+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pasokan BBM dan Listrik Dijamin Aman

Harian Seputar Indonesia | Rabu, 29 Mei 2019

Pasokan BBM dan Listrik Dijamin Aman

Pemerintah menjamin penyaluran bahan bakar minyak (BBM) selama masa Ramadan dan Idul Fitri berjalan dengan baik. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memastikan pasokan dan distribusi BBM dalam kondisi aman. Pemerintah menempatkan prioritas tertinggi untuk melayani kebutuhan BBM kepada masyarakat. “Khususnya menghadapi tingginya mobilitas pada hari besar keagamaan dan libur umum. Pemerintah akan terus meningkatkan pelayanan,” ujar dia saat memantau pasokan BBM di Terminal BBM Plumpang, Jakarta, kemarin. Pihaknya memprediksi pada masa mudik Lebaran 2019 ini diperkirakan pasokan BBM aman. Adapun prediksi rata-rata ketahanan stok nasional BBM rata-rata minimal 21 hari, seperti premium 21 hari, pertalite 21 hari, pertamax 22 hari, biosolar 26 hari, dexlite 27 hari, dan dex 35 hari. Sementara untuk avtur mencapai 48 hari. “Khusus Terminal BBM Plumpang, rata-rata harian penyaluran untuk konsumen SPBU pada saat hari normal mencapai 15.361 kiloliter (kl) dan pada masa mudikkali ini H-7 dan H+7 hanya mencapai 13.572 kl dengan puncak penyaluran H-6 diperkirakan mencapai 20.378 kl. “Penambahan itu dari peralihan TBBM Cikampek dampak kebijakan one way,” kata dia.

Dia merinci, un tuk Terminal BBM Plumpang memiliki kapasitas total tangki sebesar 322.255 kl. TBBM ini melayani sekitar 791 SPBU, memiliki 24 tangki penimbunan dengan rincian 7 tangki untuk jenis premium dengan kapasitas total 117.385 kl, dan 5 tangki untuk jenis solar dengan kapasitas total 68.641 kl. Selanjutnya, TBBM ini juga memiliki 7 tangki untuk jenis pertamax berkapasitas 93.078 kl, 2 tangki untuk jenis pertamax turbo dengan kapasitas 11.106 kl, 1 tangki pertamina dex dengan kapasitas 9.461 kl, 2 tangki untuk jenis FAME berkapasitas 21.563kl. TBBM Plumpang dinilai sebagai terminal BBM terpenting di Indonesia karena Plumpang menyuplai sekitar 20% kebutuhan BBM harian di Indonesia atau ke sekitar 25% dari total kebutuhan SPBU Pertamina. Sementara itu, prognosis stok LPG Nasional untuk periode Hari Raya ldul Fitri 1440 H/2019 M perkiraan ketahanan stok rata-rata 385.026 MT 19hari. “Penerimaan BBM di TBBM Plumpang berasal dari Terminal BBM Balongan melalui sarana perpipaan (pipeline) dan melalui dermaga atau Jetty yang beradaTerminal BBM Tanjung Priok,” ucap Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto di tem-patyangsama.

Djoko melanjutkan, saat ini untuk menjaga keamanan pasokan BBM dan LPG, pemerintah membentuk Posko Satgas BBM dan LPG di Kantor Pusat dan seluruh Kantor MOR (Marketing Operation Region) Pertamina, monitoring stok BBM di seluruh Terminal BBM melalui sistem komputerisasi SIMSND (Sistem Informasi Manajemen Supply Distribution), menambah armada mobil tangki dan waktu operasional TBBM. “Pertamina juga menyiapkan 10 SPBU baru di jalan tol Jawa. Rata-rata untuk 20 kmada 1 SPBUdi Jawa,”katadia. Selain itu, imbuhnya, disiapkan jalur contra flow untuk mengantisipasi stagnasi mobilitas mobil tangki Pertamina akibat kemacetan lalu lintas dengan bekerja sama dengan kepolisian. Selanjutnya, juga penjualan pertamax dalam kemasan serta fasilitas pengisian direstarea non-SPBU dan menyediakan produk BBK dalam kemasan, yaitu pertamax, pertamax plus, pertamina dex dalam kemasan di SPBU yang selama ini belum menjual BBK. Tak hanya itu, kondisi serupa juga terjadi pada sektor kelistrikan. Pada saat Idul Fitri secara umum dalam kondisi aman, yaitu pada 5 Juni 2019, daya pembangkit diperkirakan sebesar 38.653,47 MW dan beban puncak sebesar 25.727,32 MW sehingga masih terdapat cadangan operasi sebesar 12.926,15 MW. Tanggal 6 Juni 2019, daya mampu pembangkit diperkirakan sebesar 45.234,87 MW dan beban puncak sebesar 26.546,81 MW sehingga masih terdapat cadangan operasi sebesar 18.688,06 MW. Menurut dia, kondisi kelistrikan sistem Jawa-Bali akan berada dalam kondisi normal, sedangkan untuk sistem luar Jawa-Bali terdapat beberapa sistem dalam Kondisi Siaga. Sementara terkait potensi letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor. “Antisipasi yang dilakukan adalah telah disiapkan informasi peta titik rawan gerakan tanah gempa bumi,status gunung api, serta Satgas Tanggap Darurat,”kata dia.

