+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Pemerintah Memastikan Harga biodiesel Tak Naik

Harian Kontan | Jum’at, 3 Desember 2020

Pemerintah Memastikan Harga biodiesel Tak Naik

Pemerintah mulai mengimplementasikan kebijakan campuran 30% biodiesel dan 70% bahan bakar minyak (BBM) jenis solar alias B30 di seluruh Indonesia per 1 Januari 2020. Kendati persentase biodiesel bertambah dan harga komoditas sawit naik, pemerintah menjamin harga jual biosolar tidak berubah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan harga minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) memang dalam tren naik akibat peningkatan permintaan di dalam negeri. Namun harga jual biosolar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) akan tetap sama, yakni Rp 5.150 per liter. “Harga (biosolar) enggak berubah, tetap,” ungkap Menteri Arifin dj kantornya, akhir pekan lalu. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengemukakan, apabila terdapat selisih harga lebih tinggi, selisih tersebut akan ditanggung melalui insentif Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS). Sehingga harga biosolar B30 tetap dijual seharga Rp 5.150 per liter. Harga tersebut sama dan mengikuti ketetapan harga BBM jenis solar yang tidak naik sejak ditetapkan pada 1 April 2016. “Per 1 Januari 2019, kami sudah menggulirkan B30. Harga masih sesuai dengan sebelumnya. Selisih harga masih ditanggung oleh BPDP-KS,” kata Feby kepada KONTAN, Rabu (1/1).

Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan meng- ungkapkan, ketentuan harga ini sudah diatur melalui mekanisme Harga Indeks Pasar (HIP) dari Kementerian ESDM. Jika HIP biodiesel lebih tinggi dari HIP Solar, maka selisihnya akan dibayar oleh BPDP-KS. “Dana BPDP diperoleh dari levy export CPO dan turunannya. Jadi sepenuhnya dipikul oleh swasta,” ungkap dia saat dihubungi KONTAN, Rabu (1/1). Adapun selisih dengan harga solar ini memang bergantung dari pergerakan HIP biodiesel dan HIP Solar yang bervariasi. “Namun tidak selalu HIP biodiesel di atas HIP Solar, bervariasi dari waktu ke waktu,” sebut Paulus. Kendati demikian, pelaku usaha tidak merasa keberatan dengan skema ini. Menurut Paulus, skema yang sudah berjalan empat tahun ini masih ideal untuk diterapkan. “Skema ini sudah jalan sejak tahun 2015, betul [sejauh ini masih ideal],” dia mengakui. Catatan KONTAN, formula harga dasar BBM jenis solar mengacu pada formula 95% HIP Solar plus Rp 802 per liter. Sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 1980 K/10/ MEM/2018 tentang HIP BBM, HIP Solar didasarkan kepada 100% harga publikasi Mean of Platts Singapore (MoPS) jenis gas oil 0,25% sulfur.

Merujuk Peraturan Menteri ESDM No. 41/2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan BBN Jenis biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, insentif sawit atau dana pembiayaan biodiesel digunakan untuk menutup selisih kurang antara HIP Solar dan HIP Biodiesel. Alhasil, harga: biosolar (tertentu) di pasaran tetap sebesar Rp 5.150 per liter. Yang terang, insentif baru akan diberikan kepada produsen biodiesel jika HIP biodiesel lebih tinggi Ketimbang HIP Solar. Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP=(Rata-rata CPO KPB + US$ 100 /ton) x 870 kg/ m3 + ongkos angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/12/DJE/2019.

