+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Mengawal Implementasi Biosolar

Pada awal dikeluarkannya kebijakan mandatory pemakaian biodiesel sebesar 20% (B-20) di kendaraan bermotor setahun lalu, pemerintah berkeyakinan bila regulasi itu diterapkan secara berlanjut dan konsisten impor bahan bakar minyak mampii ditekan hingga 6,9 juta kiloliter per tahun atau setara dengan penghematan devisa US$2 miliar. Selain itu, program tersebut juga dinilai mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi bersih. Pasalnya, B20 diperkirakan mampu mengurangi emisi setara 9 juta-18 juta ton karbondioksida (CO2) per tahun. Dalam pelaksanaannya, kebijakan pemanfaatan biodiesel ini dilakukan secara bertahap. Sejak 1 September 2013, pemanfaatan biodiesel ditingkatkan menjadi 10% (BIO). Kemudian mulai 1 April 2015, biodiesel untuk campuran bahan bakar minyak jenis solar ini ditingkatkan menjadi 15% (BIS), hingga pada 2016 ditingkatkan jadi 20%. Sesuai ketentuan, dengan program B-20 berarti dalam setiap 1 liter solar akan memiliki 20% biodiesel dan 80% solar murni. Menteri ESDM Sudirman Said kala itu, mengakui tak mudah menjalankan regulasi kewajiban pemakaian biodiesel pada bahan bakar minyak. Akan banyak tantangan yang dihadapi, baik itu dari sisi teknis maupun non-teknis. di tengah ancang-ancang meningkatkan penggunaan dari 20% menjadi 30%, apa yang dikhawatirkan terjadi. Sejumlah keluhan konsumen pun mulai menyeruak. PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), misalnya, menerima laporan bahwa penggunaan biosolar membuat filter kendaraan cepat kotor. Dibandingkan dengan solar, bahan bakar ini menghasilkan endapan kotoran lebih banyak dan dapat mempengaruhi tenaga mesin kendaraan niaga yang menggunakannya. Contoh lain adalah PT Kereta Api Indonesia yang bahkan sudah tidak lagi menggunakan biosolar sebagai bahan bakar lokomotif yang ada di Indonesia selama 6 bulan karena bahan bakar tersebut dapat menyebabkan biaya perawatan tambahan bagi perusahaan. (BISNIS INDONESIA)