+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pasar biodiesel Masih Tinggi

Neraca | Senin, 2 Desember 2019

Pasar biodiesel Masih Tinggi

Meskipun diserang berbagai isu negatif pasar biodiesel masih cukup tinggi. Apalagi saat ini pemerintah terus menggenjot penggunaan untuk dalam negeri melalui BIO, B20, B30, B50 hingga B100 Komitmen produsen biodiesel tidaklah main-main. Berapa pun permintaannya akan disanggupi baik untuk dalam ataupun luar negeri. Tapi meskipun permintaan untuk luar negeri cukup tinggi seperti China, produsen lebih memprioritaskan untuk dalam negeri terlebih dahulu. “Ada penurunan ekspor ke China untuk sementara karena kemungkinan salah satunya, kapasitas industri kita yang sudah mulai penuh. Mau ada B30, jadi kita mencoba untuk memprioritaskan dalam negeri dulu,” terang Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan. Meski begitu, Paulus mengakui masih ada penurunan ekspor biodiesel pada tahun 2019 ini sampai tahun depan (2020), jika kapasitas terpasang tidak ditambah. Selain karena minat ek-sporyang masih tinggi, peningkatan kapasitas produksi juga diperlukan karena pemerintah berencana meningkatkan mandatori campuran bahan bakar nabati dan solar tersebut, dari B30 menjadi B50, bahkan B100. Terbukti, berdasarkan catatan APROBI bahwa kapasitas terpasang dari 19 perusahaan produsen biodiesel di Indonesia sebesar 11,6 juta kilo liter (KL) per tahun. Aprobi mencatat kebutuhan biodiesel untuk penerapan B20 sebesar 6,4 juta KL dan B30 sebesar 9,6 juta KL. “Saat ini kapasitas terpasang 11,6 juta KL, tetapi kan untuk kapasitas produksinya hanya 85 persen, karena ada potensi listrik mati, servis, perawatan tiap bulan,” ucap Paulus. Disisi lain, Paulus menyahut baik Program B30 yang akan dilaksanakan pa-1 da tanggal 1 Januari 2020. Namun uji coba implementasinya akan dimulai November atau Desember 2019. Tujuannya mengetahui distribusi, transportasi dan penyimpanan. “Ini trial distribusi lebih luas, disitu kita mulai imple-mentasi belajar,” terang Paulus. Kemudian, lanjut Pau-lus.adapunkebutuhanFatty Acid Methyl Ester (FAME) tahun 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter. Jika uji coba implementasi diterapkan bulan November 2019 maka dibutuhkan penambahan FAME sebesar 400 ribu kiloliter, namun jika diterapkan Desember butuhkan 250 ribu kiloliter. “Tinggal nunggu aja untuk percepatan, kemudian kontrak sama PO,” terang Paulus

Tempo | Jum’at, 29 November 2019
Pengujian B30 pada Kereta Api Mulai Berjalan
Selain melaksanakan Uji Jalan B30 pada kendaraan otomotif, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (EBTKE) bersama stakeholder terkait mulai melaksanakan uji pemanfaatan B30 pada Alat Mesin Pertanian (Alsintan), alat berat sektor pertambangan, Kereta Api dan Angkutan Laut, yang dilaksanakan oleh PPPTMGB Lemigas dengan pendanaan riset oleh BPDPKS. Adapun uji jalan pada kendaraan otomotif telah selesai dilaksanakan dan saat ini dalam tahap finalisasi laporan akhirnya. Secara umum hasilnya menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara bahan bakar B30 dengan bahan bakar B20. Pada Selasa, 19 November 2019 lalu, uji pemanfaatan B30 pada kereta api mulai dilaksanakan pada genset kereta api selama 1000 jam. Uji B30 pada kereta api ini melibatkan beberapa stakeholder, antara lain Ditjen Migas, Ditjen Sarana Perkeretaapian Kemenhub, PPPTMGB Lemigas, PPPTKEBTKE, BPDPKS, PT KAI (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Patra Niaga, Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), PT Volvo, dan PT Inka. “Hari ini kita melakukan Kick of Meeting Uji Penggunaan B30 pada Genset Kereta Api. Melalui Kick of Meeting ini, kita diingatkan kembali untuk masing-masing aktif dalam pengujian ini sehingga rekomendasi yang dihasilkan merupakan rekomendasi yang dapat kita lakukan bersama-sama,” ujar Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna pada gelaran rapat terbatas di kantor PT KAI, Bandung. Seluruh uji pemanfaatan B30 yang terus dilaksanakan ini, merupakan salah satu upaya persiapan Pemerintah dalam rangka implementasi mandatori penggunaan B30 yang akan dimulai pada tahun 2020. Tak hanya itu, kualitas produk biodiesel untuk pencampurannya pun semakin ditingkatkan, sehingga pengujian B30 yang sedang dilaksanakan menggunakan bahan bakar B30 dengan kualitas mutu yang telah disepakati. Guna menjamin kualitas mutu biodiesel, Pemerintah juga melakukan pengawasan/monitoring melalui pengujian kualitas biodiesel di produsen dan depo atau blending point (tempat pencampuran BBN dan BBM) sesuai spesifikasi biodiesel. Spesifikasi biodiesel ditetapkan melalui SNI Biodiesel 04-7182-2006, kemudian direvisi menjadi SNI Biodiesel 7182-2012 dan saat ini ditetapkan dalam SNI Biodiesel 7182-2015. Saat ini, telah ditetapkan spesifikasi B100 untuk implementasi B30, yang ditetapkan dalam Kepdirjen EBTKE Nomor 189K/10/DJE/2019, dimana parameter kualitas mutu B100 ini semakin ditingkatkan. Untuk spesifikasi B30 nya sendiri juga telah ditetapkan melalui Kepdirjen Migas Nomor 0234K/10/DJM.S/2019. “Dalam pelaksanaan program pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN), Pemerintah sangat mempertimbangkan kualitas mutu BBN yang dicampur dalam BBM. Spesifikasi biodiesel tersebut selalu kita tingkatkan untuk melindungi konsumen dengan tetap memperhatikan kemampuan produsen,” ucap Feby.
https://nasional.tempo.co/read/1278235/pengujian-b30-pada-kereta-api-mulai-berjalan/full&view=ok

