+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Muba Gandeng ITB Mengolah Minyak Sawit Jadi BBM

Harian Seputar Indonesia | Selasa, 19 Februari 2019
Muba Gandeng ITB Mengolah Minyak Sawit Jadi BBM

Keterbatasan bahan bakar fosil sebagai salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbarui memunculkan wacana untuk menciptakan sumber energi alternatif dari bahan baku lain yang jumlahnya masih melimpah dan dapat diperbarui. Salah satu sumber energi alternatif tersebut adalah bahan bakar nabati. Biofuel atau bahan bakar nabati sering disebut energi hijau karena asal-usul dan emisinya bersifat ramah lingkungan dan tidak menyebabkan peningkatan pemanasan global secara signifikan. Penciptaan energi alternatif ini sejalan dengan komitmen dan upaya Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin untuk mensejahterakan petani sawit rakyat. Ada sejumlah program yang dikembangkan. Di antaranya dengan peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani yang dilakukan sejak 2017 lalu di lahan perkebunan milik rakyat seluas 4.446 hektare.
Upaya terbaru yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muba terkait hal ini adalah dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk mengembangkan inti kelapa sawit menjadi menjadi bahan bakar nabati. “Kabupaten Muba sangat cocok untuk mengolah inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati karena Muba adalah daerah yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Ini akan menjadi pilot project daerah untuk mengolah dan menghasilkan bahan bakar nabati atau Biofuel dari inti kelapa sawit,” ungkap Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia ITB Prof Dr Dedi Kurniadi MEng di sela Kunjungan Bupati Muba. Dalam kesempatan ini Dedi Kurniadi didampingi Ketua Program Studi (Prodi) S2 dan S3 Teknik Kimia ITB Dr IGBN Makertihartha dan Dosen Teknik Kimia ITB Dr Melia Gunawan.
Bupati Dodi datang ke ITB dalam rangka pertemuan dan peninjauan penelitian pengembangan biohy-drocarbon berbasis sawit, kerjasama antara ITB dengan BPDP-KS di Kampus ITB, Bandung, Kamis, 14 Februari 2019. Tahapan proses pengelolaan minyak nabati dari inti kelapa sawit dimulai dari proses perengkahan dan bermuara menjadi biogasoline/green gasoline. Secara umum minyak nabati dapat terurai secara biologis dan lebih sempurna, lebih dari 90 persen dalam waktu 21 hari. Sementara bahan bakar minyak bumi terurai sekitar 20 persen dalam waktu yang sama. Di samping itu, pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan bakar diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi di bidang pertanian. “Salah satu minyak nabati yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif adalah minyak kelapa sawit. Pemilihan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif sangat tepat dilakukan di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah negeri jiran Malaysia,” ujar Dedi Kurniadi. Menurut Dedi Kurniadi, pihak ITB, khususnya Prodi Teknik Kimia sangat menyambut baik langkah dan program terobosan yang akan dilakukan Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin dalam upaya mengembangkan bahan bakar dari inti kelapa sawit. “Kami sangat siap dan mendukung untuk merealisasikannya. Ini akan menjadi kerjasama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya petani sawit rakyat,” tuturnya.
“Saat ini Pemkab Muba sedang menuju pembuatan Biofuel yang berbasis sawit. Muba dengan potensi kelapa sawit yang cukup luas berkeinginan untuk melakukan transformasi industri sawit sehingga akan bisa mendongkrak haga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit pekebun. Kehadiran kami ke ITB ini untuk bekerjasama dalam merealisasikan terobosan inovasi energi terbarukan Biofuel ini,” ujar Dodi. Selain itu, Dodi menyebutkan upaya tersebut juga berangkat dari keseriusan Koperasi Unit Desa (KUD) yang ada di Muba yang terus gencar dan mendukung menyukseskan replanting perkebunan sawit, terlebih pada Desember 2018 lalu KUD di Muba juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pertanian karena dinilai sukses sebagai pilot project peremajaan lahan sawit di lahan seluas 4.446 hektare. Replanting atau peremajaan kelapa sawit di Muba adalah yang pertama di Indonesia dan peresmiannya langsung dilakukan Presiden Joko Widodo pada 13 Oktober 2017 di Desa Panca Tunggal, Kecamatan Sungai lilin. “Dukungan banyak pihak dan khususnya petani sawit rakyat ini yang membuat kami terus semangat untuk terus mencari dan mengembangkan inovasi baru untuk kelapa sawit,” ungkapnya. Dodi menambahkan, upaya pembenahan tersebut diharapkan mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkelanjutan. “Kita juga nantinya berencana akan membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT Pertamina di Plaju, Palembang,” kata Dodi.
Mantan anggota DPR RI dua periode ini juga menambahkan, setelah proses berjalan, nantinya di tahap awal, dirinya akan mewajibkan seluruh kendaraan dinas di lingkungan Pemkab Muba menggunakan bahan bakar Biofuel tersebut untuk operasional. “Dalam waktu dekat MoU akan segera kita lakukan bersama ITB dan BPDP-KS untuk segera merealisasikan ini, dan nantinya, pada tahap awal, kendaraan dinas di Pemkab Muba wajib pakai Biofuel Muba ini sebagai wujud implementasi pemanfaatan energi terbarukan dan sustainable atau berkelanjutan,” ucapnya. Pada kunjungan ke ITB Bupati Dodi turut didampingi Kepala Bapeda Ir Zukfakar MSi, Kadisperin-dag Zainal Arifin ST MM, Pit Kepala DPM PTSP Erdian Syahri SSos MSi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro SH MHum, Kepala Dinas Perkebunan Drs Iskandar Syahrianto, Kabag Humas Herry-andi Sinulingga AP, dan Pit Kabag Protokol Rangga Perdana Putra SSTP MSi. Turut hadir juga Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel BPDP-KS Muhammad Ferian.
Harian Seputar Indonesia | Selasa, 19 Februari 2019
Muba Berinovasi Mengubah Minyak Sawit Jadi BBM

