+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Mengolah Gliserol Jadi Fluida

Kompas | Senin, 22 Juli 2019

Mengolah Gliserol Jadi Fluida

Tim peneliti IPB University dan Institut Teknologi Bandung mengolah gliserol mentah menjadi bahan aditif fluida berbasis air dan bahan aditif fluida berbasis minyak.Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2016, kapasitas terpasang industri biodiesel di Indonesia sebesar 12 juta kiloliter per tahun. Dengan kapasitas sebesar itu, terdapat hasil samping berupa gliserol mentah sebanyak 1,2 juta ton per tahun.Gliserol tersebut dapat menjadi bahan baku potensial untuk dikembangkan menjadi komponen dalam proses pengeboran sumur minyak bumi yang selama ini harus impor. Dalam proses pengeboran sumur minyak bumi diperlukan fluida pengeboran atau sering disebut lumpur pengeboran. Salah satu fungsi fluida pengeboran adalah sebagai sta-bilitator dinding sumur dengan menahan partikel-partikel padatan saat sirkulasi pengeboran berhenti. Ada dua jenis fluida pengeboran yang umum digunakan pada industri perminyakan, yakni fluida berbasis air (water based mud/WBM) dan fluida berbasis minyak (oil based mud/OBM). Hal itu yang mendorong ahli Teknologi Proses Agroindustri IPB University, Erliza Hambali, untuk mengembangkan gliserol hasil samping biodiesel sebagai formulasi alternatif pada WBM dan OBM. Sebagai ketua tim peneliti, ia didukung oleh peneliti dari IPB University dan Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya melihat hasil samping industri biodiesel di Indonesia sangat potensial. Terlebih harga gliserol mentah hanya Rp 600 per liter,” ujarnya saat ditemui di Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (15/7/2019). Penelitian yang dikembangkan tim peneliti IPB University dan ITB ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidik- an (LPDP). Erliza dan tim setidaknya membutuhkan waktu dua tahun untuk menghasilkan karakter gliserol yang sesuai dengan standar dalam perminyakan. Dalam industri migas, standar sifat-sifat fluida mengacu pada American Petroleum Institute (API) nomor 13A.

Pemurnian

Mengacu standar tersebut, gliserol yang digunakan harus memiliki tingkat kemurnian 99 persen. Jika tidak, komposisi pengotornya akan berbahaya terhadap batuan. Padahal, tingkat kemurnian gliserol mentah dari hasil samping biodiesel umumnya sebesar 40-50 persen. Sisanya adalah komponen air dan bahan pengotor lain. Karena itu, gliserol tersebut perlu melalui proses pemurni- an untuk menghasilkan karakteristik yang diharapkan. Sebab, jika gliserol tersebut masih tercampur dengan komponen berupa air bisa menyebabkan stuck pipe atau kondisi di mana pipa terjepit sebelum sampai ke lokasi minyak berada Proses pemurnian yang dilakukan melalui dua tahapan. Di tahun pertama, dihasilkan proses pemurnian gliserol dari 50 persen menjadi 80 persen. Tahun kedua, dilakukan dua kali perbaikan pemurnian dari 80 persen ke 90 persen dan dimurnikan kembali menjadi di atas 95 persen. Proses pemurnian gliserol 80 persen menjadi di atas 95 persen menggunakan peralatan falling film evaporator. Rangkaiannya terdiri dari unit exchanger, condensor, separator, dan pompa vakum. Proses dis-tilasi vakum pemurniannya membutuhkan waktu dua jam dalam suhu 130 derajat celsius.

Dari hasil uji laboratorium, gliserol dengan kemurnian di atas 95 persen itu memenuhi standar API 13A. Sebagian besar kriteria sudah tercapai, misalnya terkait titik nyala, titik di-dih, titik beku, berat jenis, dan sebagainya. “Gliserol yang dihasilkan oleh IPB University dan ITB sudah bisa dibandingkan dengan produk komersial lainnya dalam konteks tunggal. Tetapi masih harus dilakukan uji lapangan,” kata ahli Drilling Teknik Perminyakan ITB, Bonar Tua Halomoan Marbun, yang juga anggota tim peneliti. Hanya saja, dalam praktiknya fluida pengeboran harus diracik dengan aditif-aditif lainnya sesuai karakteristik tanah dan fluida minyak atau gas di bawah1 nya. Aditif-aditif itu misalnya Bentonite, Barite, dan Lost Circulation Material. Dalam hal ini, ada dua produk yang dihasilkan tim peneliti ini, yakni gliserol sebagai bahan aditif WBM dan gliserol ester sebagai bahan aditif OBM. Untuk mendapatkan gliserol ester, gliserol harus mengalami pengolahan kembali melalui proses esterifikasi dengan katalis asam, misalnya katalis para toluen sulfonat atau katalis metil ester sulfonat acid.

