+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Memacu MandatoxlBiodiesel

Bisnis Indonesia | Jum’at, 10 Januari 2020

Memacu MandatoxlBiodiesel

Pemerintah memanggul tugas yang berat dalam memaksimalkan kebijakan mandatori biodiesel. Sejumlah persoalan masih mengganjal, mulai dari perkara distribusi hingga ancaman gangguan produksi tanaman sawit. Realisasi pemanfaatan biodiesel di dalam negeri dari tahun ke tahun cenderung tak pernah mencapai 100 %. Tantangannya semakin besar karena pada awal tahun ini pemerintah menjalankan kebijakan B30, yaitu pencampuran 30% biodiesel atau Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar yang otomatis bakal mengerek produksi. Sebagai informasi, realisasi penyerapan biodiesel nasional pada 2016 mencapai 2,7 juta kiloliter (kl), dari target 2,9 juta kl. Sementara itu, pada 2017, realisasi penyerapan sebesar 2,57 juta kl, dari target 4,6 juta kl. Selanjutnya, pada 2018, penyerapan sebesar 3,75 juta kl, dari target patokan awal 3,9 juta kl. Ketua Harian Asosiasi Produsen biodiesel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan, pabrikan seluruh biodiesel di dalam negeri secara teori mampu memenuhi target tersebut dengan total kapasitas terpasang pabrikan di dalam negeri yang mencapai 12 juta kl.

Adapun, utilitas pabrikan saat ini setidaknya di level 83% atau memproduk- si sekitar 10 juta kl per tahun. Namun, Paulus meragukan kegiatan distribusi pada penjual eceran maupun pihak pengguna. “Tadinya [yang dikirimkan] 6 juta kl, sekarang 9 juta kl. Kapal, truk, dan pemakaian di pelabuhan bertambah. [Maka dari itu] persoalannya bertambah. Sekarang untuk mencari angkutan menopang [tambahan FAME] 50% gampang atau tidak?” katanya kepada Bisnis, Kamis (8/1). Menurutnya, minimnya persiapan sektor distribusi dalam mengantarkan FAME tersebut dapat menjadi dis-rupsi bagi struktur industri biodiesel nasional. Karena itu, Paulus mengusulkan agar pemangku kepentingan terutama pihak transportasi untuk menyesuaikan semua peralatan dan spesifikasinya. Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB) Duljatmono mengaku telah menyediakan produk yang sesuai dengan B30. Menurutnya, berdasarkan hasil dari pengujian yang dilakukan oleh KTB, tidak ada dampak negatif terhadap kendaraan saat menggunakan B30. Namun, dia mengakui penyesuaian komponen dan modifikasi perlu dilakukan dalam proses produksi. Hal itu meliputi perubahan pada filter, tangki, dan pipa knalpot.

Perubahan spesifikasi itu memengaruhi harga produksi dan harga jual unit baru produksi mulai 2020. Namun demikian, menurutnya, hal ini tidak akan memberi dampak siginifikan terhadap permintaan pasar secara umum. Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Joko Supriyono mengemukakan produksi sawit berpeluang terganggu. Pasalnya, sawit masuk dalam kategori vegetasi yang memerlukan intensitas cahaya tinggi untuk menunjang produksinya. “Pasokan cahaya sendiri setidaknya berkurang selama kebakaran lahan melanda daerah sentra produksi pada September lalu,” ungkapnya, kemarin. Ketua Umum DPP Asosiasi Petard Kelapa Sawit Gulat Medali Emas Manurung sebelumnya menyebutkan bahwa kehadiran asap secara kontinyu secara natural akan membuat produksi tandan buah segar semakin sedikit.

PENGHEMATAN DEVISA

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan realisasi pemanfaatan biodiesel dalam program B20 pada 2019 tercatat baru sebesar 75% atau sebesar 6,26 juta kl, dari target 6,6 juta kl. “Tetapi sudah terjadi penghematan – devisa sebesar US$3,35 miliar atau Rp48,l 9 triliun,” ujarnya, Kamis (9/1). Adapun, sejak awal 2020, pemerintah siap menjalankan B30 dengan target produksi biodiesel sekitar 10 juta kl. Bahkan, pemerintah akan melanjutkan uji coba B40. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM Dadan Kusdiana mengatakan saat ini persiapan uji coba maupun uji jalan B40 yang penerapannya dimulai akhir 2020 dan B50 dimulai awal 2021. Khusus B40,ujila-borato-r i u m akan dilakukan dua minggu ke depan yakni sekitar awal Februari 2020. Sementara itu, target rampung uji jalan adalah pada Juli atau Agustus 2020. “Persiapan pelaksanaan dilakukan dengan kerja sama stakeholder, seperti Pertamina, Aprobi, Gaikindo, Asosiasi Kapal dan Ikatan Pengelola Alat Berat, pertanian, maupun kereta api,” katanya. 3.200.