Harian Kontan | Jum’at, 3 Desember 2020
Hadiah Tahun Baru dari India bagi Pebisnis Sawit

India resmi menurunkan bea masuk minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) dan produk olahannya asal negara-negara ASEAN. Menurut kantor berita Reuters, bea masuk CPO diturunkan dari 40% menjadi 37,5%. Sementara bea masuk produk olahan CPO turun menjadi 45% dari sebelumnya 50%. Penurunan tarif bea masuk CPO ini bak kado tahun baru bagi produsen CPO dan produk turunan CPO dalam negeri. Penurunan tarif bea masuk CPO dan turunannya itu diyakini bisa memacu ekspor CPO dari Indonesia. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga memproyeksikan, total ekspor minyak sawit dan turunannya ke India tahun 2020 bisa naik 3,5%-4% dari volume ekspor di tahun 2019. Kenaikan volume ekspor ini terutama berasal dari ekspor produk hilir sawit yang naik 5% dibanding dengan 2019. “Peningkatan ekspor untuk produk hilir saja,” terang Sahat kepada KONTAN, Kamis (2/1). Namun Sahat menilai, pebisnis sawit tak bisa mengoptimalkan pendapatan dari peluang penurunan bea masuk CPO dari India. Sebab, Indonesia menerapkan pungutan ekspor sawit saat harga sawit di atas US$ 700 per ton.

Sebagai catatan, ekspor produk sawit dan turunannya ke India turun sejak tahun 2018. Penurunan ekspor itu akibat India mengenakan tarif bea masuk lebih tinggi terhadap CPO Indonesia dibanding dengan CPO dari Malaysia yang mendapatkan tarif bea masuk lebih rendah 5%. Sahat melihat saat ini India ingin mengamankan pasokan minyak sawit di dalam negeri dengan menurunkan bea masuk. Pasalnya, volume perdagangan minyak sawit di pasar global kian ketat di 2020. Gelagat ini akan semakin terlihat dengan mulai melonjaknya harga minyak sawit di pasar global, sehingga semua negara ingin mengamankan pasokan untuk kebutuhan negara mereka. “Dengan bea masuk yang tinggi, harga minyak goreng di India akan mahal juga,” tutur Sahat.

Faktor B30

Langkah India ini baru diambil setelah melihat Indonesia melaksanakan program biodiesel 30% (B30) di 2020. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan B30, Indonesia akan mengurangi volume ekspor terutama dalam bentuk CPO. Penerapan B30 akan menaikkan kebutuhan sawit Indonesia sebesar 3 juta ton per tahun. Sahat menilai, India jeli membaca proyeksi pasar CPO, sehingga menurunkan bea masuk produk turunan sawit. “Refined, bleaclied, and deodorized (RBD) olein ditu- runkan dari 50% menjadi 45% dengan tujuan agar bersaing dengan Uni Eropa untuk mendapatkan sawit,” kata Sahat. Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Menko Ekonomi Mus-dalifah Machmud melihat penurunan bea masuk produk minyak sawit oleh India ini akan memberi rangsangan bagi importir minyak sawit di India untuk memilih CPO dan produk turunannya. Musdal- ifah berharap, permintaan CPO dan turunannya di negara tersebut semakin tinggi seiring penurunan tarif bpa masuk. Pada gilirannya, beleid tersebut akan menaikkan harga CPO di pasar global. Apalagi, permintaan CPO semakin naik dengan adanya program B30. Meskipun kelonggaran tarif di India akan mendorong ekspor, Musdal-ifah melihat ke depan permintaan makin besar.

Republika | Jum’at, 3 Desember 2020
PTPN II Suplai Listrik Tenaga Biogas

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II mulai memasok energi listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) milik perusahaan ke sistem jaringan PT PLN wilayah Sumatra Utara. Holding perkebunan PTPN III menyebut, pasokan listrik ini berasal dari PLTBg Kwala Sawit dan PLTBg Pagar Merbau milik PTPN II. Pasokan energi terbarukan ini merupakan bentuk pemanfaatan Palm Oil mill effluent (POME) yang bersumber dari limbah cair pabrik Kelapa Sawit yang diubah menjadi energi listrik. “Hal ini merupakan bentuk sinergitas antara BUMN. Kerja sama ini bisa menguntungkan dan bermanfaat untuk kedua belah pihak,” kata Sekretaris Perusahaan PTPN III Irwan Perangin-Angin di Jakarta, Kamis (2/1). Irwan menjelaskan, penjualan listrik ke PLN melalui skema Independent Power Produce (IPP) yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT). Dalam pengoperasian kedua pembangkit PLTBg itu, telah dilakukan kerja sama operasional dan maintenance dengan anak usaha PT Pertamina (Persero) yakni PT Pertamina Power Indonesia (PPI).

