+62 2129380882 office@aprobi.co.id

More studies needed for B30 despite positive test results

The Jakarta Post | Senin, 2 September 2019
More studies needed for B30 despite positive test results

The road tests for 30 percent blended biodiesel (B30) are underway. Despite positive results and a decrease of emissions, experts are calling on the government to ensure that the policy works to support the industry and to solve fossil fuel-related problems. The interim results of B30 road tests show less significant changes in the power of vehicles and a decrease of emissions, according to a researcher from the Agency for the Assessment and Application of Technology, Maharani Dewi Solikhah The tests showed that vehicles using B30 produced emissions of 1.3 to 1.4 grams per kilometer of carbon monoxide and carbon dioxide, less than the maximum 1.5 grams allowed. “This not a final result,” Maharani said during the announcement of the B30 road test results in Bandung on Thursday. The road tests were part of an initiative by the government and the associations to provide data for the mandatory use of B30 next year. “The tests measure some parameters, including fuel consumption, power, emission rates, cold-start ability, fuel quality and lubricant quality,” said Dadan Kusdiana, the Energy and Mineral Resources Ministry\’s research and development agency head.

The road tests involved eight passenger cars, which were to travel some 50,000 kilometers, and three heavy-duty vehicles that each weighed more than 3.5 tons and were to travel some 40,000 km. As of last Monday, some of the passenger cars had driven 37,357 km, while the heavy-duty vehicles had reached 28,677 kin from their starting point in Lembang, West Java. The tests used a full-to-full method, which aims to determine the level gap of the fuel when the vehicles were refilled after finishing their daily travel. “To prevent biases, such as how the fuel was being consumed because of the environment and driving behavior, we asked the drivers to take turns every two hours and to change their vehicles from ones fueled with B20 [20 percent blended biodiesel] to others with B30 and vice versa,” Maharani said. . Each of the passenger cars must do return trips from Lembang to Guci, Central Java, every day while the heavy-duty vehicles must travel from Lembang to Karawang. Meanwhile, the tests of emission rates, the vehicles\’ overall performances, filter and lubricant qualities were performed every 2,500 km.

The temporary test results had remained stable and positive because there was no significant change of the total emission rates of hydrocarbons and nitrogen oxide, Maharani said. “The emissions are still under the minimum requirement and there has been no significant increase.” At the same time, there were different results for the average fuel consumption between the vehicles using B20 and B30, she said. The first car, identified as PI, showed a 6.5 percent higher fuel consumption when using B30 after about 17,000 km. The second car, identified as P2, showed a 2.35 percent higher consumption when using B20 after about 28,000 km. Another vehicle, identified as P3, showed a 5.58 percent higher fuel consumption when using B20 after about 24,000 km. The last car, identified as P4, showed a 4.1 higher consumption when using B30 after about 12,000 km. Meanwhile, for heavy-duty vehicles, the use of B3O snowed an ability to travel 5.26 km per liter, whereas another vehicle could only travel 3 km per liter, she added. The cars being used in the tests are the Mitsubishi Pajero Sport, Nissan Tera, Toyota Fortuner and DFSK because those high-technology cars are the most complex, said a representative of the Association of Indonesian Automotive Manufacturers (Gaikindo), Abdul Rohim. Despite the positive road test results, energy analyst Fabby Tumiwa said the diesel-centric B30 policy remains inadequate for reducing Indonesia\’s overall oil dependence because it did not address the bigger problem of gasoline consumption. Domestic diesel consumption last year was 16.2 million kiloliters, which was only 21.6 percent of total fuel consumption, while the remaining 78.4 percent was gasoline, according to Downstream Oil and Gas Regulatory Agency (BPH Migas) data.

