+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Mendag Tegaskan Sawit Esensial bagi RI

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 18 Januari 2019

Mendag Tegaskan Sawit Esensial bagi RI

Kelapa sawit merupakan komoditas yang esensial bagi Republik Indonesia serta sebagai salah satu sumber dari minyak yang paling ekonomis dan produktif bila dibandingkan dengan minyak dari tumbuhan lainnya seperti kedelai dan rapeseed. “Minyak sawit telah membantu mengangkat banyak warga dari kemiskinan dan menciptakan kalangan kelas menengah,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita seperti dilansir Antara saat seminar sawit sebagai pemberdayaan masyarakat yang digelar di Kedubes RI di Washington DC, kemarin. Menurut Mendag, berdasarkan sejumlah penelitian, minyak sawit juga dapat menghasilkan produktivitas energi yang lebih baik bila dikompar-asikan dengan jumlah yang dihasilkan minyak dari berbagai tumbuhan jenis lainnya. Berdasarkan riset peneliti dari Institute of Farm Economics, von Thunen Institute, pada 2010 menunjukkan, biaya produksi per ton dari rapeseed berkisar US$ 1.000-1.200 per ton di Eropa Barat, biaya produksi kedelai US$ 800 per ton di AS, serta US$ 400 per ton di Argentina dan Brazil, sedangkan biaya rata-rata produksi sawit US$ 380 per ton.

Sementara data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebutkan bahwa rape-seed dan kedelai masing-masing hanya menghasilkan 0,69 ton per hektare (ha) dan 0,45 ton per ha, sedangkan sawit diketahui dapat menghasilkan 3,85 ton per ha. Berbagai kalangan juga mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar cair di Indonesia. Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI) Tatang Hernas S dalam diskusi Sawit Bagi Negeri di Jakarta, Rabu (9/1), menyatakan, keberadaan minyak sawit sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Karena itu, keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung oleh semua pihak. Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Kismanto juga menyatakan, bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Sebab itu, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi harus terus didorong supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. Terkait hal itu, Ketua Umum Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan. Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor menjelaskan, persoalan masih dihadapi industri Biodiesel Indonesia, lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri sehingga asosiasi tersebut mendorong penggunaan konsumsi Biodiesel lebih besar di Indonesia.

Kompas | Jum’at, 18 Januari 2019

Sawit Dikampanyekan

Kampanye ditempuh melalui seminar yang digelar di Kedutaan Besar RI di Washington DC, AS, Rabu (16/1/2019) waktu setempat Materinya, antara lain, terkait isu pemberdayaan di industri minyak sawit, tantangan energi yang dihadapi dunia, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Seminar menghadirkan pembicara, antara lain Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Dono Boestami, Sekretaris Jenderal Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Riedo, dan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan. Dono memaparkan, menjawab tantangan sumber energi yang dihadapi dunia, Indonesia menerapkan mandatori B-20 sejak September 2018. Mandatori B-20 adalah kewajiban mencampurkan 20 persen Biodiesel ke setiap liter solar. “Sejauh ini, potensi penggunaan Biodiesel yang sangat besar belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya Kanya mengungkapkan, produksi sawit Indonesia pada Januari-November 2018 sebesar 47,61 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 32,02 juta ton di antaranya diekspor, antara lain, ke India sebanyak 6,714 juta ton dan ke AS 1,214 juta ton. Sementara, Bernard menyoroti upaya meningkatkan produktivitas. “Dengan produktivitas yang makin tinggi, ongkos produksi semakin rendah sehingga minyak nabati bisa semakin berdaya saing,” ujarnya Paulus menyampaikan, tantangan yang dihadapi Indonesia dalam industri Biodiesel adalah upaya meningkatkan kualitas. Tantangan lain berupa hambatan perdagangan dan proteksionisme yang dianut sejumlah negara.

Industri penting

Duta Besar RI untuk AS Budi Bowoleksono mengatakan, minyak sawit dan industrinya berperan sebagai pendorong ekonomi Indonesia Menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, sawit adalah salah satu industri yang penting bagi Indonesia “Sama pentingnya seperti Boeing bagi Amerika Serikat atau Airbus bagi Perancis,” katanya Enggartiasto berharap, seminar tersebut bisa membuka pemahaman yang lebih baik mengenai sawit, termasuk arti pentingnya bagi Indonesia “Indonesia juga fokus dalam usaha terkait isu lingkungan yang selama ini banyak disorot pada industri kelapa sawit,” ujarnya Ekspor minyak sawit Indonesia terhambat, antara lain, terkait isu lingkungan yang dikaitkan dengan tata kelola berkelanjutan dan pengenaan bea masuk dari negara tujuan ekspor. Selain mengampanyekan sawit, Indonesia menjajaki peluang meningkatkan pangsa pasar tekstil dan produk tekstil di .AS dalam pertemuan yang dihadiri pengusaha sektor tekstil dan kapas AS. Komoditas itu bisa dimanfaatkan dalam kerja sama perdagangan. AS diharapkan meningkatkan impor tekstil dan produk tekstil dari Indonesia, sedangkan Indonesia bisa menambah impor ba-han baku kapas dari AS.