Inovasi tiada henti terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Pemkab Muba), Sumatera Selatan (Sumsel). Setelah berhasil menerapkan pembangunan jalan aspal menggunakan campuran serbuk karet alam teraktivasi (SKAT) di Desa B4 Mulyorejo, Kecamatan Sungai Lilin pada tahun 2017 lalu dan ini merupakan program pertama di indonesia yang dilaksanakan oleh Pemerintah daerah kabupaten Musi Banyuasin. Qali ini Pemkab Mubaw dipimpin langsung Bupati Dodi Reza Alex Noerdin menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS) dengan inovasi mengolah inti kelapa sawit menjadi menjadi bahan bakar minyak (BBM) nabati. Kabupaten Muba memiliki potensi kelapa sawit yang besar. Bahkan, pada Mei 2019 mendatang Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin yang juga Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Sumsel ini berkat terobosan energi terbarukan bio fuel tersebut diminta pihak Konsulat Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat untuk menjadi pembicara Renewable Energy (Energi terbarukan) Indonesia-USA di Houston Amerika Serikat. Hal ini diketahui setelah pertemuan Konsulat Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat, Dr Nana Yuliana didampingi Staf Konsulat Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat Bidang Informasi, Sosial dan Budaya Romanna Sirait dan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Energi Halim Kalla dengan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin di Hotel Fairmont, Senin (18/2/2019). Dan pada kesempatan tersebut Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin turut didampingi Dosen Teknik kimia Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), Dr Martha Aznury MSi, Kabag Humas Pemkab Muba Herryandi
Sinulingga AP dan Pit Kabag Protokol Rangga Perdana Putra SSTP Msi Kamis (14/2) Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin bersama Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Muba Zukfakar, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Zainal Arifin, Pelaksana tugas (Pit) Kepala DPMPTSP Erdian Syahri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro, Kepala Dinas Perkebunan Iskandar Syahrianto, Kabag Humas Herryandi Sinulingga, dan Pit Kabag Protokol Rangga Perdana Putra berkunjung ke kampus ITB di Bandung. Kunjungan Bupati Musi Banyuasin ke ITB dalam rangka pertemuan dan Peninjauan Penelitian Pengembangan Biohydrocarbon Berbasis Sawit kerjasama antara ITB dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). “Di ITB Bupati Dodi Reza Alex Noerdin bertemu Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia Prof Dr Dedi Kurniadi MEng didampingi Ketua Program Studi S2 dan S3 Teknik Kimia ITB Dr K3BN Makertihartha dan Dosen Teknik Kimia ITB Dr Melia Gunawan. Juga ikut Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel BPDP-KS Muhammad Ferian,” kata Kabag Humas Pemkab Muba Herryandi Sinulingga, Jumat (15/2).
Dalam kunjungan tersebut Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia ITB Dedi Kurniadi mengatakan, “Kabupaten Musi Banyuasin sangat cocok untuk nantinya mengolah inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati karena Muba menjadi daerah yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan ini akan menjadi pilot project daerah yang mengolah dan menghasilkan bahan bakar nabati atau Biofuel dari inti kelapa sawit.” Sementara itu menurut Bupati Dodi Reza Alex Noerdin, Kabupaten Muba memiliki luas lahan kebun sawit milik rakyat yang telah tertanam dan akan ditanam seluas 8.124 hektar yang dilaksanakan oleh 12 koperasi dan dalam tahap proses usulan tahun 2019-2020 adalah seluas 5.360 hektar dan hingga tahun 2022 peremajaan kelapa sawit di Muba mencapai 42.000 hektar. \’Saat ini Pemkab Muba sedang menuju pembuatan Biofuel yang berbasis sawit. Muba memiliki potensi kelapa sawit yang luas berkeinginan melakukan transformasi industri sawit sehingga akan bisa mendongkrak harga jual tandan buah segar atau TBS kelapa sawit rakyat. Hari ini kami ke ITB ini untuk bekerjasama dalam merealisasikan terobosan inovasi energi terbarukan biofuel,” kata mantan Wakil Ketua Komisi VI DPR. Dodi Reza Alex Noerdin menjelaskan, besarnya potensi kelapa sawit tersebut berangkat dari keseriusan Koperasi Unit Desa (KUD) yang mendukung menyukseskan replanting atau peremajaan perkebunan sawit rakyat. Pada Desember 2018 lalu KUD di Muba juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pertanian karena dinilai sukses sebagai pilot project peremajaan kelapa sawit di lahan seluas 4.446 hektare. Replanting atau peremajaan kelapa sawit di Muba adalah yang pertama di Indonesia dan peresmiannya langsung dilakukan Presiden Joko Widodo pada 13 Oktober 2017 di Desa Panca Tunggal,
Kecamatan Sungai Lilin.
8upati Dodi Reza Alex Noerdin mengharapkan dukungan banyak pihak dan khususnya petani sawit rakyat membuat Pemkab Muba terus semangat mencari dan mengembangkan inovasi baru untuk kelapa sawit. ” “Kita ingin semua itu mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkefanjutan. Kita juga berencana membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT Pertamina di Plaju, Palembang,” ujarnya. Menurutnya, dalam waktu dekat MoU atau nota kesepahaman segera dilakukan, bersama ITB dan BPDP-KS untuk segera merealisasikan inovasi minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak (BBM). “Untuk pelaksanaannya, tahap awal kendaraan dinas di Pemkab Muba wajib pakai Biofuel Muba sebagai wujud implementasi pemanfaatan energi terbarukan dan //sustanaible// atau berkelanjutan.” Dekan Fakultas Teknologi Industri Teknik Kimia Dedi Kurniadi sangat menyambut baik langkah dan program terobosan inovasi yang akan dilakukan Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin dalam upaya mengembangkan bahan bakar dari inti kelapa sawit. “Kami sangat siap dan mendukung untuk merealisasikannya. Ini akan menjadi kerjasama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani sawit rakyat,” ujarnya.
Dedi Kurniadi menjelaskan, “Salah satu minyak nabati yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif adalah minyak kelapa sawit. Pemilihan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif sangat tepat dilakukan di Indonesia karena merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah negeri Malaysia.” Menurut Bupati Dodi Reza Alex Noerdin, keterbatasan bahan bakar fosil sebagai salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbarui di Indonesia menjadikan wacana untuk menciptakan sumber energi alternatif dari bahan baku lain yang jumlahnya masih melimpah dan dapat diperbarui. “Salah satu sumber energi alternatif tersebut adalah bahan bakar nabati. Biofuel atau bahan bakar nabati sering disebut energi hijau karena asal-usul dan emisinya bersifat ramah lingkungan dan tidak menyebabkan peningkatan pemanasan global secara signifikan,” katanya.
Harian Seputar Indonesia | Selasa, 19 Februari 2019
B20 Butuh Waktu untuk Menuju B100