Tidak Impor

Di sisi lain, Pertamina juga memastikan bahwa terjadi kenaikan konsumsi BBM sebesar 15% selama Ramadan dan Lebaran. Namun, perusahaan pelat merah di sektor energi tersebut tidak akan menambah impor BBM. “Kami akan memaksimalkan serapan produksi minyak mentah dari dalam negeri. Produksi tidak hanya dari Pertamina.juga dari kontraktor lain,” ujar Direktur Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina Ghandi Sri Widodo. Menurut Ghandi.sejak April 2019 Pertamina sudah tidak melakukan impor solar dan avtur. Pertamina telah mampu memenuhi kebutuhan avtu rdengan mengoptimalkan Kilang Cilacap. Tak hanya itu, Pertamina sejak Mei 2019 juga telah menghentikan impor solar. Pihaknya menandaskan bahwa penghentian impor solar disebabkan optimalisasi kilang dan jalannya program mandatori biodiesel 20% (B20). “Khususnya untuk mencukupi kebutuhan BBM jenis solar dan avtur akan dipenuhi dari kilang Pertamina,” kata dia. Dia menjelaskan bahwa Pertamina memang masih melakukan impor minyak mentah {crude) untuk diolah menjadi premium. Meski begitu, Pertamina tidak menambah komposisi impor.

“Langkah kita ialah memaksimalkan pasokan dari dalam negeri sehingga produksi avtur dan premium sudah maksimal sehingga tidak perlu impor. Kita maksimalkan kilang sehingga cukup dari kilang kita saja,” ucapnya. Untuk mengantisipasi terkendalanya pasokan untuk mencukupi kebutuhan Ramadan hingga Lebaran, kata dia, Pertamina juga memaksimalkan pasokan BBM darikilangke Terminal BBM.Pertamina telah menambah tiga kapal tanker terbesar, yaitu sapu jagat untuk memaksimalkan supaya tidak ada kendala pasokan BBM. Untuk kapal tanker lainnya, Pertamina telah mengoperasikan sebanyak 260 kapal tanker. “Khusus menghadapi Ramadan dan Lebaran kami telah menambah tiga kapal tanker sapu jagat. Ituk ta tempatkan di Sumatera, Jawa, dan Indonesia Timur. Tanker sapu jagat ini sifatnya untuk mengisi kondisi kritis atau keterlambatan tanker kalau ada masalah cuaca. Supaya stok di Terminal BBM bisa terpenuhi dengan baik,” ujar Ghandi. Dia juga menjelaskan bahwa Pertamina telah mengoperasikan 112 Terminal BBM yang beroperasi selama 24 jam. “Pertamina juga siap mengoperasikan 10.000 mobil tangki BBM,”katadia.

Inilah | Rabu, 29 Mei 2019

Serius Kembangkan Biofuel, Begini Saran Akademisi

Pemerintah diminta untuk membedakan antara produk minyak kelapa sawit untuk kepentingan industri dan kepentingan makanan. Ini penting guna menekan biaya produksi bahan bakar nabati (biofuel) yang tengah dikembangkan. Hal itu disampaikan Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) IGBN Makertihartha seusai diskusi energi di kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Selasa (27/5/2019). Dikatakan, selama ini, pasokan minyak sawit untuk pengembangan biofuel masih menggunakan minyak sawit berstandar food grade yang harganya mahal. Padahal, untuk pengembangan energi, bahan baku minyak sawit tidak perlu memiliki kualitas setinggi bahan baku makanan. “Maka kami meminta kepada pemerintah untuk menciptakan terminologi produk baru, bukan CPO tetapi IPO, yakni Industrial Palm Oil. Jadi ini produk minyak sawit bukan untuk makanan tetapi minyak sawit khusus untuk industri (biofuel),” katanya. Makertihartha menjelaskan, minyak sawit food grade yang pengolahannya melalui proses penghilangan getah, bau atau warna menyebabkan harga bahan baku, menjadi mahal karena mengikuti standar CPO. “Untuk energi, misalnya, baunya tidak perlu dihilangkan, warnanya tidak perlu dihilangkan cukup getahnya dan kandungan logamnya saja yang dihilangkan. Jadi hanya sekian persen dari total prosesnya itu bisa dihilangkan sehingga bahan bakunya bisa disiapkan dengan harga yang murah,” katanya. Dengan bahan baku yang lebih murah, ia meyakini pengembangan bahan bakar nabati bisa dilakukan secara masif dengan harga bersaing. “Kalau kita menghasilkan produk yang seperti saya sebutkan tadi, IPO, itu akan menekan ongkos produksi. Kalau ongkos produksinya ditekan maka bahan bakarnyabisa bersaing,” katanya.