Harian Kontan | Jum’at, 18 Januari 2019

Mulai Februari, Target Implementasi Kebijakan B20 Bisa 95%-96% dari Target

Implementasi wajib penggunaan 20% campuran Biodiesel dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar atau B20 untuk seluruh industri, memasuki bulan kelima di Januari 2019 ini. Adapun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan realisasi kebijakan ini sudah berjalan 93%. “Secara rata-rata dalam empat bulan (penerapan) B20 sudah 86%. Tapi akhir Desember 2018 sudah 90 %. Lumayan lah, kalau sampai Februari nanti saya kira sudah akan bergerak di atas 93%, antara 95% sampai 96%,” ungkap Darmin usai mengikuti rapat koordinasi pemantauan kebijakan B20 di kantornya, Kamis (17/1). Adapun, langkah yang diambil pemerintah untuk meningkatkan implementasi B20 adalah dengan menambahkan dua buah floating storage di Balikpapan, Kalimantan Timur. Darmin berharap dengan penambahan ini, maka implementasi B20 bisa 100%. Meski demikian, banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang perlu dilakukan pemerintah hingga mencapai penerapan 100% B20. Hal ini juga terkait masalah cuaca, khususnya distribusi Biodiesel melalui jalur laut yang terhambat akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi dalam beberapa waktu terakhir ini.

Kendati demikian, Darmin mengupayakan berkoordinasi dengan TNI, Kementerian Perhubungan, dan Pemerintah daerah (pemda) terkait untuk mencari solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Terkait impor minyak untuk diproduksi menjadi solar, sejauh ini Darmin menyebut ada penurunan. Namun, penurunan ini tidak signifikan sehingga belum terasa dampaknya untuk menekan defisit neraca dagang nasional dari impor minyak dan gas (migas) secara keseluruhan. Terkait penggunaan Biodiesel untuk 2019 ini, Darmin menyebut penggunaannya bisa mencapai 6 juta kilo liter (kl) atau dengan kata lain setiap bulan ditargetkan penggunaan bahan bakar nabati ini bisa mencapai 500.00 KL. Meskipun bisa menekan impor minyak untuk solar, tapi Darmin belum bisa memprediksi penghematan yang bisa dilakukan pada tahun lalu. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi penghematan dari kebijakan B20 sepanjang tahun 2018 mencapai Rp 13 triliun.

Darmin menyebut target pelaksanaan B20 dalam jangka pendek belum akan berbicara penghematan dari pengurangan impor minyak solar, melainkan dari sisi implementasi yang terus didorong agar bisa segera mencapai 100%. Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor sangat berharap program B20 ini bisa berjalan efektif dan kemudian ditingkatkan menjadi B30 dan lanjut ke tahapan berikutnya. Menurut Tumanggor, optimalisasi konsumsi minyak sawit termasuk untuk Bahan Bakar Nabati menjadi opsi yang paling relevan untuk mengerek kembali harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Tumanggor bilang berbagai langkah memang terus diupayakan para pengusaha minyak sawit agar harga kembali melonjak, namun semua butuh proses. Opsi membuka pasar ekspor baru non tradisional baru terlihat hasilnya dalam jangka panjang, sedangkan opsi memaksimalkan penggunaan Biodiesel bisa lebih cepat karena prosesnya sudah berjalan saat ini.

Indo Pos | Jum’at, 18 Januari 2019

Pertamina Telurkan Minyak Diesel 100 Persen

PT Pertamina didorong melahi-ran produk minyak diesel 100 persen Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya, sejauh ini produk baru hanya menyerap 7 persen. Tidak dipungkiri, Pertamina telah mencampur melalui produk bio diesel (B20). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan Pertamina selain mencampur bagian minyak sawit juga melalui produk baru dengan memanfaatkan kernel oil dan residu. “Nanti, akan dibangun unit lain dengan seratus persen memakai minyak sawit,” tutur Jonan di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis (17/1). Ia mengatakan, pemerintah mendorong inisiatif Pertamina. Selain mengurangi gas buang juga dapat menekan impor BBM. Karena untuk sementara, Indonesia mengimpor sekitar 400 ribu barel per hari. Pemerintah berharap hal tersebut dapat terwujud untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Minyak sawit selama ini diekspor, diharapkan dapat diserap di dalam negeri karena produksi berlimpah. Selain itu, terpenting telah terjadi perubahan di Pertamina yakni dari sebatas mengolah energi fosil menjadi energi,terbarukan. “Sejauh ini, Pertamina sudah menghasilkan produk B20 menggunakan campuran diesel,” tambah Direktur PT Pertamina Nicke Widyawati. Saat ini, RU III Pertamina memiliki dua kilang yakni Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong sudah mampu memanfaatkan kernel oil atau produk turunan dari CPO dicampurkan dengan residu. “Selama ini, residu jadiwaste, tapi karena diproses di kilang maka bisa menjadi produk Green Fuel lebih baik kadar oktan-nya,” tegas wanita berkerudung. Ia juga menjanjikan bakal memproduksi minyak diesel sudah memiliki kandungan 100 persen minyak sawit di kilang RU III Palembang. Di mana, unitnya akan dibangun tahun 2019. Sedang untuk produk dari bahan kernel oil juga akan dibuka di Kilang Balikpapan, Kilang Balongan, dan Kilang Cilacap. Secara perlahan, Pertamina juga akan mencampur B20 dengan minyak sawit karena produknya secara lingkungan jauh lebih baik.