Penyebutan B20 sebagai Salah satu bahari bakar alternatif begitu akrab di telinga masyarakat, namun masih banyak yang bertanya seperti apakah bentuk dari bahan bakar tersebut yang sejak akhir tahun lalu gencar disosialisasikan oleh pemerintah. Di luar dugaan, dalam putaran debat kedua Pilpres 2019, B20 seakan menjadi senjata utama calon presiden (capres) nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dalam menyikapi persoalan energi bagi bangsa Indonesia. Jokowi yang kini masih menjadi orang nomor satu di negeri ini menyatakan mulai sekarang bertekad mengurangi penggunaan energi fosil dan mengoptimalkan B20 (biodiesel 20%) menuju B100. Lalu, penjelasan B20 itu sepertiapa? Secara sederhana, B20 adalah bahan bakar diesel campuran minyak nabati sekitar 20% dan minyak bumi (petroleum diesel) sebanyak 80%. Lebih jauh bisa dijelaskan bahwa B20 adalah bahan bakar diesel yang ditambahkan fatty acid methy lester (FAME) sekitar 20%. FAME yang lebih akrab disebut metil ester diproduksi melalui reaksi transesferifikasi antara penyusun utama minyak nabati dan metanol dengan bantuan katalis basa. Dan, metil ester inilah yang menjadi bahan baku pembuatan Biodiesel karena sifat fisik atau molekulnya mirip dengan petroleum diesel. Salah satu sumber metil ester berasal dari minyak kelapa sawit yang banyak di negeri ini.
Pemerintah optimistis dalam tiga tahun ke depan bisa1 merealisasikan BlOO secara bertahap. Sehubungan itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku telah menugasi PT Pertamina menghadirkan kilang yang bermitra dengan perusahaan minyak asal Italia. Kilang yang berlokasi di Plaju, Sumatera Selatan menelan investasi sebesar USD800 juta. Ke depan, sumber untuk membuat Biodiesel tidak hanya mengandalkan minyak kelapa sawit tetapi juga berbagai minyak nabati lainnya, di antaranya berasal dari ampas tebu dan tanaman kaliandra. Peralihan dari B20 menjadi B100 diharapkan bisa menggantikan penggunaan solar. Fokus pemerintah dalam memasyarakatkan B20 tidak sekadar untuk menggantikan pemakaian energi fosil yang cadangannya semakin menipis, tetapi juga dimaksudkan mengurangi impor bahan bakar solar sehingga bisa menghemat devisa negara. Berdasarkan perhitungan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution, apabila penggunaan Biodiesel ini bisa terwujud hingga B90 maka negara akan menghemat devisa sekitar USD5 miliar hingga USD5.5 miliar per tahun. Sebagai bukti keseriusan pemerintah menggarap bahan bakar alternatif tersebut, sejak 1 September tahun lalu penerapan penggunaan B20 tidak hanya untuk public service obligation (PSO) tetapi juga non-PSO. Selain itu, program B20 salah satu solusi mengatasi kelebihan pasokan minyak sawit dalam negeri. I
Melihat angka-angka penyerapan B20 dalam dua tahun terakhir ini memang cukup signifikan. Penyerapan B20 pada 2017 telah mencapai sebanyak 2,22 juta ton kemudian melonjak menjadi sebesar 3,8 juta ton pada 2018 atau melonjak sekitar 72%. Di sisi lain, Produksi Minyak Kelapa Sawit kembali memecahkan rekor pada tahun lalu. Data yang dipublikasikan Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan Produksi Minyak Kelapa Sawit pada tahun lalu tercatat sebanyak 43 juta ton, bandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 28 juta ton atau naiksekitar 12,5%. Memang masih sering timbul pertanyaan di kalangan masyarakat apakah penggunaan B20 aman untuk mesin kendaraan? Sebenarnya B20 bukanlah barang baru sebab pemerintah sudah mengenalkan sejak 2016 yang didistribusikan Pertamina namun namanya akrab di telinga dengan sebutan biosolar. Menjawab kekhawatiran masyarakat, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Daorat telah melakukan uji coba dan menyatakan B20 telah lulus uji emisi kendaraan.Untukitu, Kemenhub mendorong penggunaan bahan bakar tersebut untuk semua jenis kendaraan. Bahkan, pihak Pertamina mengklaim penggunaan B20 lebih irit dan ramah lingkungan karena kadar emisi karbon lebih rendah dibandingkan bahan bakar lainnya. Akankah masyarakat berbondong-bondong beralih menggunakan B20? Jawabnya, sangat tergantung dukungan dari produsen kendaraan bermotor dalam artian menghadirkan kendaraan berrnotor yang bersahabat B20,serta ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar B20 yang memadai. Jadi, semua stakeholder harus dilibatkan secara penuh untuk menyukseskan dari B20 menuju B100.
Harian Kontan | Selasa, 19 Februari 2019
Potensi produksi sawit Mencukupi, Program Biofuel 100% Butuh Roadmap

Calon Presiden 2019-2024 Joko Widodo (Jo-kowi) menyebut kalau pemerintah akan melanjutkan program penggunaan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel. Tak hanya 20% tapi hingga 100% sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM). Dalam debat putaran kedua calon Presiden 2019-2024 yang berlangsung di Jakarta, Minggu (17/2) lalu, Jokowi menyebut peningkatan penggunaan Biofuel ini untuk mengurangi impor migas yang besar. Saat ini, Biofuel masih 20%. Artinya sebagai bahan campuran di Biodiesel baru 20% saja. “B20 sudah berhasil, kini kami akan mewujudkan B100,” ujar Jokowi. Program B100 diyakini bisa terwujud. Pasalnya, Indonesia memiliki BBN yang mencukupi. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana bilang, perluasan B20 mampu menyerap Biodiesel sebesar 6 juta kiloliter hingga 6,2 juta kiloliter tahun 2019. Artinya, bila BI00 ingin diterapkan harus ada 30 juta kiloliter hingga 31 juta kiloliter minyak sawit yang dibutuhkan. Wakil Ketua Umum III Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI) bidang Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Si-tanggang juga optimistis BI00 bisa diwujudkan. Hal ini dika- renakan produksi CPO Indonesia masih berpotensi ditingkatkan mengingat lahan sawit yang masih luas.
Menurut Togar, B100 merupakan tujuan akhir rencana pemerintah. Menurutnya, kapan dan bagaimana mencapai tujuan tersebut sedang didiskusikan secara formal dan informal di kalangan industri. Untuk mencapai B100 ini pun riset terus dilakukan dan dibutuhkan teknologi. Meski teknologi yang dibutuhkan sudah tersedia, Togar tak menampik bahwa teknologi tersebut belum ekonomis. “Saya sendiri sudah sering ungkapkan, bahwa Indonesia akan menjadi produsen renewable energy di Biofuel tahun-tahun mendatang jika pemerintah benar-benar serius menyusun roadmap ke arah sana,” terang Togar kepada KONTAN, Senin (18/2). Togar menerangkan, mengacu pada lahan yang tercantum pada laporan Direktorat Jenderal Perkebunan yang sebesar 14 juta hektare, Indonesia bisa memproduksi CPO hingga sebesar 56 juta ton. “B100 hanya membutuhkan CPO sekitar 30 juta ton. Dari dalam negeri untuk pangan sekitar 10 juta ton, jadi masih ada sisa 10 juta ton untuk ekspor,” terang Togar. Efeknya adalah ekspor non migas akan tertekan. Pasalnya, selama ini ekspor CPO adalah andalan Indonesia. Berdasarkan data GAPKI, produksi CPO tahun 2018 sudah mencapai 47,4 juta ton, untuk ekspor sebesar 34,7 juta ton dan konsumsi domestik sebesar 13,49 juta ton. “Meski ekspor terbatas, tapi Indonesia menjadi sangat fleksibel. Fleksibel apakah mau diekspor atau mau dikonsumsi dalam negeri dan fleksibel dalam menentukan negara tujuan ekspor,” terang Togar.
Indo Pos | Selasa, 19 Februari 2019
Bioo Ditarget Tiga Tahun Rampung