Republika | Jum’at, 10 Januari 2020
Kementerian ESDM Mulai Uji Teknis Bahan Bakar Biodiesel B40

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mulai melakukan uji teknis bahan bakar biodiesel B40 dan B50. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana menjelaskan uji teknis tersebut dilakukan sebagai upaya percepatan setelah penerapan B30 yang diresmikan akhir tahun lalu. Dadan mengatakan uji teknis akan dilakukan dua minggu mendatang. Dia bilang saat ini pihaknya masih melakukan persiapan dengan menggandeng PT Pertamina (Persero), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), asosiasi alat berat dan lain sebagainya. “Uji teknis B40-B50 sedang persiapan, nanti dilakukan dengan stakeholder lainnya,” kata Dadan di Kementerian ESDM, Kamis (9/1). Sebelumnya usai meresmikan B30, Presiden Joko Widodo ingin mengakselerasi peningkatan kadar menjadi B40 di tahun depan dan berlanjut ke B50 di 2021 dan B100. Jokowi mengatakan percepatan harus dilakukan demi mengurangi impor dolar yang masih tinggi. Dengan mencapurkan bahan bakar nabati berupa minyak kelapa sawit akan membuat impor solar bisa ditekan lebih rendah. Sebab kandungan BBM yang diproduksi tidak 100 persen berasal dari solar namun ada campuran minyak kelapa sawit. “Bagi saya, nggak cukup B30. Saya perintahkan lagi tahun depan B40. Lalu di 2021 B50,” kata Jokowi. Apalagi, kata Jokowi, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia. Dengan dikonsumsi di dalam negeri nantinya Indonesia tidak mungkin lagi ditekan oleh negara yang selama ini menganggap sawit Indonesia memberikan dampak negatif. “Apakah kita mau keluar dari rezim impor atau tidak? Karena ini permintaan B30 ke B100 harus terus dikembangkan,” ujar dia. Di sisi lain, pemanfaatan biodiesel dalam negeri di tahun 2019 sebesar 6,26 juta kilo liter (KL). Jumlah ini setara dengan penghematan devisa sekitar 3,35 miliar dolar AS atau Rp 48,19 triliun.
https://republika.co.id/berita/q3v6v1383/kementerian-esdm-mulai-uji-teknis-bahan-bakar-biodiesel-b40

Medcom | Kamis, 9 Januari 2020
Pemerintah Mulai Gelar Uji Teknis B40-B50

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mulai melakukan uji teknis untuk menerapkan campuran solar dan minyak kelapa sawit (fatty acid methyl ester/FAME) menjadi biodiesel dengan kadar 40-50 persen (B40-B50). Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana. Uji teknis tersebut dilakukan sebagai upaya percepatan setelah penerapan B30 yang diresmikan akhir tahun lalu.
Dadan mengatakan uji teknis akan dilakukan dua minggu mendatang. Dia bilang saat ini pihaknya masih melakukan persiapan dengan menggandeng PT Pertamina (Persero), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), asosiasi alat berat dan lain sebagainya. “Uji teknis B40-B50 sedang persiapan, nanti dilakukan dengan stakeholder lainnya,” kata Dadan di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020. Sebelumnya usai meresmikan B30, Presiden Joko Widodo ingin mengakselerasi peningkatan kadar menjadi B40 di tahun depan dan berlanjut ke B50 di 2021 dan B100.

Jokowi mengatakan percepatan harus dilakukan demi mengurangi impor dolar yang masih tinggi. Dengan mencapurkan bahan bakar nabati berupa minyak kelapa sawit akan membuat impor solar bisa ditekan lebih rendah. Sebab kandungan BBM yang diproduksi tidak 100 persen berasal dari solar namun ada campuran minyak kelapa sawit. “Bagi saya, enggak cukup B30. Saya perintahkan lagi tahun depan B40. Lalu di 2021 B50,” kata Jokowi. Apalagi, kata Jokowi, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia. Dengan dikonsumsi di dalam negeri nantinya Indonesia tidak mungkin lagi ditekan oleh negara yang selama ini menganggap sawit Indonesia memberikan dampak negatif. “Apakah kita mau keluar dari rezim impor atau tidak? Karena ini permintaan B30 ke B100 harus terus dikembangkan,” ujar dia. Di sisi lain, pemanfaatan biodiesel dalam negeri di 2019 sebesar 6,26 juta kiloliter (KL). Jumlah ini setara dengan penghematan devisa sekitar USD3,35 miliar atau Rp48,19 triliun.
https://www.medcom.id/ekonomi/mikro/GNGjxWAK-pemerintah-mulai-gelar-uji-teknis-b40-b50