Media Indonesia | Jum’at, 18 Januari 2019

Penerapan B20 Hampir 100%

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optirhistis realisasi penerapan Biodiesel 20% atau B20 bisa di atas 93% pada Februari mendatang. Ia pun berharap realisasi penerapan B20 bisa mencapai 100% dengan adanya penambahan floating storage (penyimpanan terapung) di Balikpapan dan Tuban. B20 ialah pencampuran bahan bakar nabati (BBN) berupa minyak kelapa sawit sebesar 20% tB20) ke dalam bahan bakar minyak (BBM). “Kalau sampai Februari, saya kira sudah akan bergerak pokoknya di atas 93%, mungkin 95%-96%,” katanya saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, kemarin. Saat ini, realisasi penyaluran B20 pun sudah di kisaran 90%. Untuk kesiapan floating storage sendiri, diakui Darmin, yang di Tuban masih terdapat kendala. “Yang Tuban, kita belum selesai karena itu lautnya mesti dibersihkan,” ucapnya. Namun, sambungnya, kesiapan floating storage tersebut akan lebih dipercepat. Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto memaparkan kebijakan B20 mampu menghemat impor solar sebesar US$937,84 juta. Adapun penyaluran FAME (fatty acid methyl ester) Biodiesel selama 2018, menurut dia, mencapai 1,67 juta kiloliter (kl).

“Penerapan kebijakan B20 merupakan keseriusan pemerintah dalam memperhatikan soal ketahanan energi nasional yang juga menjadi masalah serius ke depan, terutama mengurangi penggunaan bahan bakar fosil,” ujarnya, Selasa (15/2). Soal denda bagi perusahaan yang tidak menjalankan kebijakan penerapan B20, Darmin menerangkan bahwa saat ini mereka tengah mengajukan keberatan. “Ini masih masa sanggah. Kalau enggak salah sampai minggu pertama Februari,” ungkap Darmin. Sebelumnya, Djoko Siswanto mengatakan 11 perusahaan yang dinilai tidak menjalankan kebijakan penerapan B20 secara maksimal telah menerima surat pemberitahuan dari Kementerian ESDM.

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 18 Januari 2019

Darmin Pelaksanaan Kebijakan B20 Cukup Berhasil

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pelaksanaan kebijakan penggunaan Biodiesel (B20) secara mandatori cukup berhasil meningkatkan penggunaan minyak sawit (CPO) sebagai bahan bakar. Hal ini tergambar dari realisasi kumulatif penyaluran FAME (Fatty Acid Methyl Esters). Menurut Darmin, pelaksanaan kebijakan penggunaan Biodiesel (B20) untuk mengurangi impor solar, sudah berjalan dengan baik. “Perkembangan B20 sudah lumayan baik,” kata Darmin saat ditemui usai rapat koordinasi membahas pengawasan kebijakan B20 di Jakarta, Kamis (17/1). Darmin mengatakan peningkatan penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar terlihat dari realisasi kumulatif penyaluran minyak nabati atau lemak hewan yang telah melalui proses esterifikasi atau transesterifika-si (FAME) yang hampir mencapai 90%. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan penyaluran FAME tahun 2018 sebesar 3.478.825 kiloliter (kl), atau 86% dari target penyaluran FAME sebesar 4.041.358 kl. Rinciannya untuk public service obligation (PSO) sebesar 2.720.753 kl atau 94% periode Januari-Desember, dan non-PSO 758.072 kl atau 66% periode September-Desember.

Dengan penggunaan FAME ini, maka minyak sawit bisa dipakai 100% untuk seluruh kendaraan diesel atau digunakan untuk pencampuran dengan solar pada tingkat tertentu, seperti 20%. “Pemerintah sangat mengapresiasi kemajuan kinerja ini,” kata Darmin seperti dikutip Antara. Untuk 2019, pemerintah menetapkan target penyaluran FAME pada kisaran 6,2 juta kl dengan realisasi yang ditargetkan bisa mencapai di atas 93%. Terkait konfigurasi 25 titik serah untuk Tangki Bahan Bakar Minyak (TBBM), juga sudah dilakukan pengoperasian dua floating storage di Balikpapan mulai Januari 2019 dengan penerimaan perdana FAME berasal dari PT Wilmar Bioenergi. Namun, menurut Darmin, penggunaan floating storage di TBBM Tuban masih terkendala karena potensi ranjau laut dan ombak yang besar pada musim Barat atau Timur. “Sebelum hal ini diatasi, penyaluran FAME yang seyogyanya dilakukan melalui laut ke floating storage Tuban, dialihkan ke beberapa TBBM lain, seperti semula,” kata dia.

