+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Menimbang Opsi Setop Ekspor CPO

Bisnis Indonesia | Rabu, 5 Februari 2020

Menimbang Opsi Setop Ekspor CPO

Dengung pengaliran komoditas bahan baku industri mulai menyenggol produk minyak sawit mentah (CPO). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pun sempat mencetuskan wacana untuk menyetop ekspor komoditas itu. Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan menunggu beleid pelarangan ekspor bahan baku, khususnya komoditas mineral dan minyak sawit. Kemenperin menilai hilirisasi akan lebih menguntungkan lantaran nilai tambah yang didapatkan berlipat ganda dibandingkan dengan ekspor bahan baku. “Larangan itu bisa memacu kinerja di sektor industri hulu, sekaligus juga diharapkan dapat mengundang investasi sektor tersebut masuk ke Indonesia,” kata Agus. Menperin menyatakan pelarangan ekspor minyak sawit mentah CPO juga menjadi fokus utama. Alasannya, pemerintah sedang mengembangkan program biodiesel kadar 30% (B30) dan dalam 2 tahun akan dikembangkan menjadi B100. Pelaku industri pun sepakat pelarangan ekspor CPO hanya akan menimbulkan masalah baru alih-alih meningkatkan serapan bahan baku industri lokal.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mencatatkan kontribusi ekspor CPO dalam portofolio ekspor Kelapa Sawit dan turunannya naik tipis menjadi 20% pada 2019 dari tahun sebelumnya sebesar 19%. Asosiasi menilai harus ada keseimbangan dalam kebijakan yang berkaitan dengan ekspor CPO untuk menopang industri pengguna secara luas. “Ekspor [CPO] harus tetap didorong, karena ekspor [CPO] yang membiayai insentif biodiesel. [Regulasi] itu mustinya harus seimbang semua untuk semua [industri pengguna CPO], sehingga berjalan smooth,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono kepada Bisnis, Senin (3/2). Joko meyakini pemerintah tidak akan melarang ekspor CPO lantaran akan menghasilkan komplikasi baru. Lagi pula, menurutnya, industri pengguna sejauh ini tidak mengalami masalah pasokan CPO. Adapun, volume ekspor CPO dan barang dari CPO tahun lalu mencapai 36 juta ton. Angka tersebut naik 4% dari realisasi tahun sebelumnya sekitar 34,71 juta ton. Dengan kata lain, ekspor CPO pada tahun lalu sebesar 7,2 juta ton, sedangkan ekspor olahan CPO selain oleokimia dan biodiesel mendominasi sebanyak 24,48 juta ton atau 68% dari total ekspor CPO dan turunannya.

Adapun, Joko mendata konsumsi CPO dalam negeri juga meningkat secara signifikan kecuali untuk industri oleokimia yang mencatatkan pertumbuhan konsumsi CPO 9% secara tahunan. Industri ofeo-pangan dan biodiesel masing-masing mencatatkan pertumbuhan konsumsi masing-masing 49% dan 51,2% secara tahunan. Joko menyatakan program B100 akan menyerap sekitar 30 juta ton CPO. Adapun, lanjutnya, industri biodiesel diproyeksikan dapat menyerap sekitar 15 juta ton CPO untuk melaksanakan program B50 pada 2022. Namun demikian, Joko menyatakan pemerintah harus secara jelas mendefinisikan produksi yang dimaksud pada pengembangan bahan bakar nabati tersebut. “Ada B100 yang FAME [fatty acid methyl ether] dan ada yang green diesel Itu [keduanya] beda [kebutuhannya].”

MAMPU TERSERAP

Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen biodiesel (Aprobi) Paulu Tjakrawan mengatakan produksi biodiesel pada tahun lalu mencapai 6,7 juta kiloliter. Capaian tersebut lebih tinggi dari target awal 2019 yakni sekitar 6,4 juta kiloliter. Adapun, lanjutnya, tahun ini asosiasi menargetkan produksi biodiesel mencapai 9,6 juta kiloliter dan dapat menghemat devisa senilai US$5,4 miliar. Selain itu, lanjutnya, pabrikan berhasil mengekspor biodiesel sejumlah 1,3 juta kiloliter ke Eropa, China, dan Hong Kong. Menurutnya, tahun ini pabrikan biodiesel berpotensi tidak melakukan ekspor lantaran hampir seluruh kapasitas terpasang akan digunakan walaupun akan ada investasi baru tahun ini. Pasalnya, beberapa pabrik investasi anyar akan beroperasi paling cepat pada medio semester 11/2020. “Kapasitas [terpasang] kami hampir 12 juta kiloliter, tetapi pada praktiknya [kapasitas] produksi sekitar 85% dari kapasitas [terpasang]. Jadi, tinggal 10%, sedangkan yang akan terpakai 9,6 juta kiloliter,” ujarnya.

Paulus menyatakan tiga pabrikan baru hasil investasi lokal senilai Rp6 triliun dengan total kapasitas terpasang sebesar 3,6 juta kiloliter pada tahun ini. Dengan kata lain, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional menjadi lebih dari 15 juta kiloliter. Paulus menyatakan pabrikan dapat menyerap seluruh CPO yang terkena larangan ekspor jika arahan itu terealisasi. Namun demikian, Paulus menilai ekspor CPO tidak perlu dihentikan secara bisnis. Menurutnya, pemerintah justru akan kehilangan pasar CPO jika larangan ekspor CPO diterapkan. “Kalau tidak bisa [dapat dari Indonesia, para buyer] beli [CPO] ke Malaysia.” Senada, Ketua Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) Adi Wisoko Kasman menyatakan pasar global tetap membutuhkan CPO. Namun demikian, Adi meyakini alokasi ekspor CPO secara organik akan menurun. “Mereka memang buruhnya CPO, ya mau gimana? Bertahap turun [alokasinya] mungkin, tapi 0% tidak bisa,” katanya kepada Bisnis.