https://ekonomi.inilah.com/read/detail/2528411/serius-kembangkan-biofuel-begini-saran-akademisi

Beritasatu | Selasa, 28 Mei 2019

Program B100 Disebut Masih Jauh dari Harapan

Untuk mengurangi penggunaan energi fosil dan mengoptimalkan penggunaan biodiesel 20 persen (B20) menjadi 100 persen, ada banyak tantangan yang harus diselesaikan. Meski begitu, pemerintah tetap yakin program ini bisa terlaksana. Deputi II Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono menyampaikan, saat ini proses pengembangan dari B20 ke B30 sudah mulai berjalan. Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan juga terus mendorong agar B50 bisa segera dikembangkan, sebab target utama pemerintah adalah B100. “Yang saya tahu B20 sudah oke, B30 sedang dalam proses pengujian. Sekarang juga Pak Menko memaksakan untuk B50, karena kita inginnya B100, itu intinya. Jadi kalau sekarang sedang uji B30, tentu itu masih jauh dari harapan. Kita inginnya sampai B100,” ujar Agung Kuswandono, di Kantor Kemko Bidang Kemaritiman, di Jakarta, Selasa (28/5/2019). Untuk bisa mencapai B100, menurut Agung Kuswandono perlu ada upaya keras dari bebagai pihak, mulai dari pemerintah, produsen bahan bakar, produsen kendaraan, hingga masyarakat. Ia juga menyadari bahwa proses ini membutuhkan waktu.

“Ini kan juga baru, jadi tidak mungkin langsung sampai B100. Perubahannya kan tidak hanya mengubah biofuel-nya, tetapi juga harus mengubah mesinnya, jadi cara berpikirnya harus secara holistik. Kalau BBM-nya diubah jadi biofuel, pasti mesinnya juga harus diubah. Perubahannya nanti bagaimana, lalu SPBU-nya bagaimana. Jadi intinya harus dipikirkan secara holistik. Tidak bisa hanya satu pihak mengatakan sudah selesai, kemudian menunggu yang lain. Itu tidak akan pernah selesai. Tetapi nanti harus kita link-kan dengan aspek yang lain, sehingga secara nasional bisa berjalan,” ujar Agung Kuswandono. Dengan segala tantangan tersebut, Agung Kuswandono tetap berharap program B100 ini dapat segera terlaksana, sehingga Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor BBM. “Kapan bisa sampai B100? Ini memang membutuhkan niat yang kuat. Kalau niatnya ingin cepat, ya cepat. Yang juga penting, kita ingin meningkatkan kesadaran bahwa Indonesia itu mempunya potensi sumber daya alam yang luar biasa, hanya saja belum dimanfaatkan secara maksimal. Seperti halnya biodiesel, bahan bakunya di Indonesia melimpah, sehingga tidak perlu khawatir kalau di-banned oleh negara luar. Tinggal dimanfaatkan saja untuk kebutuhan dalam negeri,” ujar Agung Kuswandono.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/556916/program-b100-disebut-masih-jauh-dari-harapan

Merdeka | Selasa, 28 Mei 2019

Pemerintah Sebut Butuh Kesiapan Wujudkan Program B100

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan masih banyak tantangan yang harus diselesaikan untuk mencapai program bahan bakar nabati dari kepala sawit sebanyak 100 persen (B100). Namun demikian, pemerintah tetap optimis program ini bisa terlaksana. Deputi II Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono mengatakan, saat ini proses pengembangan dari B20 ke B30. Namun, hal tersebut disadari masih jauh dari target B100. “Yang saya tahu B20 sudah oke, B30 sedang dalam proses pengujian. Sekarang juga Pak Menko memaksakan untuk B50, karena kita ingin B100. Jadi kita inginnya sampai B100, jadi kalau sekarang sedang ujinya B30 tentu itu masih jauh dari harapan kita. Kita ingin sampai B100,” ujar dia di Kantor Kemenko Kemaritiman, Selasa (28/5). Agung menyatakan, untuk mencapai B100 memang perlu upaya keras sebab membutuhkan kesiapan baik pemerintah, produsen bahan bakar, produsen kendaraan hingga masyarakat selaku konsumen.