The Jakarta Post | Jum’at, 29 November 2019
After five-month road test, B30 implementation gets green light
Biodiesel industry stakeholders have completed a five-month road test, whereby 11 vehicles were driven up to 50,000 kilometers using 30 percent blended biodiesel ( B30 ), as the government is set to mandate the biofuel usage starting early next year. The Energy and Mineral Resources Ministry, as the test’s initiator, said in a statement on Thursday that the vehicles showed “relatively similar” performance in power, emissions and fuel consumption compared to when run using B20 biodiesel, the usage of which was made mandatory last year. “Based on the B30 road test results, we can say the B30 policy is ready to be implemented on diesel engine vehicles starting Jan. 1, 2020,” said the ministry’s research and development head Dadan Kusdiana. Dadan explained in a statement issued in September, when the tests were slightly over 70 percent complete, that B30-powered vehicles consumed more fuel but yielded higher power than their B20-powered counterparts. Using B30 also lowered all emission levels except for nitrogen dioxide. However, the ministry also made a note addressed to automakers such as, Toyota, Daihatsu and Mitsubishi, that vehicles would require more engine filter changes when they first start using B30. Meanwhile, producers, namely the country’s largest fuel distributor, Pertamina, and Indonesian Biofuel Producers Association (Aprobi) members, should blend the biofuel as soon as they receive constituent ingredients in minimizing water build up. The B30 policy plays an important role in the government’s efforts to slash oil imports, which contribute heavily to the country’s trade deficit. Indonesia’s B30 is also expected to open new markets for its palm oil exports, which is facing challenges from traditional markets like the European Union over sustainability and environmental issues.
https://www.thejakartapost.com/news/2019/11/29/after-five-month-road-test-b30-implementation-gets-green-light.html

Warta Ekonomi | Jum’at, 29 November 2019
Biodiesel untuk Swasembada Energi, Why Not?
Industri biodiesel Indonesia tumbuh pesat sejak 2018 sebagai respons positif atas mandatori B20 yang telah diimplementasikan dan akan meluncurkan B30 pada awal tahun depan. Mengutip USDA, produksi biodiesel Indonesia diprediksi meningkat 43% menjadi 8 miliar liter hingga akhir 2019. Secara global, negara dunia yang sudah mengadopsi mandatori biodiesel ini di antaranya Brasil (B2), Australia (B2), Filipina (B2), Korea Selatan (B2-B3), Norwegia (B3,5), India (B5), Afrika Selatan (B5), Uni Eropa (B7), Malaysia (B10), dan Argentina (B10). Biodiesel merupakan bioenergi atau bahan bakar nabati hasil ekstraksi mesocarp (daging buah sawit) menjadi fatty acid methyl ester (FAME). Produksi FAME di Indonesia hingga Agustus 2019 telah mencapai 3,9 juta kiloliter, dengan serapan kebutuhan untuk B20 hingga akhir tahun ini diprediksi 6,6 juta kiloliter. Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, diperlukan setidaknya 9,6 juta kiloliter FAME untuk mendukung B30 pada 2020 mendatang. Sebagai bahan bakar terbarukan (renewable fuels), penggunaan biodiesel dijamin lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil. Realitanya, biodiesel merupakan alternatif solusi yang biodegradable, tidak beracun, memiliki kandungan oksigen yang tinggi, tidak ada kandungan sulfur, serta memiliki partikel emisi pembakaran yang lebih rendah sehingga mampu mengurangi emisi karbon dioksida. Secara ekonomi, petani kelapa sawit juga akan sangat diuntungkan akan adanya kepastian keberlanjutan produksi minyak sawit. Program biofuel yang sedang dicanangkan Pemerintah Indonesia telah disuratkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) dengan target penggunaan energi terbarukan sebesar 23% atau mencapai 13,9 miliar liter pada 2025 dan pada 2050 berkontribusi sebesar 31% atau 52,3 miliar liter. Kebijakan ini mengambil kepentingan nasional sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil, mencapai swasembada energi, dan mendukung sektor minyak kelapa sawit Indonesia.
https://www.wartaekonomi.co.id/read259101/biodiesel-untuk-swasembada-energi-why-not.html