Manager PLTBg PTPN II Dedy Gurning menyampaikan, pengembangan energi alternatif biogas yang dilakukan PTPN II merupakan salah satu program mendorong ketahanan energi. Selain bisa meningkatkan pasokan listrik, pemanfaatan POME juga menambah energi alternatif lain di luar panas bumi. “Potensi energi listrik yang dihasilkan dari POME untuk pabrik dengan kapasitas olah 30 ton TBS (tandan buah segar) perjam setara dengan 1 megawatt listrik yang dapat dibangkitkan perjam,” kata Dedy. Dia menjelaskan, dari proses pengolahan di pabrik dihasilkan limbah cair yang mengandung unsur gas metana. Pembangunan PLTBg sekaligus menepis isu negatif terkait lingkungan akibat proses pengolahan limbah pabrik sawit yang membuang gas metana ke udara terbuka. Menurut Dedy, gas metana yang terbuang ke udara tersebut seharusnya dapat ditangkap dan dijadikan bahan bakar utama mesin pembangkit listrik. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan pembakaran gas pada steam boiler di pabrik sawit.

Sementara itu, Koordinator Humas PTPN II Sutan Panjaitan menyampaikan, dua unit\’PLTBg milik PTPN II telah melalui uji layak operasi atau reliability run test dan telah mendapatkan sertifikat laik operasi (SLO) yang terakreditasi pada Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). PLN juga telah menerbitkan berita acara Commercial off Date (COD) PLTBg Kwala Sawit dan PLTBg PagarMerbau pada 27 Desember 2019. Dengan diterbitkannya berita acara COD tersebut, berarti kedua PLTBg dapat beroperasi penuh untuk menyuplai energi listrik dan dapat melakukan transaksi penjualan listrik ke PLN. Selain upaya hilirisasi, holding perkebunan berencana merampingkan jumlah perusahaan dari saat ini sebanyak 14 menjadi hanya lima perusahaan. Perampingan itu dinilai dapat memacu efisiensi perusahaan dan meningkatkan efektivitas pengelolaan perkebunan. Pelaksana Tugas Direktur Utama PTPN III Abdul Ghani mengatakan, pihaknya telah mengusulkan hal itu kepada Kementerian BUMN.

Harian Ekonomi Neraca | Jum’at, 3 Desember 2020
2020, B30 Berjalan Ini Dia Keunggulannya

Dipenghu-jung tahun 2019 Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) resmi meluncurkan program biodiesel 30 persen (B30). Peluncuran B30 ter-nyata tidakhanya menghemat devisa hingga Rp 63 triliun per tahun. Berikut kelebihan B30. Pemerintah optimis biodiesel atau Biosolar 30 persen (B30) yang merupakan campuran dari 30 persen FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dan 70 persen minyak solar, mampu meningkatkan daya kerja mesin untuk kendaraan berkapasitas 3,5 ton, hal ini dikarenakan tingginya angka cetane (CN) yang terkandung dalam B30. Mengutip laman E-nergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kementerian ESDM, solar memiliki cetane number (CN) 48, sedangkan minyak sawit CN 41. Jika komposisi itu digabungkan maka akan membentuk B30. Perlu diketahui, semakin tinggi angka CN, maka ba-han bakar akan lebih mudah terbakar. Namun angka CN yang tinggi pada B30 tidak serta-merta membuat performa mesin meningkat. Mengingat, nilai kalox yang dim- iliki B30 sedikit lebih rendah daripada solar dan sifat alami biosolar mudah berubah menjadi gel (me-nggumpal) jika terkena udara dingin.