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan bahan bakar nabati campuran 100 persen atau Bioo ditargetkan akan selesai dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. “Kalau Bioo bisa lah tiga tahun ke depan selesai, namun ya belum sepenuhnya langsung tergantikan masih butuh waktu lama untuk menyeluruh,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (18/2). Menurut Rini, belum sepenuhnya nanti solar dapat tergantikan sepenuhnya dengan Bioo, paling tidak akan digantikan dengan B50, atau 50 persen menggunakan biodiesel. Investasi untuk menuju B50 untuk program paling dekat adalah dengan membangun kilang green refinery yang dapat memproduksi BBN B50, dengan nilai investasi sekitar 800 juta dolar AS. Dalam hal ini PT Pertamina akan bekerja sama dengan ENI perusahaan migas asal Italia.
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan saat ini Indonesia sedang menuju proses pengembangan energi Bioo atau campuran Biodiesel 100 persen pada BBM. “Kita sudah produksi B20 sudah sebanyak 98 persen, artinya B20 sudah rampung, saat ini kita menuju Bioo,” kata Jokowi dalam Debat Capres 2019 Putaran Kedua di Jakarta, Minggu (17/2). Selain itu, Jokowi juga menyampaikan bahwa sebanyak 30 persen sawit di Indoensia akan dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan. “Ini sudah kita rencanakan secara rigid dan jelas, hal ini untuk agar kita tidak tergantung pada impor minyak,” ujarnya. Sementara, aktivis lingkungan Greenpeace merasa kecewa dangan komitmen calon presiden pada Pilpres 2019 terkait pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Debat calon presiden (capres) kedua pada Minggu (17/2) malam yang membahas isu energi, infrastruktur, pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup tidak menjawab sejumlah persoalan utama lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia saat ini. “Capres Jokowi dan Prabowo sama-sama mendukung Biodiesel ataupun Biofuel dari B20 hingga ke Bioo. Terkait hal ini, kedua capres tidak memberikan jaminan program Biofuel tanpa menggerus keberadaan hutan alam, lahan gambut dan mangrove,” kata Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak di Pekanbaru, Senin (18/2).
Greenpeace menilai, kedua capres juga mengabaikan potensi sumber energi terbarukan yang sangat besar, yang bisa menekan porsi energi fosil pada bauran energi nasional. Bahkan kedua calon mengedepankan energi yang bersumber dari kelapa sawit, yang berpotensi menambah angka deforestasi. Menurut analisis data Hansen dari University of Maryland 2000-2017, lanjut Leonard, laju penggundulan hutan yang terjadi sepanjang 2015-2017 tercatat masih mencapai 650.000 hektar. Berdasarkan kajian Cerulogy, kebijakan Biofuel telah menciptakan permintaan minyak sawit sebesar 10,7 juta ton. Pada tahun 2030, permintaan Biofuel diprediksi mencapai 67 juta ton, dan membuka peluang deforestasi baru sebesar 4,5 juta hektar serta hilangnya 2,9 juta lahan gambut. Greenpeace berpandangan pemenuhan kebutuhan energi yang dijawab hanya dengan pengembangan Biofuel secara masif tidak tepat. Pasalnya, potensi energi terbarukan yang bersumber dari tenaga surya dan angin jauh lebih besar.
Kapasitas terpasang energi surya dan angin pun masih jauh di bawah bioenergi. Selain itu, kedua calon juga tidak memiliki sikap yang tegas terhadap lubang-lubang tambang yang dibiarkan tanpa penegakan hukum. Padahal, di Kalimantan Timur, lubang-lubang tambang batu bara telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan pencemaran sungai yang akhirnya berdampak serius pada penghidupan warga. Hingga akhir 2018, terdapat 31 korban meninggal akibat lubang-lubang tambang batu bara di Kalimantan Timur. “Penegakan hukum sulit dilakukan karena adanya keterlibatan elit politik dan pengambil kebijakan dalam bisnis tersebut,” katanya. Menurutnya, batubara melalui keberadaan PLTU ditambah dengan kebakaran hutan telah merusak kualitas udara Indonesia. Polusi udara mengancam kesehatan dan mengganggu produktivitas masyarakat. Percepatan infrastruktur pun seringkali mengabaikan hak-hak masyarakat lokal, seperti petard dan nelayan. Contohnya, perencanaan pembangunan PLTU Batang yang menggusur petani dan nelayan, kriminalisasi aktivis penolak PLTU di Cirebon/ Indramayu, tambang emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi, dan juga di Surokonto, Jawa Tengah dengan tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal. Persoalan sampah plastik yang sudah menyentuh titik krisis juga luput dari perhatian kedua calon presiden. Pemerintah sudah menyatakan komitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70 persen pada 2025, tapi detail aksi konkret belum terlihat. Pengendalian jumlah plastik sekali pakai dengan fokus pada pengurangan (reduce) belum menjadi langkah utama yang diambil. Secara keseluruhan, komitmen untuk mengatasi perubahan iklim di kedua kubu tidak terlihat. Padahal Indonesia meratifikasi Kesepakatan Paris, dan berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 29 persen. “Komitmen penurunan emisi tidak akan tercapai, jika arah pembangunan masih berbasis pada energi fosil,” pungkas Leonard
Harian Ekonomi Neraca | Selasa, 19 Februari 2019
Pengembangan Energi B100 Sulit Dicapai

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menyebut visi calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo soal pengembangan energi BI00 atau campuran Biodiesel 100 persen pada BBM masih akan sulit dicapai. “B100 itu agak sulit. Pasalnya kalau 100 persen Biodiesel itu banyak yang tidak jalan. Maksimal campuran Biodiesel itu biasanya 40 persen,” katanya, seperti dikutip Antara, kemarin. Menurut dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia itu, di Eropa yang kepedulian atas lingkungannya tinggi saja, program B100 masih belum bisa direalisasikan. Ia menyayangkan dari visi misi Jokowi 1 soal pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), hanya pengembangan minyak kelapa sawit yang diangkat. Padahal, Indonesia memiliki potensi pasokan energi baru dan terbarukan yang begitu melimpah.
“Kalau bicara energi baru dan terbarukan biasanya akan biacar soal angin, air, surya atau geotermal, tapi kok tidak disebut. Itu agak aneh. Padahal ada beberapa yang sudah beroperasi misal pembangkit angin di Sidrap. Itu jadi pertanyaan,” katanya. Ia berharap ada komitmen lokowi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan EBT dalam bauran energi nasional yang ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025. Ada pun saat ini, porsi pemanfaatan EBT dalam bauran energi baru mencapai 8 persen. Calon Presiden nomor 01 Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan saat ini lndonesia sedang menuju pada proses pengembangan energi B100 atau campuran Biodiesel 100 persen pada BBM. “Kita sudah produksi b20 sudah sebanyak 98 persen, artinya B20 sudah rampung, saat ini kita menuju B100,” kata Jokovvi dalam Debat Capres 2019 Putaran Kedua di Jakarta, Minggu (17/2). Selain itu, lokowi juga menyampaikan bahwa sebanyak 30 persen sawit di Indoensia akan dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan. “Ini sudah kita rencanakan secara rijik dan jelas, hal ini untuk agar kita tidak tergantung pada impor minyak
Wartaekonomi | Selasa, 19 Februari 2019
Jokowi dan Prabowo Dianggap Tak Paham Energi Alternatif di Luar Biofuel