“Karena mungkin karena ini baru jadi tidak mungkin sampai B100, perubahannya kan tidak hanya mengubah biofuelnya, tapi juga harus mengubah mesinnya, jadi cara berpikirnya harus holistik. Kalau BBM diubah jadi biofuel, pasti mesinnya harus ada perubahan di situ. Perubahannya nanti bagaimana, bisa dipakai seluruh Indonesia bagaimana SPBU-nya. Memikirkannya jadi kompleks,” jelas dia. Meski demikian, Agung tetap optimis program B100 bisa tercapai. Dengan program ini, maka diharapkan akan menekan impor BBM. “Untuk sampai B100 membutuhkan niat, kalau niatnya ingin cepat, ya cepat (tercapai). Yang paling penting di kita ini meningkatkan kesadaran, berapa ratus atau triliun yang bisa kita hemat dari impor BBM. Sedangkan bahan bakunya di indonesia melimpah, sehingga tidak perlu khawatir kalau di-banned oleh negara luar. Dimanfaatkan saja di dalam negeri sudah cukup besar,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/pemerintah-sebut-butuh-kesiapan-wujudkan-program-b100.html

Kontan | Selasa, 28 Mei 2019

Harga CPO Masih Bisa Naik Seiring Mandat Biodiesel

Harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit perlahan mulai membaik. Perbaikan harga CPO ini seiring dengan mandat penambahan CPO dalam biodiesel. Mengutip Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman Juni 2019 di Malaysia Derivative Exchange pada Jumat (29/3) pukul 17.37 WIB berada di level RM 2.010 per metrik ton. Angka ini naik 1,15% dari harga CPO hari sebelumnya. Sejak awal Ramadan, harga minyak sawit telah menguat 7,08%. Malaysia sebagai eksportir minyak sawit berencana untuk meningkatkan B10 menjadi B20 di tahun depan. Sejalan, Indonesia juga sempat berencana meningkatkan B20 dengan persentase yang belum ditentukan. Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, langkah tersebut dapat memperbaiki harga CPO ke depan di tengah kampanye hitam minyak sawit oleh Uni Eropa. “Kampanye ini berdampak luas karena Uni Eropa terdiri dari 28 negara, membuat spekulan gelisah dalam pasar CPO,” kata Ibrahim kepada Kontan.co.id, Selasa (28/5). Ia menambahkan Uni Eropa memiliki minyak olahan lain seperti minyak babi dan minyak bunga-bungan. Jika CPO mengguyur di Benua Biru, harga minyak produksi Eropa perlahan akan ditinggalkan. Namun, ia menegaskan Indonesia dan Malaysia sesungguhnya tidak kehilangan pasar, sebab China, Jepang, dan India tercatat masih menjadi langgan ekspor minyak sawit.

Di sisi lain, tak dipungkiri perang dagang Amerika Serikat (AS)-China yang masih berlanjut mengguncang harga komoditas, termasuk minyak sawit. Salah satu kesepakatan yang direncanakan adalah kenaikan impor minyak kedelai AS yang sampai dua kali lipat. Akan tetapi, China akan membalasnya dengan biaya impor minyak kedelai yang bisa sampai 25%. Ibrahim mencermati dengan kondisi dagang seperti ini, ada kemungkinan jika ke depan China tidak sanggup, maka jatah impor minyak olahan akan dialihkan ke minyak sawit. Bila skenario berjalan mulus, alhasil harga CPO masih bisa menguat lagi. Di samping itu, Ibrahim menambahkan kenaikan harga CPO saat ini juga dipengaruhi oleh permintaan CPO yang naik saat bulan Ramadhan. Ibrahim meramal harga minyak sawit dalam perdagangan, Rabu (29/5) bakal berada di kisaran RM 2.015-RM 2.035 per metrik ton. Selanjutnya dalam sepekan diprediksi berada di level RM 2.000-RM 2.050 per ton.

https://investasi.kontan.co.id/news/harga-cpo-masih-bisa-naik-seiring-mandat-biodiesel