“B30 ini sudah diujicobakan sejak November lalu, dan hari ini kita sampaikan B30 sudah kita luncurkan. Dengan adanya B30 ini, bisa menghemat devisa hingga Rp 63 triliun,” kata Jokowi pada saat peluncuran B30 di Jakarta. Hal ini lantaran, kandungan FAME ini didapatkan dari Kelapa Sawit yang diolah menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester), yaitu bahan bakar nabati. B30 ini telah diimplementasikan pada awal 1 Januari 2020, Jokowi akan memberikan target kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan jajaran direksi Pertamina untuk mempercepat implementasi B50 pada awal 2021. Bahkan Kementerian Enerdi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa program B30 tidak akan memengaruhi kebijakan harga jual B30 atau yang dikenal sebagai biosolar di masyarakat. Artinya, biosolar tetap dibanderol, yakni Rp 5.150 per liter. Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina, Faj-riyah Usman mengakui telah mengamankan stok B30 dalam jumlah yang cukup. Total stok B30 tercatat 509 ribu kilo liter (KL) dengan penyaluran harian mencapai 66 ribu KL. Stok tersebut merupakan persediaan di TBBM, belum termasuk stokdikilang dan kapal. “Memasuki tahun baru 2020, seluruh SPBU Pertamina telah siap menjual B30. Masyarakat bisa menikmati B30 melalui produk biosolar dan Dex-lite. Kelebihan B30 adalah lebih ramah lingkungan dan bersahabat dengan mesin kendaraan,” terang Fajriyah. Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengungkapkan, sejak B20 dikeluarkan dan meningkat B30 tahun 2020, perlahan kemandirian industri Kelapa Sawit akan terwujud. Industri diprediksi menjadi tonggakbaru bagi industri di Indonesia. Terlebih pengolahan dalam negeri sejak tahun lalu mulai dikembangkan.

Republika | Kamis, 2 Desember 2020
Uji Terap B30 pada Alat Mesin Pertanian Selesai Januari

Setelah sukses dengan uji jalan bahan bakar B30 pada kendaraan diesel, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS melanjutkan uji terap B30 pada alat mesin pertanian. Uji terap dilakukan dengan cara membandingkan kinerja mesin diesel penggerak traktor dengan menggunakan bahan bakar B20 dan B30. Uji terap yang dilakukan meliputi uji kinerja mesin diesel penggerak traktor pada test bench, uji kinerja traktor roda dua (uji laboratorium dan uji lapang), serta uji ketahanan selama 1.000 jam. Selain itu juga dilakukan uji pada traktor roda empat meliputi uji kinerja pada test bench dan uji ketahanan selama 1.000 jam. Pengujian ini dimulai bulan November 2019 dan ditargetkan selesai akhir bulan Januari 2020.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa pemanfaatan B30 untuk berbagai sektor sudah mendesak, bahkan sudah menjadi perhatian besar presiden. Penerapan bahan bakar B30 secara resmi diberlakukan pada 1 Januari 2020 dan diluncurkan oleh presiden pada 28 Desember 2019. Pimpinan RnD PT Kubota Indonesia Ristiawan menjelaskan, hingga akhir Desember 2019, uji terap telah menyelesaikan waktu 679 jam dari 1.000 jam yang ditargetkan. Batas waktu ini mengacu pada masa garansi pabrikan alat kepada konsumen. “Kalau pengujian nonsetop, kira-kira akan selesai dalam waktu dua bulan,” kata Rustiawan, Rabu (1/1). Koordinator Kelompok Pelaksana Aplikasi PPPTMGB LEMIGAS Maymuhar menjelasan bahwa PPPTMGB LEMIGAS melakukan pencampuran bahan bakar B0 yang disediakan oleh PT Pertamina dan diambil dari depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara dengan biodiesel B100 dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia. Pencampuran dilakukan di fasilitas blending plant LEMIGAS.