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai baik Jokowi dan Prabowo sama sama masih mengidolakan kelapa sawit sebagai energi alternatif pengganti energi fosil.Desk Politik Eksekutif Nasional Walhi Khalisa Khalid menyayangkan visi kedua capres itu untuk menggenjot biofuel dari kelapa sawit dan tidak memikirkan dampak dari masifnya penanaman kelapa sawit. “Sepertinya kedua calon kurang paham tentang biofuel, mungkin karena namanya ‘bio’ mereka pikir semuanya baik. Biofeul justru akan meningkatkan penghancuran hutan, meningkatkan emisi gas rumah kaca,” kata dia. Tak hanya itu penanaman sawit secara besar-besaran juga akan melanggengkan praktik perampasan tanah, khususnya tanah-tanah masyarakat adat. Manajer Pengelolaan Pengetahuan yayasan Madani Berlanjutan Angglia Putri menyayangkan kedua kandidat yang menawarkan sawit sebagai energi alternatif tidak menyertakan solusi untuk mengatasi permasalahan sosial dan lingkungan akibat dari perkebunan sawit. “Penguatan kebijakan tata kelola di hulu seperti moratorium sawit serta penguatan standar keberlanjutan sawit agar tidak lagi menimbulkan deforestasi dan kerusakan gambut harus dijalankan presiden terpilih,” kata dia.
Hal ini penting untuk mencapai target penurunan emisi dalam NDC di sektor hutan dan lahan. Sementara itu Plt Direktur Eksekutif Koalisi Indonesia Nuly Nazlia mengatakan kedua kandidat hanya fokus pada pengembangan biodisel atau bioethanol, padahal sumber energi terbarukan yang Indonesia masih sangat banyak. “Tidak ada rencana yang jelas sampai kapan kita akan memanfaatkan biofuel ini, apakah ini untuk sementara atau sampai kapan? Kita juga tidak mendengar pemanfaatan energi terbarukan seperti menggunakan panel surya atau baterai untuk menjawab soal energi dan lingkungan hidup,” kata dia. Dia mengatakan Indonesia akan ketinggalan jika masih mengutamakan energi fosil dan tidak secara agreaif berpaling pada energi terbarukan. Revolusi 4.0 harus dimanfaatkan untuk menjawab tantangan energi bersih seperti teknologi efisiensi energi, atap surya, baterai, mobil listrik dan “smart home system.”
https://www.wartaekonomi.co.id/read216159/jokowi-dan-prabowo-dianggap-tak-paham-energi-alternatif-di-luar-biofuel.html
Detik | Selasa, 19 Februari 2019
Dampak Biodiesel untuk Kendaraan

Calon Presiden (Capres) 01 Joko Widodo (Jokowi) melontarkan pernyataan menarik soal penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Dia memimpikan Indonesia punya bahan bakar biodiesel B100. Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar yang tak lagi menggunakan minyak berbasis fosil. Dengan B100, berarti bahan dasar biodiesel itu dari yang lebih terbarukan seperti jagung, kelapa sawit atau lainnya. Jokowi mengatakan saat ini pemerintah telah memanfaatkan kelapa sawit dalam program biodiesel 20% atau B20. “Supaya Pak Prabowo tahu, kita telah mulai B20 dan sudah berproduksi 98% dari yang kita harapkan,” kata Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam. “Pemakaian biodiesel sudah kita mulai dengan produksi B20 akan lanjut ke B100 sehingga ketergantungan fosil akan dikurangi dari tahun ke tahun,” sambungnya. Tapi, biodiesel B20 yang sudah diterapkan saat ini memiliki dampak untuk kendaraan yang menggunakannya. Salah satunya adalah membuat filter solar jadi lebih cepat kotor. Berikut ulasan beritanya.
https://oto.detik.com/berita/d-4434106/dampak-biodiesel-untuk-kendaraan
Republika | Senin, 18 Februari 2019
Bidik Investor AS, Bupati Muba Siap Bahas Energi Biofuel

Upaya Pemda Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dalam pengelolaan inti kelapa sawit menjadi energi terbarukan yakni biofuel mengundang perhatian sejumlah kalangan. Isyarat positif itu terungkap dalam pertemuan antara Bupati Muba, Dodi Reza Alex, Senin (18/2) dengan Konsulat Jendral (Konjen) Republik Indonesia untuk Amerika Serikat berkedudukan di Houston Nana Yuliana. Dalam pertemuan tersebut Konjen Nana Yuliana mengundang Bupati Dodi Reza menjadi pembicara Forum Indonesia – USA di Houston Amerika Serikat yang akan membahas tentang Renewable Energy (energi terbarukan) yang berlangsung Mei 2019. Dalam pertemuan tersebut Dodi Reza yang juga Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Sumatera Selatan (Sumsel) didampingin Wakil Ketua Kadin Pusat bidang energi Halim Kalla staf pengajar teknik kimia Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) Martha Aznury, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Muba Herryandi Sinulingga dan Pelaksana Tugas (Plt) Kabag Protokol Rangga Perdana Putra. Menurut Herryandi, Konjen Nana Yuliana tertarik dengan inovasi pengelolaan inti kelapa sawit menjadi energi biofuel. “Program inovasi ini menjadi gagasan Bupati Dodi Reza Alex yang akan bekerjasama dengan ITB dan kini program tersebut telah menjadi sorotan nasional dan internasional,” katanya.
Nana Yuliana yang didampingi staf Konsulat Jenderal RI untuk Houston bidang informasi, sosial dan budaya Romanna Sirait menyebutkan Bupati Muba Dodi Reza satu-satunya kepala daerah di Indonesia yang diundang untuk jadi pembicara pada rangkaian kegiatan renewable energy Indonesia – USA di Houston. Konjen RI yang berkedudukan di negara bagian Texas tersebut memuji inovasi Bupati Muba terhadap produk kelapa sawit. “Inovasi energi terbarukan pengelolaan inti kelapa sawit milik petani rakyat di Musi Banyuasin menjadi biofuel merupakan terobosan inovasi energi yang sangat luar biasa. “Ini bentuk perhatian serius Bupati Muba Dodi Reza untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat dan khususnya upaya mendongkrak harga kelapa sawit di kalangan petani,” ujarnya. Kehadiran Bupati Muba Dodi Reza Alex menjadi pembicara di Forum Renewable Energy Indonesia – USA di Houston Amerika Serikat akan menjadi peluang investasi dan menarik investor di Amerika Serikat yang sangat tertarik dengan inovasi energi terbarukan di Musi Banyuasin.
“Ini peluang besar, kami Konsulat Jenderal RI di Houston merasa sudah sangat pas mengundang Bupati Muba membahas topik energi terbarukan di kancah internasional, sekaligus membuka peluang investasi baru di dunia yang memberikan kontribusi besar dan positif untuk Indonesia,” katanya. Bupati Muba Dodi Reza Alex mengaku siap hadir menjadi pembicara energi biofuel sekaligus untuk penjajakan kerjasama menggaet investor dari Amerika Serikat dalam pengembangan energi terbarukan. Konjen Nana Yuliana juga mengajak Kabupaten Musi Banyuasin untuk menjajaki kerjasama program sister city (kota kembar) dengan salah satu kota di Amerika Serikat yaitu Kota Oklahoma untuk pengembangan program pariwisata yang ada di Muba. “Antara Kabupaten Muba dan perkotaan di Oklahoma ini banyak kesamaan,” ujarnya.
https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/19/02/18/pn4ih0380-bidik-investor-as-bupati-muba-siap-bahas-energi-biofuel
Id.beritasatu | Senin, 18 Februari 2019
Prabowo Sebut Brasil Kalahkan Indonesia soal Biodiesel, Faktanya?

