+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Otomotif Dukung Program B100

Jawa Pos | Senin, 11 Maret 2019

Otomotif Dukung Program B100

Isuzusiap mendukung kebijakan pemerintah terkait penggunaan bahan bakar biodiesel hingga 100 persen (B100) sebagaimana yang direncanakan Presiden Joko Widodo. Untuk B20, Isuzu telah menguji solar dengan campuran 20 persen minyak Kelapa Sawit di Jepang. “Pak Jokowi sudah menyatakan ingin menerapkan biodiesel hingga B100. Tentu, pemerintah tidak akan main-main membuat itu karena sebelumnya Isuzu melakukan pengujian terhadap bahan bakar B20,” ujar Marketing Division Head Astra Isuzu Andy Dwi Zatmoko di seh-se\a gathering Isuzu Lovers and Friends (ILF) di Sentul, Bogor, Sabtu (9/3). Dalam rangka penerapan B20 yang diluncurkan awal September lalu.isuzu telah mengirim sampel B20 ke Jepang untuk diuji coba pada kendaraan bermesin diesel, baik penumpang maupun komersial. Bahan bakar solar yang dicampur crude Palm Oil (CPO) itu di-running di mesin hingga jarak 1.000 kilometer. “Nanti kalau B100 ada, pasti kita uji juga di Jepang,” ungkapnya. Meski begitu, Andy mengingatkan pemerintah agar berkomunikasi dengan pihak- pihak terkait sebelum menerapkan kebijakan B100. Sebab, banyak pihak yang berkepentingan. Bukan hanya pabrikan otomotif seperti Isuzu. Namun, saat ini banyak pelaku usaha yang menggunakan kendaraan bermesin diesel. “Apa pun kebijakan pemerintah, akan kami support. Yang penting sosialisasi dulu,” tuturnya.

Andy berharap pernyataan Jokowi tersebut bukan hanya wacana. Sebab, jika berhasil diwujudkan, Indonesia akan terbebas dari ketergantungan ter- hadap bahan bakar fosil yang semakin mahal. “Masalahnya sekarang, bisa tidak CPO diproses menjadi 100 persen solar? Mungkin, sekarang pemerintah sudah punya teknologinya, tapi masih dalam tahap penelitian, belum skala industri,” ucapnya. Selama ini Isuzu dikenal sebagai rajanya diesel. Principal otomotif asal Jepang itu memang tidak memiliki produk yang berbahan bakar selain solar. Sepanjang 2018 penjualan ritel Isuzu mencapai 25.286 unit atau naik 26,9 persen dari tahun sebelumnya 20.502 unit. Selain kendaraan komersial, penjualan kendaraan penumpang seperti Isuzu MU-X melonjak dari 712 unit pada 2017 menjadi 737 unit pada 2018. Wakil Ketua ILF Udin mengakui, performa kendaraan dengan mesin diesel lebih bertenaga dibanding nondiesel. Karena itu, owner PT Mitra Pertamina itu sejak 10 tahun lalu mengganti armada di perusahaannya dan mobil pribadi dengan kendaraan bermesin diesel.

Bisnis Indonesia | Senin, 11 Maret 2019

Petani Didorong Suplai Biodiesel

Petani Kelapa Sawit swadaya didorong untuk mengalokasikan lahan perkebunan khusus untuk menyuplai kebutuhan bahan bakar nabati atau biodiesel. Ketua Masyarakat Biohydro Carbon Indonesia Sahat Sinaga mengatakan bahwa dengan skema tersebut, ke depan petani bisa meningkatkan penghasilan dari perkebunan sawit yang khusus memasok bahan bakar nabati. Pasalnya, permintaan bahan bakar nabati dari industri relatif stabil. Hal itu juga didukung oleh program pemerintah yang ingin meningkatkan bauran Solar dan biodiesel dari saat ini yang masih sebesar 20% atau B20. “Ini perlu pemikiran dan pekerjaan berat karena per provinsi perlu dibenahi petaninya. Pengusaha besar sudah punya pasar, sedangkan petani tidak. PT Pertamina akan jamin pasar,” katanya kepada Bisnis belum lama ini. Sahat menjelaskan, ketika panen, truk pengangkut tandan buah segar harus menunggu penuh terlebih dahulu. Selama menunggu truk penuh, tandan buah segar berpotensi busuk sehingga merugikan petani. Artinya, petani yang harus menanggung kerugian.