Penghiliran Sawit

Konsumsi domestik minyak Kelapa Sawit diyakini bakal terus meningkat seiring dengan berbagai program bahan bakar nabati yang diterapkan pemerintah. Di sisi lain, ekspor pun digalakkan pada produk turunan, alih-alih minyak sawit mentah (CPO). Hal itu sejalan dengan rencana penghiliran berbagai komoditas sumber daya alam.

Investor Daily Indonesia | Rabu, 5 Februari 2020
Produsen Biofiiel Naikkan Produksi

Asosiasi Produsen Bio-fuel Indonesia (Aprobi) menyebutkan perusahaan produsen biofuel menambah kapasitas produksi mereka hingga 3,60 juta kiloliter (kl) pada tahun ini untuk mendukung program mandatori B30. Selain untuk mendukung B30, peningkatan kapasitas produksi dilakukan karena minat ekspor biodiesel yang masih tinggi, salah satunya ke Tiongkok. Ketua Harian APROBI Paulus Ta-jkrawan mengatakan, peningkatan kapasitas produksi juga diperlukan karena pemerintah meningkatkan mandatori campuran bahan bakar nabati dan solar tersebut dari B20 menjadi B30 pada tahun ini. “Tahun 2020 ada beberapa perusahaan yang siap menambah kapasitas, dan ada juga yang berniat membuat baru pabrik biodiesel. Ada yang selesai pertengahan tahun, kuartal II dan FV,” kata Paulus di Jakarta, kemarin. Aprobi mencatat, kebutuhan biodiesel untuk penerapan B30 sebesar 9,60 juta kl. Sementara kapasitas terpasang 19 perusahaan produsen biodiesel di Indonesia sekitar 12 juta kl per tahun. “Kapasitas dalam negeri kita praktis sudah habis. Kapasitas yang ada hampir 12 juta KL, tapi pada praktiknya, kapasitas produksi hanya 80%, otomatis yang terpakai hanya 9,60 juta kl,” kata Paulus. Penambahan kapasitas produksi ini juga dapat meningkatkan ekspor biofuel Indonesia. Menurut Paulus, Tiongkok masih menjadi pasar ekspor yang tinggi bagi perusahaan biofuel.

Dalam catatan Aprobi, ekspor biodiesel pada 2019 sebesar 1,30 juta kl atau turun sekitar 18% dari 2018 yang mencapai 1,60 juta kl. Pasar ekspor tersebut adalah Uni Eropa, Tiongkok, dan Hong Kong. \’Tahun lalu, Tiongkok itu mendapat biodiesel dari Indonesia sebanyak 61.947 kl. Kemungkinan ini bisa meningkat untuk Tiongkok. Namun, ada faktor lain yaitu kapasitas dalam negeri kita yang sudah habis,” kata Paulus seperti dilansir Antara. Investasi untuk penambahan kapasitas produksi biodiesel sebesar 3,60 juta kl itu diperkirakan mencapai Rp 6 triliun. Pada 2021, kapasitas produksi biodiesel juga diperkirakan bertambah 3,60 juta kl sehingga diperkirakan kapasitas terpasang menjadi sekitar 19,20 juta kl.

Indo Pos | Rabu, 5 Februari 2020
Kemenristek All Out Dukung Realisasi BBN di Muba

Setelah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yakni diantaranya Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI, kini realisasi pengelolaan Kelapa Sawit menjadi bahan bakar nabati (BBN) di Muba yang di inisiasi Bupati Muba Dr H Dodi Reza juga mendapat dukungan dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI. Hal ini terjawab setelah Bupati Muba Dr H Dodi Reza Alex Noerdin diundang Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI Prof Bambang Permadi Brodjonegoro SE MUP PhD untuk memaparkan kesiapan Muba dalam kegiatan Rapat Koordinasi Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi Untuk Pembangunan Industri Katalis Nasional dan Bahan Bakar Nabati (BBN) di Ruang Rapat Lt.24 Gedung BPPT II, Jakarta Pusat, Senin (3/2). “Penggunaan minyak na- bati sebagai bahan bakar akan memberikan banyak manfaat. Pertama, hal tersebut akan menekan impor minyak dan kedua bisa menjaga harga komoditas sawit karena akan terserap oleh dalam negeri. Dan kami berkeyakinan Muba akan siap dalam realisasinya nanti,” ungkap Bambang Permadi Brodjonegoro. Dikatakan, ini adalah suatu terobosan penemuan yang luar biasa, seperti pengganti BBM. Dari sisi lain, tentu perlu perjalanan panjang, karena akan digunakan di dunia industri dan otomotif tentu butuh standar dan teknologi.

“Untuk itu maka kami undang semua stakeholder termasuk Bupati Muba supaya masing-masing bisa berkontribusi, bekerja sesuai bidang spesialisnya, supaya perjalan tidak panjang dan tidak rumit,” terangnya. Kemudian, dari sisi ekonomi yang akan muncul dari biofuel ini sangat luar biasa, karena sekarang dari program replanting, CPO saja sudah berefek adanya peningkatan ekonomi dan membuka lapangan di dunia kerja. “Inovasi ini Wajib kita pikirkan kalau semua kebutuhan bahan bakar dipenuhi dari katalis ini, yang namanya ke- bun rakyat akan hidup, harga TBS sawit akan meningkat, sehingga masyarakat secara keseluruhan sejahtera. Karena lebih banyak dilibatkan kebun rakyat,” imbuhnya. Lanjut Bambang, akan ada dua pola nantinya yang ditawarkan dalam upaya realisasi dan support BBN yakni bisa nantinya menggunakan sistem pola investor dan BUMN. “Jadi kita nantinya berkoordinasi ke Menteri BUMN untuk menugas- kan BUMN atau investor yang bergerak di bidang pengolahan bahan baku (kelapa sawit) di Muba,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Muba Dr H Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan Muba sangat serius untuk realisasi BBN yang merupakan inovasi pengolahan Kelapa Sawit menjadi bahan bakar nabati. “Dalam upaya pembangunan pabrik IVO dan CPO Muba menggandeng ITB, dan Alhamdulillah FS sMdah selesai, Insya Allah tahun 2021 sudah mulai berjalan,” bebernya. Ketua KADIN Sumsel ini juga menambahkan, Muba juga telah melakukan program peremajaan perkebunan sawit berkelanjutan (sustainable) milik kebun rakyat yang saat ini sudah puluhan ribu hektar lahan yang sudah diremajakan. “Nah, realisasi BBN inilah merupakan kelanjutan dari program peremajaan perkebunan sawit milik rakyat, jadi program ini benar-benar nantinya berkelanjutan,” ungkapnya. Kemudian, dikatakan Dodi dengan keberadaan BBN dapat mengurangi ketergantungan dengan BBM dan meningkatkan kesejahteraan petanu sawit. “Ini juga merupakan keinginan bapak Presiden Joko Widodo dan tentu sangat selaras dengan cita-cita kami warga Muba yang mana mayoritas petani sawit,” jelasnya. Dodi mengungkapkan, dalam perjalanan pembangunan pabrik IVO-CPO terkait pendanaan Pemkab Muba sendiri sangat siap secara mandiri, namun dirinya mengaku akan melibatkan para pihak pemangku kepentingan agar dapat gotong-royong mewujudkan pendirian pabrik tersebut. “Namun prinsipnya pabrik ini harus terealisasi dan berada di Muba, dan pola pendanaan nantinya akan dilakukan dengan pola bersama-sama gotong royong dengan para pihak, terlebih tadi Bapak Menristek sudah menyiapkan dua pola yakni investor atau BUMN dengan menggandeng KUD dan BUMD di Muba,” pungkasnya.