Maymuchar memaparkan, berdasar hasil pengujian kinerja awal mesin pada test bench menunjukan daya, torsi, dan Emisi Colour (BSU), tidak terjadi perbedaan yang signifikan antara mesin diesel berbahan bakar B20 dengan mesin diesel berbahan bakar B30. Hasil keduanya juga memenuhi standar SNI 0119-2012-1. Begitu juga untuk pengujian kinerja traktor yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Kementeraian Pertanian menunjukan mesin traktor roda dua berbahan bakar B20 dengan mesin traktor berbahan bakar B30 tidak terjadi perbedaan yang signifikan, baik dari pemakaian bahan bakar maupun efisiensi lapang yang dihasilkan. Hasilnya masih memenuhi spesifikasi standar SNI 0738:2014. Sampai tanggal 30 Desember 2019 uji ketahanan pada mesin sudah menempuh 679 jam dengan kondisi filter yang masih bagus, sehingga belum dilakukan penggantian filter bahan bakar.

Di samping PT Kubota Indonesia, ada dua pabrikan lain yang berpartisipasi dalam pengujian ini, yakni Diamond (PT. Tri Ratna Diesel) dan PT Yanmar Indonesia. Sebagaimana pada uji jalan kendaraan diesel sektor otomotif, setiap jenis mesin traktor juga dilakukan uji terap dengan cara membandingkan kinerja mesin diesel penggerak traktor dengan menggunakan B20 dan B30. Uji terap B-30 pada alat mesin pertanian ini terlaksana berkat dukungan Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit Indonesia (BPDPKS), PT Pertamina, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian – Kementeraian Pertanian, Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani). Selain uji terap B-30 pada mesin diesel alat pertanian, saat ini Kementerian ESDM juga tengah menyelesaikan uji terap B30 pada genset kereta api, kapal penumpang dan alat berat. Uji terap pada genset kereta api dilakukan pada genset kereta api lokal Bandung selama 1000 jam dan diharapkan dapat selesai pada akhir Januari 2020. Uji jalan pada kapal penumpang dan alat berat telah dimulai pada bulan Desember 2019.
https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/20/01/02/q3glou370-uji-terap-b30-pada-alat-mesin-pertanian-selesai-januari

Suara Merdeka | Kamis, 2 Desember 2020
Indonesia Terapkan Biodiesel 30 Persen (B30)

Setelah melalui rangkaian uji coba dan menunjukkan hasil positif, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah me-launching Program Mandatori B30 (campuran biodiesel 30 dan 70 persen BBM jenis solar), bertempat di SPBU Pertamina MT Haryono 31.128.02 Jakarta. Program Mandatori B30 ini diimplementasikan secara serentak di seluruh Indonesia mulai 1 Januari 2020. Indonesia pun tercatat sebagai negara pertama yang mengimplementasikan B30 di dunia. Presiden mengungkapkan, keberhasilan implementasi B20 yang diterapkan sebelumnya mendorong Pemerintah untuk meningkatkan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) biodiesel sebagai campuran BBM guna mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. “Kami berusaha untuk mencari sumber-sumber energi terbarukan. Kita harus melepaskan diri dari ketergantungan kepada energi fosil yang suatu saat pasti akan habis. Pengembangan EBT juga membuktikan komitmen kita untuk menjaga bumi, menjaga energi bersih dengan menurunkan emisi gas karbon dan menjaga kualitas lingkungan,” ungkap Joko Widodo. Presiden menyebut, mandatori B30 juga akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. “Kita tahu ketergantungan kita kepada impor BBM termasuk di dalamnya solar, ini cukup tinggi. Sementara di sisi lain kita juga negara penghasil sawit terbesar di dunia, dengan potensi sawit yang besar kita punya banyak sumber bahan bakar nabati sebagai pengganti bahan bakar solar. Potensi itu harus kita manfaatkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” tegas Presiden.

