+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Minyak Sawit Indonesia Berpotensi Tergerus

Bisnis Indonesia | Jum’at, 17 Mei 2019

Minyak Sawit Indonesia Berpotensi Tergerus

Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) menilai bahwa perang dagang akan menggerus kinerja kelapa sawit, sedangkan biodiesel belum tentu bisa jadi tumpuan. Dewan Pembina Perhepi Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa perang dagang antara China dan Amerika Serikat berisiko ikut memengaruhi harga dan pasar Kelapa Sawit pada tahun ini. Hal itu mulai terlihat dari harga kedelai yang sudah turun dari USS380 per ton menjadi US$318 per ton. “Itu sudah pada harga pada tingkat petani, bukan kedelai stok. Apalagi tambah dengan yang baru panen kemarin. Sektor kedelai AS menderita maka harga kedelai dunia ikut jatuh. Karena harga minyak kedelai jatuh, tekanan harga pada minyak sawit akan terus berlanjut,” katanya, Rabu (16/5). AS menjadi salah satu produsen kedelai terbesar di dunia. Salah satu pasar terbesar kedelai AS adalah China. Menurutnya, masih ada kemungkinan volume ekspor minyak sawit akan terus naik. Namun, tidak disertai dengan peningkatan nilainya seperti tahun lalu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor minyak Kelapa Sawit {crude palm oil/CPO) pada tahun lalu sebesar US$17,9 miliar, turun 12,02% dibandingkan dengan 2017 sebesar US$20,34 miliar. “Kalau [perang dagang AS-China] terus berlangsung yang merasakan paling berat adalah harga buah, petani akan rasakan dampak terberat Sebagian pelaku usaha mereka akan ambil profit dari produk hilir, makanya minyak goreng tidak turun harganya,” imbuhnya.

Bayu menyarankan agar pemerintah dan industri mencari cara untuk meningkatan pemanfaatan CPO di dalam negeri sehingga tidak hanya bergantung pada pasar ekspor. Pemanfaatan Dahan bakar nabati, menurutnya, sudah bagus, tetapi itu sekadar jangka pendek saja. Bayu memproyeksikan bahwa penggunaan biodiesel hanya akan populer sampai 15 tahun ke depan. Setelahnya, dia meragukan bahwa bahan bakar hijau itu masih akan menjadi opsi utama. Pasalnya, pabrikan otomotif asal Jepang seperti Toyota sudah menargetkan nol emisi pada 2050. “Target 2050 zero emission. Konsekuensinya tidak perlu bahan bakar. Itu masih 30 tahun lagi, tetapi sama dengan umur satu pohon sawit. Dengan begitu grafik bisnisnya landai pasti. Di situ, kami harus keluarkan solusi baru,” katanya. Bayu menjelaskan bahwa pada 2030 kemungkinan produksi minyak sawit bisa menyentuh 50 juta ton. Oleh karena itu, perlu tambahan segmentasi penyerapan selain makanan dan bahan bakar. Menurutnya, minyak sawit pun bisa dipakai untuk pembangkit tenaga listrik, tetapi tentu saja tidak mudah karena membutuhkan sistem logistik, sistem bisnis, komposisi harga dan hal lain yang harus dipikirkan untuk menunjang itu.

Selain itu, opsi minyak sawit sebagai bahan baku plastik ramah lingkungan. “Plastik kan dari minyak jadi ini masalah sederhana. Kalau kita mengarah ke sana itu akan ada permintaan yang sangat besar dan sekaligus menyelesaikan masalah plastik,” katanya. Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) meyakini bahwa kinerja sawit pada tahun ini masih menghadapi berbagai tekanan terutama dampak dari perang dagang AS-China. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, kinerja sawit pada tahun ini masih akan berat karena perseteruan dagang antara Amerika Serikat dan China. \’Tahun ini masih akan berat padahal berharap Amerika Serikat dan China berdamai. Namun, berantem lagi kelihatannya dan akan berdampak pada ekonomi global,” katanya, Rabu (15/5). Menurutnya, pada kuartal 1/2019, produksi sawit masih positif. Ekspor CPO pada April pun naik 3% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. “Semua harga komoditas tertekan akibat perekonomian global,” katanya.

