+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Menghadang Proteksionisme Sawit di Negara Trump

Kelapa sawit dihambat kebijakan bea masuk di Amerika Serikat. Produk sawit akan dibebani bea masuk lebih dari 40%. Aturan ini tidak terlepas dari kebijakan proteksionisme Presiden Trump. Pemerintah dan pengusaha aktif melobi supaya perdagangan sawit tetap positif. Amerika Serikat dalam tiga tahun terakhir menjadi pasar menggiurkan untuk eksportir sawit Indonesia. Merujuk data GAPKI, permintaan sawit terus meningkat dari 477 ribu ton pada 2014 menjadi 1,08 juta ton pada 2016. Penggunaan minyak sawit diperuntukkan bagi produk oleokimia dasar dan turunannya seperti fatty acid, biodiesel, gliserol, fatty alkohol, dan berbagai macam produk surfaktan. Meningkatnya perdagangan sawit cukup membuat ketar ketir produsen minyak nabati lokal. Enggartiasto Lukita, Menteri Perdagangan, menyangkal tuduhan anti dumping biodiesel karena belum terbukti. “Kami akan sampaikan permintaan ke Amerika untuk segera diperiksa setelah berbicara dengan produsen, “katanya. Dari kalangan produsen biodiesel, MP Tumanggor, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), khawatir penerapan tarif anti dumping. “Ekspor biodiesel ke Amerika bisa terganggu, bahkan terancam berhenti,” pungkasnya singkat. Tungkot Sipayungm Direktur PASPI, mengkritik rencana Amerika serikat untuk memberlakukan Bea Masuk Anti Dumping 40-60 persen terhadap impor biodiesel sawit Indonesia . Kebijakan tersebut diambil atas tuduhan subsidi biodiesel Indonesia. Sejatinya, kata Tungkot, tuduhan subsidi tersebut seharusnya dialamatkan ke biodiesel USA sendiri. (MAJALAH SAWIT INDONESIA)