“Coba tanya petani berapa loss [kehilangan akibat tandan buah segar membusuk] mereka gagal kirim karena tidak punya fasilitas kirim. Kira-kira 58% total loss per tahun dan itu belum termasuk di dalam produksi kita minyak sawit 45 juta ton per tahun,” katanya. Sahat menjelaskan bahwa dengan lahan kebun sawit rakyat yang khusus untuk menyuplai biodiesel, setidaknya akan ada infrastruktur yang dibangun supaya pasokan berjalan lancar. Selain itu, kriteria tandan buah segar untuk biodiesel berbeda dengan minyak nabati. Minyak nabati membutuhkan TBS yang segar dan kondisi baik, sedangkan biodiesel bisa menggunakan TBS yang sudah busuk. Artinya, potensi kerugian petard pun bisa diminimalisasi dari tingkat petani. Dia memproyeksikan, apabila program biodiesel berjalan lancar, setidaknya pada 2024 nanti 30% minyak sawit akan masuk pasar energi. Saat ini, baru 8% yang dipakai untuk konsumsi energi. \’TBS petani itu didorong jadi IPO [industri sawit] untuk memasok bahan bakar nabati ke Pertamina. Jadi, konsepnya adalah per provinsi karena kilang minyak kan per provinsi, sawit itu ada itu dikirim ke kilang terdekat. Jadi biaya distribusi minyak bisa diturunkan,” katanya.

Menurutnya, investasi kilang minyak yang tidak terintegrasi mencapai US$200 juta. Kilang minyak itu khusus untuk mengolah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi bahan bakar nabati. Melalui penyerapan biodiesel domestik, industri sawit nasional tidak akan bergantung pada pasar ekspor. “Devisa tidak akan terganggu dengan menahan impor [minyak] dan mengekspor [bahan bakar nabati]. Selama kita punya ketahanan energi nasional. Pertamina hanya punya stok seminggu. Begitu [impor] disetop habis semua,” tegasnya. Sebelumnya, Sahat Sinaga mengatakan bahwa industri minyak sawit nasional terlalu bergantung pada beberapa pemain ekspor. Akibatnya, ketika para pemain mengalami kesulitan, dampak tersebut langsung berimbas ke petani. Menurutnya, pasar domestik minyak sawit perlu diintensifkan lagi. “Sekarang di tingkat konsumsi dalam negeri, pasar kita hanya 22% domestik dan 78% ekspor. Itu harus diputar. Setidaknya 60% domestik dan 40% ekspor. Kalau itu terjadi, kita akan jadi pemimpin dunia [bahan bakar nabati].”

Tribunnews | Senin, 11 Maret 2019

Saatnya Limbah Sawit Memberi Nilai Lebih Lewat PLTBiogas

Tak heran jika industri kelapa sawit Indonesia dan turunannya dibenci sekaligus dicemburui oleh banyak negara terutama Eropa. Karena tak seperti minyak nabati lain sepertpi bunga matahari dan kedelai, manfaat buah dari tanaman jenis serabut ini tak hanya dari buah dan batangnya saja. Setelah sari minyaknya terpakai, maka limbah dari buahnya tersebut tetap bisa berguna dan memberi nilai tambah ekonomi yang tak kalah bermanfaatnya. Jika yang diketahui selama ini minyak sawit identik dengan kebutuhan dapur, industry dan kebutuhan terkait manusia secara langsung, maka hal yang berikut akan memberi data data baru, bahwa manfaatnya jauh meluas ke luar zona tradisioanal tersebut. Kini limbahnya bisa menjadi bahan baku utama untuk menggantikan BBM berbahan solar untuk penggerak Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Biasanya PLTD yang umumnya dipakai oleh PT PLN dalam membangkit tenaga listrik menggunakan minyak dari bahan fosil tersebut sebagai sumber utama mesin penghasil listrik. Namun kini PT PLN (Perusahaan Listrik Negara) selaku mayoritas pemilik PLTD jenis di tanah air sudah layak mempertimbangkan penggunaan bahan limbah sawit sebagai sumber penggerak utama. Hal itu juga akan selaras dengan program lain yakni Biodiesel 20 persen atau B20 yang mulai diterapkan sejak September tahun lalu. Untuk proyek ini, pemerintah juga telah terjun total dengan menjadikan Kilang Minyak Pertamina di Plaju Sumatera Selatan, selaku motor utama penyediaan minyak yang banyak digunakan oleh dunia usaha tersebut. Kenapa perlu disegerakan, karena pada sisi lain, pemanfaatan buah kelapa sawit sendiri sudah menyentuh bukan saja di bagian utama yakni buah olahan untuk beragam keperluan. Ini telah dibuktikan oleh PTPN ( PT Perkebunan Nusantara) V yang bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas untuk Pabrik Kelapa Sawit Terantam PTPN V, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Menurut informasi, bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan listrik berasal dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair dari pabrik kelapa sawit itu dan mampu menghasilkan listrik sebesar 700 Kilo Watt (KW). Sebenarnya, proyek di kawasan provinsi Riau tersebut merupakan yang yang sudah dijalankan oleh PT PLN. Proyek pertama terdapat di sebelumnya juga telah dibangun PLT Biogas pertama di lingkungan BUMN Perkebunan berlokasi PKS Tandun dengan daya 1,2 MW. Saat juga sedang dikerjakan proyek sejenis dan mengambil tempat kawasan Sei Tagar, masih di provinsi yang sama. Seperti PLTB Sei Tagar yang tujuan utamany untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi PKS di kawasan tersebut, maka PLTBg di Kecamatan Dendang memiliki tiga manfaat lain yakni mengaliri listrik hingga 2500-3000 rumah tangga. Kedua, membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan limbah. Ketiga, untuk mewujudkan ketahana energy di wilayah tersebut yang juga menjadi salah satu bagian dari program nawacita pemerintah yakni ketahanan di bidang energy.