Capres nomor 02 Prabowo Subianto memberikan klaim bahwa pemakaian biodiesel di Brasil sudah B90. Ini ia sebut ketika menyindir pemakaian biodiesel Pemerintahan Jokowi. Pasalnya, pemerintahan Jokowi baru mewajibkan campuran biodiesel sebesar 20 persen atau B20. Berikut ucapan lengkap Prabowo: “Benar kita sudah ke arah B20. Tetapi, Brasil bisa sampai B90 dan sebagainya,” ujar Prabowo, Minggu malam (18/2/2019) di Hotel Sultan, Jakarta. Menurut penelusuran Liputan6.com, Prabowo tampak mencampurkan biodiesel yang bersifat mandatory (wajib) dan voluntary (sukarela). Mandatory biodiesel di Brasil tidak menyentuh B90, dan tidak pula B20, melainkan di kisaran B10. Mengutip Biodiesel Magazine, mandatory biodiesel Brasil hanyalah 8 sampai 10 persen. Data itu berdasarkan laporan Kementerian Pertambangan dan Energi Brasil per 1 Maret 2018. Lantas bagaimana saat ini? Menurut situs analis pertanian Progressive Farmer, target pemerintah Brasil pada sopir truk hanya mandatory 11 persen alias B11. Sekali lagi, itu lebih rendah dari Indonesia yang sudah B20.
“Brasil akan memulai mandatory kebijakan baru pencampuran biodiesel agar menambah pencampuran biodiesel sebanyak 1 persen per tahun sampai kami mencapai B15,” jelas Andre Nassar, chief executive Asosiasi Minyak Sayur Brasil seperti dikutip Progressive Farmer. Masih menurut sumber yang sama, pemerintah Brasil memang memiliki program B100, hanya saja program ini tidak apple-to-apple dengan program B20 atau B15 yang bersifat mandatory, sebab program B100 tidak dijual di pom bensin umum dan butuh pengantaran khusus langsung ke angkutan tertentu. Perihal mandatory, Indonesia tengah berusaha memajukan persentase biodiesel menjadi 30 persen sejak tahun lalu. B30 pun sudah masuk tahap pegujian per November 2018.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3897830/prabowo-sebut-brasil-kalahkan-indonesia-soal-biodiesel-faktanya
Id.beritasatu | Senin, 18 Februari 2019
Penggunaan Biodiesel Jadi Perhatian Capres

Masalah pengembangan energi biodisel menjadi perhatian para calon presiden dalam acara Debat Capres 2019 Putaran Kedua, saat mengulas sektor energi. Calon Presiden nomor 01 Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan saat ini Indonesia sedang menuju pada proses pengembangan energi B100 atau campuran biodiesel 100 persen pada BBM. “Kita sudah produksi B20 sudah sebanyak 98 persen, artinya B20 sudah rampung, saat ini kita menuju B100,” kata Jokowi. Jokowi juga menyampaikan bahwa sebanyak 30 persen sawit di Indonesia akan dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan. “Ini sudah kita rencanakan secara rijit dan jelas, hal ini untuk agar kita tidak tergantung pada impor minyak,” katanya. Sementara, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menjelaskan untuk mencapai kedaulatan dibutuhkan kemandirian di bidang energi. Prabowo menjelaskan dibutuhkan upaya dan arah yang tepat. “Sebagaimana tadi saya sampaikan, setiap arah, setiap usaha ke arah kemandirian di bidang energi,” katanya. Dia mengapresiasi di kepemimpinan Jokowi dan pemerintahannya telah melakukan hal positif di bidang energi. “Tapi kita koreksi juga kalau ada kekurangan. Jadi ini diskursus yang sehat, sekali lagi kami mendukung,” jelas dia. Jika terpilih, ia memiliki strategi untuk menggenjot kelapa sawit, aren, cassava (singkong) bahkan ethanol dari gula. “Semua kita gunakan supaya kita tidak mengimpor bahan energi dari luar negeri,” imbuh dia.
https://id.beritasatu.com/energy/penggunaan-biodiesel-jadi-perhatian-capres/185567
Cnnindonesia | Senin, 18 Februari 2019
Hitung-hitung Biodiesel B100 ‘Jokowi’ di Industri Otomotif