“Seharusnya tiga tahun setelah penelitian, gliserol dan gliserol ester ini bisa dikomersiali-sasikan. Namun masih urung terjadi karena harga minyak sempat jatuh ketika penelitian ini selesai,” ujar Erliza. Menurut Bonar, jenis batuan yang umum dijumpai dari permukaan tanah ke lokasi minyak 75 p\’ersen adalah batuan lem-pung atau shale. Shale tersebut akan mengembang jika bertemu dengan air dengan tingkat reaksi yang berbeda-beda. Dalam praktiknya, fluida pengeboran dengan WBM akan digunakan saat menghadapi karakteristik tanah dengan shale yang tidak terlalu reaktif terhadap air. Jika yang dihadapi adalah shale yang reaktif dengan air, OBM adalah pilihan yang tepat meski harganya bisa tiga kali’ lipat. Teknologi Produksi dan Aplikasi Water Based Mud (WBM) sebagai Drilling Fluids Industri biodiesel dari minyak sawit. Menghasilkan gliserol (sebanyak 10-15%), kemurnian 50-60% Memiliki nilai ekonomis pada tingkat kemurnian yang lebih tinggi (80-99%) dan dibutuhkan oleh berbagai industri. Apabila kapasitas produksi industri biodiesel naik, produksi gliserol kasar ikut naik. Jika tidak diiringi dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan, dan perluasan pasar, harga gliserol di pasar dunia akan turun. Fungsi lumpur pengeboran untuk mengurangi gaya gesek, sebagai stabilisator dinding lubang sumur, dan membuat lapisan tipis pada dinding formasi permeabel untuk menahan aliran fluida masuk ke dalam formasi yang terjadi pada proses pengeboran.

Kontan | Senin, 22 Juli 2019

Bambang Haryo Sebut Wacana Penggunaan BBM B30 Kurang Tepat dan Berdampak Pada Mesin Industri

Pemerintah memperkirakan, minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) akan kelebihan pasokan (oversupply) pada 2030. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, produksi CPO Indonesia saat ini sebesar 44 juta ton-46 juta ton per tahun dari lahan seluas 14 juta hektare. Pada 2025, produksi CPO diperkirakan bisa mencapai 51,7 juta ton. Untuk itu, menurut Hammam perlu ada diversifikasi dalam penggunaan CPO. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan CPO untuk bahan bakar minyak (BBM). Melalui diversifikasi, permintaan akan bertambah dan harga CPO akan stabil. Salah satu produsen CPO, yakni PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) mengamini hal tersebut. Sekretaris Perusahaan TBLA Hardy mengatakan, pihaknya akan mengantisipasi kelebihan produksi tersebut dengan mengoptimalkan produksi turunan CPO. “Kami akan olah jadi biodiesel dan minyak goreng,” kata Hardy saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (21/7). Asal tahu saja, perusahaan ini sudah memiliki pabrik biodiesel dengan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun. Pada 2019, TBLA menargetkan produksi biodiesel bisa mencapai 200.000 ton, meningkat dari realisasi tahun lalu yang sebanyak 138.000 ton. Menurut Hardy, kebanyakan penjualan biodiesel ini adalah ke pasar lokal, yakni ke Pertamina.

Berdasarkan catatan Kontan.co.id pada 21 Juni 2019, Wakil Direktur Utama TBLA Sudarmo Tasmin menyatakan, kebijakan biodiesel 20% (B20) dan biodiesel 30% (B30) oleh pemerintah turut menjaga penawaran dan permintaan CPO. TBLA juga menargetkan produksi CPO bisa tumbuh 15% pada tahun ini. Tidak mau kalah, untuk mengantisipasi kelebihan produksi CPO ini, PT Mahkota Group Tbk (MGRO) juga mulai mendiversifikasi bisnisnya ke segmen hilir. Perusahaan ini tengah menyelesaikan pembangunan pabrik refinery (pemurnian CPO) dan kernel crushing plant. Pabrik yang berlokasi di Dumai, Riau ini ditargetkan bisa beroperasi mulai Agustus 2019. Pabrik ini nantinya akan menghasilkan minyak goreng dengan kapasitas produksi 1.500 ton per hari, sementara kernel crushing plant bakal menghasilkan minyak inti sawit sebanyak 400 ton per hari. Berdasarkan catatan Kontan.co.id, tahun ini, MGRO menargetkan pendapatan sebesar Rp 5,66 triliun atau naik 183% secara tahunan. Pada 2018, MGRO mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2 triliun atau naik 13,6% year on year (yoy). Target agresif MGRO pada tahun ini didukung oleh kontribusi dari penjualan refinery yang diperkirakan mencapai 40% dari total pendapatan. Oleh karena itu, MGRO juga bakal menggenjot produksi CPO hingga 203.308 ton. Angka ini naik 4,95% dari target 2018 yang sebesar 193.715 ton. Menurut MGRO, permintaan untuk CPO dan produk turunannya bakal meningkat seiring dengan peningkatan program biodiesel.

https://investasi.kontan.co.id/news/cpo-diprediksi-oversupply-pada-2030-begini-cara-emiten-mengantisipasi

Tribunnews | Minggu, 21 Juli 2019

Bambang Haryo Sebut Wacana Penggunaan BBM B30 Kurang Tepat dan Berdampak Pada Mesin Industri