Kompas | Rabu, 5 Februari 2020
Hino Dukung Penggunaan Bahan Bakar biodiesel B30

Dalam rangka mendukung program pemerintah terhadap penggunaan bahan bakar biodiesel sebesar 30 persen (B30) bagi kendaraan-kendaraan bermesin diesel, Hino Indonesia terus melakukan berbagai upaya penelitian dan pengembangan. Hino secara berkesinambungan melakukan tes ketahanan dan emisi terhadap produk-produk yang diciptakan. Yaitu pada mesin-mesin dengan standar Euro 2 maupun Euro 4, yang digunakan pada 2021. Riset yang dilakukan Hino tak hanya bertujuan mengembang-kanspesifikasiprodukyangcocok menggunakan biodiesel, tetapi juga untuk mengembangkan spesifikasi bahan bakar biodiesel. Salah satu contoh kontribusi penelitian Hino yang diaplikasikan pada spesifikasi biodiesel yang diproduksi adalah kandungan logam. Pada B20 tidak diatur kandungan logam, sedangkan pada B30 diatur kandungan sejumlah jenis logam, di antaranya kalium, kalsium, natrium, dan magnesium. Adapun dampak dari kandungan logam tersebut adalah penyebab filter bahan bakar dan injector tersumbat sehingga aliran bahan bakar ke ruang bakar tidak sempurna dan performa mesin tidak optimal.

Pada pengujian, parameter mesin yang diuji di antaranya adalah daya, torsi, konsumsi bahan bakar, dan dampak terhadap komponen. Berdasarkan hasil uji tersebut, Hino sudah melakukan penyesuaian spesifikasi kendaraan yang sesuai dengan karakteristik bahan bakar biodiesel sehingga potensi terhadap dampak atau pengaruh yang timbul pada penggunaan biodiesel, termasuk B30, dapat diminimalkan. Perubahan spesifikasi kendaraan Hino dilakukan pada unit kendaraan dengan tahun produksi vehicle identification number (VIN) 2020ryaitu pada bagian ukmznfuel filter yang dibuat lebih besar sehingga filter tetap dapat bertahan 10.000 kilometer sesuai dengan yang saat ini digunakan untuk B20. Selain itu, fuel tank dilapisi dengan aluminium platting coated untuk mencegah terjadinya karat. Fuel sender gauge dan piping dilapisi dengan nickel platting coated untuk memberikan daya tahan lebih kuat terhadap zat asam yang dihasilkan oleh fame B30. Selain itu, untuk material berbahan karet, seperti hose, sudah menggunakan material fluorubber agar tahan terhadap sifat-sifat dasar dari biodiesel yang menghasilkan zat asam dan mengikis material.

Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) Santiko Wardoyo mengajak para pengguna kendaraan berbahan bakar B30 untuk melakukan perawatan kendaraan secara berkala. \’Dengan pengunaan bahan bakar B30, diharapkan pengusaha maupun pengemudi truk melakukan kontrol dan perawatan secara rutin. Hal ini dibutuhkan untuk mencegah atau meminimalkan penyumbatan filter sehingga kondisi kendaraan tetap terjaga dan bisnis dapat terus berjalan.” Untuk pengguna kendaraan Hino saat ini tak perlu khawatir terhadap penggunaan bahan bakar B30. Hino sudah sampai pada tahap akhir pengembangan untuk menyiapkan retrofit kendaraan Hino yang saat ini beroperasi atau produksi VTN di bawah tahun 2020. Untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional kendaraan, Hino memiliki strainer yang dijual terpisah dan digunakan sebagai tambahan pada bagian fuel tank. Komponen ini berguna untuk memperpanjang umur pemakaian fuel filter sehingga memberikan keuntungan bagi konsumen berupa lifetime fuel filter menjadi lebih panjang. Strainer dapat digunakan untuk kendaraan Hino produksi VIN 2020 maupun kendaraan Hino sebelumnya.

Hino Connect

Sementara itu, dalam rangka untuk terus mendukung kelancaran bisnis konsumen, Hino melengkapi produknya dengan Hino Connect. Sentuhan personal dengan teknologi informasi ini merupakan sebuah sistem telematika yang mampu meningkatkan efisiensi bisnis. Dengan fitur ini, konsumen dapat lebih mudah mengatur manajemen operasional armadanya. Selain itu, dapat dengan mudah mengetahui lokasi armada sehingga dapat membantu dalam memprediksi waktu tiba di tujuan (Expected to Arrive/ETA). Hino Connect juga membantu dalam manajemen pengemudi, yang dengan fitur ini menghasilkan data-data seperti perilaku supir dalam mengemudi, durasi waktu mengemudi, dan mendeteksi kondisi kendaraan berhenti atau bergerak. Hal ini tentu memberikan keuntungan bagi konsumen karena dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional, Utamanya terhadap penggunaan bahan bakar. Selain dua hal tersebut, Hino Connect memiliki kelebihan untuk manajemen kendaraan. Konsumen dapat memperoleh pengingat untuk perawatan kendaraan secara berkala, karena Hino Connect akan memberikan data jarak tempuh setiap unit. Dengan demikian, perawatan kendaraan dapat dilakukan tepat waktu sehingga komponen kendaraan tetap terjaga. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif, di antaranya kendaraan semakin awet, harga jual meningkat, serta yang tak kalah penting, bisnis kian lancar dan berkembang.