Kontan | Minggu, 1 Desember 2019
Kebijakan penggunaan biodiesel bawa harga CPO kembali sentuh rekor
Harga crude palm oil (CPO) kembali sentuh level tertinggi. Mengutip Bloomberg, Jumat (29/11), harga CPO naik 1,58% ke RM 2.766 dan sentuh level tertinggi. Sementara, dalam sepekan harga CPO juga menguat 0,65%. Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, penguatan harga CPO kali ini karena dipengaruhi sentimen teknikal. Penguatan harga CPO secara teknikal membuat Wahyu ragu tren kenaikan harga CPO saat ini akan bertahan lama. Wahyu mengamati harga komoditas secara umum masih tertekan akibat kekhawatiran krisis ekonomi global yang mengarah pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, tensi perang dagang AS dan China yang belum pudar juga masih mengancam harga komoditas turun. Khusus harga CPO, Wahyu menjelaskan terdapat beberapa faktor fundamental yang bisa menekan harga CPO, seperti kelebihan pasokan dan kurangnya permintaan di tengah musim panen. Belum lagi, ancaman Eropa mengenai kampanye hitam atas CPO dan alternatif pengganti CPO. Harga minyak global sedang melemah juga tidak langsung berdampak negatif ke harga CPO. Namun, di tahun depan harga CPO berpotensi mendapat sentimen positif. Di satu sisi, tren proteksionisme dagang yang dilakukan AS dan China menggiring China akan lebih memilih CPO dari pada minyak kedelai yang diimpor dari AS. Di tahun depan permintaan CPO bisa meningkat karena didorong ekspansi penggunaan biodiesel di Indonesia dan Malaysia. Rencananya, Indonesia akan menerapkan B30 di Januari 2020. Wahyu memproyeksikan konsumsi CPO global di tahun ini akan menguat 7,1%, sementara di tahun depan menguat 5,1%. Sementara, konsumsi CPO di China diproyeksikan naik 20% secara tahunan menjadi 6,18 juta ton di 2019. Pada 2020 konsumsi CPO oleh China bisa naik 5% ke 6,49 juta ton. Selain itu, kondisi ekonomi India yang positif juga bisa meningkatkan permintaan CPO di tahun depan. “Untuk jangka pendek hingga menengah di tahun depan ada harapan harga CPO bisa naik seiring membaiknya permintaan CPO,” kata Wahyu Di tengah permintaan CPO yang berpotensi naik, harga CPO juga berpotensi naik karena suplai CPO dari Malaysia hanya naik tipis. Produsen CPO Malaysia, FGV Holding mengatakan produksi CPO di tahun depan hanya naik 0,5%-1%. Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim menambahkan harga CPO terdongkrak lantaran suplai CPO menurun akibat tidak adanya perluasan pembibitan lahan CPO baru. Hal ini menyangkut himbauan dari organisasi lingkungan hidup yang terus berkampanye tolak penebangan hutan sebagai lahan kelapa sawit. “Sejak 2015 hingga saat ini perluasan perkebunan CPO cenderung stagnan,” kata Ibrahim. Belum habis sentimen positif untuk CPO, kondisi melemahnya mata uang ringgit terhadap dollar AS membuat harga CPO jadi terkesan lebih murah dan meningkatkan permintaan. Ibrahim mengatakan mendekati akhir tahun dan bersamaan dengan datangnya musim hujan, juga turut mendorong kawasan Asia menambah kuota impor CPO. Untuk harga CPO besok (2/12), Ibrahim memproyeksikan akan berada di rentang RM 2.700 per ton hingga RM 2.750 per ton. Sementara untuk sepekan berada dalam rentang RM 2.610 per ton hingga RM 2.800 per ton. Sementara, Wahyu memproyeksikan harga CPO dalam sepekan bergerak di rentang RM 2.500 per ton hingga RM 2.900 per ton. Baik Wahyu maupun Ibrahim merekomendasikan buy on weakness untuk CPO.
https://investasi.kontan.co.id/news/kebijakan-penggunaan-biodiesel-bawa-harga-cpo-kembali-sentuh-rekor?page=all

Kontan | Minggu, 1 Desember 2019
Pertamina paling banyak memasok biodiesel untuk B30, berikut daftar lengkapnya
Pemerintah Indonesia mencanangkan akan menerapkan program biodesel 30% atau B30 mulai di awal 2020. Proyeksi kebutuhan biodiesel ini sekitar 9,59 juta kiloliter. Asal tahu saja, lewat keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ada sejumlah perusahaan yang sudah dipilih melalui tender untuk memasok biodiesel demi memenuhi kebutuhan program ini. Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andrian Feby Misna menjelaskan pengadaan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 41 tahun 2018. “Penunjukan dilakukan dengan cara Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) memasukkan pengajuan untuk ikut pengadaan, kemudian di Evaluasi oleh Tim Evaluasi yang sudah ditetapkan sesuai regulasi evaluasi,” kata Feby kepada Kontan.co.id, Jumat (29/11). Feby menjelaskan lebih lanjut penilaian dan rekomendasi Tim Evaluasi Pengadaan berdasarkan prinsip transparansi, efektivitas, efisiensi, keadilan dan keberlanjutan. Kalau melihat dari hasil Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT Pertamina (Persero) paling banyak memasok biodiesel untuk kebutuhan program B30 di tahun depan, yakni sebanyak 8.38 juta kiloliter (KL). Adapun kalau dibandingkan dengan perusahaan lain, misalnya saja PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang memasok biodiesel kedua terbesar, jumlah biodiesel yang disuplai hanya 5,8% dari pasokan biodiesel Pertamina atau 489.683 KL. Berikut perusahaan-perusahaan yang memasok biodiesel berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 199K/20/MEM/2019 tentang Penetapan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel serta Alokasi Besaran Volume untuk Pencampuran Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode Januari-Desember 2020:
PT Pertamina (Persero): 8.382.300 KL
PT AKR Corporindo Tbk: 498.683 KL
PT Exxonmobil Lubricants Indonesia: 139.631 KL
PT Jasatama Petroindo: 63.000 KL
PT Petro Andalan Nusantara: 201.825 KL
PT Shell Indonesia: 30.220 KL
PT Cosmic Indonesia: 11.694 KL
PT Cosmic Petroleum Nusantara: 29.715 KL
PT Energi Coal Prima: 91.976 KL
PT Gasemas: 60.318 KL
PT Jagad Energy: 5.040 KL
PT Petro Energi Samudera: 4.500 KL
PT Baria Bulk Terminal: 12.600 KL
PT Mitra Andalan Batam: 4.085 KL
PT Yavindo Sumber Persada: 7.200 KL
PT Sinaralam Dutaperdana II: 30.000 KL
PT Syuria Bahtera Harapan Mandiri: 890 KL
PT Kalimantan Sumber Energi: 16.454 KL
https://industri.kontan.co.id/news/pertamina-paling-banyak-memasok-biodiesel-untuk-b30-berikut-daftar-lengkapnya