Pemerintah bersama pihak-pihak terkait saat ini sedang melakukan uji coba penerapan penggunaan biodiesel 30 persen, atau B30, dengan harapan kebijakan itu segera dapat terealisasi. Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo merasa prihatin, sebab dia menilai itu adalah kebijakan yang kurang tepat. “Saya sangat prihatin atas kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan BBM B30 dengan dalih substitusi impor yang menurut saya ini adalah kebijakan yang kurang tepat,” ujarnya, melalui rilis yang diterima Tribun Pontianak, Sabtu (20/7/2019). Bambang menjelaskan, saat ini di Indonesia baru diberlakukan BBM B20. Ini adalah yang pertama di dunia karena semua negara di dunia hanya menggunakan B5, B7 sampai dengan B10, seperti misal Kanada, Malaysia, Argentina, Australia dan lain-lain. Lebih jauh dia mengatakan, dampak multiplyer effect kenaikan biodiesel diatas 10% berakibat buruk terhadap mesin-mesin industri dan transportasi karena minyak biodiesel diatas 10% tidak baik bagi mesin industri & transportasi. “Itu nanti akan menyebabkan ruang bakar kotor, saringan dan injektor cepat rusak, mesin panas dan lainnya sehingga akan berpengaruh terhadap ekonomi secara tidak langsung,” katanya. Selain itu kata dia, subtitusi impor yang dikatakan berpengaruh besar, kenyataannya sangat kecil karena solar adalah bagian kecil dari impor migas, hanya 4,6 juta ton per tahun, sedangkan total migas kita 50,4 juta ton per tahun. Untuk diketahui tambah dia, impor migas kita pun hanya 15% dari impor non-migas dimana impor non-migas tahun 2018 sebesr 29.868 juta USD, impor non-migas 158.842 juta USD. “Jadi subtitusi biodiesel B20, B30 dan bahkan B100 pun tidak akan berdampak signifikan terhadap nilai impor kita tetapi malah akan berdampak miring terhadap ekonomi,” pungkasnya.

https://pontianak.tribunnews.com/2019/07/21/bambang-haryo-sebut-wacana-penggunaan-bbm-b30-kurang-tepat-dan-berdampak-pada-mesin-industri

Sawitindonesia | Sabtu, 20 Juli 2019

Menteri ESDM RI, Ignasius Jonan Industri Biodiesel Diminta Konsisten

Dinakhodai Ignasius Jonan, pengembangan energi baru terbarukan berjalan positif. Salah satunya industri biodiesel yang terus meningkat penggunaannya. Di hadapan pelaku industri, Menteri Jonan mengingatkan supaya pasokan biodiesel tetap konsisten apabila program B30 berjalan. Pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sangatlah dibutuhkan sebagai bahan campuran B30. “Kalau sekali menerapkan suplai FAME. Maka harus komitmen. Kalau tidak, saya minta kepada Presiden untuk menerapkan DMO (red-Domestic Market Obligation),” ujar Jonan saat melepas roadtes kendaraan berbahan bakar B30 di Jakarta. Dijelaskan Jonan, road test B30 ini bukan uji jalan saja tetapi juga mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar B30 performa termasuk akselerasi kendaraan tidak turun dan perawatannya tidak memakan biaya tambahan yang besar,” jelas Jonan dalam sambutannya. Jonan mengungkapkan pemerintah akan mewajibkan penggunaan campuran biodiesel 30% atau B30 pada kendaraan ini mulai tahun depan salah satunya dalam rangka mengurangi ketergantungan impor juga menyediakan BBM yang lebih ramah lingkungan. “Yang penting komitmen semua pihak harus jalan,” tegasnya.

Pria kelahiran Singapura, 55 tahun silam ini menjelaskan bahwa Mandatori B30 ini juga merupakan langkah konkret pemerintah untuk terus mengembangkan industri kelapa sawit, mensejahterakan petani kelapa sawit, serta menjamin ketersediaan dan kestabilan harga BBM dalam negeri. Seiring pertumbuhan pembangunan infrastruktur jalan tol, sehingga diperkirakan kebutuhan bahan bakar kendaraan akan meningkat. Kebutuhan bahan bakar kendaraan menyebabkan makin tingginya impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berimbas semakin melebarnya defisit neraca perdagangan. “Jika dibiarkan sebelum 2025 itu impornya bisa sampai sekitar 1 juta barrel,” kata Jonan. Oleh karena itu, kata Jonan, program B30 diharapkan dapat menurunkan impor BBM dan meningkatkan cadangan devisa negara. Jonan juga memberikan masukan kepada Badan Usaha (BU) BBM agar melakukan proses percampuran FAME dan BBM dengan baik dan konsisten, sehingga tidak terjadi kerusakan pada mesin kendaraan. Program uji kendaraan berbahan bakar B30 ini dikatakan Jonan bertujuan mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar B30 tidak menurunkan kemampuan mesin kendaraan. Perlu diketahui bahwa perawatan kendaraan tidak memakan biaya tambahan yang besar.