Portonews | Minggu, 1 September 2019
Road Show Sosialisasi Implementasi B30

Dalam rangka pelaksanaan kontrak pekerjaan dari BPDPKS, BLU P3tek melaksanakan Road Show sosialisasi progres Road Test Penggunaan B30 Pada Kendaraan Bermesin Diesel, Kamis, 29 Agustus 2019, bertempat di Puslitbang Tekmira, Bandung, Jawa Barat. Acara dibuka Kepala Badan Litbang ESDM, dihadiri oleh Direktur Bioenergi, perwakilan dari para pemangku kepentingan (Pertamina, BPPT, Gaikindo, Aprobi), perwakilan unit-unit di lingkungan KESDM, PT Pindad, PT KAI, asosiasi otomotif, dosen dan perguruan tinggi di sekitar Bandung dengan jumlah peserta 150 orang. Dalam kegiatan ini disosialisasikan tentang Kebijakan Implementasi B30 di Indonesia, seperti disampaikan oleh Direktur Bioenergi, Ditjen EBTKE. Dukungan BPDPKS terhadap Kebijakan B30 juga disampaikan oleh wakil dari BPDPKS. Laporan Progress Uji Jalan B30 ini disampaikan oleh Tim BPPT), dan Kesiapan Industri Otomotif dalam Mendukung Kebijakan B30 disampaikan oleh perwakilan Gaikindo. Masukan dari peserta road show antara lain: pengembangan biofuel tidak hanya pada sawit tapi membuka peluang untuk komoditi nabati dan teknologi lainnya. Gaikindo sangat mendukung penuh implementasi B30, dan diharapkan B30 yang tersedia di pasar terjaga kualitasnya. Agenda road show berikutnya akan dilaksanakan 5 September 2019, di Puslitbang Teknologi Migas “Lemigas”, dengan target peserta Kementerian/Lembaga terkait, asosiasi petani sawit, asosiasi pengusaha otomotif serta perguruan tinggi dan mahasiswa di sekitar Jakarta, Depok dan Tangerang.Bandung.

Inilah | Minggu, 1 September 2019
Kendaraan Diesel Nyatanya Nyaman Minum B30

Hasil road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) mulai digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Nyatanya, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Uji coba tersebut merpakan kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan Kementerian ESDM melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM). “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah”, jelas Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana saat memberikan sambutan dalam pembukaan road show sosialisasi B30 di Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara “Tekmira”, Bandung, seperti mengutip esdm.go.id. Sebelumnya, road test dilakukan dengan membandingkan kinerja sebelum dan sesudah penggunaan B30 dan B20 pada 8 unit kendaraan bertonase di bawah 3,5 ton dengan jarak tempuh 50 ribu km. Sementara, kendaraan bertonase di atas 3,5 ton dijalankan pada 3 unit kendaraan dengan jarak tempuh 40 ribu km.

Dadan mengungkapkan, parameter yang diukur selama road test adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Ia menyebut, salah satu output kegiatan road test ini adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30. “Saat ini road test B30 sudah berjalan sekitar 70 persen dan tidak ada keraguan untuk mulai diterapkan pada Januari 2020,” tegasnya kepada para peserta sosialisasi. Para pemangku kepentingan, sambung Dadan, saling melakukan penyesuaian. Aprobi melakukan penyesuaian komposisi bahan bakar, sedangkan Gaikindo melakukan sejumlah perubahan pada komponen mesin kendaraan. “Semua pihak terkait ikut mengawal pengujian secara terbuka, seperti pengujian di Dieng, Jawa Tengah. Di mana pengujian dapat dilihat secara langsung,” jelasnya.

Menurut Dadan, implementasi B30 penting karena pemerintah menargetkan pemakaian energi terbarukan untuk bahan bakar bisa lebih besar karena selain untuk mengurangi impor, juga untuk mengurangi emisi karbon. “Dengan EBT, kita bisa memerikan konstribusi positif supaya emisi berkurang,” jelas Dadan. Road test B30 sendiri merupakan upaya Badan Litbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam menyediakan data dan hasil uji untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 di Januari 2020 nanti. Pada kesempatan yang sama, Tim Pokja Gaikindo Abdul Rochim menyatakan dukungannya terhadap penerapan mandatori B30. “Melihat hasil road test, kendaran uji bisa menerima B30, sehingga Gaikindo siap mendukung penerapan wajib B30 mulai Januari nanti,” puji Rochim. Sementara itu, integrator pelaksanaan road test B30, Sujatmiko menjelaskan, rute untuk kendaraan uji dengan bobot di bawah 3,5 ton adalah Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang. Untuk kendaran uji dengan bobot diatas 3,5 ton menempuh rute Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang. Untuk memenuhi jadwal akhir road test pada pertengahan September 2019, maka jarak tempuh harian kendaraan uji akan ditambah. Sosialisasi hasil road test B30 kali ini dihadiri oleh seluruh perwakilan para pemangku kepentingan, akademisi, pemerintah daerah, perusahaan, asosiasi, komunitas, dan mahasiswa. Hadir dalam sosialisasi antaranya Direktur Bioenergi, jajaran Direksi BPDP Sawit, Kepala Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain – BPPT, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi – BPPT, Direksi Pertamina, perwakilan GAIKINDO, APROBI, akademisi, pemerintah daerah dan mahasiswa di wilayah Bandung.
https://m.inilah.com/news/detail/2543327/kendaraan-diesel-nyatanya-nyaman-minum-b30

