+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Menteri Luhut Direstui Vatikan (Lawan Kampanye Hitam Sawit Di Eropa):

Menteri Luhut Direstui Vatikan (Lawan Kampanye Hitam Sawit Di Eropa): Pemerintah berupaya keras menangkal kampanye hitam Uni Eropa terkait penggunaan kelapa sawit asal Indonesia. Selain melobi sejumlah pejabat tinggi dan anggota Parlemen Uni Eropa, pemerintah mengirim Menteri Luhut Binsar Panjaitan untuk menggandeng Vatikan dalam menghadapi negara-negara di benua biru. BEBERAPA negara di Eropa menilai penggunaan kelapa sawit sebagai biodiesel berbahaya bagi lingkungan. Penggunaan kelapa sawit dianggap sebagai penyebab deforestasi atau penebangan hutan serampangan. Akibat tudingan “miring” itu, arus dagang produk kelapa sawit asal Indonesia ke benua biru itu bakal kena dampaknya. Ekspor hasil olahan kelapa sawit ke kawasan tersebut akan berkurang drastis. Namun begitu. Menteri Koordinator Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut B Panjaitan mengaku telah mengantongi dukungan Vatikan dalam menghadapi kampanye hitam Uni Eropa terhadap produk minyak kelapa sawit Indonesia. (RAKYAT MERDEKA)

Pertumbuhan Biodiesel Indonesia Sangat Menjanjikan: Sejalan dengan program Uni Eropa, tentang Renewable Energy Directive dan tarif internasional negera-negara Uni Eropa, Amerika Serikat dan negara maju di dunia mulai meningkatkan produksi dan konsumsi energi terbarukan, baik bioethanol maupun biodiesel. Indonesia memiliki posisi yang unik dan memiliki kesempatan yang cukup besar di masa mendatang, dimana pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia hanya 44.000 ton pada tahun 2006, dan tahun 2016 mencapai 2.5 juta ton. Saat ini Indonesia memiliki share 3 persen dari total produksi dunia, dan berhasil mengungguli India. China dan sejumlah negara-negara Uni Eropa, yang jauh lebih awal mengembangkan biodiesel. Growth perkembangan produksi biodiesel Indonesia mencapai 84,3 persen per tahun. Perkembangan ini berhasil menarik perhatian dunia, salah satunya negara RRC yang mulai mengembangkan B-5 dengan kerjasama dengan Indonesia. Perdagangan etanol dan biodiesel sebagian besar didorong oleh kebijakan emisi gas rumah kaca yang mempromosikan produksi biofuel di Amerika Serikat, Uni Eropa, Brazil dan Argentina.Perdagangan dan produksi etanol menghadapi kebijakan dan tarif yang lebih bertarget dari pada biodiesel. Perkembangan masa depan kebijakan UE, terutama mengenai persyaratan keberlanjutyan, kemungkinan akan berdampak besar pada ukuran perdagangan bahan bakar nabati. (SAWITINDONESIA)

Berkembangnya Bahan Bakar Nabati Indonesia Di Dukung Kebijakan Nasional: Mandatori Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Kementerian ESDM, telah menetapkan arah kebijakan di sektor energi yang mengedepankan pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan salah satunya melalui pemanfaatan BBN. Implementasi kebijakan mandatori berhasil menciptakan pasar BBN di dalam negri yang tumbuh secara signifikan dari tahun 2009 hingga tahun 2014. Dengan meningkatnya porsi biodiesel, tahun 2013 dengan implementasi pemanfaatan biodiesel. Pemerintah telah berhasil melakukan penghematan devisa sebesar 831 juta USD, dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan dalam negri sebesar 1,05 juta Kl, meningkat 56,62 % dari pemenfaatan biodiesel tahun 2012. Hal ini berhasil mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil dan memberikan nilai tambah pada perekonomian, mengurangi emisi GRK, seta untuk mengurangi impor BBM yang semakin meningkat. Pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia baru mencapai 44 ribu ton, dan berada di bawah Thailand. (SAWITINDONESIA)

Produksi Disarankan Dekat Sumber Gas (INDUSTRI KIMIA): Pemerintah mendorong pengembangan pabrik metanol sebagai salah satu bahan baku strategis dalam industri kimia berada di dekat lokasi ekstraksi gas alam. Menteri Perindustrian Airlangga Har-tarto mengatakan, saat ini industri kimia merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dalam implementasi industri 4.0 di Indonesia. Salah satu langkah yang perlu dilakukan, tambahnya, yakni membangun industri kimia dengan biaya kompetitif dan memanfaatkan sumber daya migas dan optimalisasi lokasi zona industri. “Salah satunya adalah pembangunan lokasi produksi kimia yang lebih dekat dengan lokasi ekstraksi gas alam. Selain itu, mengadopsi teknologi industri 4.0 sekaligus mempercepat kegiatan penelitian dan pengembangan untuk mendorong produktivitas dan mengembangkan kemampuan produksi kimia generasi berikut dalam produksi biofuel dan bioplastik,” katanya, Kamis (26/4). (BISNIS INDONESIA)