Rakyat Merdeka | Jum’at, 18 Januari 2019

Jonan Dorong Pertamina Kembangin Green Diesel

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya menciptakan energi ramah lingkungan. Selain mendorong penggunaan campuran Biodiesel 20 persen (B20), Kementerian ESDM juga mendorong Pertamina untuk membuat green diesel yang berasal dari Crude Palm Oil (CPO). Menggunakan penerbangan pagi, kemarin, Menteri ESDM Ignasius Jonan bertolak ke Sumatera Selatan (Sumsel). Dia didampingi Dirjen Minerba Bambang Gatot, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konsevasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana, dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Jadwal Jonan di SumseLcukup padat. Pukul 09.45 WIB, Jonan bersama Bambang mengunjungi Kantor Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional (Divre) III Palembang. Di sana sudah ada Dirut Bukit Asam Arviyan Arifin dan Dirut PT KAI Edi Sukmoro yang tengah membi-caran bisnis angkutan batubara. Sambutan di Divre III cukup hangat. Mereka menanti kedatangan mantan Dirut KAI itu. Berkumpul di ruang rapat Sriwijaya, Jonan disuguhkan video selama dirinya masih menukangi KAI. Rasa bangga bercampur haru, tak bisa disembunyikan Jonan. Pegawai di sana juga antusias selfie dengan Jonan.”

Dari kantor KAI, Jonan lanjut blusukan ke Refinary Unit (RU) III Plaju di Palembang. Di markas Pertamina ini, Jonan di dampingi Ridha. Nicke beserta jajarannya juga telah menunggu. Mereka mengadakan pertemuan tertutup sekitar 20 menit untuk membahas green diesel. Jonan menegaskan, pemerintah telah berkomitmen menerapkan bahan bakar ramah lingkungan. “Yang dilakukan adalah mencampur kelapa sawit. Baik residu atau bagian lain dari kelapa sawit ke minyak diesel. Sehingga minyaknya akan lebih ramah lingkungan,” tuturnya.Pemerintah menugaskan Pertamina untuk melakukan pengolahan bahan bakar ramah lingkungan. Sehingga proses ini akan dilakukan di RU Plaju dan RU Sungai Gerong di Palembang. Bukaricuma itii. Jonan juga mengatakan, akan dibangun kilang untuk mengubah sawit menjadi 100 persen diesel. Ini juga sebagai upaya pemerintah mengurangi gas buang dan polusi. “Ini juga supaya Pertamina berubah. Dari pengolah energi fosil menjadi sebagian pengolah energi yang terbarukan, juga dari kelapa sawit,” cetus Jonan.

Secara ekonomis, kata dia, upaya ini bisa mengurangi impor bahan bakar. Saat ini impor bahan bakar tembus 400 ribu barel per hari. Sehingga upaya pengolahan minyak sawit menjadi green diesel sangat penting dilakukan. Nicke mengatakan, RU III menghasilkan minyak kernel. Yakni, produk turunan dari CPO dicampur dengan residu yang selama ini terbuang. Residu itu kemudian diproses di unit Re-, sidu Catalytic CracJcthgtRCC) menjadi produk green fuelyang lebih baik. Hasil pengolahan ini secara emisi karbon jauh lebih baik untuk lingkungan. Nicke juga mengamini. Pertamina akan melakukan proses 100 persen diesel dari CPO di RU III Plaju. Bahkan nantinya akan ada pengolahan serupa di berbagai daerah di Indonesia. “Untuk yang co-processing ker nel oil dicampur dengan residu. Setelah Plaju kita juga akan lakukan di kilang Balikpapan, Kilang Balongan dan Kilang Cilacap. Jadi kita akan tambah kapasitasnya sehingga perlahan yang B20 juga akan kita campur, jadi ada beberapa opsi,” lanjut Nicke. Sekadar informasi, pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Hal ini merupakan kmit-men pemerintah untuk mencapai bauran energi nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025. komitmen pemanfaatan EBT ini meliputi dua sektor yang terbesar, yaitu kelistrikan dan transportasi.

Bisnis | Jum’at, 18 Januari 2019

Pemerintah Klaim Dampak Mandatory B20 Mulai Terasa ke Penggunaan Minyak Sawit

Kebijakan pemerintah yang menetapkan penggunaan biodiesel B20 secara mandatori cukup berhasil meningkatkan penggunaan minyak sawit (CPO) sebagai bahan bakar. Hal ini tergambar dari realisasi kumulatif penyaluran FAME (Fatty Acid Methyl Esters). Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menunjukkan penyaluran FAME pada 2018 sebesar 3,4 juta kiloliter (KL), atau 86% dari target penyaluran FAME sebesar 4,04 juta. Perinciannya untuk Public Service Obligation (PSO) 2,7 KL atau 94% periode Januari-Desember, dan Non-PSO 758.072 KL atau 66% periode September-Desember. Secara bulanan pun dilaporkan bahwa penyaluran FAME kian membaik. Pada bulan Desember, rasio realisasi penyaluran FAME dengan volume FAME teoritis sebesar 93%. Index keberhasilan ini lebih tinggi dibandingkan dengan index keberhasilan bulan-bulan sebelumnya. “Pemerintah sangat mengapresiasi kemajuan kinerja ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat memimpin Rapat Koordinasi Monitoring Mandatori B20 pada Kamis (17/1/2019), di Jakarta. FAME sendiri merupakan minyak nabati atau lemak hewan yang telah melalui proses esterifikasi atau transesterifikasi. Dengan begitu, miinyak sawit ini bisa dipakai 100% untuk seluruh kendaraan diesel. Bisa juga dicampur dengan Solar pada tingkat tertentu, seperti 20%.