Fitur Hino Connect telah tersemat pada kendaraan Hino tahun produksi 2020 atau VIN 2020. Fitur ini dapat digunakan secara gratis oleh konsumen selama 5 tahun dan didukung juga oleh tenaga – tenaga supporting yang terdapat pada diler-diler. Setiap diler memiliki Hino Telematic Officer (HTO) yang siap melayani kebutuhan terkait fitur tersebut. Kedua pengembangan ini adalah bukti dari tim Research Development Hino yang terus memberikan peningkatan terhadap kualitas produk yang akan digunakan oleh konsumen. Seperti hasil dari pengembangan mesin common rail, konsumen tidak perlu khawatir akan ketangguhan dan efisiensi mesin common rail Hino, karena ini sudah dibuktikan pada Hino Bus RN 285 common rail yang dimiliki oleh PO Sinar Jaya dan PO Harapan Jaya. Armada-armadanya berhasil menempuh jarak 1.000.000 kilometer tanpa sekalipun dilakukan over haul. Bus-bus ini merupakan kendaraan yang setiap harinya menempuh rute Tol Trans Jawa yang melayani berbagai tujuan ke kota-kota di Pulau Jawa. Hasil dari kekuatan mesin common rail Hino yang mencapai “1 Juta KM Tanpa Overhaul” membuktikan bahwa Hino reliable untuk jalur Trans Jawa, atau transportasi jarak jauh.

Harian Kontan | Rabu, 5 Februari 2020
Harga Pasar biodiesel Rp 9.539 Per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menetapkan harga indeks pasar (HIP) bahan bakar nabati (BBN) untuk biodiesel dan bioetanol. HIP untuk biodiesel pada Februari tahun ini sebesar Rp 9.539 per liter atau naik Rp 833 per liter dari posisi Januari 2020 senilai Rp 8.706 per liter. Besaran nilai tersebut belum termasuk ongkos angkut yang mengikuti ketentuan Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/10/DJE/2019. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, HIP bahan bakar nabati jenis biodiesel akan digunakan dalam implementasi program biodiesel 30% atau B30. “Harga tersebut efektif berlaku sejak 1 Februari 2020,” kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (3/2). \’ Adapun formula perhitungan besaran tersebut adalah HIP = (rata-rata CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) + 100 US$/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut. Harga rata-rata CPO KPB periode 15 Desember 2019 hingga 14 Januari 2020 mencapai Rp 9.573 per kg, selisih Rp 974 per kg dari bulan sebelumnya senilai Rp 8.599 per kg. Sementara itu, HIP bioetanol pada Februari 2020 ditetapkan sebesar Rp 10.384 per liter atau turun Rp 40 per liter dari posisi Januari 2020 senilai Rp 10.424 per liter. Untuk formula perhitungannya didapatkan dari rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L + US$ 0,25/liter. Terkait dengan penggunaan B30, Kementerian ESDM menargetkan penyerapan FAME yang lebih tinggi pada tahun 2020 sejalan dengan target produksi 10 juta kiloliter.

Sawit Indonesia | Rabu, 5 Februari 2020
Prioritaskan B30, Pengusaha Pilih Tidak Ekspor Biodiesel

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) memproyeksikan tahun ini tidak ada lagi ekspor biodiesel seperti tahun lalu. Pasalnya, kapasitas produksi biodiesel sudah terserap untuk program biodiesel campuran 30% Atau B30. “Tahun ini, produsen biodiesel tidak lagi ekspor. Kami berkomitmen mendukung B30,” kata Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI. Tantangan ekspor biodiesel semakin berat. Otoritas Eropa menerapkan bea masuk biodiesel sekira 8-18 persen karena dugaan praktik subsidi. Paulus mengatakan bea masuk ini semakin mempersulit masuknya biodiesel ke Eropa. Paulus menuturkan memang Indonesia punya kapasitas produksi biodiesel yang sebesar 12 juta KL. Tetapi di lapangan, produksi riil sekitar 10 juta ton atau 85 persen dari kapasitas terpasang . “Oleh karena itu, ekspor tidak bisa dilakukan pada awal tahun ini. Kendati sudah banyak permintaan dari negara lain seperti Tiongkok dan Asia Timur,” ujar Paulus. Ia memperkirakan ekspor baru dapat dilakukan setelah kuartal pertama atau kedua. Itupun menunggu selesainya penambahan lini produksi yang baru dari sejumlah produsen. Pada 2020, pemerintah telah menetapkan alokasi serapan FAME atau Fatty Acid Methyl Ester sebanyak 9,59 juta kiloliter (KL). Penetapan alokasi diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 199K/20/MEM/2019 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Besaran Volume untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode Januari-Desember 2020.

Warta Ekonomi | Rabu, 5 Februari 2020
2020, GAPKI siap tingkatkan bauran B30

Ketua umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyatakan siap mendukung komitmen pemerintah untuk meningkatkan bauran biodiesel 30 persen atau B30 menjadi B40 pada 2020. Pasalnya, B30 telah sukses diterapkan di seluruh Indonesia per 1 Januari 2020. “Saat ini, kami tengah mendiskusikan hal tersebut. Kami optimistis dapat mencapai target itu, mengingat pada 2020 ada perusahaan yang berkomitmen menambah kapasitas biodiesel,” ungkapnya di Jakarta, Senin. Joko melanjutkan, selain adanya komitmen untuk menambah kapasitas pengolahan biodiesel, juga tidak sedikit perusahaan kelapa sawit yang siap untuk membangun pabrik biodiesel. Dengan demikian, total volume produksi biodiesel pada 2020 diprediksi mendapat tambahan 3,6 juta kilo liter. “Pada 2019, penggunaan biodiesel di pasar domestik sebesar 5,67 juta kilo liter, yang mampu menghemat impor solar hingga 3,8 miliar dolar AS. Jika pada 2020, volume biodiesel sampai 9,6 juta kilo liter, maka dapat menghemat sekitar 5,4 miliar dolar AS,” tambahnya.