GATRA | Jum’at, 29 November 2019
Ahok, Biodiesel, dan Riau
Keinginan Riau menjadi pilot project penerapan bahan bakar biodiesel (B30) tampaknya bakal dipengaruhi sejauh mana Ahok bisa melakukan pekerjaanya di Pertamina. Kepada Gatra.com, Anggota Komisi VI DPR RI,Idris Laena, mengungkapkan penunjukan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina, memiliki kaitan dengan program nasional optimalisasi biodiesel. “Nah, untuk meningkatkan penyerapan B30, Pertamina selaku end user harus dibenahi. Jangan sampai kita memproduksi B30 sementara impor solar jalan terus dan meningkat. Padahal program B30 tujuanya menurunkan impor. Masuknya Ahok diharapkan bisa melakukan pembenahan Pertamina,” jelasnya kepada Gatra.com, Jum’at (29/11) . Laena menambahkan, jika Ahok berhasil melakukan pembenahan pada Pertamina, peluang untuk menjadikan Riau sebagai pilot project bahan bakar biodiesel terbuka lebar. Hal ini sejalan dengan status Riau sebagai sentra produksi Kelapa Sawit terbesar di Indonesia. Sebagai gambaran, berdasarkan data lansiran Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian, produksi Kelapa Sawit di Riau tahun 2018 mencapai 8,5 juta ton. Sementara estimasi produksi untuk tahun 2019 mencapai 8,8 juta ton. Bukan hanya itu, terdapatnya fasilitas kilang minyak Pertamina di Dumai, maupun keberadaan kawasan pertambangan minyak seperti Blok Rokan, turut mendukung posisi Riau sebagai pilot project B30. “Arahnya bisa jadi kesana. Selama ini gaung biodiesel (varian B20) itu tidak terdengar lantaran serapanya juga minim. Sehingga ini berimbas kepada niat untuk mengembangkan bisnis (hilirisasi). Kalau nanti serapan B30 ini terasa,maka dengan sendirinya ada hilirisasi di Riau,” ungkap politisi yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di MPR ini. Sebelumnya, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau, Indra Agus Lukman,menyebut jajaran Gubernur dan Walikota serta Bupati di Riau, berharap agar Jakarta menjadikan Riau sebagai pilot project kebijakan B30. Laena sendiri menekankan pentingnya konsitensi pemerintah dan pemangku kepentingan lainya dalam menyerap B30. Pasalnya, B30 menjadi solusi strategis menyikapi ketahanan energi nasional. Sebut legislator asal Riau itu, saat ini setiap harinya Indonesia membutuhkan 1,5 juta barel minyak bahan bakar minyak perhari. Sedangkan, kemampuan produksi minyak Republik tidak sampai 800 ribu barel perhari. Konsekuensi logisnya impor minyak menjadi tidak terelakkan. “Singkat kata,dengan memproduksi B30 ketergantungan impor bakal bekurang. Masalahnya kalau itu di produksi sementara impor oleh Pertamina jalan terus kan susah. Jadi end user memang harus dibenahi,” katanya. Adapun, Wakil Presiden Indonesia, Ma’ruf Amin, belum lama ini mengungkapkan pemerintah sedang mempersiapkan implementasi kebijakan B30 yang bakal dimulai tahun depan. “B30 yang diterapkan awal Januari 2020 dapat menyerap tambahan konsumsi sekitar 3 juta ton minyak sawit sepanjang 2020. Untuk memperkuat pasar domestik, akan dilakukan dengan penggunaan CPO langsung untuk pembangkit PLN serta pengembangan green fuel, yaitu green gasoline dan green avtur,” jelasnya.
https://www.gatra.com/detail/news/459389/ekonomi/ahok-biodiesel-dan-riau

Kontan | Sabtu, 30 November 2019
Hasil Road Test Bagus, Januari 2020 Semua Mobil Diesel Bisa Pakai Biodiesel B30
Pemerintah memastikan penggunaan bahan bakar biodiesel sebesar 30% (B30) berlaku mulai 1 Januari 2020 untuk semua kendaraan bermesin diesel. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merampungkan rangkaian uji jalan (road test) penggunaan B30 dan tidak menemukan kendala berarti. General Manager Marketing Isuzu Astra Motor Indonesia, Attias Asril, mengungkapkan truk Isuzu siap mengimplementasikan program B30. “Truk Isuzu siap dengan bahan bakar B30 dan tidak ada perubahan apapun pada komponen,” jelas dia, Jumat (29/11).
https://insight.kontan.co.id/news/hasil-road-test-bagus-januari-2020-semua-mobil-diesel-bisa-pakai-biodiesel-b30?page=2

