dan bus. Kami belum dilibatkan dalam rencana ini,,” kata Kyatmaja Lookman, Wakil ketua Umum Bidang Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) pada Kamis (5/7). Sampai dengan tahapan ujicoba, pihak Aptrindo sama sekali belum mendapatkan informasi apapun dari pemerintah terkait rencana B30. Rencana pemerintah untuk menerapkan solar campuran minyak crude palm oil (CPO) sebesar 30% atau dikenal dengan B30 mulai mendapat sorotan. Rencana penerapan B30 yang saat ini memasuki tahapan ujicoba oleh beberapa merek otomotif tersebut dinilai belum tersosialisasi ke pengguna dari bahan bakar minyak (BBM). “Pengguna BBM biodiesel terbesar itu adalah pengguna truk dan bus. Kami belum dilibatkan dalam rencana ini,,” kata Kyatmaja Lookman, Wakil ketua Umum Bidang Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) pada Kamis (5/7). Sampai dengan tahapan ujicoba, pihak Aptrindo sama sekali belum mendapatkan informasi apapun dari pemerintah terkait rencana B30.
https://industri.kontan.co.id/news/rencana-b30-minim-sosialisasi-ke-pengusaha-truk