+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Menko Darmin Dorong Fokus di Empat Sektor Padat Karya:

• Menko Darmin Dorong Fokus di Empat Sektor Padat Karya: Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut Indonesia perlu memiliki fokus pada empat sektor perekonomian yang dianggap mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar (labor intensive). Untuk menunjangnya, pendidikan vokasi harus berkonsentrasi kepada sektor-sektor itu. Sektor pertama adalah agribisnis. Terlebih permintaan produk turunan agribisnis juga potensial untuk pasar ekspor, seperti biodiesel dari kelapa sawit dan bioethanol dari tebu. (CNN INDONESIA)
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171221130237-92-263993/menko-darmin-dorong-fokus-di-empat-sektor-padat-karya

• Pemerintah akan Kembangkan Lima Sektor Vokasi hingga 2025: Pemerintah melalui Kementerian Koordinator bidang Perekonomian akhirnya meluncurkan roadmap pengembangan vokasi di Indonesia. Peta jalan tersebut berbentuk sebuah buku yang mengulas ketersediaan lapangan kerja, keahlian tenaga vokasi yang dibutuhkan industri hingga proyeksi kebijakan pemerintah periode 2017-2025. Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pengembangan vokasi Indonesia ke depan akan fokus pada lima sektor yakni agribisnis, turisme, e-commerce, jasa kesehatan, dan TKI. “Kalau kita mau mempertajam jurusan kompetensi yang perlu kita kembangkan akan tampak bahwa Indonesia perlu fokus pada 5 area besar itu,” ujar Darmin dalam peluncuran buku vokasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 21 Desember 2017. Darmin menuturkan prospek industri di bidang agribisnis dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak khususnya komoditas sawit, karet, kelapa, cokelat, kopi, tebu, dan teh. Hanya saja Sumber Daya Manusia (SDM) dalam meningkatkan keterampilan pembibitan masih snagat minim. “Industri sawit bahan baku biodiesel punya potensi penggerak kegiatan ekonomi di kawasan barat, kita ingin di timur bisa berkembang perkebunan tebu pabrik gula dengan bioetanol,” tutur dia. (METRO TV NEWS)
http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/GNGM1Rdk-pemerintah-akan-kembangkan-lima-sektor-vokasi-hingga-2025

• Pengembangan Energi Terbarukan Diperkirakan Sulit Capai Target: Program pengembangan kelistrikan tahun depan diperkirakan masih akan dihadapkan sejumlah tantangan. Salah satunya di sektor energi baru terbarukan (EBT) yang diprediksi sulit mencapai target akibat kebijakan yang kerap berubah. Pemerintah telah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025. Namun progres pengembangan EBT hingga saat ini dinilai masih lambat. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, melihat realisasi bauran EBTpada tahun lalu yang hanya 6% dan tahun ini di kisaran 7%, akan berat untuk mencapai target seperti yang ditetapkan pemerintah. Untuk mengembangkan EBT, PLN masih mengandalkan sumber energi berupa panas bumi, hydro, mikro hydro, matahari, angin, biomassa, hingga biofuel (SINDO)
https://ekbis.sindonews.com/read/1267796/34/pengembangan-energi-terbarukan-diperkirakan-sulit-capai-target-1513855990

• RI Berpeluang Rebut Pasar Ekspor Kelapa Sawit ke Chile: Indonesia berpeluang merebut pasar ekspor sawit di Chile setelah kedua negara menyepakati perjanjian perdagangan pada awal bulan ini. Berdasarkan data Trade Map, Chile mengimpor 15.439 ton komoditas minyak sawit dan turunannya serta 6.728 ton minyak sawit mentah pada 2016. Dari jumlah tersebut, Malaysia tercatat memasok 4.078 ton minyak sawit dan turunannya. (BISNIS)
http://industri.bisnis.com/read/20171221/12/720500/ri-berpeluang-rebut-pasar-ekspor-kelapa-sawit-ke-chile

• Ini Kabar Buruk CPO dari India dan Pakistan: Saat ini, industri minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) tengah dilanda galau. Lantaran ekspor menuju India dan Pakistan mengalami penurunan. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia harus mengantisipasi permintaan India dan Pakistan yang terus-menerus anjlok. Pada Oktober 2017, misalnya, total ekspor CPO Indonesia (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar 2,60 juta ton. Atau turun 5,6% dibanding bulan sebelumnya. Alhasil, stok CPO di dalam negeri sampai Oktober naik 16% ketimbang bulan sebelumnya. Atau dari 2,92 juta ton (September) naik menjadi 3,38 juta ton (Oktober). “Produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan palm kernel oil atau PKO) pada Oktober 2017 meningkat 3% dibanding September. Atau dari 4,03 juta ton menjadi 4,16 juta ton,” ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Togar Sitanggang. (WARTA SUMEDANG
https://warta.sumedang.info/ekonomi-bisnis/53013-ini-kabar-buruk-cpo-dari-india-dan-pakistan/