Senayan Post | Jum’at, 29 November 2019
Mobil Diesel B30 Harus Lebih Cepat Ganti Saringan BBM
Pemerintah menjelaskan salah satu hasil uji bahan bakar mesin (BBM) diesel jenis baru, Biodiesel 30 (B30), yaitu penggantian saringan bahan bakar lebih cepat buat kendaraan baru atau yang belum pernah menggunakannya. Alasan penggantian komponen lebih cepat itu disebut karena efek blocking. Rekomendasi dari pemerintah yakni Agen Pemegang Merek menginformasikan hal itu kepada konsumen. “Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) diharapkan memberikan informasi adanya penggantian filter bahan bakar yang lebih cepat pada kendaraan baru atau kendaraan yang belum pernah menggunakan bahan bakar campuran biodiesel,” tulis Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam melalui keterangan resmi, Kamis (28/11). Berikut pernyataan pemerintah atas hasil uji B30, yaitu:
1. Persentase perubahan daya/power, konsumsi bahan bakar, pelumas, dan emisi gas buang relatif sama antara bahan bakar B20 dan B30 terhadap jarak tempuh kendaraan bermesin diesel.
2.Opasitas gas buang kendaraan pada penggunaan bahan bakar B30 masih berada di bawah ambang batas ukur dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan.
3. Kendaraan berbahan bakar B0, B30 (MG Biodiesel 0.4%) dan B30 (MG Biodiesel 0.55%) dengan waktu soaking (didiamkan) selama 3, 7, 14, dan 21 hari dapat dinyalakan normal dengan waktu penyalaan sekitar 1 detik.
4. Kendaraan baru atau yang sebelumnya tidak menggunakan biodiesel cenderung mengalami penggantian filter bahan bakar lebih cepat di awal penggunaan B30 karena efek blocking, namun sesudahnya kembali normal.
Selain itu tim pelaksana uji juga merekomendasikan beberapa hal, yakni:
Handling dan Blending B30
1. Untuk menjaga kualitas B30, proses pencampuran, penyimpanan, dan penyaluran perlu pengendalian dan monitoring secara berkala, seperti halnya pada saat Uji Jalan B30.
2. Untuk memperoleh campuran B30 yang homogen, metode blending harus sesuai dengan pedoman umum dan menggunakan sarana prasarana yang memenuhi standar.
3. Untuk mencegah peningkatan kadar air, B100 harus disimpan dalam tangki tertutup dan dihindarkan dari kontak dengan udara dan segera dilakukan pencampuran dengan B0.
Usulan spesifikasi bahan bakar
1. Usulan Spesifikasi Bahan Bakar untuk B100, kadar monogliserida maksimum adalah 0,55 %-massa dan kadar air maksimum adalah 350 ppm. Penggunaan B100 diluar rekomendasi ini memerlukan pengujian tambahan.
2.Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) diharapkan memberikan informasi adanya penggantian filter bahan bakar yang lebih cepat pada kendaraan baru atau kendaraan yang belum pernah menggunakan bahan bakar campuran biodiesel.
Berdasarkan pertimbangan hasil uji, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan B30 siap diimplementasikan pada kendaraan diesel per 1 Januari 2020. Seperti diketahui kegiatan uji jalan ini merupakan bentuk persiapan implementasi program Mandatori B30 yang mulai diberlakukan pada 2020, sesuai dengan amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015. B30 merupakan bahan bakar diesel jenis baru yang isinya pencampuran 70 persen solar dan 30 persen biodiesel. Pada Agustus 2018, pemerintah sudah meresmikan penggunaan B20. Uji jalan B30 diikuti mobil dari berbagai merek yakni Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan Nissan Terra. Selain itu, untuk kategori kendaraan komersial, peserta yang ikut adalah Mitsubishi Fuso, Isuzu Nm, UD Truck, DFSK Super Cab. Dua kategori kendaraan itu akan menempuh rute yang berbeda. Pemerintah siap menerapkan B30 pada 1 Januari 2020. Keputusan tersebut berdasarkan hasil uji jalan kendaraan diesel berbahan bakar B30 yang berlangsung sejak 13 Juni 2019.