Usaha-usaha penurunan impor solar terus dilakukan Pemerintah. Bahkan, melalui implementasi B30 ini dapat menghemat devisa hingga Rp63 triliun. “Kalkulasinya jika kita konsisten menerapkan B30 ini, akan dihemat devisa kurang lebih Rp63 triliun, jumlah yang sangat besar sekali,” ujar Presiden. Selanjutnya, penerapan B30 ini akan berdampak pada meningkatnya permintaan domestik akan CPO (Crude Palm Oil), juga menimbulkan multiplier effect bagi sekitar 16,5 juta petani kelapa sawit di Indonesia. “Ini artinya progam B30 akan berdampak pada para pekebun kecil maupun menengah, petani rakyat yang selama ini memproduksi sawit serta para pekerja yang bekerja di pabrik-pabrik kelapa sawit,” tandas Presiden. Biodiesel merupakan BBN untuk mesin diesel berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi/transesterifikasi. Untuk saat ini, bahan baku biodiesel yang digunakan di Indonesia sebagian besar berasal dari minyak sawit (CPO). Selain dari CPO, tanaman lain yang berpotensi untuk bahan baku biodiesel antara lain tanaman jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, nyamplung dan lain-lain.
https://www.suaramerdeka.com/news/baca/212398/indonesia-terapkan-biodiesel-30-persen-b30

Kumparan | Kamis, 2 Desember 2020
Musi Banyuasin Bangun Pabrik BBM dari Kelapa Sawit

Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Banyuasin, akan membangun pabrik pengolahan bahan bakar minyak (BBM) nabati dari kelapa sawit. Pembangunan pabrik itu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit di daerah tersebut. Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin, mengatakan pembangunan pabrik Industry Palm Oil (IPO) dan Crude Palm Oil (CPO) itu akan dimulai tahun 2020. Pabrik tersebut nantinya akan memproduksi bahan bakar nabati, salah satunya biofuel. “Pabrik itu akan dibangun tahun ini, kita juga menjalin kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (ITB) untuk pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan bakar ini,” kata Dodi, Kamis (2/1). Dodi bilang, pabrik tersebut nantinya akan ditempatkan di Kecamatan Sungai Lilin. Kemudian ada dua kilang yang dipersiapkan untuk menampung bahan bakar nabati ini, yakni kilang utama di Pertamina Plaju, Palembang, dan kilang mini di Musi Banyuasin. “Pembangunan diprediksi akan memakan waktu satu tahun sehingga awal 2021 operasional pabrik sudah dimulai,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa skema yang telah disusun untuk realisasi dan pengelolaan pabrik CPO dan IPO di Musi Banyuasin, dan nantinya diprediksi akan menyentuh nilai investasi yang cukup besar. “Yang jelas nantinya dalam realisasi pembangunan pabrik ini akan melibatkan secara langsung petani sawit yang ada di Musi Banyuasin,” katanya. Dodi menambahkan, pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar ini juga sejalan dengan program peremajaan sawit nasional oleh Pemerintah Pusat. Dimana sudah ada 12 ribu hektate perkebunan sawit di Musi Banyuasin, sudah dilakukan peremajaan sejak tahun 2017. “Kita menargetkan dalam satu tahun mampu menghasilkan 1,75 juta ton tandan buah segar, dan 350 ribu ton crude palm oil (CPO),” katanya. Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Musi Banyuasin, Iskandar, mengatakan pihaknya masih terus melakukan kajian untuk mematangkan persiapan lahan yang akan digunakan untuk membangun pabrik tersebut. Baik secara sosial, geografis, tata ruang, serta konektivitas antar wilayah yang menunjang area pengembangan itu. “Untuk model bisnis saat ini sedang di bahas dan dikaji namun tetap mengedepankan peran para pihak petani, pemerintah daerah private sector,” katanya.
https://kumparan.com/urbanid/musi-banyuasin-bangun-pabrik-bbm-dari-kelapa-sawit-1sZ1nFfH3HG