+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pelajari Ganggang Jadi Energi Alternatif, RI Gandeng Kampus Jepang:

Pelajari Ganggang Jadi Energi Alternatif, RI Gandeng Kampus Jepang: Badan Penelitian dan Pengembangan Industri BPPI Kementerian Perindustrian Kemenperin menggandeng Algae Biomass and Energy System ABES University of Tsukuba, Jepang dalam rangka pengembangan energi terbarukan. Salah satunya dengan melakukan riset untuk komoditas alga atau ganggang menjadi salah satu sumber energi. Menurut dia, dalam waktu dekat akan dilakukan studi laboratorium untuk mengoptimalkan alga dengan Palm Oil Mill Effluent POME. “Dalam proses produksi untuk menghasilkan minyak kelapa sawit, dihasilkan pula POME. Namun, saat ini dalam jumlah yang besar, POME belum banyak diolah dan hanya menjadi limbah,” lanjut dia.POME merupakan salah satu penghasil gas metan CH4 yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca GRK yang berdampak pada pemanasan global, sehingga penanganan POME ini menjadi penting bagi keberlanjutan lingkungan.Nantinya, POME ini menjadi media dalam budidaya alga di daerah tropis seperti Indonesia sehingga dapat menghasilkan senyawa bernilai tinggi seperti DHA oil dan biofuel. Dari sisi ekonomi, nilai tambah yang dihasilkan jauh lebih besar daripada konversi menjadi biogas. Apalagi, Indonesia adalah salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan nilai produksi minyak sawit mencapai 38,17 juta ton pada tahun 2017. Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah Indonesia tengah melaksanakan langkah-langkah strategis yang ditetapkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satunya adalah Indonesia harus mampu membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global dengan menerapkan standar-standar keberlanjutan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, cadangan minyak nasional hanya sekitar 3,3-3,6 miliar barel. Jadi dengan tingkat produksi rata-rata 275-288 juta barel per tahun, apabila tidak ditemukan cadangan minyak yang baru maka cadangan minyak ini akan habis dalam 12 tahun. (LIPUTAN6)

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3504576/pelajari-ganggang-jadi-energi-alternatif-ri-gandeng-kampus-jepang

KPK Telusuri 11 Perusahaan Sawit ‘Raksasa’ Selewengkan Dana Subsidi Pemerintah: Sejumlah perusahaan sawit berskala besar mendapat subsidi dari pemerintah sebagai timbal balik atas penjualan minyak kelapa sawit untuk campuran solar alias biodiesel. Dana subsidi itu diberikan kepada puluhan perusahaan tersebut dari pemerintah, lantaran jatuhnya harga minyak sawit beberapa tahun lalu membuat pemerintah melakukan intervensi.Deputi Menko Perekonomian Bidang Pangan dan Agribisnis, Musdalifah Machmud pernah menyatakan, “Pemerintah Percaya bahwa turunnya harga, karena suplai berlebih, jadi kita harus konsumsi di dalam negeri lebih besar,” ulasnya. Biaya produksi biodiesel di atas daya beli masyarakat dan untuk mengatasi selisih biaya produksi serta harga jual ke khalayak umum, maka pemerintah sepakat menyiapkan subsidi.Musdalifah menolak langkah itu disebut subsidi, namun merupakan insentif, karena yang menggunakan manfaat biodiesel yang notabene ramah lingkungan adalah konsumen.Sejak 2015, perusahaan yang melakukan ekspor minyak sawit mentah atau CPO wajib menyetorkan pungutan ke pemerintah. Dana subsidi diperoleh dari pungutan ini sebesar US$50 per satu ton minyak sawit.Melalui BPDPKS, ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 113/PMK.01/2015 tanggal 11 juni 2015.Badan ini diamanatkan melaksanakan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan yakni menghimpun dana dari pelaku usaha perkebunan atau lebih dikenal dengan CPO Suppoting Fund CSF yang akan digunakan sebagai pendukung program pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan.Mengacu pada besaran tersebut, maka BPDPKS harus mengalirkan dana subsidi Rp5,7 triliun untuk kebutuhan insentif biodiesel selama periode kelima yakni November 2017-April 2018. (OKETIMES)

http://www.oketimes.com/news/21276/kpk-telusuri-11-perusahaan-sawit-raksasa-selewengkan-dana-subsidi-pemerintah.html

AS Tuduh RI Subsidi Biodiesel, Pemerintah Siapkan Langkah Ini: Pemerintah akan mengusulkan perubahan mekanisme ihwal pembayaran selisih harga biodiesel. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan hal dilakukan untuk menepis tuduhan Amerika Serikat bahwa Indonesia memberikan subsidi kepada produsen biodiesel. BPDP Kelapa Sawit tidak akan berhubungan dengan produsen biodiesel lagi. Nantinya, PT Pertamina Persero diminta membeli biodiesel ke produsen dengan harga pasar, tanpa adanya pengurangan seperti saat ini. Dalam mekanisme pembayaran yang lama, tutur Oke, BPDP Sawit membayarkan selisih harga biodiesel kepada para produsen. Jadi, nantinya konsumen bisa mendapatkan biodiesel dengan harga rendah dan meningkatkan permintaan dalam negeri.Oke menuturkan hal itu yang menyebabkan adanya tuduhan subsidi. Padahal dana pembayaran selisih harga biodiesel sebetulnya diambil dari pungutan sawit para produsen biodiesel tiap melakukan ekspor. Sebelumnya Amerika Serikat menuduh Indonesia memberikan subsidi kepada produsen biodiesel melalui pembayaran biaya selisih yang dilakukan BPBD. Amerika Serikat menganggap harga biodiesel dalam negeri akan menjadi lebih rendah daripada harga pasar global. (TEMPO)

https://bisnis.tempo.co/read/1071675/as-tuduh-ri-subsidi-biodiesel-pemerintah-siapkan-langkah-ini