+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Menko Luhut, Sawit, Dan Radikalisme:

Menko Luhut, Sawit, Dan Radikalisme: Dari 22-27 April 2018, Menko Luhut Panjaitan dan delegasi Indonesia yang terdiri dari tim Kemenko Maritim, GAPKI, APROBI, dan APKASINDO bertemu perwakilan Komisi Uni Eropa di Brussel, Belgia. Selain itu, mereka bertemu kementerian terkait dan perwakilan di Jerman, Belanda, dan Vatikan. “Menko Luhut diutus Presiden Jokowi (Red-Joko Widodo) untuk mengurusi persoalan sawit ini,”ungkap Rino.Pernyataan Rino Afrino ini diamini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan saat bertemu media massa pada 11 Mei 2018. Luhut Panjaitan mengatakan diperintahkan Presiden Joko Widodo untuk melakukan pertemuan-pertemuan mengenai sawit di Uni Eropa. Pertemuan ini bagian dari lobi pemerintah menghadapi rencana pengesahan rancangan proposal Parlemen Uni Eropa untuk menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel pada 2021 mendatang. Sebagai informasi bahwa persoalan Renewable Energy Directive (RED) II dan biodiesel menjadi perhatian Kemenko Maritim karena Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai kementerian teknis sesuai Perpres Nomor 10 tahun 2015 berada dalam koordinasi dengan Kemenko Maritim. Menko Luhut menjawab isu yang dilontarkan Eropa mengenai masalah lingkungan hidup, deforestasi dan hak asasi manusia terkait sawit. Terkait deforestasi lahan, Menko Luhut menjelaskan bahwa luas lahan sawit sudah 12 juta hektar dan kita sudah moratorium, jadi tidak ada penambahan lahan baru. (SAWITINDONESIA)

Pengadaan Biodiesel Diputuskan 1.456.966 Kl Untuk Periode Mei-November 2018: Pengadaan biodiesel periode Mei-November 2018 ditetapkan berjumlah 1.456.966 Kiloliter (Kl). Ketetapan ini dituangkan dalam surat Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) bernomor 1803 K/10/MM/2018 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dan Alokasi Besaran Volume Untuk Pengadaan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel Pada PT Pertamina (Persero) dan PT AKR Corporindo Tbk Periode Mei-Oktober 2018. Dari jumlah 1.456.966 Kl terbagi atas pengadaan kepada PT Pertamina (Persero) 1.426.966 Kl dan PT AKR Corporindo Tbk sebesar 30 ribu Kl. Adapun jumlah perusahaan yang ditunjuk berjumlah 19 perusahaan. Mereka adalah PT Cemerlang Energi Perkasa, PT Wilmar Bioenergi Indonesia, PT Pelita Agung Agrindustri (Permata Hijau Grup), PT Ciliandra Perkasa, PT Musim Mas, PT Darmex Biofuels, PT Energi Baharu Lestari, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Bayas Biofuels, PT LDC Indonesia, PT Smart Tbk, PT Tunas Baru Lampung Tbk, PT Multi Nabati Sulawesi, PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Inti Benua Perkasatama, PT Batara Elok Semesta Terpadu, PT Dabi Biofuels, PT Sinarmas Bio Energy, PT Kutai Refinery Nusantara, dan PT Sukajadi Sawit Mekar.Grup Wilmar (PT Wilmar Bioenergi Indonesia,PT Wilmar Nabati Indonesia, dan PT Multi Nabati Sulawesi) menjadi penyuplai terbesar mencapai 480.095 Kl untuk pengadaan biodiesel periode ini. Disusul Musim Mas serta anak usahanya PT Intibenua Perkasa dan PT Sukajadi Sawit Makmur berjumlah 273.493 Kl.Adapun Dutapalma Grup (PT Darmex Biofuels, PT Bayas Biofuel, dan PT Dabi Biofuels ) mencapai 206.985 Kl. Sementara itu, Sinarmas Grup (PT SMART Tbk dan PT Sinarmas Bio Energy) menyuplai 112.597 Kl. Untuk, Asian Agri (PT Cemerlang Energi Perkasa dan PT Kutai Refinery Nusantara) menyalurkan biodiesel sebanyak 110.150 Kl. (SAWITINDONESIA)