Sebuah pencapaian sekaligus pembuktian bahwa dari minyak kelapa sawit ini, Indonesia bisa berharap banyak sekaligus juga mengantisipasi jika hambatan ekspor dari sejumlah negara-negara Eropa tak kunjung mereda. Itu tak lain karena Indonesia merupakan produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, yaitu sekitar 32 juta ton per tahun. Dengan produksi CPO yang berlimpah ini juga pasti diikuti dengan produksi limbah yang selalu menjadi perhatian publik. Karenanya, upaya-upaya dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan menjadi penting ketika aktifitas pemanfaatan energi berlangsung di setiap tempat dan Dan umumnya, negara-negara Eropa penentang masuknya minyak sawit Indonesia ke kawasan tersebut, selalu mencari titik celah atau kelemahan industry andalan Indonesia ini. Salah satu pintu utama mereka adalah bicara tentang limbah yang berpotensi merusak lingkungan.

Persoalan limbah ini menjadi titik kritis kedua, setelah negara-negara di kawasan tersebut, mengkampanyekan pelarangan karena negara-industry penghasil sawit adalah biang terjadinya deforestasi. Pada titik ketiga, penggunaan limbah sawit sebagai bahan dasar PLTD juga akan menjadi poin yang tak kalah penting bagi industry sawit tanah air menghadapi kritikan kelompok-kelompok pro environmentalis. Lembaga dan kelompk yang bernaung di sejumlah NGO dalam dan luar negeri itu, kerap melemparkan kritik terkait sampah dan limbah yang dinilai mencemarkan bumi dan dengan keberadaan PLTBiogas, setidaknya akan memaksa mereka untuk berpikir ulang, bahwa jika sawit dan produk turunannya dikelola secara benar, maka aspek negatf yang muncul tak akan lebih besar dari nilai lebih yang dihasilkan industry non migas andalan Indonesia ini.

http://www.tribunnews.com/tribunners/2019/03/11/saatnya-limbah-sawit-memberi-nilai-lebih-lewat-pltbiogas?page=all

Bisnis | Sabtu, 9 Maret 2019

ESDM Sukses Uji Coba Pembangkit 100% CPO

Pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan bahan bakar nabati berbasis 100% minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil) milik Kementerian ESDM di Belitung, Provinsi Bangka Belitung, telah berhasil dilakukan pengujian oleh PT Wijaya Karya Tbk. Proyek percontohan pembangkit listrik tersebut diinisiasi oleh Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selanjutnya, Kementerian ESDM juga menunjuk Wijaya Karya sebagai kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi. Sementara itu, teknologi generator disediakan oleh MAN Energy Solutions Indonesia. Pembangkit tersebut dapat dioperasikan menggunakan bahan bakar biodiesel dari CPO dan high speed diesel (HSD) sebagai cadangan. Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Djoko Abumanan mengatakan kedua mesin PLTD CPO sudah dibebani maksimum masing 2,8 MW, dan saat ini memasuki pengujian 1×24 jam untuk beban 2,0 MW.

Kemudian BUMN setrum itu juga akan menindaklanjuti dengan melakukan uji coba untuk PLTD yang mereka miliki. “PLN siap melakukan ATM, (Amati/Tiru/Modifikasi) pada PLTD milik PLN PT Perusahaan Listrik Negara (persero),” ujarnya kepada Bisnis pada Sabtu (9/3/2019). BUMN kelistrikan itu akan mulai mengimplementasikan penggunaan crude palm oil atau kelapa sawit mentah 100% pada empat PLTD perseroan pada tahun ini. Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (persero) Syofvi Felianty Roekman mengatakan pembangkit itu di antaranya PLTD Kanaan di Bontang, Kalimantan Timur, dengan kapasitas 10 MW. PLTD Batakan di Balikpapan, Kaltim, dengan kapasitas 40 MW. Selanjutnya PLTD Suppa di Parepare, Sulawesi Selatan, dengan kapasitas 62 MW serta pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Jayapura deo Papua dengan kapasitas 10 MW. Keempat pembangkit tersebut memerlukan kapasitas 190.000 kiloliter diesel per tahun. Langkah uji coba ini bisa mengurangi penggunaan diesel sejumlah itu setiap tahunnya. Syofvi menyebut investasi tambahan akan dibutuhkan untuk melakukan modifikasi pada mesin pembangkit supaya bisa menggunakan CPO, akan teapi nilainya tidak terlalu signifikan karena modifikasi hanya bersifat minor. “Ke depannya kalau bisa PLTG, karena kalau harga CPO bisa sama atau lebih murah dari gas pasti kami konversikan juga,” ujarnya. Dia menambahkan pada pelaksanaannya biaya-biaya yang timbul untuk pengujian dapat diambil dari dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190309/44/897745/esdm-sukses-uji-coba-pembangkit-100-cpo