Di tengah positifnya tren pertumbuhan biodiesel, industri kelapa sawit masih harus menghadapi sejumlah tantangan dalam hal perluasan dan retensi pasar, yakni peningkatan kualitas produk biodiesel, melonjaknya kebutuhan transportasi bersertifikasi karena volume melonjak hingga 50 persen, dan tuntutan penambahan kapasitas pelabuhan. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menuturkan, seluruh pemangku kepentingan industri kelapa sawit, khususnya biodiesel, sepakat untuk memprioritaskan kebutuhan pasar domestik, sambil tetap menjaga laju ekspor ke pasar mancanegara. “Dengan adanya perang dagang AS-Tiongkok dan tuntutan standar sustainability Uni Eropa, kami berharap pasar tetap stabil, walau kita semua tahu cenderung volatil,” katanya. Lebih lanjut, GAPKI dan segenap asosiasi industri kelapa sawit dan turunannya mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berfokus pada peningkatan produktivitas melalui penanaman kembali (replanting), mendorong percepatan implementasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil), mendorong pengembangan ekspor, dan meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sawit Indonesia. “Kelapa sawit adalah salah satu komoditas yang paling kontributif bagi perekonomian bangsa. Oleh karena itu, ini menjadi tugas semua pihak,” tutupnya.
https://www.wartaekonomi.co.id/berita-antara/1277615

Bisnis | Rabu, 5 Februari 2020
Simalakama Larangan Ekspor CPO

Wacana Kementerian Perindustrian membatasi ekspor bahan baku, salah satunya adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menuai kritik. Sayangnya, rencana tersebut tidak direspons positif oleh pelaku industri. Industriawan menganggap, pelarangan ekspor CPO hanya akan menimbulkan masalah baru alih-alih meningkatkan serapan bahan baku industri lokal. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mencatatkan kontribusi ekspor CPO dalam portofolio ekspor kelapa sawit dan turunannya naik tipis menjadi 20 persen pada 2019 dari tahun sebelumnya sebesar 19 persen. Asosiasi menilai harus ada keseimbangan dalam volume eskpor CPO untuk menopang industri pengguna CPO. “Ekspor [CPO] harus tetap didorong karena ekspor [CPO] yang membiayai insentif biodiesel. [Regulasi] itu mustinya harus seimbang semua untuk semua [industri pengguna CPO] berjalan smooth,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono kepada Bisnis.com, Senin (3/2/2020). Joko meyakini pemerintah tidak akan melarang ekspor CPO lantaran akan menghasilkan komplikasi baru. Menurutnya, industri pengguna tidak memiliki masalah terhadap pasokan CPO di dalam negeri. Adapun, volume ekspor CPO dan barang dari CPO tahun lalu mencapai 36 juta ton. Angka tersebut naik 4 persen dari realisasi tahun sebelumnya sekitar 34,71 juta ton.

Dengan kata lain, ekspor CPO pada tahun lalu sebesar 7,2 juta ton, sedangkan ekspor olahan CPO selain oleokimia dan biodiesel mendominasi sebanyak 24,48 juta ton atau 68 persen dari total ekspor CPO dan turunannya. Adapun, Joko mendata konsumsi CPO dalam negeri juga meningkat secara signifikan kecuali untuk industri Oleokimia yang mencatatkan pertumbuhan konsumsi CPO 9 persen secara tahunan. Industri oleopangan dan biodiesel masing-masing mencatatkan pertumbuhan konsumsi masing-masing 49 persen dan 51,2 persen secara tahunan. Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel (Aprobi) Paulu Tjakrawan mengatakan produksi biodiesel pada tahun lalu mencapai 6,7 juta kiloliter. Capaian tersebut lebih tinggi dari target awal 2019 yakni sekitar 6,4 juta kiloliter. Paulus berujar produksi biodiesel tahun lalu berhasil mengurangi impor solar sebanyak US$3,8 miliar. Adapun, lanjutnya, tahun ini asosiasi menargetkan produksi biodiesel mencapai 9,6 juta kiloliter dan dapat menghemat devisa senilai US$5,4 miliar. Selain itu, lanjutnya, pabrikan berhasil mengekspor biodiesel sejumlah 1,3 juta kiloliter ke Eropa, China, dan Hongkong. Menurutnya, tahun ini pabrikan biodiesel berpotensi tidak melakukan ekspor lantaran hampir seluruh kapasitas terpasang akan digunakan walaupun akan ada investasi baru tahun ini.

“Kapasitas [terpasang] kami hampir 12 juta kiloliter, namun pada praktiknya [kapasitas] produksi sekitar 85 persen dari kapasitas [terpasang]. Jadi, tinggal 10 persen, sedangkan yang akan terpakai 9,6 juta kiloliter,” ujarnya. Paulus menyatakan pabrikan biodiesel secara teori tidak dapat melakukan ekspor setidaknya pada awal 2020. Pasalnya, beberapa pabrik investasi anyar baru akan beroperasi paling cepat pada medio semester II/2020. Paulus menyatakan tiga pabrikan baru hasil investasi lokal senilai Rp6 triliun dengan total kapasitas terpasang sebesar 3,6 juta kiloliter pada tahun ini. Dengan kata lain, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional menjadi ebih dari 15 juta kiloliter. Paulus menyatakan pabrikan dapat menyerap seluruh CPO yang terkena larangan ekspor jika arahan itu terealisasi. Namun demikian, Paulus menilai ekspor CPO tidak perlu dihentikan secara bisnis. Menurutnya, pemerintah justru akan kehilangan pasar CPO jika larangan ekspor CPO diterapkan. “Kalau tidak bisa [dapat dari Indonesia, mereka] beli ke Malaysia.” Senada, Ketua Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) Adi Wisoko Kasman menyatakan pasar global tetap membutuhkan CPO. Namun demikian, Adi meyakini alokasi ekspor CPO secara organik akan menurun. “Mereka memang butuhnya CPO, ya mau gimana? Bertahap turun [alokasinya] mungkin, tapi 0 persen tidak bisa,” katanya kepada Bisnis.com.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20200205/257/1197459/simalakama-larangan-ekspor-cpo