Borneonews | Sabtu, 31 Agustus 2019
Biodiesel B20 dan B30 Punya Performa Sama

Pemakaian biodiesel berbasis minyak sawit untuk kendaraan bermesin diesel terbukti tidak mengurangi performa kendaraan. Kementerian ESDM melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebutkan tidak ada perbedaan antara biodiesel B30 dan B20 pada mesin diesel. Pernyataan tersebut mengacu pada hasil road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) yang digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah,” kata Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (30/8/2019). Sebelumnya, road test dilakukan dengan membandingkan kinerja sebelum dan sesudah penggunaan B30 dan B20 pada delapan unit kendaraan bertonase di bawah 3,5 ton dengan jarak tempuh 50 ribu km. Sementara, kendaraan bertonase di atas 3,5 ton dijalankan pada tiga unit kendaraan dengan jarak tempuh 40 ribu km.

Dadan mengungkapkan parameter yang diukur selama tes jalan adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi mesin dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Ia menyebut, salah satu output kegiatan tes tersebut adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30. “Saat ini road test B30 sudah berjalan sekitar 70 persen dan tidak ada keraguan untuk mulai diterapkan pada Januari 2020,” tegasnya. Para pemangku kepentingan, sambung Dadan, saling melakukan penyesuaian. Aprobi melakukan penyesuaian komposisi bahan bakar, sedangkan Gaikindo melakukan sejumlah perubahan pada komponen mesin kendaraan. “Semua pihak terkait ikut mengawal pengujian secara terbuka, seperti pengujian di Dieng, Jawa Tengah. Pengujian dapat dilihat secara langsung,” jelasnya. Menurut Dadan, implementasi B30 penting karena pemerintah menargetkan pemakaian energi terbarukan untuk bahan bakar bisa lebih besar karena selain untuk mengurangi impor, juga untuk mengurangi emisi karbon. “Dengan EBT, kita bisa memberikan konstribusi positif supaya emisi berkurang,” jelas Dadan. Tes jalan B30 sendiri merupakan upaya Badan Litbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Pertamina, dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam menyediakan data dan hasil uji untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 di Januari 2020 nanti.
https://www.borneonews.co.id/berita/136225-biodiesel-b20-dan-b30-punya-performa-sama

Nusabali | Sabtu, 31 Agustus 2019
B30 Diterapkan Januari 2020

Pernyataan tersebut menyampaikan hasil road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) yang digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah,” kata Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana, Jumat (30/8). Sebelumnya road test dilakukan dengan membandingkan kinerja sebelum dan sesudah penggunaan B30 dan B20 pada delapan unit kendaraan bertonase di bawah 3,5 ton dengan jarak tempuh 50 ribu km. Sementara, kendaraan bertonase di atas 3,5 ton dijalankan pada tiga unit kendaraan dengan jarak tempuh 40 ribu km. Dadan mengungkapkan parameter yang diukur selama tes jalan adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Ia menyebut, salah satu output kegiatan tes tersebut adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30. “Saat ini road test B30 sudah berjalan sekitar 70 persen dan tidak ada keraguan untuk mulai diterapkan pada Januari 2020,” tegasnya.

Para pemangku kepentingan, sambung Dadan, saling melakukan penyesuaian. Aprobi melakukan penyesuaian komposisi bahan bakar, sedangkan Gaikindo melakukan sejumlah perubahan pada komponen mesin kendaraan. “Semua pihak terkait ikut mengawal pengujian secara terbuka, seperti pengujian di Dieng, Jawa Tengah. Di mana pengujian dapat dilihat secara langsung,” jelasnya. Menurut Dadan, implementasi B30 penting karena pemerintah menargetkan pemakaian energi terbarukan untuk bahan bakar bisa lebih besar karena selain untuk mengurangi impor, juga untuk mengurangi emisi karbon. “Dengan EBT, kita bisa memberikan konstribusi positif supaya emisi berkurang,” jelas Dadan. Tes jalan B30 sendiri merupakan upaya Badan Litbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Pertamina, dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam menyediakan data dan hasil uji untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 di Januari 2020 nanti. Pada kesempatan yang sama, Tim Pokja Gaikindo Abdul Rochim menyatakan dukungannya terhadap penerapan mandatori B30. “Melihat hasil road test, kendaran uji bisa menerima B30, sehingga Gaikindo siap mendukung penerapan wajib B30 mulai Januari nanti,” kata Rochim.
https://www.nusabali.com/berita/58597/b30-diterapkan-januari-2020

