+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Mei, Insentif Biodiesel Diperluas ke Tambang:

  • Mei, Insentif Biodiesel Diperluas ke Tambang: Pemerintah berencana memperluas pemberian insentif program biodiesel 20% hingga ke industri tambang mulai Mei nanti. Insentif ini yakni berupa dana yang digunakan untuk menutup selisih harga biodiesel dengan solar. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, target penyerapan biodiesel pada tahun ini diminta ditingkatkan menjadi 3,5 juta kiloliter (KL) oleh Komite Pengarah. Untuk itu, pemerintah akan memperluas pemberian insentif hingga ke bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis solar yang digunakan oleh industri tambang. “Perluasan ke non-PSO (public service obligation/subsidi) mulai 2018 di periode enam program biodiesel atau sekitar Mei,” kata dia di Jakarta, Selasa (2/1). Pihaknya sudah membahas hal ini dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Tambang serta Asosiasi Produsen Batubara Indonesia (APBI). Industri tambang dipilih, lanjutnya, karena sudah banyak kendaraannya yang dapat menggunakan biodiesel 20% (B20) dan potensi konsumsinya cukup besar yaitu 1 juta KL. Namun, tambahnya, besaran subsidi yang diberikan untuk industri tambang ini tidak akan seperti yang dikucurkan untuk solar bersubsidi. Saat ini, pemerintah menyediakan dana untuk berapapun selisih harga biodiesel dan solar. “Kemarin setelah didiskusikan, kalau non-PSO dikasih (subsidi), maka di-cap Rp 4.000 per liter, sementara untuk yang PSO full,” jelas Rida. Hal ini mengingat dana subsidi biodiesel yang dibutuhkan mencapai Rp 13,6 triliun. Sehingga, ketika selisih harga biodiesel dan solar lebih besar dari subsidinya, disebutnya akan diteruskan ke masyarakat. Meski demikian, pihaknya optimis selisih harga biodiesel dan solar tidak akan melebihi Rp 4.000 per liter. Pasalnya, harga minyak mentah terus merangkak naik begitu masuk musim dingin. Saat ini selisih harga dua jenis bahan bakar itu yakni sebesar Rp 3.285 per liter. Tetapi, lantaran harga minyak mentah tidak bisa dikendalikan, pihaknya tetap menyiapkan langkah antisipasi. Menurut Rida, perluasan insentif biodiesel ini akan diterapkan setelah ada perubahan formula harga indeks pasar (HIP) biodiesel. Pihaknya akan membahas dengan Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) untuk mengevaluasi harga minyak sawit mentah (crudepalm oil/CPO). “Ada masukan agar (konstanta) dievaluasi lebih murah dari US$ 100 per metrik ton. Ongkos angkut juga ada beberapa titik yang belum dimasukkan,” tuturnya. Saat ini formula HIP yakni harga CPO ditambah US$ 100 per metrik ton dan ongkos angkut(INVESTOR DAILY INDONESIA)
  • Penundaan Penerapan B30 Bisa Bikin Rusak Harga CPO (Pengusaha Ingatkan Pemerintah): PENGUSAHA mendorong pemerintah segera merealisasikan penerapan mandatori biodiesel sebesar 30 persen (B30). Realisasi mandatori biodiesel 30 mendesak dilakukan agar produksi Crude Palm Oils (CPO) dalam negeri dapat terserap dengan maksimal. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan, serapan produksi CPO domestik akan terhambat jika biodiesel 30 persen tidak diterapkan. “Dampaknya nanti ke penyerapan produksi yang akan melambat karena pasarnya semakin sempit,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.  Sahat yakin, penyerapan CPO dalam negeri akan semakin tinggi jika kebijakan mandatori biodiesel 30 persen diterapkan. “Kebijakan ini juga akan menggairahkan produksi CPO dalam negeri J tegasnya.  Ia mendorong, pemerintah segera merealisasikan mandatori B30 karena dampak positifnya sangat luas. “Pemerintah harus dorong penggunaan bahan bakar campuran biodiesel 30 persen. Tidak perlu ragu lagi karena sudah terbukti dampak baiknya mulai dari pendapatan negara hingga  tenaga kerja,” ungkapnya. (RAKYAT MERDEKA)
  • Pemerintah “Uji Jalan” Program Biodiesel B20: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menguji coba pemakaian biodiesel dengan tingkat pencampuran sampai 20 persen atau B20 untuk kereta api dan usaha tambang mulai Januari ini. Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana, uji coba secara langsung pada kereta dan peralatan tambang, atau diistilahkan sebagai “uji jalan”, itu dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemakaian biodiesel jenis B20 terhadap mesin. “Ini perluasan dari program mandatory biodiesel,” kata Rida seusai rapat kerja jajaran Kementerian ESDM, Selasa (2/1), di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Rendang, Karangasem. Bali. (KOMPAS)
  • MEI 2018, MINYAK SOLAR NON PSO MESTI DICAMPUR BIODIESEL SAWIT: Setelah menerapkan kewajiban campuran biodisel sawit sebanyak 20% ke minyak solar (B20) untuk transportasi umum. Kini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal menerapkan hal yang sama ke minyak solar nonsubsidi. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, pemerintah menargetkan penyerapan biodiesel sebanyak 3,5 juta kilo liter (kl) pada 2018. Jumlah itu meningkat 1 juta (kl) dari target 2017 sebanyak 2,5 juta kl. “2018 kita di kasih target 3,5 juta kl atau ada tambahan 1 juta,” kata Rida(INFOSAWIT)