Debat kedua calon presiden 2019 di Jakarta pada Minggu (17/2) malam menyinggung penggunaan energi alternatif Biodiesel untuk menekan ketergantungan pada minyak impor. Calon Presiden 01 Joko Widodo (Jokowi) dan Calon Presiden 02 Prabowo Subianto memiliki visi dan misi sama yaitu ingin memanfaatkan sumber daya alam Indonesia. Di sektor energi, Jokowi saat debat kedua capres 2019 menyampaikan bahwa visinya ingin Indonesia maju dalam bidang energi alternatif Biodiesel B100 agar ke depan bisa mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. “Ke depan kami ingin sebanyak-banyaknya mengurangi pemakaian energi fosil, sehingga pemakaian bio diesel pemakaian green fuel akan kami kerjakan. Sudah kami mulai dengan melakukan produk di B20 ini akan kami teruskan sampai ke B100 sehingga ketergantungan kami pada energi fosil semakin dikurangi dari tahun ke tahun,” kata Jokowi di debat kedua capres 2019. Perluasan B20 atau Biodiesel 20 diketahui sudah diresmikan sejak 1 September 2018. Sederhananya, B20 merupakan campuran dari bahan bakar diesel dengan 20 persen minyak nabati. 20 persen nabati itu bisa diperoleh dari crude palm oil (CPO/minyak sawit).
Lebih dari itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan pelaksanaan Program Mandatori Campuran Biodiesel sampai 30 persen untuk bahan bakar (B30) akan diumumkan pada Oktober 2019. Program pemerintah tersebut pun disambut baik oleh Capres 02 Prabowo. Prabowo menyebutkan Indonesia seharusnya bisa mempercepat penggunaan B100 setelah ia mengetahui negara Brazil yang sudah memanfaatkan B90. “Dan saya sudah bicara dengan para ahli, para pelaku, para pengusaha. Mereka sudah melaksanakan. Benar kita sudah ke arah B20. Tetapi, Brazil bisa sampai B90 sembilan puluh. Kita masih, saya bukan pesimis pak, saya sangat optimis kita mampu untuk sangat mampu untuk swasembada di bidang energi dan kelapa,” kata Prabowo. Jokowi meyakini Indonesia bisa menuju Biodiesel 100 persen atau B100, dan rencana ini jelas akan melibatkan produsen otomotif agar kemudian menyiapkan mesin diesel yang bisa ‘menenggak’ energi alternatif tersebut. Dari sisi industri otomotif, perluasan mandatori B20 turut ditunjang dengan pemberian insentif yang disiapkan pemerintah melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Dengan program LCEV diharapkan produksi kendaraan berbahan bakar fleksibel (flexy) atau alternatif bisa tumbuh pesat. Selain B20, kendaraan yang mesinnya mampu ‘minum’ etanol dari tebu juga masuk ke dalam kategori flexy.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Putu Juli Ardika sempat mengatakan sebagai regulator pihaknya ingin mengembangkan kendaraan flexy karena penyediaan infrastrukturnya lebih mudah dan murah, ketimbang kendaraan listrik. Selain mengurangi pemakaian bahan bakar dari fosil bumi, menekan kadar emisi, pemerintah juga tak perlu repot menyediakan infrastruktur. Dalam penyaluran B20, pemerintah cukup memanfaatkan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) milik Pertamina. “Itu (kendaraan bahan bakar fleksibel) yang biaya lebih murah dan infrastruktur yang ada kaya pompa-pompa bensin bisa digunakan. Dan biaya untuk teknologinya enggak semahal yang tadi (listrik),” kata Putu.
Komentar Produsen
Executive General Manager Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan bahwa pihaknya menuruti rencana pemerintah. “Kami tunggu aturannya saja. Yang jelas semua APM pasti berusaha keras membantu merealisasikan keinginan pemerintah,” kata Soerjopranoto ketika dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu. Sementara itu, Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan ada empat poin untuk merealisasikan program bauran bahan bakar nabati (BBN) hingga 100 persen, yaitu industri, regulasi, infrastruktur, dan konsumen. “Saat ini pemerintah sedang menyiapkan regulasinya, kami industri tentu akan menyambut dengan menyiapkan bisnis plannya. Selanjutnya pemerintah dan industri dengan berbagai pihak pemangku kepentingan bekerja sama menyiapkan infrastruktur dan perilaku konsumen,” ungkap Bob. Lebih dari itu Astra Daihatsu Motor (ADM) sebagai produsen dengan kapasitas pabrik terbesar di Indonesia justru tidak tertarik menyediakan mesin diesel yang bisa memanfaatkan bahan bakar nabati hingga 100 persen.
“Daihatsu tidak ada diesel sekarang atau untuk ke depannya,” kata Direktur Marketing ADM Amelia Tjandra. Vice President of Corporate Communication BMW Grup Indonesia Jodie O’tania sempat menyatakan bahwa Biodiesel B20 bukan bahan bakar yang direkomendasikan oleh prinsipal BMW. Mobil-mobil BMW di dunia dianjurkan menggunakan bahan bakar solar rendah sulfur. “Bisa (pakai B20), tapi berkaitan dengan kualitas mesin. Jadi itu kan juga dipengaruhi sama iklim di sini kondisi panas karena Indonesia negara tropis,” ucap Jodie. Suatu hal lumrah mobil bermesin diesel mengalami masalah ketika menggunakan bahan bakar nabati (BBN) yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin. Masalah utama adalah penyumbatan pada bagian injector akibat penumpukan lemak nabati. Jika tersumbat maka penyemprotan bahan bakar ke dalam ruang bakar akan terganggu. Untuk menghindari hal tersebut, biasanya ‘memodifikasi’ mesin untuk melancarkan aliran bahan bakar seperti menambahkan peranti untuk melumerkan lemak. PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku distributor kendaraan niaga Mitsubishi yang menyadari kondisi itu justru menggunakan cara menambah jumlah filter bahan bakar kendaraan niaga seperti Colt Diesel. Konsekuensi yang harus dihadapi, yaitu konsumen akan mengeluarkan dana lebih ketika melakukan servis kendaraan.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190218161045-384-370393/hitung-hitung-biodiesel-b100-jokowi-di-industri-otomotif
Cnnindonesia | Senin, 18 Februari 2019
Bahas Biodiesel, Jokowi-Prabowo Tak Sentuh Efek Negatif Sawit

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengkritisi debat capres kedua soal misi kedua pasangan calon presiden nomor urut 01 dan 02, Joko Widodo dan Prabowo Subianto di bidang energi. Kedua capres menggagas pengembangan peralihan biodiesel, B20 menjadi B100. B20 merupakan bahan bakar campuran dari minyak solar dan kelapa sawit. Di dalam bahan bakar itu, komponen kelapa sawit sebesar 20 persen. Sedangkan B100 merupakan bahan bakar yang sepenuhnya berasal dari nabati. Dalam B100 tidak ada komponen dari minyak fosil. Manajer Kampanye Walhi Fatilda Hasibuan mengatakan kedua paslon tidak memikirkan dampak sosial dan lingkungan dari pengembangan biodiesel yang menggunakan bahan kelapa sawit. “Walhi 2018 kemarin ini membuat rilis dampak-dampak negatif yang ditimbulkan oleh perkebunan sawit terutama masalah sosial dan lingkungan. Ada 12 sampai 17 dampak negatif tapi tak satu pun tanggapan dari calon menyentuh susbtansi itu,” ujar Fatilda di kantor Walhi, Jakarta Selatan,Senin (18/2).
Ia memaparkan dampak negatif yang timbul akibat pengembangan biodiesel diantaranya, dampak lingkungan berupa deforestasi atau penggundulan hutan. Selain itu, dampak sosial yang disebabkan perkebunan sawit adalah eksploitasi terhadap buruh pekerja perkebunan sawit. Selain dampak itu, Fatilda juga menyebut perkebunan sawit berpotensi beroperasi tanpa Hak Guna Usaha (HGU), dengan permasalahaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), merusak habitat satwa langka dan memiliki izin yang tumpang tindih dengan taman nasional. Perkebunan sawit juga bisa menyebabkan perubahan fungsi ke dampak negatif atau konversi terhadap lahan gambut dan lahan basah. Hal ini menurutnya, merupakan semua penyebab kerugian negara dan kerugian lingkungan. “Ada masalah AMDAL, ada eksploitasi buruh di perkebunan, ada korupsi, ada perkebunan yang tidak bayar pajak. KPK juga mengeluarkan ada yang tidak punya NPWP,” jelas dia. Selain itu, Fatilda juga menerangkan dampak sosial yang lebih mendalam dari pengembangan perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, konflik tanah dan sosial, penghancuran budaya, pelanggaran HAM, dan kriminalisasi terhadap masyarakat adat juga bisa terjadi.
“Eksploitasi buruh termasuk perempuan dan anak, kurangnya proses persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan, kurangnya penilaian nilai konservasi tinggi yang independen dan komprehensif, kurangnya penilaian stok karbon tinggi yang independen dan inklusif,” jelasnya. Fatilda menilai Jokowi dan Prabowo tidak memikirkan dampak negatif yang dapat merusak kehidupan masyarakat dan lingkungan. Ia mengatakan keduanya hanya mendukung perkembangan B20 menjadi B100. Padahal yang dimaksudkan dari pertanyaan panelis adalah membenarkan pembangunan dan pengembangan energi, namun masalah yang ditimbulkan harus segera dicari solusinya. “Itu yang ditanyakan panelis supaya dampak sosial dan lingkungannya bisa diatasi itu tidak ada yang menjawab,” katanya. Dalam debat kedua, Minggu (17/2) malam, kedua capres sepakat dengan pengembangan biodiesel. Prabowo mengatakan Indonesia bisa memanfaatkan produk kelapa sawit untuk biodisel. “Ini bisa meningkatkan pendapatan petani kita yang sekarang lagi jatuh,” ujar Prabowo. Sementara itu, Jokowi turut mendukung pengembangan dengan mengatakan pihaknya terus menyiapkan rencana yang jelas untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak impor. “Ini artinya B20 sudah rampung. Kita ini sekarang menuju kepada yang namanya B100 sehingga kita harapkan tiga puluh persen dari total produksi dari kelapa sawit nanti akan masuk kepada biofuel. Sudah kita rencanakan plan-nya sudah sangat rigid dan sudah sangat jelas,” kata Jokowi.
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190218173819-32-370449/bahas-biodiesel-jokowi-prabowo-tak-sentuh-efek-negatif-sawit
Detik | Senin, 18 Februari 2019
Jokowi Bahas Biodiesel B100, Pabrikan Otomotif Butuh Waktu