Jadi, program B20 ini mengombinasikan 80% Solar dan minyak sawit 20%. Mengenai konfigurasi 25 titik serah atau tangki Bahan Bakar Minyak (TBBM), juga sudah dilakukan pengoperasian 2 floating storage yang berlokasi di Balikpapan. Hal ini dimulai per 2 Januari 2019, di mana telah dilakukan penerimaan perdana FAME dari PT Wilmar Bioenergi Indonesia dengan menggunakan floating storage sebagai sarana penyimpanan FAME. Lebih lanjut Darmin menjelaskan penggunaan floating storage di TBBM Tuban masih terkendala karena potensi ranjau laut dan ombak yang besar pada musim barat/timur. “Sebelum hal ini diatasi, penyaluran FAME yang seyogyanya dilakukan melalui laut ke floating storage Tuban, dialihkan ke beberapa TBBM lain, seperti semula,” kata Darmin. Dengan demikian, titik serah di sekitar Tuban akan tetap seperti semula, yakni 4 TBBM sehingga secara keseluruhan, titik serah menjadi 29 (25+4) titik serah. Sementara itu untuk 2019, pemerintah menetapkan target penyaluran FAME sebesar 6,2 juta KL. “Dengan konfigurasi baru, diharapkan bahwa realisasi dapat mencapai di atas 93%,” kata Darmin.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190118/44/879964/pemerintah-klaim-dampak-mandatory-b20-mulai-terasa-ke-penggunaan-minyak-sawit

Tempo | Kamis, 17 Januari 2019

Mendag: Sawit Sumber Minyak yang Ekonomis dan Produktif

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan kelapa sawit merupakan komoditas yang esensial bagi Republik Indonesia serta sebagai salah satu sumber dari minyak yang paling ekonomis dan produktif bila dibandingkan dengan minyak dari tumbuhan lainnya seperti kedelai dan “rapeseed”. “Minyak sawit telah membantu mengangkat banyak warga dari kemiskinan dan menciptakan kalangan kelas menengah,” kata Enggartiasto dalam acara seminar sawit sebagai pemberdayaan masyarakat yang digelar di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC, Rabu waktu setempat atau Kamis WIB, 17 Januari 2019. Menurut Mendag, berdasarkan sejumlah penelitian, minyak kelapa sawit juga dapat menghasilkan produktivitas energi yang lebih baik bila dikomparasikan dengan jumlah yang dihasilkan oleh minyak dari berbagai tumbuhan jenis lainnya. Riset peneliti dari Institute of Farm Economics, von Thunen Institute, pada 2010 menunjukkan bahwa biaya produksi per ton dari “rapeseed” berkisar 1.000-1.200 dolar AS/ton di Eropa Barat, biaya produksi kedelai adalah 800 dolar AS/ton di AS serta 400 dolar AS/ton di Argentina dan Brasil, sedangkan biaya rata-rata produksi sawit 380 dolar AS/ton.

Sementara data dari Badan Pengelola Dana Sawit (BPDP) menyebutkan bahwa “rapeseed” dan kedelai masing-masing hanya menghasilkan 0,69 ton per hektare dan 0,45 ton per hektare, sedangkan sawit diketahui dapat menghasilkan 3,85 ton per hektare. Berbagai kalangan mengungkapkan minyak sawit memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi atau bahan bakar cair di Indonesia. Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI), Tatang Hernas S dalam diskusi “Sawit Bagi Negeri” di Jakarta, Rabu (9/1), menyatakan keberadaan minyak sawit sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan bakar minyak cair. Karena itu keberadaan komoditas perkebunan itu harus terus didukung semua pihak. Senada dengan itu peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Agus Kismanto, menyatakan bioenergi berbahan baku minyak sawit sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai bioenergi. Sebab itu, lanjutnya, penggunaan minyak sawit sebagai bioenergi, harus terus didorong, supaya menjadi sumber energi hijau dan terbarukan. Terkait hal itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono menyatakan keberadaan minyak sawit terus memberikan kontribusi besar bagi negara dan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan industri turunan minyak sawit sebagai bioenergi, yang juga menguntungkan secara lingkungan. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), MP Tumanggor, menjelaskan persoalan masih dihadapi industri biodiesel Indonesia, lantaran produksi masih jauh dari kapasitas industri sehingga asosiasi tersebut mendorong penggunaan konsumsi biodiesel lebih besar di Indonesia.

https://bisnis.tempo.co/read/1165990/mendag-sawit-sumber-minyak-yang-ekonomis-dan-produktif/full&view=ok