Antara | Sabtu, 31 Agustus 2019
Mengkaji Kemungkinan Mobil Listrik Dan Biodiesel Berjalan Beriringan

Presiden Joko Widodo ingin membangun industri mobil listrik sebagai lompatan kemajuan seiring dengan perkembangan bahan bakar nonfosil. Jokowi mengatakan industri mobil listrik adalah salah satu bentuk dari lompatan kemajuan yang harus dilakukan dari sekarang. Presiden pun telah perpres terkait hal tersebut, dengan harapan para pelaku industri otomotif di Indonesia merancang dan membangun pengembangan mobil listrik. Namun di saat bersamaan, Presiden Joko Widodo juga ingin Indonesia terus mengembangkan Program B20 dan akan masuk ke B30 campuran solar dengan 30 persen biodiesel, bahkan kalau perliu sampai dengan B100. Pengembangan biodiesel tersebut bertujuan agar Indonesia tidak lagi banyak mengimpor bahan bakar dari luar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut program B20 akan tetap berjalan kendati perpres mobil listrik disahkan. Menurut Jonan, pembangkit listrik Tanah Air akan memanfaatkan B20 sebagai bahan bakarnya. Kedua program akan tetap berjalan, mengingat program B20 dan kendaraan listrik merupakan upaya pemerintah menekan impor BBM dan menyelamatkan devisa negara. Hal senada juga disampaikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bahwa upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan mobil listrik dapat berjalan berdampingan dengan program mandatori biodiesel hingga B100 pada 2021-2022. Menteri Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah hanya menargetkan sekitar 20 persen kendaraan listrik yang beredar pada 2025, sedangkan sisanya kendaraan berbasis bahan bakar. Selain mobil listrik, pemerintah juga mendorong industri untuk mengembangkan kendaraan berbahan bakar fleksibel atau (flexy fuel engine). Kendaraan berbahan bakar fleksibel ini seperti mobil bermesin konvensional, namun dapat diisi bahan bakar nabati (biofuel) jenis biodiesel dengan campuran minyak kelapa sawit (CPO) 20 persen (B20) atau bioetanol dari tebu. Mungkinkah penerapan kendaraan listrik bisa berjalan beriringan dengan pengembangan biodiesel sampai dengan B100 di Indonesia?

Ada yang tereliminasi

Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Haryadin Mahardika menilai mobil bertenaga listrik, kemungkinan akan menggantikan mobil-mobil yang masih menggunakan bensin, solar dan bahkan biodiesel. Haryadin mengatakan bahwa semua jenis mobil yang masih menggunakan bahan bakar fosil atau baurannya, seperti bensin, solar, biodiesel B20 dan B30, memang itulah yang seharusnya digantikan oleh mobil listrik mengingat emisinya yang kurang baik. Kecuali kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas. Kemungkinan sudah waktunya untuk memulai konversi mobil-mobil yang menggunakan bahan bakar bensin dan solar ini ke gas dengan menggunakan konverter. Dengan menggunakan konverter, maka mobil-mobil konvensional atau biasa tersebut akan menjadi mobil yang menggunakan bahan bakar ganda yakni bisa mengonsumsi bensin/solar dan gas. Upaya konversi mobil-mobil berbahan bakar bensin/solar tersebut ke gas sebenarnya perlu didorong oleh pemerintah.

Biodiesel opsi peralihan

Sedangkan Lembaga kajian Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menilai pengembangan dan penerapan biodiesel B20 dan B30 bisa menjadi opsi peralihan atau transisi menuju kendaraan listrik. Direktur ITDP Indonesia Faela Sufa mengatakan bahwa sebetulnya biodiesel B20 ini bisa menjadi opsi peralihan menuju elektrifikasi kendaraan seperti mobil listrik. penerapan kendaraan listrik, usai peraturan presiden diteken belum tentu bisa diterapkan secara keseluruhan dan sekaligus mengingat hal ini perlu dilakukan secara bertahap. Dengan demikian pengembangan dan penerapan biodiesel B20 dan B30 tetap bisa dilanjutkan, mengingat yang namanya energi banyak sumbernya asalkan energi tersebut ramah lingkungan.