Kontan | Jum’at, 29 November 2019
Implementasi B30 awal 2020, begini kesiapan industri truk
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan telah merampungkan rangkaian uji jalan (road test) penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermesin diesel dan siap diimplementasikan per 1 Januari 2020. Implementasi ini sejalan dengan amanat Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015. Menanggapi rencana ini, industri truk mengaku siap menjalankan mandat yang ada. Kesiapan ini ditunjukan oleh PT Isuzu Astra Motor Indonesia. General Manager Marketing Isuzu Astra Motor Indonesia Attias Asril mengungkapkan armada truk Isuzu siap dengan implementasi B30. “Truk Isuzu siap, dan tidak ada perubahan apapun pada komponen,” jelas Asril kepada Kontan.co.id, Jumat (29/11). Asril menambahkan, konsumen perlu mengikuti petunjuk perawatan berkala khususnya mengenai interval penggantian filter bahan bakar. Asal tahu saja, Isuzu telah melakukan uji jalan atau road test untuk penerapan B30. Adapun kendaraan yang dipakai adalah Isuzu NMR 71 yang menempuh perjalanan sekitar 40.000 kilometer dengan rute di kawasan Jawa Barat. Dia mengaku, uji jalan tersebut berjalan dengan lancar. “Tidak ditemui kendala berarti, kendaraan masih berfungsi secara normal,” kata Asril. Kesiapan serupa ditunjukkan oleh PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI). Direktur Penjualan dan Promosi HMSI Santiko Wardoyo mengungkapkan, semua jenis truk Hino siap mengkonsumsi B30. “Semua truk produksi 2020 siap jika implementasi B30 berlaku,” terang Santiko kepada Kontan.co.id, Jumat (29/11). Lebih jauh Santiko menjelaskan, ada sedikit perubahan yang dilakukan pada truk produksi 2020. Perubahan tersevut meliputi perubahan pada tangki kendaraan, saluran selang solar dan filter yang juga diubah. Sementara itu, untuk truk produksi dibawah 2020 akan disediakan sparepart demi mengakomodir implementasi B30. “Jika konsumen tertarik mengganti tinggal menggunakan spare part yang baru,” terang Santiko. Lebih jauh Santiko berharap pemerintah dan lembaga terkait terus mengupayakan peningkatan kualitas produksi B30. Hal ini berkaca dari pemanfaatan B20 sebelumnya yang disebut memperpende usia dari filter kendaraan. “Kita selalu mendukung, apalagi ini untuk kepentingan nasional. Dengan biodiesel yang terbaik maka tidak memberatkan konsumen,” tandas Santiko.
https://industri.kontan.co.id/news/implementasi-b30-awal-2020-begini-kesiapan-industri-truk

Suara | Minggu, 1 Desember 2019
Gaikindo Kandungan Air dalam B30 Bisa Rusak Mesin
Sekretaris Gabungan Kepala Kompartemen Teknik Lingkungan dan Industri Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Abdul Rochim mengatakan kandungan air yang ada pada biodiesel B30 memiliki potensi untuk mempengaruhi keandalan masin. “Kami fokus ke water content agak ketat. Itu yang mungkin terjadi di uji coba truk,” kata Abdul Rochim usai menghadiri seminar hasil uji coba B30 di Kementerian ESDM, Jakarta pada Kamis pekan ini. Ia menjelaskan kandungan air tersebut bisa membuat proses pembakaran pada mesin tidak berlangsung maksimal. Akibatnya air bisa masuk ke dalam ruang oli dan menimbulkan kerusakan mesin. Abdul juga menjelaskan bahwa penggunaan B30 memerlukan perawatan dari pemilik kendaraan untuk lebih sering memberikan perhatian pada kondisi mesin, sebab setidaknya itu juga membutuhkan oli yang berkandungan campuran nabati. “Secara keseluruhan hasil uji jalan B20 sampai B30, kendalanya tidak terlalu berarti, dan saya harap ke depannya kualitasnya lebih membaik agar bisa diberlakukan di semua kendaraan tanpa masalah,” kata Abdul.vDirektur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto menyebutkan implementasi B30 pada 2020 berpotensi untuk bisa menghemat impor minyak sebesar 165.000 BOPD.v”Jadi bagaimana menyelesaikan defisit ini dengan mengembangkan EBT jadi tersedia di dalam negeri, ini yang kita dorong. Volume dari FAME target kita 9,6 juta KL, itu setara dengan 165 ribu barel per hari,” kata Dirjen EBTKE pada kesempatan yang sama.vKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM menyampaikan hasil akhir rangkaian uji jalan penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermesin diesel. Kementerian ESDM pun mengeluarkan rekomendasi teknis terkait implementasi mandatori B30 pada tahun 2020 kepada publik.v”Rekomendasi teknis B30 ini kami sampaikan berdasarkan hasil jalan, uji performa kendaraan, monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh tim teknis. Secara umum dari hasil uji jalan B30, maka B30 siap diimplementasikan pada kendaraan bermesin diesel per 1 Januari 2020,” kata Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana
https://www.suara.com/otomotif/2019/12/01/030500/gaikindo-kandungan-air-dalam-b30-bisa-rusak-mesin

Kontan | Minggu, 1 Desember 2019
Menyambut B30, Sawit Sumbermas menargetkan penjualan CPO tumbuh double digit
Emiten sawit PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menangkap sinyal positif dari implementasi B30 di 2020 mendatang. Manajemen berharap adanya peningkatan permintaan atas crude palm oil (CPO). Sekretaris Perusahaan Sawit Sumbermas Sarana, Swasti Kartikaningtyas menyatakan, adanya B30 secara otomatis akan meningkatkan permintaan atas CPO. “Sehingga bisa meningkatkan harga CPO juga,” kata dia kepada Kontan.co.id, Jumat (29/11). Emiten sawit ini berharap bisa meningkatkan produksi CPO karena di sepanjang 2019, Swasti mengakui produksi menurun 4% jika dibanding tahun sebelumnya. Oleh karenanya, dengan adanya implementasi B30, Sawit Sumbermas menargetkan produksi bisa naik 20%-25% di sepanjang 2020. Selain produksi bisa bertambah, Swasti bilang Sawit Sumbermas juga menargetkan hasil penjualan CPO mampu tumbuh sekitar 15%-20%. Adapun target ini juga mengikuti fluktuasi harga CPO. Swasti menyatakan Sawit Sumbermas bakal mengedepankan kombinasi dari peningkatan produksi dan harga jual CPO yang meningkat untuk meraih pertumbuhan penjualan di tahun depan.
https://industri.kontan.co.id/news/menyambut-b30-sawit-sumbermas-menargetkan-penjualan-cpo-tumbuh-double-digit