Antaranews | Kamis, 17 Januari 2019

Dirjen: RI-AS berkomitmen meningkatkan nilai perdagangan

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan, Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen untuk meningkatkan nilai perdagangan masing-masing negara. “Indonesia dan AS memiliki keinginan yang sama guna meningkatkan hubungan perdagangan,” kata Arlinda dalam acara Business Matching Indonesia-USA yang diselenggarakan di Konjen RI di New York, Amerika Serikat, Kamis. Arlinda ketika memberikan kata sambutan dalam acara tersebut memaparkan, pada periode Januari hingga Oktober 2018, perdagangan antara kedua negara meningkat 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menurut dia, pada saat ini juga terjadi peningkatan korporasi yang berasal dari Negeri Paman Sam yang ingin berinvestasi di dalam Indonesia. Dirjen PEN juga mengemukakan, dalam rangka menunjukkan keseriusan tersebut, dalam rangka kunjungan Mendag ke AS, pihaknya membawa pengusaha dari sekitar 15 perusahaan. Sebagaimana diwartakan, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyambut 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika Serikat dengan mengawali kunjungan diplomasi perdagangan Indonesia tahun ini ke AS.

“Kunjungan kerja sekaligus misi dagang ini dilakukan karena AS merupakan salah satu negara terpenting tujuan ekspor Indonesia dan sumber investasi asing saat ini. Melalui kunjungan kerja ini, Indonesia terus menjaga dialog terbuka untuk memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi dengan AS,” jelas Mendag. Delegasi bisnis Indonesia yang menyertai kunjungan kerja Mendag kali ini terdiri dari para pengusaha yang berminat mengembangkan ekspor dan impor dengan AS, serta melakukan investasi baik di AS maupun di Indonesia. Hal ini merupakan kelanjutan dari kunjungan kerja pada bulan Juli 2018, dimana Mendag RI dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross antara lain sepakat untuk meningkatkan perdagangan dua arah dari 28 milliar dolar AS saat ini menjadi 50 milliar dolar AS. Sejumlah pengusaha Indonesia yang akan mengikuti misi dagang ini antara lain bergerak di sektor kelapa sawit, alumunium dan baja, hasil laut, kedelai dan gandum, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas dan perhiasan. Selain itu, turut serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Indonesia Biofuels Producers Association (APROBI-IBPA), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Sebagaimana diketahui, total perdagangan Indonesia-AS mencapai 25,92 miliar dolar AS, surplus untuk Indonesia sebesar 9,7 miliar dolar AS. Sementara total perdagangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif sebesar 0,39 persen. Pada tahun 2017, AS merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-2 setelah China dengan nilai USD 17,1 miliar dolar AS. Sedangkan produk ekspor utama Indonesia ke AS, antara lain udang; karet alam; alas kaki; ban, dan pakaian wanita.

https://www.antaranews.com/berita/788786/dirjen-ri-as-berkomitmen-meningkatkan-nilai-perdagangan

Detik | Kamis, 17 Januari 2019

Menteri Jokowi Pede B20 Bisa Kurangi Impor Solar 6 Juta Kl

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah optimistis bisa memangkas impor solar sebesar 6 juta kiloliter (KL) di 2019. Keyakinan ini karena sekarang bergulir program biodiesel 20% (B20). Penghematan impor solar hingga 6 juta kl itu seiring dengan pemanfaatan Fatty Acid Methyl Esters (FAME). FAME merupakan bahan dasar dari B20. Tahun ini penyerapan FAME ditargetkan sekitar 6 juta kl. “2019 itu diperkirakan FAME itu akan kira kira 6 juta kl. Berarti impor solarnya akan berkurang segitu (6 juta kl),” sebutnya. Namun, 6 juta kl FAME hanyalah bagian 20% yang dicampur ke B20. Artinya masih ada konsumsi 80% solar yang tidak bisa dihindarkan dalam campuran B20 tersebut. “Tapi berarti itu 20% dari total solarnya. 20% itu berarti 6 juta kl, 80% sisanya hitung saja sisanya, pakai kalkulator kan bisa,” sebutnya. Darmin menambahkan akan membantu Kementerian ESDM agar program yang salah satu tujuannya untuk mengurangi impor solar itu lebih efektif. “Sebenarnya ya kita membantu ESDM untuk supaya ini efektif. Pokoknya kita akan terus sampai benar benar ya kalau nggak 100% ya dekat benar lah dengan 100% (realisasinya),” tambahnya.

https://finance.detik.com/energi/d-4389760/menteri-jokowi-pede-b20-bisa-kurangi-impor-solar-6-juta-kl

Detik | Kamis, 17 Januari 2019

B20 Belum Efektif Tekan Defisit Migas

Program biodiesel 20% (B20) sebagai campuran pada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar belum efektif memberikan hasil dalam hal menekan impor migas nasional. Neraca migas sepanjang 2018 mengalami defisit US$ 12,40 miliar yang dikarenakan tingginya impor hasil minyak, impor minyak mentah dibandingkan dengan ekspornya. “Karena memang B20 itu akan ekonomis kalau harga minyaknya di atas US$ 70 per barel,” kata Chief Economist Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Selain harganya yang belum ekonomis, penerapan B20 juga masih belum terbiasa dilakukan masyarakat. Karena, saringan kendaraan harus memang sering dibersihkan.”Jadi betul (belum efektif), karena belum ekonomis, jadi memang kita di migas itu sangat bergantung dengan harga minyak dunia,” ujar dia.