Kontan | Selasa, 4 Februari 2020
Indonesia biodiesel group says more capacity in 2020 could help exports

The Indonesian Biofuel Producers Association (APROBI) is expecting 3.62 million kilo litres (KL) of additional production capacity this year, which could support biodiesel exports, it said on Monday. Indonesia currently has the capacity to produce 12 million KL of palm oil’s fatty acid methyl ester (FAME), the bio-content used in blending with fossil diesel fuel to make biodiesel. However, in practice producers could only utilise up to 85% of the capacity, or around 10 million KL, APROBI’s vice chairman Paulus Tjakrawan told reporters on Monday. With the Indonesian government expanding its mandatory biodiesel programme, producers have seen little room for exports of the fuel, he said. Indonesia in late 2019 adopted a so-called B30 programme which use 30% of FAME in biodiesel. The programme was expanded from a previous one with 20% bio-content and the government plans to soon start testing for 40% bio-content in the fuel. Around 9.6 million KL of the palm-based fuel are expected to be used domestically this year for the B30 programme. “Most likely at the beginning of the year there will be no exports. The soonest we can export is in the second quarter when some of new capacity comes into operation,” Tjakrawan said. Another 3.6 million KL of capacity is also expected to come online 2021, he added. Indonesia exported 1.32 million KL of FAME last year, down from 1.6 million KL a year earlier, due to anti-subsidy import duties imposed by the European Union. Tjakrawan said there was growing demand for biodiesel in China, which accounted for around half of Indonesia’s biodiesel exports last year. “This (exports to China) can still grow, but our domestic capacity is practically used up,” Tjakrawan said.
https://english.kontan.co.id/news/indonesia-biodiesel-group-says-more-capacity-in-2020-could-help-exports

Suara Karya | Selasa, 4 Februari 2020
Dukung B30, Produsen Biofuel Siap Tambah Kapasitas 3,6 juta KL

Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) menyebutkan perusahaan produsen biofuel siap menambah kapasitas produksi mereka hingga 3,6 juta kilo liter (KL) pada tahun ini untuk mendukung program mandatori B30. Ketua Harian Aprobi Paulus Tajkrawan mengatakan selain untuk mendukung B30, peningkatan kapasitas produksi dilakukan karena minat ekspor biodiesel yang masih tinggi, salah satunya ke China. “Tahun 2020 ada beberapa perusahaan yang siap menambah kapasitas, dan ada juga yang berniat membuat baru pabrik biodiesel. Ada yang selesai pertengahan tahun, kuartal ke-II dan ke-IV,” kata Paulus pada konferensi pers Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020 di Jakarta, Senin (3/2/2020). Paulus menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas produksi juga diperlukan karena pemerintah meningkatkan mandatori campuran bahan bakar nabati dan solar tersebut dari B20 menjadi B30 pada tahun ini. Aprobi mencatat kebutuhan biodiesel untuk penerapan B30 sebesar 9,6 juta KL. Kapasitas terpasang 19 perusahaan produsen biodiesel di Indonesia sekitar 12 juta KL per tahun namun hanya terealisasi 80 persen. “Kapasitas dalam negeri kita praktis sudah habis. Kapasitas yang ada hampir 12 juta KL, namun pada praktiknya, kapasitas produksi hanya 80 persen, otomatis yang terpakai hanya 9,6 juta KL,” katanya.

Disebutkan penambahan kapasitas produksi ini juga dapat meningkatkan ekspor biofuel Indonesia. Menurut dia, China masih menjadi pasar ekspor tertinggi bagi perusahaan biofuel. Aprobi mencatat ekspor biodiesel pada tahun 2019 sebesar 1,3 juta KL, turun sekitar 18 persen dari tahun 2018 yang mencapai 1,6 juta KL. Pasar ekspor tersebut, yakni Uni Eropa, China dan Hongkong. “Tahun lalu, China mendapat biodiesel dari Indonesia sebanyak 61.947 KL. Kemungkinan tahin ini bisa meningkat. Namun, ada faktor lain yaitu kapasitas dalam negeri kita yang sudah habis,” kata Paulus. Investasi untuk penambahan kapasitas produksi biodiesel sebesar 3,6 juta KL ini diperkirakan mencapai Rp 6 triliun. Pada tahun 2021, kapasitas produksi biodiesel juga diperkirakan bertambah 3,6 juta KL sehingga diperkirakan kapasitas terpasang menjadi sekitar 19,2 juta KL.
https://m.suarakarya.id/detail/106559/Dukung-B30-Produsen-Biofuel-Siap-Tambah-Kapasitas-36-juta-KL

Sinar Harapan | Selasa, 4 Februari 2020
Produsen Biofuel Tambah Kapasitas Produksi Jadi 3,6 Juta Kilo Liter

Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) menyebutkan perusahaan produsen biofuel menambah kapasitas produksi mereka hingga 3,6 juta kilo liter (KL) pada tahun ini untuk mendukung program mandatori B30. Ketua Harian Aprobi Paulus Tajkrawan mengatakan selain untuk mendukung B30, peningkatan kapasitas produksi dilakukan karena minat ekspor biodiesel yang masih tinggi, salah satunya ke China. “Tahun 2020 ada beberapa perusahaan yang siap menambah kapasitas, dan ada juga yang berniat membuat baru pabrik biodiesel. Ada yang selesai pertengahan tahun, kuartal ke-II dan ke-IV,” kata Paulus pada konferensi pers Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020 di Jakarta, Senin (3/2/2020). Paulus menyebutkan bahwa peningkatan kapasitas produksi juga diperlukan karena pemerintah meningkatkan mandatori campuran bahan bakar nabati dan solar tersebut dari B20 menjadi B30 pada tahun ini.