Wartaekonomi | Kamis, 16 Mei 2019

Optimisme Gapki atas Sawit Indonesia di Tengah Pusaran Badai

Tetap optimis di tengah pusaran badai. Ungkapan ini mewakili gambaran industri sawit Indonesia di triwulan I 2019. Pasalnya, berbagai tantangan baik dari dalam negeri, luar negeri, dan sentimen pasar dihadapi industri ini. Awal tahun ini industri sawit digoyang oleh Uni Eropa dengan kebijakan renewable energy directive II (RED II) yang akan menerapkan kebijakan penghapusan penggunaan biodiesel berbasis sawit karena minyak sawit digolongkan memiliki risiko tinggi terhadap deforestasi (indirect land used change/ILUC), sedangkan minyak nabati lain digolongkan berisiko rendah. “Meski dalam kekalutan, menurut Mukti, industri ini terus berperan menambal neraca perdagangan Indonesia yang minus dengan kinerja ekspornya,” kata Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indoneisa (Gapki) dalam keterangannya, Kamis (16/5/2019). Pada triwulan I 2019, kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan (biodiesel, oleochemical, CPO, dan turunannya) meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau dari 7,84 juta ton triwulan I 2018 menjadi 9,1 juta ton di triwulan I 2019. “Artinya, ekspor minyak sawit Indonesia masih tumbuh meskipun di bawah harapan,” tegasnya.

Pada Maret 2019 kinerja ekspor minyak sawit secara keseluruhan (biodiesel, oleochemical, CPO, dan turunannya) meningkat 3% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 2,88 juta ton menjadi 2,96 juta. Sementara ekspor khusus CPO dan produk turunannya hanya naik tipis, yaitu 2,77 juta ton di Februari, sedikit terkerek menjadi 2,78 juta ton di Maret. Sentimen RED II Uni Eropa, setidaknya ikut menggerus kinerja ekspor Indonesia. Selain itu, lesunya perekonomian di negara tujuan utama ekspor, khususnya India, berdampak signifikan pada permintaan minyak sawit negara Bollywood ini. Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang tak kunjung usai ikut memengaruhi perdagangan kedelai kedua negara yang berujung pada menumpuknya stok kedelai di AS. Pada Maret ini ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India turun tajam sebesar 62% atau dari 516,53 ribu ton di Februari meluncur bebas ke 194,41 ribu ton di Maret. Perlambatan pertumbuhan ekonomi India yang hampir memasuki ambang krisis menyebabkan berkurangnya permintaan minyak sawit India, baik dari Indonesia maupun Malaysia. Penurunan permintaan juga diikuti negara Afrika 38%, AS 10%, China 4%, dan Uni Eropa 2%. Secara mengejutkan, ekspor minyak sawit ke negara lain-lain meningkat 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang terbilang signifikan datang dari Asia, khususnya Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Beralih pada penyerapan biodiesel dalam negeri. Sepanjang Maret ini penyerapan biodiesel dalam negeri mencapai lebih dari 527 ribu ton atau turun 19% dibandingkan dengan Februari lalu yang mencapai 648 ribu ton.

https://www.wartaekonomi.co.id/read228056/optimisme-gapki-atas-sawit-indonesia-di-tengah-pusaran-badai.html

Media Indonesia | Kamis, 16 Mei 2019

Serapan Biodiesel Sentuh 1,72 Juta Ton

GABUNGAN Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penyerapan biodiesel dalam negeri pada kuartal pertama 2019 telah mencapai 1,72 juta ton seiring perluasan mandatori penggunaan minyak sawit mentah sebagai bauran bahan bakar solar sebanyak 20% atau B20. Secara rinci, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono menyebutkan serapan biodiesel sepanjang Maret mencapai 527 ribu ton. Raihan tersebut lebih rendah 19% dibandingkan capaian Februari yang menyentuh 648 ribu ton dan Januari sebesar 552 ribu ton. “Turunnya penyerapan biodiesel disinyalir karena keterlambatan permintaan dari Pertamina sehingga pengiriman ke titik penyaluran ikut terlambat,” ujar Joko di Jakarta, Rabu (15/5) malam. Untuk pemenuhan pengembangan B20, serapan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ditargetkan sebesar 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton sepanjang tahun ini. Penyerapan CPO dalam jumlah besar di dalam negeri menjadi solusi atas tantangan industri sawit yang saat ini tengah dihadapi Indonesia, terutama dari level global.

https://mediaindonesia.com/read/detail/235880-serapan-biodiesel-sentuh-172-juta-ton