https://finance.detik.com/energi/d-4388709/b20-belum-efektif-tekan-defisit-migas

Antaranews | Kamis, 17 Januari 2019

Darmin sebut pelaksanaan kebijakan biodiesel B20 sudah baik

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pelaksanaan kebijakan pencampuran unsur nabati ke dalam biodiesel sebesar 20 persen atau B20 untuk mengurangi impor solar, sudah berjalan dengan baik. “Perkembangan B20 sudah lumayan baik,” katanya saat ditemui seusai rapat koordinasi membahas pengawasan kebijakan B20 di Jakarta, Kamis. Darmin mengatakan peningkatan penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar terlihat dari realisasi kumulatif penyaluran minyak nabati yang telah melalui proses esterifikasi atau transesterifikasi (FAME) yang hampir mencapai 90 persen. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan penyaluran FAME tahun 2018 sebesar 3.478.825 kiloliter (KL), atau 86 persen dari target penyaluran FAME sebesar 4.041.358 KL. Rinciannya untuk kewajiban pelayanan publik (public service obligation/PSO) sebesar 2.720.753 KL atau 94 persen periode Januari-Desember 2018 dan non-PSO 758.072 KL atau 66 persen periode September-Desember 2018. Dengan penggunaan FAME ini, maka minyak sawit bisa dipakai 100 persen untuk seluruh kendaraan diesel atau digunakan untuk pencampuran dengan solar pada tingkat tertentu, seperti 20 persen.

“Pemerintah sangat mengapresiasi kemajuan kinerja ini,” kata Darmin. Untuk tahun 2019, pemerintah menetapkan target penyaluran FAME pada kisaran 6,2 juta KL dengan realisasi yang ditargetkan bisa mencapai di atas 93 persen. Terkait konfigurasi 25 titik serah untuk terminal bahan bakar minyak (TBBM), juga sudah dilakukan pengoperasian dua penyimpanan terapung (floating storage) di Balikpapan, Kaltim, mulai Januari 2019 dengan penerimaan perdana FAME berasal dari PT Wilmar Bioenergi. Namun, menurut Darmin, penggunaan floating storage di TBBM Tuban, Jatim, masih terkendala karena potensi ranjau laut dan ombak yang besar pada musim barat atau timur. “Sebelum hal ini diatasi, penyaluran FAME yang seyogyanya dilakukan melalui laut ke floating storage Tuban, dialihkan ke beberapa TBBM lain, seperti semula,” katanya.

https://www.antaranews.com/berita/788785/darmin-sebut-pelaksanaan-kebijakan-biodiesel-b20-sudah-baik

Merdeka | Kamis, 17 Januari 2019

Menko Darmin: Program B20 Mampu Tekan Impor Solar 6 Juta Kiloliter di 2019

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution menyebut bahwa kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20 persen atau B20 ke dalam Bahan Bakar Minyak ( BBM) memberikan dampak positif terhadap impor solar. Dia memprediksi, penggunaan B20 mampu memangkas impor solar sebesar 6 juta Kiloliter (Kl). “2019 itu diperkirakan fame itu akan kira kira 6 juta Kl. Berarti impor solarnya akan berkurang segitu. Iya dong ya, berarti itu 20 persen dari total solarnya,” ujar Menko Darmin saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (17/1). Menko Darmin melanjutkan, penyaluran B20 hingga saat ini sudah cukup baik atau mencapai 90 persen. Angka ini akan terus dimaksimalkan hingga mencapai 100 persen dengan menambah sejumlah pusat pencampuran atau floating storage di titik-titik tertentu.

“B20 ya perkembangannya sudah mulai lumayan baik sudah di atas 90 persen realisasinya dan kita sedang menambahkan ada floating storage dua di Balikpapan mudah-mudahan dengan itu akan makin dekat ke 100 persen. Masih ada satu lagi sih tapi masih perlu waktu. Iya Tuban,” jelas Menko Darmin. Permasalahan saat ini, kata Menko Darmin adalah penyaluran ke daerah-daerah tertentu yang membutuhkan treatment atau perlakuan khusus. Salah satunya Tuban, di mana lautnya harus dibersihkan terlebih dahulu dari ranjau laut. “Saya kira masih ada satu lagi yang kita Tuban belum selesai karena itu lautnya mesti dibersihkan urusan ranjau laut. Sudah enggak karu-karuan pokoknya ya gitu-gituan dulu. Apalagi musim juga belum bagus kan musim gini pasti ombaknya terlalu gede kita akan undang TNI, perhubungan, pemda,” jelasnya.

https://www.merdeka.com/uang/menko-darmin-program-b20-mampu-tekan-impor-solar-6-juta-kiloliter-di-2019.html