Kontan | Senin, 2 Desember 2019
Wilmar Menguasai Tender
Berdasarkan data yang tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 199/2019, tiga badan usaha bahan bakar nabati (BUBBN) mengantongi kontrak pasokan biodiesel dengan besaran masing-masing di atas 1 juta kl. Dua di antaranya adalah korporasi yang berada di bawah satu payung, yakni Grup Wilmar. PT Wilmar Nabati Indonesia mendapatkan tender pasokan biodiesel sekitar 1,37 juta kl, sedangkan PT Wilmar Bioenergi Indonesia sekitar Rp 1,32 juta kl. Satu perusahaan lagi adalah PT Musim Mas dengan volume pasokan biodiesel kurang lebih sebanyak 1,08 juta kl. Kalau dihitung, porsi ketiga perusahaan itu terhadap total volume pengadaan biodisel tahun depan mencapai 39,31%. Grup Sinarmas juga ikut kecipratan proyek biodiesel. Kelompok usaha keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja tersebut melenggang melalui PT Sinar Mas Agro Resources Technology Tbk dan PT Sinarmas Bio Energy dengan total volume pasokan biodiesel mencapai 779.302 kl. Sebanyak 18 BUBBN memasok biodiesel kepada PT Pertamina. Sebagian di antaranya juga memasok ke badan usaha bahan bakar minyak (BUBBM) lain.

Rakyat Merdeka | Sabtu, 30 November 2019
Menkeu Bakal Ketok Formula Harga Baru Solar
Pemerintah segera menetapkan formula harga solar yang saat ini sedang direvisi. Usulan perubahan tersebut, telah dikirimkan ke Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulya-ni, dalam surat Surat Nomor 408/10/ MEM.M/2010 pada 27 September 2019. Sri Mulyani mengaku sudah menerima surat itu. Saat ini, pihaknya tengah meneliti usulan formula baru dari Kementerian ESDM. Kemungkinan tak lama lagi, keputusan permintaan itu akan diketok. “Sudah. Sedang diteliti. Rasanya sudah hampir ditetapkan,” kata Sri Mulyani di Jakarta, kemarin. Dalam surat tersebut, tertulis bahwa formula harga Solar diusulkan berubah dari sebelumnya 95 persen Harga Indeks Pasar (HIP) minyak Solar + Rp 802 per liter menjadi 100 persen Harga Indeks Pasar (HIP) minyak Solar + Rp 802 per liter. Ketentuan ini sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1980 K/10/ MEM/2018 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Minyak, HIP Minyak Solar (Gas Oil), yang didasarkan pada 100 persen harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) jenis Gas Oil 0,25 persen Sulfur. Jika disetujui Kemenkeu, perubahan formula harga akan mengubah Keputusan Menteri ESDM Nomor 62 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan pada 2 April 2019 “Nanti saya lihat (apakah usulan itu akan disetujui atau tidak),” tegasnya. Pit Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, pihaknya mengajukan usulan perubahan formula harga Solar namun menjamin harga jual produk BBM subsidi ini tak akan naik. Subsidi yang diberikan juga tak mengalami penambahan. “Tetap, nggak berubah. Subsidi solar tetap, harga juga tetap,” kata Djoko. Adapun alasan perubahan formula itu, menurut Djoko, agar selisih harga Solar murni dan Solar yang dicampur dengan FAME (turunan minyak kelapa sawit) dalam program biodiesel lebih dekat. Dengan begitu, konsumsi biodiesel cepat berkembang. “Agar selisih harga solar murni dan biodiesel dekat, biar biodiesel cepat tumbuh berkembang,” jelasnya.

