+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemanfaatan Biodiesel RI Lebih Baik dari Malaysia:

  • Pemanfaatan Biodiesel RI Lebih Baik dari Malaysia: Pemanfaatan minyak sawit untuk biodiesel di Indonesia dinilai jauh lebih baik dari Malaysia. Saat ini, Malaysia baru sampai pada titik eksplorasi kebijakan biodiesel 10% (BIO) dan masih belum mencapai teknologi pembuatan B20. Padahal, Indonesia sudah bersiap menuju B20. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan Franky Widjaja menjelaskan, pembentukan Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOCC) bertujuan untukmenghadapi isu kelapa sawit dari luar negara produsen. Karena itu, CPOPC mendorong mandated B20 kepada negara anggota. “Peningkatan produksi B20 harus dikejar untuk menyeimbangkan permintaan konsumen, namun Malaysia masih belum mencapai teknologi pembuatan B20, industri dan kesiapan otomotifnya harus disinkronisasikan, Indonesia dianggap masih lebih baik,” jelas dia (INVESTOR DAILY INDONESIA)
  • Malaysia, Indonesia, dan Thailand Balas Serangan Uni Eropa: Pemerintah Malaysia, Indonesia, dan Thailand menyiapkan respons keras atas perilaku diskriminatif Uni Eropa terhadap industri minyak sawit. Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong mengatakan reaksi balasan akan dilakukan jika isu mengenai minyak sawit sudah masuk ke ranah legislatif dan menjadi regulasi. “Jika kampanye kebencian dan kebijakan diskriminatif terhadap minyak  sawit terus berlanjut, kami juga bisa membalas. Ingat, Malaysia, Indonesia, dan Thailand secara kolektif merupakan pembeli besar produk Uni Eropa,” kata Mah, seperti dikutip New Straits Times, kemarin.  Pada 4 April 2017, Parlemen Uni Eropa membuat sebuah resolusi untuk memperkenalkan skema sertifikasi minyak sawit yang boleh masuk ke kawasan itu. Uni Eropa juga akan menghapus penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit pada  akhir 2020. Pernyataan tersebut didukung Komite Industri, Riset, dan Energi Uni Eropa serta Komite Lingkungan Parlemen pada Oktober dan November 2017. (KORAN TEMPO)
  • Pemerintah Didesak Segera Terapkan Mandatori Biodiesel B30: Pelaku usaha mendorong pemerintah segera merealisasikan penerapan mandatori biodiesel sebesar 30% (B30). Realisasi mandatori biodiesel 30 mendesak dilakukan agar produksi CPO dalam negeri dapat terserap dengan maksimal. “Serapan produksi CPO domestik akan terhambat jika mandatori biodiesel 30% tidak diterapkan. Dampaknya nanti ke penyerapan produksi yang akan melambat karena pasarnya semakin sempit,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga (BORNEONEWS)

https://www.borneonews.co.id/berita/83444-pemerintah-didesak-segera-terapkan-mandatori-biodiesel-b30