Sindo News | Kamis, 9 Januari 2020
Usai B30, Menteri ESDM Arifin Tasrif Kejar Penerapan Program B40

Program mandatori campuran biodiesel 30% dan 70% Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar alias B30 sudah diimplementasikan di seluruh Indonesia pada 1 Januari 2020. Pemerintah, ingin langsung tancap gas untuk meningkatkan baurannya menjadi B40 dan B50. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menekankan, bakal mengejar pemanfaatan Biodiesel 40% atau B40 (Campuran minyak solar 60% dengan 40 minyak mentah kelapa sawit/CPO). Sebab, saat ini pihaknya baru mulai menjual B30 yang diluncurkan pada awal Januari 2020. Diterangkan olehnya pemerintah terus mendorong pemakaian bahan bakar biodiesel atau campuran minyak kelapa sawit, sebagai upaya melepas ketergantungan impor minyak dan gas (migas). Disamping itu program B30 juga diyakini dapat menghemat devisa negara. “Mengenai B40 tentu saja semua program-program pemakaian jenis-jenis baru dari biodiesel harus dites dulu. Karena kita harus jamin kualitas produk ini engga berikan dampak negatif pada pemakai,” ujar Arifin Tasrif di Gedung ESDM, Jakarta, Kamis (9/1/2020). Sambung dia menegaskan, pemakaian B30 sangat baik untuk kendaraan karena tidak membuat mesin kendaraan tak berkarat. Pasalnya, B30 memiliki sifat pelenyap karat. “Memang pada awalnya pemakai alami kesulitan dengan filter, tapi selanjutnya enginenya akan lebih bersih dan mulus,” jelasnya.
https://ekbis.sindonews.com/read/1491994/34/usai-b30-menteri-esdm-arifin-tasrif-kejar-penerapan-program-b40-1578564456

Bisnis | Kamis, 9 Januari 2020
Realisasi Pemanfaatan Biodiesel 2019 Baru 75 Persen

Realisasi pemanfaatan biodiesel di dalam negeri sepanjang 2019 yang tercatat baru sebesar 75% dari target atau sebanyak 6,26 juta kiloliter (kl). Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan realisasi tersebut belum perhitungan penuh sampai akhir tahun. Kementerian ESDM mengaku masih akan melakukan inventarisasi data hingga akhir Januari 2020 untuk mencatat realisasi pemanfaatan biodiesel dalam negeri selama 2019. Meskipun realisasi yang tercatat baru 75% dari target pemenuhan konsumsi domestik yang sebesar 6,6 juta kl, terjadi penghematan devisa senilai US$3,35 miliar atau Rp48,19 triliun.Pada 2020, target produksi biodiesel melalui mandatori B30 sekitar 10 juta kl. Target ini lebih tinggi dari tahun lalu yang sebesar 7,37 juta KL. Sementara itu, realisasi produksi 2019 lebih tinggi dari target, yakni sebesar 8,37 juta kl. “B20 di tahun 2019 mencapai 6,26 juta kl, ini prognosis. Kami masih finalkan lagi pada akhir Januari nanti,” katanya, Kamis (9/1/2020). adapun produksi biodiesel terus mengalami peningkatan sejak mandatory diperluas. Pada 2014, produksi biodiesel sebanyak 3,96 juta kl, setelahnya 2015 1,62 juta kl, 2016 3,65 juta kl, 2017 3,41 juta kl, dan 2018 6,16 juta kl.

Tahun ini, pemerintah mulai menjalankan mandatory B30. Meskipun masih memiliki kekurangan, yakni dari sifat pelenyap karat yang mengakibatkan penggantian filter bahan bakar lebih cepat, namun hal itu dianggap tidak terlalu bermasalah. “Memang pada awalnya pemakai alami kesulitan dengan filter, tapi selanjutnya engine-nya akan lebih bersih dan mulus,” katanya. Sementara itu, pemerintah pun siap melakukan serangkaian uji coba B40. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM Dadan Kusdiana mengatakan penerapannya dimulai akhir 2020 dan B50 dimulai awal 2021. Khusus B40, uji laboratorium akan dilakukan Awal Februari 2020 dengan target rampung uji jalan adalah pada Juli atau Agustus 2020.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20200109/44/1188521/javascript