http://www.infosawit.com/news/7541/mei-2018–minyak-solar-non-pso-mesti-dicampur-biodiesel-sawit

  • AALI dan LSIP Jadi Pilihan Teratas di Sektor Perkebunan: Emiten sektor perkebunan diproyeksi melanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga akhir 2018. Peningkatan didukung oleh asumsi pertumbuhan hargajual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) seiring dengan proyeksi perlambatan volume produksi di Indonesia dan Malaysia. RHB Securities memperkirakan harga jual CPO menguat menjadi Rp 8,5 per ton pada 2018 dan menjadi Rp 9 juta per ton pada 2019. Pada November 2017, harga jual CPO turun ke titik terendah Rp 7,99 juta per ton dibandingkan level tertingginya Rp 11,14 juta per ton pada Februari 2017. Terkait harga jual CPO, dia menjelaskan bahwa itu cenderung mengalami kenaikan sejalan dengan perkiraan kenaikan harga minyak global. Sebagaimana diketahui peningkatan harga minyak akan membuat permintaan biodiesel kembali naik, sehingga menguntungkan terhadap harga jual komoditas perkebunan tersebut. “Kami menargetkan asumsi rata-rata harga jual PO mencapai 2.950 ringgit Malaysia pada 2018,” ungkapnya.  Mirae Asset Sekuritas memperkirakan produksi biodiesel nasional akan naik menjadi 3,3 juta ton pada 2018 (INVESTOR DAILY INDONESIA)
  • PTPN XI Targetkan Produksi 5 Juta Ton Tebu: Perseroan terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XI pada 2018 menargetkan peningkatan produksi hingga lima juta tebu Ton Cane Day (TCD), atau naik dari realisasi tahun 2017 sebesar 4,2 juta TCD. Direktur Operasional PTPN XI, Daniyanto mengatakan target peningkatan pada 2018 itu sangat realistis, berdasarkan kinerja yang ada pada 2017. “Pada 2017 produksi tebu di PTPN XI mencapai 4,2 juta TCD. Dengan presentasi 85 persen dari tebu rakyat dan 15 persen tebu sendiri. Dengan capaian itu kami optimistis target 2018 tercapai,” katanya. “Kami juga melakukan diversifikasi produk, di antaranya menghasilkan energi listrik dengan kerja sama dengan PLN untuk menyiapkan pabrik gula (PG) Asembagus di Kabupaten Situbondo untuk menghasilkan energi terbarukan berupa bioetanol dan tenaga listrik Cogeneration yang merupakan listrik yang dihasilkan oleh mesin uap mesin giling di pabrik gula,” katanya. (REPUBLIKA)

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/18/01/02/p1x950368-ptpn-xi-targetkan-produksi-5-juta-ton-tebu

  • Indonesia Raja Minyak Sawit Dunia: Direktur Eksekutif Paspi (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) Tungkot Sipayung menyatakan bahwa saat ini Indonesia merupakan raja minyak sawit mentah (crude palm oii/CPO) dunia seiring terus meningkatnya luasan tanaman sawit nasional. Sebelumnya, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia hanya 300 ribu hektare (ha) dan kini menjadi 11 juta ha. “Kesadaran masyarakat dan pemerintah akan manfaat perkebunan sawit bagi kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Seiring dengan itu. pertumbuhan perkebunan sawit juga melaju cukup cepat,” kata dia di Banjarmasin. Rabu (20/12). Pertumbuhan produksi CPO nasional pada 2016 mencapai 33,50 juta ton dan mampu menyumbang untuk penerimaan negara dari bea keluar minyak sawit sebesar Rp 111,60 triliun. Selain itu. Indonesia juga bakal menjadi raja oleokimia dunia, yaitu produsen sabun, deterjen, sampo, pelumas, bioplastik dan lainnya, juga raja biofuel dengan industri, biodiesel, bioetanol, bioavtur dan lainnya. Saat ini, pemerintah bersama pengusaha, sedang mempersiapha-kan, untuk hilirisasi berbagai produk dari kelapa sawit tersebut. “Saat ini, kita baru sebagai raja CPO, karena hilirisasi yang kita lakukan belum maksimal, tetapi pada 2045, semua cita-cita tersebut, akan terlaksana,” katanya (INVESTOR DAILY INDONESIA)