Bisnis | Kamis, 17 Januari 2019

Pertamina Berambisi Olah 100% CPO jadi BBM

PT Pertamina (Persero) menargetkan penggunaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) secara 100% menjadi bahan bakar minyak secara bertahap untuk mendukung energi baru dan terbarukan sekaligus mengurangi impor bahan bakar. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyati, mengatakan ambisi perseroan menjadikan CPO secara 100% sebagai BBM itu dimulai dengan proses pengolahan di Kilang Plaju atau Refinery Unit III yang berada di Kota Palembang, Sumatra Selatan. “Kami akan melakukan proses pengolahan 100% CPO [menjadi BBM] di sini, di Kilang Plaju,” katanya di sela kunjungan kerja bersama Menteri ESDM terkait green refinery di Pertamina RU III, Kamis (17/1/2019). Nicke menjelaskan saat ini perseroan sudah menghasilkan dua jenis biofuel, pertama adalah biodiesel yang dikenal dengan B20 dan sekarang dihasilkan oleh RU III berupa kernel oil dari CPO yang dicampur dengan residu sehingga dapat menjadi produk green fuel yang lebih baik.

Diketahui, Perusahaan telah melakukan ujicoba skema co-processing dengan menginjeksi produk turunan CPO berupa refine bleached deodorized palm oil (RBDPO) secara bertahap 2,5% hingga 7,5% pada akhir tahun lalu. “Hasilnya cukup menggembirakan, karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number hingga 91,3,” kata Nicke. Dia mengemukakan nantinya co-processing CPO tersebut akan diterapkan pula di kilang Pertamina lainnya, yakni di Balikpapan, Balongan dan Cilacap. Co-Processing merupakan salah satu opsi metode produksi green-fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan menjadi green fuel. Pengembangan green energy di Kilang Plaju, lanjut Nicke, akan menghemat kas perseroan hingga US$ 160 juta atau Rp2,3 triliun per tahun, sekaligus mengurangi impor minyak hingga 7,36 ribu barel per hari (bph). Dia memaparkan Saat ini, unit RFCC Kilang Plaju yang berkapasitas 20,5 Million Barel Steam Per Day (MBSD) mampu menghasilkan green fuel yang lebih ramah lingkungan sebanyak 405.000 barel per bulan setara 64.500 kilo liter per bulan. “Selain itu, kilang ini juga menghasilkan produksi elpiji ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan,” katanya.

Menurut Nicke, pihaknya telah menjajaki kerjasama dengan PTPN untuk suplai kelapa sawit sebagai bahan baku green fuel, agar bahan bakar yang dijual tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Dalam jangka panjang, Pertamina telah melakukan kerjasama dengan ENI, perusahaan minyak asal Italia yang menjadi pelopor konversi kilang pertama di dunia, untuk mengembangkan kilang-kilang Pertamina menjadi green refinery. Kerjasama ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam menyediakan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan sumber daya alam dalam negeri untuk menciptakan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional. Sementara itu Menteri ESDM RI Ignasius Jonan mengatakan pemerintah mendukung penggunaan energi atau bahan bakar yang lebih bersih. “Sehingga nantinya diharapkan bisa mengubah 100% minyak kelapa sawit [jadi BBM] untuk mengurangi emisi gas buang dan polusi,” katanya. Jonan menambahkan tujuan yang tak kalah penting dari penggunaan CPO adalah untuk mengurangi impor bahan bakar yang selama ini bisa mencapai 400.000 barrel per hari. “Nanti bisa menggunakan kelapa sawit yang berasal dari dalam negeri. Langkah ini juga supaya Pertamina bisa berubah dari pengelola energi fosil menjadi energi terbarukan dari kelapa sawit,” katanya.

https://sumatra.bisnis.com/read/20190117/534/879710/pertamina-berambisi-olah-100-cpo-jadi-bbm

Okezone | Kamis, 17 Januari 2019

Kebijakan B20 Pangkas Impor Solar 6 Juta Kiloliter

Kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20% (B20) ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai mampu menghemat impor solar sebesar USD937,84 juta. Dengan adanya hal tersebut, Menteri Kordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, penyaluran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) Biodiesel pada 2019 sebesar 6 juta kiloliter (kl). “Berarti impor solarnya 2019 akan berkurang segitu. Iya dong ya, tapi berarti itu 20% dari total solarnya. 20% itu berarti 6 juta kl, 80% sisanya hitung aja sisanya, pakai kalkulator kan bisa,” ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian Jakarta, Kamis (17/1/2019). Pihaknya akan mempercepat pelaksanaan B20 agar nantinya bisa merealisasikan B30. “Kalau pertimbangan ya jelas. Tapi kita akan mensosialisasikan segala macam dulu lah ya masukan dulu. Karena B20 aja baru 4 bulan. Tapi lan lumayan hasilnya,” tuturnya. Penerapan kebijakan B20 merupakan keseriusan Pemerintah dalam memperhatikan soal ketahanan energi nasional yang juga menjadi masalah serius ke depan, terutama mengurangi dominasi penggunaan bahan bakar fosil.

https://economy.okezone.com/read/2019/01/17/320/2005949/kebijakan-b20-pangkas-impor-solar-6-juta-kiloliter