Berjalan bersamaan

Suara optimistis datang dari produsen sepeda motor listrik nasional GESITS yang menilai penerapan program Biodiesel B20 dan kendaraan listrik bisa terwujud bersama-sama. Deputy Director Sales & Distribution PT GESITS Technologies Indo Abdullah Alwi mengatakan ketika nanti sampai di penghujung, maka penerapan B20 serta kendaraan listrik akan terwujud bersama-sama saat semua sudah elektrik dan juga di sisi lain pembangkit listrik di Indonesia pun sudah mengadopsi teknologi green energy. Penerapan B20 dan kendaraan listrik merupakan hal yang berbeda, dan B20 tidak harus diimplementasikan dengan kendaraan karena banyak sekali aspeknya. Sebetulnya penerapan B20 dan kendaraan listrik bekerja secara paralel, dengan produsen kendaraan listrik seperti GESITS menjalankan konversi sarana transportasi di jalan raya, sementara pihak-pihak di bidang energi melakukan konversi bahan bakar di pembangkit listrik dimana mereka juga sudah bergerak ke pembangkit listrik ramah lingkungan B20 dan sebagainya.

Sementara itu Direktur Program Reindustrialisasi Ikatan Alumni Institut Teknologi Banding ( IA ITB), Achmad Rizal menjelaskan bahwa penerapan bahan bakar biodiesel B20 bisa dipadukan dengan kebijakan pengembangan kendaraan listrik. Menurut Achmad Rizal pengembangan B20 dan kendaraan listrik merupakan dua hal yang berbeda. Kendaraan listrik nantinya pada saat awal kemunculannya banyak kebutuhan mungkin dari sisi kendaraan pribadi. Sedangkan bahan bakar diesel B20 penggunaannya ditujukan seperti untuk truk yang sampai sekarang belum bisa digantikan oleh kendaraan listrik. Selain itu B20 juga ditujukan untuk menggerakkan kendaraan pickup, alat-alat berat seperti traktor, pembangkit listrik bertenaga diesel, serta mesin-mesin kapal. Indonesia bisa memanfaatkan porsinya masing-masing. Kalau untuk pemakaian pribadi maka pakailah kendaraan listrik. Sedangkan untuk kendaraan atau alat-alat berat yang tidak bisa digantikan oleh listrik maka bisa menggunakan mesin diesel. Tinggal mesin dieselnya, menurut Achmad Rizal, apakah menggunakan bahan bakar berbasis kelapa sawit atau berbasis bahan apapun yang ada di Indonesia yang bisa diolah menjadi bahan bakar. Dengan demikian pengembangan B20 dan penerapan kendaraan listrik bisa berjalan bersama-sama mengingat keduanya tidak terlepas dari pemikiran strategis untuk ketahanan energi dan kondisi geografi Indonesia sebagai negara kepulauan.
https://www.antaranews.com/berita/1038368/mengkaji-kemungkinan-mobil-listrik-dan-biodiesel-berjalan-beriringan

Petromner | Jum’at, 30 Agustus 2019
Ini Hasil Road Test B30 Pada Kendaraan

Ternyata, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) dibandingkan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Hasil itu diperoleh setelah Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (BaLitbang ESDM) melakukan road test B30 pada kendaraan bermesin diesel. Uji jalan (road test) tersebut dilakukan bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah,” jelas Kepala BaLitbang ESDM, Dadan Kusdiana, Kamis (29/8). Dadan menjelaskan, road test dilakukan dengan membandingkan kinerja sebelum dan sesudah penggunaan B30 dan B20 pada 8 unit kendaraan bertonase di bawah 3,5 ton dengan jarak tempuh 50 ribu km. Secara bersamaan dilakukan juga road test pada kendaraan bertonase di atas 3,5 ton dijalankan pada 3 unit kendaraan dengan jarak tempuh 40 ribu km.