Aprobi mencatat kebutuhan biodiesel untuk penerapan B30 sebesar 9,6 juta KL. Sementara itu, kapasitas terpasang 19 perusahaan produsen biodiesel di Indonesia sekitar 12 juta KL per tahun. “Kapasitas dalam negeri kita praktis sudah habis. Kapasitas yang ada hampir 12 juta KL, namun pada praktiknya, kapasitas produksi hanya 80 persen, otomatis yang terpakai hanya 9,6 juta KL,” kata Paulus. Selain itu, penambahan kapasitas produksi ini juga dapat meningkatkan ekspor biofuel Indonesia. Menurut Paulus, China masih menjadi pasar ekspor yang tinggi bagi perusahaan biofuel. Aprobi mencatat ekspor biodiesel pada tahun 2019 sebesar 1,3 juta KL atau turun sekitar 18 persen dari tahun 2018 yang mencapai 1,6 juta KL. Pasar ekspor tersebut, yakni Uni Eropa, China dan Hongkong. “Tahun lalu, China itu mendapat biodiesel dari Indonesia sebanyak 61.947 KL. Kemungkinan ini bisa meningkat untuk China. Namun, ada faktor lain yaitu kapasitas dalam negeri kita yang sudah habis,” kata Paulus. Ada pun investasi untuk penambahan kapasitas produksi biodiesel sebesar 3,6 juta KL ini diperkirakan mencapai Rp6 triliun. Pada tahun 2021, kapasitas produksi biodiesel juga diperkirakan bertambah 3,6 juta KL sehingga diperkirakan kapasitas terpasang menjadi sekitar 19,2 juta KL.
https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/13042/produsen_biofuel_tambah_kapasitas_produksi_jadi_3_6_juta_kilo_liter

Indonesia Inside | Selasa, 4 Februari 2020
Aprobi: Tahun Ini Diprediksi Tidak Ada Ekspor Biodiesel

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) memprediksi tahun ini tidak bisa lagi mengekspor biodiesel ke luar negeri. Pasalnya pasokan yang ada bakal terserap seluruhnya ke dalam negeri untuk program biodiesel 30 persen (B30). Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan menyebutkan, ekspor biodiesel beberapa tahun ini mengalami penurunan. Pada tahun 2018 ekspornya mencapai 1,6 juta kiloliter (KL), namun tahun 2019 turun 18 persen menjadi 1,3 juta KL. Dia merinci selama ini tujuan ekspor biodiesel utamanya ke Uni Eropa, Cina dan Hongkong. Ekpor ke eropa semakin sulit menyusul beberapa produsen biodiesel asal Indonesia dikenakan bea masuk berkisar 8 persen hingga 18 persen. “Kemungkinan perusahan yang mendapatkan bea masuk 8 persen ini mungkin masih bisa ekspor, Meskipun masih ragu mau ekspor eropa. Adanya aturan seperti ini biodiesel sulit masuk eropa,” kata dia. Sementara itu, tahun ini para produsen biodiesel harus memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk program B30 sekitar 9,6 juta KL.

Adapun kapasitas produksi biodiesel dalam negeri saat ini sebesar 12 juta KL. Namun prakteknya, kata Paulus, produksi sekitar 85 persen dari kapasitas atau hanya sekitar 10 juta KL. Aprobi mencatat, tahun ini ada tambahan kapasitas produksi biodiesel sebesar 3,6 juta KL, melalui pengembangan maupun pendirian baru. Namun pabrik tersebut tidak bisa beroperasi awal tahun ini, ada yang selesai April, pertengahan tahun dan akhir tahun. “Teorinya kita tidak bisa ekspor terlebih dahulu minimal pada awal tahun ini. Tetapi kalau ada perusahaan menambah kapasitas produksi biodiesel dan memiliki kemampuan untuk ekspor. Mungkin bisa ekspor minimal kuartal II atau kuartal III,” jelad Paulus. Namun, dia masih meragukan produsen biodiesel bisa ekspor biodiesel. “Mungkin produsen lama bisa ekspor, tapi perusahaan baru agak sulit melakukannya,” ujar dia.

Kata Data | Selasa, 4 Februari 2020
Pengusaha Nilai Brexit Tak Berdampak Besar ke Ekspor Minyak Sawit RI

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) tak berdampak signifikan terhadap ekspor minyak sawit mentah (CPO) dalam negeri. Sebab, permintaan atau konsumsi minyak kelapa sawit negara tersebut tidaklah besar. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, konsumsi minyak sawit Inggris dari Indonesia lebih rendah dibandingkan Spanyol, Italia, Jerman dan Belanda. Konsumsi minyak sawit negara Eropa diperkirakan masih akan stagnan di kisaran 4,5 – 5 juta ton tahun ini. Sepeti diketahui, ekspor minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa terus menghadapi hambatan, baik dari sisi tarif atau bea masuk, hingga maraknya kampanye hitam. Dengan demikian, ekspor sawit ke Benua Biru menjadi sulit berkembang. “Menurut saya dari segi volume tak akan signifikan. Bahwa kemudian secara politik karena dia di luar Uni Eropa, kemudian bersikap berbeda ya bisa saja,” kata Joko saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Senin (3/1). Menurut dia, konsumsi minyak sawit Inggris yang diimpor dari Indonesia lebih banyak digunakan untuk pencampuran bahan bakar industri biodiesel. Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, justru memungkinkan untuk industri-industri tersebut mendesak pemerintah setempat untuk meningkatkan impor minyak sawit dari Tanah Air. “Oleh karena itu tinggal bagaimana kita berjuang salah satunya memprovokasi industri di sana yang butuh harus bicara ke pemerintahnya, jangan diam. Partner kita di sana kan banyak diam, tapi beli terus,” kata dia.