Calon Presiden (Capres) 01 Joko Widodo tadi malam mengatakan akan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Salah satunya memimpikan Indonesia bakal memiliki bahan bakar Biodiesel B100. Sebagai informasi tambahan Biodiesel B100 adalah satu bahan bakar yang tidak lagi menggunakan minyak berbasis fosil tapi dari yang lebih terbarukan seperti jagung, kelapa sawit atau lainnya. Lalu bagaimana tanggapan pabrikan otomotif ya? Isuzu memberikan tanggapannya kepada detikOto. Isuzu menyatakan siap selalu mendukung rencana pemerintah dalam mengurangi penggunaan bahan bakar berbahan fosil, meski B100 sekaligus. “Kita mendukung semua rencana pemerintah baik itu B20, B30 sampai B100. Kita mendukung, kalau kebaikan negara ini. Tapi yang pasti kita butuh waktu untuk mendevelop teknologinya,” ucap Head of marketing Communication IAMI, Puti Annisa Moeloek, kepada detikOto. Sebagai catatan, saat ini Isuzu sudah memiliki teknologi yang membuat kendaraan diesel-nya bisa mengkonsumsi bahan bakar B20. “Isuzu pakai B20 saja bisa, tapi kita kan belum tahu B100 itu seperti apa. Tapi kita butuh waktu mempelajari dahulu, dan kita kaji dulu, jadi tidak bisa langsung (langsung menerapkan B100 secara instan-Red),” ujarnya.
Penggunaan bahan bakar B100 mencuat setelah debat kedua Calon Presiden (Capres) 2019. Jokowi mengatakan saat ini pemerintah telah memanfaatkan kelapa sawit dalam program Biodiesel 20% atau B20. “Supaya Pak Prabowo tahu, kita telah mulai B20 dan sudah berproduksi 98% dari yang kita harapkan,” kata Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) tadi malam. “Pemakaian biodiesel sudah kita mulai dengan produksi B20 akan lanjut ke B100 sehingga ketergantungan fosil akan dikurangi dari tahun ke tahun,” sambungnya. Memang tidak mudah untuk mengaplikasikan penggunaan biodiesel. Pelaku dunia transportasi sebelumnya sudah mewanti-wanti soal penggunaan biodiesel. Ada dampak negatif dan dampak positifnya terkait pemakaian biodiesel di mesin armada bus. Secara bisnis, masuk di akal karena harganya murah. Namun secara teknis, penggunaan biodiesel di mesin kendaraan bisa memperpendek usia filter solar. Jadi pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih untuk penggantian filter. Menjawab kekhawatiran pengguna bus atau truk beberapa merek truk/bus sudah menggunakan double filter agar mengurangi jelaga di mesin kendaraan. Produsen juga sudah memberikan kepastian kalau penggunaan B20 tidak akan menggugurkan garansi. Produsen juga memberikan beberapa saran kepada pengguna bus dan truk untuk memeriksa ketinggian oli mesin dengan dipstick secara rutin sebelum memulai menghidupkan mesin, mengecek water sedimentor secara berkala, mengganti filter solar secara berkala sesuai dengan buku panduan pemilik kendaraan, mengecek kondisi tangki bahan bakar, membersihkan dan melakukan penirisan tangki bahan bakar jika diperlukan.
https://oto.detik.com/berita/d-4433136/jokowi-bahas-biodiesel-b100-pabrikan-otomotif-butuh-waktu
Detik | Senin, 18 Februari 2019
Jokowi Singgung Biodiesel, tapi B20 Bikin Filter Cepat Kotor

Pada tahun 2020 Indonesia sudah merencanakan untuk menggunakan B30 sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Bahkan, Calon Presiden (Capres) 01 Joko Widodo mengatakan, Indonesia akan punya bahan bakar biodiesel B100. Saat ini, penggunaan bahan bakar yang dicampur dengan kandungan minyak kelapa sawit sebesar 20 persen atau disebut B20 sudah digunakan secara menyeluruh. “Pemakaian biodiesel sudah kita mulai dengan produksi B20 akan lanjut ke B100 sehingga ketergantungan fosil akan dikurangi dari tahun ke tahun,” kata Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam. Penggunaan B20 yang sekarang sebenarnya tidak sepenuhnya berjalan dengan mulus. Meskipun memang mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, namun dampak buruk justru dirasakan oleh kendaraan yang menggunakannya. Campuran bahan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) pada bahan bakar fosil menyebabkan lebih singkatnya umur pemakaian filter solar pada mesin diesel. B20 yang digunakan saat ini menghasilkan cairan residu berupa gel yang menutup saringan sehingga mengurangi tenaga dari kendaraan bermesin diesel.
“Filter solar akan lebih cepat jika umurnya dengan pencampuran FAME (yang) memunculkan gel yang menutup saringan, jadi power berkurang,” ujar Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo saat ditemui beberapa waktu lalu. Santiko menambahkan frekuensi pergantian filter solar terhadap penggunaan bahan bakar B20 menjadi lebih sering dua kali lipat. Hal ini akan membebani konsumen kendaraan komersil dalam biaya perawatan unit mereka. “Umurnya berkurang separuh yang biasanya 20 ribu km jadi 10 ribu km ganti filternya,” lanjut Santiko. Dari permasalahan tersebut, Santiko berharap pemerintah melakukan perbaikan dalam campuran B20 agar lebih bersahabat terhadap mesin kendaraan diesel. “Kita harap pemerintah melakukan pencampuran yang lebih baik, akan ada dampak positif,” katanya. Lantas bagaimana dengan biodiesel B100 jika B20 masih membuat filter kendaraan cepat kotor?
https://oto.detik.com/mobil/d-4432874/jokowi-singgung-biodiesel-tapi-b20-bikin-filter-cepat-kotor