+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Misi Nasional Biofuel India:

Misi Nasional Biofuel India: Biofuels memiliki peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi India. Permintaan energi negara India diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 4,8 persen selama beberapa dekade. Sebagian besar energi saat ini dipenuhi oleh bahan bakar fosil dan batubara, produk berbasis minyak bumi dan gas alam. Produksi minyak mentah dalam negri hanya bisa memenuhi 25-30 persen konsumsi nasional.Permintaan solar lima kali lebih tinggi dari permintaan bensin di India. Tapi sementara industri etanol sudah matang, industri biodiesel masih dalam tahap awal. Teknologi biodiesel india saat ini adalah transesterifikasi minyak nabati. Pemerintah telah merumuskan Misi Biodiesel Nasional yang ambisius untuk memenuhi 20 persen persyaratan biodiesel negara tersebut. Karena permintaan akan minyak nabati yang dapat dimakan melebihi pasokan, pemerintah telah memutuskan untuk mengunakan minyak yang tidak dapat dimakan dari biji Jatropha Curcas sebagai bahan baku biodiesel. Penelitian ekstensif telah menunjukan bahan Jatropha menawarkan keuntungan sebagai berikut: memerlukan air dan pupuk yang rendah untuk budidaya, tidak digembalakan oleh sapi dan domba, tahan hama, mudah diperbanyak, memiliki masa gestasi rendah dan memiliki hasil benih minyak yang tinggi. (SAWITINDONESIA)

Jarak Pagar Bahan Utama Biodiesel India: Biodiesel merupakan komoditas yang paling penting baik untuk mengantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena biodiesel merupakan bahan bahan bakar terbarui yang dapat mengantikan diesel petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan di jual dengan mengunakan infrastuktur zaman sekarang. Pengunaan produk biodiesel meningkat dengan cepat terutama di Eropa, Amerika Serikat dan Asia, meskipun dalam pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar. Pertumbuhan SPBU membuat semakin banyaknya persedian biodiesel kepada konsumen dan juga pertumbuhan kendaraan yang mengunakan biodiesel sebagai bahan bakar.Tahun 2010, produksi biodiesel duni mencapai 20,29 juta kl, dan tahun 2016 telah meningkat 64% menjadi 33,25 juta kl. Dengan rata-rata kenaikan 3,86 persen per tahun, maka tahun 2025 diproyeksikan produksi biodiesel dunia akan mencapai 41,38 juta kl atau 2 kali lipat dibandingkan tahun 2010.Kebijakan B5 yang dikembangkan negara RCC, termasuk kerjasama kedua negara dalam pengembangan biodiesel dinegara RCC akan berdampak luas dalam pengembangan biodiesel dimasa mendatang, termasuk akan mengkoreksi data proyeksi diatas. Kebijan ini memiliki makna strategis, mengingat negara RCC salah satu negara berpenduduk terbesar dunia, serta memiliki konsumsi energi besar.Kebijakan B5 ini ditempuh negara RCC setelah sejumlah kebijakan dan program RCC untuk mengembangkan tanaman jarak namun belum berhasil secara optimal memenuhi harapan negara tersebut. Pengembangan tersebut bisa berdampak pada negara India, yang juga selama dua dekade telah mengembangkan tanaman jarak, dan saat ini sudah mulai mengembangkan perkebunan kelapa sawit. (SAWITINDONESIA)

Pemerintah berencana naikkan subsidi Solar menjadi Rp 1.500 per liter: Kementerian Energi Sumber Daya Mineral berencana menambah subsidi Bahan Bakar Minyak jenis Solar. Di mana saat ini subsidi solar ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara yakni Rp 500 per liter. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Djoko Siswanto, mengungkapkan rencana penambahan subsidi jenis Solar masih dalam kajian oleh pihaknya. Untuk besarannya sendiri dikatakan masih pada kisaran Rp 1.000 per liter. Lebih lanjut dia mengatakan, usulan penambahan subsidi Solar sebesar Rp 1.000 per liter masih belum diputuskan. Mengingat pembahasan resmi tersebut nantinya akan dikaji oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan. Sebelumnya, Joko mengungkapkan, dengan subsidi Rp 500 per liter dan kuota solar subsidi 7,5 juta kilo liter, maka anggaran subsidi mencapai Rp 3,5 triliun. Jika subsidi ditambah Rp 500 per liter maka anggaran yang dibutuhkan Rp 3,5 triliun, sedangkan jika subsidi ditambah Rp 1.000 per liter maka anggaran yang dibutuhkan Rp 7 triliun.Saat ini besaran tambahan subsidi solar belum ditetapkan, Djoko bersama timnya masih melakukan perhitungan untuk menentukan angka yang tepat. (MERDEKA)

https://www.merdeka.com/uang/pemerintah-berencana-naikkan-subsidi-solar-menjadi-rp-1500-per-liter.html