DPR Berharap Austria Bantu CPO Indonesia di Eropa: DPR memperjuangkan agar CPO tetap dapat diterima oleh pasar UE menyusun rencana kawasan tersebut melarang CPO karena dianggap tidak ramah lingkungan.Perjuangan tersebut disampaikan delegasi BKSAP DPR dalam kunjungannya ke Austria. UE memiliki target untuk menghapus biofuel dan bioliquid dari minyak sawit hingga 0% pada 2021. Sementara itu, ekspor CPO ke Eropa pada 2016 berdasarkan data BPS mencapai hampir 1,4 juta ton dengan nilai US858 juta.Dalam pertemuan dengan Parlemen Austrla, Wakil Ketua BKSAP Juliari P. Batubara berharap Austria dapat memperjuangkan produk CPO Indonesia ke tingkat UE mengingat CPO adalah salah satu andalan ekspor Indonesia. Dalam pertemuan terpisah dengan ‎Task Force for Presidency Austria, anggota BKSAP Rachel Maryam Sayidina menjelaskan bahwa Indonesia telah melakukan langkah koreksi terkait dengan pengelolaan CPO di Indonesia, baik dalam isu lingkungan, kesehatan, maupun deforestasi. Sementara itu, Ketua Taks Force untuk Presidency Austria Regina Rothmayr yang menerima delegasi BKSAP Indonesia mengatakan CPO menjadi perhatian di UE yang terus mencanangkan keberlanjutan lingkungan. Namun, pihaknya berupaya menyampaikan usulan Indonesia ini ke parlemen. (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180524/99/799195/dpr-berha-austria-bantu-cpo-indonesia-di-eropa

Megasektor Sawit Dan Pengelolaan Baru: Dalam bidang sosial, Megasektor Sawit juga berkontribusi pada penciptaan kesempatan kerja dan berusaha yang luas dan besar. Sekitar 3 juta usaha keluarga (petani sawit), ribuan usaha menengah dan besar, ribuan supplier jasa/barang ikut terlibat dalam Megasektor Sawit. Jutaan penduduk yang berhasil keluar dari kemiskinan, jumlah tenaga kerja yang bekerja pada Megasektor Sawit mencapai lebih dari 10 juta orang. Hal ini telah mendapat pengakuan dari berbagai studi (Sumarto dan Suryahadi, 2004, Susila, 2004, Gunadi 2008, World Growth, 2009, 2011, Joni, 2012, Rofiq, 2013, PASPI, 2014, 2017) yang mengungkapkan bahwa Megasektor Sawit menjadi pengerak ekonomi pedesaan, pemerataan ekonomi, dan pengurangan kemiskinan khususnya di kawasan pedesaan. Kawasan sentra-sentra sawit diberbagai daerah telah menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru ekonomi daerah. Dalam aspek ekologis Megasektor sawit memiliki peran strategis, seperti dalam berbagai studi baik dalam maupun luar negeri (Murayama dan Baker, 1996, Henson, 1999, Chan, 2002, Fairhurst dan Hardter, 2004, Harahap dkk, 2005, Melling et al, 2005, 2007, Sabiham, 2013, PASPI, 2014, 2017). Proses produksi biologis pekebunan sawit merupakan bagian dari “paru-paru dunia” yang menyerap karbondioksida dari atmosfer bumi dan menghasilkan oksigen bagi kehidupan. Dari 11 juta kebun sawit Indonesia (2016) setiap tahun menyerap sekitar 1,8 miliar ton karbondioksida dari udara dan memasok 200 juta ton oksigen keudara bumi setiap tahun. Selain itu, bioenergi yang dihalkan seperti biodiesel dapat mengantikan energi fosil yang mengotori udara bumi. Sehingga merupakan bagian dari solusi atas pemanasan global khususnya pada penurunan emisi karbon dunia. (SAWITINDONESIA)