Parameter yang diukur selama road test adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Salah satu output kegiatan road test ini adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30. “Saat ini, road test B30 sudah berjalan sekitar 70 persen dan tidak ada keraguan untuk mulai diterapkan pada Januari 2020,” paparnya. Menurut Dadan, implementasi B30 penting karena pemerintah menargetkan pemakaian energi terbarukan untuk bahan bakar bisa lebih besar karena selain untuk mengurangi impor, juga untuk mengurangi emisi karbon. Road test B30 merupakan upaya BaLitbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam menyediakan data dan hasil uji untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 di Januari 2020 nanti. Pada kesempatan yang sama, Tim Pokja Gaikindo Abdul Rochim menyatakan dukungannya terhadap penerapan mandatori B30. Melihat hasil road test, kendaran uji bisa menerima B30, sehingga Gaikindo siap mendukung penerapan wajib B30 mulai Januari 2020 nanti. Sementara itu integrator pelaksanaan road test B30, Sujatmiko menjelaskan, rute untuk kendaraan uji dengan bobot di bawah 3,5 ton adalah Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang. Untuk kendaran uji dengan bobot diatas 3,5 ton menempuh rute Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang. Untuk memenuhi jadwal akhir road test pada pertengahan September 2019, maka jarak tempuh harian kendaraan uji akan ditambah.

Pontas | Jum’at, 30 Agustus 2019
Ini Hasil Uji Jalan B30 Pada Kendaraan Bermesin Diesel

Kementerian ESDM melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyampaikan hasil road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) yang digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah”, jelas Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana, saat memberikan sambutan dalam pembukaan road show sosialisasi B30 di Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara “Tekmira”, Bandung, Kamis (29/8/2019). Sebelumnya, road test dilakukan dengan membandingkan kinerja sebelum dan sesudah penggunaan B30 dan B20 pada 8 unit kendaraan bertonase di bawah 3,5 ton dengan jarak tempuh 50 ribu km. Sementara, kendaraan bertonase di atas 3,5 ton dijalankan pada 3 unit kendaraan dengan jarak tempuh 40 ribu km.

Dadan mengungkapkan, parameter yang diukur selama road test adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Ia menyebut, salah satu output kegiatan road test ini adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30. “Saat ini road test B30 sudah berjalan sekitar 70 persen dan tidak ada keraguan untuk mulai diterapkan pada Januari 2020,” tegasnya kepada para peserta sosialisasi. Para pemangku kepentingan, sambung Dadan, saling melakukan penyesuaian. Aprobi melakukan penyesuaian komposisi bahan bakar, sedangkan Gaikindo melakukan sejumlah perubahan pada komponen mesin kendaraan. “Semua pihak terkait ikut mengawal pengujian secara terbuka, seperti pengujian di Dieng, Jawa Tengah. Di mana pengujian dapat dilihat secara langsung,” jelasnya. Menurut Dadan, implementasi B30 penting karena pemerintah menargetkan pemakaian energi terbarukan untuk bahan bakar bisa lebih besar karena selain untuk mengurangi impor, juga untuk mengurangi emisi karbon. “Dengan EBT, kita bisa memerikan konstribusi positif supaya emisi berkurang,” jelas Dadan.

Road test B30 sendiri merupakan upaya Badan Litbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam menyediakan data dan hasil uji untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 di Januari 2020 nanti. Pada kesempatan yang sama, Tim Pokja Gaikindo, Abdul Rochim, menyatakan dukungannya terhadap penerapan mandatori B30. “Melihat hasil road test, kendaran uji bisa menerima B30, sehingga Gaikindo siap mendukung penerapan wajib B30 mulai Januari nanti,” puji Rochim. Sementara itu, integrator pelaksanaan road test B30, Sujatmiko menjelaskan, rute untuk kendaraan uji dengan bobot di bawah 3,5 ton adalah Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang. Untuk kendaran uji dengan bobot diatas 3,5 ton menempuh rute Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang. Untuk memenuhi jadwal akhir road test pada pertengahan September 2019, maka jarak tempuh harian kendaraan uji akan ditambah. Sosialisasi hasil road test B30 kali ini dihadiri oleh seluruh perwakilan para pemangku kepentingan, akademisi, pemerintah daerah, perusahaan, asosiasi, komunitas, dan mahasiswa. Hadir dalam sosialisasi antaranya Direktur Bioenergi, jajaran Direksi BPDP Sawit, Kepala Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain – BPPT, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi – BPPT, Direksi Pertamina, perwakilan GAIKINDO, APROBI, akademisi, pemerintah daerah dan mahasiswa di wilayah Bandung.
https://pontas.id/2019/08/30/ini-hasil-uji-jalan-b30-pada-kendaraan-bermesin-diesel/