Hal yang sana juga diungkapkan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan. Menurutnya, hingga saat ini Brexit belum berdampak apa-apa terhadap ekspor minyak sawit ke Benua Biru. Meski demikian, momentum ini harus dimanfaatkan pemerintah untuk menjalin kerja sama dengan Inggris untuk meningkatkan ekspor. Namun, setelah Brexit menyebabkan prosedur perdagangan antara Indonesia dan Inggris juga berubah. “Nanti ke depan ada kemungkinan kita harus membuat perjanjian tersendiri dengan Inggris,” kata dia. Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memperkirakan dalam 11 bulan ke depan akan ada perubahan persyarataan dan prosedur perdagangan. Namun, hal itu akan berlangsung secara bertahap. “Kami menunggu apakah ada prioritas khusus dari Inggris kepada produk ekspor asal Indonesia seperti yang kita dapatkan dari Uni Eropa,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (31/1).
https://katadata.co.id/berita/2020/02/04/pengusaha-nilai-brexit-tak-berdampak-besar-ke-ekspor-minyak-sawit-ri

Kontan | Selasa, 4 Februari 2020
Februari 2020, harga indeks pasar biodiesel Rp 9.539, bioetanol Rp 10.384 per liter

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk biodiesel dan bioetanol. HIP untuk biodiesel pada Februari 2020 sebesar Rp 9.539 per liter atau naik Rp 833 per liter dari Januari 2020. Harga ini belum termasuk ongkos angkut yang mengikuti ketentuan Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/10/DJE/2019. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, HIP BBN jenis biodiesel tersebut akan dipergunakan dalam implementasi program B30. “Harga tersebut efektif berlaku sejak tanggal 1 Februari 2020,” ungkap Agung dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/2). Sementara itu, HIP BBN bioetanol pada Februari 2020 ditetapkan sebesar Rp 10.384 per liter atau turun Rp 40 per liter dari bulan Januari, yaitu Rp 10.424 per liter. Terkait dengan penggunaan B30 (pencampuran 30 persen biodiesel dalam minyak solar), Kementerian ESDM menargetkan penyerapan FAME yang lebih tinggi pada tahun 2020. Hal ini sejalan dengan meningkatnya total target produksi FAME di tahun 2020 sebesar 10 juta kilo liter (KL). “Sepanjang tahun lalu B20 bisa terserap 6,26 juta kilo liter. Ini yang membuat kami optimis tahun ini B30 bisa melebihi target tersebut,” sambung Agung. Agung menyebut, pada tahun 2019 lalu, pemanfaatan B20 mampu menghemat devisa sekitar US$ 3,35 miliar atau Rp 48,19 triliun. Sementara pada tahun 2020, Kementerian ESDM menghitung penghematan devisa mencapai lebih dari US$ 4,8 miliar atau Rp 63 triliun.
https://industri.kontan.co.id/news/februari-2020-harga-indeks-pasar-biodiesel-rp-9539-bioetanol-rp-10384-per-liter

Antara News | Selasa, 4 Februari 2020
Target produksi FAME meningkat 10 juta KL

Total target produksi minyak nabati (FAME) pada tahun 2020 meningkat sebesar 10 juta kilo liter (KL) sejalan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penyerapan FAME yang lebih tinggi pada tahun ini. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi melalui informasi tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Selasa mengatakan sepanjang tahun lalu B20 bisa terserap 6,26 juta kilo liter. “Ini yang membuat kami optimis tahun ini B30 bisa melebihi target tersebut,” kata Agung. Dalam dua tahun terakhir, produksi FAME terus mengalami peningkatan. Bahkan realisasi produksi FAME melebihi target, yakni 8,37 juta KL dari yang dicanangkan sebesar 7,37 juta KL. “Kami harapkan pergerakan produksi ini sebagian besar banyak untuk sektor transportasi (B30),” ungkap Agung. Kebijakan mandotari B30, imbuh Agung, sudah mendapatkan respon positif di lapangan. Indonesia bahkan menjadi negara pertama di dunia yang mengimplementasikan program tersebut. “Ini bisa jadi solusi memperbaiki neraca perdangangan, penguranggan impor BBM hingga berpotensi menghemat devisa negara,” jelas Agung. Pada tahun 2019 lalu, pemanfaatan B20 mampu menghemat devisa sekitar 3,35 miliar dolar As atau Rp48,19 triliun. Sementara pada tahun 2020, Kementerian ESDM mengkalkulasikan penghematan devisa mencapai lebih dari 4,8 miliar dolar As atau Rp63 triliun. Untuk terus meningkatkan kualitas biodiesel, Pemerintah medorong pembangunan green refinery. Salah satunya kilang Plaju dengan kapasitas 20 ribu barel per hari. Kilang ini ditujukan untuk mengolah Crude Palm Oil (CPO) dengan proses hydrorefining (H2 & katalis) untuk menghasilkan green diesel dll. “Ditargetkan selesai tahun 2024,” ungkap Agung.

Harga Biodiesel

Pemerintah sendiri menetapkan besaran Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati untuk biodiesel pada bulan Februari senilai Rp9.539 per liter atau naik 833 per liter dari bulan Januari 2020. Besaran nilai tersebut belum termasuk ongkos angkut yang mengikuti ketentuan Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/10/DJE/2019. HIP BBN jenis Biodiesel tersebut akan dipergunakan dalam implementasi program B30. Harga tersebut efektif berlaku sejak tanggal 1 Februari 2020. Perhitungan besaran tersebut didapat formula HIP = (rata-rata CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) + 100 dolar/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut. Harga rata-rata CPO KPB sendiri periode 15 Desember 2019 hingga 14 Januari 2020 mencapai Rp9.573/kg selisih Rp974/kg dari bulan periode sebelumnya, yaitu Rp8.599/kg. Sementara HIP BBN bioetanol pada bulan Februari 2020 ditetapkan sebesar Rp10.384 per liter atau turun Rp40 per liter dari bulan Januari, yaitu Rp10.424 per liter. Untuk formula perhitungannya didapatkan dari Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L + 0,25 dolar/Liter.
https://www.antaranews.com/berita/1279435/target-produksi-fame-meningkat-10-juta-kl