Kontan | Senin, 2 Desember 2019
Berharap Efek Guyuran Biodiesel
Meskipun tahun depan tak menjadi pemasok bahan baku program B30, pelaku industri berharap efek kenaikan harga CPO. Tinggal sebulan lagi pemerintah akan mengimplementasikan program biodiesel 30% atau B30, yakni mulai awal tahun depan. Selain pemenang tender, secara umum produsen minyak sawit rupanya tak sabar menantikan realisasi program tersebut. Mereka mengharapkan ada efek domino bagi industri minyak sawit alias crude palm, oil (CPO) dalam negeri. PT Austindo Nusantara Jaya Tbk melihat program B30 berpotensi menciptakan pasar alternatif di tengah pelemahan permintaan CPO global. “Saat ini industri minyak sawit masih menghadapi pelemahan permintaan yang disebabkan oleh ketidakpastian iklim global akibat ketegangan hubungan dagang antara AS dan RRC serta kampanye anti sawit di Benua Eropa,” kata Lu-cas Kurniawan, Direktur Keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk kepada KONTAN, Jumat (29/11). Setali tiga uang, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk juga mengendus sinyal positif. Program B30 akan mengerek permintaan CPO di pasar domestik. Seiring dengan itu, harga jual CPO bisa kembali mendaki. Maklum saja, sepanjang tahun 2019 perusahaan itu harus rela menurunkan volume produksi CPO sebesar 4% year on year (yoy) karerta pasar yang lebih sepi. Kalau mengacu pada data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), hasil produksi minyak sawit nasional memang masih lebih banyak terserap oleh pasar ekspor. Volume ekspor CPO sepanjang ‘ Januari-Agustus tahun ini mencapai 22,7 juta ton. Sementara konsumsi minyak sawit domestik sebanyak 11,7 juta ton. Namun, tren pertumbuhan pasar di dalam negeri lebih tinggi ketimbang di luar negeri. Konsumsi CPO selama delapan bulan 2019 terungkit hingga 44% yoy. Pemicunya adalah peningkatan kebutuhan biodiesel hingga 122%. Kenaikan kebutuhan itu tak lepas dari keputusan pemerintah menerapkan program biodiesel 20% atau B20. Adapun kenaikan volume ekspor hanya 3,8% yoy. Prospek legit pasar CPO dalam negeri pada tahun depan juga mendorong pelaku industri sawit untuk mengerek target volume produksi. Sawit Sumbermas mengejar pertumbuhan produksi CPO 20%-25% untuk 2020. Perusahaan ini juga berharap mengantongi kenaikan penjualan sekitar 15%-20%. Strategi Sawit Sumbermas adalah mengombinasikan peningkatan produksi dan harga jual CPO. “Karena target kami juga mengikuti fluktuasi harga CPO,” tutur Swasti Kartika-ningtyas, Sekretaris Perusahaan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. Sementara PT Sampoerna Agro Tbk bertekad memperluas kebun atau menambah kapasitas produksi. Sambil jalan, mereka akan melakukan intensifikasi produksi dengan cara memanfaatkan teknologi dan menerapkan tata kelola kebun terbaik. Proyeksi dana belanja modal alias capital expenditure (capex) tahun depan sebesar Rp 600 miliar-Rp 800 miliar. Melalui berbagai strategi tadi, manajemen Sampoerna Agro mempertimbangkan peluang untuk mengikuti tender pemasok atau badan usaha bahan bakar nabati (BUBBN) jenis biodiesel periode berikutnya. “Saat ini belum tapi tidak menutup kemungkinan di fase berikutnya,” ungkap Michael Kesuma, Head of Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. Lain cerita dengan PT Eterindo Wahanatama Tbk. Mereka lebih memilih untuk menjual biodiesel ke luar negeri lantaran tidak kebagian jatah dalam program B30 pemerintah. Kebetulan juga, induk usaha perusahaan tersebut yakni PT Anugerahinti Gema-nusa, memiliki peluang untuk mengekspor biodiesel ke China dan negara lain. Sesuai tender. Asal tahu, sebanyak 18 BUBBN jenis biodiesel dan 18 badan usaha bahan bakar minyak (BUBBM) telah terpilih sebagai pemenang tender program B30 periode Januari-Desember 2020. Total volume BBNjenis solar sekitar 9,59 juta kiloliter (kl). Penetapannya tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM 199/2019 tertanggal 10 Oktober 2019 (lihat tabel). Sebelumnya belasan pelaku industri tersebut mengikuti tender sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 41/2018. “Penunjukan dilakukan dengan cara BUBBN memasukkan pengajuan untuk ikut pengadaan, kemudian di evaluasi oleh tim dan sudah ditetapkan sesuai regulasi evaluasi,” terang Andrian Feby Mis-na, Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM saat dihubungi KONTAN, Jumat (29/11). Perusahaan yang masuk dalam kategori BUBBN bertugas memasok biodiesel kepada BUBBM. Para BUBBM tersebut kemudian berkewajiban mencampurkan bahan baku hasil olahan CPO dengan ba-han bakar jenis solar untuk menghasilkan biodiesel. PT Pertamina keluar sebagai BUBBM dengan penerima pasokan biodiesel terbanyak. Perusahaan plat merah tersebut bahkan mendominasi dengan serapan biodiesel hingga 8,38 juta kl atau setara dengan 87,38% terhadap total alokasi volume biodiesel 9,59 juta kl. Pertamina memasok paling banyak biodiesel karena memiliki volume solar terbanyak. “Tentunya jumlah biodiesel-nya pasti mengikuti,” kata Fa-jriyah Usman, Vice President of Corporate Communication PT Pertamina kepada KONTAN, Jumat (29/11). Sejak 21 November 2019 lalu Pertamina sudah mulai mengimplementasikan program B30 secara bertahap. Sementara pada Januari 2020 nanti adalah target untuk menerapkannya secara menyeluruh. Hingga Desember 2019. perusahaan itu menargetkan ada delapan titik pencampuran bahan bakar nabati dengan kadar 30%. Sementara sejauh ini, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina yang menjual solar, sudah menyalurkan biosolar. Bahan bakar tersebut merupakan biodiesel dengan kadar 20% atau B20. Mereka memiliki 111 terminal bahan bakar mi- nyak (TBBM) yang sudah mendistribusikan B20. Proses pencampuran fatty acid me-thyl esters (FAME) berlangsung di 29 titik pencampuran yang terdiri dari 26 TBBM dan tiga kilang. Pertamina memastikan, seluruh alokasi volume biodiesel yang didapatkan bakal terserap 100% pada tahun depan. Oleh karenanya, perusahaan tersebut juga meyakini penerapan program B30 akan menjaga kestabilan permintaan sawit. Berada pada posisi kedua setelah Pertamina adalah PT AKR Corporindo Tbk dengan jatah serapan biodiesel sebanyak 498.683 kl. Selama ini mereka memang sudah kerap menjadi mitra pemerintah dalam menyalurkan BBM. Dua perusahaan lain yang mengantongi tender cukup besar yakni PT Petro Andalan Nusantara dan PT ExxonMobil Lubricants Indonesia.